Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Mari kita awali ndobos kali ini dengan berandai-andai. Andaikan sampeyan itu seorang pengelola sebuah negara yang punya pegawai yang mualesnya pol. Pegawai sampeyan itu rajin mbolos, ngemplang jam kerja, mangkir kerja, dan sejenisnya. Lantas sampeyan ingin menurunkan angka tingkat mbolos tersebut ... nah, apa yang sampeyan lakukan? Memberi bonus bagi pegawai dengan angka mbolos terkecil? Menerapkan pemberian hukuman sesuai aturan bagi yang mbolos secara murni dan konsekuen -- maksudnya murni dan konsekuen itu apa toh ya? Singkatnya menerapkan cara reward and punishment. Itu cara usang! Lha ... bagaimana kalau mbolosnya dilegalkan saja. Jangan mecucu, merengut atau ketawa dulu. Ini benar-benar terjadi kok, sudah tidak lagi berandai-andai.
Kompas hari ini (21 Maret 2006), halaman I, judul berita "Tahun 2006, Cuti Bersama Enam Hari." Alinea dua, kalimat pertama, kedua dan ketiga, saya kutip apa adanya "Adanya cuti bersama tenyata telah mengurangi tingkat bolos para pegawai. Tercatat 98 persen pegawai masuk kerja kembali setelah libur Lebaran dan Natal. Jadi tingkat bolosnya rendah." Ini yang membuat pernyataan bukan saya yang tukan ndobos lho, yang membuat pernyataan itu Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Saya sendiri ndak mengerti secara persis apa yang dimaksud dengan "cuti bersama". Akan tetapi, beberapa kawan yang pernah mengalami ritual ini berkata ".... ya ndak masuk kerja barengan, kantor tutup. Lantas hari cutinya itu dipotong dari jatah cuti tahunan pegawai, begitu". Lho??? Saya lantas bertanya kepadanya "seandainya jatah cutimu itu sudah habis bagaimana?", kawan itu menjawab "ya ndak boleh habis, harus disisakan sesuai dengan lamanya cuti bersama, makanya cuti bersama itu sudah diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya". Ini kan artinya suka atau tidak suka, pada waktu cuti bersama semua pegawai harus cuti. Walaupun cuti adalah hak pribadi seorang karyawan yang seharusnya bisa diambilnya kapan dia perlu, tetapi untuk yang satu ini tidak bisa begitu. Pokoknya semua harus cuti. Ada ya ternyata cuti dipaksa. Apakah cuti bersama gaya kantor teman saya itu sama dengan cuti bersama seperti yang dimuat di Kompas, saya tidak tahu.
Kalau apa yang terjadi di kantor teman itu adalah sesuai dengan cuti bersama yang dimaksud, maka mari kita lihat siapa yang dirugikan. Jumlah jam kerja karyawan tidak berkurang, lha wong hari cuti bersamanya diambil dari jatah cuti individu kok. Ini artinya tidak ada korupsi. Tetapi ini yang cuti sak kantor, tutup kantornya. Lha kalau kantor itu fungsinya adalah kantor pelayanan untuk publik bagaimana? Publik kan tidak bisa memperoleh pelayanan walaupun tanggal di kalender tidak berwarna merah. Lho, publiknya kan sudah tahu karena telah diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya dan mereka juga mungkin sedang menikmati cuti bersama.
Entah bagaimana dengan sampeyan, tapi saya masih bingung soal acara "cuti" -- mbolos kalau sudah dilegalkan berubah menjadi cuti -- bersama itu. Berhubung saya belum mengerti soal cuti bersama ini, saya berusaha untuk tidak mbolos ndobos baik ndobos tertulis maupun ndobos tak tertulis. Kecuali ... kalau ada diantara sampeyan yang bisa memberi pencerahan kepada saya soal cuti bersama ini, saya akan cuti ndobos.
Tutup pentil ban --barang kecil yang tidak boleh dianggap remeh-- adalah topik ndobos kali ini. Fungsinya apa, saya juga ndak paham dengan pasti, tetapi kalau pake gaya sok ngerti, tampaknya tutup pentil ini berfungsi untuk melindungi pentil ban yang memegang fungsi vital nan penting. Terganggunya pentil bisa berakibat angin keluar dengan semena-mena dari dalam ban --wes ewes ewes, bablas angine, ban kempes. Lantas ndak mutu rasanya datang ke tukang tambal ban tetapi tidak ada yang sesungguhnya harus ditambal.
... ndak mutu rasanya datang ke tukang tambal ban tetapi tidak ada yang sesungguhnya harus ditambal
Seorang teman pernah ditilang oleh Pak Polisi hanya karena pentil-pentil bannya tidak bertutup, mungkin karena dianggap tidak senonoh. Lha, repot jadinya kawan satu itu, hanya gara-gara pentil-nya dibiarkan telanjang dia harus berepot-repot ke pengadilan.
Pengalaman pribadi, dari semua onderdil mobil saya, yang paling sering hilang adalah tutup pentil itu. Hanya ban serep saja yang pentilnya aman, mungkin karena sang pengutil pentil malas untuk nggelosor-nggelosor di kolong mobil. Kalau sudah begini saya paling-paling hanya bisa mengurut dada untuk menekan jengkel, sambil tak lupa menarik napas dalam-dalam.
Mengamankan pentil juga bukan urusan gampang tampaknya. Sampai sekarang saya belum menemukan cara bagaimana agar pentil ini bisa aman ditempatnya tetapi tetap mudah untuk dibuka kalau-kalau saya perlu nambah tekanan angin di ban tersebut.
Apa sampeyan punya usulan untuk membantu saya mengamankan pentil ban?
Kali ini saya mau ndobos soal kegemaran ... hobi. Ndak masalah apakah kegemaran itu dilakukan secara berkala dan berirama atau hanya kala sempat, yang penting ada rasa senang, suka dan bahagia pada akhirnya.Tidak ada rasa terpaksa karena dipaksa, tidak pula karena ikut-ikutan sekedar turut mode atau karena ingin dianggap layak gaul.
Soal hobi, boleh saja lebih dari satu, saya sendiri berhobi dua. Hobi pertama saya adalah tengok-tengok burung liar di alam bebas, istilah asingnya birdwatching. Kalau burungnya liar tapi di dalam kandang atau burungnya lepas di alam tapi sudah jinak, saya ndak tertarik. Burungnya harus terbang bebas dan harus liar.
Sudah lebih dari 2 dekade saya berhobi yang satu ini. Kebetulan pula, tempat di mana saya bekerja berkaitan erat dengan hobi ini. Sehingga, kalau dipikir-pikir saya itu mengerjakan hobi lantas dibayar. Kebetulannya masih bertambah, saya sering ditugasi untuk "melancong" ke berbagai tempat, sehingga saya berkesempatan melihat macam-macam burung di berbagai tempat. Entah sudah berapa ratus jenis burung yang sudah saya nikmati bentuk dan warnanya. Setiap kali mengamati burung saya mencatat, apa yang saya lihat, di mana dan kapan saya melihatnya. Kadang saya melihat jenis-jenis yang istimewa, seperti jenis yang sudah langka, jenis yang tidak ada di tempat lain atau jenis yang sudah terancam punah.
Hobi saya yang satunya lagi adalah mengamati pesawat terbang. Hobi yang satu ini malah sudah saya lakukan jauh sebelum saya mulai mengamati burung. Pekerjaan saya pula yang memberi saya kesempatan untuk dapat melihat dan menunggangi berbagai macam pesawat terbang --dari mulai yang pake baling-baling (kitiran) sampe yang pake jet dan dari mulai yang sayapnya diam sampai yang sayapnya muter (helikopter).
Seperti halnya dengan mengamati burung, setiap kali mengamati pesawat saya juga mencatat jenis pesawat apa yang saya lihat, siapa yang punya, apa kode registrasinya, di mana saya melihat dan kapan. Dari kode registrasi saya bisa menelusuri riwayat hidup pesawat tersebut. Misalnya, pesawat Boeing 737-200 milik Merpati Nusantara dengan kode registrasi PK-MBU. Pesawat tersebut pertama kali terbang 5 Juni 1981 di bawah bendera (operator) CP Air (perusahaan Kanada). Tanggal 26 April 1987, pesawat tersebut dipakai oleh Canadian Airlines, dan pindah lagi tanggal 5 April 2001 ke Air Canada. Tanggal 22 Januari 2003 pesawat ini dioperasikan oleh ZIP (Kanada juga). ZIP sendiri didirikan tahun 2002 dan berhenti operasi tanggal 7 September 2004. Pesawat sempat "parkir" di Dallas sejak 24 September 2003 dan akhirnya pesawat tersebut masuk armada Merpati pada tanggal 4 Desember 2004.
Setiap kali saya melakukan dua kegemaran tersebut ada hal yang selalu mengganggu pikiran. Setiap kali birdwatching selalu teringat kalau Indonesia adalah negara dengan jumlah jenis burung terancam punah tertinggi di dunia. Setiap kali mengamati pesawat, selalu teringat kalau pesawat komersial Indonesia kode registrasi pesawatnya masih berawalan PK -- Pax Kolonial -- tanah jajahan.
Sebuah toko roti dan kue-kue yang merangkap sebagai rumah makan bernama Sumber Hidangan -- untuk selanjutnya aku sebut SH -- terletak di Jalan Braga no 20-22, Bandung. Toko yang berdiri sejak tahun 1929 ini adalah tujuan pertama setiap kali aku ke Bandung, kecuali kalau ke Bandungnya pada hari Minggu atau hari-hari besar karena SH tutup. Sekedar nyruput kopi tubruk atau makan satu dua kudapan ringan yang dijuduli nama-nama belanda yang susah nyebutnya, tetapi kalau dalam bahasa saya namanya onde-onde londo.
Toko SH, seperti juga kebanyakan toko di Jalan Braga, bukanlah toko yang kinclong-kinclong mencorong, agak kusam malah dan kesannya kuno sekali. Dua wayang kulit -- Baladewa dan Bima, yang keduanya adalah tokoh keras -- yang dipajang sebagai hiasan di SH seolah mewakili kekeras kepalaan SH untuk tetap menjadi kuno. Kesan kuno itu makin diperkuat dengan kusi, meja, daftar menu, etalase dan bungkus rotinya. Pada bungkus roti SH ada tertulis :
Kaleng !! Bukan dalam wadah plastik macemnya tupperware atau lemari pendingin, tapi kaleng. Mestinya kalau disimpan dalam kaleng, apalagi kalau tutup kalengnya dipatri, bukan hanya rasanya yang tetap enak, tapi rotinya juga tetap utuh.
Selain benda-benda tak hidup tadi yang kuno, karyawannya juga bisa dibilang "kuno". Pagi tadi aku dilayani oleh seorang Ibu yang telah bekerja di SH sejak tahun 1964. Waktu aku tanya apakah dia karyawan dengan masa kerja terlama di SH, Ibu itu bilang "yang paling lama bekerja di sini bapak itu ... dia sudah kerja di sini 45 tahun". Sedangkan karyawan terbaru di SH, direkrut 13 tahun yang lalu.
Coba sekarang saya tak nanya, sampeyan kerja di tempat yang sekarang ini sudah berapa tahun?
**tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai promosi SH. Penulis tidak mendapat imbalan apapun dari SH dan tidak pula memiliki hubungan keluarga dengan SH. Imbalan yang diterima dan hubungan keluarga yang terjadi sesudah pemuatan artikel ini di luar tanggung jawab penulis**
Pada jamannya aku masih kecil dulu, yang paling ditunggu adalah waktu terang bulan. Malam-malam boleh main di luar rumah. Jalanan di depan rumah adalah arena bermain dan selalu terlihat jelas ada pemisahan kelompok secara gender. Para lelaki sibuk dengan permainan yang aktif secara fisik dan tampak brutal sedangkan para perempuan jauh lebih kalem, kesannya damai gitu.
Samar-samar aku masih ingat salah satu permainan para anak perempuan itu, yang kalau kupikir-pikir sekarang ini ...... eksploitatif sangat. Mereka bermain sambil bernyanyi, sampai sekarang judul persis lagunya aku nggak tau, mungkin judulnya "Kakak Mia". Agar tidak ada celetukan "tampaknya ada generation gap sodara-sodara" maka saya terpaksa ndobos soal lagu "Kakak Mia" tadi. Perlu tiga orang untuk menyanyikannya .... trio.
Tokoh tanpa nama (TTN). mulai menyanyi :
kakak Mia, kakak Mia minta anak barang seorang kalau dapat, kalau dapat boleh dia berjual sirih
Kakak Mia membalas :
anak yang mana akan kau pilih anak yang mana akan kau pilih
TTN. :
itu yang putih yang saya pilih bolehlah dia berjual sirih itu yang putih yang saya pilih bolehlah dia berjual sirih
Anak terpilih lantas berlagu :
sirih sirih siapa beli sirih sirih siapa beli
Lantas lagu beulang lagi ke atas, sementara yang berganti hanyalah apa yang akan dijual dan apa ciri fisik menonjol dari sang anak terpilih.
Manakala Kakak Mia sudah kehabisan anak, maka Kakak Mia akan berlagu :
apalah daya anakku habis apalah daya anakku habis
Lantas TTN. akan menjawab kembali, sayangnya saya lupa liriknya seperti apa, hanya isinya adalah "merekrut" Kakak Mia. Kakak Mia lantas menyanyi :
serabi serabi siapa beli serabi serabi siapa beli
Jenis jualannya bisa beraneka rupa ... toko kelontong lah. Hanya saja saya kok belum pernah dengar TTN meminta Kakak Mia seperti ini :
itu yang cantik yang saya pilih bolehlah dia menjual diri itu yang cantik yang saya pilih bolehlah dia menjual diri
dan anak terpilih mestinya akan bernyanyi :
diri diri siapa beli diri diri siapa beli
Kalau boleh saya tau, sekarang ini kalau terang bulang sampeyan atau anak sampeyan main apa?
***kenangan untuk Mas Erwin yang baru saja berpulang, teman main di kala terang bulan. Selamat jalan Mas***
Now Let's look for birds! The tall iron branches
in the forest, The dense fertility on the ground. The world
is wet. A dewdrop or raindrop shines, a diminutive star
among the leaves. The morning time mother earth is cool. The
air is like a river which shakes the silence. It smells of
rosemary, of space and roots. Overhead, a crazy song. It's a
bird. How out of its throat smaller than a finger can there fall
the waters of its song? Luminous ease! Invisible power
torrent of music in the leaves. Sacred conversations! Clean
and fresh washed is this day resounding like a green dulcimer. I
bury my shoes in the mud, jump over rivulets. A thorn bites
me and a gust of air like a crystal wave splits up inside my chest.
Where are the birds? Maybe it was that rustling in the
foliage or that fleeting pellet of brown velvet or that displaced
perfume? That leaf that let loose cinnamon smell - was that a bird?
That dust from an irritated magnolia or that fruit which fell with a
thump - was that a flight? Oh, invisible little critters birds
of the devil with their ringing with their useless feathers. I only
want to caress them, to see them resplendent. I don't want to
see under glass the embalmed lightning. I want to see them living. I
want to touch their gloves of real hide, which they never forget in
the branches and to converse with them sitting on my shoulders
although they may leave me like certain statues undeservedly
whitewashed. Impossible. You can't touch them. You can hear them
like a heavenly rustle or movement. They converse with
precision. They repeat their observations. They brag of how much
they do. They comment on everything that exists. They learn
certain sciences like hydrography. and by a sure science they
know where there are harvests of grain.
Baru balik dari Timor Leste beberapa hari yang lalu. Kesan kunjungan....asyiiiiiiiiiiiiiiiiik. TOP BGT dah. Teman-teman kerjaku asyik tra la la dan sangat terbuka.
Mbok ya o, aku disuguhi jus melon dan nasi goreng komplit selagi nunggu gitu. Lha wong dianya yang minta aku dateng kok.
Di sana kalo mau ketemu siapa-siapa gampangnya minta ampun. Sampeyan mau ketemu siapa? Kepala bagian, direktur, wakil mentri, mentri, perdana mentri atau presiden? Aku jadi inget jaman dulu waktu aku mau ketemu seorang pejabat tinggi di Indonesia (yang nggak tinggi tinggi amat, lha wong kalo dia pergi dan pulang kantor nggak pake mobil pengawal yang nguing nguing itu). Jaaaaaaaaan, nggak tau berapa orang yang menginterogasi. Mau ketemu siapa, keperluannya apa, udah janji apa belum, dsb dsb. Wajar sih pertanyaannya, cuma cara nanya-nya itu yang bikin mangkel, apa nggak bisa ya nanya nggak pake mendelik lantas dipelototi dari ujung rambut sampe ujung kaki. Belum lagi disuruh nunggunya yang lamanya amit-amit, nggak disuguhi minuman atau makanan lagi. Mbok ya o, aku disuguhi jus melon dan nasi goreng komplit selagi nunggu gitu. Lha wong dianya yang minta aku dateng kok.
Pernah suatu kali aku diminta lagi menemui pejabat tinggi yang sama. Untuk mengantisipasi yang nggak enak nggak enak berdasarkan pengalaman masa lalu itu, aku ngajak temenku yang bule.....dia nggak ada hubungannya sama pertemuan itu sih, cuma tak bawa aja buat jadi centeng. Manjuuuuuur, pintu mobil aja dibukain, nggak ada yang nanya dan nggak perlu nunggu lama. Kalo inget itu aku jadi gumun lantas geleng-geleng. Didiskriminasi sama bangsa sendiri ..... paiiiit, jan pribadi layak jajah banget.
Tapi marilah kita berpikiran positif ..... bule itu sebenarnya kan nggak ada hubungannya dengan kesuksesanku untuk bertemu dengan pejabat tinggi itu tanpa hambatan. Aku nggak diinterogasi karena merekakan sudah pernah lihat aku. Jadi kalo berpikiran positif, bule itu nggak ada efeknya. Nggak percaya? Buktinya bawa atau nggak bawa bule hasilnya sama .... tetep aja nggak dapet jus dan nasi goreng !!