Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Apa sampeyan pernah "repot" gara-gara urusan nama sampeyan? Untuk urusan yang satu ini, saya terkadang dibuat agak repot, agak jengkel tetapi lebih sering dibuat cengengesan geli. Masalahnya sederhana, saya itu hanya punya nama dengan satu kata, bukan dua atau tiga dan tak ada nama keluarga menempel di nama saya yang hanya satu kata itu. Pada semua dokumen identitas resmi, nama saya tercantum apa adanya. Lha ... apan orang Indonesia banyak yang begitu, lantas di mana masalahnya? Segala kerepotan, kejengkelan dan cengengesan tadi terjadi di luar teritori negara gemah ripah itu.
Salah satu kisah yang bikin saya garuk-garuk kepala --walaupun ndak gatel-- itu terjadi di Jepang sini. Alkisah saya harus mempunyai rekening di bank, untuk memudahkan bagian bayar-bayar membayar upah kerja saya. Disarankan pula agar saya memiliki kartu kredit untuk memudahkan acara bayar membayar dalam perjalanan dinas. Masuk akal, dan tampaknya memang perlu.
Pergilah saya ke sebuah bank dan langsung disambut ramah oleh Mbakyu di bagian pelayanan, pakai acara disuguhi kopi dan kueh segala. Maksud kedatangan diterangkan dan langsung dimengerti. Mbakyu itu lantas memanggil temannya di bagian kartu kredit untuk turut serta membantu saya melaksanakan niat. Dua petugas dan dua formulir aplikasi ada di depan saya. Formulir aplikasi standard saja. Lengkap sudah isiannya, dan keduanya lantas sibuk dengan terminal komputernya masing-masing.
Tampaknya ada masalah, keduanya datang kembali ke saya dengan pertanyaan yang sama. Mana nama yang satu lagi? Nama apa? Nama saya ya cuma itu. Saya lantas melakukan prosedur standard, keluarkan passport dan kartu identitas lain. Lho kan, nama saya cuma itu. Belum beres ternyata, kedua Mbakyu itu memanggil atasannya, seorang pria dan seorang perempuan. Empat orang sekarang ada di hadapan saya, sibuk ngobrol sendiri yang saya ndak ngerti isinya. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka mengatakan begini, "Kami punya sedikit masalah, sistem komputer kami tidak bisa menerima hanya satu nama, harus dua. Saya akan menghubungi bagian komputer".
Sekarang dua orang dari bagian komputer turut serta. Ini sudah enam orang. Salah satunya berkata lagi "Maaf, mohon bersabar sebentar" dan lantas menerangkan masalah komputer dan nama yang cuma satu kata itu. Semua lantas menghilang. Kopi buat saya ditambah lagi, tapi kueh-nya ndak.
Ini sudah hampir dua jam saya menunggu, sambil nonton TV yang saya ndak ngerti dan kopi saya sudah berganti jadi teh ... sudah dua cangkir teh, kueh-nya masih ndak ditambahi. Akhirnya Mbakyu tadi datang tergopoh-gopoh sambil tersenyum. Minta maaf lagi karena membuat saya lama menunggu, dan dia bilang "Kami sudah bisa memasukkan nama anda ke dalam sistem kami, tetapi mohon bersabar karena account bank anda baru bisa aktif kira-kira satu minggu lagi. Ini kasus yang tidak biasa".
Haiyaaaaaaah ... di mana coba di Indonesia acara buka rekening menghabiskan waktu seminggu, dilayani oleh enam orang, menghabiskan dua cangkir kopi, dua cangkir teh dan tiga potong kueh? Ah, ya sudahlah toh sekarang saya sudah punya rekening di bank. Apa saya harus ganti nama ya, biar ndak bikin bingung petugas bank, imigrasi dan petugas-petugas lainnya? Ganti jadi apa ya? ..... Mbilung el Diablo Macho?
Posted at 02:10 am by Sir Mbilung
merahitam June 2, 2006 01:52 AM PDT Saya jg sering ngalamin kesulitan dengan nama. tapi bukan soal nama belakang. Lah ini masalahnya nama saya panjang banget sampai kadang nggak muat kalau ngisi formulir. Dan saya sering protes kalau nama saya harus masuk semuanya. Masalah yang kedua, hampir semua orang ngerasa nama saya lucu dan nggak umum. Jadinya kalau saya sebutin, mereka balik nanya:
"beneran mbak?"
Name June 1, 2006 11:51 AM PDT Numpang ketawa aja ya.... huahahahahahahahahahahahahahahahahahahaha...
Lucu!
Ea, salam buat takuya kimura!
johan May 29, 2006 12:24 AM PDT Ndobos Pol! .. keren kayaknya kalo pake nama itu!
siberia May 28, 2006 11:35 PM PDT hehehe...mirip kasus bos2 saya.
namanya pak suratmo, ada gelar dipl.seis, terbiasa ditulis : suratmo dipl.seis. suatu hari dapat surat, dan disapa dengan: dear Mr Seis :D
yg kedua, namanya surono. nggak tau gimana urusannya, nama beliau jadi, surono surono :D
bajigur May 28, 2006 08:52 PM PDT seandainya nama situ soekarno atau soeharto, apa kata mbakyu jepun itu yach? kalau nama situ soekarno, pasti ndak cuma teh anget yang didapat tapi juga teh ratna sari dewi... :D
yati May 28, 2006 07:17 PM PDT hehehe...napa sih harus pake nama?
btw, thanks doanya mas...!
bang pi'i May 28, 2006 06:13 PM PDT saya sejak SMP sering ngalamin juga. saat registrasi atau cuman iseng ditanya nama saya saya pastui ngalami.
hiking May 28, 2006 07:38 AM PDT wkakakak emang susah kalo di indonesia
Dian May 28, 2006 05:32 AM PDT sama ama emakku..namanya cuma satu.
temanku waktu nikah di spore juga namnya bikin masalah. nama bapaknya joko warsito, anaknya neviyanita irani.ini betul bapak kamu ? tanyanya.kok gak sama ?
Mariskova May 28, 2006 03:48 AM PDT Kok gak minta tambah kuenya? Pasti dikasih loh. Untung gak disuguhi sake hehehe...
Sejak disini saya harus rela memakai nama suami dan menghilangkan nama belakang saya yg 'ngeblog' itu loh.
Kalo di Indon dulu, nama saya malah disangkanya palsu...