Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sekitar jam setengah sepuluh malam, di depan sebuah toko penjual makanan siap santap (bento) terpampang tulisan dalam karakter kanji.
Saya : Apa arti tulisan itu? Teman : Separuh harga. Itu harga bento yang belum laku hari ini.
Isi bento itu makanan lengkap, ada nasi atau mi, dengan lauk pauknya.
... ayo makanannya dihabiskan sampai bersih, kalo nggak nanti ayam peliharaanmu itu mati lho ...
Saya : Lha ... kalau nggak laku juga terus bagaimana? Teman: Dibuang. Saya : Apa tiap hari ada kejadian begini? Teman : Ya ... setiap hari. Kalau kamu belum makan malam dan mau beli makanan murah sekarang waktu yang bagus. Saya : Kenapa toko ini nggak beli saja secukupnya, jadi nggak ada yang harus dibuang. Teman : *cuma ngangkat bahu*
Waladalah .... makanan kok dibuang ya? Saya langsung inget orang-orang yang pada kelaparan dan kurang gizi.
Jaman saya kecil dulu Ibu selalu bilang "ayo makanannya dihabiskan sampai bersih, kalo nggak nanti ayam peliharaanmu itu mati lho". Aku dulu njawabnya "Bu ... bukannya kalo nyisa makanannya bisa dikasihkan ayam jadi ayamnya malah sehat-sehat?" Biasanya saya lantas dikeplak Ibu, pokoknya makanan harus habis.
.... Bu, mau lapor Bu .... di sini banyak ayam yang mati.
Kuncup bunga sakura itu sudah mulai mekar tanda musim semi sudah tiba. Sudah waktunya untuk makan siang di bawah pohon. Di Bogor sekarang musim duren, apa ada yang makan siang di bawah pohon duren ya?
Kali ini saya hanya ingin ndobos tentang kehebohan acara masuk rumah susun saja, yang saya lakoni sejak Sabtu siang hingga Minggu sore tadi dengan dibantu dua orang teman yang gagah berani -- tentu saja Sabtu malam tidak dihitung karena Mbilung juga manusia yang perlu tidur. Hingga saat berita ini diturunkan, badan ini masih didera capek-capek, mana di sini nggak ada parem kocok lagi.
Acara pindahan dibuka dengan membuka pintu ruangan, yang lantas diikuti dengan inspeksi gas, listrik, air dan kondisi ruangan. Semua baik-baik dan acara angkat mengangkat pun dimulai. Berhubung ruangan saya itu letaknya di lantai empat dan tidak ada yang namanya lift maka yang bisa diandalkan cuma otot-otot kaki, tangan dan punggung. Angkat-angkat tenaga urat begini benar-benar menguras tenaga karena yang harus diangkat itu mulai seprei sampai mesin cuci dan kulkas. Bagi atlet angkat besi atau angkat berat hal begini mungkin tidak masalah, tapi bagi kami yang semuanya atlet angkat ballpoint dan angkat telpon ..... wuih. Untung saja acara angkat-angkat ini selesai sebelum gelap. Acara hari itu ditutup dengan makan besar -- porsi ganda--, acara mencari telepon genggam dan acara tidur nyenyak.
Pagi tadi diisi dengan acara beres-beres, yang ternyata tidak ringan juga, disertai dengan acara berbelanja beberapa kebutuhan rumah mulai dari korden sampai bantal. Acara ini berakhir sore tadi dan ditutup dengan acara registrasi sambungan internet broadband yang katanya baru akan online minggu depan. Sesudah kedua teman yang baik hati tersebut pulang, sayapun mulai melakukan acara masak makan malam pertama di rumah baru -- telor ceplok goreng kering, nasi putih dan kecap manis. Begitu makanan siap disantap, baru sadar ternyata ada yang kurang. Jangkriiiiiiiiiik ...... saya lupa beli sendok !!!
Laptop yang saya pakai sekarang bisa digolongkan sebagai collector items, selain karena faktor usia dan rupa, juga karena faktor ketahanannya yang rada-rada nggak umum. Sudah dua kali laptop ini disamber geledek, tetapi sampai sekarang masih tetap jaya. Karena itu dia lantas saya beri nama Gundala -- sang putera petir. Tadinya ingin dinamai Ki Ageng Selo, tapi kok ya malah takut kualat, atau laptop saya bisa-bisa dikira jimat, maka Gundala lah namanya sampai sekarang.
Kemarin sore, lampu indikator setrum Gundala tiba-tiba mati. Setelah diselidiki dengan seksama ternyata adaptornya tak mengalirkan setrum. Lha ... bagaimana Gundala bisa bekerja tanpa setrum? Dengan bantuan teman, beberapa toko elektronik yang katanya menjadi penjual merk laptop saya ini berhasil dihubungi. Tak ada satu tokopun yang menjual adaptor bagi Gundala. Mak jang, Gundala bisa semaput permanen kalau begini caranya.
Dengan berbekal catatan spesifikasi adaptor Gundala tersebut saya lantas berlari-lari menuju kawasan elektronika. Tak satupun yang menjual adaptor bagi Gundalaku sayang Gundalaku malang. Mati gaya? Belum!!! Saya lantas membeli sebuah adaptor untuk laptop bermerk lain yang tampaknya cocok untuk Gundala.
Setibanya di sisi Gundala yang sudah megap-megap karena sakaw setrum, adaptor baru tersebut saya pasangkan. Diamput .... gak bisa. Gundala masih megap-megap. Maka cara "kekerasan" pun dilakukan. Konektor adaptor ke laptop saya gunting dan lantas saya sambungkan dengan konektor lama. Coba lagi. Berhasiiiiiiiiiiiiiiiiil, Gundala bugar kembali.
Teman kerja saya geleng-geleng sambil berkata "Kenapa tidak kamu ganti saja laptop itu?" Gundulmu !!! -- dia memang gundul kok. Gundala adalah salah satu benda yang sudah menyertai banyak perjalanan saya ke mana-mana. Hutan, rawa, gunung, pantai dan banyak kota.
Apa sampeyan juga punya barang yang selalu setia menemani kemana sampeyan pergi? Nempel terus, selalu bersama ... ibarat koreng dan laler.
Waduh ... harus bikin KTP lagi. Kartu kecil seukuran kartu pemilih keluaran KPU ini wajib dimiliki oleh semua orang asing yang tinggal di Jepang. Mereka menyebutnya Alien Registration Certificate (ARC). Maka, jadilah saya pagi ini tergopoh-gopoh ke balai kota untuk bikin ARC.
Mencapai balai kota tidak sulit, naik kereta - bus kota lantas jalan kaki sedikit. Belum sampai keringetan, sudah sampai. Ambil nomer antrian, duduk manis. Lha kan ... saya lupa bawa pas foto. Aaah ... mesin pas foto yang bentuknya persis kotak foto yang digemari ABG di mal-mal itu ada di pojok sana. Senyum .... jepret, 10 detik kemudian wajah saya sudah terabadikan di selembar kertas.
Nomer antrian sudah muncul di layar. Isi formulir, serahkan paspor dan foto, tunggu sebentar, selesai. Selembar ARC sementara sudah jadi. ARC-nya sendiri ?? .... tunggu satu bulan lagi.
Dari mulai ambil nomer antrian hingga dapat surat kurang dari 10 menit. Kalau di Bogor? ... he he he, malu nyebutnya. Tetapi paling tidak di Bogor KTP keluar dua hari kemudian, di sini harus nunggu satu bulan. Hayoooo .... pilih mana?
Hari ini saya resmi jadi alien dengan nomer B488586 sekian sekian sekian.
Masa liburan selesai, masa lemburan dimulai lagi. Secara resmi, hari pertama ngantor lagi ini diisi dengan ngejar kereta api yang nggak ada apinya, nggeret-nggeret koper keliling stasiun, rapat tanpa kesimpulan dan mulai lihat-lihat gambar apartemen baru yang bakal mulai ditempati Sabtu besok serta membaca aturan hidup di apartemen itu. Berikut beberapa kutipannya (saya kutip sesuai aslinya):
Do not wash the entrance floor or the balcony with water. (*lha lantas pake apa?*)
Please place the drainage hose for air conditioners in the balcony drain. (*nanti malah dikira nyuci balcony*)
House mates are restricted to family members (spouse, blood relatives in the 6th degree and in-laws in the 3rd degree). (*apa ini bukan artinya orang sak kampung boleh nginep semua*)
Be careful about the volume level of stereo, TV, piano, so as not to bother the neighbors. (*piano???? .... tambur, trompet, bedug, gitar listrik, anak kecil jerit-jerit ... tidak masalah*)
Masih banyak lagi .... belum apa-apa udah kangen balik ke Bogor lagi.
Kalau naik pesawat, saya paling benci duduk di bangku tengah. Lihat ke luar jendela susah, mau ke toilet juga harus melompati orang. Belum lagi perasaan "dijepit" dari kanan dan kiri, apalagi kalau yang duduk di kiri dan kanan itu bertubuh sentosa. Tapi dalam perjalanan kali ini saya tidak punya pilihan, saya harus duduk di kursi yang saya ndak suka itu. Ah .... kan lama penerbangan cuma sejam lebih dikit.
Ternyata dua orang yang mengapit saya tubuhnya tidak besar, dua laki-laki bertubuh langsing. Penumpang di kiri saya langsung menyodorkan tangan, ngajak salaman, saya terima. Dia menyebut namanya "Kapten A" ... wuih tentara. Dia dalam perjalanan ke Oklahoma untuk ikut pelatihan -- perwira artileri berumur 32 tahun, dan ini adalah perjalanan ke luar negrinya yang pertama. Belum lagi pesawat bergerak, lelaki di sebelahku bertanya apa koran yang aku bawa bisa dia pinjam. Kenalan lagi, "Lieutenant Commander B", angkatan laut Amerika, baru selesai tugas di Surabaya ... perwira juga. Pak Kapten dan mister Lieutenant Commander pun berkenalan. Dua-duanya ngobrolnya juara, nyaris tidak ada jeda.
Kira-kira 20 menit setelah lepas landas, dua perwira itu sudah akrab satu sama lain, ngobrol dengan serunya sementara saya yang di tengah cuma nyaut satu dua kali, sembari kepala ini bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri seperti orang nonton tenis. Obrolan mereka sepanjang pertjalanan macam-macam, mulai dari soal Oklahoma tujuan Pak Kapten, pangkalan angkatan laut San Diego yang akan menjadi tempat tugas baru mister Lieutenant Commander bulan Juni nanti, sampai soal meriam Indonesia yang nggak bisa nembak gara-gara kehabisan onderdil.
Sepuluh menit sebelum mendarat, dua perwira bertukar kartu nama yang ada alamat emailnya dan saling berjanji untuk keep in touch. Pesawat mendarat mulus di Changi, dua perwira itu keluar bebarengan setelah sebelumnya menyalami saya. Obrolan mereka jalan terus, sampai mereka hilang dari pandangan saya.
Coba sampeyan pikir, apa yang aneh dari cerita singkat barusan? Sampe sekarang saya nggak habis pikir ..... kenapa salah satu dari dua perwira itu tidak menawarkan saya untuk tukeran tempat duduk ya? Jadi mereka lebih enak ngobrolnya, saya tidak menjadi penghalang. Selain itu saya juga senang kalau ditawari tukeran bangku karena saya benci duduk dibangku tengah. Lha .... kenapa juga saya nggak mengusulkan tukeran bangku kepada dua perwira itu.
Coba saya sekarang tanya, kalau sampeyan ada di posisi saya, apa sampeyan akan mengusulkan tukeran bangku?
Di rumah Bapak dan Ibu saya di Bandung ada sebatang pohon mangga yang rajin sekali berbuah. Rasa buahnya tidak istimewa, malah rasa buahnya sering kecut -- asem yang bisa bikin mulut mingkem rapet atau mringis. Walaupun demikian, pohon mangga itu sering sekali diserang hama pada saat berbuah. Apa sampeyan tahu hama apa yang paling berbahaya buat pohon mangga orang tua saya itu? Tidak bisa dibasmi dan sulit diusir, paling hanya bisa diteriaki dan itupun tidak banyak gunanya karena mereka akan kembali lagi ... itulah hama anak-anak!
... dari semua cara yang ada, dua hal yang menjadi ciri entah cara apapun yang dipakai adalah mata merem sebelah dan lidah melet.
Jamannya saya dulu masih kinyis-kinyis, saya (bersama para hama lainnya) pun sering menjadi hama buah-buahan. Mangga, jambu, nangka, cempedak, pisang, nanas bahkan jambu monyet (kami dulu menyebutnya janggus) kami rangsek. Jika pohonnya tak bisa dipanjat, batu jadi andalan buah jadi sasaran, kadang juga pakai galah bambu atau kayu. Melempar atau mlintheng (pakai ketapel) buah itu ada seninya. Tetapi dari semua cara yang ada, dua hal yang menjadi ciri entah cara apapun yang dipakai adalah mata merem sebelah dan lidah melet. Kalau buah meleset, genteng atau jendela bisa jadi sasaran tak sengaja, maklum jaman itu batu belum pakai GPS (Global Positioning System)-- emang sekarang udah ya?
Buah hasil jarahan lantas dimakan dengan campuran garam, kecap dan cabe rawit. Buah-buah tertentu getahnya sering membuat ujung mulut teriritasi hebat. Belum lagi dada dan perut yang sering tergores-gores batang pohon kalau teknik turun pohon tidak dikuasai dengan baik dan benar -- batang pohon dipeluk lantas merosot tak terkendali. Kalau sudah begini, yodium lantas jadi andalan walaupun perihnya bisa bikin saya terkaing-kaing.
Terakhir kali saya memanjat pohon buah kira-kira setahun yang lalu. Pohon duren di belakang kantor di Bogor. Bedanya dengan jaman dahulu, waktu itu dengkul bergetar hebat dan napas ngos-ngosan. Mungkin karena faktor usia walaupun sering merasa masih kinyis-kinyis. Haiyaaaaah......
Kalo saya boleh tahu, sampeyan itu dulu (atau malah sampe sekarang) jadi hama apa?
Mari kita awali ndobos kali ini dengan berandai-andai. Andaikan sampeyan itu seorang pengelola sebuah negara yang punya pegawai yang mualesnya pol. Pegawai sampeyan itu rajin mbolos, ngemplang jam kerja, mangkir kerja, dan sejenisnya. Lantas sampeyan ingin menurunkan angka tingkat mbolos tersebut ... nah, apa yang sampeyan lakukan? Memberi bonus bagi pegawai dengan angka mbolos terkecil? Menerapkan pemberian hukuman sesuai aturan bagi yang mbolos secara murni dan konsekuen -- maksudnya murni dan konsekuen itu apa toh ya? Singkatnya menerapkan cara reward and punishment. Itu cara usang! Lha ... bagaimana kalau mbolosnya dilegalkan saja. Jangan mecucu, merengut atau ketawa dulu. Ini benar-benar terjadi kok, sudah tidak lagi berandai-andai.
Kompas hari ini (21 Maret 2006), halaman I, judul berita "Tahun 2006, Cuti Bersama Enam Hari." Alinea dua, kalimat pertama, kedua dan ketiga, saya kutip apa adanya "Adanya cuti bersama tenyata telah mengurangi tingkat bolos para pegawai. Tercatat 98 persen pegawai masuk kerja kembali setelah libur Lebaran dan Natal. Jadi tingkat bolosnya rendah." Ini yang membuat pernyataan bukan saya yang tukan ndobos lho, yang membuat pernyataan itu Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat.
Saya sendiri ndak mengerti secara persis apa yang dimaksud dengan "cuti bersama". Akan tetapi, beberapa kawan yang pernah mengalami ritual ini berkata ".... ya ndak masuk kerja barengan, kantor tutup. Lantas hari cutinya itu dipotong dari jatah cuti tahunan pegawai, begitu". Lho??? Saya lantas bertanya kepadanya "seandainya jatah cutimu itu sudah habis bagaimana?", kawan itu menjawab "ya ndak boleh habis, harus disisakan sesuai dengan lamanya cuti bersama, makanya cuti bersama itu sudah diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya". Ini kan artinya suka atau tidak suka, pada waktu cuti bersama semua pegawai harus cuti. Walaupun cuti adalah hak pribadi seorang karyawan yang seharusnya bisa diambilnya kapan dia perlu, tetapi untuk yang satu ini tidak bisa begitu. Pokoknya semua harus cuti. Ada ya ternyata cuti dipaksa. Apakah cuti bersama gaya kantor teman saya itu sama dengan cuti bersama seperti yang dimuat di Kompas, saya tidak tahu.
Kalau apa yang terjadi di kantor teman itu adalah sesuai dengan cuti bersama yang dimaksud, maka mari kita lihat siapa yang dirugikan. Jumlah jam kerja karyawan tidak berkurang, lha wong hari cuti bersamanya diambil dari jatah cuti individu kok. Ini artinya tidak ada korupsi. Tetapi ini yang cuti sak kantor, tutup kantornya. Lha kalau kantor itu fungsinya adalah kantor pelayanan untuk publik bagaimana? Publik kan tidak bisa memperoleh pelayanan walaupun tanggal di kalender tidak berwarna merah. Lho, publiknya kan sudah tahu karena telah diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya dan mereka juga mungkin sedang menikmati cuti bersama.
Entah bagaimana dengan sampeyan, tapi saya masih bingung soal acara "cuti" -- mbolos kalau sudah dilegalkan berubah menjadi cuti -- bersama itu. Berhubung saya belum mengerti soal cuti bersama ini, saya berusaha untuk tidak mbolos ndobos baik ndobos tertulis maupun ndobos tak tertulis. Kecuali ... kalau ada diantara sampeyan yang bisa memberi pencerahan kepada saya soal cuti bersama ini, saya akan cuti ndobos.
Tutup pentil ban --barang kecil yang tidak boleh dianggap remeh-- adalah topik ndobos kali ini. Fungsinya apa, saya juga ndak paham dengan pasti, tetapi kalau pake gaya sok ngerti, tampaknya tutup pentil ini berfungsi untuk melindungi pentil ban yang memegang fungsi vital nan penting. Terganggunya pentil bisa berakibat angin keluar dengan semena-mena dari dalam ban --wes ewes ewes, bablas angine, ban kempes. Lantas ndak mutu rasanya datang ke tukang tambal ban tetapi tidak ada yang sesungguhnya harus ditambal.
... ndak mutu rasanya datang ke tukang tambal ban tetapi tidak ada yang sesungguhnya harus ditambal
Seorang teman pernah ditilang oleh Pak Polisi hanya karena pentil-pentil bannya tidak bertutup, mungkin karena dianggap tidak senonoh. Lha, repot jadinya kawan satu itu, hanya gara-gara pentil-nya dibiarkan telanjang dia harus berepot-repot ke pengadilan.
Pengalaman pribadi, dari semua onderdil mobil saya, yang paling sering hilang adalah tutup pentil itu. Hanya ban serep saja yang pentilnya aman, mungkin karena sang pengutil pentil malas untuk nggelosor-nggelosor di kolong mobil. Kalau sudah begini saya paling-paling hanya bisa mengurut dada untuk menekan jengkel, sambil tak lupa menarik napas dalam-dalam.
Mengamankan pentil juga bukan urusan gampang tampaknya. Sampai sekarang saya belum menemukan cara bagaimana agar pentil ini bisa aman ditempatnya tetapi tetap mudah untuk dibuka kalau-kalau saya perlu nambah tekanan angin di ban tersebut.
Apa sampeyan punya usulan untuk membantu saya mengamankan pentil ban?