Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Hari ini saya ke Ueno Park, satu dari sekian banyak taman di tengah kota Tokyo. Daya pikat untuk saya pergi ke tempat itu hanya satu, kata Mbak Na-Na kalau akhir pekan di sana ada yang jualan tempe dan makanan Indonesia lainnya. Taman yang satu ini tidak sulit untuk dicari dan dicapai dan mungkin karena cuaca sedang bagus, taman itu dijejali begitu banyak orang.
Sebuah taman kota yang relatif apik, bersih tentu saja walaupun bukan yang paling cantik. Ada banyak kegiatan orang di sana; berjualan, bersepeda air, berdayung, berkesenian, berdoa [ada sebuah kuil di sini], tidur-tiduran, berasyik mahsyuk [jadi inget Kebun Raya Bogor], atau sekedar ngglondang seperti saya. Yang jual tempe belum ketemu dan saya putuskan untuk mengelilingi taman.
Sekumpulan orang-orang paruh baya [hampir semua laki-laki], duduk berderet rapih di atas pembatas beton [yang tiduran juga ada], beralaskan kardus. Lha ... apa ini? Kebanyakan sedang melamun, ada yang membaca koran atau majalah lusuh seperti busana mereka yang juga kebanyakan lusuh. Lha apa ini para pelaku mbambung Tokyo yang tersohor itu? Orang-orang tak berumah, manusia kardus, homeless, gelandangan, dan entah apa lagi julukan lainnya. Saya langsung duduk di antara mereka, tidak pakai alas, ndak bawa kardus soalnya. Tidak bicara apa-apa juga, hanya melihat saja.
Orang di sebelah saya menoleh dan mulai nyerocos dalam bahasa yang saya tidak paham. Saya memberi isyarat kalau saya tidak mengerti. "Gaijin" [orang asing], saya mengangguk "haik". Lho, masih nyerocos, tapi kali ini dengan diselingi Bahasa Inggris yang terpatah-patah. Ini yang saya tangkap; supir truk, pecat, tua, hidup di taman, istri, anak, patung, tidak ada kerja. Entah karena capek atau kesal karena saya cuma menatapnya saja [sesekali senyum padahal], dia lantas beranjak pergi, kardusnya juga di bawa.
Saya lantas juga beranjak dan langsung menuju stasiun, masih dengan pikiran apa yang hendak dikatakan pak tua tadi. Sepanjang perjalanan pulang, penuh lamunan. Tiba di rumah saya langsung cari-cari tahu tentang mereka di sini, di sana dan di situ. Apa yang istimewa dari mereka? Gelandangan ada di mana-mana di hampir semua kota besar dunia, juga Jakarta. Keistimewaan gelandangan Tokyo adalah, sebagian besar dari mereka berusia lanjut, kehilangan pekerjaan karena berbagai alasan dan tak ada lagi yang mau mempekerjakan mereka karena umur.
Kenapa tidak pulang saja ke keluarganya? Saudara-saudara mereka mana? Anak-anak mereka mana? Lha ... tempe saya mana? Waduh, lupa. Sudahlah, toh masih ada makanan lain di lemari. Makan apa ya mereka hari ini?
Posted at 05:52 pm by Sir Mbilung
Na-na May 1, 2006 02:50 PM PDT sepertinya bapak salah jalan.. gak mungkin "tempe dan gulai ayam" nya pindah tempat... Menu hari "jumat" udah ketemu pak?
johan May 1, 2006 12:19 PM PDT pertanyaannya bukan makan apa .. tapi makan apa nggak ya hari ini ......