Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Walaupun resminya sekarang sudah musim semi, tapi saya masih sering kedinginan terutama kalau malam hari. Suhu udara walaupun cenderung naik, masih berubah-ubah sak enaknya sendiri. Lha wong suhu kok kayak harga bawang. Tidur hanya sekedar berpakaian lengkap ditambahi baju hangat rupanya belum cukup buat saya, tambahi selimut masih juga kedinginan. Akhirnya saya memutuskan untuk beli pemanas ruangan saja.
Mencari pemanas ruangan berbahan bakar gas -- di kamar saya ada saluran gas-- lha kok susah ternyata, di toko-toko itu bilangnya sudah nggak musim lagi. Haiyaah, akhirnya terpaksalah berbelanja dengan telepon. Pemanas itu akhirnya datang Minggu kemarin, yang dengan sangat antusias saya pasang langsung.
Pemanas berbahan bakar gas, berpemantik dan berkipas listrik, wuiiiih. Cukup mungil dan tombolnya sedikit, hanya tiga, satu untuk menyalakan dan mematikan alat itu dan dua lagi untuk menaikkan suhu atau menurunkannya. Ini penting karena saya alergi tombol yang saya nggak ngerti itu buat apa. Tunclep sana tunclep sini, sang pemanas terpasang, tekan tombol .... lho kok nggak bunyi ya? Oooo ... ini teknologi baru ini mestinya, super senyap. Tapi kok nggak panas-panas juga ya? Cuma angin thok! Tenang tenang ... lihat buku petunjuknya. Jangkrik, kanji semua tulisannya. Ya sudah lihat gambarnya saja. Lha, sudah semua itu? Apa lagi ya .... sudahlah, ngopi dulu.
Kembali lagi melototi alat pemanas satu ini. Diajak ngomong nggak bisa, kalo bisa ya sayanya malah lari, atau nggak ngerti juga dia ngomong apa. Mungkin listriknya, kabel saya copot. Waduh nggak punya test pen, ya sudah dipegang saja, rrrrrrrrrrrr nyetrum! Wah bagus listriknya. Ooo...mesti ini gasnya. Lha kan betul, kenob gasnya belum saya puter! Putar pol ke kiri. Pencet tombol lagi .... lha kali ini mak greng. Wiiiih hangat rasanya. Malam ini saya bisa tidur dengan penuh kehangatan.
Sampeyan apa pernah harus menyetrumkan diri dulu agar hangat?
Haiyaaaah ... lha kok sudah hari Minggu lagi, sudah sore pula. Dengar-dengar teman-teman di Indonesia sana pada libur besok itu, sementara saya mulai umpel-umpelan lagi di kereta seperti biasa. Tapi kali ini saya tidak akan mendobos soal kereta atau umpel-umpelan. Saya hanya mau ndobos soal sekolah saya dulu karena baru saja dikirimi sebuah lagu dangdut lawas yang disenandungkan oleh Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks.
Lagu itu berkisah tentang kelakuan seorang mahasiswa yang betah di kampus, nggak lulus-lulus, berkelakuan minus. Kuliah langka, nyatet nggak pernah, ujian dlongop. Kisah yang mirip dengan kisah saya sepertinya. Ya ... saya bukanlah pelajar yang "baik". Saya ingat, bagaimana terharunya para dosen pembimbing saya kala itu. Akhirnya .... hilang juga beban yang satu ini, mungkin begitu kira-kira pikiran mereka. Lepasnya saya dari status mahasiswa itu pun juga berkat dua "surat cinta" dari Pak Dekan yang disampaikannya tanpa perasaan cinta ke saya.
Usai sudah semua kemudahan sebagai mahasiswa, usai sudah waktu yang seakan tak kenal usia itu. Lagu yang dikirim teman tadi membawa saya kembali ke masa-masa itu. Makanya saya suka bingung kalau lihat para wisudawan itu sumringah pol dengan sangat pada saat wisuda. Lho ...... belum tau dia ?!!!
Buat yang mantan mahasiswa ... apa dulu sampeyan betah kuliah? Buat yang masih mahasiswa .... nikmatilah. Buat yang tidak atau belum pernah jadi mahasiswa, sampeyan pasti punya cerita seru juga.
catatan : gambar di atas saya ambil dari sini. Buat yang mau mendengarkan lagu mahasiswa itu, kalau sambungannya nututi, bisa ke sini, teriring pemohonan ijin kepada Koeaing.
Seharian terkurung di kamar karena di luar dinginnya minta ampun, hujan -- selain tadi ada gempa kecil -- dan juga karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan -- juga blog yang harus diisi -- bikin otak saya terpatah-patah. Saking patahnya sampai bingung saya harus ndobos apa hari ini. Mau libur ndobos kok rasanya menyalahi kodrat.
Akhirnya saya putuskan untuk istirahat dulu dari pekerjaan dan blogwalking ke blog orang yang keadaan kepalanya lebih remuk redam dibandingkan saya ... Kang Mas Pecas Ndahe.
Lho ... ada dua cerita wayang, yang satu malah belum tuntas. Satu tentang Drupadi putri Pancala istri Yudistira yang teraniaya karena suami kalah main dadu. Satu lagi tentang gugurnya sang ksatria besar ... Bhisma. Drupadi dinista lelaki, Bhisma roboh di kurusetra oleh perempuan titisan Amba -- yang memuja dan mencinta Bhisma. Dua hal yang tampak berbeda tetapi buat saya paling tidak keduanya memiliki dua kesamaan.
Kepasrahan, walaupun tidak total. Drupadi rela teraniaya tapi ia tak pernah menggelung kembali rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana, begitu sumpahnya. Bhisma yang rela menerima panah tak segera melepas nyawa, dia masih memberi petuah kepada cucu-cucunya, juga pada Yudistira dalam nyanyian Wisnu Sahasranama.
Drupadi dan Bhisma adalah tumbal dari perseteruan besar sebuah keluarga. Perseteruan yang juga menuntut tumbal-tumbal lain semacam Gatotkaca putra Bima yang rela menerima Kunta sang Adipati Karna agar pamannya -- Arjuna -- selamat. Atau Wisanggeni satria tanpa tata krama, putra Arjuna yang harus merelakan nyawanya atas bujukan Kresna sebelum perang besar di Kurusetra itu terjadi.
Dua tulisan itu mengingatkan saya akan tugas yang mesti saya lakukan hari ini. Maka ndoboslah saya sekarang. Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap .... kulo ndamel blog mawon.
Anak kecil bermain baseball di lapangan sekolah, tanpa wasit. Sang pemukul bersiap-siap dengan wajah serius, 2 mati, base pertama dan kedua sudah terisi. Dia tidak boleh mati. Lempar .... pukul, bola memantul, tertangkap dan langsung dilemparkan ke penjaga base pertama. Dapat .... tetapi lantas urusan jadi tak jelas, karena sang pemukul tiba di base pertama. Anak-anak itu berdebat apakah sang pemukul mati atau tidak.
Jalan keluarnya sangat khas anak-anak, suit ... janken, begitu mereka menamainya di sini. Lantas ... Jan Ken Pon .... tidak usah dibahas siapa yang menang, toh perdebatan itu akhirnya berakhir damai dan permainan diteruskan.
Aih aih ... jadi inget Liga Indonesia yang penuh baku hantam. Ayo dong para mas-mas abang-abang kakak-kakak sekalian, mbok ya o jangan mukul .... suit aja deh. Suit gimana? Ini kami tadi itu dicurangi, pokoknya nggak terima.
Jadi inget lagi jamannya masih jadi Bobotoh Persib kelas berat, Kang Encas Tonip teriak-teriak ... "Haling ku aing ... haling ku aing!" Sementara penonton rame-rame berpaduan suara "wasit goblog....wasit goblog"..... hiiiiii......
Belakangan ini Yahoo Messenger saya berhiaskan foto bunga Sakura. Anggap saja dalam rangka menyambut musim semi .... kalo deket-deket lebaran tentunya berhiaskan ketupat. Lha .... gara-gara foto itulah seorang teman -- yang saat ini bermukim di Washington DC -- lantas turut mendobos. Biar saja, hitung-hitung Ndobos Pol punya koresponden di Washington D.C.
Teman ini -- yang biasa saya panggil bunder dan bergelar Dewi Angin-Angin ini -- mendobos demikian :
"Lha klo beginian doing sich, di DC juga akeh. Di sekitar Jefferson Memorial, ada danau buatan bernama Tidal Basin, naa disekelilingnya basin itu berjejeran lah 1.400 pohon Sakura yang di sini dipanggil Cherry Blossom itu. Pemberian pemerintah Jepang, pampasan perang kali. Yang jelas, di awal musin semi seperti sekarang ini, bunga-bunga itu mekar bareng dengan semarak, dan ini ngga disia-siakan oleh pemkot Washington D.C dengan mengekploitasi dan mempromosikannya habis-habisan sebagai objek wisata andalan ibukota Amerika, selain museum dan gedung-gedung pemerintahan yang syuuuuuper garing".
Belum hilang ternyata kebiasaannya menggonggong.
"Dilengkapi ubo rampe komplit, digelarlah festival Cherry blossom setiap tahunnya yang bisa berlangsung selama sebulan dengan berbagai acara. Mulai dari kelas origami, kembang api, Miss Cherry Blossom, sampe pawai budaya yang diikuti berbagai Negara, termasuk Indonesia!!"
Wiiiih...Indonesia !!! Lho kan, Dewi Angin-Angin menggolongkan pawai budaya sebagai kategori terpisah. Mungkin agar tidak tercampur dengan dengan kontes Miss kembang itu ya.
"Tahun ini delegasi pawai budaya Indonesia ini dipimpin oleh budayawan Ikranegara. Dan konon menjadi kontingen ter-akbar makanya ditaruh di urutan barisan paling buncit. Latihan sudah digelar jauh-jauh hari di KBRI. Reog sak gemblake, tari piring, dll dll. Penarinya mulai dari ibu-ibu diplomat KBRI sampe domestic worker beneran alias pembokat rumah tangge. Pokoknya jadi ngga sabar pengen liat penampilan delegasi Indonesia tanggal 8 April nanti."
Waaah ini bakal ada pengerahan masa besar-besaran. Sayangnya Dewi Angin-Angin tidak menerangkan siapa yang jadi gemblak.
""Balik ke Cherry Blossom, Dewi Angin-Angin sudah berkunjung 3 kali ke sana. Pertama waktu masih kuncup. Terus diulang lagi setelah mekar, sambil foto-foto. Yang ketiga, lagi pas full bloom, mekrok abis. Bunganya banyak dan penuh, yang nonton bunga buuuuaaanyaaak dan puuuenuuuhhh. Ada yang piknik di pinggir danau sekeluarga, ada yang puter-puter naik sepeda, ada yang makan es grimm, ada yang jual es grimm, ada yang pre-wedding photo lengkap dengan baju sari, ada juga yang lagi dilamar on the spot pake bunga mawar merah ..gubrakk..
Lha ini Dewi Angin-Angin itu di sana kerja apa tetirah ya?
"Banyak bunga, banyak debu, banyak angin, Dewi Angin-Angin pulang, kerokan, minum melatonin, mimpi jadi geisha pake kimono di pinggir danau penuh bunga sakura....."
Dewi Angin-Angin yang gampang masuk angin tidak menerangkan siapa yang mengeroki dirinya. Apa sampeyan yang ngeroki dirinya?
UPDATE : Seorang teman di kantor bercerita tentang Sakura Dewi Angin-Angin di Washington DC itu. Pada tahun 1912 pemerintah kota Tokyo menghadiahi kota Washington dengan bibit Sakura sebagai lambang persahabatan dari rakyat Jepang kepada rakyat Amerika. Lha...jadi bukan pampasan perang Jeng. Sejarah kumplitnya bisa dilihat di sini.
Kembali pecahan ndase Kang Mas Pecas Ndahe berjudul bayi pecas ndahe mengingatkan saya akan pendobosan bilateral yang pernah saya lakukan dengan seorang kawan yang saat itu berencana ingin punya momongan. Berikut salinannya :
teman : maaaaaaas saya : opo?! tumben teman : berencana punya bayi neeeh, minta saran dong saya : saran opo? saran cara bikin bayi teman : yeeee .... ngawur. saran buat nama bayi saya : lha wong kamu itu ngadon bayinya aja belum kok malah mikir nama teman : berpikiran jauh ke depan . nama apa yang bagus ya mas? saya : mbok ya sudah kamu itu bantingan saja dulu, nama nanti saja teman : saran dong. atau ada buku nama bayi yang direkomendasikan? saya : gak usah beli buku nama bayi segala, liat aja di buku telepon teman : jangkrik saya : lha itu banyak nama-nama bagus di situ asal jangan liat di halaman kuning saya : nanti kamu malah ngasih nama anakmu abadi genteng teman : hwasyu saya : gitu aja nesu...su...su teman : saya : lha kamu, mahluk sontoloyo kayak aku kok ya ditanya urusan begini
Sampeyan ada yang tahu artinya sontoloyo? Bisa dilihat di sini.
Jadiannya sih sebenernya baru seminggu lebih dikit lah, jadi masih anget-angetnya dan mesra-mesranya. Pacar baru saya nyaman digenggam dan nggak pernah protes kalo diplintir-plintir atau dibelai-belai. Katanya tahan diajak ngomong selama 3 jam tanpa putus, bisa mbayarin belanjaan kalau kepepet dan bisa ngasih tau arah jalan. Mungil dan berwarna kulit eksotis ... hijau gelap. Lha gimana nggak mungil, lha wong beratnya cuma 146 gram.
Toshiba 904T saya itu bisa bekerja dilingkungan W-CDMA dan GSM (900/1800/1900 MHz), berkamera 3.2 Megapixels, berlayar luas, memiliki internal GPS dan berfasilitas FeliCa e-wallet system untuk bayar-bayar belanjaan. Dengan sistem ini, untuk membayar tiap kali belanja tinggal mendekatkannya ke alat pembayar. Tagihan belanja lantas disatukan dengan tagihan pemakaian telepon genggam ini. Fasilitas penuntun dengan GPS-nya juga yahud, saya jadi tahu rute terpendek dari rumah ke stasiun. Bisa juga disambungkan --secara fisik maupun tidak-- dengan laptop untuk berselancar di dunia maya. Masih banyak lagi fasilitas yang ditawarkan pacar baru saya ini.
Jeng .... jangan cemburu ya, dengan dia saya menghubungimu setiap akhir minggu. Buat sampeyan semua, apa sudah pernah terima tagihan telpon yang di dalamnya ada tagihan beli wortel?
Membaca Kompas Cyber Media hari ini .... wualah berita gini kok ya ikutan masuk toh. Di bawah judul "Mayang Dijemput Bambang" lantas ditambahi sub-judul "Nama Pakai O Mirip Kakek".
Nggak sampe saya baca habis beritanya .... karena langsung ingat lagu lama dari Mbak Elvie Sukaesih, penyanyi yang saya kagumi. Begini syairnya :
bisik-bisik tetangga kini mulai terdengar slalu ditelinga hingga menusuk di hatiku mengapa engkau harus menyimpan sekuntum mawar merah di balik kelambu hitam aduh, aduh aduh, aduh aduh, aduh aduh
'pabila dirimu ingin mencari hiburan tapi sekurang-kurangnya jangan menjual kasih sayang walaupun cintaku kau anggap layu di tangan tapi sekurang-kurangnya tempat memadu kasih sayang dia memang cantik merayunya semakin menarik dia memang lincah selincah burung merpati bisik-bisik tetangga...
Judulnya "Bisik-Bisik Tetangga". Syairnya penuh ratapan tapi dulu itu ndengerinnya sambil joget-joget setengah merem, bibir bawah digigit dan jempol teracung tinggi menjulang.
Sampeyan ada yang tahu Mbak Elvie sekarang di mana?
Membaca tulisan Kang Mas Pecas Ndahe soal busana patung, mengilhami saya untuk mengisi hari Minggu ini dengan meluntang-lantungkan diri ke kawasan Ginza di Tokyo, hanya saja sasaran saya bukan patung. Kawasan ini dikenal sebagai tempat orang unjuk busana dan dandanan, begitulah ceritanya. Karena musim semi baru saja tiba dan udara dingin serta angin kencang masih tersisa, maka saya membungkus diri serapat mungkin. Tak lupa masker penyaring serbuk sari.
... para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, apa nggak pada kedinginan?
Begitu keluar dari stasiun kereta, pemandangan yang bisa bikin Kang Mas Pecas Ndahe berkeping-keping pun tersaji. Saya lantas duduk untuk menikmati pemandangan yang terhampar. Rambut warna-warni ungu bercampur hijau atau biru bercampur merah melambai-lambai, kaca mata hitam bertenggeran walaupun cuaca saat itu mendung. Para pecel lele (Pemuda/i Celana Lebar-Lebar), para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, ada di mana-mana. Tiba-tiba saya merasa asing di sini karena kostum saya seperti keluar dari tema. Saya tidak mempermasalahkan apakah yang dipakai itu senonoh atau tidak -- saya tidak "konservatif" untuk soal yang satu ini -- yang bikin saya heran itu, apa nggak pada kedinginan?
Rasa dingin mungkin adalah harga yang harus dibayar oleh mereka agar mereka bisa mengekspresikan diri dan itu bisa menimbulkan rasa senang di hati -- ongkos kelakuan. Sama seperti saya yang harus berendam di rawa dan dirubung lintah pada saat mengamati burung, Pak De Kere Kemplu yang lantas menjadi objek tontonan pada saat memotret sebuah papan reklame yang sudah dijahili atau adik Dinda yang harus rela dilucuti agar bisa diluluri. Ada rasa senang serta puas hati sesudahnya. Mungkin rasa puas hati itu juga yang menyertai para pematung setelah dia mematungkan objek dengan busana tak lengkap seperti yang ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe. Perkara apakah yang melihat hasil dari kelakuan tersebut lantas terpesona, terkikik atau malah mecucu sambil mengerutkan dahi, kembali ke soal rasa.
Kembali ke soal muhibah singkat saya ke Ginza, pada akhirnya saya tidak lagi merasa asing, karena saya mengenakan sesuatu yang beda dengan yang lain. Saya merasa hangat dan hati saya senang. Saya pun lantas bangkit dari duduk dan mulai berjalan dengan mantap. Balenggang pata-pata, ngana pe goyang pica-pica, ngana pe bodi .... poco-poco ....
Ada petaka kecil setiap kali saya menjalani musim semi di negara bermusim empat. Saya alergi serbuk sari bunga. Kalu sudah begini, mata merah, hidung seperti keran bocor dan bersin-bersin tak henti-henti hingga nyeri. Kalu sudah begini, pil putih kecil itu jadi langganan. Tak terkecuali kali ini.
Teman saya terkekeh-kekeh melihat rupa saya yang merana ini. Lantas dia menyarankan agar saya pakai masker saja yang bisa dibeli di apotik. Masker??? Lha ... ini baru. Pergilah kami berdua ke apotik dan membeli masker yang ternyata dijual dalam berbagai rupa. Masker ini berfungsi untuk menyaring serbuk sari agar tidak terhisap ke lubang hidung.
Masker digunakan dan teman saya kembali terkekeh-kekeh. "Kamu mirip musuhnya kura-kura ninja!"