Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< June 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Tuesday, June 13, 2006
Kerasukan Kapten

Lha ... kok ya ndilalah pas banget toh? Permintaan Kang Mas Pecas Ndahe yang ditulisnya di sini pas dengan penyebab utama saya dicemberuti dan dimanyuni pagi ini di kantor. Sebagai pria berjuluk "si raja tega" dan ketua merangkap anggota kelompencapir (kelompok pencaci dan pencibir), dicemberuti dan dimanyuni itu adalah resiko logis.

Begini kisahnya. Pagi ini seisi kantor disibukkan dengan perbincangan tentang kekalahan tim sepak bola Jepang. Perbincangan itu penuh dengan andai ini andai itu, kenapa tidak begini dan tidak begitu, pokoknya ndak terima kalah. Saya ndak ikut ngomong, karena dari rumah tadi saya sudah niat buat ngampet ngomong. Sudahlah pokoknya diam saja, senyum boleh tapi jangan ngomong. Lha ... kok ada yang nekat nanya ke saya "... jadi menurut kamu bagaimana? siapa sebenarnya yang harus dimainkan tadi malam itu?". Jebol pertahanan saya, langsung njeplak "Jepang seharusnya memainkan Kapten Tsubasa". Reaksinya ... begitulah, bibir-bibir pada maju semua.

Kang Mas Pecas tidak salah, bagi banyak penggila bola di Jepang tokoh komik satu itu dijadikan patokan, tim sepak bola Jepang itu harus seperti tim-nya Kapten Tsubasa. Tidak ada yang bisa menghentikan tim Jepang dengan Tsubasa-nya, semua lawan dilibas dengan jumlah gol fantastis. Pokoknya, Kapten Tsubasa itu bisa dikatakan super hero, temennya Superman, walaupun Kapten Tsubasa pakai celana dalemnya ndak di luar.

Kalau kemudian banyak pemain bola seperti Nakata yang merasa terinspirasi dengan kapten komik ini ya boleh-boleh saja. Hanya saja, tim Jepang beneran itu lantas dibebani target gila-gilaan ... masuk final! Lha, ini sudah bukan terinspirasi Kapten Tsubasa lagi namanya, ini sudah kerasukan. Ini sama saja dengan menyamakan pulisi Indonesia itu seperti Gundala, Batman atau Justice League sekalian.

Biarkan mereka kerasukan, saya toh ndak rugi, malah untung. Setelah dimanyuni soal Tsubasa itu tadi, saya masih nyerocos lagi "samurai kok ndak bisa mancung kepala, ya disepak kangguru ... sekarang mana uang saya". Saya menang taruhan 5000 Yen, yang langsung saya pasang lagi karena orang sekantor percaya Jepang bakal mengalahkan Brazil. Kalau ternyata Jepang menang, 5000 Yen melayang, ya ndak apa-apa juga, lha wong duit "haram" kok, masak saya kirim buat sumbangan korban gempa Yogya?


* Gambar diambil langsung dari tempatnya Kang Mas Pecas.


Posted at 12:29 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Bal-Balan Gumun




Kembali ke kantor dari makan siang kemarin, saya berjalan melewati taman di depan kantor. Ada sekelompok anak-anak sekolah dasar sedang bermain sepak bola. Anak-anak ikutan demam piala dunia? Ndak ngerti juga saya, dan ndak penting juga apakah mereka demam atau tidak. Lagipula apa iya oleh gurunya mereka diijinkan main bola kalau sedang demam? Lantas apa anehnya anak-anak main bola sehingga saya menyempatkan diri menyaksikan mereka bermain dari balik pagar sekolah?

Main bola yang normal itu ada dua tim yang saling berhadapan di lapangan. Lha anak-anak itu ... tiga tim dalam satu lapangan. Ada tim yang memakai rompi merah, biru dan kuning. Entah karena sempitnya waktu bermain bola yang diberikan oleh gurunya, sehingga tidak bakal sempat semua tim bermain jika gantian, atau karena mereka tidak sabar menunggu giliran? Apapun penyebabnya cara pemecahannya sangat khas anak-anak. Ya sudah, tiga tim main barengan, gawangnya juga tiga.

Waah, mbundet ndak karu-karuan, pokoknya seperti permainan bola ayam. Semua ngumpul di tempat di mana ada bola, seperti ayam merubung beras. Bolanya ditendangi kian kemari, pokoknya asal ndak nendang ke arah gawang sendiri. Tidak berlangsung lama permainan sepak bola ayam itu. Ada perubahan yang bikin saya ternganga-nganga, walaupun saya sudah mengeluarkan ajian ojo gumun.

Tim kuning mulai kelihatan "berpihak" pada tim merah untuk menyerang tim biru, tetapi tidak ikut membantu tim merah bertahan ketika diserang tim biru. Sementara tim merah membantu kuning untuk bertahan dari serangan tim biru. Tim kuning membantu merah menyerang biru, membiarkan biru menyerang merah dan dibantu merah jika diserang biru. Hasil akhirnya, tim kuning yang bersorak-sorak girang ketika bel berbunyi. Tim kuning menang, paling sedikit kebobolan.

Dari mana anak-anak tim kuning itu belajar altruisme timbal balik yang mirip-mirip dengan strategi tit for tat di game theory? Dahulu saya terpening-pening dengan hitung-hitungan altruisme timbal balik di mata kuliah evolusi. Lha itu anak-anak langsung praktek dengan hasil yang memuaskan. Besok-besok saya harus belajar ndobos sama anak-anak, mumpung mereka masih sakti dan kesaktiannya mungkin akan hilang begitu mereka beranjak dewasa.

* tambahan : sampai sekarang saya masih ndak ngerti, kenapa hanya tim kuning yang memainkan taktik altruisme timbal balik. Mungkin, mungkin lho ya, karena hanya tim kuning yang ada perempuannya. Di dunia hewan, betina adalah masternya strategi ini.



Posted at 12:24 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Monday, June 12, 2006
Kenapa e Kenapa ...

Pada kompetisi olah raga di tingkat dunia, di mana nama negara yang diusung, keterlibatan penghuni negara tersebut begitu terlihat. Tidak hanya dalam bentuk dukungan langsung di arena kompetisi dengan teriakan, tambur, terompet atau doa, tetapi yang tak hadir di arenapun seakan lapar untuk mendukung. Kenapa? Kesenangan? Nasionalisme? Kehormatan sebagai bangsa? Atau campuran semuanya?

Yang paling sering saya dengar adalah ucapan "we have put our country on the world map". Lha? memang tadinya apa ndak ada di peta apa? Ada, hanya saja ndak banyak yang tahu di mana negara itu berada. Apa iya tadinya banyak yang tahu di mana negara Trinidad dan Tobago yang penduduknya hanya 1 jutaan itu? Apa iya banyak yang tahu kalau Paraguay itu ndak punya laut dan punya bendera yang dua sisinya berbeda? Berapa orang pula yang pernah dengar nama Togo, negara yang bentuknya seperti pensil itu.

Baiklah, negaramu sekarang "ada" di peta dunia ... lantas? Lho kok lantas? Itu adalah pengakuan dari yang lain bahwa kami ada, tidak sekedar cogito ergo sum, hanya kami yang tahu kalau kami ada. Jika itu benar, maka pengakuan keberadaan adalah biang dari segala kegilaan di arena pertandingan itu.

Baiklah, tetapi bagaimana dengan negara yang "sudah diakui" ada di atas peta? Negara-negara yang telah tersohor itu. Tampaknya untuk mereka sekedar pengakuan saja tidak cukup, keagungan negara adalah tahap berikutnya. Inggris begitu bernafsu untuk memenangi kompetisi main bola kali ini. Inggris sudah punya The Ashes (dari cricket) dan Piala Dunia Rugbi, dua olah raga utama di Inggris di luar sepak bola. Memperoleh piala dunia sepakbola akan melengkapi kejayaan mereka di tiga oleh raga utama negara itu. Sementara Jepang, negara "kemaren sore" di sepak bola bertarget untuk masuk final. Mungkin benar apa ang dikatakan pemain Korea itu empat tahun yang lalu "we have put our country in the history".

Diakui dan dikenang keberadaannya ... ah sungguh menyenangkan. Lha sekarang, untuk yang bukan warga dari negara yang sedang berkompetisi itu tetapi begitu bersemangat mendukung salah satu dari mereka, apa pula ini urusannya?

Buat sampeyan yang mendukung salah satu dari mereka, boleh saya tahu kenapa? Di luar hal yang main ganteng-ganteng lho ya.



Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Sunday, June 11, 2006
Three Lions

Singa. Kucing besar pemakan daging, gambarnya sering dipakai sebagai lambang keberanian dan kegagahan. Britania Raya memajang singa jantan sebagai lambang negara (Coat of Arms), kesebelasan sepak bola Inggris menggunakan lambang tiga ekor singa jantan tumpuk-tumpuk yang sedang mengaum. dan mereka lantas dijuluki sebagai The Three Lions.

Lha kok singa? Di Inggris ndak pernah ada singa, kecuali di Kebun Binatang London. Lambang tiga singa jantan tumpuk-tumpuk itu digunakan Inggris sejak jamannya Raja Richard yang berjuluk si hati singa. Saya sendiri ndak jelas kenapa singa yang dipilih, mungkin karena tampangnya serem dan tongkrongannya gagah dan juga anggun, walaupun singa ndak ada di Inggris.

Sepak bola termasuk olah raga yang agresif, naluri membunuh (bikin gol) sangat dibutuhkan. Beberapa tukang analisa sepak bola bilang, kesebelasan Inggris kekurangan naluri itu. Repot itu urusannya apalagi jika mereka dibebani target besar untuk jadi juara, belum lagi ada para pers Inggris yang nyinyirnya ndak tanggung-tanggung. Pertandingan pertama mereka di Piala Dunia kali inipun "hanya" dimenangi dengan satu gol hasil bunuh diri di tengah cuaca yang panas. Ada hubungannya dengan lambang tiga singa jantan itu?

Singa (Panthera leo) hidup dalam kelompok yang dipimpin oleh seekor jantan gondrong. Walaupun singa jantan kadang ikut berburu dan membunuh mangsanya, tetapi singa betina sampai sekarang masih diyakini oleh banyak ahli sebagai pemburu dan pembunuh utama kelompok singa. Pada saat hari panas, singa berkelompok mencari keteduhan sambil terengah-engah.

Naluri membunuh sangat dibutuhkan, karena pada akhirnya jumlah gol yang bisa dibuatlah yang menentukan menang atau kalah. Bukan gagahnya tongkrongan, keanggunan melangkah dan berlari karena pakai sepatu baru. Kalau bisa ... tidak terengah-engah di tengah cuaca panas.

Dasar penonton ... bisanya cuma tereak dan ndobos!


Gambar © The Football Association.



Posted at 01:40 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Saturday, June 10, 2006
The Game Has Begun

The greatest game on earth itu sudah dimulai, 1.461 hari setelah Cafu mengangkat piala itu di Yokohama. Milyaran orang, memaku diri atau terpaku di depan layar kaca, atau layar LCD, dan saya adalah salah satunya.

Pertandingan pertama baru saja selesai. Enam gol, tumben ... begitu pikir saya. Biasanya pertandingan pembukaan itu irit gol dan mbosenin. Buat saya pertandingan tadi boleh dibilang seru, agresif, sepak bola menyerang yang menggairahkan. Ulasan pertandingannya ... wah bukan bagian saya itu, baca sajalah di koran atau lihat sajalah di TV.

Gundala, laptop tercinta saya itu, kali ini harus ikut begadangan. Inilah kali pertama saya nonton pertandingan Piala Dunia secara online, lha wong saya ndak punya TV. Entah berapa juta orang yang menyaksikan pertandingan akbar itu secara online. Kekhawatiran bahwa jaringan Internet bakal melting down karena kesibukan mengalirkan data, paling tidak  sampai selesainya pertandingan pertama tadi, belum terjadi dan mudah-mudahan tidak terjadi.

Empat tahun yang lalu, di Inggris saya juga ndak punya TV dan saya harus bangun pagi-pagi sekali untuk nonton pertandingan langsung di pub terdekat bersama beberapa teman. Sekarang, nontonnya sambil leyeh-leyeh di ranjang dengan laptop di pangkuan. Teknologi memungkinkan perubahan itu.

Puas? entahlah. Rasanya ada yang kurang. Mungkin susana kemeriahan itu, yang tak bisa disalurkan melalui kabel. Kemeriahan ala stadion Siliwangi kala menonton Persib atau nonton Arsenal di Highbury. Teriakan penonton yang mengejek wasit atau pemain lawan di Siliwangi dan teriakan penonton yang mengejek Tottenham Hotspur (musuh bebuyutan Arsenal) di Highbury, siapapun lawan Arsenal hari itu .... who hates tottenham stand up ... who hates tottenham stand up, berulang-ulang.

Mudah-mudahan tak ada kebencian dalam pesta ini yang lantas bermuara pada kekerasan. Apalah artinya pesta, kalau akhirnya pada benjut-benjut.


Posted at 05:06 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Friday, June 09, 2006
Surat

Sudah lama saya tidak terima surat. Walaupun kotak surat saya hampir setiap hari penuh, isinya paling brosur iklan atau paling banter surat tagihan buat bayar ini itu, bukan ... bukan surat seperti ini yang saya maksud. Bukan pula surat elektronik, yang saya maksud itu surat yang dibungkus amplop, pake perangko, isinya ditulis dengan tangan dan diantar oleh Pak Pos. Membaca tulisan tangan istri yang bulet-bulet dan tulisan anak-anak yang mbulet kok rasanya gimana gitu. Kalau lantas saya diperbolehkan menuding biang keladinya, maka tudingan ... ya kepada diri sendiri.

Saya itu sudah lama sekali ndak nulis surat. Kalau kartu ucapan selamat Idul Fitri atau Natal bisa dikatakan sebagai surat maka terakhir saya berkirim surat mungkin pas Natal tahun lalu, itupun praktis cuma tanda tangan setelah kartu ucapan itu dikata-katai istri saya. Pertimbangan praktis saja, tulisan tangan istri saya itu layak baca, sementara tulisan tangan saya lebih mirip grafik rekaman detak jantung. Naik turun ndak karu-karuan dan kadang saya sendiri juga bingung, tadi itu saya nulis apa?

Kepada orang tua pun sudah lama saya tak berkirim surat, kalau ke mertua rasanya malah belum pernah. Jamannya masih SMA dulu, saya rajin bersurat-suratan dengan Ibu dan Bapak, walaupun yang mbales surat mesti Ibu. Jaman kuliah, aktivitas surat menyurat hanya intensif kepada para pujaan hati saja. Istri saya sampai sekarang masih menyimpan surat-surat yang pernah saya kirimkan kepadanya. Kalau pujaan hati yang lain? Wah ndak tahu saya. Jaman kuliah juga menandai era beralihnya saya dari surat untuk Ibu dan Bapak menjadi telegram. Bukan hanya karena isi pesannya penting, tetapi juga lebih murah. Lha wong dulu itu saya kalau kirim telegram isinya cuma empat kata kok "putro waras, arto telas".

Setelah bekerja dan mulai sering kluyuran, turne (turu mrono mrene), masih sekali dua kali saya berkirim dan menerima surat. Surat dari istri dan anak-anak yang juga berlampirkan foto-foto. Mungkin karena jaman sekarang email dirasa lebih praktis, ngobrol bisa lewat fasilitas chat, atau tinggal angkat gagang telepon, pencet-pencet nomer ....tuuuuuut ....
"hoi .. lagi ngapain?"
"... ya lagi telepon".

Sampeyan kapan terakhir terima surat seperti yang saya maksud itu?


Posted at 12:40 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Thursday, June 08, 2006
Pilek

Pilek. Bikin badan cekot-cekot, hidung bumpet tapi pas ndak bumpet jadi banjir, wahing-wahing (bersin-bersin), kepala pusing dan makan ndak enak karena memang saya (masih) ndak bisa masak yang enak. Apa saya ketularan Bang Pi'i yang baru ulang tahun itu ya? Ah ya ndak, lha wong saya belum pernah ketemu dia kok. Saya tidak akan ndobos soal siapa yang telah menyumbangkan, secara sukarela atau terpaksa, penyebab penyakit ini. Saya ndobos soal biangnya saja.

Pilek disebabkan oleh virus, begitu kata bapak dosen virologi saya dahulu yang potongan rambutnya mirip Kang Mas Pecas Ndahe. Lha virus itu, yang masih terus diperdebatkan apakah dia bisa digolongkan mahluk hidup atau tidak, ukurannya kecil se kecil-kecilnya. Sangking kecilnya, untuk melihat wujudnya tidak bisa hanya dengan menggunakan mikroskop cahaya, harus dengan mikroskop elektron .... begitu katanya. "Mahluk" ini sangat sederhana, tidak punya sel, tidak bermetabolisma juga dan cuma berwujud bungkus protein yang membungkus materi genetiknya yang juga sangat sederhana. Untuk berkembang biak, virus memerlukan mahluk hidup lain, mulai dari bakteri sampai manusia. Cilik mekitik, ya virus itu.

Bukan hanya pilek yang bisa ditimbulkan oleh aksi virus. Ulah virus yang bikin heboh antara lain cacar, demam berdarah, ebola, AIDS dan flu burung (menurut saya nama yang pas itu flu ayam). Beberapa penyakit yang disebabkan virus sudah ada obatnya, tetapi untuk pilek .... belum ada sampai sekarang. Obat yang katanya obat pilek itu hanya untuk mengurangi tingkat ketidaknyamanan yang timbul akibat aksi virus, virusnya sendiri ya sehat wal-afiat saja. Hanya sistem kekebalan tubuhlah yang mampu menghancurkan "mahluk" halus ini.

Celakanya, pilek itu gampang menular dan gerbang masuk virus pilek yang paling umum adalah mata dan hidung. Virus pilek ngumpulnya di balik langit-langit mulut antara hidung dan tenggorakan atas (nasopharynx). Dari mata, virus disalurkan melalui saluran buangan kelenjar air mata ke nasopharynx sementara teman-temannya yang lewat hidung langsung menuju sasaran. Nah karena gampang menular itu, saya jadi punya alasan yang sangat mulia untuk tidak masuk kantor.

Bicara soal pilek dan penularannya, saya jadi inget gojekan kere yang rasialis dari temen inggris saya. Dia bilang begini, "ada lho pilek yang nggak menular, namanya pilek skotlandia. Mana bisa kamu dapet virus itu dari mereka, lha wong orang Skotlandia itu pelitnya minta ampun kok".


Posted at 12:41 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Wednesday, June 07, 2006
Sepak-Sepakan

Goooooooolllllllllllllll gol gol gol goooooooolllllllllllllll,  seruan pertanda ada gawang yang bobol itu sebentar lagi bakal meramaikan acara di layar kaca. Sebuah pagelaran akbar empat tahun sekali bakal digelar sebentar lagi, dengan tiga puluh dua negara sebagai bintang utamanya. Akan ada pula beberapa komentator, analis atau juru cela yang ngiring bingah, turut numpang jadi pesohor.

Jutaan orang --mungkin juga milyaran-- bakal terpaku. Ada yang akan sedih karena tim yang dijagokannya kalah, ada pula yang girang karena jagoannya menang. Kalau ada keuntungan dan kerugian finansial yang dialami penonton, itu lain soal.

Tapi ngomong-ngomong, apa Indonesia ndak ikut pertandingan besar itu? Oooo tentu saja ikut ... ikut penyisihan dan sudah lama tersisih. Lho kok bisa, mosok dari 200 sekian juta warga negara Indonesia ndak ada sebelas orang saja yang bisa main bola dengan lihai? Lha negara seperti Togo yang penduduknya mungkin cuma separuhnya Jakarta saja ikut mentas kok.

Lha ... ya ndak ngerti saya, lha wong saya ini bukan penggemar berat sepak bola, kadang saya malah ketiduran nonton bola di tivi itu. Tetapi sejauh pengetahuan saya yang tidak jauh itu, di Indonesia tidak ada sepak bola, adanya sepak terjang gitu kok dan interaktif lagi, penontonnya kadang-kadang ikut ... ikut nyepak dan ikut nerjang.

Coba saja, saya pernah diwanti-wanti teman agar tidak lewat jalan anu, karena lagi ada pertandingan sepak bola di stadion dekat situ. Ah, yang beringas, menakutkan dan merusak itu kan hanya sekian persen saja, hanya segelintir kok jumlahnya, sak upil itu. Lho, kalau jumlah yang nonton itu sak stadion Senayan, sekian persen kan jadi banyak. Lagi pula upil siapa yang besarnya sebesar penonton beringas?

Mungkin dunia sepak bola Indonesia perlu ruwatan, sekalian ganti nama organisasi besarnya. Jangan pakai nama PSSI, karena itu juga bisa dibaca Persatuan Sepak Sepakan Indonesia, ganti saja jadi PBSI. Lho, PBSI kan punyanya badminton, bulu tangkis? Ndak apa-apa, badminton kita juga mulai kalahan kok, perlu diruwat dan diganti nama juga.

Lantas PBSI itu apa? Persatuan Bola Sepak Indonesia, untuk meyakinkan bahwa yang disepak itu bola bukan bokong, kaki, perut atau kepala. Ngawur, menurut kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar, Persatuan Bola Sepak berarti yang bersatu para bola-bola yang bakal disepak-sepak, bukan klub-klub sepak bola. Ya ndak apa-apa juga, kalau bola-bola sudah berkumpul nanti tiap pemain bisa dapat bola satu-satu, jadi ndak usah sepak-sepakan lagi rebutan bola.


Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Tuesday, June 06, 2006
Harapan

Masih berhubungan dengan ndobosnya saya kemarin itu, sekarang saya mau ndobos soal harapan. Namanya juga harapan, mestinya yang diharap itu yang menguntungkan bagi si pengharap. Ada yang harapannya itu langsung dipanjatkan kepada Sang Penguasa Semesta Alam ini, ada pula yang merasa perlu untuk menyampaikan harapannya melalui perantara.

Di sebuah kuil di Jepang, ada sebuah pohon besar yang dikelilingi pagar untuk menempelkan harapan yang ditulis di atas sebilah papan kecil. Sebagain besar harapan itu tidak bisa saya baca isinya, tetapi ada beberapa yang jelas maksudnya. Coba saja tengok foto-foto di bawah ini. Dari mulai harapan yang berkaitan dengan situasi negara hingga harapan agar garasi bisa selesai dibuat.



Entah secara sadar atau tidak sering kali kita menaruh barang-barang tertentu di tempat tertentu di rumah atau di tempat kerja dengan harapan agar barang itu bisa memberi nilai tambah bagi sang penghuni. Entah itu dengan harapan agar rumah menjadi tampak lebih bagus, agar tampak lebih berwibawa atau bertujuan untuk menakut-nakuti.

Soal menakut-nakuti ini, saya jadi ingat kisah salah seorang Bibi saya (tidak ada hubungan darah dengan Bibi Titi Teliti atau Bibi Tutup Pintu). Alkisah sang Bibi ini memajang foto Almarhum Eyang Kakung, yang sedang nangkring di atas kuda dan mengenakan seragam lengkap kebanggaannya itu, di ruang tamu. Awalnya saya tidak mengerti betul apa tujuannya memajang foto tua itu di situ.

Pada suatu hari rumah sang Bibi ini dikunjungi oleh pencari sumbangan tapi maksa  dari sebuah kumpulan para turunan tentara. Begitu masuk ke ruang tamu, foto Eyang Kakung langsung terlihat. "Lho, Ibu ini apanya Bapak itu?" kata sang pencari sumbangan. "Oh, itu Bapak saya", kata sang Bibi. Tanpa ba bi bu, sang tamu langsung mohon permisi, dan sang Bibi lantas memandang foto Eyang Kakung sambil berucap "Matur nuwun gih Pak, foto Bapak masih sakti". Eeealah, foto bapaknya dijadikan jimat tolak bala.

Jimat itu barang yang digunakan oleh pemiliknya agar dapat memperoleh sesuatu secara cepat tanpa harus bersusah payah menjalani laku. Lha di dunia yang serba instant begini, jimat lantas dicari-cari oleh penggemarnya. Entah itu jimat yang katanya bisa bikin cepat kaya --yang njual kok ndak pake jimat ini ya?--, jimat untuk menarik lawan jenis --atau sejenis, tergantung orientasi sexualnya--, jimat kebal --tapi takut disuntik-- atau jimat tolak bala yang salah satunya untuk mengusir pencari sumbangan itu tadi.

Jimat itu tampaknya ada di mana-mana, tidak kenal batas negara dan budaya. Di Jepang,  Mbak manis di foto di bawah ini sedang menunggu konsumen yang ingin membeli jimat-jimat yang dijualnya. Saya ndak tahu apakah jimat-jimat kodian itu ampuh, wong saya ndak beli. Tapi ... Mbak ... Mbak ... sampeyan pake susuk ndak?





Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Monday, June 05, 2006
Kejutan

Tulisan Kang Mas Pecas Ndahe soal nujum itu menyadarkan saya bagaimana saya masih dikungkung oleh sebuah dunia yang tak menyukai kejutan. Bagaimana setiap hari saya disibukan oleh ritual-ritual pernujuman untuk melihat masa depan yang hasilnya hanya boleh dilihat oleh segelintir orang saja. Lantas embel-embel jabatan menempel di nama saya yang hanya satu kata itu, saya seorang analis, tukang nujum tanpa kemenyan, rokok lisong, darah ayam cemani atau kemampuan berbicara dengan alam arwah.

Dalam keseharian entah sudah berapa kali saya mentertawakan coretan-coretan tafsir mimpi atau catatan-catatan nomer pelat mobil yang hasilnya dipakai untuk memasang nomor judi buntut, nalo atau toto. Petaruh menjadi miskin sementara sang bandar dan sang dukun menjadi kaya. Jika ada satu atau dua tafsiran sang dukun menjadi kenyataan, maka namanya lantas berkibar sebagai orang sakti, orang yang menguasai ilmu weruh sakdurunge winarah (mampu melihat hal yang belum terjadi).

Orang-orang "sakti" seperti Merlin, Nostradamus, Rasputin, Ronggowarsito atau Putri Wong Kam Fu adalah pesohor pada masanya. Betapa manusia memang selalu mencari para pelihat masa depan itu. Betapa manusia tidak menyukai adanya kejutan, terutama yang tidak menyenangkan. Betapa jimat lantas menyertai keseharian mereka, entah itu disimpan di balik sabuk atau di dalam kutang.

Saya ndak bikin jimat, tetapi syair-syair saya nyaris diperlakukan sebagai jimat. Syair-syair yang lantas diberi stempel sebagai opini untuk kemudian dirembukan. Pilihan lantas dibuat agar apa-apa yang tidak menyenangkan tidak terjadi sementara yang menyenangkan tetap terjadi. Manusia memang tidak menyukai kejutan ..... tetapi mudah-mudahan mereka tidak terkejut jika mereka mengetahui kalau saya itu tidak punya ilmu weruh sakdurunge winarah, lha saya itu cuma ndobos.


Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Next Page