Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< June 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03
04 05 06 07 08 09 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, June 15, 2006
Lima nyang Ntu tuh

Maka terkutuklah saya, begitu saya baca tulisan Mbak Eny di sini. Titah seorang Ibu tak pantas dibantah, nanti jadi batu. Ibu saya pernah bilang surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu. Lantas, ada apa di bawah telapak kaki Ayah? ..... ya Ibu ... begitu kata Ibu saya lho ya. Sudahlah, saya tidak akan ndobos soal kutuk mengutuk, penuhi saja panggilan tugas itu.

Lima pekerjaan.
Bingung saya, lha wong saya itu hanya menjalankan hobi lantas dibayar kok. Tapi kalau hobi itu boleh masuk kategori kerja, inilah pekerjaan itu :

  • Porter merangkap buruh cuci-cuci di berbagai ekspedisi yang katanya ilmiah.
  • Asisten dosen. Bisa kemlinthi sambil menikmati tatapan kagum para mahasiswi baru itu.
  • Tukang nangkep dan nyincin burung pantai berlisensi. Sudah ditangkep kok ndak boleh dimakan ya?
  • Analis dan komentator data burung. Ndobos pol ini.
  • Atlet otomotif. Supir antar jemput istri.


Lima tempat tinggal.
Susah ini. Walaupun Bapak saya itu bukan keong dan Ibu saya bukan kucing, tapi kami sering digotong-gotong pindah kesana kemari. Yang besar-besar sajalah :

  • Bandung euy.
  • Pangkalan Brandan.
  • Balikpapan.
  • Brighton (tempat sendiri) - London (setiap tanggal tua untuk cari makan di rumahnya ndoro ini, masakan istrimu kelas jempol papat Mas).
  • Sekarang pulang-pergi Bogor - Tokyo.


Lima Film.
Saya ndak begitu hobi nonton film, lagi pula jenis tontonan film saya dan istri tidak sama. Istri saya suka film horor (mungkin karena ini dia mau saya ajak kawin ... horor gratis setiap hari), sementara saya ndak suka (kecuali Omen). Tapi baiklah :

  • Star Trek (Motion Picture, Wrath of Khan, Search for Spock, Voyage Home, Final Frontier, Undiscovered Country, Generations, First Contact, Insurrection dan Nemesis).
  • La Vita e Bella.
  • Godfather (I, II, III).
  • Notting Hill.
  • Beautiful Mind.


Lima acara TV.
Modar. Susah ini, mbok diganti sama buku saja. Kurang dari lima ndak apa-apa ya?

  • Siaran berita.
  • Film dokumenter.
  • Film kartun.
  • Acara travel and advanture.


Lima makanan.
Yuhuuuu. Ini bisa lebih dari lima, lha wong saya itu karung bergigi.

  • Buntil.
  • Rawon.
  • Sate.
  • Empek-empek.
  • Candil.
  • Mendoan.
  • Bubur sumsum.

eh ... lima saja ya? Ya ndak apa-apa lebih sedikit, jadi sampeyan tahu harus nyuguhi saya apa.

Lima situs.

  • Situs pribadi.
  • Situs blog-nya sampeyan semua.
  • Google.
  • Situs perburungan.
  • Situs-situs ndak jelas.


Lima terkutuk berikutnya.
Sudahlah, biarkan kutukan ini berhenti di saya saja. Saya ganti jadi lima majalah saja ya.

  • National Geographic.
  • The Economist.
  • Birding Asia.
  • Nature.
  • Donald Bebek (pemicu keributan dengan anak).

Sampun nggih Mbak Eny. Gimana Mbak ... buah nangka buah duren, kagak nyangka gua keren ... begitu?


Posted at 10:13 pm by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Umur Blog Ini 3 Bulan

Hari itu, persis tiga bulan yang lalu, saya mulai punya blog sendiri. Sudah 105 tulisan yang terpampang di blog ini, termasuk tulisan ini, sejak hari itu. Tidak usahlah berbicara soal statistik blog ini, saya ndobos yang lain saja soal blog saya. Soal bagaimana ini dimulai dan soal "hasil-hasil" ikutannya.

Istilah blog sendiri baru saya dengar awal tahun ini dari Kang Mas Pecas Ndahe itu, sekalian dia mengajari kami-kami beberapa orang anggota organisasi tanpa bentuk bagaimana membuat blog. Kang Mas Pecas juga menunjukan beberapa blog bikinannya sebagai contoh. Weeeh ... blog itu tempat ndobos toh ternyata, lha sip ini.

Tapi dasarnya saya itu punya penyakit males yang ndableg banget, tetap saja belum bikin blog. Paling-paling kalau lagi pengen grenengan ya nulis email saja ke Kang Mas Pecas. Lha kok surat-suratan itu, setelah diperhalus supaya tampak berbudaya, lantas dipampang di blognya Kang Mas Pecas. Namanya email dan nggreneng dimana suka, isinya ya macem-macem, mulai dari soal reklame sampe soal Cina. Tanpa tema, pokoknya ndobos pol.

Pada awal bulan Maret, keputusan saya dipindah ke Tokyo sudah bulat. Kang Mas Pecas berpesan, "Mbok ya sudah, sampeyan bikin blog saja sendiri sana, tulis saja sak enaknya apa-apa yang dilihat di sana". Begitulah, pada hari Rabu tanggal 15 Maret 2006 yang bertepatan dengan dina Wo 14 Legi sasi Sapar Taun Alip 1939, Ndobos Pol mulai online dengan artikel pertama berjudul Pejabat.

Walaupun blog itu dibuat sebagian karena dikompori, tetapi sebagai pembuat saat itu saya berniat, paling tidak selama sebulan pertama ini setiap hari harus bikin satu tulisan. Masak ndak bisa, lha wong cuma ndobos, koran saja bisa tiap hari dan artikelnya juga banyak. Begitulah, target sebulan satu artikel setiap hari bisa dilewati dengan selamat, walaupun awalnya ndak pake selamatan. Hingga hari ini, syukur alhamdulillah setiap hari bisa nulis satu atau dua artikel, kecuali dua hari di bulan Mei.

Ternyata buat saya menulis omong kosong itu lebih mudah dari pada bicara omong kosong, karena pada dasarnya saya itu pendiam, pemalu, lugu dan bersahaja *haiyaaah*. Lha buktinya, nama yang saya pakai di blog itu nama pemberian Kang Mas Pecas, Mbilung itu. Pemalu to! Mudah? lha iya, sudah 105 artikel je. Dibandingkan dengan para cerdik pandai dan cerdik bodoh di kantor, tulisan saya secara kuantitas paling banyak, kalo kualitas itu soal lain. Sementara hasil tulisan saya yang katanya ilmiah dan layak CV itu bisa dihitung dengan semua jari yang ada di tubuh.

Blog membuat saya mendapat banyak teman baru, dan ada juga teman lama yang tiba-tiba muncul (lagi) walaupun tidak punya keperluan pinjem duit atau ngajak saya ikut mlm. Teman-teman itu membuat hari-hari saya menjadi lebih berwarna karena saya lantas bisa menikmati indahnya perbedaan. Teman-teman yang juga banyak membantu saya untuk tetap menikmati mbundetnya hidup sebagai bujangan geografis di negeri yang asing ini. Saya merasa tidak sendiri.

Blog juga membuat hobi saya mentertawakan diri sendiri tersalurkan dengan baik. Coba, kurang kemlinthi bagaimana saya itu, masak ndak bisa, ketumbar dan kemiri bisa ketuker, ngurus uang ndak tahu, bikin arsip tagihan ya baru kali ini, lha kok kemlinthi kerja di negeri yang tulisannya ndak bisa saya baca dan omongannya ndak saya mengerti, jan goblog pol. Untung ada teman-teman di blog itu yang membantu, sehingga saya bisa tetap kemlinthi, ndobos tiap hari dan sekalian belajar untuk menurunkan tingkat ketidaktahuan saya dalam banyak hal.

Akhir kata, perkenankanlah saya menutup kata sambutan triwulanan blog ini dengan berucap terima kasih kepada Mas Mbak Akang Teteh Ceceuk Uwak Nyong Gang Mbok Mpok Cing Kong Pakde Bude Paklik Bulik Mbah Abang Uda dan semua para pembaca dan para komentator yang sampai di blog ini secara sengaja maupun tidak. Mohon maaf juga kalau saya ada salah-salah tulis. Begitulah daripada blog ini.

Tokyo, 18 Pon Jumadilakhir 1939 Alip.


Posted at 12:49 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Wednesday, June 14, 2006
Komentator Ndobos

Pertandingan antara Korea Selatan melawan Togo yang luar biasa malam ini membuat dua pendobos ikut-ikutan bergairah. Siapa lagi kalau bukan saya dan Kang Mas Pecas Ndahe. Kami ndak mau menyaingi para komentator di televisi. Di Jepang, komentator nya orang Inggris yang ngawur, di layar SCTV ada Andi "Kumis" Mallarangeng yang tak kalah ndobosnya.

Kami menyebutnya jam session dua pendobos. Ikut-ikutan para musikus yang suka manggung bareng itu. Saya di atas kasur empuk di apartemen di Tokyo, Jepang. Kang Mas Pecas Ndahe di atas kursi reyot pabriknya di Jakarta. Kami disatukan oleh layar kaca dan yahoo messenger sebagai sarana bertukar komentar. Sodara-sodara, beginilah hasil jam session kami ....

Saya: Itu berita French Open sama F1 langsung ndeleb
Pecas Ndahe: ho-oh...di sini yang ndeleb berita gempa dan merapi ..
Saya: lha iya malah berita gempa di Kyushu kemarin juga kayak berita banjir kecil saja di Jepang
Pecas Ndahe : piala dunia pancen hwasyu ...
Saya : Big Smile
Saya: lha gol....

[Ahn Jung Hwan menceploskan bola ke gawang Togo pada menit 72]

Pecas Ndahe : mus mujiono kuwi sing bikin gol
Saya: Big Smile
Pecas Ndahe : mirip kan sama mus mujiono?
Saya: iya
Saya: Ahn Jun Hwan yang dulu main di Italy itu kan?
Saya: Wah, hampir lagi ... edan itu Mus
Pecas Ndahe: iyo... dia itu bintang korsel di piala dunia 2002
Saya: oh iya
Saya: wah jadi rame, padahal tadi sudah mau tak tinggal tidur
Saya: Togo lawan Kroya ini
Saya: Togog
Pecas Ndahe: iya...aku dah males juga tadi... babak pertama datar
Saya: 12 lawan 10
Saya: Bajingan kui Korea ... sugih-sugih, supporternya akeh
Pecas Ndahe: Tongue
Saya: komentatornya lucu
Saya: Now it's time for Togo to throw everything including the kithcen sink
Saya: haiyah dasar Inggris
Saya: it's the first time Korea wins the world cup final ... outside their home soil
Pecas Ndahe: pemain korea sudah wareg ginseng tenan
Saya: ginseng dan kimchi
Pecas Ndahe: dan wedokan ....
Saya: Big Smile
Saya: wah iki komentator Inggris jan jumawa pol
Saya: bring and Trinidad .... and Tobago as well
Saya: bring on
Pecas Ndahe: wah, lebih kacau komentator sctv ... andi mallarangeng je ....
Saya: huahahahahahaaaaa ... pak kumis. kongkon dodolan soto betawi aja
Pecas Ndahe: soto pak kumis....cabang jalan blora ..
Saya: Big Smile
Saya: wah kui mestinya ada dokumentasi komentarnya para komentator di sctv itu. trus diputer ulang. dibahas bareng srimulat. seru mesti.
Pecas Ndahe: Big Smile

[posting yang sama bisa di lihat di Pecas Ndahe]


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

eee ... Berubah

Adalah lumrah jika sebuah kota lantas berdandan agar terlihat cantik, dan wajar pula jika yang didandani itu adalah pintu gerbang masuk ke kota tersebut. Maka kota tempat saya tinggal inipun berdandan dengan memperindah stasiun kereta apinya. Sudah beberapa bulan ini, stasiun kereta api kecil dan sederhana itu dibongkar sana-sini dan katanya bakal rampung komplit tahun 2007 nanti. Tempelan tulisan berisi permohonan maaf karena ketidaknyamanan yang dialami oleh para calon, bekas, pengantar dan penjemput penumpang terpampang dibanyak tempat. Gambar kira-kira nantinya stasiun itu bakal jadi secantik apa juga ada di beberapa tempat.

Senin pagi kemarin saya sudah merasa cukup sehat untuk kembali datang ke kantor. Alasan mulia untuk tidak masuk kantor sudah pergi. Turun dari bus kota di depan stasiun ada pemandangan yang ndak umum. Itu orang-orang pada ngapain kumpul-kumpul, lha kok ndak langsung masuk saja. Lho ... pintu stasiunnya mana? Kok ditutup? Setelah bingung sebentar, oooo  ternyata pintu masuk pindah ke bagian samping yang biasanya tertutup karena sedang ada bongkar-bongkar itu.

Lho, ada eskalator, tangga jalan, itu lho undak-undakan mlaku dhewek, weee ... ada lift juga. Tiba di lantai atas, wah wah wah, ini toh wujud dari sebagian stasiun baru itu nantinya. Terang benderang, bersih mengkilap, kinclong. Wuih, lampunya nyala semua, apa ya perlu toh ada sinar matahari yang terangnya memadai. Lha ... ada tokonya juga, jualan pernak-pernik sehari-hari mulai dari koran sampai korek kuping. Stasiun kecil yang sederhana itu mulai memperlihatkan sebagian hasil rias dirinya.



Stasiun sederhana itu mulai berubah, dari sebuah stasiun kecil yang lima belas tahun lalu di depannya ada sawah menjadi seperti kebanyakan stasiun-stasiun kereta api lainnya di Tokyo. Pada waktu saya pertama mengenal stasiun ini, semua begitu bersahaja. Masuk pintu stasiun langsung berhadapan dengan pintu-pintu karcis otomatis, lepas itu langsung pelataran peron. Sekarang, pintu-pintu karcis itu tak langsung menghadang calon penumpang. Penghadang barunya adalah sederet toko, mesin penjual minuman ringan dan rak-rak majalah gratisan yang isinya penuh iklan. Tiang-tiang stasiun juga ditutupi poster-poster iklan bergambar perempuan mesem.

Selesai "mengagumi" hasil dandanan itu, saya mulai celingukan mencari-cari pintu masuk ke pelataran peron, di mana pintu itu. Ah, ada di pojok sana rupanya, lha ... tangga jalan lagi. Yang hendak menikmati tangga jalan yang berjalan pelan-pelan bisa berdiri diam di sisi kiri sedangkan yang hendak buru-buru bisa lewat sisi kanan.

Perubahan. Selalu bikin bingung di awal, walaupun pengumuman ada di mana-mana. Bagi yang bisa membacanya pun, mereka perlu waktu untuk membaca dan memahami isi pengumuman. Buat yang tidak paham, seperti saya, ikut arus saja dulu. Kalau terbawa arus yang salah, ya paling misuh-misuh pada diri sendiri, karena arus tidak membawa ke cita-cita awal. Lha ya misuh pada diri sendirilah, masak mau marah ke arus?


Posted at 12:04 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Tuesday, June 13, 2006
Kerasukan Kapten

Lha ... kok ya ndilalah pas banget toh? Permintaan Kang Mas Pecas Ndahe yang ditulisnya di sini pas dengan penyebab utama saya dicemberuti dan dimanyuni pagi ini di kantor. Sebagai pria berjuluk "si raja tega" dan ketua merangkap anggota kelompencapir (kelompok pencaci dan pencibir), dicemberuti dan dimanyuni itu adalah resiko logis.

Begini kisahnya. Pagi ini seisi kantor disibukkan dengan perbincangan tentang kekalahan tim sepak bola Jepang. Perbincangan itu penuh dengan andai ini andai itu, kenapa tidak begini dan tidak begitu, pokoknya ndak terima kalah. Saya ndak ikut ngomong, karena dari rumah tadi saya sudah niat buat ngampet ngomong. Sudahlah pokoknya diam saja, senyum boleh tapi jangan ngomong. Lha ... kok ada yang nekat nanya ke saya "... jadi menurut kamu bagaimana? siapa sebenarnya yang harus dimainkan tadi malam itu?". Jebol pertahanan saya, langsung njeplak "Jepang seharusnya memainkan Kapten Tsubasa". Reaksinya ... begitulah, bibir-bibir pada maju semua.

Kang Mas Pecas tidak salah, bagi banyak penggila bola di Jepang tokoh komik satu itu dijadikan patokan, tim sepak bola Jepang itu harus seperti tim-nya Kapten Tsubasa. Tidak ada yang bisa menghentikan tim Jepang dengan Tsubasa-nya, semua lawan dilibas dengan jumlah gol fantastis. Pokoknya, Kapten Tsubasa itu bisa dikatakan super hero, temennya Superman, walaupun Kapten Tsubasa pakai celana dalemnya ndak di luar.

Kalau kemudian banyak pemain bola seperti Nakata yang merasa terinspirasi dengan kapten komik ini ya boleh-boleh saja. Hanya saja, tim Jepang beneran itu lantas dibebani target gila-gilaan ... masuk final! Lha, ini sudah bukan terinspirasi Kapten Tsubasa lagi namanya, ini sudah kerasukan. Ini sama saja dengan menyamakan pulisi Indonesia itu seperti Gundala, Batman atau Justice League sekalian.

Biarkan mereka kerasukan, saya toh ndak rugi, malah untung. Setelah dimanyuni soal Tsubasa itu tadi, saya masih nyerocos lagi "samurai kok ndak bisa mancung kepala, ya disepak kangguru ... sekarang mana uang saya". Saya menang taruhan 5000 Yen, yang langsung saya pasang lagi karena orang sekantor percaya Jepang bakal mengalahkan Brazil. Kalau ternyata Jepang menang, 5000 Yen melayang, ya ndak apa-apa juga, lha wong duit "haram" kok, masak saya kirim buat sumbangan korban gempa Yogya?


* Gambar diambil langsung dari tempatnya Kang Mas Pecas.


Posted at 12:29 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Bal-Balan Gumun




Kembali ke kantor dari makan siang kemarin, saya berjalan melewati taman di depan kantor. Ada sekelompok anak-anak sekolah dasar sedang bermain sepak bola. Anak-anak ikutan demam piala dunia? Ndak ngerti juga saya, dan ndak penting juga apakah mereka demam atau tidak. Lagipula apa iya oleh gurunya mereka diijinkan main bola kalau sedang demam? Lantas apa anehnya anak-anak main bola sehingga saya menyempatkan diri menyaksikan mereka bermain dari balik pagar sekolah?

Main bola yang normal itu ada dua tim yang saling berhadapan di lapangan. Lha anak-anak itu ... tiga tim dalam satu lapangan. Ada tim yang memakai rompi merah, biru dan kuning. Entah karena sempitnya waktu bermain bola yang diberikan oleh gurunya, sehingga tidak bakal sempat semua tim bermain jika gantian, atau karena mereka tidak sabar menunggu giliran? Apapun penyebabnya cara pemecahannya sangat khas anak-anak. Ya sudah, tiga tim main barengan, gawangnya juga tiga.

Waah, mbundet ndak karu-karuan, pokoknya seperti permainan bola ayam. Semua ngumpul di tempat di mana ada bola, seperti ayam merubung beras. Bolanya ditendangi kian kemari, pokoknya asal ndak nendang ke arah gawang sendiri. Tidak berlangsung lama permainan sepak bola ayam itu. Ada perubahan yang bikin saya ternganga-nganga, walaupun saya sudah mengeluarkan ajian ojo gumun.

Tim kuning mulai kelihatan "berpihak" pada tim merah untuk menyerang tim biru, tetapi tidak ikut membantu tim merah bertahan ketika diserang tim biru. Sementara tim merah membantu kuning untuk bertahan dari serangan tim biru. Tim kuning membantu merah menyerang biru, membiarkan biru menyerang merah dan dibantu merah jika diserang biru. Hasil akhirnya, tim kuning yang bersorak-sorak girang ketika bel berbunyi. Tim kuning menang, paling sedikit kebobolan.

Dari mana anak-anak tim kuning itu belajar altruisme timbal balik yang mirip-mirip dengan strategi tit for tat di game theory? Dahulu saya terpening-pening dengan hitung-hitungan altruisme timbal balik di mata kuliah evolusi. Lha itu anak-anak langsung praktek dengan hasil yang memuaskan. Besok-besok saya harus belajar ndobos sama anak-anak, mumpung mereka masih sakti dan kesaktiannya mungkin akan hilang begitu mereka beranjak dewasa.

* tambahan : sampai sekarang saya masih ndak ngerti, kenapa hanya tim kuning yang memainkan taktik altruisme timbal balik. Mungkin, mungkin lho ya, karena hanya tim kuning yang ada perempuannya. Di dunia hewan, betina adalah masternya strategi ini.



Posted at 12:24 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Monday, June 12, 2006
Kenapa e Kenapa ...

Pada kompetisi olah raga di tingkat dunia, di mana nama negara yang diusung, keterlibatan penghuni negara tersebut begitu terlihat. Tidak hanya dalam bentuk dukungan langsung di arena kompetisi dengan teriakan, tambur, terompet atau doa, tetapi yang tak hadir di arenapun seakan lapar untuk mendukung. Kenapa? Kesenangan? Nasionalisme? Kehormatan sebagai bangsa? Atau campuran semuanya?

Yang paling sering saya dengar adalah ucapan "we have put our country on the world map". Lha? memang tadinya apa ndak ada di peta apa? Ada, hanya saja ndak banyak yang tahu di mana negara itu berada. Apa iya tadinya banyak yang tahu di mana negara Trinidad dan Tobago yang penduduknya hanya 1 jutaan itu? Apa iya banyak yang tahu kalau Paraguay itu ndak punya laut dan punya bendera yang dua sisinya berbeda? Berapa orang pula yang pernah dengar nama Togo, negara yang bentuknya seperti pensil itu.

Baiklah, negaramu sekarang "ada" di peta dunia ... lantas? Lho kok lantas? Itu adalah pengakuan dari yang lain bahwa kami ada, tidak sekedar cogito ergo sum, hanya kami yang tahu kalau kami ada. Jika itu benar, maka pengakuan keberadaan adalah biang dari segala kegilaan di arena pertandingan itu.

Baiklah, tetapi bagaimana dengan negara yang "sudah diakui" ada di atas peta? Negara-negara yang telah tersohor itu. Tampaknya untuk mereka sekedar pengakuan saja tidak cukup, keagungan negara adalah tahap berikutnya. Inggris begitu bernafsu untuk memenangi kompetisi main bola kali ini. Inggris sudah punya The Ashes (dari cricket) dan Piala Dunia Rugbi, dua olah raga utama di Inggris di luar sepak bola. Memperoleh piala dunia sepakbola akan melengkapi kejayaan mereka di tiga oleh raga utama negara itu. Sementara Jepang, negara "kemaren sore" di sepak bola bertarget untuk masuk final. Mungkin benar apa ang dikatakan pemain Korea itu empat tahun yang lalu "we have put our country in the history".

Diakui dan dikenang keberadaannya ... ah sungguh menyenangkan. Lha sekarang, untuk yang bukan warga dari negara yang sedang berkompetisi itu tetapi begitu bersemangat mendukung salah satu dari mereka, apa pula ini urusannya?

Buat sampeyan yang mendukung salah satu dari mereka, boleh saya tahu kenapa? Di luar hal yang main ganteng-ganteng lho ya.



Posted at 12:10 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Sunday, June 11, 2006
Three Lions

Singa. Kucing besar pemakan daging, gambarnya sering dipakai sebagai lambang keberanian dan kegagahan. Britania Raya memajang singa jantan sebagai lambang negara (Coat of Arms), kesebelasan sepak bola Inggris menggunakan lambang tiga ekor singa jantan tumpuk-tumpuk yang sedang mengaum. dan mereka lantas dijuluki sebagai The Three Lions.

Lha kok singa? Di Inggris ndak pernah ada singa, kecuali di Kebun Binatang London. Lambang tiga singa jantan tumpuk-tumpuk itu digunakan Inggris sejak jamannya Raja Richard yang berjuluk si hati singa. Saya sendiri ndak jelas kenapa singa yang dipilih, mungkin karena tampangnya serem dan tongkrongannya gagah dan juga anggun, walaupun singa ndak ada di Inggris.

Sepak bola termasuk olah raga yang agresif, naluri membunuh (bikin gol) sangat dibutuhkan. Beberapa tukang analisa sepak bola bilang, kesebelasan Inggris kekurangan naluri itu. Repot itu urusannya apalagi jika mereka dibebani target besar untuk jadi juara, belum lagi ada para pers Inggris yang nyinyirnya ndak tanggung-tanggung. Pertandingan pertama mereka di Piala Dunia kali inipun "hanya" dimenangi dengan satu gol hasil bunuh diri di tengah cuaca yang panas. Ada hubungannya dengan lambang tiga singa jantan itu?

Singa (Panthera leo) hidup dalam kelompok yang dipimpin oleh seekor jantan gondrong. Walaupun singa jantan kadang ikut berburu dan membunuh mangsanya, tetapi singa betina sampai sekarang masih diyakini oleh banyak ahli sebagai pemburu dan pembunuh utama kelompok singa. Pada saat hari panas, singa berkelompok mencari keteduhan sambil terengah-engah.

Naluri membunuh sangat dibutuhkan, karena pada akhirnya jumlah gol yang bisa dibuatlah yang menentukan menang atau kalah. Bukan gagahnya tongkrongan, keanggunan melangkah dan berlari karena pakai sepatu baru. Kalau bisa ... tidak terengah-engah di tengah cuaca panas.

Dasar penonton ... bisanya cuma tereak dan ndobos!


Gambar © The Football Association.



Posted at 01:40 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Saturday, June 10, 2006
The Game Has Begun

The greatest game on earth itu sudah dimulai, 1.461 hari setelah Cafu mengangkat piala itu di Yokohama. Milyaran orang, memaku diri atau terpaku di depan layar kaca, atau layar LCD, dan saya adalah salah satunya.

Pertandingan pertama baru saja selesai. Enam gol, tumben ... begitu pikir saya. Biasanya pertandingan pembukaan itu irit gol dan mbosenin. Buat saya pertandingan tadi boleh dibilang seru, agresif, sepak bola menyerang yang menggairahkan. Ulasan pertandingannya ... wah bukan bagian saya itu, baca sajalah di koran atau lihat sajalah di TV.

Gundala, laptop tercinta saya itu, kali ini harus ikut begadangan. Inilah kali pertama saya nonton pertandingan Piala Dunia secara online, lha wong saya ndak punya TV. Entah berapa juta orang yang menyaksikan pertandingan akbar itu secara online. Kekhawatiran bahwa jaringan Internet bakal melting down karena kesibukan mengalirkan data, paling tidak  sampai selesainya pertandingan pertama tadi, belum terjadi dan mudah-mudahan tidak terjadi.

Empat tahun yang lalu, di Inggris saya juga ndak punya TV dan saya harus bangun pagi-pagi sekali untuk nonton pertandingan langsung di pub terdekat bersama beberapa teman. Sekarang, nontonnya sambil leyeh-leyeh di ranjang dengan laptop di pangkuan. Teknologi memungkinkan perubahan itu.

Puas? entahlah. Rasanya ada yang kurang. Mungkin susana kemeriahan itu, yang tak bisa disalurkan melalui kabel. Kemeriahan ala stadion Siliwangi kala menonton Persib atau nonton Arsenal di Highbury. Teriakan penonton yang mengejek wasit atau pemain lawan di Siliwangi dan teriakan penonton yang mengejek Tottenham Hotspur (musuh bebuyutan Arsenal) di Highbury, siapapun lawan Arsenal hari itu .... who hates tottenham stand up ... who hates tottenham stand up, berulang-ulang.

Mudah-mudahan tak ada kebencian dalam pesta ini yang lantas bermuara pada kekerasan. Apalah artinya pesta, kalau akhirnya pada benjut-benjut.


Posted at 05:06 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Friday, June 09, 2006
Surat

Sudah lama saya tidak terima surat. Walaupun kotak surat saya hampir setiap hari penuh, isinya paling brosur iklan atau paling banter surat tagihan buat bayar ini itu, bukan ... bukan surat seperti ini yang saya maksud. Bukan pula surat elektronik, yang saya maksud itu surat yang dibungkus amplop, pake perangko, isinya ditulis dengan tangan dan diantar oleh Pak Pos. Membaca tulisan tangan istri yang bulet-bulet dan tulisan anak-anak yang mbulet kok rasanya gimana gitu. Kalau lantas saya diperbolehkan menuding biang keladinya, maka tudingan ... ya kepada diri sendiri.

Saya itu sudah lama sekali ndak nulis surat. Kalau kartu ucapan selamat Idul Fitri atau Natal bisa dikatakan sebagai surat maka terakhir saya berkirim surat mungkin pas Natal tahun lalu, itupun praktis cuma tanda tangan setelah kartu ucapan itu dikata-katai istri saya. Pertimbangan praktis saja, tulisan tangan istri saya itu layak baca, sementara tulisan tangan saya lebih mirip grafik rekaman detak jantung. Naik turun ndak karu-karuan dan kadang saya sendiri juga bingung, tadi itu saya nulis apa?

Kepada orang tua pun sudah lama saya tak berkirim surat, kalau ke mertua rasanya malah belum pernah. Jamannya masih SMA dulu, saya rajin bersurat-suratan dengan Ibu dan Bapak, walaupun yang mbales surat mesti Ibu. Jaman kuliah, aktivitas surat menyurat hanya intensif kepada para pujaan hati saja. Istri saya sampai sekarang masih menyimpan surat-surat yang pernah saya kirimkan kepadanya. Kalau pujaan hati yang lain? Wah ndak tahu saya. Jaman kuliah juga menandai era beralihnya saya dari surat untuk Ibu dan Bapak menjadi telegram. Bukan hanya karena isi pesannya penting, tetapi juga lebih murah. Lha wong dulu itu saya kalau kirim telegram isinya cuma empat kata kok "putro waras, arto telas".

Setelah bekerja dan mulai sering kluyuran, turne (turu mrono mrene), masih sekali dua kali saya berkirim dan menerima surat. Surat dari istri dan anak-anak yang juga berlampirkan foto-foto. Mungkin karena jaman sekarang email dirasa lebih praktis, ngobrol bisa lewat fasilitas chat, atau tinggal angkat gagang telepon, pencet-pencet nomer ....tuuuuuut ....
"hoi .. lagi ngapain?"
"... ya lagi telepon".

Sampeyan kapan terakhir terima surat seperti yang saya maksud itu?


Posted at 12:40 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Next Page