Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Barang satu ini sangat umum terlihat nempel di jendela rumah-rumah, apalagi di kota besar. Bentuknya juga macam-macam, dari mulai yang mbundet ting kriwil sampai yang lurus-lurus saja. Fungsi dasarnya menurut saya sama, buat "saringan maling" agar tamu yang tidak diundang dan senengnya nggondol barang yang bukan miliknya itu tidak bisa masuk. Ah tidak tepat juga, karena tamu yang diundang dan ndak nyolongan juga tetap saja tidak bisa mbrobos teralis ... karena itu tamu jenis baik-baik lazimnya dipersilahkan masuk lewat pintu.
Memasang teralis mungkin dapat dilihat sebagai salah satu wujud nyata peran aktif masyarakat dalam menjaga kemanan, paling tidak keamanan rumah dan diri sendiri, dari maling, garong dan para sekutunya.
Akan tetapi *dengan gaya bertutur Timbul Srimulat atau Harmoko* , kok buat saya agak aneh ya? Maling jalan-jalan bebas di luar, malah bisa sambil jajan bakso dulu sebelum nyolong, sementara calon korban mendekam di dalam rumah terkurung teralis. Mungkin keanehan itu adalah harga yang harus dibayar jika kita memiliki barang layak gondol. Keanehan yang tampaknya diterima begitu saja sebagai kewajaran oleh banyak orang, lha itu rumah banyak yang teralisan kok, apalagi yang magrong-magrong.
Teralis, atau trellis dalam bahasa Inggris, awalnya diperuntukkan untuk ditaruh di kebun sebagai sarana untuk rambatan tanaman. Temennya teralis, ya pergola itu. Agar tanaman merambat tidak ndlewer-ndlewer di taman, maka teralis dan pergola lantas digunakan. Silahkan, merayap di sini saja, begitu usulan pemilik tanaman. Entah siapa yang memulai, teralis lantas pindah tangkringannya ke jendela. Fungsinyapun berubah, dari alat untuk tempat sangkutan tanaman menjadi alat keamanan. Teralis lantas dipasang sekukuh mungkin agar tak mudah dijebol. Celakanya, jika ada kejadian yang sifatnya darurat pada saat mana si pemilik rumah harus keluar mbrobos jendela secara cepat, teralis tidak pilih kasih. Mau sampeyan itu pemilik rumah atau maling, pokoknya keluar masuk tidak boleh lewat jendela, ndak sopan.
Teralis juga bisa menjadi sumber petaka jika digunakan tidak sebagaimana mestinya. Semasa masih berkantor di Bogor, yang dipasangi teralis, saya punya satu orang asisten yang lebih pantes jadi anak saya, baik dari segi umur maupun kelakuan. Lha wong masih suka rebutan majalah Donald Bebek sama anak saya yang paling kecil. Asisten satu ini hobinya memasukan kepalanya diantara jeruji teralis itu. Entah apa maunya, mungkin hendak membuktikan kalau melakukan diet itu bukan hanya tubuh yang menjadi langsing tapi kepala juga mengecil. Sering nyangkut. Lantas teriak-teriak.
Rumah saya jendelanya berteralis, tanaman rambat di rumah juga menggunakan teralis, asisten gemblung itu senengnya mainan teralis. Hidup saya kok dikelilingi barang yang satu ini ya? Sampeyan bagaimana?
Ini sebetulnya cerita lama, sudah lebih dari sebulan. Begini ... blog saya ini ndak pake copyright, ini isi blog right to copy, kalau mau disalin plek sak titik koma tanda tanya seru kali bagi, ya monggo.Walaupun demikian saya berusaha agar saya tidak melakukan hal itu terhadap blog orang lain atau hasil karya orang lain tanpa menyebut sumbernya. Alhamdulillah sampai sekarang masih berhasil, ndak tahu besok-besok.
Lha wong niat ingsun buat bikin blog itu salah satunya adalah bagi-bagi omong kosong kok, ndobos itu. Kalau ada yang ndak suka ya tinggal misuh, nanti saya minta maaf dengan tulus. Kalau ada yang terhibur, ya alhamdulillah. Lha kalau ada yang lantas mbrebes mili, bercucuran air mata, kemarilah mbak/mas, ini bahu saya boleh dipake. Nanti sampeyan saya belai-belai, tenang saja, saya sudah jinak, sampeyan ndak bakal saya ajak dolanan retsleting kok. Saya itu sedang berusaha untuk menjadi pendobos yang bertanggung jawab [sic].
Mbak Atta dari tatar surup dalam salah satu tulisannya, dengan ramah mengajak kita bermain-main dalam "Mengutip dan Dikutip". Pertama kali membaca tulisan itu, terus terang saya (nyuwun sewu lho Mbak) ngakak kenceng. Lha salahnya, bikin tulisan kok bagus, apik, sedap dibaca, mak nyos dan gampang disalin. Begitu itu pikiran saya waktu itu. Lha kok ndilalah lima hari setelah itu saya mengalami hal yang sama dengan Mbak Atta.
Tulisan saya yang ini, ada di tempat lain. Apa saya ndak nguakak terkekeh-kekeh. Mentertawakan diri sendiri sambil mbatin, sukuriiin, kualat, modhar kon. Ini yang nyalin mesti sedang kehabisan akal. Lha soal nguyuh (pipis, pee, kencing) kok disalin?! Mbok ya o, kalau mau nyalin tulisan saya itu cari yang ada mutunya ... kalau ada lho ya. Eh ada ding ... menurut saya yang ini rada-rada ada isinya (*wajah bersemu merah* ... isin aku). Ini rada-rada ada isinya karena yang nggarap keroyokan.
Lha, lantas tulisan ini maksudnya apa? Ya ndak ada, cuma ndobos saja, lha wong kemarin itu saya sehari puasa ndobos je ... sepet! Jadi begitu, hayoooo ... siapa lagi berikutnya yang mau nyalin, monggo lho jangan malu-malu, saya tak numpang ngetop.
Ijinkanlah saya untuk tidak ndobos barang sehari iniiiii saja, dan doakan mudah-mudahan kuat. Hari ini, tanggal 21 Juni, adalah hari yang mestinya membahagiakan, walaupun tanpa telor, secara tidak langsung buat saya, tapi lebih-lebih untuk orang yang saya sayangi itu (huuhuuuuy...).
Entah sudah berapa kali saya tidak bersamanya di hari yang berbahagia buatnya seperti hari ini. Suatu hal yang selalu membuat saya termenung seperti orang bingung. Hari ini saya seharusnya ada di sisi dia bersama anak-anak. Mencium pipinya disaat dia bangun tidur, mengucapkan kata-kata itu dan melihatnya tersenyum.
Saya ndak bisa memberi apa-apa yang layak buatnya hari ini, tetapi kalau boleh biarkan saya mengiriminya baris-baris contekan ini.
You're the one I've always thought of I don't know how, but I feel sheltered in your love You're where I belong And when you're with me if I close my eyes There are times I swear I feel like I can fly For a moment in time Somewhere between the Heavens and Earth And frozen in time, Oh when you say those words
When you say you love me The world goes still, so still inside and When you say you love me In that moment,I know why I'm alive
When you say you love me Do you know how I love you?
(penggalan dari: When you say you love me -- Robin Scoffield)
Saya ndak ndobos lho ini, saya mencintai dia. Selamat ulang tahun istriku.
Entah kenapa dari tadi saya kok kangen tidur di hammock, tempat tidur gantung, yang pernah jadi tempat tidur utama jamannya masih sering klayaban di hutan dan rawa itu. Saya ingat terakhir tidur di hammock itu waktu di kantor Bogor di bawah pohon nangka. Mungkin karena Tokyo mulai hangat dan angin silir-silir, bayangan tidur di hammock itu ujug-ujug muncul.
Hammock itu sendiri diyakini berasal dari Amerika Selatan atau Karibia. Kalau kita menyaksikan film dokumenter tentang Indian Amerika Selatan, hammock hampir selalu ada. Lebar, besar dan tampaknya nyaman sekali. Tak heran jika hammock lantas banyak digunakan untuk leyeh-leyeh di banyak tempat. Lha, hammock yang dulu biasa saya pake mblusukan itu tidak seperti itu, jauh lebih kecil.
Tidur di hammock itu susah-susah gampang. Cari dua pohon yang cukup kuat untuk menanggung berat badan, pohon cabe jelas ndak kuat. Pastikan tinggi hammock terpasang sekitar se-pinggang, kalau ndak susah nanti naiknya. Kalau saya biasanya pantat duluan yang naik ke hammock, tapi tiap orang punya gaya sendiri-sendiri. Hanya saja saya belum pernah lihat yang naiknya kepala duluan. Pastikan naiknya di bagian tengah hammock. Setelah itu baru menyusul kaki dan tubuh bagian atas. Jangan banyak tingkah, karena hammock bisa melintir dan isinya bisa tumpah dalam posisi yang bisa mengundang tawa.
Itu baru cara-cara dasar, lha sekarang coba masuk ke dalam sleeping bag (kantung tidur) selagi ada di atas hammock. Akrobat habis-habisan ini jika belum terbiasa. Yang paling sedih itu kalau sudah sukses naik ke hammock, sudah berhasil masuk sleeping bag, dan pas mau merebahkan diri hammocknya melintir. Biar tambah sialnya, masang hammocknya di atas rawa.
Agar terhindar dari basah embun atau hujan, biasanya di atas hammock saya memasang atap dari ponco, dan untuk nyamuk bisa dipasang kelambu. Nyaman sekali, apalagi kalau pas sedang hujan rintik-rintik. Sukses naik hammock, hangat dalam sleeping bag, terayun-ayun pelan .... wuah pol. Pas berada di batas antara lier-lier dan hilang kesadaran .... kepingin kencing.
Mari sodara-sodara sekalian kita meng-hammock. Jadi ... siapa bilang pohon cuma buat ngumpet kalo mau kencing.
Kecerobahan berakhir dengan lolongan kesakitan. Saya memang sering ceroboh dan hasil kecerobahan kali ini adalah menempelnya pita perekat, cellotape heavy duty, di kaki yang ada rambutnya itu. Itu pita sempat nempel di kaki cukup lama selagi saya berpikir bagaimana cara melepaskannya. Alkohol? wah ndak punya. Silet? sama juga. Pisau dapur? terlalu ekstrim. Ya sudah, tarik saja. Walaupun napas sudah ditarik dalam-dalam, sensasi itu masih juga menyengat dan air mata bercucuran. Hauuuuuuuwwww ... haih .. haih .. haih ... *sambil mringis*.
Agony? buat saya iya, tapi buat sebagian orang hal itu adalah hal yang lantas dijalani dengan kesadaran penuh, agar tampak huhuuuy. Teman-teman perempuan saya beberapa melakukan ritual ini. Pernah dengar istilah leg waxing? istilah asing untuk njabuti rambut di kaki atau tepatnya di daerah seputaran betis. Lebih atas dari daerah itu saya belum pernah lihat, walaupun katanya ada.
Prosesnya sederhana, bagian kaki yang rambutnya hendak dienyahkan diolesi cairan agak kental (wax). Jangan pakai tangan ngolesnya, harus pakai spatula, alat pengoles (wood applicator). Daerah teroles lantas ditutupi kertas khusus untuk waxing. Tiup tiup sebentar, tarik napas dalam-dalam, tarik kertasnya secepat mungkin.... srtttt ... saya yang nonton langsung mringis bergidik.
Mestinya sakit, paling tidak perih. Tetapi, kenapa pula tetap saja dilakukan? Macam-macamlah alasannya, tetapi semua mengarah ke "kecantikan" dan "keindahan" kaki. Apa pula salahnya rambut-rambut itu kok lantas dicabuti? Rambut memberikan insulasi bagi tubuh dan rambut juga menjadi tempat penimbunan beberapa racun yang dibuang oleh tubuh. Keindahan, yang relatif itu, tampaknya menuntut adanya korban, ya rambut itu.
Kaki saya sekarang rada pitak ... dan tetap saja tidak indah.
Penyakit lama saya suka nyanyi-nyanyi sendiri tanpa penonton itu kumat lagi. Ini mesti gara-gara "sarimi masak nggilani" resepnya Bang Pi'i itu.
Saya tidak akan ndobos soal hasil akhir masak-memasak itu, coba saja sendiri dan rasakan bedanya (dengan penekanan pada kata "rasakan"). Ini soal senandung apik tentang buah-buahan, berirama cha-cha-cha. Enak untuk goyang pinggul, sarungan sambil masak.
Siapa pengarangnya saya ndak pernah tahu, tapi syairnya saya ingat-ingat lupa, kira-kira begini :
Papaya, mangga, pisang, jambu Dibawa dari Pasar Minggu Di sana banyak penjualnya Di kota banyak pembelinya
Papaya, jeruk, jambu, rambutan, duren, duku dan lain-lainnya Marilah mari kawan-kawan semua membeli buah-buahan
Papaya si makanan rakyat Bentuknya sangat sederhana Harganya tak boleh meningkat Setalen tuan boleh angkat
Lho ... apik kan? Tapi namanya juga lagu lama, revisi tampaknya diperlukan, terutama soal harga. Papaya (boleh juga Pepaya) harganya setalen dan harganya ndak boleh naik karena papaya itu makanan rakyat. Haiyaaah ... apa ini ndak setali tiga uang dengan syair lagu "Kereta Apiku" nya Ibu Sud .... "ke Bandung, Surabaya, bolehlah naik dengan percuma". Dikira bonek apa? naik sepur gratisan.
Setalen itu berapa? Setalen atau setali itu sama dengan 25 sen. Kalau kita punya dua uang logam seketip dan satu uang logam sekelip jumlahnya jadi setali. Bingung? Seketip = 10 sen, sekelip = 5 sen. Karena hal itu pula lantas muncul peribahasa "setali tiga uang". Mungkin peribahasa itu juga perlu direvisi agar mengkini, menjadi "sejuta sepuluh uang", toh artinya sama.
Lha ... masakan saya gimana jadinya? Nah itu dia, walaupun dijual setalen ndak bakal ada yang mau beli, mending beli papaya. Bang Pi'i, resep sampeyan muaaantabh ... apalagi yang pake terong, nggilani pol!
Ngobrol sebentar dengan Mas Yoyok sesudah membaca grenengannya mengingatkan saya akan jaman kuliah dulu. Inilah jaman keemasan bersuka ria buat saya. Rumah orang tua, yang tanpa orang tua, di Bandung itu praktis menjadi markas gerombolan, tak pernah sepi. Lha bagaimana mau sepi kalau setiap hari ada belasan jejaka sepi minyak wangi, kadang ada beberapa jejaki juga, yang sehari-harinya mangkal di situ.
Julukan buat gerombolan ini macem-macem, anak-anak garasi, jajaka ticengklak manah, himpunan mahasiswa biang onar, anak-anak nakal bersubsidi dan masih banyak lagi. Semua bernada miring. Apa saja kerja gerombolan ini? saya akan ndobos tentang itu.
Televisi 21 inci adalah media pemersatu dan media belajar yang krusial. Siaran televisi, yang kala itu hanya berisi TVRI saja, bak mata air penguras air mata karena tertawa. Apalagi jika yang muncul adalah pak mentri kemlinthi berambut klimis yang bertugas untuk memberi penerangan tetapi hasilnya malah kegelapan. Biasanya dimulai dengan begini, *dagu terangkat sedikit, mata sendu, senyum dikulum* "saudara-saudara sekalian .... menurut petunjuk bapak presiden ..." grrrrrrrrrrrrr ... pelawak ulung beraksi, hasilnya tidak mengecewakan dan komentar sadis beterbangan.
Alkisah, laboratorium mikrobiologi itu dijaga oleh seorang asisten dosen (yang kebetulan ayu) yang judesnya nyundul langit. Tak boleh ada yang masuk tanpa ijinnya, ya ... dia hanya menjalankan tugas. Entah berapa kali anggota gerombolan disemprot habis hanya karena ngumpul di depan pintu ruang keramat itu, mungkin berisik. Seorang yang paling nakal dari gerombolan itu lantas berencana. Maka persekongkolan jahatpun digalang. Kampus yang baru selesai dibangun dan masih memiliki padang rumput buat ngangon ternak itu menyediakan bahan baku kejahilan yang luar biasa. Keesokan harinya, asisten ayu keluar dari ruang keramat dengan wajah membara .... "siapa yang memasukkan kambing-kambing itu ke ruangan saya".
Saat-saat ujian semester adalah saat tersibuk bagi anggota gerombolan. Karena nyontek pantang dilakukan, dikeluarkan dari "keanggotaan" adalah hukumannya, maka belajar bersama adalah satu-satunya pilihan. Belajar bersama adalah arena saling cela sekaligus berbagi, tak boleh ada yang tercecer dan tak boleh ada yang lari sendirian. Kenakalan seperti direm sejenak, untuk kembali di gas sesudah masa ujian lewat.
Apakah beban akademis yang ditanggung mahasiswa sekarang begitu besar atau sibuk demo sehingga Mas Yoyok nggreneng seperti itu?
Orang Inggris itu senengnya kalau menjawab pertanyaan kok ya jawabannya dibumbui, ndak bisa langsung-langsung saja. Padahal kalau menjawabnya hanya mengangguk atau menggeleng-pun orang bakal mengerti, lha ditambahi bumbu malah rusak, yang nanya jadi salah mengartikan jawabannya.
Ini ada cerita pendek soal satu ini. Ada dua gundul di kantor saya, yang satu Gundul Jepang (GJ) dan satunya lagi Gundul Inggris (GI). Jam makan siang sudah lewat setengah jam dan percakapan itupun dimulai :
GJ : Hungry? GI : Oh yes very. I am starving actually. I can eat a horse. GJ : Ah ... let's go.
terjemahannya :
GJ : Rika kencot? GI : Lha iya ... inyong kencot pisan kiye. Nek ana jaran isa tak pangan. GJ : Lha ... hayuh gageyan ... gasik.
Maka sodara-sodara sekalian, siang itu kamipun makan kuda.
Kuda untuk sebagian besar orang Inggris dianggap hewan "suci". Hewan yang harus disayang, dibelai-belai, tak boleh disakiti apalagi disantap. Modar kon, GI hanya melongo padahal nclekamin pisan!
Buat saya, yang ndak (belum) gundul, dan tidak terlalu pemilih dalam soal makan ya lancar saja bersantapnya. Makan daging kuda juga bukan hal yang aneh. Di Segoroyoso, Bantul, kuda adalah salah satu hewan yang dijagal. Dagingnya lantas disate ... Sate Jaran.
Di Jepang, daging kuda dihidangkan bersama irisan daun bawang, jahe dan kecap. Ditata indah, dagingnya ditekuk-tekuk berbentuk bunga dan disajikan di atas piring putih bersih. Enak dipandang dan ndak "tega" nyantapnya karena bagus menatanya, seperti terlihat pada foto di bawah ini.
GJ : How is it? Do you like it? GI : ... *smile* ... GJ : Do you want to try whale? GI : No thank you, I am not THAT hungry.
Oh ya, saya lupa bilang .... itu daging kudanya mentah. Ittadakimasu !!!
Tepat pada pukul 28:00 pertandingan ... he? sebentar sebentar, itu pukul 28:00 itu lho. Betul itu, saya ndak ngarang soal ini.
Begitulah Jepang, negeri yang masih saja bikin saya senyum-senyum geli. Ndak umum. Foto di sebelah itu saya ambil dari jadwal pertandingan sepak bola piala dunia yang nempel di iklan jualan pizza yang bisa diantar ke rumah.
Itung-itungannya gimana ini, saya bertanya ke teman di kantor. Ooh, jam 28:00 itu jam 4 pagi. Lantas di Jepang berarti tidak ada jam 00:00. Ada, teman itu bilang ... itu di jam digital. Mbuh lah, sak karepmu.Tapi nanti dulu, kalo dipikir-pikir itu sistem yang dipakai kok masuk akal juga ya.
Pukul 05:00, coba tebak, yang dimaksud itu pagi atau sore? Tanpa embel-embel "pagi", "sore", "am" atau "pm", susah nebaknya. Coba yang ini ... pukul 29:00 ... wooo pagi itu. Singkat dan (mestinya) jelas, cocok buat ngirim telegram.
Begitulah Jepang, ndak umum dan kadang mbingungi, tapi efektif walaupun harus "kehilangan" pukul 01:00 - 06:00, kecuali di jam digital yang juga Made in Japan.
Maka terkutuklah saya, begitu saya baca tulisan Mbak Eny di sini. Titah seorang Ibu tak pantas dibantah, nanti jadi batu. Ibu saya pernah bilang surga itu ada di bawah telapak kaki Ibu. Lantas, ada apa di bawah telapak kaki Ayah? ..... ya Ibu ... begitu kata Ibu saya lho ya. Sudahlah, saya tidak akan ndobos soal kutuk mengutuk, penuhi saja panggilan tugas itu.
Lima pekerjaan. Bingung saya, lha wong saya itu hanya menjalankan hobi lantas dibayar kok. Tapi kalau hobi itu boleh masuk kategori kerja, inilah pekerjaan itu :
Porter merangkap buruh cuci-cuci di berbagai ekspedisi yang katanya ilmiah.
Asisten dosen. Bisa kemlinthi sambil menikmati tatapan kagum para mahasiswi baru itu.
Tukang nangkep dan nyincin burung pantai berlisensi. Sudah ditangkep kok ndak boleh dimakan ya?
Analis dan komentator data burung. Ndobos pol ini.
Atlet otomotif. Supir antar jemput istri.
Lima tempat tinggal. Susah ini. Walaupun Bapak saya itu bukan keong dan Ibu saya bukan kucing, tapi kami sering digotong-gotong pindah kesana kemari. Yang besar-besar sajalah :
Bandung euy.
Pangkalan Brandan.
Balikpapan.
Brighton (tempat sendiri) - London (setiap tanggal tua untuk cari makan di rumahnya ndoro ini, masakan istrimu kelas jempol papat Mas).
Sekarang pulang-pergi Bogor - Tokyo.
Lima Film. Saya ndak begitu hobi nonton film, lagi pula jenis tontonan film saya dan istri tidak sama. Istri saya suka film horor (mungkin karena ini dia mau saya ajak kawin ... horor gratis setiap hari), sementara saya ndak suka (kecuali Omen). Tapi baiklah :
Star Trek (Motion Picture, Wrath of Khan, Search for Spock, Voyage Home, Final Frontier, Undiscovered Country, Generations, First Contact, Insurrection dan Nemesis).
La Vita e Bella.
Godfather (I, II, III).
Notting Hill.
Beautiful Mind.
Lima acara TV. Modar. Susah ini, mbok diganti sama buku saja. Kurang dari lima ndak apa-apa ya?
Siaran berita.
Film dokumenter.
Film kartun.
Acara travel and advanture.
Lima makanan. Yuhuuuu. Ini bisa lebih dari lima, lha wong saya itu karung bergigi.
Buntil.
Rawon.
Sate.
Empek-empek.
Candil.
Mendoan.
Bubur sumsum.
eh ... lima saja ya? Ya ndak apa-apa lebih sedikit, jadi sampeyan tahu harus nyuguhi saya apa.
Lima situs.
Situs pribadi.
Situs blog-nya sampeyan semua.
Google.
Situs perburungan.
Situs-situs ndak jelas.
Lima terkutuk berikutnya. Sudahlah, biarkan kutukan ini berhenti di saya saja. Saya ganti jadi lima majalah saja ya.
National Geographic.
The Economist.
Birding Asia.
Nature.
Donald Bebek (pemicu keributan dengan anak).
Sampun nggih Mbak Eny. Gimana Mbak ... buah nangka buah duren, kagak nyangka gua keren ... begitu?