Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Waktu pulangnya mundur saja, dari pada kamu naik pesawat itu. Begitu nasehat teman saya yang baik hati begitu tahu saya dapat tiket Northwest, perusahaan penerbangan dari negara nyang ntu tuh, untuk kembali ke Tokyo dari Manila. Mundur ndak bisa, ada acara yang saya tidak bisa mangkir, lagipula hanya Northwest yang masih ada tempat. Aaaah, teman itu mungkin sedang sial saja waktu dia pakai perusahaan penerbangan itu.
Tetapi, saya ikuti juga nasehatnya, datang 3 jam sebelum waktu penerbangan. Pemeriksaan pertama, barang-barang masuk mesin x-ray, badan yang sudah bebas logam melenggang lewat metal detektor. Lewat. Begitu tiba di meja check-in antrean sudah panjang. Oooo ternyata itu antrian pemeriksaan (lagi). Walah, itu orang-orang Philippina bawaannya wuih wuih besarnya dan banyaknya. Bikin antrian tersendat saja. Itu mbungkus kerbo apa ya? Atau becak mesin? Ndak tau saya. Lho, sekarang pemriksaannya pake wawancara. Wawancara soal isi tas, lantas lewat x-ray lagi dan lewat metal detektor lagi. Kali ini tas yang tidak akan masuk bagasi dibongkar. Acara apa ini apa itu selesai, lewat lagi.
Lho, tempat duduk saya kok di tengah? Padahal waktu pesen tiket sempet ditanya, dan saya sudah minta duduk di gang, jangan di jendela kalau bisa apalagi di tengah. Percumah ngotot, petugasnya lebih galak. Ya sudah, yang waras ngalah saja, lagipula toh penerbangannya ndak sampai 4 jam.
Pemeriksaan imigrasi lancar, dan saya memutuskan untuk langsung saja ke ruang tunggu keberangkatan. Lha??? pemeriksaan lagi. Kali ini sepatu dan ikat pinggang harus dicopot, masuk mesin x-ray, dan saya harus mbrobos metal detektor lagi. Metal detektor ndak nguing-nguing tanda saya bebas logam, akan tetapi ... lho kok masih harus pake acara digrayangi segala? periksa badan pake tangan gitu? Lho kan tas dibongkar lagi, apa ini apa itu lagi.
Haih haih, bandara ini kok ndak ada yang bisa dilihat toh ya. Sudahlah, ke ruang tunggu saja. Diamput ... pemeriksaan lagi dan kali ini benar-benar edan. Selain sepatu dan ikat pinggang dibuka lagi, kali ini acara bongkar tas ditambahi wawancara "ora mutu blas". Lha saya itu cuma punya nama yang terdiri dari satu kata. Itu yang wawancara kok ndesit pol ya, nggak percaya kalo nama saya ya cuma itu. Passport, KTP Bogor, SIM, KTP di Jepang, keluar semua untuk meyakinkan dia bahwa nama saya ya cuma itu. Dia bilang, di mana-mana orang itu punya nama keluarga. Ooooalah ... bodo kok ngotot!!! Saya ndobos sekalian, di Indonesia orang yang namanya cuma satu kata itu lebih banyak jumlahnya daripada seluruh penduduk Philippina !!! (ini betul apa ndak ya?).
Selesai urusan nama, sekarang urusan barang di tas saya itu. Coba itu kamera diaktifkan, coba motret, sekarang fotonya dihapus. Coba itu hp diaktifkan, coba telepon. Coba itu laptop dinyalakan .... hmmmm .... ok sekarang bisa dimatikan. Dompet isinya apa? Kemana saja waktu di Philippina? Baik, sekarang lewat metal detektor lagi, digrayangi lagi. Ini orang Philippina kok hobinya ndemek to ya??!!
Akhirnya sampai juga di dalam kabin pesawat. Hampir semua tempat barang penuh, ada yang bawa kembang segala ... ooo mungkin buat cemilan selama diperjalanan barangkali. Duduk manislah saya di kursi tengah itu. Jam keberangkatan sudah lewat, pesawat masih belum bergerak. Ternyata ada penumpang yang "hilang", bagasinya harus dikeluarkan dulu. Ini orang mau pergi kok nggak niat sih. Waktu keberangkatan sudah lewat setengah jam, ada pengumuman kalau pesawat belum bisa berangkat karena ada pintu di pesawat yang ndak bisa dikunci!!!! Masalah teknis katanya, sekarang sedang diperbaiki. Mungkin tukang kuncinya masih tidur, karena akhirnya masalah baru selesai satu jam kemudian.
Pesawat akhirnya berangkat juga. Acara bagi-bagi makanan dimulai. Saya itu karung bergigi, apa saja disantap, tapi maaf, kali ini itu makanan ndak bisa masuk blas. Mungkin tukang masaknya lagi ngantuk, karbol dikira bumbu.
Begitu tiba di Narita, ada kehebohan baru. Kali ini yang heboh para penumpang yang ketinggalan penerbangan sambungannya karena pesawat yang saya tumpangi telat datangnya. Biasalah, acara adu otot leher. Itu orang-orang lehernya kok pada varises semua ya. Teman saya itu benar, iya deh ... lain kali saya tidak akan naik Northwest lagi. Telat, pemeriksaannya bikin jengkel. Takut apa ya mereka? Mungkin mereka belum pernah tahu peribahasa Indonesia, berani karena benar, takut karena salah. Salah apa ya mereka?
Tiba di bagian pemeriksaan imigrasi, jalur buat pemegang pasport Jepang atau para pemegang ijin menetap kosong. Setelah selesai acara cap-capan pasport yang cepat itu, pak petugas lantas tersenyum sambil berkata "Suramat datang kumbari", saya ndolongop, "saya duru purunah ke Ubud". Saya membalas senyumnya.
Posted at 10:10 pm by Sir Mbilung
rd May 26, 2006 11:47 PM PDT wah, belon pernah naek garuda ya mas :p
Name [em-eijs] May 26, 2006 08:26 AM PDT Hahaha...kelihatannya seleksi masuk surga apa neraka aja gak gitu-gitu amat deh, ya?
OK dengan semboyannya Berani Karena Benar, Takut Karena Salah
Mariskova May 25, 2006 11:40 PM PDT Hahahahahahahahaaaaaaaa.....
Pak De sih gak percaya di'bisiki'. Ngakak saya mbacanya.
Bener kan, wong Jepun lbh manusiawi? Pulisi aja kalo mau priksa sepeda saya selalu ber-sumimasen terus :)
Rara May 25, 2006 12:59 PM PDT Lhah, itu per-ndemek-an ping piturikur ya.. hihi.. Tpi, kayaknya lehermu gak varieses, anteng.. pasrah ya.. Tpi, itu prosedur pasti ada advantage-nya lah, ketimbang di Soekarno-Hatta, sembarang wong, sembarang barang terlarang pd lolos, ya ngga??
Dian May 25, 2006 03:42 AM PDT last name itu selalu bikin pusing ! kebetulan saja aku punya siagian. dasar bego itu orang yak. indo gak punya last name