Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< April 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Friday, March 31, 2006
Cermin Cermin di Dinding

Foto di sebelah saya ambil tadi pagi di lorong bawah tanah penghubung peron-peron stasiun. Di bagian tengah foto itu ada sebuah cermin. Cermin bagi orang-orang yang hendak mematut diri setelah sebelumnya berlari-lari sehingga dandanannya rusak (mohon lihat pendobosan saya sebelum ini).

Berbagai gaya orang bisa disaksikan pada saat sedang bercermin. Ada yang hanya sekedar merapihkan tatanan rambut dengan tangan, ada pula yang lantas merasa perlu untuk mengeluarkan sisir. Beberapa bahkan ada yang mengeluarkan beauty enhancement tools lengkap dari mulai pewarna bibir, pewarna alis, pupur sampai benda-benda yang saya tak kenal. Tampaknya upaya untuk terlihat kinclong agar layak pandang telah menjadi sebuah kebutuhan yang tak mengenal umur dan jenis kelamin.

Saya lantas ingat sebuah percakapan lama dengan seorang kawan pada saat kami berdua masih bujang. Dia bertanya kepada saya, apakah perempuan idaman saya itu adalah yang berkarakteristik agar-agar atau ember.  Karakteristik agar-agar memiliki penampakan sangat menarik -- mengundang selera --, kinclong sekaligus memberi kesan sejuk dan lembut. Karakteristik ember lain lagi, tak semenarik agar-agar, kukuh, pejal dan nyaris tak dilirik. Memiliki perempuan agar-agar sangat merepotkan, harus dibawa dengan hati-hati, kalau tersandung agar-agar bisa jatuh. Kalau agar-agar jatuh, tak ada suaranya tetapi hancur berantakan .... beyond repair. Sementara perempuan ember membawanya bisa santai, bisa sambil diayun-ayunkan, tak takut tersandung. Kalau ember jatuh, suaranya memang berisik tetapi ember tetap utuh ... low maintenance.

Agar-agar atau ember, sekedar nyisir atau menggincu saya dari tadi itu ndobos soal apa yang terlihat sedangkan yang tak terlihat saya tidak bisa ndobos soal itu, karena itu soal rasa.

Kembali lagi ke soal cermin di stasiun, saya tadi melakukan sedikit "penelitian" -- mengamati berapa orang yang menggunakan cermin itu selama setengah jam. Hasilnya: empat belas orang -- 5 perempuan, 9 laki-laki. Saya lantas memutuskan untuk menjadi laki-laki ke sepuluh ... mirror mirror on the wall, who's the most handsome one of all ...


Posted at 02:41 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Thursday, March 30, 2006
Bergegas Agar Lekas

Jika ingin mencari bibit-bibit unggul pelari cepat jarak pendek di Jepang, cukup datang ke stasiun kereta terutama pada jam-jam sibuk. Pelari-pelari itu bertebaran di seantero penjuru stasiun, laki-laki - perempuan - tua - muda semua ada. Kelompok pontang-panting ini benar-benar membuat saya kagum. Bayangkan lelaki berjas lengkap menjinjing tas atau perempuan dengan dandanan lengkap masa kini, menjinjing tas dan bersepatu hak tinggi melaju dengan kecepatan tinggi. Hati-hati jika berpapasan dengan mereka -- mereka tidak punya rem yang pakem untuk mengurangi laju larinya.


A gentleman will walk but never run

Kekaguman saya lantas berubah menjadi keheranan. Kenapa ya mereka harus sampai berlari-lari seperti dikejar hantu? Bukankah ada banyak kereta yang lewat dan dengan frekuensi yang rapat pula? Apa arti beda 2 - 3 menit? Kenapa mereka tidak berangkat lebih awal? Kenapa kursi untuk menunggu selalu kosong -- kenapa kursi itu ada di situ kalau selalu kosong? Kenapa anak kecil berkuncir itu sampai harus terpelanting karena terseret ibunya yang sedang bergegas.

Walah .... gitu aja kok pake nanya. Sayanya saja yang belum terbawa irama hidup fast-forward, sebentar lagi juga bakal ikut berlari. Tak apalah, sekarang saya hanya ingin menikmati kelambanan saya ini saja. Tak perlu berpontang-panting supaya tidak terpelanting.

Sampeyan mau jalan bareng saya? Tapi saya tidak buru-buru lho. Seperti kata Pak De Sting ... a gentleman will walk but never run.


Posted at 11:22 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Wednesday, March 29, 2006
Gerbong "Menggoda"

Jam delapan lebih empat puluh menit tiba di stasiun kereta, saya sudah terlambat dua puluh menit. Jalan cepat untuk mengejar kereta jam 8:42. Tiba di tempat tepat saat kereta siap berangkat. Tanpa lihat kiri kanan, langsung masuk ke gerbong terdekat. Kereta mulai jalan, ada yang aneh di gerbong ini. Penumpangnya semua perempuan! Di pintu ada gambar bunga berwarna ungu pastel. Haiyaaaaaah, saya ada di kompartemen khusus perempuan. Pasti tadi di pelataran peron ada gambar seperti yang di sebelah ini yang tidak saya lihat (gambar saya ambil dari sini)


Pengadaan gerbong kereta khusus untuk perempuan ini pertama kali diadakan tahun lalu dengan tujuan untuk "melindungi" perempuan dari jamah-jamah tak ramah. Di Jepang sendiri, perbuatan "suka sama muak" semacam ini sebenarnya sudah ada sangsi hukumnya, bisa dikenai kurungan sampai 7 tahun. Akan tetapi tampaknya hal itu bukanlah hal yang menakutkan buat beberapa (atau banyak) orang.

Seorang teman pernah bilang, pada jam-jam sibuk, usahakan tanganmu ada di bawah dan paling bagus kalu tangan masuk ke kantong celana. Jangan sekali-kali melindungi badan dengan menaruh tangan di dada dengan telapak tangan menghadap ke luar, bisa-bisa dikira sedang pasang kuda-kuda siap ndhemek. Ada di dalam kereta pada jam-jam sibuk memang tidak nyaman (paling tidak buat saya) karena orang benar-benar dijejalkan ke gerbong. Sangking padatnya, kita bisa tidur berdiri tanpa takut jatuh. Dalam keadaan begini, apapun bisa terjadi. Terjamah, tercium, terpeluk ....

Kembali soal kejadian pagi tadi, begitu sampai di stasiun berikutnya, saya langsung keluar gerbong itu dan pindah ke gerbong lain untuk menghindari kejadian jamah-jamah menggoda. Saya sempat melihat ada beberapa perempuan yang senyum-senyum mengiringi keluarnya saya dari gerbong itu.

Buat yang laki-laki, apa sampeyan pernah di senyum-senyumi perempuan tak di kenal? Buat yang perempuan .... saya sudah jinak kok.


Posted at 10:48 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Tuesday, March 28, 2006
Buang Makanan -- Ayam Mati

Sekitar jam setengah sepuluh malam, di depan sebuah toko penjual makanan siap santap (bento) terpampang tulisan dalam karakter kanji.

Saya : Apa arti tulisan itu?
Teman : Separuh harga. Itu harga bento yang belum laku hari ini.

 Isi bento itu makanan lengkap, ada nasi atau mi, dengan lauk pauknya.

... ayo makanannya dihabiskan sampai bersih, kalo nggak nanti ayam peliharaanmu itu mati lho ...

Saya : Lha ... kalau nggak laku juga terus bagaimana?
Teman : Dibuang.
Saya : Apa tiap hari ada kejadian begini?
Teman : Ya ... setiap hari. Kalau kamu belum makan malam dan mau beli makanan murah sekarang waktu yang bagus.
Saya : Kenapa toko ini nggak beli saja secukupnya, jadi nggak ada yang harus dibuang.
Teman : *cuma ngangkat bahu*

Waladalah .... makanan kok dibuang ya? Saya langsung inget orang-orang yang pada kelaparan dan kurang gizi.

Jaman saya kecil dulu Ibu selalu bilang "ayo makanannya dihabiskan sampai bersih, kalo nggak nanti ayam peliharaanmu itu mati lho". Aku dulu njawabnya "Bu ... bukannya kalo nyisa makanannya bisa dikasihkan ayam jadi ayamnya malah sehat-sehat?" Biasanya saya lantas dikeplak Ibu, pokoknya makanan harus habis.

.... Bu, mau lapor Bu .... di sini banyak ayam yang mati.


Posted at 09:55 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Monday, March 27, 2006
Musim Semi



Kuncup bunga sakura itu sudah mulai mekar tanda musim semi sudah tiba.
Sudah waktunya untuk makan siang di bawah pohon.
Di Bogor sekarang musim duren, apa ada yang makan siang di bawah pohon duren ya?


Posted at 02:42 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Sunday, March 26, 2006
Pindahan

Kali ini saya hanya ingin ndobos tentang kehebohan acara masuk rumah susun saja, yang saya lakoni sejak Sabtu siang hingga Minggu sore tadi dengan dibantu dua orang teman yang gagah berani -- tentu saja Sabtu malam tidak dihitung karena Mbilung juga manusia yang perlu tidur. Hingga saat berita ini diturunkan, badan ini masih didera capek-capek, mana di sini nggak ada parem kocok lagi.

Acara pindahan dibuka dengan membuka pintu ruangan, yang lantas diikuti dengan inspeksi gas, listrik, air dan kondisi ruangan. Semua baik-baik dan acara angkat mengangkat pun dimulai. Berhubung ruangan saya itu letaknya di lantai empat dan tidak ada yang namanya lift maka yang bisa diandalkan cuma otot-otot kaki, tangan dan punggung. Angkat-angkat tenaga urat begini benar-benar menguras tenaga karena yang harus diangkat itu mulai seprei sampai mesin cuci dan kulkas. Bagi atlet angkat besi atau angkat berat hal begini mungkin tidak masalah, tapi bagi kami yang semuanya atlet angkat ballpoint dan angkat telpon ..... wuih. Untung saja acara angkat-angkat ini selesai sebelum gelap. Acara hari itu ditutup dengan makan besar -- porsi ganda--, acara mencari telepon genggam dan acara tidur nyenyak.

Pagi tadi diisi dengan acara beres-beres, yang ternyata tidak ringan juga, disertai dengan acara berbelanja beberapa kebutuhan rumah mulai dari korden sampai bantal. Acara ini berakhir sore tadi dan ditutup dengan acara registrasi sambungan internet broadband yang katanya baru akan online minggu depan. Sesudah kedua teman yang baik hati tersebut pulang, sayapun mulai melakukan acara masak makan malam pertama di rumah baru -- telor ceplok goreng kering, nasi putih dan kecap manis. Begitu makanan siap disantap, baru sadar ternyata ada yang kurang. Jangkriiiiiiiiiik ...... saya lupa beli sendok !!!

Apa sampeyan heboh begini juga kalo pindahan?


Posted at 09:27 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Saturday, March 25, 2006
Gundala Kehilangan Setrum

Laptop yang saya pakai sekarang bisa digolongkan sebagai collector items, selain karena faktor usia dan rupa, juga karena faktor ketahanannya yang rada-rada nggak umum. Sudah dua kali laptop ini disamber geledek, tetapi sampai sekarang masih tetap jaya. Karena itu dia lantas saya beri nama Gundala -- sang putera petir. Tadinya ingin dinamai Ki Ageng Selo, tapi kok ya malah takut kualat, atau laptop saya bisa-bisa dikira jimat, maka Gundala lah namanya sampai sekarang.

Kemarin sore, lampu indikator setrum Gundala tiba-tiba mati. Setelah diselidiki dengan seksama ternyata adaptornya tak mengalirkan setrum. Lha ... bagaimana Gundala bisa bekerja tanpa setrum? Dengan bantuan teman, beberapa toko elektronik yang katanya menjadi penjual merk laptop saya ini berhasil dihubungi. Tak ada satu tokopun yang menjual adaptor bagi Gundala. Mak jang, Gundala bisa semaput permanen kalau begini caranya.

Dengan berbekal catatan spesifikasi adaptor Gundala tersebut saya lantas berlari-lari menuju kawasan elektronika. Tak satupun yang menjual adaptor bagi Gundalaku sayang Gundalaku malang. Mati gaya? Belum!!! Saya lantas membeli sebuah adaptor untuk laptop bermerk lain yang tampaknya cocok untuk Gundala.

Setibanya di sisi Gundala yang sudah megap-megap karena sakaw setrum, adaptor baru tersebut saya pasangkan. Diamput .... gak bisa. Gundala masih megap-megap. Maka cara "kekerasan" pun dilakukan. Konektor adaptor ke laptop saya gunting dan lantas saya sambungkan dengan konektor lama. Coba lagi. Berhasiiiiiiiiiiiiiiiiil, Gundala bugar kembali.

Teman kerja saya geleng-geleng sambil berkata "Kenapa tidak kamu ganti saja laptop itu?" Gundulmu !!! -- dia memang gundul kok. Gundala adalah salah satu benda yang sudah menyertai banyak perjalanan saya ke mana-mana. Hutan, rawa, gunung, pantai dan banyak kota.

Apa sampeyan juga punya barang yang selalu setia menemani kemana sampeyan pergi? Nempel terus, selalu bersama ... ibarat koreng dan laler.


Posted at 10:02 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Friday, March 24, 2006
KTP buat Alien

Waduh ... harus bikin KTP lagi. Kartu kecil seukuran kartu pemilih keluaran KPU ini wajib dimiliki oleh semua orang asing yang tinggal di Jepang. Mereka menyebutnya Alien Registration Certificate (ARC). Maka, jadilah saya pagi ini tergopoh-gopoh ke balai kota untuk bikin ARC.

Mencapai balai kota tidak sulit, naik kereta - bus kota lantas jalan kaki sedikit. Belum sampai keringetan, sudah sampai. Ambil nomer antrian, duduk manis. Lha kan ... saya lupa bawa pas foto. Aaah ... mesin pas foto yang bentuknya persis kotak foto yang digemari ABG di mal-mal itu ada di pojok sana. Senyum .... jepret, 10 detik kemudian wajah saya sudah terabadikan di selembar kertas.

Nomer antrian sudah muncul di layar. Isi formulir, serahkan paspor dan foto, tunggu sebentar, selesai. Selembar ARC sementara sudah jadi. ARC-nya sendiri ?? .... tunggu satu bulan lagi.

Dari mulai ambil nomer antrian hingga dapat surat kurang dari 10 menit. Kalau di Bogor? ... he he he, malu nyebutnya. Tetapi paling tidak di Bogor KTP keluar dua hari kemudian, di sini harus nunggu satu bulan. Hayoooo .... pilih mana?

Hari ini saya resmi jadi alien dengan nomer B488586 sekian sekian sekian.


Posted at 07:27 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, March 23, 2006
Aturan Hidup

Masa liburan selesai, masa lemburan dimulai lagi. Secara resmi, hari pertama ngantor lagi ini diisi dengan ngejar kereta api yang nggak ada apinya, nggeret-nggeret koper keliling stasiun, rapat tanpa kesimpulan dan mulai lihat-lihat gambar apartemen baru yang bakal mulai ditempati Sabtu besok serta membaca aturan hidup di apartemen itu. Berikut beberapa kutipannya (saya kutip sesuai aslinya):

Do not wash the entrance floor or the balcony with water.
(*lha lantas pake apa?*)

Please place the drainage hose for air conditioners in the balcony drain.
(*nanti malah dikira nyuci balcony*)

House mates are restricted to family members (spouse, blood relatives in the 6th degree and in-laws in the 3rd degree).
(*apa ini bukan artinya orang sak kampung boleh nginep semua*)

Be careful about the volume level of stereo, TV, piano, so as not to bother the neighbors.
(*piano???? .... tambur, trompet, bedug, gitar listrik, anak kecil jerit-jerit ... tidak masalah*)

Masih banyak lagi .... belum apa-apa udah kangen balik ke Bogor lagi.


Posted at 02:24 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Wednesday, March 22, 2006
Jakarta - Singapura : di antara dua perwira

Kalau naik pesawat, saya paling benci duduk di bangku tengah. Lihat ke luar jendela susah, mau ke toilet juga harus melompati orang. Belum lagi perasaan "dijepit" dari kanan dan kiri, apalagi kalau yang duduk di kiri dan kanan itu bertubuh sentosa. Tapi dalam perjalanan kali ini saya tidak punya pilihan, saya harus duduk di kursi yang saya ndak suka itu. Ah .... kan lama penerbangan cuma sejam lebih dikit.

Ternyata dua orang yang mengapit saya tubuhnya tidak besar, dua laki-laki bertubuh langsing. Penumpang di kiri saya langsung menyodorkan tangan, ngajak salaman, saya terima. Dia menyebut namanya "Kapten A" ... wuih tentara. Dia dalam perjalanan ke Oklahoma untuk ikut pelatihan -- perwira artileri berumur 32 tahun, dan ini adalah perjalanan ke luar negrinya yang pertama. Belum lagi pesawat bergerak, lelaki di sebelahku bertanya apa koran yang aku bawa bisa dia pinjam. Kenalan lagi, "Lieutenant Commander B", angkatan laut Amerika, baru selesai tugas di Surabaya ... perwira juga. Pak Kapten dan mister Lieutenant Commander pun berkenalan. Dua-duanya ngobrolnya juara, nyaris tidak ada jeda.

Kira-kira 20 menit setelah lepas landas, dua perwira itu sudah akrab satu sama lain, ngobrol dengan serunya sementara saya yang di tengah cuma nyaut satu dua kali, sembari kepala ini bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri seperti orang nonton tenis. Obrolan mereka sepanjang pertjalanan macam-macam, mulai dari soal Oklahoma tujuan Pak Kapten, pangkalan angkatan laut San Diego yang akan menjadi tempat tugas baru mister Lieutenant Commander bulan Juni nanti, sampai soal meriam Indonesia yang nggak bisa nembak gara-gara kehabisan onderdil.

Sepuluh menit sebelum mendarat, dua perwira bertukar kartu nama yang ada alamat emailnya dan saling berjanji untuk keep in touch. Pesawat mendarat mulus di Changi, dua perwira itu keluar bebarengan setelah sebelumnya menyalami saya. Obrolan mereka jalan terus, sampai mereka hilang dari pandangan saya.

Coba sampeyan pikir, apa yang aneh dari cerita singkat barusan? Sampe sekarang saya nggak habis pikir ..... kenapa salah satu dari dua perwira itu tidak menawarkan saya untuk tukeran tempat duduk ya? Jadi mereka lebih enak ngobrolnya, saya tidak menjadi penghalang. Selain itu saya juga senang kalau ditawari tukeran bangku karena saya benci duduk dibangku tengah. Lha .... kenapa juga saya nggak mengusulkan tukeran bangku kepada dua perwira itu.

Coba saya sekarang tanya, kalau sampeyan ada di posisi saya, apa sampeyan akan mengusulkan tukeran bangku?


Posted at 11:40 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Previous Page Next Page