Tidak seperti adiknya yang kalau makan terkadang masih harus dipaksa, sang kakak -- kami memanggilnya Mas -- sering kali harus dipaksa untuk berhenti makan. Berangkat tidur setelah makan malam, tidak menjamin dia bisa tidur nyenyak sampai pagi tampaknya. Maka saya tidak heran jika pada suatu pagi ada piring bekas indomie di kamarnya, "abis laper" begitu ujarnya. Kali ini kelahapan si Mas adalah topik ndobos saya.
Di antara teman-temen sekelasnya, dia tidak termasuk besar, biasa saja. Tingginya juga masih belum menyusul tinggi badan saya, berat badannya juga begitu ... beda tipis. Akan tetapi saya tidak akan bisa mengejar ukuran kakinya dan kelahapan makannya. Ini termasuk luar biasa.
Alkisah pada suatu pagi di akhir minggu si Mas kebingungan karena tukang ketoprak langganannya belum juga lewat. Sang Ibu lantas menawarkan nasi goreng, cara cerdik Ibu memanfaatkan sisa nasi tadi malam. Lahap sekali makannya. Piring bersih dalam waktu singkat dan karena sang adik tidak bisa menghabiskan porsinya, maka piring si adikpun dibuat bersih olehnya.
Belum selesai ternyata, ketika sang Ibu berkata "Mas, kalau masih lapar, itu nasi gorengnya masih ada banyak". Si Mas menjawab dengan patuh "Ya Bu". Lha kok malah diambil semua!! Nasi goreng itu masih tersisa sedikit di piringnya, mulutnya juga masih penuh ketika ketokan khas tukang ketoprak itu terdengar. Dengan mulut masih berisi nasi goreng itu, si Mas berkata " Bu ... aku pesan porsi yang biasa ya!".
Julukan apa yang pas buatnya? Garbage Compactor? Karung bergigi?