Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< June 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Tuesday, June 06, 2006
Harapan

Masih berhubungan dengan ndobosnya saya kemarin itu, sekarang saya mau ndobos soal harapan. Namanya juga harapan, mestinya yang diharap itu yang menguntungkan bagi si pengharap. Ada yang harapannya itu langsung dipanjatkan kepada Sang Penguasa Semesta Alam ini, ada pula yang merasa perlu untuk menyampaikan harapannya melalui perantara.

Di sebuah kuil di Jepang, ada sebuah pohon besar yang dikelilingi pagar untuk menempelkan harapan yang ditulis di atas sebilah papan kecil. Sebagain besar harapan itu tidak bisa saya baca isinya, tetapi ada beberapa yang jelas maksudnya. Coba saja tengok foto-foto di bawah ini. Dari mulai harapan yang berkaitan dengan situasi negara hingga harapan agar garasi bisa selesai dibuat.



Entah secara sadar atau tidak sering kali kita menaruh barang-barang tertentu di tempat tertentu di rumah atau di tempat kerja dengan harapan agar barang itu bisa memberi nilai tambah bagi sang penghuni. Entah itu dengan harapan agar rumah menjadi tampak lebih bagus, agar tampak lebih berwibawa atau bertujuan untuk menakut-nakuti.

Soal menakut-nakuti ini, saya jadi ingat kisah salah seorang Bibi saya (tidak ada hubungan darah dengan Bibi Titi Teliti atau Bibi Tutup Pintu). Alkisah sang Bibi ini memajang foto Almarhum Eyang Kakung, yang sedang nangkring di atas kuda dan mengenakan seragam lengkap kebanggaannya itu, di ruang tamu. Awalnya saya tidak mengerti betul apa tujuannya memajang foto tua itu di situ.

Pada suatu hari rumah sang Bibi ini dikunjungi oleh pencari sumbangan tapi maksa  dari sebuah kumpulan para turunan tentara. Begitu masuk ke ruang tamu, foto Eyang Kakung langsung terlihat. "Lho, Ibu ini apanya Bapak itu?" kata sang pencari sumbangan. "Oh, itu Bapak saya", kata sang Bibi. Tanpa ba bi bu, sang tamu langsung mohon permisi, dan sang Bibi lantas memandang foto Eyang Kakung sambil berucap "Matur nuwun gih Pak, foto Bapak masih sakti". Eeealah, foto bapaknya dijadikan jimat tolak bala.

Jimat itu barang yang digunakan oleh pemiliknya agar dapat memperoleh sesuatu secara cepat tanpa harus bersusah payah menjalani laku. Lha di dunia yang serba instant begini, jimat lantas dicari-cari oleh penggemarnya. Entah itu jimat yang katanya bisa bikin cepat kaya --yang njual kok ndak pake jimat ini ya?--, jimat untuk menarik lawan jenis --atau sejenis, tergantung orientasi sexualnya--, jimat kebal --tapi takut disuntik-- atau jimat tolak bala yang salah satunya untuk mengusir pencari sumbangan itu tadi.

Jimat itu tampaknya ada di mana-mana, tidak kenal batas negara dan budaya. Di Jepang,  Mbak manis di foto di bawah ini sedang menunggu konsumen yang ingin membeli jimat-jimat yang dijualnya. Saya ndak tahu apakah jimat-jimat kodian itu ampuh, wong saya ndak beli. Tapi ... Mbak ... Mbak ... sampeyan pake susuk ndak?





Posted at 12:10 am by Sir Mbilung

corretto
June 10, 2006   10:53 AM PDT
 
บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ
1500Y untuk selembar papan harapan?

^^
บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ บบ
kireina
June 7, 2006   01:17 PM PDT
 
saya pernah ke kiyomizudera th 99, dan minum air pancuran juga. tapi saya nggak tau kalo masing2 pancuran punya khasiat yg berbeda2. sekarang sedang mencoba mengingat2 dulu minum air pancuran yg mana ya? :D
mpokb
June 7, 2006   01:13 PM PDT
 
saya juga dulu suka baca bobo.. lho apa hubungannya...?
johan
June 7, 2006   12:52 AM PDT
 
jadi punya ide masang jimat di blog untuk nolak bala (baca=nolak spam) hehehe
yoyok
June 6, 2006   11:28 PM PDT
 
please someone..beat chelsea...heheheh
chocoluv
June 6, 2006   10:55 PM PDT
 
saya punya jimat gelang yang bau... huhuhu.. biar ga ada copet yang mau ndeketin saya :P
cj
June 6, 2006   03:29 PM PDT
 
dulu rajin nyimpen lucky charms dari berbagai jinja: buat safety di perjalanan, buat lulus ujian, buat kasih sayang, etc etc... bukan apa2... karena bentuknya lucu dan wangi :-) tapi kalo nulis wish di jinja blon pernah seh... hehe...
Mariskova
June 6, 2006   01:07 AM PDT
 
Kalo sempet ke Kyoto, pergi lah ke Kiyomizudera temple. Disitu ada pancuran air yg mengalir menjadi 3 aliran. Yg satu utk minta pintar, yg kedua utk minta kaya, yg ketiga utk minta sehat/awet muda.
Kmaren di Kyoto itu, kita berselisih. Papap minta pintar (krn lagi nyusun skripsi), saya minta kaya (krn butuh beli sandang pangan kalo bisa sekalian papan). Eh, yg keminum malah yg awet muda hehehehe....
 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry