Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Kembali pecahan ndase Kang Mas Pecas Ndahe berjudul bayi pecas ndahe mengingatkan saya akan pendobosan bilateral yang pernah saya lakukan dengan seorang kawan yang saat itu berencana ingin punya momongan. Berikut salinannya :
teman : maaaaaaas saya : opo?! tumben teman : berencana punya bayi neeeh, minta saran dong saya : saran opo? saran cara bikin bayi teman : yeeee .... ngawur. saran buat nama bayi saya : lha wong kamu itu ngadon bayinya aja belum kok malah mikir nama teman : berpikiran jauh ke depan . nama apa yang bagus ya mas? saya : mbok ya sudah kamu itu bantingan saja dulu, nama nanti saja teman : saran dong. atau ada buku nama bayi yang direkomendasikan? saya : gak usah beli buku nama bayi segala, liat aja di buku telepon teman : jangkrik saya : lha itu banyak nama-nama bagus di situ asal jangan liat di halaman kuning saya : nanti kamu malah ngasih nama anakmu abadi genteng teman : hwasyu saya : gitu aja nesu...su...su teman : saya : lha kamu, mahluk sontoloyo kayak aku kok ya ditanya urusan begini
Sampeyan ada yang tahu artinya sontoloyo? Bisa dilihat di sini.
Jadiannya sih sebenernya baru seminggu lebih dikit lah, jadi masih anget-angetnya dan mesra-mesranya. Pacar baru saya nyaman digenggam dan nggak pernah protes kalo diplintir-plintir atau dibelai-belai. Katanya tahan diajak ngomong selama 3 jam tanpa putus, bisa mbayarin belanjaan kalau kepepet dan bisa ngasih tau arah jalan. Mungil dan berwarna kulit eksotis ... hijau gelap. Lha gimana nggak mungil, lha wong beratnya cuma 146 gram.
Toshiba 904T saya itu bisa bekerja dilingkungan W-CDMA dan GSM (900/1800/1900 MHz), berkamera 3.2 Megapixels, berlayar luas, memiliki internal GPS dan berfasilitas FeliCa e-wallet system untuk bayar-bayar belanjaan. Dengan sistem ini, untuk membayar tiap kali belanja tinggal mendekatkannya ke alat pembayar. Tagihan belanja lantas disatukan dengan tagihan pemakaian telepon genggam ini. Fasilitas penuntun dengan GPS-nya juga yahud, saya jadi tahu rute terpendek dari rumah ke stasiun. Bisa juga disambungkan --secara fisik maupun tidak-- dengan laptop untuk berselancar di dunia maya. Masih banyak lagi fasilitas yang ditawarkan pacar baru saya ini.
Jeng .... jangan cemburu ya, dengan dia saya menghubungimu setiap akhir minggu. Buat sampeyan semua, apa sudah pernah terima tagihan telpon yang di dalamnya ada tagihan beli wortel?
Membaca Kompas Cyber Media hari ini .... wualah berita gini kok ya ikutan masuk toh. Di bawah judul "Mayang Dijemput Bambang" lantas ditambahi sub-judul "Nama Pakai O Mirip Kakek".
Nggak sampe saya baca habis beritanya .... karena langsung ingat lagu lama dari Mbak Elvie Sukaesih, penyanyi yang saya kagumi. Begini syairnya :
bisik-bisik tetangga kini mulai terdengar slalu ditelinga hingga menusuk di hatiku mengapa engkau harus menyimpan sekuntum mawar merah di balik kelambu hitam aduh, aduh aduh, aduh aduh, aduh aduh
'pabila dirimu ingin mencari hiburan tapi sekurang-kurangnya jangan menjual kasih sayang walaupun cintaku kau anggap layu di tangan tapi sekurang-kurangnya tempat memadu kasih sayang dia memang cantik merayunya semakin menarik dia memang lincah selincah burung merpati bisik-bisik tetangga...
Judulnya "Bisik-Bisik Tetangga". Syairnya penuh ratapan tapi dulu itu ndengerinnya sambil joget-joget setengah merem, bibir bawah digigit dan jempol teracung tinggi menjulang.
Sampeyan ada yang tahu Mbak Elvie sekarang di mana?
Membaca tulisan Kang Mas Pecas Ndahe soal busana patung, mengilhami saya untuk mengisi hari Minggu ini dengan meluntang-lantungkan diri ke kawasan Ginza di Tokyo, hanya saja sasaran saya bukan patung. Kawasan ini dikenal sebagai tempat orang unjuk busana dan dandanan, begitulah ceritanya. Karena musim semi baru saja tiba dan udara dingin serta angin kencang masih tersisa, maka saya membungkus diri serapat mungkin. Tak lupa masker penyaring serbuk sari.
... para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, apa nggak pada kedinginan?
Begitu keluar dari stasiun kereta, pemandangan yang bisa bikin Kang Mas Pecas Ndahe berkeping-keping pun tersaji. Saya lantas duduk untuk menikmati pemandangan yang terhampar. Rambut warna-warni ungu bercampur hijau atau biru bercampur merah melambai-lambai, kaca mata hitam bertenggeran walaupun cuaca saat itu mendung. Para pecel lele (Pemuda/i Celana Lebar-Lebar), para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, ada di mana-mana. Tiba-tiba saya merasa asing di sini karena kostum saya seperti keluar dari tema. Saya tidak mempermasalahkan apakah yang dipakai itu senonoh atau tidak -- saya tidak "konservatif" untuk soal yang satu ini -- yang bikin saya heran itu, apa nggak pada kedinginan?
Rasa dingin mungkin adalah harga yang harus dibayar oleh mereka agar mereka bisa mengekspresikan diri dan itu bisa menimbulkan rasa senang di hati -- ongkos kelakuan. Sama seperti saya yang harus berendam di rawa dan dirubung lintah pada saat mengamati burung, Pak De Kere Kemplu yang lantas menjadi objek tontonan pada saat memotret sebuah papan reklame yang sudah dijahili atau adik Dinda yang harus rela dilucuti agar bisa diluluri. Ada rasa senang serta puas hati sesudahnya. Mungkin rasa puas hati itu juga yang menyertai para pematung setelah dia mematungkan objek dengan busana tak lengkap seperti yang ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe. Perkara apakah yang melihat hasil dari kelakuan tersebut lantas terpesona, terkikik atau malah mecucu sambil mengerutkan dahi, kembali ke soal rasa.
Kembali ke soal muhibah singkat saya ke Ginza, pada akhirnya saya tidak lagi merasa asing, karena saya mengenakan sesuatu yang beda dengan yang lain. Saya merasa hangat dan hati saya senang. Saya pun lantas bangkit dari duduk dan mulai berjalan dengan mantap. Balenggang pata-pata, ngana pe goyang pica-pica, ngana pe bodi .... poco-poco ....
Ada petaka kecil setiap kali saya menjalani musim semi di negara bermusim empat. Saya alergi serbuk sari bunga. Kalu sudah begini, mata merah, hidung seperti keran bocor dan bersin-bersin tak henti-henti hingga nyeri. Kalu sudah begini, pil putih kecil itu jadi langganan. Tak terkecuali kali ini.
Teman saya terkekeh-kekeh melihat rupa saya yang merana ini. Lantas dia menyarankan agar saya pakai masker saja yang bisa dibeli di apotik. Masker??? Lha ... ini baru. Pergilah kami berdua ke apotik dan membeli masker yang ternyata dijual dalam berbagai rupa. Masker ini berfungsi untuk menyaring serbuk sari agar tidak terhisap ke lubang hidung.
Masker digunakan dan teman saya kembali terkekeh-kekeh. "Kamu mirip musuhnya kura-kura ninja!"
Foto di sebelah saya ambil tadi pagi di lorong bawah tanah penghubung peron-peron stasiun. Di bagian tengah foto itu ada sebuah cermin. Cermin bagi orang-orang yang hendak mematut diri setelah sebelumnya berlari-lari sehingga dandanannya rusak (mohon lihat pendobosan saya sebelum ini).
Berbagai gaya orang bisa disaksikan pada saat sedang bercermin. Ada yang hanya sekedar merapihkan tatanan rambut dengan tangan, ada pula yang lantas merasa perlu untuk mengeluarkan sisir. Beberapa bahkan ada yang mengeluarkan beauty enhancement tools lengkap dari mulai pewarna bibir, pewarna alis, pupur sampai benda-benda yang saya tak kenal. Tampaknya upaya untuk terlihat kinclong agar layak pandang telah menjadi sebuah kebutuhan yang tak mengenal umur dan jenis kelamin.
Saya lantas ingat sebuah percakapan lama dengan seorang kawan pada saat kami berdua masih bujang. Dia bertanya kepada saya, apakah perempuan idaman saya itu adalah yang berkarakteristik agar-agar atau ember. Karakteristik agar-agar memiliki penampakan sangat menarik -- mengundang selera --, kinclong sekaligus memberi kesan sejuk dan lembut. Karakteristik ember lain lagi, tak semenarik agar-agar, kukuh, pejal dan nyaris tak dilirik. Memiliki perempuan agar-agar sangat merepotkan, harus dibawa dengan hati-hati, kalau tersandung agar-agar bisa jatuh. Kalau agar-agar jatuh, tak ada suaranya tetapi hancur berantakan .... beyond repair. Sementara perempuan ember membawanya bisa santai, bisa sambil diayun-ayunkan, tak takut tersandung. Kalau ember jatuh, suaranya memang berisik tetapi ember tetap utuh ... low maintenance.
Agar-agar atau ember, sekedar nyisir atau menggincu saya dari tadi itu ndobos soal apa yang terlihat sedangkan yang tak terlihat saya tidak bisa ndobos soal itu, karena itu soal rasa.
Kembali lagi ke soal cermin di stasiun, saya tadi melakukan sedikit "penelitian" -- mengamati berapa orang yang menggunakan cermin itu selama setengah jam. Hasilnya: empat belas orang -- 5 perempuan, 9 laki-laki. Saya lantas memutuskan untuk menjadi laki-laki ke sepuluh ... mirror mirror on the wall, who's the most handsome one of all ...
Jika ingin mencari bibit-bibit unggul pelari cepat jarak pendek di Jepang, cukup datang ke stasiun kereta terutama pada jam-jam sibuk. Pelari-pelari itu bertebaran di seantero penjuru stasiun, laki-laki - perempuan - tua - muda semua ada. Kelompok pontang-panting ini benar-benar membuat saya kagum. Bayangkan lelaki berjas lengkap menjinjing tas atau perempuan dengan dandanan lengkap masa kini, menjinjing tas dan bersepatu hak tinggi melaju dengan kecepatan tinggi. Hati-hati jika berpapasan dengan mereka -- mereka tidak punya rem yang pakem untuk mengurangi laju larinya.
A gentleman will walk but never run
Kekaguman saya lantas berubah menjadi keheranan. Kenapa ya mereka harus sampai berlari-lari seperti dikejar hantu? Bukankah ada banyak kereta yang lewat dan dengan frekuensi yang rapat pula? Apa arti beda 2 - 3 menit? Kenapa mereka tidak berangkat lebih awal? Kenapa kursi untuk menunggu selalu kosong -- kenapa kursi itu ada di situ kalau selalu kosong? Kenapa anak kecil berkuncir itu sampai harus terpelanting karena terseret ibunya yang sedang bergegas.
Walah .... gitu aja kok pake nanya. Sayanya saja yang belum terbawa irama hidup fast-forward, sebentar lagi juga bakal ikut berlari. Tak apalah, sekarang saya hanya ingin menikmati kelambanan saya ini saja. Tak perlu berpontang-panting supaya tidak terpelanting.
Sampeyan mau jalan bareng saya? Tapi saya tidak buru-buru lho. Seperti kata Pak De Sting ... a gentleman will walk but never run.
Jam delapan lebih empat puluh menit tiba di stasiun kereta, saya sudah terlambat dua puluh menit. Jalan cepat untuk mengejar kereta jam 8:42. Tiba di tempat tepat saat kereta siap berangkat. Tanpa lihat kiri kanan, langsung masuk ke gerbong terdekat. Kereta mulai jalan, ada yang aneh di gerbong ini. Penumpangnya semua perempuan! Di pintu ada gambar bunga berwarna ungu pastel. Haiyaaaaaah, saya ada di kompartemen khusus perempuan. Pasti tadi di pelataran peron ada gambar seperti yang di sebelah ini yang tidak saya lihat (gambar saya ambil dari sini)
Pengadaan gerbong kereta khusus untuk perempuan ini pertama kali diadakan tahun lalu dengan tujuan untuk "melindungi" perempuan dari jamah-jamah tak ramah. Di Jepang sendiri, perbuatan "suka sama muak" semacam ini sebenarnya sudah ada sangsi hukumnya, bisa dikenai kurungan sampai 7 tahun. Akan tetapi tampaknya hal itu bukanlah hal yang menakutkan buat beberapa (atau banyak) orang.
Seorang teman pernah bilang, pada jam-jam sibuk, usahakan tanganmu ada di bawah dan paling bagus kalu tangan masuk ke kantong celana. Jangan sekali-kali melindungi badan dengan menaruh tangan di dada dengan telapak tangan menghadap ke luar, bisa-bisa dikira sedang pasang kuda-kuda siap ndhemek. Ada di dalam kereta pada jam-jam sibuk memang tidak nyaman (paling tidak buat saya) karena orang benar-benar dijejalkan ke gerbong. Sangking padatnya, kita bisa tidur berdiri tanpa takut jatuh. Dalam keadaan begini, apapun bisa terjadi. Terjamah, tercium, terpeluk ....
Kembali soal kejadian pagi tadi, begitu sampai di stasiun berikutnya, saya langsung keluar gerbong itu dan pindah ke gerbong lain untuk menghindari kejadian jamah-jamah menggoda. Saya sempat melihat ada beberapa perempuan yang senyum-senyum mengiringi keluarnya saya dari gerbong itu.
Buat yang laki-laki, apa sampeyan pernah di senyum-senyumi perempuan tak di kenal? Buat yang perempuan .... saya sudah jinak kok.
Sekitar jam setengah sepuluh malam, di depan sebuah toko penjual makanan siap santap (bento) terpampang tulisan dalam karakter kanji.
Saya : Apa arti tulisan itu? Teman : Separuh harga. Itu harga bento yang belum laku hari ini.
Isi bento itu makanan lengkap, ada nasi atau mi, dengan lauk pauknya.
... ayo makanannya dihabiskan sampai bersih, kalo nggak nanti ayam peliharaanmu itu mati lho ...
Saya : Lha ... kalau nggak laku juga terus bagaimana? Teman: Dibuang. Saya : Apa tiap hari ada kejadian begini? Teman : Ya ... setiap hari. Kalau kamu belum makan malam dan mau beli makanan murah sekarang waktu yang bagus. Saya : Kenapa toko ini nggak beli saja secukupnya, jadi nggak ada yang harus dibuang. Teman : *cuma ngangkat bahu*
Waladalah .... makanan kok dibuang ya? Saya langsung inget orang-orang yang pada kelaparan dan kurang gizi.
Jaman saya kecil dulu Ibu selalu bilang "ayo makanannya dihabiskan sampai bersih, kalo nggak nanti ayam peliharaanmu itu mati lho". Aku dulu njawabnya "Bu ... bukannya kalo nyisa makanannya bisa dikasihkan ayam jadi ayamnya malah sehat-sehat?" Biasanya saya lantas dikeplak Ibu, pokoknya makanan harus habis.
.... Bu, mau lapor Bu .... di sini banyak ayam yang mati.
Kuncup bunga sakura itu sudah mulai mekar tanda musim semi sudah tiba. Sudah waktunya untuk makan siang di bawah pohon. Di Bogor sekarang musim duren, apa ada yang makan siang di bawah pohon duren ya?