Pada jamannya aku masih kecil dulu, yang paling ditunggu adalah waktu terang bulan. Malam-malam boleh main di luar rumah. Jalanan di depan rumah adalah arena bermain dan selalu terlihat jelas ada pemisahan kelompok secara gender. Para lelaki sibuk dengan permainan yang aktif secara fisik dan tampak brutal sedangkan para perempuan jauh lebih kalem, kesannya damai gitu.
Samar-samar aku masih ingat salah satu permainan para anak perempuan itu, yang kalau kupikir-pikir sekarang ini ...... eksploitatif sangat. Mereka bermain sambil bernyanyi, sampai sekarang judul persis lagunya aku nggak tau, mungkin judulnya "Kakak Mia". Agar tidak ada celetukan "tampaknya ada generation gap sodara-sodara" maka saya terpaksa ndobos soal lagu "Kakak Mia" tadi. Perlu tiga orang untuk menyanyikannya .... trio.
Tokoh tanpa nama (TTN). mulai menyanyi :
kakak Mia, kakak Mia
minta anak barang seorang
kalau dapat, kalau dapat
boleh dia berjual sirih
Kakak Mia membalas :
anak yang mana akan kau pilih
anak yang mana akan kau pilih
TTN. :
itu yang putih yang saya pilih
bolehlah dia berjual sirih
itu yang putih yang saya pilih
bolehlah dia berjual sirih
Anak terpilih lantas berlagu :
sirih sirih siapa beli
sirih sirih siapa beli
Lantas lagu beulang lagi ke atas, sementara yang berganti hanyalah apa yang akan dijual dan apa ciri fisik menonjol dari sang anak terpilih.
Manakala Kakak Mia sudah kehabisan anak, maka Kakak Mia akan berlagu :
apalah daya anakku habis
apalah daya anakku habis
Lantas TTN. akan menjawab kembali, sayangnya saya lupa liriknya seperti apa, hanya isinya adalah "merekrut" Kakak Mia.
Kakak Mia lantas menyanyi :
serabi serabi siapa beli
serabi serabi siapa beli
Jenis jualannya bisa beraneka rupa ... toko kelontong lah. Hanya saja saya kok belum pernah dengar TTN meminta Kakak Mia seperti ini :
itu yang cantik yang saya pilih
bolehlah dia menjual diri
itu yang cantik yang saya pilih
bolehlah dia menjual diri
dan anak terpilih mestinya akan bernyanyi :
diri diri siapa beli
diri diri siapa beli
Kalau boleh saya tau, sekarang ini kalau terang bulang sampeyan atau anak sampeyan main apa?
***kenangan untuk Mas Erwin yang baru saja berpulang, teman main di kala terang bulan. Selamat jalan Mas***
Posted at 06:02 pm by Sir Mbilung
Permalink