Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Tadi itu beres-beres file foto, lha kok saya nemu sebuah foto lama yang saya ambil pada saat mengunjungi makamnya Karl Marx di Highgate Cemetery, London. Saya lantas jadi ingat acara nyekar yang bikin senyum-senyum itu.
Lha gimana ndak senyum-senyum coba, lha wong mengunjungi makam mbah-nya penentang kapitalisme ini kok ditarik bayaran! Itu mesti Marx lagi misuh-misuh di dalam kuburnya.
Begitulah nasib orang tersohor, sudah matipun makamnya jadi objek wisata. Sampeyan apa ada yang tahu, turunannya Marx dapet royalti ndak ya?
Tadi malam saya ndak masak, ndak nyuci piring tapi kenyang. Ada teman lama yang datang berkunjung, sudah hampir 10 tahun saya ndak ketemu orang gila satu ini. Lha kok ndilalah beberapa teman juga berminat untuk ikutan ngumpul, maka acara reunian kecilpun digelar, tentu saja dilengkapi dengan acara makan-makan dan saling mentertawakan. Berlima kami semua dan saya yang paling muda (ehmmmm...).
Tiga diantara kami itu termasuk pesohor di dunia mirsani manuk, birdwatching, atau pakai saja istilah yang diberikan Macchiato "melihat burung", termasuk sang tamu. Kamol Komolphalin, pelihat burung dari Thailand, adalah pelukis untuk buku panduan lapangan (field guide) burung-burung di Thailand. Takeshi Taniguchi, pelihat burung dari Jepang juga pelukis untuk buku panduan lapangan burung-burung di Jepang. Richard Grimmett, anak Inggris Selatan yang sekarang cari makan di Jepang, melukis dan menulis buku panduan lapangan burung-burung di anak-benua India.
Kiri ke Kanan : Richard, Kamol dan Takeshi
Tiga orang itu pada suatu masa dulu pernah mengajari saya dengan sangat antusias bagaimana melihat burung dengan baik dan benar. Kamol njelungup ke jurang di Kao Yai karena terlalu antusias mengejar burung rangkong. Richard kesasar karena sangat antusias mencari Golden Eagle di Bavaria untuk saya, sementara Golden Eagle-nya terbang di atas kepala saya yang sedang nunggu sambil ngopi di warung. Takeshi nyemplung kolam karena antusias menerangkan ini dan itu sampai lupa lihat jalan.
Sebagai murid, tampaknya saya itu termasuk golongan murid yang tidak ikut kata peribahasa "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" -- kok ya kebetulan gurunya laki-laki semua ya? Lagipula, masak saya disuruh kencing sambil lari-lari. Mungkin peribahasa yang pas buat saya sebagai murid itu adalah "guru kencing berdiri, murid melihat guru kencing", jadi sah-sah saja kalau saya ndak ikut-ikutan njelungup, kesasar dan nyemplung kolam. Apa sampeyan pernah kencing sambil lari-lari?
Teliti sebelum membeli, begitu petuah basi yang sering didengungkan. Basi ?? Nanti dulu. Itu petuah sepertinya perlu ditaati apalagi kalau belanjanya online yang wujud nyata barangnya tidak bisa dijamah-jamah dan penjualnya nyaris tidak bisa diajak ngobrol soal barang jualannya. Kiriman gambar dari adik saya ini (makasih Pip), yang mungkin dia dapat dari milis-milisnya itu, bikin saya ndlongop.
Iseng, barusan ini saya periksa sang pemenang, dan ternyata sodara-sodara ada komentar dari sang penjualnya "Won auction, but didn't pay. Sorry, but winning an auction is a contract." yang ditulisnya 1 hari setelah tanggal pengumuman pemenang lelang.
Ndagel, melucu, melawak, berhumor, ngabodor, semuanya itu sebelas dua belas, ya begitu-begitu juga maksudnya dan tujuannya juga sama, membuat orang lain tertawa atau paling tidak tersenyum. Dagelan itu sendiri tampaknya ada di mana-mana, ndak kenal bangsa, warna kulit, rupa, penampakan, sepertinya semua punya dagelan. Pertanyaannya sekarang adalah, apa ada dagelan yang bisa bikin semua orang sak dunia ketawa? Dagelan universal?
Basiyo atau Srimulat bisa bikin saya terpingkal-pingkal, tapi ada teman saya yang cuma ndlongop, ndak ngerti katanya. Saya juga tertawa ketika nonton acara sandiwara bodor "Inohong di Bojong Rangkong" di TVRI Bandung. Tapi temen saya anak Klaten itu, ndak ketawa. Apakah mungkin karena dagelan atau bodoran itu terlalu sektarian? Ada hambatan bahasa?
Bahasa mungkin bisa menjadi hambatan,akan tetapi saya sering juga tidak tertawa blas nonton "lawakan" yang saya paham dengan baik ucapan pelawaknya, sementara teman saya tertawa. Atau coba yang satu ini, Mr. Bean. Irit omongan, kaya polah, pentalitan ndak karu-karuan, saya tertawa. Tetapi ada teman yang bilang "Mr. Bean ndak lucu … tolol".
Budaya? Ah, saya orang Jawa, terpingkal-pingkal juga dengan bodoran Sunda dan melihat polahnya Mr.Bean.
Umpama kata, dagelan itu adalah rangsang berkode yang lantas ditangkap oleh indera (mata dan telinga) lantas dikirim ke otak untuk diolah, dibongkar kodenya, didecode. Hasilnya, bisa urat lucu yang kena lantas terpingkal-pingkal, bisa urat kesal yang kena lantas mrengut, atau malah urat heran yang kena.
Kemampuan men-decode, membongkar, kelucuan itu sepertinya yang bisa membuat rangsang lantas memilih urat mana yang mesti dijawil. Lha sekarang, kalau analisa ndobos saya itu benar lho ya, orang yang selalu tertawa di semua situasi itu bagaimana? Apa dia punya decoder ciamik yang membongkar segala hal menjadi lucu atau justru karena decodernya rusak?
Kembali ke pertanyaan awal tadi, apa ada dagelan universal yang sanggup membuat semua orang terpingkal-pingkal? Apa diperlukan decoder dagelan universal ya? Atau … ada dagelan generik yang bisa dibongkar oleh sembarang decoder? Menurut sampeyan gimana?
Pada hari Satu pagi lalu itu, bangun tidur ku terus aduh aduh, bukannya mandi dan sikat gigi. Punggung dan pinggang rasanya sakit sekali. Biyuh biyuh, nemen ini sakitnya. Dengan susah payah saya turun dari tempat tidur dan langsung menelpon teman yang rumahnya di dekat rumah saya. "Baik, saya datang ke tempatmu, ada klinik fisioterapi di dekat stasiun" begitu katanya. Fisioterapi??? Waaah...pijet ini, sedap betul. Ayo ayo ayo ...
Sudah lama saya tidak pijetan. Biasanya di Bogor itu kalau badan terasa remuk redam, bisa manggil tukang pijet langganan, saya memanggilnya Bi Nyai. Remasannya Bi Nyai itu mantab pol, apalagi dia sering mijet sambil cerita. Macam-macamlah ceritanya, dari mulai soal tanahnya yang sering ditawar orang, sampai cerita masa kecilnya. Bi Nyai memang punya kebun, seribuan meter persegi, dan sering ditawar orang -- biasanya calo tanah. "Diical wae kitu den? Da eta nu bade meser pejabat ... sieun Bi Nyai mah". Kalau sudah begini saya jadi sok bijak, "Ulah atuh Bi Nyai. Naha pejabat teh nyingsiuenan, anu nyingsieunan mah arana penjahat sanes pejabat".
Balik lagi soal "pijetan" saya tadi. Teman itu datang naik skuter listriknya yang sering bikin saya tertawa itu. Lha wong dia itu kalau naik skuter dandanannya persis seperti pembalap MotoGP, padahal skuternya paling banter cuma bisa dikebut 40 km/jam di jalan rata. Dengan pinggang cenut-cenut, saya membonceng pembalap satu ini ke klinik fisioterapi itu.
Mungkin karena tidak ramai, saya bisa langsung ditangani. Periksa-periksa dulu, pencet sana pencet sini. Lantas dia nyerocos dalam Bahasa Jepang yang tidak saya pahami, dan teman pembalap saya itu juga pelit terjemahan, dia cuma bilang "OK kamu bisa di treatment sekarang".
Baju dilucuti dan saya disuruh tengkurep di tempat tidur yang ada bolongannya di bagian kepala. Lantas tukang pijetnya memperlihatkan benda-benda bunder pipih sambil nyerocos, saya manggut-manggut saja. Oooo ... ternyata punggung dan pinggang saya ditempeli alat itu. Lantas dia menunjukan 4 jarum panjang-panjang. Saya tidak manggut, tetapi ditusuk juga sayanya, nyaris tidak terasa. Teman pembalap yang setia mendampingi saya di samping ranjang pemijatan itu lantas berkata "Sekarang mereka akan mengalirkan listrik, kalau sakit bilang stop". Listrik ??!!! Lho, saya itu mau dipijet kok malah disetrum toh? Belum sempat protes .... rrrrrrrrrrrr .... setoooooop!
Otot saya mulai mengikuti irama kejutan listrik, kenceng ... kendor ... kenceng ... kendor. Setengah jam lamanya saya disetrum begini. Selesai disetrum, sang pembalap dan sang tukang pijet ngobrol lagi, sementara saya masih tengkurep keringetan. Tiba-tiba, muncul sang asisten tukang pijet sambil membawa plester panjang yang lantas ditempelkan di kiri dan kanan tulang belakang. Sang pembalap lantas berkata "OK, selesai sudah. Sekarang kamu saya antar pulang dan Senin pagi kamu saya jemput untuk treatment lagi". Lho ... mbayarnya? Ooo ternyata tagihan akan langsung dikirimkan ke kantor.
Senin pagi kemarin saya datang lagi. Kali ini dipijat sebentar, tapi ya tetap di setrum juga .... rrrrrrrrrrrr.
Pulau Jawa itu tanahnya subur, cuacanya bersahabat tak heran jika penduduknya padat. Ada bisul-bisul di wajah Jawa, gunung-gunung api itu, yang setia memuntahkan nanahnya yang lantas menjadi rabuk bagi tanah. Kesuburan yang memaku penghuninya, yang lantas beranak pinak dan menjadi banyak di tanah itu.
Rekahan itu ada di dasar laut pulau yang subur itu. Rekahan yang tak terlihat dalam keseharian kita. Jika rekahan itu beringsut barang setindak saja, tanah yang kita injak pun bergetar. Tanah Jawa yang subur itu kemarin bergetar. Rumah tidak kuasa lagi untuk tetap berdiri gagah. Rumah tidak lagi memberi naungan dan lindungan, dia menelan ... ribuan jiwa jumlahnya.
Udin, Ige, Wasis, Nanang, Edo, Naring, Atik ... mudah-mudahan kalian selamat. Saya yang ada di tempat yang jauh ini, hanya bisa berdoa dan berduka.
Apa sampeyan pernah "repot" gara-gara urusan nama sampeyan? Untuk urusan yang satu ini, saya terkadang dibuat agak repot, agak jengkel tetapi lebih sering dibuat cengengesan geli. Masalahnya sederhana, saya itu hanya punya nama dengan satu kata, bukan dua atau tiga dan tak ada nama keluarga menempel di nama saya yang hanya satu kata itu. Pada semua dokumen identitas resmi, nama saya tercantum apa adanya. Lha ... apan orang Indonesia banyak yang begitu, lantas di mana masalahnya? Segala kerepotan, kejengkelan dan cengengesan tadi terjadi di luar teritori negara gemah ripah itu.
Salah satu kisah yang bikin saya garuk-garuk kepala --walaupun ndak gatel-- itu terjadi di Jepang sini. Alkisah saya harus mempunyai rekening di bank, untuk memudahkan bagian bayar-bayar membayar upah kerja saya. Disarankan pula agar saya memiliki kartu kredit untuk memudahkan acara bayar membayar dalam perjalanan dinas. Masuk akal, dan tampaknya memang perlu.
Pergilah saya ke sebuah bank dan langsung disambut ramah oleh Mbakyu di bagian pelayanan, pakai acara disuguhi kopi dan kueh segala. Maksud kedatangan diterangkan dan langsung dimengerti. Mbakyu itu lantas memanggil temannya di bagian kartu kredit untuk turut serta membantu saya melaksanakan niat. Dua petugas dan dua formulir aplikasi ada di depan saya. Formulir aplikasi standard saja. Lengkap sudah isiannya, dan keduanya lantas sibuk dengan terminal komputernya masing-masing.
Tampaknya ada masalah, keduanya datang kembali ke saya dengan pertanyaan yang sama. Mana nama yang satu lagi? Nama apa? Nama saya ya cuma itu. Saya lantas melakukan prosedur standard, keluarkan passport dan kartu identitas lain. Lho kan, nama saya cuma itu. Belum beres ternyata, kedua Mbakyu itu memanggil atasannya, seorang pria dan seorang perempuan. Empat orang sekarang ada di hadapan saya, sibuk ngobrol sendiri yang saya ndak ngerti isinya. Sampai akhirnya salah seorang dari mereka mengatakan begini, "Kami punya sedikit masalah, sistem komputer kami tidak bisa menerima hanya satu nama, harus dua. Saya akan menghubungi bagian komputer".
Sekarang dua orang dari bagian komputer turut serta. Ini sudah enam orang. Salah satunya berkata lagi "Maaf, mohon bersabar sebentar" dan lantas menerangkan masalah komputer dan nama yang cuma satu kata itu. Semua lantas menghilang. Kopi buat saya ditambah lagi, tapi kueh-nya ndak.
Ini sudah hampir dua jam saya menunggu, sambil nonton TV yang saya ndak ngerti dan kopi saya sudah berganti jadi teh ... sudah dua cangkir teh, kueh-nya masih ndak ditambahi. Akhirnya Mbakyu tadi datang tergopoh-gopoh sambil tersenyum. Minta maaf lagi karena membuat saya lama menunggu, dan dia bilang "Kami sudah bisa memasukkan nama anda ke dalam sistem kami, tetapi mohon bersabar karena account bank anda baru bisa aktif kira-kira satu minggu lagi. Ini kasus yang tidak biasa".
Haiyaaaaaaah ... di mana coba di Indonesia acara buka rekening menghabiskan waktu seminggu, dilayani oleh enam orang, menghabiskan dua cangkir kopi, dua cangkir teh dan tiga potong kueh? Ah, ya sudahlah toh sekarang saya sudah punya rekening di bank. Apa saya harus ganti nama ya, biar ndak bikin bingung petugas bank, imigrasi dan petugas-petugas lainnya? Ganti jadi apa ya? ..... Mbilung el Diablo Macho?
Turut berduka atas musibah gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah
Posted at 10:55 pm by Sir Mbilung
Balapan
Pagi ini saya dibangunkan oleh jeritan hp, ada sms. "Mas, kok ndak nongol toh? birdrace iki ning Wonorejo". Diamput, pagi-pagi kok sudah bikin hati panas. Ya ... mestinya hari ini teman-teman itu sedang sibuk nginceng manuk, ngintip burung, di Wonorejo, Surabaya sana. Lagi ada birdrace (singkatan dari kata birdwatching race), balapan nginceng manuk itu tadi, di tempat birding favorit saya.
Balapan yang agak-agak semprul ini aturan dasarnya sederhana sebetulnya. Pesertanya adalah kelompok, dari mulai 3 sampai 5 orang. Lantas arena pertandingan ditentukan, bisa cuma sak kelurahan bisa juga sak negara. Waktunya, ada yang cuma 8 jam ada juga yang 24 jam, tergantung dari panitianya mau bikin yang berapa lama. Lha, peserta itu lantas mencari (melihat dan mencatat) sebanyak mungkin jenis burung yang ada di dalam arena pertandingan dalam rentang waktu yang sudah ditentukan itu tadi. Burung yang boleh masuk catatan hanya yang burung liar, burung peliharaan ndak masuk itungan. Akhirnya kelompok yang paling banyak lihat jenis burungnya jadi pemenang. Begitu saja.
Mau urik, curang, memasukan jenis burung yang ndak dilihat ke dalam daftar? Oooo ... ya mengundang masalah ini, itu yang curang begini langsung tamat karirnya sebagai pembalap. Bisa-bisa ndak balapan lagi dia seumur-umur. Lantas, hadiahnya apa kalau menang? Bisa macam-macam, kalau panitianya kaya raya bisa dapat teropong, kalau ndak terlalu kaya bisa dapat buku. Sering malah hadiah buat pemenangnya hanya tepuk tangan dan usapan di kepala dari yang kalah saja.
Buat saya sendiri sebenarnya dalam birdrace itu yang paling saya nikmati adalah kumpul-kumpulnya. Menang atau kalah jadi ndak penting, lha wong hadiah pemenangnya juga biasanya lantas digilir kok. Itu buku atau teropong hadiah pindah dari tangan satu ke yang lain, bisa-bisa pemilik aslinya malah ndak kebagian giliran make. Dunianya kaum pengintai burung memang dunia yang rada ndak lumrah kok. Tengok saja website mereka itu di sini, isinya ya cuma burung semua.
Ndobos soal birdwatching begini apa sampeyan ada yang tahu kalau Ian Fleming itu birdwatcher? dan James Bond yang asli itu adalah seorang ornithologist?
Ya sudah, buat yang sedang balapan selamat balapan saja, jangan lupa mandi sesudah balapan, prengus !! Oh iya, Kang Mas Pecas Ndahe, sampeyan apa ikutan balapan di Wonorejo itu?