Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Telepon saya berbunyi pagi-pagi. Wah tumben ini, ada apa? Hanya teman sekantor yang bertanya (*memohon tepatnya*) apa saya bisa berangkat ke Cambridge Selasa besok. Bisa, kata saya, tapi saya nggak mau, dan kemudian diikuti dengan rentetan alasan untuk mendasari "kemalasan" saya itu. Selesai, saya tidak pergi.
Gara-gara telepon itu saya lantas melamun soal Cambridge. Sebuah kota yang sudah sangat tua, entah sudah berapa lama tempat itu jadi hunian orang. Katanya di tempat ini sudah ada pemukiman sejak 1000 tahun sebelum Masehi ... wah saya belum lahir. Cambridge terkenal karena universitasnya, paling tidak 20% dari penghuni kota ini adalah mahasiswa. Penduduk Cambridge sendiri sekitar 100-an ribu jiwa yang tampaknya hidup tenang di tengah tingginya biaya hidup di kota yang nyaris rata ini. Walaupun Cambridge bukan kota favorit saya, ada beberapa tempat yang bisa membuat saya betah berlama-lama. Saya hanya akan ndobos soal 2 tempat saja.
Perpustakaan kantor. Entah berapa ratus ribu bahan bacaan tersimpan di tempat ini, hampir semua tentang burung. Walaupun saya bisa saja mengakses bacaan tersebut tanpa pindah dari meja saya, tetapi ritual mencari, mengeluarkan, memegang dan membaca halaman-halaman buku atau re-print, sulit digambarkan nikmatnya. Saya betah membaca di pojok ruangan sampai lupa waktu, lupa makan, lupa merokok dan lupa nge-blog. Lebih nikmat lagi jika membaca catatan perjalanan para penjelajah dan peneliti burung sambil ditemani dengan atlas/peta. Saya menyebutnya sebagai mind travel. Pikiran melayang sambil membayangkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan. Bacalah apa yang ditulis oleh Alfred Russell Wallace tentang Wonosalam di Jawa :
Wonosalem is situated about a thousand feet above the sea, but unfortunately it is at a distance from the forest, and is surrounded by coffee plantations, thickets of bamboo, and coarse grasses. It was too far to walk back daily to the forest, and in other directions I could find no collecting ground for insects. The place was, however, famous for peacocks, and my boy soon shot several of these magnificent birds, whose flesh we found to be tender, white, and delicate, and similar to that of a turkey.
Sekarang ini sudah agak susah mencari burung merak (peacock). Rupanya yang elok membuatnya menjadi layak kandang. Bulunya yang cantik membuatnya diburu pembuat topeng reog. Dagingnya, seperti yang dikatakan Wallace itu ... layak santap.
Pinggiran Kali Cam. Ini tempat favorit saya buat ndlongop kalau udara tidak dingin, kadang sambil baca buku dan lantas ndlongop karena ndak ngerti ini buku isinya apa. Kali ini panjangnya sekitar 60-an kilometer dan merupakan anak sungai dari Sungai Great Ouse. Airnya sedikit butek, yang konon kabarnya kalau diminum bisa menyebabkan sakit mirip flu yang dikenal dengan nama Cam fever. Lho ... kalo ginian di Indonesia juga banyak, bahkan sakitnya lebih komplit.
Sering juga saya melihat orang memancing di kali ini dan di beberapa tempat bahkan ada tempat bersandar untuk kapal-kapalnya manusia perahu. Orang berdayung atau punting juga ramai. Adalah keasikan tersendiri kalau ada perahu yang terbalik, dan herannya hal ini agak sering terjadi. Mungkin karena demit kali kurang sajennya atau karena penumpang perahunya yang pentalitan nggak karu-karuan. Apakah setelah itu mereka terserang Cam fever atau tidak saya tidak tahu.
Selain dua tempat itu kadang saya juga jalan-jalan ke pasar seperti yang pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe di sini. Hanya karena kalau ke pasar sering harus keluar uang, saya tak terlalu sering pergi ke sana (medit men yo?). Beberapa college di kota ini juga membuka tempatnya untuk dikunjungi oleh umum walaupun ada batasan waktu dan harus bayar. Aaaaah ... Cambridge tidak jelek juga. Tapi tadi saya sudah bilang tidak.
Akhirnya KTP itu jadi juga. Certificate of Allien Registration (ARC), begitu namanya di sini seperti yang pernah saya doboskan di sini. Tapi saya tidak akan ndobos lagi soal ARC, tapi saya akan cerita saja soal acara ngambil KTP itu di balai kota tadi pagi.
Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya itu masih tuli, bisu dan buta huruf. Untuk mengatasi keterbatasan saya dengan hal-hal tersebut biasanya saya coba dengan memakai Bahasa Inggris yang sederhana, kalau gagal lantas pakai bahasa tubuh. Biasanya berhasil tapi kali ini lain ceritanya ternyata.
Tiba di balai kota, saya celingukan mencari tahu di mana tempat ngambil ARC itu, tak ada petunjuk selain dalam tulisan Kanji yang tak saya pahami itu. Lhaaaa ... itu ada seorang perempuan, sebut saja namanya Mbakyu Ayu, yang di lengannya berbalut ban hijau, mungkin dia bisa membantu. Saya datangi dan saya mulai bertanya dalam Bahasa Inggris, di mana tempat untuk mengambil ARC. Mbakyu Ayu itu memiringkan kepalanya ke kanan dan dahinya berkerut. Waah, ndak ngerti dia. Coba lagi, kali ini pelan-pelan dan pakai kosa kata sederhana. Lho kan ... kepalanya miring lagi. Baik, inilah saatnya memakai bahasa tubuh, begitu pikir saya. Setelah pentalitan sejenak, kepala Mbakyu Ayu itu kembali miring ke kanan. Coba lagi ... miring lagi. Waduh, gagal maning, gagal maning yak?! Sambil berpikir bagaimana caranya menerangkan, saya bergumam pelan, "... jangkrik, piye carane iki ben Mbakyu Ayu iki ngerti..". Kali ini kepala Mbakyu Ayu itu tidak miring, dia tersenyum sambil berkata "Jawanya dari mana Mas? saya dari Solo." Waaaaah ... ada Jepang Solo.
Urusan lancar, Mbakyu Ayu itu menunjukan kepada saya yang tersipu-sipu ke loket mana saya harus pergi untuk mengambil ARC. Tidak sampai lima menit urusan beres. Sebelum keluar meninggalkan balai kota, saya hampiri lagi Mbakyu Ayu sambil bertanya, "Mbak, kalau saya mau pulang, naik bus yang mana?"
Catatan : Mbakyu Ayu itu Jepang totok. Mbakyu Ayu berkerja sebagai relawan di balai kota sampai hari Rabu minggu depan.
Gara-gara foto burung yang nemplok di tiang lampu yang lantas digombalkan oleh Pak De Kemplu di sini kok saya lantas tergugah buat nyari sarang burung-nya Pak De itu, setelah acara gumun kok burung itu masih ada di situ-nya selesai. Tidak perlu berjauh-jauh ternyata, karena ada sebuah sarang yang masih baru saja selesai dibangun persis di lantai dasar apartemen saya.
Burungnya Pak De itu di Indonesia dinamai Layang-layang api, yang dalam Bahasa Melayu dikenal dengan nama "Sualo api". Bahasa Inggrisnya "Barn Swallow", sedangkan dalam percakapan sehari-hari di kantor, kami menyebutnya Hirundo rustica.
Cukup sudah soal nama. Mari sampeyan saya ajak untuk melihat kelakuan burung ini yang rada-rada luar biasa. Burung ini setiap tahunnya terbang belasan ribu mil dari dan ke rumahnya di belahan bumi Utara untuk menghindar musim dingin. Selama musim dingin di Utara itu, dia numpang dulu sementara di tempat-tempat yang hangat dan suam-suam kuku seperti Jakarta itu. Begitu musim dingin lewat, dia akan terbang kembali ke rumahnya untuk membangun sarang, kawin, membesarkan anak dan makan untuk persiapan mengungsi berikutnya. Mehgungsi adalah sebuah ritual tahunan bagi burung ini, sebuah ritual yang berbahaya, sebuah ritual yang lantas dinamai migrasi.
Migrasi adalah perjalanan yang penuh resiko dan juga sangat menguras tenaga, sehingga para burung migran (pelaku migrasi itu) harus berhenti untuk mengisi kembali bahan bakar di sepanjang jalur migrasinya. Banyak tempat perhentian ini yang sangat berbahaya. Berhenti nyaris tanpa tenaga, mereka harus berhadapan dengan pemangsanya, baik yang berupa binatang maupun yang menolak dikatakan sebagai binatang. Itu semua harus mereka lakukan dua kali dalam setahun !! Disaat pergi dan disaat pulang.
Burung kecil di tiang lampu itu bukan satu-satunya jenis yang melakukan migrasi, ada banyak jenis burung yang berkelakuan sama. Setiap tahun entah berapa juta burung ekspatriat berkunjung dan cari makan di Indonesia, walaupun ada beberapa yang lantas menjadi makanan di Indonesia. Pernah liat ada orang berjualan daging yang katanya ayam tapi keciiiiiil banget itu? (biasanya dilumuri bumbu kuning). Itu bukan ayam dan bukan pula burungnya Pak De Kemplu, tapi jenis lain yang hidup di daerah becek-becek.
Seorang teman pernah melakukan penelitian (sebuah keisengan yang kadang berguna) untuk mengetahui ada berapa banyak burung ekspatriat yang ditangkap untuk disantap. Sebuah desa di Kabupaten Indramayu dipilihnya untuk tempat penelitian. Hasilnya ..... 300 ribu ekor per tahun dari satu desa itu saja. Padahal entah ada berapa desa yang juga melakukan kegiatan yang sama. Ngentet, begitu mereka menyebutnya.
Burungnya Pak De Kemplu itu lebih beruntung nasibnya, tidak banyak yang berminat menyantapnya, mungkin karena tidak mengenyangkan. Walaupun jumlahnya yang banyak bisa juga bikin kenyang.
Sampeyan berminat melihat burungnya Pak De Kemplu itu dalam jumlah besar? Untuk yang di Yogja bisa lihat di depan kantor pos besar itu. Buat yang di Bandung, coba sekali-sekali ke Jalan Kopo. Di dekat Cianjur di sepanjang jalan dari arah Bandung, entah berapa ribu yang bertengger di situ pada musim migrasi. Kalau yang di Jakarta? Ya .... harus jeli-jeli saja seperti Pak De.
Sebuah kiriman pos tiba kemarin, dari teman di Mongolia. Isinya nggak ada yang aneh, tapi perangkonya kembali bikin pecas ndahe. Saya sampe ndak ngerti harus ndobos apa. Mungkin Kang Mas Pecas Ndahe bersedia bercerita panjang dan lebar (yang kalo dikalikan jadi luas) soal Pak De Jerry. Cuma sedikit pengantar saja, Jerry Garcia, gitaris dan vokalis kelompok band Grateful Dead. Meninggal dunia 9 Agustus 1995.
Tambahan: Terima kasih buat Kang Mas Pecas Ndahe yang sudah bersedia bercerita tentang Pak De Jerry di sini.
Tidak ... saya tidak akan ndobos soal psikologi manusia-nya Freud yang bernama narcist ini. Ndobos saya kali ini dipicu oleh dua hal. Oleh permintaan kepala bagian kepegawaian agar saya segera menyerahkan CV, dan oleh obrolan bersama teman.
Ceritanya kepala bagian kepegawaian itu sudah lama sebetulnya meminta saya menyerahkan CV, karena menurutnya saya adalah satu-satunya pegawai tanpa CV. Waktu itu saya jawab, lihat di Google saja. Lha, kemaren permintaan itu kok ya datang lagi. Lantas, pada kejadian yang terpisah seorang teman bertanya, "berapa nilai google mu". Saya lantas memasukan nama saya, hasilnya sungguh menggemparkan, 14.000 hits. Bagaimana mungkin?
Lho kan, ternyata nama saya itu nama pasaran, ini mesti tiap RT di Indonesia ada yang namanya persis seperti nama saya. Saring lagi, kali ini dengan disertai nama kantor. Turun drastis, tetapi masih mengagetkan. Walaupun saya nggak hobi bergaya di depan kaca, kali ini sifat narcist itu kok ya nendang-nendang perasaan agar saya melihat seluruh hasil dari google itu. Kesimpulannya .... akurat !!! .... Dasar narcist.
Coba sekarang, nilai google sampeyan berapa
tambahan : permintaan kepala bagian kepegawaian yang dikirim lewat e-mail tadi sudah saya balas. Please see Google.
tambahan lagi : Kepala bagian kepegawaian sudah membalas email saya. "Impressive. Now, where is your CV". lha kok ini kepala bagian ndableg men to ya?
Hobi saya selain melihat burung adalah melihat pesawat terbang, malah kalau diingat-ingat, saya itu duluan senang melihat pesawat sebelum suka melihat burung. Jaman kecil dulu, burung itu cuma pas buat diplintheng, lantas digoreng atau dibakar untuk dimakan. Kalau pesawat, diplintheng apa lagi dimakan bisa repot urusannya -- apa ada ya jaran kepang (kuda lumping) yang ngeremus pesawat?.
Dobosan saya kali ini ya soal pesawat tempur-nya republik ini yang beberapa malah tidak (baca: belum) bisa terbang. Bapak Marsekal Herman Prayitno, mantan penerbang pancar gas F-86 Sabre dan pesawat kitiran OV-10 Bronco yang sekarang menjabat sebagai Kepala Staff Angkatan Udara berkata, kita kekurangan pesawat untuk menjaga wilayah udara republik ini. Pesawat yang ada sekarang-pun tidak semua bisa terbang. Pesawat buru sergap F-16 Falcon menurutnya hanya dua yang bisa terbang, F-5 Tiger juga begitu. Sementara jet-jet tempur Sukhoi yang bertongkrongan "serem" dan relatif baru itu walaupun bisa terbang semua, saya ndak tahu apa sudah bisa nembak. Sementara pesawat angkut andalan C-130 Hercules kebanyakan yang tipe B yang umurnya beda-beda tipis sama umur saya. Lha kok memprihatinkan to? Padahal, jaman saya baru lahir dulu negara ini salah satu yang terkuat di udara. Karena soal politik, nggak ada uang atau dua-duanya?
Lantas, udara kita itu dijaganya bagaimana? Radar! begitu kata Bapak Marsekal. Cuma Pak, nyuwun sewu, itu yang di Timur masih bolong-bolong. Bolongnya itu bakal ditutup, nanti kita bakal punya radar baru untuk Biak, Timika dan Merauke. Waaah, sip kalo begini. Cuma, kalo ada yang nakal sluman-slumun masuk, ketangkap radar, lha yang ngejar siapa?
Salah satu berita utama dari tanah air yang saya baca hari ini adalah soal kecelakaan kereta api di Stasiun Gubug, Grobogan. Dalam kecelakaan ini 14 nyawa hilang karena kelalaian, suatu harga yang tak terkira mahalnya. Siapa atau apa yang salah, bukan wewenang saya untuk menjawabnya. Tetapi saya kok jadi ingin bertanya kenapa hal-hal begini terlalu sering berulang atau terulang. Ndableg men toooooh, kenapa jadi degil begini?
"Lho, mbok ya o jangan merengut dulu toh Mas", begitu kata teman saya barusan. Lha ndak merengut bagaimana? Coba itu, yang "besar-besar" saja dulu, pesawat nyasar, nyungsep, kepleset, nggak bisa terbang karena rem-nya terlalu pakem; kereta api numbur, anjlog, ada yang kesetrum, terpelanting, entah apa lagi; kapal laut tenggelam, bocor, terbalik. Nah kalau yang besar-besar saja begini apalagi yang "kecil-kecil" itu yang tidak layak masuk koran karena dianggap terlalu biasa, semisal tertabrak atau keserempet motor, dipepet bus atau truk tentara -- saya mengalami hal ini beberapa bulan yang lalu --, diseruduk mobil pada saat nyebrang di zebra cross atau tertimpa pelat seng (teriring ucapan turut bersedih buat Rizal).
"Sampeyan itu lho, siapa lagi yang mau celaka?", teman saya masih mencoba menenangkan. Lho kok tanya saya? Lha ya ndak tau saya. Tapi yang jelas saya ndak mau celaka konyol begitu. "Lha ya sudah, sampeyan ndak usah ada di jalan saja", kata teman itu melanjutkan. Gini lho, saya dulu itu pernah diseruduk truk yang ngangkut batu di Taman Cilaki, Bandung, waktu sedang beli kembang untuk praktek ilmu hayat. Masih belum menyerah teman itu, "paling tidak sampeyan ndak masuk rumah sakit tiap hari toh?". Jangkrik .... itu satu-satunya kecelakaan yang membuat saya nginep di rumah sakit. Lagian tiap hari masuk rumah sakit, lha apa sampeyan kira saya ini perawat?
Sebungkus Gudang Garam Surya Mild 16, saya temukan secara tidak sengaja di toko Kagaya yang terletak di lantai satu gedung Kinokuniya di Shinjuku. Bertampang lebih mirip dengan Gudang Garam International, kotaknya dipenuhi tulisan Kanji yang entah apa artinya. Tak ada pita cukai. Terdapat juga lambang recycle (daur ulang) di bagian samping tutup kotak, entah apanya yang di-recycle, mungkin kertas kotaknya.
Seorang teman yang saya ceritakan soal penemuan ini berkomentar, "itu yang di-recycle mbakonya!!! mesti bekas bako nyusur (tembakau yang dikunyah), coba dilihat, mesti warnanya merah tur mambu abab". Wah, ndak tau saya apa memang begitu. Rokok itu belum saya buka sampai sekarang.
Pulang kantor, masuk ke sarang laron -- begitu saya menamai jalan-jalan bawah tanah yang ruwetnya luar biasa di sekitar Shinjuku -- seperti biasa. Penyakit menahun kambuh, saya suka nyanyi-nyanyi sendiri, lagunya sembarang, random, nggak pernah selesai dan nggak jelas awal dan akhirnya bagaimana. Kata beberapa teman, saya pantas jadi penyanyi, tapi penyanyi radio, bukan penyanyi tv ... kasian yang nonton katanya. Lha yang denger radio juga kasian, lha wong saya itu kalau menyanyi nada dasarnya do sama dengan ng kok, begitu pikir saya.
..... aku bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa .....
Hmmmm, Zamrud Khatulistiwa. Lagunya Swara Mahardhika di akhir tahun 70-an. Lho? bisa nggak ya bahagia, hidup sejahtera tetapi tidak di khatulistiwa? atau bahagia, hidup tidak sejahtera di khatulistiwa? atau tidak bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa? atau tidak bahagia, hidup sejahtera tetapi tidak di khatulistiwa? atau ..... mulai melamun.
Lha ... saya di mana ini? tuh kan kesasar .... jangkrik, dasar tukang mimpi. Coba jalan ke sana, nanti dulu, ah balik saja, balik ke mana? Aaaaah ya sudah ke sana saja. Lha wong saya ini orang merdeka kok, boleh jalan ke mana saja, kalau sekarang kesasar nanti juga ketemu jalan yang benarnya.
.... bersuka cita, insan di persada yang bebas merdeka .... .... aman damai sentosa disetiap masa, bersyukurlah kita semua ....
Tadi malam saya baru sadar betapa sepinya Tokyo ini walaupun disesaki oleh lebih dari 12 juta jiwa -- itu baru orang lho, belum kalo yang bukan orang ikut dihitung bisa berlipat-lipat jadinya. Sepi terutama untuk saya. Di tempat ini saya bisu (nggak bisa ngomong Jepang), tuli (nggak ngerti orang Jepang ngomong apa) dan buta huruf (nggak bisa baca tulisan Jepang), maklum saya dipindah mendadak ke tempat ini.
Lepas dari semua keterbatasan saya itu, Tokyo adalah kota yang sunyi. Tidak percaya? mari ikut saya pulang dari kantor. Kantor saya ada di Shinjuku dan stasiun kereta Shinjuku yang katanya disesaki oleh lebih dari 3 juta orang per-harinya itu adalah tujuan pertama. Orang mengalir seperti air bah, serba cepat, tetapi suara paling keras di stasiun itu adalah suara hentakan sepatu. Semua orang bergegas dengan ekspresi wajah yang nyaris sama, dingin, pandangan lurus ke depan, mulut terkatup rapat, kecuali mulut saya yang ndlongop dan pandangan mata saya yang pecicilan lirik sana lirik sini.
Tiba di peron, antrian biasanya sudah panjang. Ngantrinya tertib tapi ya itu tadi, semua diam. Sibuk dengan bacaan, menceti tombol-tombol hp atau cuma ngelamun. Kalaupun ada yang ngobrol, sayup-sayup. Suara roda-roda kereta, pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta adalah suara yang dominan. Begitu kereta tiba, seperti botol minuman bersoda yang baru dikocok dan lantas tutupnya dibuka, orang-orang muncrat dari dalam gerbong. Masih tanpa suara.
Giliran yang masuk sekarang, dalam hitungan detik gerbong sudah penuh. Berdesak-desakan, full body contact. Kasian yang habis belanja tomat, mesti sampe rumah itu tomat sudah jadi jus. Pintu kereta ditutup....banyak wajah-wajah yang menempel di kaca .... persis seperti ikan sapu-sapu di akuarium. Semua diam, tak ada suara semisal "hwadooooooh" .... "hooooooi kejepit neeeeh" .... "penuhh paaaak penuuuuh" ..... "iiiiiih, apaan sih inih" .... "sapa yang kentut!!!".
Setengah jam lebih saya bakal ada di dalam kereta sunyi itu. Ada yang tidur, ada yang baca, ada yang mainan hp, ada yang ndlongop .... saya itu. Poster-poster iklan dalam kereta yang jumlahnya banyak nian itu seolah-olah ingin mengajak ngobrol, tapi saya ndak ngerti. Ya sudah....saya balas saja senyum para poster itu. Kereta berhenti di beberapa stasiun, orang keluar masuk, himpitan makin lama makin longgar. Sesekali terdengar ada yang menghela napas, mungkin karena merasa lega.
Sudah tiba, keluar gerbong beramai-ramai dan mulai terjadi antrian di tangga. Semua masih diam. Sekarang berjalan menuju halte bus dan mengantri lagi. Coba perhatikan sekeliling. Ada warung 7-Eleven yang buka 24 jam itu, ada McDonald's dan ada KFC ... penuh semua. Warung-warung itu, saya menyebutnya kedutaan besar Amerika Serikat, punya pengaruh besar di Jepang. Warung McDonald's pertama di Asia dibuka di Jepang, 40% warung 7-Eleven di dunia ada di Jepang dan Pak jenggot Colonel Sanders dikenal sebagai "Mister Fried Chicken" di Jepang. Terry Sanders, sang pemenang Oscar dua kali, pernah membuat film tentang McDonald's di Jepang ini yang lantas diberi judul "The Japan Project: Made in America".
Mobil-mobil lalu-lalang di jalan, nggak ada suara klakson. Antrian itu .... 7 perempuan 3 laki-laki, saya laki-laki ke empat dalam barisan. Perempuan Jepang bekerja di luar rumah adalah hal yang umum sekarang, walaupun entah kenapa jika berjalan bersama rekannya yang laki-laki mereka langsung bergeser sedikit ke belakang, mungkin jalan beriringan dengan laki-laki itu adalah hal yang tidak pantas. Teman perempuan sekantor saya juga begitu, kalau saya melambatkan jalan, dia juga menyesuaikan kecepatan jalannya, saya belum coba apakah kalau saya lari dia juga ikut lari. Ya sudahlah, mungkin memang saya lebih menarik kalau dilihat dari belakang, begitu pikir saya.
Bus itu datang, bus nomer 21 malam ini. Semua antri tertib masuk, membayar atau memasukan kartu magnetik sebesar kartu telepon. Sang supir bolak balik bilang terima kasih, tanpa ada yang menyahut, hanya dia yang bicara, saya juga diam tak menjawab ucapan terima kasihnya, takut nanti dia malah kaget. Saya duduk di belakang, tak lama, ada seorang perempuan mengangkuk ke saya, saya balas mengangguk sambil tersenyum, dia nggak senyum dan lantas duduk di samping saya. Suara perempuan yang telah direkam sebelumnya terus nyerocos sepanjang perjalanan, entah apa yang diomongkannya. Tidak sampai 10 menit, saya sudah tiba. Tempat tinggal saya masih kira-kira empat ratus meter lagi dan hari sudah larut. Negeri ini memang sepi.
Sampeyan apa pernah minum jus tomat hasil dempet-dempetan? Blender sunyi.