Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, March 24, 2006
KTP buat Alien

Waduh ... harus bikin KTP lagi. Kartu kecil seukuran kartu pemilih keluaran KPU ini wajib dimiliki oleh semua orang asing yang tinggal di Jepang. Mereka menyebutnya Alien Registration Certificate (ARC). Maka, jadilah saya pagi ini tergopoh-gopoh ke balai kota untuk bikin ARC.

Mencapai balai kota tidak sulit, naik kereta - bus kota lantas jalan kaki sedikit. Belum sampai keringetan, sudah sampai. Ambil nomer antrian, duduk manis. Lha kan ... saya lupa bawa pas foto. Aaah ... mesin pas foto yang bentuknya persis kotak foto yang digemari ABG di mal-mal itu ada di pojok sana. Senyum .... jepret, 10 detik kemudian wajah saya sudah terabadikan di selembar kertas.

Nomer antrian sudah muncul di layar. Isi formulir, serahkan paspor dan foto, tunggu sebentar, selesai. Selembar ARC sementara sudah jadi. ARC-nya sendiri ?? .... tunggu satu bulan lagi.

Dari mulai ambil nomer antrian hingga dapat surat kurang dari 10 menit. Kalau di Bogor? ... he he he, malu nyebutnya. Tetapi paling tidak di Bogor KTP keluar dua hari kemudian, di sini harus nunggu satu bulan. Hayoooo .... pilih mana?

Hari ini saya resmi jadi alien dengan nomer B488586 sekian sekian sekian.


Posted at 07:27 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, March 23, 2006
Aturan Hidup

Masa liburan selesai, masa lemburan dimulai lagi. Secara resmi, hari pertama ngantor lagi ini diisi dengan ngejar kereta api yang nggak ada apinya, nggeret-nggeret koper keliling stasiun, rapat tanpa kesimpulan dan mulai lihat-lihat gambar apartemen baru yang bakal mulai ditempati Sabtu besok serta membaca aturan hidup di apartemen itu. Berikut beberapa kutipannya (saya kutip sesuai aslinya):

Do not wash the entrance floor or the balcony with water.
(*lha lantas pake apa?*)

Please place the drainage hose for air conditioners in the balcony drain.
(*nanti malah dikira nyuci balcony*)

House mates are restricted to family members (spouse, blood relatives in the 6th degree and in-laws in the 3rd degree).
(*apa ini bukan artinya orang sak kampung boleh nginep semua*)

Be careful about the volume level of stereo, TV, piano, so as not to bother the neighbors.
(*piano???? .... tambur, trompet, bedug, gitar listrik, anak kecil jerit-jerit ... tidak masalah*)

Masih banyak lagi .... belum apa-apa udah kangen balik ke Bogor lagi.


Posted at 02:24 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Wednesday, March 22, 2006
Jakarta - Singapura : di antara dua perwira

Kalau naik pesawat, saya paling benci duduk di bangku tengah. Lihat ke luar jendela susah, mau ke toilet juga harus melompati orang. Belum lagi perasaan "dijepit" dari kanan dan kiri, apalagi kalau yang duduk di kiri dan kanan itu bertubuh sentosa. Tapi dalam perjalanan kali ini saya tidak punya pilihan, saya harus duduk di kursi yang saya ndak suka itu. Ah .... kan lama penerbangan cuma sejam lebih dikit.

Ternyata dua orang yang mengapit saya tubuhnya tidak besar, dua laki-laki bertubuh langsing. Penumpang di kiri saya langsung menyodorkan tangan, ngajak salaman, saya terima. Dia menyebut namanya "Kapten A" ... wuih tentara. Dia dalam perjalanan ke Oklahoma untuk ikut pelatihan -- perwira artileri berumur 32 tahun, dan ini adalah perjalanan ke luar negrinya yang pertama. Belum lagi pesawat bergerak, lelaki di sebelahku bertanya apa koran yang aku bawa bisa dia pinjam. Kenalan lagi, "Lieutenant Commander B", angkatan laut Amerika, baru selesai tugas di Surabaya ... perwira juga. Pak Kapten dan mister Lieutenant Commander pun berkenalan. Dua-duanya ngobrolnya juara, nyaris tidak ada jeda.

Kira-kira 20 menit setelah lepas landas, dua perwira itu sudah akrab satu sama lain, ngobrol dengan serunya sementara saya yang di tengah cuma nyaut satu dua kali, sembari kepala ini bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri seperti orang nonton tenis. Obrolan mereka sepanjang pertjalanan macam-macam, mulai dari soal Oklahoma tujuan Pak Kapten, pangkalan angkatan laut San Diego yang akan menjadi tempat tugas baru mister Lieutenant Commander bulan Juni nanti, sampai soal meriam Indonesia yang nggak bisa nembak gara-gara kehabisan onderdil.

Sepuluh menit sebelum mendarat, dua perwira bertukar kartu nama yang ada alamat emailnya dan saling berjanji untuk keep in touch. Pesawat mendarat mulus di Changi, dua perwira itu keluar bebarengan setelah sebelumnya menyalami saya. Obrolan mereka jalan terus, sampai mereka hilang dari pandangan saya.

Coba sampeyan pikir, apa yang aneh dari cerita singkat barusan? Sampe sekarang saya nggak habis pikir ..... kenapa salah satu dari dua perwira itu tidak menawarkan saya untuk tukeran tempat duduk ya? Jadi mereka lebih enak ngobrolnya, saya tidak menjadi penghalang. Selain itu saya juga senang kalau ditawari tukeran bangku karena saya benci duduk dibangku tengah. Lha .... kenapa juga saya nggak mengusulkan tukeran bangku kepada dua perwira itu.

Coba saya sekarang tanya, kalau sampeyan ada di posisi saya, apa sampeyan akan mengusulkan tukeran bangku?


Posted at 11:40 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Hama Buah yang Kinyis-Kinyis

Di rumah Bapak dan Ibu saya di Bandung ada sebatang pohon mangga yang rajin sekali berbuah. Rasa buahnya tidak istimewa, malah rasa buahnya sering kecut -- asem yang bisa bikin mulut mingkem rapet atau mringis. Walaupun demikian, pohon mangga itu sering sekali diserang hama pada saat berbuah. Apa sampeyan tahu hama apa yang paling berbahaya buat pohon mangga orang tua saya itu? Tidak bisa dibasmi dan sulit diusir, paling hanya bisa diteriaki dan itupun tidak banyak gunanya karena mereka akan kembali lagi ... itulah hama anak-anak!

... dari semua cara yang ada, dua hal yang menjadi ciri entah cara apapun yang dipakai adalah mata merem sebelah dan lidah melet.

Jamannya saya dulu masih kinyis-kinyis, saya (bersama para hama lainnya) pun sering menjadi hama buah-buahan. Mangga, jambu, nangka, cempedak, pisang, nanas bahkan jambu monyet (kami dulu menyebutnya janggus) kami rangsek. Jika pohonnya tak bisa dipanjat, batu jadi andalan buah jadi sasaran, kadang juga pakai galah bambu atau kayu. Melempar atau mlintheng (pakai ketapel) buah itu ada seninya. Tetapi dari semua cara yang ada, dua hal yang menjadi ciri entah cara apapun yang dipakai adalah mata merem sebelah dan lidah melet. Kalau buah meleset, genteng atau jendela bisa jadi sasaran tak sengaja, maklum jaman itu batu belum pakai GPS (Global Positioning System)-- emang sekarang udah ya?

Buah hasil jarahan lantas dimakan dengan campuran garam, kecap dan cabe rawit. Buah-buah tertentu getahnya sering membuat ujung mulut teriritasi hebat. Belum lagi dada dan perut yang sering tergores-gores batang pohon kalau teknik turun pohon tidak dikuasai dengan baik dan benar -- batang pohon dipeluk lantas merosot tak terkendali. Kalau sudah begini, yodium lantas jadi andalan walaupun perihnya bisa bikin saya terkaing-kaing.

Terakhir kali saya memanjat pohon buah kira-kira setahun yang lalu. Pohon duren di belakang kantor di Bogor. Bedanya dengan jaman dahulu, waktu itu dengkul bergetar hebat dan napas ngos-ngosan. Mungkin karena faktor usia walaupun sering merasa masih kinyis-kinyis. Haiyaaaaah......

Kalo saya boleh tahu, sampeyan itu dulu (atau malah sampe sekarang) jadi hama apa?


Posted at 09:43 am by Sir Mbilung
Bales Ndobos  

Tuesday, March 21, 2006
Ndobos Mbolos dan Mbolos Ndobos

Mari kita awali ndobos kali ini dengan berandai-andai. Andaikan sampeyan itu seorang pengelola sebuah negara yang punya pegawai yang mualesnya pol. Pegawai sampeyan itu rajin mbolos, ngemplang jam kerja, mangkir kerja, dan sejenisnya. Lantas sampeyan ingin menurunkan angka tingkat mbolos tersebut ... nah, apa yang sampeyan lakukan? Memberi bonus bagi pegawai dengan angka mbolos terkecil? Menerapkan pemberian hukuman sesuai aturan bagi yang mbolos secara murni dan konsekuen -- maksudnya murni dan konsekuen itu apa toh ya? Singkatnya menerapkan cara reward and punishment. Itu cara usang! Lha ... bagaimana kalau mbolosnya dilegalkan saja. Jangan mecucu, merengut atau ketawa dulu. Ini benar-benar terjadi kok, sudah tidak lagi berandai-andai.

Kompas hari ini (21 Maret 2006), halaman I, judul berita "Tahun 2006, Cuti Bersama Enam Hari." Alinea dua, kalimat pertama, kedua dan ketiga, saya kutip apa adanya "Adanya cuti bersama tenyata telah mengurangi tingkat bolos para pegawai. Tercatat 98 persen pegawai masuk kerja kembali setelah libur Lebaran dan Natal. Jadi tingkat bolosnya rendah." Ini yang membuat pernyataan bukan saya yang tukan ndobos lho, yang membuat pernyataan itu Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.

Saya sendiri ndak mengerti secara persis apa yang dimaksud dengan "cuti bersama". Akan tetapi, beberapa kawan yang pernah mengalami ritual ini berkata ".... ya ndak masuk kerja barengan, kantor tutup. Lantas hari cutinya itu dipotong dari jatah cuti tahunan pegawai, begitu". Lho??? Saya lantas bertanya kepadanya "seandainya jatah cutimu itu sudah habis bagaimana?", kawan itu menjawab "ya ndak boleh habis, harus disisakan sesuai dengan lamanya cuti bersama, makanya cuti bersama itu sudah diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya". Ini kan artinya suka atau tidak suka, pada waktu cuti bersama semua pegawai harus cuti. Walaupun cuti adalah hak pribadi seorang karyawan yang seharusnya bisa diambilnya kapan dia perlu, tetapi untuk yang satu ini tidak bisa begitu. Pokoknya semua harus cuti. Ada ya ternyata cuti dipaksa. Apakah cuti bersama gaya kantor teman saya itu sama dengan cuti bersama seperti yang dimuat di Kompas, saya tidak tahu.

Kalau apa yang terjadi di kantor teman itu adalah sesuai dengan cuti bersama yang dimaksud, maka mari kita lihat siapa yang dirugikan. Jumlah jam kerja karyawan tidak berkurang, lha wong hari cuti bersamanya diambil dari jatah cuti individu kok. Ini artinya tidak ada korupsi. Tetapi ini yang cuti sak kantor, tutup kantornya. Lha kalau kantor itu fungsinya adalah kantor pelayanan untuk publik bagaimana? Publik kan tidak bisa memperoleh pelayanan walaupun tanggal di kalender tidak berwarna merah. Lho, publiknya kan sudah tahu karena telah diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya dan mereka juga mungkin sedang menikmati cuti  bersama.

Entah bagaimana dengan sampeyan, tapi saya masih bingung soal acara "cuti" -- mbolos kalau sudah dilegalkan berubah menjadi cuti -- bersama itu. Berhubung saya belum mengerti soal cuti bersama ini, saya berusaha untuk tidak mbolos ndobos baik ndobos tertulis maupun ndobos tak tertulis. Kecuali ... kalau ada diantara sampeyan yang bisa memberi pencerahan kepada saya soal cuti bersama ini, saya akan cuti ndobos.


Posted at 09:11 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Monday, March 20, 2006
Tutup Pentil

Tutup pentil ban --barang kecil yang tidak boleh dianggap remeh-- adalah topik ndobos kali ini. Fungsinya apa, saya juga ndak paham dengan pasti, tetapi kalau pake gaya sok ngerti, tampaknya tutup pentil ini berfungsi untuk melindungi pentil ban yang memegang fungsi vital nan penting. Terganggunya pentil bisa berakibat angin keluar dengan semena-mena dari dalam ban --wes ewes ewes, bablas angine, ban kempes. Lantas ndak mutu rasanya datang ke tukang tambal ban tetapi tidak ada yang sesungguhnya harus ditambal.

... ndak mutu rasanya datang ke tukang tambal ban tetapi tidak ada yang sesungguhnya harus ditambal

Seorang teman pernah ditilang oleh Pak Polisi hanya karena pentil-pentil bannya tidak bertutup, mungkin karena dianggap tidak senonoh. Lha, repot jadinya kawan satu itu, hanya gara-gara pentil-nya dibiarkan telanjang dia harus berepot-repot ke pengadilan.

Pengalaman pribadi, dari semua onderdil mobil saya, yang paling sering hilang adalah tutup pentil itu. Hanya ban serep saja yang pentilnya aman, mungkin karena sang pengutil pentil malas untuk nggelosor-nggelosor di kolong mobil. Kalau sudah begini saya paling-paling hanya bisa mengurut dada untuk menekan jengkel, sambil tak lupa menarik napas dalam-dalam.

Mengamankan pentil juga bukan urusan gampang tampaknya. Sampai sekarang saya belum menemukan cara bagaimana agar pentil ini bisa aman ditempatnya tetapi tetap mudah untuk dibuka kalau-kalau saya perlu nambah tekanan angin di ban tersebut.

Apa sampeyan punya usulan untuk membantu saya mengamankan pentil ban?


Posted at 09:50 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Sunday, March 19, 2006
Hobi; yang terancam dan yang terjajah

Kali ini saya mau ndobos soal kegemaran ... hobi. Ndak masalah apakah kegemaran itu dilakukan secara berkala dan berirama atau hanya kala sempat, yang penting ada rasa senang, suka dan bahagia pada akhirnya.Tidak ada rasa terpaksa karena dipaksa, tidak pula karena ikut-ikutan sekedar turut mode atau karena ingin dianggap layak gaul.

Soal hobi, boleh saja lebih dari satu, saya sendiri berhobi dua. Hobi pertama saya adalah tengok-tengok burung liar di alam bebas, istilah asingnya birdwatching. Kalau burungnya liar tapi di dalam kandang atau burungnya lepas di alam tapi sudah jinak, saya ndak tertarik. Burungnya harus terbang bebas dan harus liar.

Sudah lebih dari 2 dekade saya berhobi yang satu ini. Kebetulan pula, tempat di mana saya bekerja berkaitan erat dengan hobi ini. Sehingga, kalau dipikir-pikir saya itu mengerjakan hobi lantas dibayar. Kebetulannya masih bertambah, saya sering ditugasi untuk "melancong" ke berbagai tempat, sehingga saya berkesempatan melihat macam-macam burung di berbagai tempat. Entah sudah berapa ratus jenis burung yang sudah saya nikmati bentuk dan warnanya. Setiap kali mengamati burung saya mencatat, apa yang saya lihat, di mana dan kapan saya melihatnya. Kadang saya melihat jenis-jenis yang istimewa, seperti jenis yang sudah langka, jenis yang tidak ada di tempat lain atau jenis yang sudah terancam punah.

Hobi saya yang satunya lagi adalah mengamati pesawat terbang. Hobi yang satu ini malah sudah saya lakukan jauh sebelum saya mulai mengamati burung. Pekerjaan saya pula yang memberi saya kesempatan untuk dapat melihat dan menunggangi berbagai macam pesawat terbang --dari mulai yang pake baling-baling (kitiran) sampe yang pake jet dan dari mulai yang sayapnya diam sampai yang sayapnya muter (helikopter).

Seperti halnya dengan mengamati burung, setiap kali mengamati pesawat saya juga mencatat jenis pesawat apa yang saya lihat, siapa yang punya, apa kode registrasinya, di mana saya melihat dan kapan. Dari kode registrasi saya bisa menelusuri riwayat hidup pesawat tersebut. Misalnya, pesawat Boeing 737-200 milik Merpati Nusantara dengan kode registrasi PK-MBU. Pesawat tersebut pertama kali terbang 5 Juni 1981 di bawah bendera (operator) CP Air (perusahaan Kanada). Tanggal 26 April 1987, pesawat tersebut dipakai oleh Canadian Airlines, dan pindah lagi tanggal 5 April 2001 ke Air Canada. Tanggal 22 Januari 2003 pesawat ini dioperasikan oleh ZIP (Kanada juga). ZIP sendiri didirikan tahun 2002 dan berhenti operasi tanggal 7 September 2004. Pesawat sempat "parkir" di Dallas sejak 24 September 2003 dan akhirnya pesawat tersebut masuk armada Merpati pada tanggal 4 Desember 2004.

Setiap kali saya melakukan dua kegemaran tersebut ada hal yang selalu mengganggu pikiran. Setiap kali birdwatching selalu teringat kalau Indonesia adalah negara dengan jumlah jenis burung terancam punah tertinggi di dunia. Setiap kali mengamati pesawat, selalu teringat kalau pesawat komersial Indonesia kode registrasi pesawatnya masih berawalan PK -- Pax Kolonial -- tanah jajahan.


Posted at 11:10 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Saturday, March 18, 2006
PREI

 

HARI INI ADALAH

HARI BEBAS NDOBOS

bales ndobos juga ndak boleh

 


Posted at 09:30 pm by Sir Mbilung
 

Friday, March 17, 2006
Kaleng Tertutup, Setia Selamanya

Sebuah toko roti dan kue-kue yang merangkap sebagai rumah makan bernama Sumber Hidangan -- untuk selanjutnya aku sebut SH -- terletak di Jalan Braga no 20-22, Bandung. Toko yang berdiri sejak tahun 1929 ini adalah tujuan pertama setiap kali aku ke Bandung, kecuali kalau ke Bandungnya pada hari Minggu atau hari-hari besar karena SH tutup. Sekedar nyruput kopi tubruk atau makan satu dua kudapan ringan yang dijuduli nama-nama belanda yang susah nyebutnya, tetapi  kalau dalam bahasa saya namanya onde-onde londo.

Toko SH, seperti juga kebanyakan toko di Jalan Braga, bukanlah toko yang kinclong-kinclong mencorong, agak kusam malah dan kesannya kuno sekali. Dua wayang kulit -- Baladewa dan Bima, yang keduanya adalah tokoh keras -- yang dipajang sebagai hiasan di SH seolah mewakili kekeras kepalaan SH untuk tetap menjadi kuno. Kesan kuno itu makin diperkuat dengan kusi, meja, daftar menu, etalase dan bungkus rotinya. Pada bungkus roti SH ada tertulis :

Kaleng !! Bukan dalam wadah plastik macemnya tupperware atau lemari pendingin, tapi kaleng. Mestinya kalau disimpan dalam kaleng, apalagi kalau tutup kalengnya dipatri, bukan hanya rasanya yang tetap enak, tapi rotinya juga tetap utuh.

Selain benda-benda tak hidup tadi yang kuno, karyawannya juga bisa dibilang "kuno". Pagi tadi aku dilayani oleh seorang Ibu yang telah bekerja di SH sejak tahun 1964. Waktu aku tanya apakah dia karyawan dengan masa kerja terlama di SH, Ibu itu bilang "yang paling lama bekerja di sini bapak itu ... dia sudah kerja di sini 45 tahun". Sedangkan karyawan terbaru di SH, direkrut 13 tahun yang lalu.

Coba sekarang saya tak nanya, sampeyan kerja di tempat yang sekarang ini sudah berapa tahun?

**tulisan ini bukan dimaksudkan sebagai promosi SH. Penulis tidak mendapat imbalan apapun dari SH dan tidak pula memiliki hubungan keluarga dengan SH. Imbalan yang diterima dan hubungan keluarga yang terjadi sesudah pemuatan artikel ini di luar tanggung jawab penulis**


Posted at 01:18 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Thursday, March 16, 2006
Kakak Mia Pemasok Anak

Pada jamannya aku masih kecil dulu, yang paling ditunggu adalah waktu terang bulan. Malam-malam boleh main di luar rumah. Jalanan di depan rumah adalah arena bermain dan selalu terlihat jelas ada pemisahan kelompok secara gender. Para lelaki sibuk dengan permainan yang aktif secara fisik dan tampak brutal sedangkan para perempuan jauh lebih kalem, kesannya damai gitu.

Samar-samar aku masih ingat salah satu permainan para anak perempuan itu, yang kalau kupikir-pikir sekarang ini ...... eksploitatif sangat. Mereka bermain sambil bernyanyi, sampai sekarang judul persis lagunya aku nggak tau, mungkin judulnya "Kakak Mia". Agar tidak ada celetukan "tampaknya ada generation gap sodara-sodara" maka saya terpaksa ndobos soal lagu "Kakak Mia" tadi. Perlu tiga orang untuk menyanyikannya .... trio.

Tokoh tanpa nama (TTN). mulai menyanyi :

kakak Mia, kakak Mia
minta anak barang seorang
kalau dapat, kalau dapat
boleh dia berjual sirih


Kakak Mia membalas :

anak yang mana akan kau pilih
anak yang mana akan kau pilih


TTN. :

itu yang putih yang saya pilih
bolehlah dia berjual sirih
itu yang putih yang saya pilih
bolehlah dia berjual sirih


Anak terpilih lantas berlagu :

sirih sirih siapa beli
sirih sirih siapa beli


Lantas lagu beulang lagi ke atas, sementara yang berganti hanyalah apa yang akan dijual dan apa ciri fisik menonjol dari sang anak terpilih.

Manakala Kakak Mia sudah kehabisan anak, maka Kakak Mia akan berlagu :

apalah daya anakku habis
apalah daya anakku habis


Lantas TTN. akan menjawab kembali, sayangnya saya lupa liriknya seperti apa, hanya isinya adalah "merekrut" Kakak Mia.
Kakak Mia lantas menyanyi :

serabi serabi siapa beli
serabi serabi siapa beli


Jenis jualannya bisa beraneka rupa ... toko kelontong lah. Hanya saja saya kok belum pernah dengar TTN meminta Kakak Mia seperti ini :

itu yang cantik yang saya pilih
bolehlah dia menjual diri
itu yang cantik yang saya pilih
bolehlah dia menjual diri


dan anak terpilih mestinya akan bernyanyi :

diri diri siapa beli
diri diri siapa beli


Kalau boleh saya tau, sekarang ini kalau terang bulang sampeyan atau anak sampeyan main apa?

***kenangan untuk Mas Erwin yang baru saja berpulang, teman main di kala terang bulan. Selamat jalan Mas***


Posted at 06:02 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Next Page