
The greatest game on earth itu sudah dimulai, 1.461 hari setelah Cafu mengangkat piala itu di Yokohama. Milyaran orang, memaku diri atau terpaku di depan layar kaca, atau layar LCD, dan saya adalah salah satunya.
Pertandingan pertama baru saja selesai. Enam gol, tumben ... begitu pikir saya. Biasanya pertandingan pembukaan itu irit gol dan mbosenin. Buat saya pertandingan tadi boleh dibilang seru, agresif, sepak bola menyerang yang menggairahkan. Ulasan pertandingannya ... wah bukan bagian saya itu, baca sajalah di koran atau lihat sajalah di TV.
Gundala, laptop tercinta saya itu, kali ini harus ikut begadangan. Inilah kali pertama saya nonton pertandingan Piala Dunia secara online, lha wong saya ndak punya TV. Entah berapa juta orang yang menyaksikan pertandingan akbar itu secara online. Kekhawatiran bahwa jaringan Internet bakal melting down karena kesibukan mengalirkan data, paling tidak sampai selesainya pertandingan pertama tadi, belum terjadi dan mudah-mudahan tidak terjadi.
Empat tahun yang lalu, di Inggris saya juga ndak punya TV dan saya harus bangun pagi-pagi sekali untuk nonton pertandingan langsung di pub terdekat bersama beberapa teman. Sekarang, nontonnya sambil leyeh-leyeh di ranjang dengan laptop di pangkuan. Teknologi memungkinkan perubahan itu.
Puas? entahlah. Rasanya ada yang kurang. Mungkin susana kemeriahan itu, yang tak bisa disalurkan melalui kabel. Kemeriahan ala stadion Siliwangi kala menonton Persib atau nonton Arsenal di Highbury. Teriakan penonton yang mengejek wasit atau pemain lawan di Siliwangi dan teriakan penonton yang mengejek Tottenham Hotspur (musuh bebuyutan Arsenal) di Highbury, siapapun lawan Arsenal hari itu .... who hates tottenham stand up ... who hates tottenham stand up, berulang-ulang.
Mudah-mudahan tak ada kebencian dalam pesta ini yang lantas bermuara pada kekerasan. Apalah artinya pesta, kalau akhirnya pada benjut-benjut.