Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sudah lama saya tidak terima surat. Walaupun kotak surat saya hampir setiap hari penuh, isinya paling brosur iklan atau paling banter surat tagihan buat bayar ini itu, bukan ... bukan surat seperti ini yang saya maksud. Bukan pula surat elektronik, yang saya maksud itu surat yang dibungkus amplop, pake perangko, isinya ditulis dengan tangan dan diantar oleh Pak Pos. Membaca tulisan tangan istri yang bulet-bulet dan tulisan anak-anak yang mbulet kok rasanya gimana gitu. Kalau lantas saya diperbolehkan menuding biang keladinya, maka tudingan ... ya kepada diri sendiri.
Saya itu sudah lama sekali ndak nulis surat. Kalau kartu ucapan selamat Idul Fitri atau Natal bisa dikatakan sebagai surat maka terakhir saya berkirim surat mungkin pas Natal tahun lalu, itupun praktis cuma tanda tangan setelah kartu ucapan itu dikata-katai istri saya. Pertimbangan praktis saja, tulisan tangan istri saya itu layak baca, sementara tulisan tangan saya lebih mirip grafik rekaman detak jantung. Naik turun ndak karu-karuan dan kadang saya sendiri juga bingung, tadi itu saya nulis apa?
Kepada orang tua pun sudah lama saya tak berkirim surat, kalau ke mertua rasanya malah belum pernah. Jamannya masih SMA dulu, saya rajin bersurat-suratan dengan Ibu dan Bapak, walaupun yang mbales surat mesti Ibu. Jaman kuliah, aktivitas surat menyurat hanya intensif kepada para pujaan hati saja. Istri saya sampai sekarang masih menyimpan surat-surat yang pernah saya kirimkan kepadanya. Kalau pujaan hati yang lain? Wah ndak tahu saya. Jaman kuliah juga menandai era beralihnya saya dari surat untuk Ibu dan Bapak menjadi telegram. Bukan hanya karena isi pesannya penting, tetapi juga lebih murah. Lha wong dulu itu saya kalau kirim telegram isinya cuma empat kata kok "putro waras, arto telas".
Setelah bekerja dan mulai sering kluyuran, turne (turu mrono mrene), masih sekali dua kali saya berkirim dan menerima surat. Surat dari istri dan anak-anak yang juga berlampirkan foto-foto. Mungkin karena jaman sekarang email dirasa lebih praktis, ngobrol bisa lewat fasilitas chat, atau tinggal angkat gagang telepon, pencet-pencet nomer ....tuuuuuut .... "hoi .. lagi ngapain?" "... ya lagi telepon".
Sampeyan kapan terakhir terima surat seperti yang saya maksud itu?
Posted at 12:40 am by Sir Mbilung
badu June 11, 2006 08:35 PM PDT hahahahaha, kalimat "putro waras, arto telas" itu jenius!!!!
saya terakhir nulis surat, ya ini:
http://budibadabadu.blogspot.com/2006/03/hari-ini-pak-pos-tak-mampir-ke.html
medon June 10, 2006 04:03 AM PDT setelah menikah dan hidup bersama saya tidak pernah berkirim surat lagi pada istri! :)
fitri June 10, 2006 12:11 AM PDT baca postingan ini jadi nyadar, saya udah lamaaaa sekali nggak kirim surat ataupun dapat surat. terakhir dapat surat bertuliskan tangan sekitar tahun 2001 mungkin. Itupun dari teman saya yang memang tidak punya email.
Surat2 setelahnya terbiasa pake email. Telegram diganti dengan sms. Ah, jadi pengen surat-suratan lagi...
Na-na June 9, 2006 03:19 PM PDT Terakhir terima surat..*sek yo..inget2 dulu*..3 tahun yang lalu...dari bapakku yg rajin berkirim surat..meski anaknya diujung dunia..:D tapiii terakhir saya tulis surat, sekitar 3 minggu yang lalu.. namanya tuh "surat cinta" .... bener loh pak.. ndak bohong kok saya ;)
Saya punya teman plus mentor org Amerika yg rajin mengirim surat-surat panjang setahun sekali tiap Christmas tiba. Beliau (krn udah kakek2 seumur Papih), gak pernah mau kirim email. Saya termasuk salah sedikit orang yang masih dikirimi surat panjang lebar itu yang berisi kabarnya plus kabar keluarganya selama setahun penuh! Salah sedikit? Iya, selain karena beliau sayang saya (hayah) juga karena tulisan beliau hanya terbaca oleh beberapa gelintir manusia dibumi ini. Saya pun termasuk yg 'hanya' beberapa gelintir :p Yang tidak bisa baca tulisannya, sudah lama tidak dikirimi surat kecuali kartu mungil berisi tanda tangan...
siberia June 9, 2006 02:39 PM PDT duluuu...sebelum internet ada, saya suka ber"sahabat pena" :P lumayan banyak waktu itu sahabat2 saya. tapi sejak krismon 98, harga prangko ke LN naik, dan bikin kantong makin bolong, ya udah berhenti.
tapi emang asyik kok baca surat.
jaman kuliah sih, hampir nggak pernah nulis surat, paling ya spt panjenengan, nulis kalo uang habis :D