Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Ini bahasa yang nggak pake ngomong tapi biasanya bisa dipahami oleh lawan "bicaranya". Media komunikasinya, ya anggota badan. Bisa tangan, cara berdiri, gerakan kepala, cara menatap, manipulasi bentuk bibir, dan entah apa lagi. Pagi dan siang ini saya melihat komunikasi dengan bahasa tubuh.
Pagi-pagi di kereta api yang selalu penuh itu, saya beruntung dapat tempat duduk. Satu stasiun berikutnya penumpang banyak yang naik, dan ada seorang perempuan yang belum bisa disebut paruh baya, menjinjing koper kecil berdiri di hadapan saya. Lho ... saya dipenthelengi / ditatap. Tatapannya berkata, "ayo berdiri, berikan bangku itu untuk saya". Saya balas menatap dengan tatapan yang berarti, "itu di depan ada gerbong yang hanya buat perempuan, kosong, ngapain lagi kamu di sini umpel-umpelan, pindah sana?". Saya tidak beranjak.
Siang ini, saya makan siang di taman di depan kantor. Banyak orang yang makan atau hanya sekedar beristirahat di tempat itu. Di depan saya ada seorang laki-laki dan perempuan yang duduk bersebelahan sedang berbincang. Laki-laki itu duduk dengan kaki terbuka, lutut berjauhan, mengangkang. Tangannya bergerak ke sana dan ke mari sambil berbicara, alis matanya terangkat tinggi, dan matanya terus menatap perempuan yang duduk di sebelahnya itu. Perempuan itu duduk dengan kaki rapat, lutut saling menempel, tangannya diletakkan di atas lutut sambil memegang tas, mungkin untuk perlindungan kalau-kalau dia salah gerak. Kepalanya tertunduk, dan mengangguk-angguk tanpa henti. Sesekali dia menatap lali-laki di sebelahnya itu. Bahasa tubuh laki-laki itu berkata, "saya paham segala hal, saya lebih mengerti dari kamu".
Bahasa yang efektif dan entah kenapa tidak bisa bohong. Wah, coba kalau bahasa ini bisa ditransmisi melalui telepon .... hmmm .... untuk Bahasa Indonesia silahkan tekan satu, untuk Bahasa Inggris silahkan tekan dua, untuk Bahasa Tubuh silahkan tekan sepuasnya ....
Ndobos soal burung lagi. Indonesia itu punya jenis burung terancam punah paling banyak sak dunia ... lha juara kok juara jelek. Brazil yang katanya hutan amazonnya itu babak belur saja tidak (belum) pernah berhasil nyusul "prestasi" Indonesia di bidang yang satu ini. Ini masih ditambahi lagi dengan jumlah jenis burung yang "hilang". Hilang dalam arti tak jelas statusnya, masih ada atau sudah punah. Ada sembilan jenis burung Indonesia yang tak jelas juntrungannya sampai sekarang.
Kaget juga saya lihat ada Gallirallus sharpei. Bagaimana tidak? Jenis yang identifikasinya ini cuma dari satu spesimen (awetan) di museum ini lokasi persisnya juga nggak jelas dari mana. Pokoknya dari sebuah lokasi di Sunda Besar (Sumatera, Kalimantan, Jawa-Bali). Nah!
Trulek jawa, terakhir terlihat di awal tahun 1940-an di Lumajang Selatan, Jawa Timur. Beberapa teman masih nyari-nyari sampai sekarang, dan belum ketemu.
Merpati-hutan perak, nah yang satu ini sebetulnya ada yang kayaknya pernah lihat, hanya saja mereka juga tidak yakin 100%. Memang agak susah juga sih, karena tongkrongan jenis ini mirip dengan Ducula bicolor yang rada-rada umum.
Serak kecil, waduh ... tempat hidupnya di Maluku sana jauh dari sentra pengamat burung, belum lagi lihatnya kudu malam hari. Nggak heran juga kalo jenis ini lantas dianggap "hilang".
Celepuk siau lokasinya juga jauh di sebuah pulau kecil yang benama Pulau Siau di utaranya Pulau Sulawesi. Jenis ini hidup di hutan, sementara hutan Siau sendiri tinggal kira-kira 50 ha saja. Masih ada atau nggak ya jenis ini?
Pelanduk Kalimantan punya catatan tersendiri. Inilah jenis burung yang paling lama tidak pernah tercatat lagi keberadaannya. Catatan terakhirnya diambil dari sebuah spesimen tahun 1848. Lokasinya pun masih belum jelas di mana persisnya, pokoknya di Kalimantan Selatan.
Sikatan aceh ini keberadaannya di dunia hanya berdasarkan pada dua spesimen dari tahun 1917 dan 1918. Tempat diambilnya di Tuntungan dan Deli Tua di Sumatera Utara sana. Wah, masih ada yang tersisa nggak ya?
Cucak gelambir-biru adanya di pedalaman Kalimantan dan Sumatera sana sementara hutan dataran rendah di dua pulau itu sebagian besar sudah hancur juga.
Gagak banggai hanya diketahui keberadaannya di muka bumi ini dari dua spesimen dari pulau yang tidak disebutkan namanya di Kepulauan Banggai sana.
Heran? Ya nggak juga sih sebenernya, lha wong alam Indonesia itu sudah dikucek habis-habisan kok. Lagi pula, yang namanya pengamat/peneliti burung di Indonesia itu jumlahnya juga nggak banyak kok, lha kalo yang hobinya ngandangi manuk (mengurung burung di sangkar) banyak ini. Tambahan lagi .... di Indonesia itu orang saja bisa hilang kok (atau dihilangkan), apalagi cuma burung yang nggak bisa demo.
Saya tergila-gila dengan klepon, sangat suka empek-empek, wajik, onde-onde, rawon dan buntil (hanya yang dibungkus daun talas), dan suka dengan berbagai macam jajanan pasar. Lha ... celakanya, makanan-makanan begitu adalah barang yang "rada-rada eksotis" di Tokyo. Sampai sekarang saya belum nemu di mana saya bisa mendapatkan makanan-makanan tersebut. Sampai sekarang saya hanya bisa menghayal sambil ngiler.
Lha kok ndilalah saya pagi ini dapat kiriman e-mail dari Dewi Angin-Angin, koresponden ndobos saya di Washington DC itu. Begini isinya :
... baru pulang liputan dari Philadelphia, dari kampung Indonesia!!! Kulkasku penuh bakso malang, mie ayam, rawon, ikan beserta lalap dan sayur asem dan sambel terasi, empek-empek, sambal goreng udang dan kerang, sayur lodeh, sayur terong balado, sate padang, sate ayam, soto betawi, ....... yang semuanya rasanya persis cis ciss dengan yang paling enak di Indonesia. Belum lagi dong, lemari dong, ada kerupuk palembang, sus kering, agar-agar, sus kental manis rasa coklat, rambak sapi, keripik paru dan usus, susu ultra rasa stawberry, teh kotak. Meja makan dong, dooong, bergelimpangan onde-onde, tempe goreng, bakwan, cakwe udang, wingko, siomay, lemper, wajik, .....
Setelah membaca e-mail tersebut, saya hanya bisa mengelus perut sambil misuh .... huasyuuuuu !!!! Lantas saya berpikir, yang dimiliki oleh Dewi Angin-Angin itu perut atau gerobak sampah ya? Ah, mungkin dia sedang kalap saja.
Apa sampeyan tahu di mana saya bisa dapat makanan-makanan itu di Tokyo? (*sambil ngelap iler*).
Kemarin itu saya sudah ndobos soal Sungai Cam dan kali ini saya ingin ndobos soal beberapa sungai yang tampaknya memiliki tempat tersendiri di hati ini (... *haih haih haih, saya ini kesambet apa ya?* ...). Mungkin karena baru saja ada hari bumi ... ah ndak juga. Mungkin karena saya rindu saja dengan sungai-sungai itu. Lha wong namanya juga ndobos, tanpa alasan juga boleh to? Disusun berdasarkan urutan waktu masuk ke hatinya :
Sungai Barito. Samar-samar saya masih ingat sungai ini. Ibu dan Bapak beberapa kali mengajak saya naik perahu bermesin dan katanya saya bakal nangis-nangis tidak mau turun dari perahu. Lha, bagaimana nggak nangis-nangis, saya belum bisa berenang kok diajak turun dari perahu.
Sungai Babalan. Sungai ini ada di belakang sekolah SD saya di Tangkahan Lagan,Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Inilah sungai tempat saya belajar berenang dengan baik dan benar. Setelah sebelumnya saya menguasai gaya batu, di sungai ini saya mulai belajar beberapa gaya lain. Gaya anjing (pokoknya asal bisa ngapung), gaya kodok, dan gaya bebas (ini gaya sak enak udel saya saja). Sepulang dari sekolah, lari ke sungai ini, loncat dari jembatan, mak byur ... lantas bertarung dengan derasnya aliran air menuju ke tepi. Senengnya bukan kepalang. Airnya agak payau. Entah berapa liter air sungai ini yang sudah pernah saya telan, namanya juga baru belajar, kelelep itu wajib. Setiap kali pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup, Ibu saya selalu bilang "Mandi sana". Lha kok disuruh mandi, tadi itu saya baru mandi.
Sungai Musi. Sungai ini melintasi kota di mana saya pernah tinggal selama beberapa tahun di Sumatera Selatan sana. Saya tidak (belum) pernah berenang di sungai ini tapi saya sering memancing di sini (jarang dapat). Lomba perahu dayung (bidar) setiap bulan Agustus adalah tontonan wajib. Di pinggiran sungai inilah pertama kali saya menemukan kenikmatan membaca di pinggir sungai.
Sungai Cikapundung. Sungai yang membelah kota Bandung ini punya kenangan tersendiri walaupun saya tidak pernah berenang, memancing (kecuali memancing keributan) atau baca buku di sini. Inilah sungai pertama yang pernah (harus) saya kunjungi di tengah malam untuk mengambil sampel air, dan buntutnya saya dikira mau nyolong ikan di keramba. Untuk pertama kalinya saya dikira maling ... dan ini bukan yang terakhir kalinya.
Sungai Sangatta. Sungai ini ada di Kalimantan Timur dan di sungai ini saya pernah berenang dan mandi. Airnya yang coklat terang membuat saya harus menambahi kopi setiap kali saya minum dari air sungai ini ... kopi susu. Sungai ini penyebab saya mencandui kopi hingga sekarang.
Sungai Toluarang. Sungai ini ada di Pulau Seram. Inilah sungai yang saya lalui dengan "penuh kesakitan" dan berdarah-darah selama 8 jam berjalan kaki menuju base camp karena salah satu jari tangan saya patah terbuka (jadi tulangnya keluar gitu). Berenang, mandi, baca buku dan lain-lain juga saya lakukan di sungai ini.
Sungai Way Kanan. Sungai ini terletak persis di belakang stasiun penelitian saya di Way Kambas, Lampung. Saya sering berenang, mandi, memancing dan membaca buku di pinggiran sungai ini. Untuk pertama kalinya saya belajar mendayung dengan tertib di sungai ini. Di pinggriran sungai ini juga untuk pertama kalinya saya melihat Mentok rimba (Cairina scutulata) yang saya idam-idamkan itu. Pertama kali pula saya melihat Siamang terjun bebas dan nyemplung karena dahan pohon yang digelayutinya patah.
Sungai-sungai itu semua memang tak "seindah" dan "serapih" seperti sungai-sungai lain yang pernah saya sambangi seperti Sungai Danube, Seine, Thames, Cam atau Tama yang dipuja-puja dalam banyak gubahan sastra. Tidak banyak kenangan yang tertinggal dari sungai-sungai indah dan rapih itu, saya juga hanya berjalan bersama segerombolan turis, walaupun saya tidak sedang menjadi turis.
Dari semua sungai-sungai kenangan itu, Way Kanan adalah sungai yang paling membekas. Sampeyan punya sungai favorit?
Ibu pernah bilang, ulang tahun perkawinan adahal hal yang harus dirayakan. Kalau ulang tahun kelahiran itu sudah default, tetapi kalau ulang tahun perkawinan itu perlu perjuangan.
Telepon saya berbunyi pagi-pagi. Wah tumben ini, ada apa? Hanya teman sekantor yang bertanya (*memohon tepatnya*) apa saya bisa berangkat ke Cambridge Selasa besok. Bisa, kata saya, tapi saya nggak mau, dan kemudian diikuti dengan rentetan alasan untuk mendasari "kemalasan" saya itu. Selesai, saya tidak pergi.
Gara-gara telepon itu saya lantas melamun soal Cambridge. Sebuah kota yang sudah sangat tua, entah sudah berapa lama tempat itu jadi hunian orang. Katanya di tempat ini sudah ada pemukiman sejak 1000 tahun sebelum Masehi ... wah saya belum lahir. Cambridge terkenal karena universitasnya, paling tidak 20% dari penghuni kota ini adalah mahasiswa. Penduduk Cambridge sendiri sekitar 100-an ribu jiwa yang tampaknya hidup tenang di tengah tingginya biaya hidup di kota yang nyaris rata ini. Walaupun Cambridge bukan kota favorit saya, ada beberapa tempat yang bisa membuat saya betah berlama-lama. Saya hanya akan ndobos soal 2 tempat saja.
Perpustakaan kantor. Entah berapa ratus ribu bahan bacaan tersimpan di tempat ini, hampir semua tentang burung. Walaupun saya bisa saja mengakses bacaan tersebut tanpa pindah dari meja saya, tetapi ritual mencari, mengeluarkan, memegang dan membaca halaman-halaman buku atau re-print, sulit digambarkan nikmatnya. Saya betah membaca di pojok ruangan sampai lupa waktu, lupa makan, lupa merokok dan lupa nge-blog. Lebih nikmat lagi jika membaca catatan perjalanan para penjelajah dan peneliti burung sambil ditemani dengan atlas/peta. Saya menyebutnya sebagai mind travel. Pikiran melayang sambil membayangkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan. Bacalah apa yang ditulis oleh Alfred Russell Wallace tentang Wonosalam di Jawa :
Wonosalem is situated about a thousand feet above the sea, but unfortunately it is at a distance from the forest, and is surrounded by coffee plantations, thickets of bamboo, and coarse grasses. It was too far to walk back daily to the forest, and in other directions I could find no collecting ground for insects. The place was, however, famous for peacocks, and my boy soon shot several of these magnificent birds, whose flesh we found to be tender, white, and delicate, and similar to that of a turkey.
Sekarang ini sudah agak susah mencari burung merak (peacock). Rupanya yang elok membuatnya menjadi layak kandang. Bulunya yang cantik membuatnya diburu pembuat topeng reog. Dagingnya, seperti yang dikatakan Wallace itu ... layak santap.
Pinggiran Kali Cam. Ini tempat favorit saya buat ndlongop kalau udara tidak dingin, kadang sambil baca buku dan lantas ndlongop karena ndak ngerti ini buku isinya apa. Kali ini panjangnya sekitar 60-an kilometer dan merupakan anak sungai dari Sungai Great Ouse. Airnya sedikit butek, yang konon kabarnya kalau diminum bisa menyebabkan sakit mirip flu yang dikenal dengan nama Cam fever. Lho ... kalo ginian di Indonesia juga banyak, bahkan sakitnya lebih komplit.
Sering juga saya melihat orang memancing di kali ini dan di beberapa tempat bahkan ada tempat bersandar untuk kapal-kapalnya manusia perahu. Orang berdayung atau punting juga ramai. Adalah keasikan tersendiri kalau ada perahu yang terbalik, dan herannya hal ini agak sering terjadi. Mungkin karena demit kali kurang sajennya atau karena penumpang perahunya yang pentalitan nggak karu-karuan. Apakah setelah itu mereka terserang Cam fever atau tidak saya tidak tahu.
Selain dua tempat itu kadang saya juga jalan-jalan ke pasar seperti yang pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe di sini. Hanya karena kalau ke pasar sering harus keluar uang, saya tak terlalu sering pergi ke sana (medit men yo?). Beberapa college di kota ini juga membuka tempatnya untuk dikunjungi oleh umum walaupun ada batasan waktu dan harus bayar. Aaaaah ... Cambridge tidak jelek juga. Tapi tadi saya sudah bilang tidak.
Akhirnya KTP itu jadi juga. Certificate of Allien Registration (ARC), begitu namanya di sini seperti yang pernah saya doboskan di sini. Tapi saya tidak akan ndobos lagi soal ARC, tapi saya akan cerita saja soal acara ngambil KTP itu di balai kota tadi pagi.
Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya itu masih tuli, bisu dan buta huruf. Untuk mengatasi keterbatasan saya dengan hal-hal tersebut biasanya saya coba dengan memakai Bahasa Inggris yang sederhana, kalau gagal lantas pakai bahasa tubuh. Biasanya berhasil tapi kali ini lain ceritanya ternyata.
Tiba di balai kota, saya celingukan mencari tahu di mana tempat ngambil ARC itu, tak ada petunjuk selain dalam tulisan Kanji yang tak saya pahami itu. Lhaaaa ... itu ada seorang perempuan, sebut saja namanya Mbakyu Ayu, yang di lengannya berbalut ban hijau, mungkin dia bisa membantu. Saya datangi dan saya mulai bertanya dalam Bahasa Inggris, di mana tempat untuk mengambil ARC. Mbakyu Ayu itu memiringkan kepalanya ke kanan dan dahinya berkerut. Waah, ndak ngerti dia. Coba lagi, kali ini pelan-pelan dan pakai kosa kata sederhana. Lho kan ... kepalanya miring lagi. Baik, inilah saatnya memakai bahasa tubuh, begitu pikir saya. Setelah pentalitan sejenak, kepala Mbakyu Ayu itu kembali miring ke kanan. Coba lagi ... miring lagi. Waduh, gagal maning, gagal maning yak?! Sambil berpikir bagaimana caranya menerangkan, saya bergumam pelan, "... jangkrik, piye carane iki ben Mbakyu Ayu iki ngerti..". Kali ini kepala Mbakyu Ayu itu tidak miring, dia tersenyum sambil berkata "Jawanya dari mana Mas? saya dari Solo." Waaaaah ... ada Jepang Solo.
Urusan lancar, Mbakyu Ayu itu menunjukan kepada saya yang tersipu-sipu ke loket mana saya harus pergi untuk mengambil ARC. Tidak sampai lima menit urusan beres. Sebelum keluar meninggalkan balai kota, saya hampiri lagi Mbakyu Ayu sambil bertanya, "Mbak, kalau saya mau pulang, naik bus yang mana?"
Catatan : Mbakyu Ayu itu Jepang totok. Mbakyu Ayu berkerja sebagai relawan di balai kota sampai hari Rabu minggu depan.
Gara-gara foto burung yang nemplok di tiang lampu yang lantas digombalkan oleh Pak De Kemplu di sini kok saya lantas tergugah buat nyari sarang burung-nya Pak De itu, setelah acara gumun kok burung itu masih ada di situ-nya selesai. Tidak perlu berjauh-jauh ternyata, karena ada sebuah sarang yang masih baru saja selesai dibangun persis di lantai dasar apartemen saya.
Burungnya Pak De itu di Indonesia dinamai Layang-layang api, yang dalam Bahasa Melayu dikenal dengan nama "Sualo api". Bahasa Inggrisnya "Barn Swallow", sedangkan dalam percakapan sehari-hari di kantor, kami menyebutnya Hirundo rustica.
Cukup sudah soal nama. Mari sampeyan saya ajak untuk melihat kelakuan burung ini yang rada-rada luar biasa. Burung ini setiap tahunnya terbang belasan ribu mil dari dan ke rumahnya di belahan bumi Utara untuk menghindar musim dingin. Selama musim dingin di Utara itu, dia numpang dulu sementara di tempat-tempat yang hangat dan suam-suam kuku seperti Jakarta itu. Begitu musim dingin lewat, dia akan terbang kembali ke rumahnya untuk membangun sarang, kawin, membesarkan anak dan makan untuk persiapan mengungsi berikutnya. Mehgungsi adalah sebuah ritual tahunan bagi burung ini, sebuah ritual yang berbahaya, sebuah ritual yang lantas dinamai migrasi.
Migrasi adalah perjalanan yang penuh resiko dan juga sangat menguras tenaga, sehingga para burung migran (pelaku migrasi itu) harus berhenti untuk mengisi kembali bahan bakar di sepanjang jalur migrasinya. Banyak tempat perhentian ini yang sangat berbahaya. Berhenti nyaris tanpa tenaga, mereka harus berhadapan dengan pemangsanya, baik yang berupa binatang maupun yang menolak dikatakan sebagai binatang. Itu semua harus mereka lakukan dua kali dalam setahun !! Disaat pergi dan disaat pulang.
Burung kecil di tiang lampu itu bukan satu-satunya jenis yang melakukan migrasi, ada banyak jenis burung yang berkelakuan sama. Setiap tahun entah berapa juta burung ekspatriat berkunjung dan cari makan di Indonesia, walaupun ada beberapa yang lantas menjadi makanan di Indonesia. Pernah liat ada orang berjualan daging yang katanya ayam tapi keciiiiiil banget itu? (biasanya dilumuri bumbu kuning). Itu bukan ayam dan bukan pula burungnya Pak De Kemplu, tapi jenis lain yang hidup di daerah becek-becek.
Seorang teman pernah melakukan penelitian (sebuah keisengan yang kadang berguna) untuk mengetahui ada berapa banyak burung ekspatriat yang ditangkap untuk disantap. Sebuah desa di Kabupaten Indramayu dipilihnya untuk tempat penelitian. Hasilnya ..... 300 ribu ekor per tahun dari satu desa itu saja. Padahal entah ada berapa desa yang juga melakukan kegiatan yang sama. Ngentet, begitu mereka menyebutnya.
Burungnya Pak De Kemplu itu lebih beruntung nasibnya, tidak banyak yang berminat menyantapnya, mungkin karena tidak mengenyangkan. Walaupun jumlahnya yang banyak bisa juga bikin kenyang.
Sampeyan berminat melihat burungnya Pak De Kemplu itu dalam jumlah besar? Untuk yang di Yogja bisa lihat di depan kantor pos besar itu. Buat yang di Bandung, coba sekali-sekali ke Jalan Kopo. Di dekat Cianjur di sepanjang jalan dari arah Bandung, entah berapa ribu yang bertengger di situ pada musim migrasi. Kalau yang di Jakarta? Ya .... harus jeli-jeli saja seperti Pak De.
Sebuah kiriman pos tiba kemarin, dari teman di Mongolia. Isinya nggak ada yang aneh, tapi perangkonya kembali bikin pecas ndahe. Saya sampe ndak ngerti harus ndobos apa. Mungkin Kang Mas Pecas Ndahe bersedia bercerita panjang dan lebar (yang kalo dikalikan jadi luas) soal Pak De Jerry. Cuma sedikit pengantar saja, Jerry Garcia, gitaris dan vokalis kelompok band Grateful Dead. Meninggal dunia 9 Agustus 1995.
Tambahan: Terima kasih buat Kang Mas Pecas Ndahe yang sudah bersedia bercerita tentang Pak De Jerry di sini.
Tidak ... saya tidak akan ndobos soal psikologi manusia-nya Freud yang bernama narcist ini. Ndobos saya kali ini dipicu oleh dua hal. Oleh permintaan kepala bagian kepegawaian agar saya segera menyerahkan CV, dan oleh obrolan bersama teman.
Ceritanya kepala bagian kepegawaian itu sudah lama sebetulnya meminta saya menyerahkan CV, karena menurutnya saya adalah satu-satunya pegawai tanpa CV. Waktu itu saya jawab, lihat di Google saja. Lha, kemaren permintaan itu kok ya datang lagi. Lantas, pada kejadian yang terpisah seorang teman bertanya, "berapa nilai google mu". Saya lantas memasukan nama saya, hasilnya sungguh menggemparkan, 14.000 hits. Bagaimana mungkin?
Lho kan, ternyata nama saya itu nama pasaran, ini mesti tiap RT di Indonesia ada yang namanya persis seperti nama saya. Saring lagi, kali ini dengan disertai nama kantor. Turun drastis, tetapi masih mengagetkan. Walaupun saya nggak hobi bergaya di depan kaca, kali ini sifat narcist itu kok ya nendang-nendang perasaan agar saya melihat seluruh hasil dari google itu. Kesimpulannya .... akurat !!! .... Dasar narcist.
Coba sekarang, nilai google sampeyan berapa
tambahan : permintaan kepala bagian kepegawaian yang dikirim lewat e-mail tadi sudah saya balas. Please see Google.
tambahan lagi : Kepala bagian kepegawaian sudah membalas email saya. "Impressive. Now, where is your CV". lha kok ini kepala bagian ndableg men to ya?