Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< June 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, June 08, 2006
Pilek

Pilek. Bikin badan cekot-cekot, hidung bumpet tapi pas ndak bumpet jadi banjir, wahing-wahing (bersin-bersin), kepala pusing dan makan ndak enak karena memang saya (masih) ndak bisa masak yang enak. Apa saya ketularan Bang Pi'i yang baru ulang tahun itu ya? Ah ya ndak, lha wong saya belum pernah ketemu dia kok. Saya tidak akan ndobos soal siapa yang telah menyumbangkan, secara sukarela atau terpaksa, penyebab penyakit ini. Saya ndobos soal biangnya saja.

Pilek disebabkan oleh virus, begitu kata bapak dosen virologi saya dahulu yang potongan rambutnya mirip Kang Mas Pecas Ndahe. Lha virus itu, yang masih terus diperdebatkan apakah dia bisa digolongkan mahluk hidup atau tidak, ukurannya kecil se kecil-kecilnya. Sangking kecilnya, untuk melihat wujudnya tidak bisa hanya dengan menggunakan mikroskop cahaya, harus dengan mikroskop elektron .... begitu katanya. "Mahluk" ini sangat sederhana, tidak punya sel, tidak bermetabolisma juga dan cuma berwujud bungkus protein yang membungkus materi genetiknya yang juga sangat sederhana. Untuk berkembang biak, virus memerlukan mahluk hidup lain, mulai dari bakteri sampai manusia. Cilik mekitik, ya virus itu.

Bukan hanya pilek yang bisa ditimbulkan oleh aksi virus. Ulah virus yang bikin heboh antara lain cacar, demam berdarah, ebola, AIDS dan flu burung (menurut saya nama yang pas itu flu ayam). Beberapa penyakit yang disebabkan virus sudah ada obatnya, tetapi untuk pilek .... belum ada sampai sekarang. Obat yang katanya obat pilek itu hanya untuk mengurangi tingkat ketidaknyamanan yang timbul akibat aksi virus, virusnya sendiri ya sehat wal-afiat saja. Hanya sistem kekebalan tubuhlah yang mampu menghancurkan "mahluk" halus ini.

Celakanya, pilek itu gampang menular dan gerbang masuk virus pilek yang paling umum adalah mata dan hidung. Virus pilek ngumpulnya di balik langit-langit mulut antara hidung dan tenggorakan atas (nasopharynx). Dari mata, virus disalurkan melalui saluran buangan kelenjar air mata ke nasopharynx sementara teman-temannya yang lewat hidung langsung menuju sasaran. Nah karena gampang menular itu, saya jadi punya alasan yang sangat mulia untuk tidak masuk kantor.

Bicara soal pilek dan penularannya, saya jadi inget gojekan kere yang rasialis dari temen inggris saya. Dia bilang begini, "ada lho pilek yang nggak menular, namanya pilek skotlandia. Mana bisa kamu dapet virus itu dari mereka, lha wong orang Skotlandia itu pelitnya minta ampun kok".


Posted at 12:41 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Wednesday, June 07, 2006
Sepak-Sepakan

Goooooooolllllllllllllll gol gol gol goooooooolllllllllllllll,  seruan pertanda ada gawang yang bobol itu sebentar lagi bakal meramaikan acara di layar kaca. Sebuah pagelaran akbar empat tahun sekali bakal digelar sebentar lagi, dengan tiga puluh dua negara sebagai bintang utamanya. Akan ada pula beberapa komentator, analis atau juru cela yang ngiring bingah, turut numpang jadi pesohor.

Jutaan orang --mungkin juga milyaran-- bakal terpaku. Ada yang akan sedih karena tim yang dijagokannya kalah, ada pula yang girang karena jagoannya menang. Kalau ada keuntungan dan kerugian finansial yang dialami penonton, itu lain soal.

Tapi ngomong-ngomong, apa Indonesia ndak ikut pertandingan besar itu? Oooo tentu saja ikut ... ikut penyisihan dan sudah lama tersisih. Lho kok bisa, mosok dari 200 sekian juta warga negara Indonesia ndak ada sebelas orang saja yang bisa main bola dengan lihai? Lha negara seperti Togo yang penduduknya mungkin cuma separuhnya Jakarta saja ikut mentas kok.

Lha ... ya ndak ngerti saya, lha wong saya ini bukan penggemar berat sepak bola, kadang saya malah ketiduran nonton bola di tivi itu. Tetapi sejauh pengetahuan saya yang tidak jauh itu, di Indonesia tidak ada sepak bola, adanya sepak terjang gitu kok dan interaktif lagi, penontonnya kadang-kadang ikut ... ikut nyepak dan ikut nerjang.

Coba saja, saya pernah diwanti-wanti teman agar tidak lewat jalan anu, karena lagi ada pertandingan sepak bola di stadion dekat situ. Ah, yang beringas, menakutkan dan merusak itu kan hanya sekian persen saja, hanya segelintir kok jumlahnya, sak upil itu. Lho, kalau jumlah yang nonton itu sak stadion Senayan, sekian persen kan jadi banyak. Lagi pula upil siapa yang besarnya sebesar penonton beringas?

Mungkin dunia sepak bola Indonesia perlu ruwatan, sekalian ganti nama organisasi besarnya. Jangan pakai nama PSSI, karena itu juga bisa dibaca Persatuan Sepak Sepakan Indonesia, ganti saja jadi PBSI. Lho, PBSI kan punyanya badminton, bulu tangkis? Ndak apa-apa, badminton kita juga mulai kalahan kok, perlu diruwat dan diganti nama juga.

Lantas PBSI itu apa? Persatuan Bola Sepak Indonesia, untuk meyakinkan bahwa yang disepak itu bola bukan bokong, kaki, perut atau kepala. Ngawur, menurut kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Persatuan Bola Sepak berarti yang bersatu para bola-bola yang bakal disepak-sepak, bukan klub-klub sepak bola. Ya ndak apa-apa juga, kalau bola-bola sudah berkumpul nanti tiap pemain bisa dapat bola satu-satu, jadi ndak usah sepak-sepakan lagi rebutan bola.


Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Tuesday, June 06, 2006
Harapan

Masih berhubungan dengan ndobosnya saya kemarin itu, sekarang saya mau ndobos soal harapan. Namanya juga harapan, mestinya yang diharap itu yang menguntungkan bagi si pengharap. Ada yang harapannya itu langsung dipanjatkan kepada Sang Penguasa Semesta Alam ini, ada pula yang merasa perlu untuk menyampaikan harapannya melalui perantara.

Di sebuah kuil di Jepang, ada sebuah pohon besar yang dikelilingi pagar untuk menempelkan harapan yang ditulis di atas sebilah papan kecil. Sebagain besar harapan itu tidak bisa saya baca isinya, tetapi ada beberapa yang jelas maksudnya. Coba saja tengok foto-foto di bawah ini. Dari mulai harapan yang berkaitan dengan situasi negara hingga harapan agar garasi bisa selesai dibuat.



Entah secara sadar atau tidak sering kali kita menaruh barang-barang tertentu di tempat tertentu di rumah atau di tempat kerja dengan harapan agar barang itu bisa memberi nilai tambah bagi sang penghuni. Entah itu dengan harapan agar rumah menjadi tampak lebih bagus, agar tampak lebih berwibawa atau bertujuan untuk menakut-nakuti.

Soal menakut-nakuti ini, saya jadi ingat kisah salah seorang Bibi saya (tidak ada hubungan darah dengan Bibi Titi Teliti atau Bibi Tutup Pintu). Alkisah sang Bibi ini memajang foto Almarhum Eyang Kakung, yang sedang nangkring di atas kuda dan mengenakan seragam lengkap kebanggaannya itu, di ruang tamu. Awalnya saya tidak mengerti betul apa tujuannya memajang foto tua itu di situ.

Pada suatu hari rumah sang Bibi ini dikunjungi oleh pencari sumbangan tapi maksa  dari sebuah kumpulan para turunan tentara. Begitu masuk ke ruang tamu, foto Eyang Kakung langsung terlihat. "Lho, Ibu ini apanya Bapak itu?" kata sang pencari sumbangan. "Oh, itu Bapak saya", kata sang Bibi. Tanpa ba bi bu, sang tamu langsung mohon permisi, dan sang Bibi lantas memandang foto Eyang Kakung sambil berucap "Matur nuwun gih Pak, foto Bapak masih sakti". Eeealah, foto bapaknya dijadikan jimat tolak bala.

Jimat itu barang yang digunakan oleh pemiliknya agar dapat memperoleh sesuatu secara cepat tanpa harus bersusah payah menjalani laku. Lha di dunia yang serba instant begini, jimat lantas dicari-cari oleh penggemarnya. Entah itu jimat yang katanya bisa bikin cepat kaya --yang njual kok ndak pake jimat ini ya?--, jimat untuk menarik lawan jenis --atau sejenis, tergantung orientasi sexualnya--, jimat kebal --tapi takut disuntik-- atau jimat tolak bala yang salah satunya untuk mengusir pencari sumbangan itu tadi.

Jimat itu tampaknya ada di mana-mana, tidak kenal batas negara dan budaya. Di Jepang,  Mbak manis di foto di bawah ini sedang menunggu konsumen yang ingin membeli jimat-jimat yang dijualnya. Saya ndak tahu apakah jimat-jimat kodian itu ampuh, wong saya ndak beli. Tapi ... Mbak ... Mbak ... sampeyan pake susuk ndak?





Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Monday, June 05, 2006
Kejutan

Tulisan Kang Mas Pecas Ndahe soal nujum itu menyadarkan saya bagaimana saya masih dikungkung oleh sebuah dunia yang tak menyukai kejutan. Bagaimana setiap hari saya disibukan oleh ritual-ritual pernujuman untuk melihat masa depan yang hasilnya hanya boleh dilihat oleh segelintir orang saja. Lantas embel-embel jabatan menempel di nama saya yang hanya satu kata itu, saya seorang analis, tukang nujum tanpa kemenyan, rokok lisong, darah ayam cemani atau kemampuan berbicara dengan alam arwah.

Dalam keseharian entah sudah berapa kali saya mentertawakan coretan-coretan tafsir mimpi atau catatan-catatan nomer pelat mobil yang hasilnya dipakai untuk memasang nomor judi buntut, nalo atau toto. Petaruh menjadi miskin sementara sang bandar dan sang dukun menjadi kaya. Jika ada satu atau dua tafsiran sang dukun menjadi kenyataan, maka namanya lantas berkibar sebagai orang sakti, orang yang menguasai ilmu weruh sakdurunge winarah (mampu melihat hal yang belum terjadi).

Orang-orang "sakti" seperti Merlin, Nostradamus, Rasputin, Ronggowarsito atau Putri Wong Kam Fu adalah pesohor pada masanya. Betapa manusia memang selalu mencari para pelihat masa depan itu. Betapa manusia tidak menyukai adanya kejutan, terutama yang tidak menyenangkan. Betapa jimat lantas menyertai keseharian mereka, entah itu disimpan di balik sabuk atau di dalam kutang.

Saya ndak bikin jimat, tetapi syair-syair saya nyaris diperlakukan sebagai jimat. Syair-syair yang lantas diberi stempel sebagai opini untuk kemudian dirembukan. Pilihan lantas dibuat agar apa-apa yang tidak menyenangkan tidak terjadi sementara yang menyenangkan tetap terjadi. Manusia memang tidak menyukai kejutan ..... tetapi mudah-mudahan mereka tidak terkejut jika mereka mengetahui kalau saya itu tidak punya ilmu weruh sakdurunge winarah, lha saya itu cuma ndobos.


Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Sunday, June 04, 2006
Nyekar



Tadi itu beres-beres file foto, lha kok saya nemu sebuah foto lama yang saya ambil pada saat mengunjungi makamnya Karl Marx di Highgate Cemetery, London. Saya lantas jadi ingat acara nyekar yang bikin senyum-senyum itu.

Lha gimana ndak senyum-senyum coba, lha wong mengunjungi makam mbah-nya penentang kapitalisme ini kok ditarik bayaran! Itu mesti Marx lagi misuh-misuh di dalam kuburnya.

Begitulah nasib orang tersohor, sudah matipun makamnya jadi objek wisata. Sampeyan apa ada yang tahu, turunannya Marx dapet royalti ndak ya?




Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Saturday, June 03, 2006
Guru Kencing

Tadi malam saya ndak masak, ndak nyuci piring tapi kenyang. Ada teman lama yang datang berkunjung, sudah hampir 10 tahun saya ndak ketemu orang gila satu ini. Lha kok ndilalah beberapa teman juga berminat untuk ikutan ngumpul, maka acara reunian kecilpun digelar, tentu saja dilengkapi dengan acara makan-makan dan saling mentertawakan. Berlima kami semua dan saya yang paling muda (ehmmmm...).

Tiga diantara kami itu termasuk pesohor di dunia mirsani manuk, birdwatching, atau pakai saja istilah yang diberikan Macchiato "melihat burung", termasuk sang tamu. Kamol Komolphalin, pelihat burung dari Thailand, adalah pelukis untuk buku panduan lapangan (field guide) burung-burung di Thailand. Takeshi Taniguchi, pelihat burung dari Jepang juga pelukis untuk buku panduan lapangan burung-burung di Jepang. Richard Grimmett, anak Inggris Selatan yang sekarang cari makan di Jepang, melukis dan menulis buku panduan lapangan burung-burung di anak-benua India.


Kiri ke Kanan : Richard, Kamol dan Takeshi


Tiga orang itu pada suatu masa dulu pernah mengajari saya dengan sangat antusias bagaimana melihat burung dengan baik dan benar. Kamol njelungup ke jurang di Kao Yai karena terlalu antusias mengejar burung rangkong. Richard kesasar karena sangat antusias mencari Golden Eagle di Bavaria untuk saya, sementara Golden Eagle-nya terbang di atas kepala saya yang sedang nunggu sambil ngopi di warung. Takeshi nyemplung kolam karena antusias menerangkan ini dan itu sampai lupa lihat jalan.

Sebagai murid, tampaknya saya itu termasuk golongan murid yang tidak ikut kata peribahasa "guru kencing berdiri, murid kencing berlari" -- kok ya kebetulan gurunya laki-laki semua ya? Lagipula, masak saya disuruh kencing sambil lari-lari. Mungkin peribahasa yang pas buat saya sebagai murid itu adalah "guru kencing berdiri, murid melihat guru kencing", jadi sah-sah saja kalau saya ndak ikut-ikutan njelungup, kesasar dan nyemplung kolam. Apa sampeyan pernah kencing sambil lari-lari?


Posted at 12:35 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Friday, June 02, 2006
Belanja




Teliti sebelum membeli, begitu petuah basi yang sering didengungkan. Basi ?? Nanti dulu. Itu petuah sepertinya perlu ditaati apalagi kalau belanjanya online yang wujud nyata barangnya tidak bisa dijamah-jamah dan penjualnya nyaris tidak bisa diajak ngobrol soal barang jualannya. Kiriman gambar dari adik saya ini (makasih Pip), yang mungkin dia dapat dari milis-milisnya itu, bikin saya ndlongop.

Iseng, barusan ini saya periksa sang pemenang, dan ternyata sodara-sodara ada komentar dari sang penjualnya "Won auction, but didn't pay. Sorry, but winning an auction is a contract." yang ditulisnya 1 hari setelah tanggal pengumuman pemenang lelang.


Posted at 12:15 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Thursday, June 01, 2006
The DaGelan Code

Ndagel, melucu, melawak, berhumor, ngabodor, semuanya itu sebelas dua belas, ya begitu-begitu juga maksudnya dan tujuannya juga sama, membuat orang lain tertawa atau paling tidak tersenyum. Dagelan itu sendiri tampaknya ada di mana-mana, ndak kenal bangsa, warna kulit, rupa, penampakan, sepertinya semua punya dagelan. Pertanyaannya sekarang adalah, apa ada dagelan yang bisa bikin semua orang sak dunia ketawa? Dagelan universal?

Basiyo atau Srimulat bisa bikin saya terpingkal-pingkal, tapi ada teman saya yang cuma ndlongop, ndak ngerti katanya. Saya juga tertawa ketika nonton acara sandiwara bodor "Inohong di Bojong Rangkong" di TVRI Bandung. Tapi temen saya anak Klaten itu, ndak ketawa. Apakah mungkin karena dagelan atau bodoran itu terlalu sektarian? Ada hambatan bahasa?

Bahasa mungkin bisa menjadi hambatan,akan tetapi saya sering juga tidak tertawa blas nonton "lawakan" yang saya paham dengan baik ucapan pelawaknya, sementara teman saya tertawa. Atau coba yang satu ini, Mr. Bean. Irit omongan, kaya polah, pentalitan ndak karu-karuan, saya tertawa. Tetapi ada teman yang bilang "Mr. Bean ndak lucu … tolol".

Budaya? Ah, saya orang Jawa, terpingkal-pingkal juga dengan bodoran Sunda dan melihat polahnya Mr.Bean.

Umpama kata, dagelan itu adalah rangsang berkode yang lantas ditangkap oleh indera (mata dan telinga) lantas dikirim ke otak untuk diolah, dibongkar kodenya, didecode. Hasilnya, bisa urat lucu yang kena lantas terpingkal-pingkal, bisa urat kesal yang kena lantas mrengut, atau malah urat heran yang kena.

Kemampuan men-decode, membongkar, kelucuan itu sepertinya yang bisa membuat rangsang lantas memilih urat mana yang mesti dijawil. Lha sekarang, kalau analisa ndobos saya itu benar lho ya, orang yang selalu tertawa di semua situasi itu bagaimana? Apa dia punya decoder ciamik yang membongkar segala hal menjadi lucu atau justru karena decodernya rusak?

Kembali ke pertanyaan awal tadi, apa ada dagelan universal yang sanggup membuat semua orang terpingkal-pingkal? Apa diperlukan decoder dagelan universal ya? Atau … ada dagelan generik yang bisa dibongkar oleh sembarang decoder? Menurut sampeyan gimana?


Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Wednesday, May 31, 2006
Bayar Berapa?

Suatu ketika pada masa yang sudah lama. Saya menghadiri sebuah acara pernikahan seorang kawan, anak saya ikut.

Mulutnya masih penuh makanan hidangan pesta, ketika dia bertanya :

anak    : Pak, kalo nikah itu mbayar ya Pak?
bapak  : iya Mas
anak    : Bapak bayar berapa ke Ibu?

celingukan mencari Ibunya anak-anak ... ooo dia lagi antri siomay

bapak  : ndak tau Mas, lha wong sampe sekarang Bapak masih mbayar.
anak    : oh ... satenya enak Pak, mau?


Posted at 11:27 pm by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Tuesday, May 30, 2006
rrrrrrrrrrrr

Pada hari Satu pagi lalu itu, bangun tidur ku terus aduh aduh, bukannya mandi dan sikat gigi. Punggung dan pinggang rasanya sakit sekali. Biyuh biyuh, nemen ini sakitnya. Dengan susah payah saya turun dari tempat tidur dan langsung menelpon teman yang rumahnya di dekat rumah saya. "Baik, saya datang ke tempatmu, ada klinik fisioterapi di dekat stasiun" begitu katanya. Fisioterapi??? Waaah...pijet ini, sedap betul. Ayo ayo ayo ...

Sudah lama saya tidak pijetan. Biasanya di Bogor itu kalau badan terasa remuk redam, bisa manggil tukang pijet langganan,  saya memanggilnya Bi Nyai. Remasannya Bi Nyai itu mantab pol, apalagi dia sering mijet sambil cerita. Macam-macamlah ceritanya, dari mulai soal tanahnya yang sering ditawar orang, sampai cerita masa kecilnya. Bi Nyai memang punya kebun, seribuan meter persegi, dan sering ditawar orang -- biasanya calo tanah. "Diical wae kitu den? Da eta nu bade meser pejabat ... sieun Bi Nyai mah". Kalau sudah begini saya jadi sok bijak, "Ulah atuh Bi Nyai. Naha pejabat teh nyingsiuenan, anu nyingsieunan mah arana penjahat sanes pejabat".

Balik lagi soal "pijetan" saya tadi. Teman itu datang naik skuter listriknya yang sering bikin saya tertawa itu. Lha wong dia itu kalau naik skuter dandanannya persis seperti pembalap MotoGP, padahal skuternya paling banter cuma bisa dikebut 40 km/jam di jalan rata. Dengan pinggang cenut-cenut, saya membonceng pembalap satu ini ke klinik fisioterapi itu.

Mungkin karena tidak ramai, saya bisa langsung ditangani. Periksa-periksa dulu, pencet sana pencet sini. Lantas dia nyerocos dalam Bahasa Jepang yang tidak saya pahami, dan teman pembalap saya itu juga pelit terjemahan, dia cuma bilang "OK kamu bisa di treatment sekarang".

Baju dilucuti dan saya disuruh tengkurep di tempat tidur yang ada bolongannya di bagian kepala. Lantas tukang pijetnya memperlihatkan benda-benda bunder pipih sambil nyerocos, saya manggut-manggut saja. Oooo ... ternyata punggung dan pinggang saya ditempeli alat itu. Lantas dia menunjukan 4 jarum panjang-panjang. Saya tidak manggut, tetapi ditusuk juga sayanya, nyaris tidak terasa. Teman pembalap yang setia mendampingi saya di samping ranjang pemijatan itu lantas berkata "Sekarang mereka akan mengalirkan listrik, kalau sakit bilang stop". Listrik ??!!! Lho, saya itu mau dipijet kok malah disetrum toh? Belum sempat protes .... rrrrrrrrrrrr .... setoooooop!

Otot saya mulai mengikuti irama kejutan listrik, kenceng ... kendor ... kenceng ... kendor. Setengah jam lamanya saya disetrum begini. Selesai disetrum, sang pembalap dan sang tukang pijet ngobrol lagi, sementara saya masih tengkurep keringetan. Tiba-tiba, muncul sang asisten tukang pijet sambil membawa plester panjang yang lantas ditempelkan di kiri dan kanan tulang belakang. Sang pembalap lantas berkata "OK, selesai sudah. Sekarang kamu saya antar pulang dan Senin pagi kamu saya jemput untuk treatment lagi". Lho ... mbayarnya? Ooo ternyata tagihan akan langsung dikirimkan ke kantor.

Senin pagi kemarin saya datang lagi. Kali ini dipijat sebentar, tapi ya tetap di setrum juga .... rrrrrrrrrrrr.


Posted at 12:14 am by Sir Mbilung
Ada (12) yang ndobos juga  

Next Page