Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Salah satu berita utama dari tanah air yang saya baca hari ini adalah soal kecelakaan kereta api di Stasiun Gubug, Grobogan. Dalam kecelakaan ini 14 nyawa hilang karena kelalaian, suatu harga yang tak terkira mahalnya. Siapa atau apa yang salah, bukan wewenang saya untuk menjawabnya. Tetapi saya kok jadi ingin bertanya kenapa hal-hal begini terlalu sering berulang atau terulang. Ndableg men toooooh, kenapa jadi degil begini?
"Lho, mbok ya o jangan merengut dulu toh Mas", begitu kata teman saya barusan. Lha ndak merengut bagaimana? Coba itu, yang "besar-besar" saja dulu, pesawat nyasar, nyungsep, kepleset, nggak bisa terbang karena rem-nya terlalu pakem; kereta api numbur, anjlog, ada yang kesetrum, terpelanting, entah apa lagi; kapal laut tenggelam, bocor, terbalik. Nah kalau yang besar-besar saja begini apalagi yang "kecil-kecil" itu yang tidak layak masuk koran karena dianggap terlalu biasa, semisal tertabrak atau keserempet motor, dipepet bus atau truk tentara -- saya mengalami hal ini beberapa bulan yang lalu --, diseruduk mobil pada saat nyebrang di zebra cross atau tertimpa pelat seng (teriring ucapan turut bersedih buat Rizal).
"Sampeyan itu lho, siapa lagi yang mau celaka?", teman saya masih mencoba menenangkan. Lho kok tanya saya? Lha ya ndak tau saya. Tapi yang jelas saya ndak mau celaka konyol begitu. "Lha ya sudah, sampeyan ndak usah ada di jalan saja", kata teman itu melanjutkan. Gini lho, saya dulu itu pernah diseruduk truk yang ngangkut batu di Taman Cilaki, Bandung, waktu sedang beli kembang untuk praktek ilmu hayat. Masih belum menyerah teman itu, "paling tidak sampeyan ndak masuk rumah sakit tiap hari toh?". Jangkrik .... itu satu-satunya kecelakaan yang membuat saya nginep di rumah sakit. Lagian tiap hari masuk rumah sakit, lha apa sampeyan kira saya ini perawat?
Sebungkus Gudang Garam Surya Mild 16, saya temukan secara tidak sengaja di toko Kagaya yang terletak di lantai satu gedung Kinokuniya di Shinjuku. Bertampang lebih mirip dengan Gudang Garam International, kotaknya dipenuhi tulisan Kanji yang entah apa artinya. Tak ada pita cukai. Terdapat juga lambang recycle (daur ulang) di bagian samping tutup kotak, entah apanya yang di-recycle, mungkin kertas kotaknya.
Seorang teman yang saya ceritakan soal penemuan ini berkomentar, "itu yang di-recycle mbakonya!!! mesti bekas bako nyusur (tembakau yang dikunyah), coba dilihat, mesti warnanya merah tur mambu abab". Wah, ndak tau saya apa memang begitu. Rokok itu belum saya buka sampai sekarang.
Pulang kantor, masuk ke sarang laron -- begitu saya menamai jalan-jalan bawah tanah yang ruwetnya luar biasa di sekitar Shinjuku -- seperti biasa. Penyakit menahun kambuh, saya suka nyanyi-nyanyi sendiri, lagunya sembarang, random, nggak pernah selesai dan nggak jelas awal dan akhirnya bagaimana. Kata beberapa teman, saya pantas jadi penyanyi, tapi penyanyi radio, bukan penyanyi tv ... kasian yang nonton katanya. Lha yang denger radio juga kasian, lha wong saya itu kalau menyanyi nada dasarnya do sama dengan ng kok, begitu pikir saya.
..... aku bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa .....
Hmmmm, Zamrud Khatulistiwa. Lagunya Swara Mahardhika di akhir tahun 70-an. Lho? bisa nggak ya bahagia, hidup sejahtera tetapi tidak di khatulistiwa? atau bahagia, hidup tidak sejahtera di khatulistiwa? atau tidak bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa? atau tidak bahagia, hidup sejahtera tetapi tidak di khatulistiwa? atau ..... mulai melamun.
Lha ... saya di mana ini? tuh kan kesasar .... jangkrik, dasar tukang mimpi. Coba jalan ke sana, nanti dulu, ah balik saja, balik ke mana? Aaaaah ya sudah ke sana saja. Lha wong saya ini orang merdeka kok, boleh jalan ke mana saja, kalau sekarang kesasar nanti juga ketemu jalan yang benarnya.
.... bersuka cita, insan di persada yang bebas merdeka .... .... aman damai sentosa disetiap masa, bersyukurlah kita semua ....
Tadi malam saya baru sadar betapa sepinya Tokyo ini walaupun disesaki oleh lebih dari 12 juta jiwa -- itu baru orang lho, belum kalo yang bukan orang ikut dihitung bisa berlipat-lipat jadinya. Sepi terutama untuk saya. Di tempat ini saya bisu (nggak bisa ngomong Jepang), tuli (nggak ngerti orang Jepang ngomong apa) dan buta huruf (nggak bisa baca tulisan Jepang), maklum saya dipindah mendadak ke tempat ini.
Lepas dari semua keterbatasan saya itu, Tokyo adalah kota yang sunyi. Tidak percaya? mari ikut saya pulang dari kantor. Kantor saya ada di Shinjuku dan stasiun kereta Shinjuku yang katanya disesaki oleh lebih dari 3 juta orang per-harinya itu adalah tujuan pertama. Orang mengalir seperti air bah, serba cepat, tetapi suara paling keras di stasiun itu adalah suara hentakan sepatu. Semua orang bergegas dengan ekspresi wajah yang nyaris sama, dingin, pandangan lurus ke depan, mulut terkatup rapat, kecuali mulut saya yang ndlongop dan pandangan mata saya yang pecicilan lirik sana lirik sini.
Tiba di peron, antrian biasanya sudah panjang. Ngantrinya tertib tapi ya itu tadi, semua diam. Sibuk dengan bacaan, menceti tombol-tombol hp atau cuma ngelamun. Kalaupun ada yang ngobrol, sayup-sayup. Suara roda-roda kereta, pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta adalah suara yang dominan. Begitu kereta tiba, seperti botol minuman bersoda yang baru dikocok dan lantas tutupnya dibuka, orang-orang muncrat dari dalam gerbong. Masih tanpa suara.
Giliran yang masuk sekarang, dalam hitungan detik gerbong sudah penuh. Berdesak-desakan, full body contact. Kasian yang habis belanja tomat, mesti sampe rumah itu tomat sudah jadi jus. Pintu kereta ditutup....banyak wajah-wajah yang menempel di kaca .... persis seperti ikan sapu-sapu di akuarium. Semua diam, tak ada suara semisal "hwadooooooh" .... "hooooooi kejepit neeeeh" .... "penuhh paaaak penuuuuh" ..... "iiiiiih, apaan sih inih" .... "sapa yang kentut!!!".
Setengah jam lebih saya bakal ada di dalam kereta sunyi itu. Ada yang tidur, ada yang baca, ada yang mainan hp, ada yang ndlongop .... saya itu. Poster-poster iklan dalam kereta yang jumlahnya banyak nian itu seolah-olah ingin mengajak ngobrol, tapi saya ndak ngerti. Ya sudah....saya balas saja senyum para poster itu. Kereta berhenti di beberapa stasiun, orang keluar masuk, himpitan makin lama makin longgar. Sesekali terdengar ada yang menghela napas, mungkin karena merasa lega.
Sudah tiba, keluar gerbong beramai-ramai dan mulai terjadi antrian di tangga. Semua masih diam. Sekarang berjalan menuju halte bus dan mengantri lagi. Coba perhatikan sekeliling. Ada warung 7-Eleven yang buka 24 jam itu, ada McDonald's dan ada KFC ... penuh semua. Warung-warung itu, saya menyebutnya kedutaan besar Amerika Serikat, punya pengaruh besar di Jepang. Warung McDonald's pertama di Asia dibuka di Jepang, 40% warung 7-Eleven di dunia ada di Jepang dan Pak jenggot Colonel Sanders dikenal sebagai "Mister Fried Chicken" di Jepang. Terry Sanders, sang pemenang Oscar dua kali, pernah membuat film tentang McDonald's di Jepang ini yang lantas diberi judul "The Japan Project: Made in America".
Mobil-mobil lalu-lalang di jalan, nggak ada suara klakson. Antrian itu .... 7 perempuan 3 laki-laki, saya laki-laki ke empat dalam barisan. Perempuan Jepang bekerja di luar rumah adalah hal yang umum sekarang, walaupun entah kenapa jika berjalan bersama rekannya yang laki-laki mereka langsung bergeser sedikit ke belakang, mungkin jalan beriringan dengan laki-laki itu adalah hal yang tidak pantas. Teman perempuan sekantor saya juga begitu, kalau saya melambatkan jalan, dia juga menyesuaikan kecepatan jalannya, saya belum coba apakah kalau saya lari dia juga ikut lari. Ya sudahlah, mungkin memang saya lebih menarik kalau dilihat dari belakang, begitu pikir saya.
Bus itu datang, bus nomer 21 malam ini. Semua antri tertib masuk, membayar atau memasukan kartu magnetik sebesar kartu telepon. Sang supir bolak balik bilang terima kasih, tanpa ada yang menyahut, hanya dia yang bicara, saya juga diam tak menjawab ucapan terima kasihnya, takut nanti dia malah kaget. Saya duduk di belakang, tak lama, ada seorang perempuan mengangkuk ke saya, saya balas mengangguk sambil tersenyum, dia nggak senyum dan lantas duduk di samping saya. Suara perempuan yang telah direkam sebelumnya terus nyerocos sepanjang perjalanan, entah apa yang diomongkannya. Tidak sampai 10 menit, saya sudah tiba. Tempat tinggal saya masih kira-kira empat ratus meter lagi dan hari sudah larut. Negeri ini memang sepi.
Sampeyan apa pernah minum jus tomat hasil dempet-dempetan? Blender sunyi.
Kiriman cerita dari koresponden Ndobos di Washington DC, sang Dewi Angin-Angin, akhirnya tiba juga, walaupun tidak dilengkapi foto, lha wong namanya koresponden gratisan kok?! Isi ceritanya tentang kontingen Indonesia pada parade Cherry Blossom di Washington DC seperti yang pernah disinggung sebelumnya. Mungkin juga ada yang sudah melihat beritanya di salah satu televisi di Indonesia. Beginilah kisahnya :
Jalan utama depan Washington Monument Hujan deras berangin Genderang tabuik bertalu-talu Sorak-sorai reog dan jaranan “Hohohooo warok Ponorogo, warok Suromenggolo..” Disambut teriakan puluhan pasangan pengantin tradisional cilik dari berbagai daerah Indonesia
Seorang ibu (penonton) kepada anaknya,”These are people from Indonesia, darling”
Yo konco neng nggisik gembiro, alerap-lerap banyune segoro, angliak numpak prau layar, ing dino Minggu keh pariwisoto…
Hujan semakin deras Angin tambah dingin Penari Pariaman mukanya basah Pemegang reog giginya kelu menggigit beratnya bulu merak yang kuyup Pengantin cilik robek-robek payung kertasnya
Tapi mereka terus berjalan Terus berpawai Sesekali beratraksi Memutar-mutar menara tabuik Memperagakan gerakan silat Melonjak-lonjak di atas kuda kepang
…alon praune wis nengah, byak byuk byaak banyu binelah, ora jemu-jemu karo mesem ngguyu, ngilangake roso lungkrah lesu…
Melewati panggung kehormatan di 17th Street Dengan spanduk bertuliskan "Indonesia, the ultimate in diversity" dan ada juga "Indonesia thanks America for Tsunami relief assistance" Rombongan dari negara yang selama ini di-cap “teroris” dan berada di urutan kedua dari belakang barisan ini, disambut dengan senyum dan goyangan penonton yang tinggal segelintir jumlahnya akibat diguyur hujan
Terus menabuh Terus menari Terus serukan pada dunia tentang indahnya Indonesia
Begitulah keseluruhan isi beritanya. Dewi Angin-Angin lantas menutup beritanya dengan :
Koresponden Washington DC yang tetap kering selama meliput parade karena pake jas hujan ‘Tabasa’ (asli dari Indonesia). Hanya matanya yang sedikit basah, ..ihik
Saya tidak akan ndobos apa-apa soal ini.
Jika berminat dan sambungan sampeyan memadai bisa lihat rekaman videonya di sini.
Dobosan singkat. Salah satu Iklan Goooooogle (Ads by Google) : Cari kawan, gadis, lelaki dan jodoh. Daftar percuma.
Lha kalau percuma kenapa ndaftar? .... ke Bandung .... Surabaya, bolehlah naik dengan percuma. Perbedaan pengertian yang lantas memisahkan sebuah bangsa serumpun.
Sampeyan berminat ndaftar? Silahkan ke sini. Percuma lho ...
Dua bayi yang lahir pada hari yang sama 25 Januari 2006, Rheya Cindatiana Harbani (Rheya) dan Adyaraka Nurfalah Santoso (Raka). Rheya niscaya akan tumbuh menjadi gadis cantik seperti Ibunya -- kalo cantik kayak Bapaknya agak mengerikan jadinya -- dan Raka akan jadi segagah Bapaknya -- walaupun Ibunya Raka juga gagah. Saya ndak ada sahamnya di dua bayi lucu ini, saya hanya pamannya saja. Haiyaaaah ... paman ... lupa saya sudah ada berapa keponakan yang saya punya.
Walaupun susah njawabnya soal jumlah keponakan itu, tapi saya ingat sekali kelakuan masing-masing. Seragam, nggak ada bedanya, rusuh, brutal, liar dan ngangeni. Tampaknya semua berbakat sebagai pendobos. Lha apa iya ada pendobos santun dan tidak petakilan? Akan tetapi saya berharap Rheya dan Raka akan menjadi anak santun, patuh pada orang tua, berguna bagi nusa dan bangsa dan ndobos seperti pamannya.
Teriring ucapan terima kasih untuk Ibunya Raka yang sudah mengirimkan foto ini di tengah malam bolong dan Bapaknya Raka, sang fotografer raw format, yang bersusah payah memotret dua bayi kembar lain ayah lain ibu ini.
Sampeyan sekalian apa punya kembaran tak sekandungan?
Walaupun resminya sekarang sudah musim semi, tapi saya masih sering kedinginan terutama kalau malam hari. Suhu udara walaupun cenderung naik, masih berubah-ubah sak enaknya sendiri. Lha wong suhu kok kayak harga bawang. Tidur hanya sekedar berpakaian lengkap ditambahi baju hangat rupanya belum cukup buat saya, tambahi selimut masih juga kedinginan. Akhirnya saya memutuskan untuk beli pemanas ruangan saja.
Mencari pemanas ruangan berbahan bakar gas -- di kamar saya ada saluran gas-- lha kok susah ternyata, di toko-toko itu bilangnya sudah nggak musim lagi. Haiyaah, akhirnya terpaksalah berbelanja dengan telepon. Pemanas itu akhirnya datang Minggu kemarin, yang dengan sangat antusias saya pasang langsung.
Pemanas berbahan bakar gas, berpemantik dan berkipas listrik, wuiiiih. Cukup mungil dan tombolnya sedikit, hanya tiga, satu untuk menyalakan dan mematikan alat itu dan dua lagi untuk menaikkan suhu atau menurunkannya. Ini penting karena saya alergi tombol yang saya nggak ngerti itu buat apa. Tunclep sana tunclep sini, sang pemanas terpasang, tekan tombol .... lho kok nggak bunyi ya? Oooo ... ini teknologi baru ini mestinya, super senyap. Tapi kok nggak panas-panas juga ya? Cuma angin thok! Tenang tenang ... lihat buku petunjuknya. Jangkrik, kanji semua tulisannya. Ya sudah lihat gambarnya saja. Lha, sudah semua itu? Apa lagi ya .... sudahlah, ngopi dulu.
Kembali lagi melototi alat pemanas satu ini. Diajak ngomong nggak bisa, kalo bisa ya sayanya malah lari, atau nggak ngerti juga dia ngomong apa. Mungkin listriknya, kabel saya copot. Waduh nggak punya test pen, ya sudah dipegang saja, rrrrrrrrrrrr nyetrum! Wah bagus listriknya. Ooo...mesti ini gasnya. Lha kan betul, kenob gasnya belum saya puter! Putar pol ke kiri. Pencet tombol lagi .... lha kali ini mak greng. Wiiiih hangat rasanya. Malam ini saya bisa tidur dengan penuh kehangatan.
Sampeyan apa pernah harus menyetrumkan diri dulu agar hangat?
Haiyaaaah ... lha kok sudah hari Minggu lagi, sudah sore pula. Dengar-dengar teman-teman di Indonesia sana pada libur besok itu, sementara saya mulai umpel-umpelan lagi di kereta seperti biasa. Tapi kali ini saya tidak akan mendobos soal kereta atau umpel-umpelan. Saya hanya mau ndobos soal sekolah saya dulu karena baru saja dikirimi sebuah lagu dangdut lawas yang disenandungkan oleh Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks.
Lagu itu berkisah tentang kelakuan seorang mahasiswa yang betah di kampus, nggak lulus-lulus, berkelakuan minus. Kuliah langka, nyatet nggak pernah, ujian dlongop. Kisah yang mirip dengan kisah saya sepertinya. Ya ... saya bukanlah pelajar yang "baik". Saya ingat, bagaimana terharunya para dosen pembimbing saya kala itu. Akhirnya .... hilang juga beban yang satu ini, mungkin begitu kira-kira pikiran mereka. Lepasnya saya dari status mahasiswa itu pun juga berkat dua "surat cinta" dari Pak Dekan yang disampaikannya tanpa perasaan cinta ke saya.
Usai sudah semua kemudahan sebagai mahasiswa, usai sudah waktu yang seakan tak kenal usia itu. Lagu yang dikirim teman tadi membawa saya kembali ke masa-masa itu. Makanya saya suka bingung kalau lihat para wisudawan itu sumringah pol dengan sangat pada saat wisuda. Lho ...... belum tau dia ?!!!
Buat yang mantan mahasiswa ... apa dulu sampeyan betah kuliah? Buat yang masih mahasiswa .... nikmatilah. Buat yang tidak atau belum pernah jadi mahasiswa, sampeyan pasti punya cerita seru juga.
catatan : gambar di atas saya ambil dari sini. Buat yang mau mendengarkan lagu mahasiswa itu, kalau sambungannya nututi, bisa ke sini, teriring pemohonan ijin kepada Koeaing.
Seharian terkurung di kamar karena di luar dinginnya minta ampun, hujan -- selain tadi ada gempa kecil -- dan juga karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan -- juga blog yang harus diisi -- bikin otak saya terpatah-patah. Saking patahnya sampai bingung saya harus ndobos apa hari ini. Mau libur ndobos kok rasanya menyalahi kodrat.
Akhirnya saya putuskan untuk istirahat dulu dari pekerjaan dan blogwalking ke blog orang yang keadaan kepalanya lebih remuk redam dibandingkan saya ... Kang Mas Pecas Ndahe.
Lho ... ada dua cerita wayang, yang satu malah belum tuntas. Satu tentang Drupadi putri Pancala istri Yudistira yang teraniaya karena suami kalah main dadu. Satu lagi tentang gugurnya sang ksatria besar ... Bhisma. Drupadi dinista lelaki, Bhisma roboh di kurusetra oleh perempuan titisan Amba -- yang memuja dan mencinta Bhisma. Dua hal yang tampak berbeda tetapi buat saya paling tidak keduanya memiliki dua kesamaan.
Kepasrahan, walaupun tidak total. Drupadi rela teraniaya tapi ia tak pernah menggelung kembali rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana, begitu sumpahnya. Bhisma yang rela menerima panah tak segera melepas nyawa, dia masih memberi petuah kepada cucu-cucunya, juga pada Yudistira dalam nyanyian Wisnu Sahasranama.
Drupadi dan Bhisma adalah tumbal dari perseteruan besar sebuah keluarga. Perseteruan yang juga menuntut tumbal-tumbal lain semacam Gatotkaca putra Bima yang rela menerima Kunta sang Adipati Karna agar pamannya -- Arjuna -- selamat. Atau Wisanggeni satria tanpa tata krama, putra Arjuna yang harus merelakan nyawanya atas bujukan Kresna sebelum perang besar di Kurusetra itu terjadi.
Dua tulisan itu mengingatkan saya akan tugas yang mesti saya lakukan hari ini. Maka ndoboslah saya sekarang. Bumi gonjang ganjing langit kelap kelap .... kulo ndamel blog mawon.