Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Soal Hanuman dan tolehan Garuda lupakan saja dahulu. Saya kok ingin ndobos soal Sempati. Nama yang mungkin hanya kita kenal lewat perusahaan penerbangan di Indonesia yang sekarang sudah bangkrut itu. Sempati Air yang pernah membuat rupa-rupa upaya untuk menarik calon penumpangnya. Sebut saja arisan di udara, yang berhadiah karcis, buat naik Sempati Air lagi. Atau keberaniannya untuk memberi kompensasi jika keberangkatan tertunda. Sekarang Sempati Air sudah tidak lagi terbang, sama seperti nasib mahluk yang bernama Sempati.
Seperti yang sudah saya ceritakan kemarin, Aruna, kakak Garuda, mempunyai anak dua yang gagah-gagah, Sempati sang kakak dan Jatayu yang keduanya berwujud burung. Pada masa keduanya masih muda, Jatayu selalu terkagum-kagum melihat matahari yang pada siang hari berwarna kuning terang menyala sementara di saat pagi dan sore berwarna merah. Jatayu lantas berkeinginan untuk menangkap sang matahari, keinginan yang selalu dicegah oleh sang kakak, Sempati.
Lha tapi namanya Jatayu itu burung ndableg, terbang juga dia untuk menangkap matahari. Matahari yang merasa terganggu menjadi marah, dan mataharipun melepaskan sinarnya yang membakar ke arah Jatayu. Melihat adiknya ada dalam bahaya besar, dengan cepat Sempati terbang menyusul untuk melindungi adiknya. Sempati mengembangkan sayapnya, melindungi sang adik dari amarah matahari. Jatayu selamat, tetapi Sempati jatuh kembali ke bumi dengan sayap terbakar. Sejak itulah Sempati tidak lagi bisa terbang dan menyepi di dalam gua. Sementara sang adik, Jatayu, diangkat menjadi raja dari semua burung.
Jatayu sang raja burung yang kecilnya ndableg itu, seperti telah saya ceritakan kemarin akhirnya gugur setelah kalah bertarung melawan Rahwana pada saat Jatayu hendak menyelamatkan Sinta. Jatayu yang akhirnya mati dipangkuan Rama belum sempat mengatakan ke mana Sinta dibawa lari. Rama kemudian menitah Hanuman untuk mencari dan memberi tahu Sinta akan kedatangan para penyelamatnya .... eng ing eng ...
Sempati yang mendengar berita tentang kematian Jatayu keluar dari guanya untuk mencari kabar. Saat itulah Sempati bertemu Hanuman yang lantas menceritakan kepahlawanan Jatayu. Hanuman menghibur Sempati untuk tidak larut dalam kedukaan, duka yang tidak akan mengembalikan Jatayu. Hiburan Hanuman itu melegakan hati Sempati. Dengan kemampuan penglihatannya, Sempati mampu melihat Sinta yang tersekap di Alengka, dan kemudian adalah tugas Hanuman untuk menemui Sinta. Lakon Anoman Obong dalam wayang Jawa dimulai dari sini, sementara lakon Mbilung ndobos soal Sempati berakhir di sini.
Petikan dari epik Ramakian (Kejayaan Rama). Gambar diambil dari sini.
Ibu yang satu ini terkeder-keder dengan Garuda, begini katanya "Burung Garuda itu benar adanya atau mitos adanya? aku kok keder mlulu soal burung satu itu". Jawaban singkatnya, ya ... mitos yang lantas diada-adakan, sangat Indonesia. Kalau masih keder juga, ijinkanlah saya tak coba ndobos soal yang satu ini.
Dalam mitologi Hindu dan Buddha ada disebut seekor burung atau mahluk burung bertubuh manusia yang sangat besar bernama Garuda. Sangking besarnya, jika Garuda sedang terbang matahari tertutup, kepak sayapnya menyebabkan topan, rumah-rumah beterbangan. Lebih dahsyat lagi, ceritanya itu Garuda bisa mencabut beringin sak akar-akarnya, lho apa ndak dahsyat itu. Mungkin karena itu makanya beringin lantas berbaik-baik sama Garuda, biar ndak dicabut.
Dikisahkan bahwa Garuda adalah anak dari Kashyapa dan Vinita, dan adik dari Aruna yang berputra Jatayu dan Sempati. Dalam kisah Rama dan Sinta diceritakan bagaimana Jatayu yang keponakannya Garuda itu, gugur setelah bertempur dengan Rahwana yang menculik Sinta. Diceritakan pula Garuda adalah tunggangannya Batara Wishnu sementara sang kakak, Aruna, adalah kendaraan Batara Surya.
Kegagahan sosok, kekuatan dan kesaktian membuat Garuda menjadi layak simbol dan layak tampil. Soal keartisan Garuda, sampeyan pernah tahu Garudamon, salah satu tokoh dalam film kartun Digimon. Kalau belum coba tanya sama anaknya atau adiknya yang masih kecil yang hobinya menthelengi film kartun Jepang. Sementara sebagai simbol, Garuda dijadikan lambang negara oleh Indonesia dan Thailand. Perusahaan penerbangan Indonesia (flag carrier) juga menggunakan nama Garuda, lengkapnya Garuda Indonesia, wuih gagah ya?
Soal Garuda Indonesia ini ada yang sempat bikin saya terkekeh-kekeh. Begini, Garuda memiliki banyak nama atau sebutan, salah satu nama lain Garuda adalah Suparna. Lha apa saya ndak terkekeh-kekeh pada saat Garuda Indonesia lantas diberi direktur utama yang namanya Suparno, tapi ya tetap saja njengking. Terkekeh-kekeh Garuda lainnya adalah dengan iklannya Kacang Garuda. Garudanya dilakonkan oleh Golden Eagle (Aquila chrysaetos) yang ndak ada di Indonesia, lantas sang elang dengan gagah njabut kacang, haih ... elang vegetarian ini.
Nah sekarang soal diada-adakannya Garuda. Ini tidak lepas dari kejadian tahun 1993, disaat mana Indonesia sibuk cari-cari simbol satwa dan puspa nasional. Ndak ngerti juga saya siapa yang pertama kali punya ide begini. Karena lambang negara Indonesia itu Garuda maka dicarilah burung yang ada di Indonesia untuk digarudakan dan diusulkan sebagai salah satu calon satwa nasional . Syaratnya untuk bisa digarudakan banyak, harus gagah, harus punya jambul karena Garuda lambang negara itu berjambul, burungnya juga harus hanya ada di Indonesia (endemik Indonesia).
Maka sibuklah orang-orang mencari elang berjambul. Dalam keluarga Accipitridae ada satu marga yang bernama Spizaetus yang hampir semua jenisnya berjambul. Di Indonesia ada dua jenis burung dari marga Spizaetus yang hanya terdapat di Indonesia, Elang sulawesi (Spizaetus lanceolatus) dan Elang jawa (Spizaetus bartelsi). Saya ndak ngerti persis alasannya apa, tetapi pada akhirnya terpilihlah sang Elang jawa sebagai calon satwa nasional. Menang? ya ndak, kalah sama kadal (Komodo) yang akhirnya keluar sebagai simbol satwa nasional, sementara Elang jawa itu "hanya" diberi gelar sebagai simbol satwa langka Indonesia. Dengan segala rasa hormat kepada para herpetologist, salah satu makanan Elang jawa adalah kadal.
Begitulah, mahluk mitos lantas diseret ke dunia nyata. Elang jawa diubah menjadi Garuda, digarudakan, dijadikan simbol. Malangnya penggarudaan ini malah bikin nasib Elang jawa jadi runyam. Elang jawa lantas diburu untuk dikandangi, harganya melonjak drastis di pasar. Kebun binatang besar di Indonesia juga mengejar burung ini untuk masuk dalam koleksi peliharaannya. Teriaknya begini "Mari kita lestarikan Elang jawa", caranya, "... lha ya ditangkap untuk lantas ditangkarkan". Lho, sangat Indonesia sekali kan? Kok bukannya si Elang jawa itu dibiarkan saja di alam, rumahnya (hutan itu) dijaga, diurus dengan baik. Burungnya jangan diganggu. Masak simbol negara dikandangi toh?
Sampeyan apa ada yang tahu kenapa Garuda lambang negara itu nolehnya ke kanan, menatap ke arah Barat? Kepanjangan kalau saya ndobos soal ini juga, tapi itu tampaknya ada hubungannya dengan Hanuman. Cari sendiri ya?
Membaca pertanyaannya Mas Yudhi di shoutbox itu bikin saya mengangguk-angguk tetapi tidak pakai sambil berseru trilili seperti burung kutilang di pucuk pohon cemara. Mas Yudi bertanya begini "ndobos terus apa gak kesel?kali2 mbok ya ngobrol ttg burung..burung sampeyan kan banyak...".
Kesel? lha malah lega Mas. Kalau kesel itu maksudnya capek, mungkin ya. Lha wong namanya Mbilung, kerjanya ya ndobos itu dan kalau kerja tentu sekali-kali ada capeknya. Akan tetapi baiklah, permintaan sampeyan itu saya penuhi walaupun sebenarnya ada juga sih saya nulis soal burung beberapa kali di blog ini.
Burung. Tubuhnya ditutupi bulu (bukan rambut), punya swiwi (jangjang, sayap), brutu (tunggir), paruh dan kakinya bersisik. Pinjem klasifikasi luwak-nya MpokB burung itu secara ilmiah digolongkan dalam Phyllum Chordata, Sub-Phyllum Vertebrata dan Class Aves. Sebagian besar burung bisa terbang, tetapi ada juga yang bisanya hanya lari-lari, jalan-jalan dan berenang, misalnya kasuari, burung unta, kiwi, kakapo dan pinguin. Makanan burung ya macem-macem, dari mulai yang makan madu sampai yang makan monyet.
Sejak dulu burung mengilhami banyak orang dan menjadi bagian dari semua kebudayaan. Burung membangkitkan keinginan manusia untuk terbang bebas, yang lantas dikisahkan dalam legenda Daedalus dan Icarus. Ketika manusia sudah menemukan pesawat terbang, burung menjadi nama atau logo perusahaan penerbangan. Tetapi tidak semua perusahaan penerbangan lantas memajang burung, misalnya Qantas (Queensland and Northern Territory Aerial Services) dari Australia yang memasang logo kangguru jingkrak.
Lantas tentang burung-burung di Indonesia? Weeeh, Indonesia itu jempolan kalau soal burung. Tak kandani yo, untuk jumlah jenis burung, Indonesia itu nomer empat se-dunia setelah Kolumbia, Peru dan Brazil, sak Asia nomer satu ... juara. Itu belum apa-apa, coba lihat jumlah jenis burung endemik negara, nomer satu sak kolong jagat. Endemik negara itu maksudnya hanya bisa dijumpai di negara itu saja, tak ada di negara lain. Burung endemik Indonesia, ya hanya ada di Indonesia. Lho, apa ndak kaya itu. Coba, negara yang namanya bikin bingung orang, Britania Raya itu, cuma punya satu ... ihik ihik.
Lha hanya saja, wong namanya juga Indonesia, mesti ada rusaknya. Jumlah jenis burung Indonesia yang terancam punah, ya ... nomer satu juga se-dunia. Untuk jumlah jenis burung endemik negara yang terancam punah juga nomer satu. Lha kok bisa? Sebagian besar burung-burung itu masuk kategori ini karena rumahnya (habitatnya) hilang atau (di)rusak, selain itu juga karena ditangkepi untuk lantas dikandangi jadi klangenan.
Lantas jenis burung apa di Indonesia yang paling langka? Lha ini rada-rada sulit njawabnya, masih banyak perdebatan soal yang satu ini. Hanya saja sebagian besar beranggapan bahwa Jalak bali (Leucopsar rothschildi) adalah yang paling langka, terakhir saya dengar jumlahnya sudah kurang dari 10 ekor. Jalak bali liar hanya bisa dijumpai di bagian barat Taman Nasional Bali Barat. Jalak bali adalah salah satu contoh jenis burung yang hampir punah karena ditangkapi. Lho ... Jalak bali kan dilindungi Undang-Undang? Kok ditangkepi tho? Haiyaaaah ...
Jadi singkatnya begitu Mas Yudhi, lha nanti lain kali mungkin saya bisa ndongeng soal burung yang beracun, soal burung yang hilang, burung yang seneng dandan, burung yang ngarsitek, burung pemecah batok kura-kura atau burung yang tidak bertanggung jawab. Atau, sampeyan punya permintaan lain?
Mbilung, tampangmu itu seperti apa sih? Lha begitu itu salah satu pertanyaan yang sering saya dapat. Kenapa pula wajah dijadikan bahan pertanyaan, biarkan sajalah imajinasi itu bermain-main bebas. Toh tampang siapapun yang saya pajang di blog ini juga akan menimbulkan pertanyaan baru seperti "bener itu tampangmu?". Belum lagi nanti lantas disoraki narsis. Walaupun kalau dipikir-pikir ya saya itu rada narsis juga, tapi narsis yang pemalu (contradictary in terms?).
Sebagian pengunjung blog ini dan yang blognya saya kunjungi juga saya ndak tahu tampangnya seperti apa. Lantas apakah memajang wajah di blog itu salah? Ya ndak tho. Toh blog itu adalah ruang pribadi yang dibuka untuk umum dan yang namanya ruang pribadi boleh-boleh saja kalau lantas ada wajah(-wajah) tertera di situ. Hanya saja, dari semua blog "mlintir" yang sejauh ini sudah saya sambangi, belum satupun yang memajang tampang aslinya secara jelas atau bahkan tak memajang sama sekali. Mungkin untuk menghindari kepanikan publik pada saat yang punya blog sedang jalan-jalan di tempat umum.
Hanya saja, desakan untuk mengetahui ketampanan rupa Mbilung demikian kuat. Maka dari itu, gambar diri sang tokohpun mulai hari ini turut menghiasi (jika bisa dianggap demikian) halaman blog ini. Mudah-mudahan tidak mengganggu konsentrasi membaca. Begitulah tampang sang tokoh yang sering ditandemkan dengan Togog dan bersama-sama berkarir sebagai tukang ndobos. Berbeda dengan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, saya dan Togog tidak berkarir di kerajaan yang diperintah oleh tokoh-tokoh baik, tidak ada tantangannya. Penulis cerita tampaknya punya kehendak sendiri, bahwa penguasa jahatpun perlu punakawan. Mungkin agar kejahatan penguasa bisa direm sedikit sehingga negerinya masih bisa punya rakyat.
Menyinggung soal blog "mlintir" yang isinya ngalor ngidul ngetan ngulon ada beberapa pendatang baru atau pura-pura baru. Selain plintiran tersohor seperi Gombal, Pecas Ndahe, Catatan Asalnya Bang Pi'i, Kabar Buntung [sic], Semprul Sontoloyo dan beberapa lainnya, ada beberapa blog atau cring baru yang bisa bikin sampeyan ikutan mlintir. Coba saja tengok Kemlinthi, Nggedabrus, Sumuk ra Kringeten dan Bawor. Menurut saya ini tidak menunjukan betapa mlintirnya bangsa ini, tapi lebih kepada betapa plintiran itu masih diperlukan sebagai sarana untuk memandang kehidupan dari sisi lain. Lha yang namanya mlintir itu memang terkadang tidak memerlukan wajah.
Haiyaaah ... ndobos! Lha ya ndobos karena memang itulah tugasnya Mbilung.
Malam minggu sendirian, kok kayak kembali ke asal ya? Jamannya masih sendiri. Bukaaaaan ... bukan jamannya saya jomblo, karena jomblo berkonotasi negatif. Saya mengistilahinya jaman kemandirian cinta, jamannya masih dengan gagah bisa berkata no woman no cry. Lha, kali ini saya ndobos soal jaman itu ya.
Jaman dikala pecel lele (pemuda celana lebar-lebar) masih bergentayangan, termasuk saya. Celana panjang ketat di paha, seperti kekurangan bahan, tetapi lebar melambai-lambai di bawah seperti kelebihan bahan, susah dipakai duduk. Disko masih marak, John Travolta idolanya, pendekar disko dengan jurus andalan acung-acung telunjuk diiringi jeritan The Bee Gees yang oleh teman saya dijuluki kelompok (maaf) peli kecepit.
Dalam rangka P4 (pura-pura punya pacar), malam minggu saya mesti keluar rumah, tentu saja dengan berdandan dan jungkatan (sisiran) rapih plus minyak rambut, tak lupa seoles dua oles minyak wangi lungsuran Bapak saya. Berangkat kemana? ke Disko? woooo...ya ndak, ndak kuat mbayarnya. Kumpul saja dengan sesama gelandangan cinta lainnya. Kalau ada uang sedikit, bisa pergi nonton film. Bioskop langganan saya itu letaknya persis di pertemuan antara Jalan Supratman dengan Jalan. Diponegoro, di ujung Jalan Citarum, di daerah Muararajeun, Bandung. Nama bioskopnya Warga, itu bioskop misbar (gerimis bubar).
Lha wong namanya nonton di bioskop tanpa atap, di Bandung pula, dinginnya (pada jaman itu lho ya) pol. Harus bawa sarung. Bukan hanya buat anget-anget, tapi juga untuk melindungi identitas kalau-kalau kepergok kelompok cantik-cantik teman sekolah pada saat berkeliaran di seputaran bioskop. Bioskop yang sekarang sudah lenyap ini buat saya kok menyenangkan sekali. Selain karena murah, pada saat film sedang diputar ada saja tukang jualan yang lalu-lalang. Kacang rebus, bandrek, bajigur, ubi rebus dan goreng, pokoknya kumplit. Hanya saja, pantang hukumnya kebelet kencing di bioskop ini. Ndak ada wc-nya.
Bagian depan dekat layar ada ruang kosong yang cukup luas, buat yang ingin jogetan kalau sedang ada adegan nyanyi di film India. Saya sendiri ndak pernah ikut njoget. Jaga-jaga agar jangan sampai pada hari Seninnya ada teman yang mbengok, "asik ya kemaren joget di Warga?". Upaya "bela diri" adalah kesia-siaan walaupun bisa saja nembak balik dengan berkata "nah elo ngapain di Warga?". Tapi jawaban model begini sama saja dengan marani ulo, lha kelompok gadis bakal nembak "kalo nonton berdua itu sama perempuan dong, masak sama laki juga?" (emang ngapah, kagak boleh gitu?). Situasinya jadi sulit, lepas dari selangkangan harimau masuk ke selangkangan buaya, begitu kata pepatah ngawur.
Aaaah, jaman itu. Jaman dimana masih bisa jalan gagah dengan pinggang ramping dan perut rata tanpa harus menahan napas. Mata menatap lurus ke depan sambil bersenandung Stayin' Alive bak The Bee Gees itu :
Well, you can tell by the way I use my walk, I'm a woman's man: no time to talk Music loud and women warm I've been kicked around since I was born
Malam minggu sekarang saya mau apa? Ya ndobos saja, lha wong pinggang saya saja bentuknya sudah seperti rantang susun sementara perut sudah bak tudung saji kok. Sampeyan malam mingguan ke mana?
Barang satu ini sangat umum terlihat nempel di jendela rumah-rumah, apalagi di kota besar. Bentuknya juga macam-macam, dari mulai yang mbundet ting kriwil sampai yang lurus-lurus saja. Fungsi dasarnya menurut saya sama, buat "saringan maling" agar tamu yang tidak diundang dan senengnya nggondol barang yang bukan miliknya itu tidak bisa masuk. Ah tidak tepat juga, karena tamu yang diundang dan ndak nyolongan juga tetap saja tidak bisa mbrobos teralis ... karena itu tamu jenis baik-baik lazimnya dipersilahkan masuk lewat pintu.
Memasang teralis mungkin dapat dilihat sebagai salah satu wujud nyata peran aktif masyarakat dalam menjaga kemanan, paling tidak keamanan rumah dan diri sendiri, dari maling, garong dan para sekutunya.
Akan tetapi *dengan gaya bertutur Timbul Srimulat atau Harmoko* , kok buat saya agak aneh ya? Maling jalan-jalan bebas di luar, malah bisa sambil jajan bakso dulu sebelum nyolong, sementara calon korban mendekam di dalam rumah terkurung teralis. Mungkin keanehan itu adalah harga yang harus dibayar jika kita memiliki barang layak gondol. Keanehan yang tampaknya diterima begitu saja sebagai kewajaran oleh banyak orang, lha itu rumah banyak yang teralisan kok, apalagi yang magrong-magrong.
Teralis, atau trellis dalam bahasa Inggris, awalnya diperuntukkan untuk ditaruh di kebun sebagai sarana untuk rambatan tanaman. Temennya teralis, ya pergola itu. Agar tanaman merambat tidak ndlewer-ndlewer di taman, maka teralis dan pergola lantas digunakan. Silahkan, merayap di sini saja, begitu usulan pemilik tanaman. Entah siapa yang memulai, teralis lantas pindah tangkringannya ke jendela. Fungsinyapun berubah, dari alat untuk tempat sangkutan tanaman menjadi alat keamanan. Teralis lantas dipasang sekukuh mungkin agar tak mudah dijebol. Celakanya, jika ada kejadian yang sifatnya darurat pada saat mana si pemilik rumah harus keluar mbrobos jendela secara cepat, teralis tidak pilih kasih. Mau sampeyan itu pemilik rumah atau maling, pokoknya keluar masuk tidak boleh lewat jendela, ndak sopan.
Teralis juga bisa menjadi sumber petaka jika digunakan tidak sebagaimana mestinya. Semasa masih berkantor di Bogor, yang dipasangi teralis, saya punya satu orang asisten yang lebih pantes jadi anak saya, baik dari segi umur maupun kelakuan. Lha wong masih suka rebutan majalah Donald Bebek sama anak saya yang paling kecil. Asisten satu ini hobinya memasukan kepalanya diantara jeruji teralis itu. Entah apa maunya, mungkin hendak membuktikan kalau melakukan diet itu bukan hanya tubuh yang menjadi langsing tapi kepala juga mengecil. Sering nyangkut. Lantas teriak-teriak.
Rumah saya jendelanya berteralis, tanaman rambat di rumah juga menggunakan teralis, asisten gemblung itu senengnya mainan teralis. Hidup saya kok dikelilingi barang yang satu ini ya? Sampeyan bagaimana?
Ini sebetulnya cerita lama, sudah lebih dari sebulan. Begini ... blog saya ini ndak pake copyright, ini isi blog right to copy, kalau mau disalin plek sak titik koma tanda tanya seru kali bagi, ya monggo.Walaupun demikian saya berusaha agar saya tidak melakukan hal itu terhadap blog orang lain atau hasil karya orang lain tanpa menyebut sumbernya. Alhamdulillah sampai sekarang masih berhasil, ndak tahu besok-besok.
Lha wong niat ingsun buat bikin blog itu salah satunya adalah bagi-bagi omong kosong kok, ndobos itu. Kalau ada yang ndak suka ya tinggal misuh, nanti saya minta maaf dengan tulus. Kalau ada yang terhibur, ya alhamdulillah. Lha kalau ada yang lantas mbrebes mili, bercucuran air mata, kemarilah mbak/mas, ini bahu saya boleh dipake. Nanti sampeyan saya belai-belai, tenang saja, saya sudah jinak, sampeyan ndak bakal saya ajak dolanan retsleting kok. Saya itu sedang berusaha untuk menjadi pendobos yang bertanggung jawab [sic].
Mbak Atta dari tatar surup dalam salah satu tulisannya, dengan ramah mengajak kita bermain-main dalam "Mengutip dan Dikutip". Pertama kali membaca tulisan itu, terus terang saya (nyuwun sewu lho Mbak) ngakak kenceng. Lha salahnya, bikin tulisan kok bagus, apik, sedap dibaca, mak nyos dan gampang disalin. Begitu itu pikiran saya waktu itu. Lha kok ndilalah lima hari setelah itu saya mengalami hal yang sama dengan Mbak Atta.
Tulisan saya yang ini, ada di tempat lain. Apa saya ndak nguakak terkekeh-kekeh. Mentertawakan diri sendiri sambil mbatin, sukuriiin, kualat, modhar kon. Ini yang nyalin mesti sedang kehabisan akal. Lha soal nguyuh (pipis, pee, kencing) kok disalin?! Mbok ya o, kalau mau nyalin tulisan saya itu cari yang ada mutunya ... kalau ada lho ya. Eh ada ding ... menurut saya yang ini rada-rada ada isinya (*wajah bersemu merah* ... isin aku). Ini rada-rada ada isinya karena yang nggarap keroyokan.
Lha, lantas tulisan ini maksudnya apa? Ya ndak ada, cuma ndobos saja, lha wong kemarin itu saya sehari puasa ndobos je ... sepet! Jadi begitu, hayoooo ... siapa lagi berikutnya yang mau nyalin, monggo lho jangan malu-malu, saya tak numpang ngetop.
Ijinkanlah saya untuk tidak ndobos barang sehari iniiiii saja, dan doakan mudah-mudahan kuat. Hari ini, tanggal 21 Juni, adalah hari yang mestinya membahagiakan, walaupun tanpa telor, secara tidak langsung buat saya, tapi lebih-lebih untuk orang yang saya sayangi itu (huuhuuuuy...).
Entah sudah berapa kali saya tidak bersamanya di hari yang berbahagia buatnya seperti hari ini. Suatu hal yang selalu membuat saya termenung seperti orang bingung. Hari ini saya seharusnya ada di sisi dia bersama anak-anak. Mencium pipinya disaat dia bangun tidur, mengucapkan kata-kata itu dan melihatnya tersenyum.
Saya ndak bisa memberi apa-apa yang layak buatnya hari ini, tetapi kalau boleh biarkan saya mengiriminya baris-baris contekan ini.
You're the one I've always thought of I don't know how, but I feel sheltered in your love You're where I belong And when you're with me if I close my eyes There are times I swear I feel like I can fly For a moment in time Somewhere between the Heavens and Earth And frozen in time, Oh when you say those words
When you say you love me The world goes still, so still inside and When you say you love me In that moment,I know why I'm alive
When you say you love me Do you know how I love you?
(penggalan dari: When you say you love me -- Robin Scoffield)
Saya ndak ndobos lho ini, saya mencintai dia. Selamat ulang tahun istriku.
Entah kenapa dari tadi saya kok kangen tidur di hammock, tempat tidur gantung, yang pernah jadi tempat tidur utama jamannya masih sering klayaban di hutan dan rawa itu. Saya ingat terakhir tidur di hammock itu waktu di kantor Bogor di bawah pohon nangka. Mungkin karena Tokyo mulai hangat dan angin silir-silir, bayangan tidur di hammock itu ujug-ujug muncul.
Hammock itu sendiri diyakini berasal dari Amerika Selatan atau Karibia. Kalau kita menyaksikan film dokumenter tentang Indian Amerika Selatan, hammock hampir selalu ada. Lebar, besar dan tampaknya nyaman sekali. Tak heran jika hammock lantas banyak digunakan untuk leyeh-leyeh di banyak tempat. Lha, hammock yang dulu biasa saya pake mblusukan itu tidak seperti itu, jauh lebih kecil.
Tidur di hammock itu susah-susah gampang. Cari dua pohon yang cukup kuat untuk menanggung berat badan, pohon cabe jelas ndak kuat. Pastikan tinggi hammock terpasang sekitar se-pinggang, kalau ndak susah nanti naiknya. Kalau saya biasanya pantat duluan yang naik ke hammock, tapi tiap orang punya gaya sendiri-sendiri. Hanya saja saya belum pernah lihat yang naiknya kepala duluan. Pastikan naiknya di bagian tengah hammock. Setelah itu baru menyusul kaki dan tubuh bagian atas. Jangan banyak tingkah, karena hammock bisa melintir dan isinya bisa tumpah dalam posisi yang bisa mengundang tawa.
Itu baru cara-cara dasar, lha sekarang coba masuk ke dalam sleeping bag (kantung tidur) selagi ada di atas hammock. Akrobat habis-habisan ini jika belum terbiasa. Yang paling sedih itu kalau sudah sukses naik ke hammock, sudah berhasil masuk sleeping bag, dan pas mau merebahkan diri hammocknya melintir. Biar tambah sialnya, masang hammocknya di atas rawa.
Agar terhindar dari basah embun atau hujan, biasanya di atas hammock saya memasang atap dari ponco, dan untuk nyamuk bisa dipasang kelambu. Nyaman sekali, apalagi kalau pas sedang hujan rintik-rintik. Sukses naik hammock, hangat dalam sleeping bag, terayun-ayun pelan .... wuah pol. Pas berada di batas antara lier-lier dan hilang kesadaran .... kepingin kencing.
Mari sodara-sodara sekalian kita meng-hammock. Jadi ... siapa bilang pohon cuma buat ngumpet kalo mau kencing.
Kecerobahan berakhir dengan lolongan kesakitan. Saya memang sering ceroboh dan hasil kecerobahan kali ini adalah menempelnya pita perekat, cellotape heavy duty, di kaki yang ada rambutnya itu. Itu pita sempat nempel di kaki cukup lama selagi saya berpikir bagaimana cara melepaskannya. Alkohol? wah ndak punya. Silet? sama juga. Pisau dapur? terlalu ekstrim. Ya sudah, tarik saja. Walaupun napas sudah ditarik dalam-dalam, sensasi itu masih juga menyengat dan air mata bercucuran. Hauuuuuuuwwww ... haih .. haih .. haih ... *sambil mringis*.
Agony? buat saya iya, tapi buat sebagian orang hal itu adalah hal yang lantas dijalani dengan kesadaran penuh, agar tampak huhuuuy. Teman-teman perempuan saya beberapa melakukan ritual ini. Pernah dengar istilah leg waxing? istilah asing untuk njabuti rambut di kaki atau tepatnya di daerah seputaran betis. Lebih atas dari daerah itu saya belum pernah lihat, walaupun katanya ada.
Prosesnya sederhana, bagian kaki yang rambutnya hendak dienyahkan diolesi cairan agak kental (wax). Jangan pakai tangan ngolesnya, harus pakai spatula, alat pengoles (wood applicator). Daerah teroles lantas ditutupi kertas khusus untuk waxing. Tiup tiup sebentar, tarik napas dalam-dalam, tarik kertasnya secepat mungkin.... srtttt ... saya yang nonton langsung mringis bergidik.
Mestinya sakit, paling tidak perih. Tetapi, kenapa pula tetap saja dilakukan? Macam-macamlah alasannya, tetapi semua mengarah ke "kecantikan" dan "keindahan" kaki. Apa pula salahnya rambut-rambut itu kok lantas dicabuti? Rambut memberikan insulasi bagi tubuh dan rambut juga menjadi tempat penimbunan beberapa racun yang dibuang oleh tubuh. Keindahan, yang relatif itu, tampaknya menuntut adanya korban, ya rambut itu.
Kaki saya sekarang rada pitak ... dan tetap saja tidak indah.