Ode To Bird Watching
by Pablo Neruda
translated by Jodey Bateman
Now
Let's look for birds!
The tall iron branches
in the forest,
The dense
fertility on the ground.
The world
is wet.
A dewdrop or raindrop
shines,
a diminutive star
among the leaves.
The morning time
mother earth
is cool.
The
air
is like a river
which shakes
the silence.
It smells of
rosemary,
of space
and roots.
Overhead,
a crazy song.
It's a
bird.
How
out of its throat
smaller than a finger
can there fall
the waters
of its song?
Luminous ease!
Invisible
power
torrent
of music
in the leaves.
Sacred conversations!
Clean
and fresh washed
is this
day resounding
like a green dulcimer.
I
bury
my shoes
in the mud,
jump over rivulets.
A thorn
bites
me and a gust
of air like a crystal
wave
splits up inside my chest.
Where
are the birds?
Maybe it was
that
rustling in the
foliage
or that fleeting pellet
of brown velvet
or that displaced
perfume? That
leaf that let loose cinnamon smell
- was that a bird?
That dust
from an irritated magnolia
or that fruit
which fell with a
thump -
was that a flight?
Oh, invisible little
critters
birds
of the devil
with their ringing
with their useless feathers.
I only
want
to caress them,
to see them resplendent.
I don't want
to
see under glass
the embalmed lightning.
I want to see them living.
I
want to touch their gloves
of real hide,
which they never forget in
the branches
and to converse with
them
sitting on my shoulders
although they may leave
me like certain statues
undeservedly
whitewashed.
Impossible.
You can't touch them.
You can hear them
like a heavenly
rustle or movement.
They converse
with
precision.
They repeat
their observations.
They brag
of how much
they do.
They comment
on everything that exists.
They learn
certain sciences
like hydrography.
and by a sure science
they
know
where there are harvests
of grain.
Posted at 04:54 pm by Sir Mbilung
Permalink
Baru balik dari Timor Leste beberapa hari yang lalu. Kesan kunjungan....asyiiiiiiiiiiiiiiiiik. TOP BGT dah. Teman-teman kerjaku asyik tra la la dan sangat terbuka.
Mbok ya o, aku disuguhi jus melon dan nasi goreng komplit selagi nunggu gitu. Lha wong dianya yang minta aku dateng kok.
Di sana kalo mau ketemu siapa-siapa gampangnya minta ampun. Sampeyan mau ketemu siapa? Kepala bagian, direktur, wakil mentri, mentri, perdana mentri atau presiden? Aku jadi inget jaman dulu waktu aku mau ketemu seorang pejabat tinggi di Indonesia (yang nggak tinggi tinggi amat, lha wong kalo dia pergi dan pulang kantor nggak pake mobil pengawal yang nguing nguing itu). Jaaaaaaaaan, nggak tau berapa orang yang menginterogasi. Mau ketemu siapa, keperluannya apa, udah janji apa belum, dsb dsb. Wajar sih pertanyaannya, cuma cara nanya-nya itu yang bikin mangkel, apa nggak bisa ya nanya nggak pake mendelik lantas dipelototi dari ujung rambut sampe ujung kaki. Belum lagi disuruh nunggunya yang lamanya amit-amit, nggak disuguhi minuman atau makanan lagi. Mbok ya o, aku disuguhi jus melon dan nasi goreng komplit selagi nunggu gitu. Lha wong dianya yang minta aku dateng kok.
Pernah suatu kali aku diminta lagi menemui pejabat tinggi yang sama. Untuk mengantisipasi yang nggak enak nggak enak berdasarkan pengalaman masa lalu itu, aku ngajak temenku yang bule.....dia nggak ada hubungannya sama pertemuan itu sih, cuma tak bawa aja buat jadi centeng. Manjuuuuuur, pintu mobil aja dibukain, nggak ada yang nanya dan nggak perlu nunggu lama. Kalo inget itu aku jadi gumun lantas geleng-geleng. Didiskriminasi sama bangsa sendiri ..... paiiiit, jan pribadi layak jajah banget.
Tapi marilah kita berpikiran positif ..... bule itu sebenarnya kan nggak ada hubungannya dengan kesuksesanku untuk bertemu dengan pejabat tinggi itu tanpa hambatan. Aku nggak diinterogasi karena merekakan sudah pernah lihat aku. Jadi kalo berpikiran positif, bule itu nggak ada efeknya. Nggak percaya? Buktinya bawa atau nggak bawa bule hasilnya sama .... tetep aja nggak dapet jus dan nasi goreng !!
Coba sampeyan tebak, aku di sana ketemu siapa?
Posted at 12:45 pm by Sir Mbilung
Permalink