Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, March 18, 2006
PREI

 

HARI INI ADALAH

HARI BEBAS NDOBOS

bales ndobos juga ndak boleh

 


Posted at 09:30 pm by Sir Mbilung
 

Friday, March 17, 2006
Kaleng Tertutup, Setia Selamanya

Sebuah toko roti dan kue-kue yang merangkap sebagai rumah makan bernama Sumber Hidangan -- untuk selanjutnya aku sebut SH -- terletak di Jalan Braga no 20-22, Bandung. Toko yang berdiri sejak tahun 1929 ini adalah tujuan pertama setiap kali aku ke Bandung, kecuali kalau ke Bandungnya pada hari Minggu atau hari-hari besar karena SH tutup. Sekedar nyruput kopi tubruk atau makan satu dua kudapan ringan yang dijuduli nama-nama belanda yang susah nyebutnya, tetapi  kalau dalam bahasa saya namanya onde-onde londo.

Toko SH, seperti juga kebanyakan toko di Jalan Braga, bukanlah toko yang kinclong-kinclong mencorong, agak kusam malah dan kesannya kuno sekali. Dua wayang kulit -- Baladewa dan Bima, yang keduanya adalah tokoh keras -- yang dipajang sebagai hiasan di SH seolah mewakili kekeras kepalaan SH untuk tetap menjadi kuno. Kesan kuno itu makin diperkuat dengan kusi, meja, daftar menu, etalase dan bungkus rotinya. Pada bungkus roti SH ada tertulis :

Kaleng !! Bukan dalam wadah plastik macemnya tupperware atau lemari pendingin, tapi kaleng. Mestinya kalau disimpan dalam kaleng, apalagi kalau tutup kalengnya dipatri, bukan hanya rasanya yang tetap enak, tapi rotinya juga tetap utuh.

Selain benda-benda tak hidup tadi yang kuno, karyawannya juga bisa dibilang "kuno". Pagi tadi aku dilayani oleh seorang Ibu yang telah bekerja di SH sejak tahun 1964. Waktu aku tanya apakah dia karyawan dengan masa kerja terlama di SH, Ibu itu bilang "yang paling lama bekerja di sini bapak itu ... dia sudah kerja di sini 45 tahun". Sedangkan karyawan terbaru di SH, direkrut 13 tahun yang lalu.

Coba sekarang saya tak nanya, sampeyan kerja di tempat yang sekarang ini sudah berapa tahun?

**tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai promosi SH. Penulis tidak mendapat imbalan apapun dari SH dan tidak pula memiliki hubungan keluarga dengan SH. Imbalan yang diterima dan hubungan keluarga yang terjadi sesudah pemuatan artikel ini di luar tanggung jawab penulis**


Posted at 01:18 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Thursday, March 16, 2006
Kakak Mia Pemasok Anak

Pada jamannya aku masih kecil dulu, yang paling ditunggu adalah waktu terang bulan. Malam-malam boleh main di luar rumah. Jalanan di depan rumah adalah arena bermain dan selalu terlihat jelas ada pemisahan kelompok secara gender. Para lelaki sibuk dengan permainan yang aktif secara fisik dan tampak brutal sedangkan para perempuan jauh lebih kalem, kesannya damai gitu.

Samar-samar aku masih ingat salah satu permainan para anak perempuan itu, yang kalau kupikir-pikir sekarang ini ...... eksploitatif sangat. Mereka bermain sambil bernyanyi, sampai sekarang judul persis lagunya aku nggak tau, mungkin judulnya "Kakak Mia". Agar tidak ada celetukan "tampaknya ada generation gap sodara-sodara" maka saya terpaksa ndobos soal lagu "Kakak Mia" tadi. Perlu tiga orang untuk menyanyikannya .... trio.

Tokoh tanpa nama (TTN). mulai menyanyi :

kakak Mia, kakak Mia
minta anak barang seorang
kalau dapat, kalau dapat
boleh dia berjual sirih


Kakak Mia membalas :

anak yang mana akan kau pilih
anak yang mana akan kau pilih


TTN. :

itu yang putih yang saya pilih
bolehlah dia berjual sirih
itu yang putih yang saya pilih
bolehlah dia berjual sirih


Anak terpilih lantas berlagu :

sirih sirih siapa beli
sirih sirih siapa beli


Lantas lagu beulang lagi ke atas, sementara yang berganti hanyalah apa yang akan dijual dan apa ciri fisik menonjol dari sang anak terpilih.

Manakala Kakak Mia sudah kehabisan anak, maka Kakak Mia akan berlagu :

apalah daya anakku habis
apalah daya anakku habis


Lantas TTN. akan menjawab kembali, sayangnya saya lupa liriknya seperti apa, hanya isinya adalah "merekrut" Kakak Mia.
Kakak Mia lantas menyanyi :

serabi serabi siapa beli
serabi serabi siapa beli


Jenis jualannya bisa beraneka rupa ... toko kelontong lah. Hanya saja saya kok belum pernah dengar TTN meminta Kakak Mia seperti ini :

itu yang cantik yang saya pilih
bolehlah dia menjual diri
itu yang cantik yang saya pilih
bolehlah dia menjual diri


dan anak terpilih mestinya akan bernyanyi :

diri diri siapa beli
diri diri siapa beli


Kalau boleh saya tau, sekarang ini kalau terang bulang sampeyan atau anak sampeyan main apa?

***kenangan untuk Mas Erwin yang baru saja berpulang, teman main di kala terang bulan. Selamat jalan Mas***


Posted at 06:02 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Wednesday, March 15, 2006
Ode to Bird Watching

Ode To Bird Watching

by Pablo Neruda

translated by Jodey Bateman

 
Now
Let's look for birds!
The tall iron branches
in the forest,
The dense
fertility on the ground.
The world
is wet.
A dewdrop or raindrop
shines,
a diminutive star
among the leaves.
The morning time
mother earth
is cool.
The air
is like a river
which shakes
the silence.
It smells of rosemary,
of space
and roots.
Overhead,
a crazy song.
It's a bird.
How
out of its throat
smaller than a finger
can there fall the waters
of its song?
Luminous ease!
Invisible
power
torrent
of music
in the leaves.
Sacred conversations!
Clean and fresh washed
is this
day resounding
like a green dulcimer.
I bury
my shoes
in the mud,
jump over rivulets.
A thorn
bites me and a gust
of air like a crystal
wave
splits up inside my chest.
Where
are the birds?
Maybe it was
that
rustling in the foliage
or that fleeting pellet
of brown velvet
or that displaced
perfume? That
leaf that let loose cinnamon smell
- was that a bird? That dust
from an irritated magnolia
or that fruit
which fell with a thump -
was that a flight?
Oh, invisible little
critters
birds of the devil
with their ringing
with their useless feathers.
I only want
to caress them,
to see them resplendent.
I don't want
to see under glass
the embalmed lightning.
I want to see them living.
I want to touch their gloves
of real hide,
which they never forget in
the branches
and to converse with
them
sitting on my shoulders
although they may leave
me like certain statues
undeservedly whitewashed.
Impossible.
You can't touch them.
You can hear them
like a heavenly
rustle or movement.
They converse
with precision.
They repeat
their observations.
They brag
of how much they do.
They comment
on everything that exists.
They learn
certain sciences
like hydrography.
and by a sure science
they know
where there are harvests
of grain.


Posted at 04:54 pm by Sir Mbilung
Bales Ndobos  

Pejabat

Baru balik dari Timor Leste beberapa hari yang lalu. Kesan kunjungan....asyiiiiiiiiiiiiiiiiik. TOP BGT dah. Teman-teman kerjaku asyik tra la la dan sangat terbuka.

Mbok ya o, aku disuguhi jus melon dan nasi goreng komplit selagi nunggu gitu. Lha wong dianya yang minta aku dateng kok.

Di sana kalo mau ketemu siapa-siapa gampangnya minta ampun. Sampeyan mau ketemu siapa?  Kepala bagian, direktur, wakil mentri, mentri, perdana mentri atau presiden? Aku jadi inget jaman dulu waktu aku mau ketemu seorang pejabat tinggi di Indonesia (yang nggak tinggi tinggi amat, lha  wong kalo dia pergi dan pulang kantor nggak pake mobil pengawal yang nguing nguing itu).  Jaaaaaaaaan, nggak tau berapa orang yang menginterogasi. Mau ketemu siapa, keperluannya apa, udah janji apa belum, dsb dsb. Wajar sih pertanyaannya, cuma cara nanya-nya itu yang bikin mangkel, apa nggak bisa ya nanya nggak pake mendelik lantas dipelototi dari ujung rambut sampe ujung kaki. Belum lagi disuruh nunggunya yang lamanya amit-amit, nggak disuguhi minuman atau makanan lagi. Mbok ya o, aku disuguhi jus melon dan nasi goreng komplit selagi nunggu gitu. Lha wong dianya yang minta aku dateng kok.

Pernah suatu kali aku diminta lagi menemui pejabat tinggi yang sama. Untuk  mengantisipasi yang nggak enak nggak enak berdasarkan pengalaman masa lalu itu, aku ngajak temenku yang bule.....dia nggak ada hubungannya sama pertemuan itu sih, cuma tak bawa aja buat jadi centeng. Manjuuuuuur, pintu mobil aja dibukain, nggak ada yang nanya dan nggak perlu nunggu lama. Kalo inget itu aku jadi gumun lantas geleng-geleng. Didiskriminasi sama bangsa sendiri ..... paiiiit, jan pribadi layak jajah banget.

Tapi marilah kita berpikiran positif ..... bule itu sebenarnya kan nggak ada hubungannya dengan kesuksesanku untuk bertemu dengan pejabat tinggi itu tanpa hambatan. Aku nggak diinterogasi karena merekakan sudah pernah lihat aku. Jadi kalo berpikiran positif, bule itu nggak ada efeknya. Nggak percaya? Buktinya bawa atau nggak bawa bule hasilnya sama .... tetep aja nggak dapet jus dan nasi goreng !!

Coba sampeyan tebak, aku di sana ketemu siapa?

 

Posted at 12:45 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga