Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Kecerobahan berakhir dengan lolongan kesakitan. Saya memang sering ceroboh dan hasil kecerobahan kali ini adalah menempelnya pita perekat, cellotape heavy duty, di kaki yang ada rambutnya itu. Itu pita sempat nempel di kaki cukup lama selagi saya berpikir bagaimana cara melepaskannya. Alkohol? wah ndak punya. Silet? sama juga. Pisau dapur? terlalu ekstrim. Ya sudah, tarik saja. Walaupun napas sudah ditarik dalam-dalam, sensasi itu masih juga menyengat dan air mata bercucuran. Hauuuuuuuwwww ... haih .. haih .. haih ... *sambil mringis*.
Agony? buat saya iya, tapi buat sebagian orang hal itu adalah hal yang lantas dijalani dengan kesadaran penuh, agar tampak huhuuuy. Teman-teman perempuan saya beberapa melakukan ritual ini. Pernah dengar istilah leg waxing? istilah asing untuk njabuti rambut di kaki atau tepatnya di daerah seputaran betis. Lebih atas dari daerah itu saya belum pernah lihat, walaupun katanya ada.
Prosesnya sederhana, bagian kaki yang rambutnya hendak dienyahkan diolesi cairan agak kental (wax). Jangan pakai tangan ngolesnya, harus pakai spatula, alat pengoles (wood applicator). Daerah teroles lantas ditutupi kertas khusus untuk waxing. Tiup tiup sebentar, tarik napas dalam-dalam, tarik kertasnya secepat mungkin.... srtttt ... saya yang nonton langsung mringis bergidik.
Mestinya sakit, paling tidak perih. Tetapi, kenapa pula tetap saja dilakukan? Macam-macamlah alasannya, tetapi semua mengarah ke "kecantikan" dan "keindahan" kaki. Apa pula salahnya rambut-rambut itu kok lantas dicabuti? Rambut memberikan insulasi bagi tubuh dan rambut juga menjadi tempat penimbunan beberapa racun yang dibuang oleh tubuh. Keindahan, yang relatif itu, tampaknya menuntut adanya korban, ya rambut itu.
Kaki saya sekarang rada pitak ... dan tetap saja tidak indah.
Penyakit lama saya suka nyanyi-nyanyi sendiri tanpa penonton itu kumat lagi. Ini mesti gara-gara "sarimi masak nggilani" resepnya Bang Pi'i itu.
Saya tidak akan ndobos soal hasil akhir masak-memasak itu, coba saja sendiri dan rasakan bedanya (dengan penekanan pada kata "rasakan"). Ini soal senandung apik tentang buah-buahan, berirama cha-cha-cha. Enak untuk goyang pinggul, sarungan sambil masak.
Siapa pengarangnya saya ndak pernah tahu, tapi syairnya saya ingat-ingat lupa, kira-kira begini :
Papaya, mangga, pisang, jambu Dibawa dari Pasar Minggu Di sana banyak penjualnya Di kota banyak pembelinya
Papaya, jeruk, jambu, rambutan, duren, duku dan lain-lainnya Marilah mari kawan-kawan semua membeli buah-buahan
Papaya si makanan rakyat Bentuknya sangat sederhana Harganya tak boleh meningkat Setalen tuan boleh angkat
Lho ... apik kan? Tapi namanya juga lagu lama, revisi tampaknya diperlukan, terutama soal harga. Papaya (boleh juga Pepaya) harganya setalen dan harganya ndak boleh naik karena papaya itu makanan rakyat. Haiyaaah ... apa ini ndak setali tiga uang dengan syair lagu "Kereta Apiku" nya Ibu Sud .... "ke Bandung, Surabaya, bolehlah naik dengan percuma". Dikira bonek apa? naik sepur gratisan.
Setalen itu berapa? Setalen atau setali itu sama dengan 25 sen. Kalau kita punya dua uang logam seketip dan satu uang logam sekelip jumlahnya jadi setali. Bingung? Seketip = 10 sen, sekelip = 5 sen. Karena hal itu pula lantas muncul peribahasa "setali tiga uang". Mungkin peribahasa itu juga perlu direvisi agar mengkini, menjadi "sejuta sepuluh uang", toh artinya sama.
Lha ... masakan saya gimana jadinya? Nah itu dia, walaupun dijual setalen ndak bakal ada yang mau beli, mending beli papaya. Bang Pi'i, resep sampeyan muaaantabh ... apalagi yang pake terong, nggilani pol!
Ngobrol sebentar dengan Mas Yoyok sesudah membaca grenengannya mengingatkan saya akan jaman kuliah dulu. Inilah jaman keemasan bersuka ria buat saya. Rumah orang tua, yang tanpa orang tua, di Bandung itu praktis menjadi markas gerombolan, tak pernah sepi. Lha bagaimana mau sepi kalau setiap hari ada belasan jejaka sepi minyak wangi, kadang ada beberapa jejaki juga, yang sehari-harinya mangkal di situ.
Julukan buat gerombolan ini macem-macem, anak-anak garasi, jajaka ticengklak manah, himpunan mahasiswa biang onar, anak-anak nakal bersubsidi dan masih banyak lagi. Semua bernada miring. Apa saja kerja gerombolan ini? saya akan ndobos tentang itu.
Televisi 21 inci adalah media pemersatu dan media belajar yang krusial. Siaran televisi, yang kala itu hanya berisi TVRI saja, bak mata air penguras air mata karena tertawa. Apalagi jika yang muncul adalah pak mentri kemlinthi berambut klimis yang bertugas untuk memberi penerangan tetapi hasilnya malah kegelapan. Biasanya dimulai dengan begini, *dagu terangkat sedikit, mata sendu, senyum dikulum* "saudara-saudara sekalian .... menurut petunjuk bapak presiden ..." grrrrrrrrrrrrr ... pelawak ulung beraksi, hasilnya tidak mengecewakan dan komentar sadis beterbangan.
Alkisah, laboratorium mikrobiologi itu dijaga oleh seorang asisten dosen (yang kebetulan ayu) yang judesnya nyundul langit. Tak boleh ada yang masuk tanpa ijinnya, ya ... dia hanya menjalankan tugas. Entah berapa kali anggota gerombolan disemprot habis hanya karena ngumpul di depan pintu ruang keramat itu, mungkin berisik. Seorang yang paling nakal dari gerombolan itu lantas berencana. Maka persekongkolan jahatpun digalang. Kampus yang baru selesai dibangun dan masih memiliki padang rumput buat ngangon ternak itu menyediakan bahan baku kejahilan yang luar biasa. Keesokan harinya, asisten ayu keluar dari ruang keramat dengan wajah membara .... "siapa yang memasukkan kambing-kambing itu ke ruangan saya".
Saat-saat ujian semester adalah saat tersibuk bagi anggota gerombolan. Karena nyontek pantang dilakukan, dikeluarkan dari "keanggotaan" adalah hukumannya, maka belajar bersama adalah satu-satunya pilihan. Belajar bersama adalah arena saling cela sekaligus berbagi, tak boleh ada yang tercecer dan tak boleh ada yang lari sendirian. Kenakalan seperti direm sejenak, untuk kembali di gas sesudah masa ujian lewat.
Apakah beban akademis yang ditanggung mahasiswa sekarang begitu besar atau sibuk demo sehingga Mas Yoyok nggreneng seperti itu?
Orang Inggris itu senengnya kalau menjawab pertanyaan kok ya jawabannya dibumbui, ndak bisa langsung-langsung saja. Padahal kalau menjawabnya hanya mengangguk atau menggeleng-pun orang bakal mengerti, lha ditambahi bumbu malah rusak, yang nanya jadi salah mengartikan jawabannya.
Ini ada cerita pendek soal satu ini. Ada dua gundul di kantor saya, yang satu Gundul Jepang (GJ) dan satunya lagi Gundul Inggris (GI). Jam makan siang sudah lewat setengah jam dan percakapan itupun dimulai :
GJ : Hungry? GI : Oh yes very. I am starving actually. I can eat a horse. GJ : Ah ... let's go.
terjemahannya :
GJ : Rika kencot? GI : Lha iya ... inyong kencot pisan kiye. Nek ana jaran isa tak pangan. GJ : Lha ... hayuh gageyan ... gasik.
Maka sodara-sodara sekalian, siang itu kamipun makan kuda.
Kuda untuk sebagian besar orang Inggris dianggap hewan "suci". Hewan yang harus disayang, dibelai-belai, tak boleh disakiti apalagi disantap. Modar kon, GI hanya melongo padahal nclekamin pisan!
Buat saya, yang ndak (belum) gundul, dan tidak terlalu pemilih dalam soal makan ya lancar saja bersantapnya. Makan daging kuda juga bukan hal yang aneh. Di Segoroyoso, Bantul, kuda adalah salah satu hewan yang dijagal. Dagingnya lantas disate ... Sate Jaran.
Di Jepang, daging kuda dihidangkan bersama irisan daun bawang, jahe dan kecap. Ditata indah, dagingnya ditekuk-tekuk berbentuk bunga dan disajikan di atas piring putih bersih. Enak dipandang dan ndak "tega" nyantapnya karena bagus menatanya, seperti terlihat pada foto di bawah ini.
GJ : How is it? Do you like it? GI : ... *smile* ... GJ : Do you want to try whale? GI : No thank you, I am not THAT hungry.
Oh ya, saya lupa bilang .... itu daging kudanya mentah. Ittadakimasu !!!
Tepat pada pukul 28:00 pertandingan ... he? sebentar sebentar, itu pukul 28:00 itu lho. Betul itu, saya ndak ngarang soal ini.
Begitulah Jepang, negeri yang masih saja bikin saya senyum-senyum geli. Ndak umum. Foto di sebelah itu saya ambil dari jadwal pertandingan sepak bola piala dunia yang nempel di iklan jualan pizza yang bisa diantar ke rumah.
Itung-itungannya gimana ini, saya bertanya ke teman di kantor. Ooh, jam 28:00 itu jam 4 pagi. Lantas di Jepang berarti tidak ada jam 00:00. Ada, teman itu bilang ... itu di jam digital. Mbuh lah, sak karepmu.Tapi nanti dulu, kalo dipikir-pikir itu sistem yang dipakai kok masuk akal juga ya.
Pukul 05:00, coba tebak, yang dimaksud itu pagi atau sore? Tanpa embel-embel "pagi", "sore", "am" atau "pm", susah nebaknya. Coba yang ini ... pukul 29:00 ... wooo pagi itu. Singkat dan (mestinya) jelas, cocok buat ngirim telegram.
Begitulah Jepang, ndak umum dan kadang mbingungi, tapi efektif walaupun harus "kehilangan" pukul 01:00 - 06:00, kecuali di jam digital yang juga Made in Japan.
Maka terkutuklah saya, begitu saya baca tulisan Mbak Eny di sini. Titah seorang Ibu tak pantas dibantah, nanti jadi batu. Ibu saya pernah bilang surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu. Lantas, ada apa di bawah telapak kaki Ayah? ..... ya Ibu ... begitu kata Ibu saya lho ya. Sudahlah, saya tidak akan ndobos soal kutuk mengutuk, penuhi saja panggilan tugas itu.
Lima pekerjaan. Bingung saya, lha wong saya itu hanya menjalankan hobi lantas dibayar kok. Tapi kalau hobi itu boleh masuk kategori kerja, inilah pekerjaan itu :
Porter merangkap buruh cuci-cuci di berbagai ekspedisi yang katanya ilmiah.
Asisten dosen. Bisa kemlinthi sambil menikmati tatapan kagum para mahasiswi baru itu.
Tukang nangkep dan nyincin burung pantai berlisensi. Sudah ditangkep kok ndak boleh dimakan ya?
Analis dan komentator data burung. Ndobos pol ini.
Atlet otomotif. Supir antar jemput istri.
Lima tempat tinggal. Susah ini. Walaupun Bapak saya itu bukan keong dan Ibu saya bukan kucing, tapi kami sering digotong-gotong pindah kesana kemari. Yang besar-besar sajalah :
Bandung euy.
Pangkalan Brandan.
Balikpapan.
Brighton (tempat sendiri) - London (setiap tanggal tua untuk cari makan di rumahnya ndoro ini, masakan istrimu kelas jempol papat Mas).
Sekarang pulang-pergi Bogor - Tokyo.
Lima Film. Saya ndak begitu hobi nonton film, lagi pula jenis tontonan film saya dan istri tidak sama. Istri saya suka film horor (mungkin karena ini dia mau saya ajak kawin ... horor gratis setiap hari), sementara saya ndak suka (kecuali Omen). Tapi baiklah :
Star Trek (Motion Picture, Wrath of Khan, Search for Spock, Voyage Home, Final Frontier, Undiscovered Country, Generations, First Contact, Insurrection dan Nemesis).
La Vita e Bella.
Godfather (I, II, III).
Notting Hill.
Beautiful Mind.
Lima acara TV. Modar. Susah ini, mbok diganti sama buku saja. Kurang dari lima ndak apa-apa ya?
Siaran berita.
Film dokumenter.
Film kartun.
Acara travel and advanture.
Lima makanan. Yuhuuuu. Ini bisa lebih dari lima, lha wong saya itu karung bergigi.
Buntil.
Rawon.
Sate.
Empek-empek.
Candil.
Mendoan.
Bubur sumsum.
eh ... lima saja ya? Ya ndak apa-apa lebih sedikit, jadi sampeyan tahu harus nyuguhi saya apa.
Lima situs.
Situs pribadi.
Situs blog-nya sampeyan semua.
Google.
Situs perburungan.
Situs-situs ndak jelas.
Lima terkutuk berikutnya. Sudahlah, biarkan kutukan ini berhenti di saya saja. Saya ganti jadi lima majalah saja ya.
National Geographic.
The Economist.
Birding Asia.
Nature.
Donald Bebek (pemicu keributan dengan anak).
Sampun nggih Mbak Eny. Gimana Mbak ... buah nangka buah duren, kagak nyangka gua keren ... begitu?
Hari itu, persis tiga bulan yang lalu, saya mulai punya blog sendiri. Sudah 105 tulisan yang terpampang di blog ini, termasuk tulisan ini, sejak hari itu. Tidak usahlah berbicara soal statistik blog ini, saya ndobos yang lain saja soal blog saya. Soal bagaimana ini dimulai dan soal "hasil-hasil" ikutannya.
Istilah blog sendiri baru saya dengar awal tahun ini dari Kang Mas Pecas Ndahe itu, sekalian dia mengajari kami-kami beberapa orang anggota organisasi tanpa bentuk bagaimana membuat blog. Kang Mas Pecas juga menunjukan beberapa blog bikinannya sebagai contoh. Weeeh ... blog itu tempat ndobos toh ternyata, lha sip ini.
Tapi dasarnya saya itu punya penyakit males yang ndableg banget, tetap saja belum bikin blog. Paling-paling kalau lagi pengen grenengan ya nulis email saja ke Kang Mas Pecas. Lha kok surat-suratan itu, setelah diperhalus supaya tampak berbudaya, lantas dipampang di blognya Kang Mas Pecas. Namanya email dan nggreneng dimana suka, isinya ya macem-macem, mulai dari soal reklame sampe soal Cina. Tanpa tema, pokoknya ndobos pol.
Pada awal bulan Maret, keputusan saya dipindah ke Tokyo sudah bulat. Kang Mas Pecas berpesan, "Mbok ya sudah, sampeyan bikin blog saja sendiri sana, tulis saja sak enaknya apa-apa yang dilihat di sana". Begitulah, pada hari Rabu tanggal 15 Maret 2006 yang bertepatan dengan dina Wo 14 Legi sasi Sapar Taun Alip 1939, Ndobos Pol mulai online dengan artikel pertama berjudul Pejabat.
Walaupun blog itu dibuat sebagian karena dikompori, tetapi sebagai pembuat saat itu saya berniat, paling tidak selama sebulan pertama ini setiap hari harus bikin satu tulisan. Masak ndak bisa, lha wong cuma ndobos, koran saja bisa tiap hari dan artikelnya juga banyak. Begitulah, target sebulan satu artikel setiap hari bisa dilewati dengan selamat, walaupun awalnya ndak pake selamatan. Hingga hari ini, syukur alhamdulillah setiap hari bisa nulis satu atau dua artikel, kecuali dua hari di bulan Mei.
Ternyata buat saya menulis omong kosong itu lebih mudah dari pada bicara omong kosong, karena pada dasarnya saya itu pendiam, pemalu, lugu dan bersahaja *haiyaaah*. Lha buktinya, nama yang saya pakai di blog itu nama pemberian Kang Mas Pecas, Mbilung itu. Pemalu to! Mudah? lha iya, sudah 105 artikel je. Dibandingkan dengan para cerdik pandai dan cerdik bodoh di kantor, tulisan saya secara kuantitas paling banyak, kalo kualitas itu soal lain. Sementara hasil tulisan saya yang katanya ilmiah dan layak CV itu bisa dihitung dengan semua jari yang ada di tubuh.
Blog membuat saya mendapat banyak teman baru, dan ada juga teman lama yang tiba-tiba muncul (lagi) walaupun tidak punya keperluan pinjem duit atau ngajak saya ikut mlm. Teman-teman itu membuat hari-hari saya menjadi lebih berwarna karena saya lantas bisa menikmati indahnya perbedaan. Teman-teman yang juga banyak membantu saya untuk tetap menikmati mbundetnya hidup sebagai bujangan geografis di negeri yang asing ini. Saya merasa tidak sendiri.
Blog juga membuat hobi saya mentertawakan diri sendiri tersalurkan dengan baik. Coba, kurang kemlinthi bagaimana saya itu, masak ndak bisa, ketumbar dan kemiri bisa ketuker, ngurus uang ndak tahu, bikin arsip tagihan ya baru kali ini, lha kok kemlinthi kerja di negeri yang tulisannya ndak bisa saya baca dan omongannya ndak saya mengerti, jan goblog pol. Untung ada teman-teman di blog itu yang membantu, sehingga saya bisa tetap kemlinthi, ndobos tiap hari dan sekalian belajar untuk menurunkan tingkat ketidaktahuan saya dalam banyak hal.
Akhir kata, perkenankanlah saya menutup kata sambutan triwulanan blog ini dengan berucap terima kasih kepada Mas Mbak Akang Teteh Ceceuk Uwak Nyong Gang Mbok Mpok Cing Kong Pakde Bude Paklik Bulik Mbah Abang Uda dan semua para pembaca dan para komentator yang sampai di blog ini secara sengaja maupun tidak. Mohon maaf juga kalau saya ada salah-salah tulis. Begitulah daripada blog ini.
Pertandingan antara Korea Selatan melawan Togo yang luar biasa malam ini membuat dua pendobos ikut-ikutan bergairah. Siapa lagi kalau bukan saya dan Kang Mas Pecas Ndahe. Kami ndak mau menyaingi para komentator di televisi. Di Jepang, komentator nya orang Inggris yang ngawur, di layar SCTV ada Andi "Kumis" Mallarangeng yang tak kalah ndobosnya.
Kami menyebutnya jam session dua pendobos. Ikut-ikutan para musikus yang suka manggung bareng itu. Saya di atas kasur empuk di apartemen di Tokyo, Jepang. Kang Mas Pecas Ndahe di atas kursi reyot pabriknya di Jakarta. Kami disatukan oleh layar kaca dan yahoo messenger sebagai sarana bertukar komentar. Sodara-sodara, beginilah hasil jam session kami ....
Saya: Itu berita French Open sama F1 langsung ndeleb Pecas Ndahe: ho-oh...di sini yang ndeleb berita gempa dan merapi .. Saya: lha iya malah berita gempa di Kyushu kemarin juga kayak berita banjir kecil saja di Jepang Pecas Ndahe : piala dunia pancen hwasyu ... Saya : Saya: lha gol....
[Ahn Jung Hwan menceploskan bola ke gawang Togo pada menit 72]
Pecas Ndahe : mus mujiono kuwi sing bikin gol Saya: Pecas Ndahe : mirip kan sama mus mujiono? Saya: iya Saya: Ahn Jun Hwan yang dulu main di Italy itu kan? Saya: Wah, hampir lagi ... edan itu Mus Pecas Ndahe: iyo... dia itu bintang korsel di piala dunia 2002 Saya: oh iya Saya: wah jadi rame, padahal tadi sudah mau tak tinggal tidur Saya: Togo lawan Kroya ini Saya: Togog Pecas Ndahe: iya...aku dah males juga tadi... babak pertama datar Saya: 12 lawan 10 Saya: Bajingan kui Korea ... sugih-sugih, supporternya akeh Pecas Ndahe: Saya: komentatornya lucu Saya: Now it's time for Togo to throw everything including the kithcen sink Saya: haiyah dasar Inggris Saya: it's the first time Korea wins the world cup final ... outside their home soil Pecas Ndahe: pemain korea sudah wareg ginseng tenan Saya: ginseng dan kimchi Pecas Ndahe: dan wedokan .... Saya: Saya: wah iki komentator Inggris jan jumawa pol Saya: bring and Trinidad .... and Tobago as well Saya: bring on Pecas Ndahe: wah, lebih kacau komentator sctv ... andi mallarangeng je .... Saya: huahahahahahaaaaa ... pak kumis. kongkon dodolan soto betawi aja Pecas Ndahe: soto pak kumis....cabang jalan blora .. Saya: Saya: wah kui mestinya ada dokumentasi komentarnya para komentator di sctv itu. trus diputer ulang. dibahas bareng srimulat. seru mesti. Pecas Ndahe:
Adalah lumrah jika sebuah kota lantas berdandan agar terlihat cantik, dan wajar pula jika yang didandani itu adalah pintu gerbang masuk ke kota tersebut. Maka kota tempat saya tinggal inipun berdandan dengan memperindah stasiun kereta apinya. Sudah beberapa bulan ini, stasiun kereta api kecil dan sederhana itu dibongkar sana-sini dan katanya bakal rampung komplit tahun 2007 nanti. Tempelan tulisan berisi permohonan maaf karena ketidaknyamanan yang dialami oleh para calon, bekas, pengantar dan penjemput penumpang terpampang dibanyak tempat. Gambar kira-kira nantinya stasiun itu bakal jadi secantik apa juga ada di beberapa tempat.
Senin pagi kemarin saya sudah merasa cukup sehat untuk kembali datang ke kantor. Alasan mulia untuk tidak masuk kantor sudah pergi. Turun dari bus kota di depan stasiun ada pemandangan yang ndak umum. Itu orang-orang pada ngapain kumpul-kumpul, lha kok ndak langsung masuk saja. Lho ... pintu stasiunnya mana? Kok ditutup? Setelah bingung sebentar, oooo ternyata pintu masuk pindah ke bagian samping yang biasanya tertutup karena sedang ada bongkar-bongkar itu.
Lho, ada eskalator, tangga jalan, itu lho undak-undakan mlaku dhewek, weee ... ada lift juga. Tiba di lantai atas, wah wah wah, ini toh wujud dari sebagian stasiun baru itu nantinya. Terang benderang, bersih mengkilap, kinclong. Wuih, lampunya nyala semua, apa ya perlu toh ada sinar matahari yang terangnya memadai. Lha ... ada tokonya juga, jualan pernak-pernik sehari-hari mulai dari koran sampai korek kuping. Stasiun kecil yang sederhana itu mulai memperlihatkan sebagian hasil rias dirinya.
Stasiun sederhana itu mulai berubah, dari sebuah stasiun kecil yang lima belas tahun lalu di depannya ada sawah menjadi seperti kebanyakan stasiun-stasiun kereta api lainnya di Tokyo. Pada waktu saya pertama mengenal stasiun ini, semua begitu bersahaja. Masuk pintu stasiun langsung berhadapan dengan pintu-pintu karcis otomatis, lepas itu langsung pelataran peron. Sekarang, pintu-pintu karcis itu tak langsung menghadang calon penumpang. Penghadang barunya adalah sederet toko, mesin penjual minuman ringan dan rak-rak majalah gratisan yang isinya penuh iklan. Tiang-tiang stasiun juga ditutupi poster-poster iklan bergambar perempuan mesem.
Selesai "mengagumi" hasil dandanan itu, saya mulai celingukan mencari-cari pintu masuk ke pelataran peron, di mana pintu itu. Ah, ada di pojok sana rupanya, lha ... tangga jalan lagi. Yang hendak menikmati tangga jalan yang berjalan pelan-pelan bisa berdiri diam di sisi kiri sedangkan yang hendak buru-buru bisa lewat sisi kanan.
Perubahan. Selalu bikin bingung di awal, walaupun pengumuman ada di mana-mana. Bagi yang bisa membacanya pun, mereka perlu waktu untuk membaca dan memahami isi pengumuman. Buat yang tidak paham, seperti saya, ikut arus saja dulu. Kalau terbawa arus yang salah, ya paling misuh-misuh pada diri sendiri, karena arus tidak membawa ke cita-cita awal. Lha ya misuh pada diri sendirilah, masak mau marah ke arus?
Lha ... kok ya ndilalah pas banget toh? Permintaan Kang Mas Pecas Ndahe yang ditulisnya di sini pas dengan penyebab utama saya dicemberuti dan dimanyuni pagi ini di kantor. Sebagai pria berjuluk "si raja tega" dan ketua merangkap anggota kelompencapir (kelompok pencaci dan pencibir), dicemberuti dan dimanyuni itu adalah resiko logis.
Begini kisahnya. Pagi ini seisi kantor disibukkan dengan perbincangan tentang kekalahan tim sepak bola Jepang. Perbincangan itu penuh dengan andai ini andai itu, kenapa tidak begini dan tidak begitu, pokoknya ndak terima kalah. Saya ndak ikut ngomong, karena dari rumah tadi saya sudah niat buat ngampet ngomong. Sudahlah pokoknya diam saja, senyum boleh tapi jangan ngomong. Lha ... kok ada yang nekat nanya ke saya "... jadi menurut kamu bagaimana? siapa sebenarnya yang harus dimainkan tadi malam itu?". Jebol pertahanan saya, langsung njeplak "Jepang seharusnya memainkan Kapten Tsubasa". Reaksinya ... begitulah, bibir-bibir pada maju semua.
Kang Mas Pecas tidak salah, bagi banyak penggila bola di Jepang tokoh komik satu itu dijadikan patokan, tim sepak bola Jepang itu harus seperti tim-nya Kapten Tsubasa. Tidak ada yang bisa menghentikan tim Jepang dengan Tsubasa-nya, semua lawan dilibas dengan jumlah gol fantastis. Pokoknya, Kapten Tsubasa itu bisa dikatakan super hero, temennya Superman, walaupun Kapten Tsubasa pakai celana dalemnya ndak di luar.
Kalau kemudian banyak pemain bola seperti Nakata yang merasa terinspirasi dengan kapten komik ini ya boleh-boleh saja. Hanya saja, tim Jepang beneran itu lantas dibebani target gila-gilaan ... masuk final! Lha, ini sudah bukan terinspirasi Kapten Tsubasa lagi namanya, ini sudah kerasukan. Ini sama saja dengan menyamakan pulisi Indonesia itu seperti Gundala, Batman atau Justice League sekalian.
Biarkan mereka kerasukan, saya toh ndak rugi, malah untung. Setelah dimanyuni soal Tsubasa itu tadi, saya masih nyerocos lagi "samurai kok ndak bisa mancung kepala, ya disepak kangguru ... sekarang mana uang saya". Saya menang taruhan 5000 Yen, yang langsung saya pasang lagi karena orang sekantor percaya Jepang bakal mengalahkan Brazil. Kalau ternyata Jepang menang, 5000 Yen melayang, ya ndak apa-apa juga, lha wong duit "haram" kok, masak saya kirim buat sumbangan korban gempa Yogya?
* Gambar diambil langsung dari tempatnya Kang Mas Pecas.