Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< July 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, July 02, 2006
Bintang

Hari Minggu, hujan, saya nonton Lion King saja, film kartun yang selalu bisa bikin saya tersenyum geli melihat tingkah dua karakter di dalamnya ... Timon seekor Meerkat dan Pumba si babi hutan (Warthog) para pendamping Simba sang Singa. Salah satu dialog kesukaan saya dalam film ini adalah percakapan tiga sahabat (Simon - Pumba - Simba) tentang bintang.

Pumba (P) : Timon ..
Timon (T) : Yea ..
P : Ever wonder what those sparkly dots are up there?
T : Pumba, I do not wonder ... I know!
P : What are they?
T : They are fireflies. Fireflies that mmmmm got stuck up on that big ... bluish black thing.
P : Ooo gee. I always thought that they were balls of gas burning billions of miles away.
T : Pumba .. with you, everything is gas.
P : Simba, what do you think?
Simba : Well, somebody once told me that the great kings of the past are up there watching over us.
P : Really?
T : You mean a bunch of royal dead guys are watching us?

Adegan itu saya lihat berulang-ulang, selain supaya saya bisa nulis percakapannya, juga karena buat saya percakapan itu kok ya menarik. Mari kita ganti ketiga tokoh tadi dengan Isaac Newton, Stephen Hawking dan Edward Witten. Mestinya mereka lantas ndobos mulai soal bola gas bercahaya, big bang sampai getaran dawai energinya string theory.

Sampeyan kapan terakhir lihat bintang-bintang di langit itu? dan menurut sampeyan apa sih bintang itu?


Posted at 03:04 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Balapan Mbungkuk-Mbungkuk

Apa ya rasanya nunggang motor yang ngebutnya 300 km/jam? Apa yang nunggang motornya ndak langsung berkibar-kibar itu? Apa ndak terbang? Lha bagaimana saya ndak gumun, lha wong pesawat penumpang terbesar saat ini saja, Boeing 747-400, sudah bisa mengangkasa dengan kecepatan kurang dari 200 km/jam (ground speed, tergantung berat beban dan kondisi landasan pacu). BetuI sodara-sodara sekalian, saya akan ndobos soal balapan lagi.

Mobil F1 paling cepet bisa digeber sampai 386 km/jam, itu record dunia sekarang yang dibuat tahun 1998. Kenceng ya ... tapi coba yang satu ini 347 km/jam, sedikit lebih rendah, tapi kendaraannya rodanya cuma dua dan penunggangnya ndak pake sabuk pengaman. Iya itu kecepatan sepeda motor MotoGP (sampai 990cc). Naaah, kalau ndobos soal MotoGP ya ndobos soal kampiunnyalah, itu lho "doktor" kriting kriwil-kriwil yang belum ada lawannya.

Saya sama Vale (saya ya gini kalo manggil Valentino Rossi itu) sama-sama suka Cameron Diaz dan sama-sama juga suka Blues Brothers. Cuma soal tunggangan dan kecepatan kami berbeda selera, dia suka naik motor, kebut-kebutan sambil mbungkuk-mbungkuk, lha saya suka naik mobil alon-alon dengan bantal di punggung.

Vale lahir di Urbino, Italia, tanggal 16 Februari dua puluh tujuh tahun yang lalu. Mulai suka naik motor umur dua tahun!! jamannya umur segitu saya itu lari saja belum lurus. Vale mulai nyoba-nyoba mbalap dengan motor waktu dia berumur 12 tahun. Umur 14 tahun sudah mulai balapan motor secara serius ... ini mesti SIM C - nya nembak, lha buktinya dia belum bisa tuh waktu itu. Balapan pertamanya dengan motor Cagiva 125cc itu ditandai dengan jatuh-jatuh di tikungan pertama dan kedua padahal itu balapan lokalan saja. Tetapi tahun berikutnya, Vale tidak tertahankan di balapan lokal ini, dan tahun 1995 mulai ngebut di tingkat regional yang hasilnya juara tiga sak Eropa untuk kelas 125cc itu.

Tahun 1996, Vale mulai masuk ke seri balapan tingkat dunia kelas 125cc, dengan balapan pertamanya di Malaysia, cuma finish di urutan ke 6 bahkan di balapan berikutnya di Sentul, Vale cuma finish di urutan ke 11. Lha wong namanya juga tukang trek-trekan baru, tetapi hasil tahun itu tidak terlalu jelek buat Vale yang akhirnya ada di urutan 9 dunia. Lha, tahun berikutnya di kelas yang sama ... Vale ngebut sak ngebut-ngebutnya, dia jadi juara dunia termasuk menang di Sentul.

Tahun 1998, Vale naik kelas, pindah ke 250cc dan bisa jadi juara 2 dunia. Tahun 1999 Vale menjadi juara dunia termuda untuk kelas 250cc. Tahun 2000, Vale naik kelas lagi ke 500cc dan dapet juara 2 dan jadi jawara dunia tahun 2001. Tahun 2002, Vale ada di kelas MotoGP (kelas yang menggantikan kelas 500cc) dan hingga kini juara terus. Di MotoGP ini Vale membuktikan bahwa soal tunggangan ndak masalah, Yamaha kek, Ya Honda kek pokoknya asal ditumpa'i Vale ya menang. Juara kok ndak bosen.

Nah soal naik motor mbungkuk itu ada cerita Vale kalah balapan sama sepur, kereta api, waktu latihan mau ikut balapan di Sentul. Padahal sepurnya ya sepur Indonesia je ... Bogor - Sukabumi, dan Vale sudah mbungkuk pol biar motornya lari sak kenceng-kencengnya ... ya masih saja kalah. Lha ternyata ... pas dilihat, itu penumpang sak gerbong lagi mbungkuk semua.

Untuk Dee dan Mas Yoyok, lunas ya.

dari berbagai sumber
foto diambil dari sini



Posted at 01:03 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Saturday, July 01, 2006
PSK Oxymoron

MMembaca tulisan di blog tetangga saya jadi gatel. Lha mengaku sebagai oxymoron je, padahal .... lihat sajalah kesimpulan ndobos saya kali ini. Gatel bikin saya kok jadi ingin ndobos soal di luar burung, wayang dan bintang-bintang. Lagipula sudah agak lama saya ndak nulis spontan tanpa "penelitian" model begini. Saya mau ndobos soal skripsi, disertasi, final paper, thesis atau tugas akhir ... terserah sampeyan nama mana yang mau dipakai, toh buat saya ndak ada bedanya, semuanya sama artinya dengan "pengucilan diri sambil kemrungsung" yang disingkat PSK.

PSK saya yang pertama itu adalah hasil klayapan di hutan selama dua tahun yang isinya (kalau bisa dibilang begitu) adalah cerita soal kenapa hewan ini begitu dan begini, ndak penting. PSK itu saya tulis dengan bantuan komputer berotak Intel 8086 dan disimpan dalam media yang untuk jaman sekarang lebih pas untuk dijadikan tatakan piring. Seperti lazimnya sebuah PSK, harus dapat ijin layak jilid dari para tokoh yang berpangkat dosen pembimbing yang kadang gelarnya lebih panjang dari namanya. Kok ya tega-teganya itu nama yang dijepit gelar-gelar begitu harus ikut ditulis, apa ndak narsis itu namanya?

Persoalan untuk mendapatkan ijin layak jilid itulah yang kadang mengundang rasa jengkel ... bukan ... bukan jengkel sepeda, ini jengkel beneran tanpa plesetan. Hasil begadangan yang tersusun rapih dalam puluhan lembar kertas itu dengan teganya lantas dirubah menjadi topeng badut, penuh coretan bertinta merah dan tulisan tangan tidak layak baca disemua halaman. Tulisan ini harus diperbaiki, begitu pesannya. Celakanya, kejadian begini tidak hanya terjadi sekali, bisa berkali-kali dan mahluk dosen pembimbing itu jumlahnya lebih dari satu. Entah sudah berapa rim kertas habis hanya untuk mendapatkan stempel layak jilid.

Kalau begini terus, PSK saya kan bisa-bisa isinya bukan lagi pikiran saya tapi pikirannya para dosen pembimbing yang tidak ikutan blusukan di hutan dua tahun. Sampeyan pernah mengalami kejadian begini? ada kiat jitu untuk mengatasi hasrat mencoret berlebih dari dosen-dosen itu. Lho ... tukang ndobos kok dilawan. Begini, biarkan tulisan sampeyan itu diacak-acak, biarkan saja, terima saja. Kemudian, menghilanglah barang seminggu, jangan temui oknum gila nyoret itu. Lha ... seminggu kemudian, temui lagi dia dengan tulisan yang sama persis sambil berkata "ini Pak/Bu hasil yang kemarin itu". Logikanya sederhana saja, para dosen itu merasa tulisan baru layak jilid kalau sudah dicoreti, dikomentari sebanyak tiga atau empat kali. Works for me.

PSK saya yang kedua mengakalinya tidak semudah PSK pertama. Jaman sudah berubah, tulisan tidak perlu dicetak rapih dan diserahkan dengan cara tatap muka dengan para dosen pembimbing. Tulisan diserahkan dalam bentuk surat elektronik atau email. Hemat kertas, hemat tenaga. Hanya saja, para dosen itu sekarang punya salinan tulisan sampeyan terdahulu. Tidak ada akal-akalan di sini, yang diuji adalah tingkat percaya diri.

Untungnya saya, para dosen pembimbing di sekolah saya ini, bukanlah modelnya dosen kemlinthi, yang ndak boleh didebat dan diajak berkelahi. Kalau coretannya ndak penting-penting amat, dosennya saya datangi, saya nyerocos ... "Pak, sampeyan itu dosen pembimbing bukan editor". Kalau coretannya mengarah ke perubahan isi, saya nyerocos ... "ini PSK saya bukan PSK sampeyan, apa sampeyan sudah baca ini ini ini ini ini ini itu itu itu itu itu itu. Kalau dirubah seperti ini maka jadinya akan begini begini begini dan saya tidak sepaham dengan jalan pikiran begitu" (catatan: nyerocosnya harus dengan sesedikit mungkin menarik napas, jaga nada suara untuk tetap rendah, tatap matanya, dan jangan lupa tangan harus bergaya seperti tangannya SBY). Selesai. Works for me.

Lha ... ada juga dosen yang gila statistik, gila rumus dan gila angka. Ada juga yang maunya PSK itu harus tebal, penuh gambar, grafik, angka, rumus ... pokoknya harus "kelihatan pintar" dan mbingungi. Lho ... pintar kok disamakan dengan mbingungi, ini yang kayaknya pantes disebut oxymoron, yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan lantas disingkat jadinya pinpinbo itu.

Oh iya ... PSK saya pertama 50 halaman termasuk cover, yang kedua 24 halaman. Kalau PSK sampeyan seberapa montoknya?


Posted at 04:01 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Tolehan Garuda

Saya itu tanya ke sampeyan semua soal kenapa simbol negara kita itu, Garuda, kok nengoknya ke arah barat. Saya itu tanya karena saya sendiri ya ndak paham benar, cuma nebak-nebak saja, lha kok malah disuruh cerita soal ini. Ya sudah, saya ndobos saja sekalian. Hanya saja tolong diingat bahwa yang saya tulis ini belum tentu benar (bisa juga dibaca belum tentu salah).

Soal tolehan Garuda ini saya lontarkan tadinya karena saya kok ndak nemu kisah kenapa dulu Sultan Hamid II dan Bung Karno itu nggambar Garuda-nya kok begitu. Soal jumlah bulu sayap, ekor dan leher, sudahlah, itu pengetahuan yang sangat umum. Toh soal yang satu ini juga lantas mengundang gojek ra mutu yang tetap saja membuat saya tersenyum. Coba kalau Indonesia merdeka tanggal 2 Januari, apa ndak lambang negara kita itu jadi capung atau laron jadinya.

Menurut saya begini. Ingat Hanuman, monyet (mohon dibedakan antara monyet dan kera -- monkey and ape) berbulu putih, titisan Batara Bayu, sakti, abdi Rama yang setia dan anti api itu? Lha katanya, Hanuman itu punya 5 wajah (pancamukha). Kalau ada istilah orang bermuka dua yang konotasinya negatif, Hanuman yang berwajah lima ini semua bermakna positif. Lima muka Hanuman itu adalah; Hayagriva yang menghadap ke atas, Varaha yang menghadap ke Utara, Narashima menghadap ke Selatan, wajah Hanuman yang kita kenal itu menghadap ke Timur dan Garuda yang menghadap ke Barat.

Lha kok ke Barat? Tak ada juga penjelasan soal ini, maka saya ndobos saja dengan bersemangat. Seperti juga wajah-wajah Hanuman lainnya yang punya makna, wajah Garuda-nya Hanuman dipercaya sebagai kekuatan untuk melawan ilmu hitam dan racun. Buat saya itu adalah lambang melawan kegelapan. Gelap seperti saat matahari menghilang di Barat. Gelap yang membutuhkan cahaya dan Garuda adalah cahaya.

Bagaimana tidak, Garuda itu katanya waktu lahir terang benderang, padang gilar-gilar, bahkan sempat dikira Batara Agni sang dewa api. Tubuhnya juga memancarkan cahaya yang berkilau. Klop sudah, gelap lawannya terang. Maka Garuda harus noleh ke kanan, ke arah Barat, untuk melawan kegelapan.

Dalam kisah lain yang tidak ada hubungannya, rumah Garuda itu di Barat. Coba kalau sampeyan sedang ada di luar kota besar pada malam hari disaat langit terang oleh bintang dan tak berawan. Tengoklah ke arah Barat, Rasi Bintang Aquila (Garuda) ada di sana seolah sedang melayang melintas Bima Sakti (Milky Way).

Bintang Altair yang paling terang adalah kepalanya dan diapit oleh Alshain sebagai sayap dan Tarazed sebagai paruhnya. Pada rasi bintang itu bisa juga dilihat ada Delta Aquila sebagai brutu Garuda, Eta Aquila sebagai ujung sayap dan Iota Aquila sebagai ujung ekornya.

Lha karena sebab-sebab di atas itulah saya berani bilang bahwa Garuda itu menolehnya ya harus ke Barat. Tapi lha wong saya itu cuma ndobos, kalau salah ya maaf. Begitu, jadi lunas hutang saya buat para insan penasaran soal tolehan Garuda ya. Sampeyan punya pendapat lain?

Gambar diambil dari sini.


Posted at 02:17 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Friday, June 30, 2006
Cucak Rowo ... serr .. serr ..

Lagu Cucak rowo, yang entah diciptakan oleh siapa, sempat populer agak lama di Indonesia dan mungkin juga di Suriname. Soal siapa yang mempopulerkannya silahkan sampeyan berdebat saja sendiri, apakah Didi Kempot, Tina Toon, Inul bor-boran, Rona penyanyi cilik dari Kendal, Harris Sudarwanto a.k.a HR Senopati a.k.a Londo atau malah supporter PSIS, karena dulu (entah sekarang) lagu ini jadi lagu wajib para supporter PSIS setiap kali Panser Biru tanding di Semarang. Kali ini ijinkan saya ndobos ngalor ngidul campur aduk soal Cucak rowo ini. Kalau lantas dianggap saru, porno, jorok, saya minta maaf duluan ya.

Cucak rowo atau juga dikenal dengan nama Cucak rawa, Straw-headed Bulbul atau Pycnonotus zeylanicus adalah nama burung yang hidup di Indonesia (Sumatera, Kalimantan dan Jawa*), Singapura, Malaysia (Sabah, Sarawak, Semenanjung Malaya), Thailand dan Myanmar bagian selatan. Burung ini termasuk keluarga Kutilang dan hidup di hutan-hutan dataran rendah di dekat aliran sungai, mungkin karena inilah namanya berakhiran dengan kata "rawa". Tidak seperti kerabatnya sesama Kutilang yang rajin bernyanyi di pucuk pohon cemara (atau cempaka?), Cucak rawa sering turun ke tanah untuk mencari makan.

Bagi penggemar burung berkicau dalam kandang, suara Cucak rawa katanya bagus. Keelokan suaranya jugalah yang menjadi salah satu penyebab Cucak rawa masuk dalam daftar jenis burung yang terancam punah. Lha bagaimana ndak terancam punah lha wong Cucak rawa itu adalah salah satu burung hot item untuk diburu dan lantas dimasukan ke dalam kandang je. Belum lagi hutan dataran rendah yang jadi rumahnya itu gurih banget buat "disantap" oleh penggundul hutan. Berita sedih berikutnya adalah, burung ini di Pulau Jawa sudah punah di alam, habis bis bis. Terakhir terlihat di Ujung Kulon pada awal tahun 1970-an.

Kembali ke lagu Cucak rowo tadi, kata lagu itu Cucak rowo dowo buntute (panjang buntutnya), saya saja yang berani memproklamirkan diri sebagai tukang ndobos ndak berani bilang buntutnya Cucak rawa itu panjang. Buntutnya (atau tepatnya bulu ekornya) ya ukurannya kira-kira sama dengan Kutilang. Lirik lagu itu juga berbunyi buntute sing akeh wulune (buntutnya yang banyak bulunya), haiyaaah ... banyak bagaimana? Jumlah bulu ekornya sama dengan Kutilang, persis! Nek di goyang ser ser aduh enake ... ndak ngerti saya. Burung kok digoyang-goyang to? mungkin liriknya mesti diganti jadi nek digoyang ser ser mumet manuke.

Ndobos soal burung, ada satu gojek kere dan saru soal burung :

Dul : Dil .. bentuknya panjang, ada rambutnya, tempatnya di selangkangan, apa coba .... tapi ndak boleh jorok lho ya.
Dil  : He? Wah kalau ndak boleh jorok, ndak tahu saya jawabannya.
Dul : Waaah ... payah kamu Dil, jawabannya itu titit!.
Dil  : Lho ... katanya ndak boleh jorok.
Dul : Lha ya kalau tititmu itu jorok mbok ya dicuci dulu.


Buat Mas Yudhi (lagi), Cucak rowonya lunas ya.

Foto diambil dari sini.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Thursday, June 29, 2006
Pembalap Alon

Jika saya sedang di Bogor, saya itu berprofesi sebagai atlet otomotif ...... tiap hari antar jemput istri. Atas permintaan Mbakyu yang satu ini, yang ternyata adalah pemuja salah satu teman seprofesi saya, maka hari ini saya ndak ndobos soal burung atau wayang dulu ya. Saya hari ini ndobos soal teman seprofesi saya sesama atlet otomotif itu,  Dimas Fernando Alonso.

Walaupun sesama atlet otomotif ada sedikit perbedaan antara kendaraan kami walaupun sama-sama beroda empat dan ada setirnya. Mobil yang saya pakai itu dimuati sepuluh orang saja sih cukup, lha mobilnya dia cuma bisa satu orang. Mobilnya dia diisi 60 liter bensin, cuma bisa muter-muter di situ-situ saja, ndak jauh-jauh, lha kalo mobil saya diisi 60 liter bensin dari Bogor bisa klayapan sampai Jawa Tengah. Mobilnya dia itu takut sama pulisi tidur sementara buat mobil saya itu tidak masalah. Mobilnya dia, bisa ngebut sampai ratus-ratus kilometer per jam, mobil saya dikebut lebih dari seratus sepuluh bisa mbrodol kemana-mana onderdilnya.

Fer, begitu saya memanggilnya, lahir di Oviedo (Uviéu), ibukota daerah khusus Austurias di Spanyol, tanggal 29 Juli dua puluh lima tahun yang lalu. Ibunya pegawai toserba, sementara bapaknya tukang mainan bahan peledak dan berhobi balapan mobil balap kecil (kart). Mereka bukan keluarga kaya, tapi tidak juga keluarga miskin atau pra-sejahtera, ya cukupan lah. Dari kecil, Fer sudah tertarik dengan balapan dan itu didukung oleh bapaknya yang rada gemblung.

Umur 3 tahun itu pertama kali Fer ikutan balapan, lha apa ndak gemblung itu bapaknya, anak balita disuruh balapan bukannya diajak ke puskesmas buat timbang badan dan makan bubur kacang ijo. Umur 7 tahun dia sudah jadi juara kart se Austurias. Bagaimana ndak juara, lha wong balapan delapan kali kok menang semua. Umur segitu itu saya masih sibuk mikir gimana caranya nyolong jambunya Oom Risakota, tetangga saya dulu itu,  dan balapan tarik-tarikan pelepah pinang.

Begitulah Fer, yang masa kecilnya cuma diisi balapan, ndak main gobak sodor atau kelereng, cuma dolanan kopling saja. Umur sepuluh tahun Fer sudah jadi juara ke-dua kart kelas Cadet sak Spanyol dan dua tahun berikutnya sudah juara sak Spanyol untuk kelas Junior. Setelah itu Fer mulai balapan di luar negaranya dan menangan juga. Bener-bener bukan jago kandang anak ini. Tahun 1999, Fer ganti mobil single seater, dan langsung jadi juara Eropa terbuka. Biyuh biyuh, jelas-jelas ndak pernah main kuartet atau main remi bocah iki.

Tahun 2000 adalah tahun pertama kali Fer mulai mainan mobil Formula, Formula 3000, dan langsung nyabet juara dua di Grand Prix (GP) Hungaria dan juara satu di GP Belgia. Kursi Formula satu (F1) mulai dirasakan Fer di usia 20 tahun, dia mbalap untuk Minardi walaupun dia itu sebetulnya supirnya Benetton-Renault. Setelah "hanya" menjadi test driver F1 Renault di tahun 2002, Fer mulai boleh mbalap F1 beneran pada tahun 2003 dan sempet menang sekali di GP Hungaria. Tahun 2004, empat kali Fer naik panggung walaupun bukan juara satu. Tahun 2005, adalah tahunnya Fer, dia jadi juara dunia F1. Tahun ini .... siapa yang bisa nahan dia? Sampai tulisan ini dibuat, sembilan balapan, selalu naik pentas dan enam kali diantaranya juara satu.

Begitulah temen saya satu itu, mancal gas dari kecil, bekerja keras dan menjadi juara dunia di usia 24 tahun 59 hari, sebuah record baru sebagai juara balap F1 termuda yang pernah ada. Mbalapnya juga relatif bersih dan timnya kompak tralala. Ndak kayak Montoya itu, yang senengnya kok nyantap orang lain di tikungan. Atau kayak Kimi yang mobilnya katanya kuenceng tapi cepet ngos-ngosan terus jebol.

Fer itu masih muda sudah berprestasi begitu, ndak karbitan juga, dan mestinya cari-cari sponsornya ndak pake acara injek kaki perusahaan ini dan itu dengan berbekal surat "petinggi" (catatan: tinggi itu bisa juga berarti kutu kasur, kutu busuk, atau ..... bangsat). Belum lagi sifat sayang anaknya, walaupun dia belum punya anak. Fer itu walaupun tukang ngebut dia juga duta besarnya UNICEF. Ndak heran kalau Mbakyu yang satu itu lantas memujanya.

Masihkah dia akan jadi juara di tahun-tahun ke depan, mungkin iya, hanya saja kok rasanya Fer itu perlu ganti nama. Saya itu ya sudah bilang sama dia buat ganti nama saja, mosok pembalap mobil F1 kok namanya Alonso, bukan Cepetso. Pembalap kok alon, ndak ada itu alon-alon di balapan F1. Lha kalo saya ini pantes buat alon-alon. Jadi besok, pintu mobil saya itu mau tak tulisi ah, Mbilung "Ndobos" Alonso.


Dari berbagai sumber.
Foto diambil dari sini.



Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (15) yang ndobos juga  

Wednesday, June 28, 2006
Sempati

Soal Hanuman dan tolehan Garuda lupakan saja dahulu. Saya kok ingin ndobos soal Sempati. Nama yang mungkin hanya kita kenal lewat perusahaan penerbangan di Indonesia yang sekarang sudah bangkrut itu. Sempati Air yang pernah membuat rupa-rupa upaya untuk menarik calon penumpangnya. Sebut saja arisan di udara, yang berhadiah karcis, buat naik Sempati Air lagi. Atau keberaniannya untuk memberi kompensasi jika keberangkatan tertunda. Sekarang Sempati Air sudah tidak lagi terbang, sama seperti nasib mahluk yang bernama Sempati.

Seperti yang sudah saya ceritakan kemarin, Aruna, kakak Garuda, mempunyai anak dua yang gagah-gagah, Sempati sang kakak dan Jatayu yang keduanya berwujud burung. Pada masa keduanya masih muda, Jatayu selalu terkagum-kagum melihat matahari yang pada siang hari berwarna kuning terang menyala sementara di saat pagi dan sore berwarna merah. Jatayu lantas berkeinginan untuk menangkap sang matahari, keinginan yang selalu dicegah oleh sang kakak, Sempati.

Lha tapi namanya Jatayu itu burung ndableg, terbang juga dia untuk menangkap matahari. Matahari yang merasa terganggu menjadi marah, dan mataharipun melepaskan sinarnya yang membakar ke arah Jatayu. Melihat adiknya ada dalam bahaya besar, dengan cepat Sempati terbang menyusul untuk melindungi adiknya. Sempati mengembangkan sayapnya, melindungi sang adik dari amarah matahari. Jatayu selamat, tetapi Sempati jatuh kembali ke bumi dengan sayap terbakar. Sejak itulah Sempati tidak lagi bisa terbang dan menyepi di dalam gua. Sementara sang adik, Jatayu, diangkat menjadi raja dari semua burung.

Jatayu sang raja burung yang kecilnya ndableg itu, seperti telah saya ceritakan kemarin akhirnya gugur setelah kalah bertarung melawan Rahwana pada saat Jatayu hendak menyelamatkan Sinta. Jatayu yang akhirnya mati dipangkuan Rama belum sempat mengatakan ke mana Sinta dibawa lari. Rama kemudian menitah Hanuman untuk mencari dan memberi tahu Sinta akan kedatangan para penyelamatnya .... eng ing eng ...

Sempati yang mendengar berita tentang kematian Jatayu keluar dari guanya untuk mencari kabar. Saat itulah Sempati bertemu Hanuman yang lantas menceritakan kepahlawanan Jatayu. Hanuman menghibur Sempati untuk tidak larut dalam kedukaan, duka yang tidak akan mengembalikan Jatayu. Hiburan Hanuman itu melegakan hati Sempati. Dengan kemampuan penglihatannya, Sempati mampu melihat Sinta yang tersekap di Alengka, dan kemudian adalah tugas Hanuman untuk menemui Sinta. Lakon Anoman Obong dalam wayang Jawa dimulai dari sini, sementara lakon Mbilung ndobos soal Sempati berakhir di sini.

Petikan dari epik Ramakian (Kejayaan Rama).
Gambar diambil dari sini
.


Posted at 12:37 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Tuesday, June 27, 2006
Garudaku

Ibu yang satu ini terkeder-keder dengan Garuda, begini katanya "Burung Garuda itu benar adanya atau mitos adanya? aku kok keder mlulu soal burung satu itu". Jawaban singkatnya, ya ... mitos yang lantas diada-adakan, sangat Indonesia. Kalau masih keder juga, ijinkanlah saya tak coba ndobos soal yang satu ini.

Dalam mitologi Hindu dan Buddha ada disebut seekor burung atau mahluk burung bertubuh manusia yang sangat besar bernama Garuda. Sangking besarnya, jika Garuda sedang terbang matahari tertutup, kepak sayapnya menyebabkan topan, rumah-rumah beterbangan. Lebih dahsyat lagi, ceritanya itu Garuda bisa mencabut beringin sak akar-akarnya, lho apa ndak dahsyat itu. Mungkin karena itu makanya beringin lantas berbaik-baik sama Garuda, biar ndak dicabut.

Dikisahkan bahwa Garuda adalah anak dari Kashyapa dan Vinita, dan adik dari Aruna yang berputra Jatayu dan Sempati. Dalam kisah Rama dan Sinta diceritakan bagaimana Jatayu yang keponakannya Garuda itu, gugur setelah bertempur dengan Rahwana yang menculik Sinta. Diceritakan pula Garuda adalah tunggangannya Batara Wishnu sementara sang kakak, Aruna, adalah kendaraan Batara Surya.

Kegagahan sosok, kekuatan dan kesaktian membuat Garuda menjadi layak simbol dan layak tampil. Soal keartisan Garuda, sampeyan pernah tahu Garudamon, salah satu tokoh dalam film kartun Digimon. Kalau belum coba tanya sama anaknya atau adiknya yang masih kecil yang hobinya menthelengi film kartun Jepang. Sementara sebagai simbol, Garuda dijadikan lambang negara oleh Indonesia dan Thailand. Perusahaan penerbangan Indonesia (flag carrier) juga menggunakan nama Garuda, lengkapnya Garuda Indonesia, wuih gagah ya?

Soal Garuda Indonesia ini ada yang sempat bikin saya terkekeh-kekeh. Begini, Garuda memiliki banyak nama atau sebutan, salah satu nama lain Garuda adalah Suparna. Lha apa saya ndak terkekeh-kekeh pada saat Garuda Indonesia lantas diberi  direktur utama yang namanya Suparno, tapi ya tetap saja njengking. Terkekeh-kekeh Garuda lainnya adalah dengan iklannya Kacang Garuda. Garudanya dilakonkan oleh Golden Eagle (Aquila chrysaetos) yang ndak ada di Indonesia, lantas sang elang dengan gagah njabut kacang, haih ... elang vegetarian ini.

Nah sekarang soal diada-adakannya Garuda. Ini tidak lepas dari kejadian tahun 1993, disaat mana Indonesia sibuk cari-cari simbol satwa dan puspa nasional. Ndak ngerti juga saya siapa yang pertama kali punya ide begini. Karena lambang negara Indonesia itu Garuda maka dicarilah burung yang ada di Indonesia untuk digarudakan dan diusulkan sebagai salah satu calon satwa nasional . Syaratnya  untuk bisa digarudakan banyak, harus gagah, harus punya jambul karena Garuda lambang negara itu berjambul, burungnya juga harus hanya ada di Indonesia (endemik Indonesia).

Maka sibuklah orang-orang mencari elang berjambul. Dalam keluarga Accipitridae ada satu marga yang bernama Spizaetus yang hampir semua jenisnya berjambul. Di Indonesia ada dua jenis burung dari marga Spizaetus yang hanya terdapat di Indonesia, Elang sulawesi (Spizaetus lanceolatus) dan Elang jawa (Spizaetus bartelsi). Saya ndak ngerti persis alasannya apa, tetapi pada akhirnya terpilihlah sang Elang jawa sebagai calon satwa nasional. Menang? ya ndak, kalah sama kadal (Komodo) yang akhirnya keluar sebagai simbol satwa nasional, sementara Elang jawa itu "hanya" diberi gelar sebagai simbol satwa langka Indonesia. Dengan segala rasa hormat kepada para herpetologist, salah satu makanan Elang jawa adalah kadal.

Begitulah, mahluk mitos lantas diseret ke dunia nyata. Elang jawa diubah menjadi Garuda, digarudakan, dijadikan simbol. Malangnya penggarudaan ini malah bikin nasib Elang jawa jadi runyam. Elang jawa lantas diburu untuk dikandangi, harganya melonjak drastis di pasar. Kebun binatang besar di Indonesia juga mengejar burung ini untuk masuk dalam koleksi peliharaannya. Teriaknya begini "Mari kita lestarikan Elang jawa", caranya, "... lha ya ditangkap untuk lantas ditangkarkan". Lho, sangat Indonesia sekali kan? Kok bukannya si Elang jawa itu dibiarkan saja di alam, rumahnya (hutan itu) dijaga, diurus dengan baik. Burungnya jangan diganggu. Masak simbol negara dikandangi toh?

Sampeyan apa ada yang tahu kenapa Garuda lambang negara itu nolehnya ke kanan, menatap ke arah Barat? Kepanjangan kalau saya ndobos soal ini juga, tapi itu tampaknya ada hubungannya dengan Hanuman. Cari sendiri ya?

© foto Elang jawa Eriek Nurhikmat


Posted at 12:03 am by Sir Mbilung
Ada (12) yang ndobos juga  

Monday, June 26, 2006
Burungku, Burungmu, Burung Kita

Membaca pertanyaannya Mas Yudhi di shoutbox itu bikin saya mengangguk-angguk tetapi tidak pakai sambil berseru trilili seperti burung kutilang di pucuk pohon cemara. Mas Yudi bertanya begini "ndobos terus apa gak kesel?kali2 mbok ya ngobrol ttg burung..burung sampeyan kan banyak...".

Kesel? lha malah lega Mas. Kalau kesel itu maksudnya capek, mungkin ya. Lha wong namanya Mbilung, kerjanya ya ndobos itu dan kalau kerja tentu sekali-kali ada capeknya. Akan tetapi baiklah, permintaan sampeyan itu saya penuhi walaupun sebenarnya ada juga sih saya nulis soal burung beberapa kali di blog ini.

Burung. Tubuhnya ditutupi bulu (bukan rambut), punya swiwi (jangjang, sayap), brutu (tunggir), paruh dan kakinya bersisik. Pinjem klasifikasi luwak-nya MpokB burung itu secara ilmiah digolongkan dalam Phyllum Chordata, Sub-Phyllum Vertebrata dan Class Aves. Sebagian besar burung bisa terbang, tetapi ada juga yang bisanya hanya lari-lari, jalan-jalan dan berenang, misalnya kasuari, burung unta, kiwi, kakapo dan pinguin. Makanan burung ya macem-macem, dari mulai yang makan madu sampai yang makan monyet.

Sejak dulu burung mengilhami banyak orang dan menjadi bagian dari semua kebudayaan. Burung membangkitkan keinginan manusia untuk terbang bebas, yang lantas dikisahkan dalam legenda Daedalus dan Icarus. Ketika manusia sudah menemukan pesawat terbang, burung menjadi nama atau logo perusahaan penerbangan. Tetapi tidak semua perusahaan penerbangan lantas memajang burung, misalnya Qantas (Queensland and Northern Territory Aerial Services) dari Australia yang memasang logo kangguru jingkrak.

Lantas tentang burung-burung di Indonesia? Weeeh, Indonesia itu jempolan kalau soal burung. Tak kandani yo, untuk jumlah jenis burung, Indonesia itu nomer empat se-dunia setelah Kolumbia, Peru dan Brazil, sak Asia nomer satu ... juara. Itu belum apa-apa, coba lihat jumlah jenis burung endemik negara, nomer satu sak kolong jagat. Endemik negara itu maksudnya hanya bisa dijumpai di negara itu saja, tak ada di negara lain. Burung endemik Indonesia, ya hanya ada di Indonesia. Lho, apa ndak kaya itu. Coba, negara yang namanya bikin bingung orang, Britania Raya itu, cuma punya satu ... ihik ihik.

Lha hanya saja, wong namanya juga Indonesia, mesti ada rusaknya. Jumlah jenis burung Indonesia yang terancam punah, ya ... nomer satu juga se-dunia. Untuk jumlah jenis burung endemik negara yang terancam punah juga nomer satu. Lha kok bisa? Sebagian besar burung-burung itu masuk kategori ini karena rumahnya (habitatnya) hilang atau (di)rusak, selain itu juga karena ditangkepi untuk lantas dikandangi jadi klangenan.

Lantas jenis burung apa di Indonesia yang paling langka? Lha ini rada-rada sulit njawabnya, masih banyak perdebatan soal yang satu ini. Hanya saja sebagian besar beranggapan bahwa Jalak bali (Leucopsar rothschildi) adalah yang paling langka, terakhir saya dengar jumlahnya sudah kurang dari 10 ekor. Jalak bali liar hanya bisa dijumpai di bagian barat Taman Nasional Bali Barat. Jalak bali adalah salah satu contoh jenis burung yang hampir punah karena ditangkapi. Lho ... Jalak bali kan dilindungi Undang-Undang? Kok ditangkepi tho? Haiyaaaah ...

Jadi singkatnya begitu Mas Yudhi, lha nanti lain kali mungkin saya bisa ndongeng soal burung yang beracun, soal burung yang hilang, burung yang seneng dandan, burung yang ngarsitek, burung pemecah batok kura-kura atau burung yang tidak bertanggung jawab. Atau, sampeyan punya permintaan lain?

© foto Bas van Balen. Elang jawa (immature).


Posted at 12:03 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Sunday, June 25, 2006
Wajah

Mbilung, tampangmu itu seperti apa sih? Lha begitu itu salah satu pertanyaan yang sering saya dapat. Kenapa pula wajah dijadikan bahan pertanyaan, biarkan sajalah imajinasi itu bermain-main bebas. Toh tampang siapapun yang saya pajang di blog ini juga akan menimbulkan pertanyaan baru seperti "bener itu tampangmu?". Belum lagi nanti lantas disoraki narsis. Walaupun kalau dipikir-pikir ya saya itu rada narsis juga, tapi narsis yang pemalu (contradictary in terms?).

Sebagian pengunjung blog ini dan yang blognya saya kunjungi juga saya ndak tahu tampangnya seperti apa. Lantas apakah memajang wajah di blog itu salah? Ya ndak tho. Toh blog itu adalah ruang pribadi yang dibuka untuk umum dan yang namanya ruang pribadi boleh-boleh saja kalau lantas ada wajah(-wajah) tertera di situ. Hanya saja, dari semua blog "mlintir" yang sejauh ini sudah saya sambangi, belum satupun yang memajang tampang aslinya secara jelas atau bahkan tak memajang sama sekali. Mungkin untuk menghindari kepanikan publik pada saat yang punya blog sedang jalan-jalan di tempat umum.

Hanya saja, desakan untuk mengetahui ketampanan rupa Mbilung demikian kuat. Maka dari itu, gambar diri sang tokohpun mulai hari ini turut menghiasi (jika bisa dianggap demikian) halaman blog ini. Mudah-mudahan tidak mengganggu konsentrasi membaca. Begitulah tampang sang tokoh yang sering ditandemkan dengan Togog dan bersama-sama berkarir sebagai tukang ndobos. Berbeda dengan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, saya dan Togog tidak berkarir di kerajaan yang diperintah oleh tokoh-tokoh baik, tidak ada tantangannya. Penulis cerita tampaknya punya kehendak sendiri, bahwa penguasa jahatpun perlu punakawan. Mungkin agar kejahatan penguasa bisa direm sedikit sehingga negerinya masih bisa punya rakyat.

Menyinggung soal blog "mlintir" yang isinya ngalor ngidul ngetan ngulon ada beberapa pendatang baru atau pura-pura baru. Selain plintiran tersohor seperi Gombal, Pecas Ndahe, Catatan Asalnya Bang Pi'i, Kabar Buntung [sic], Semprul Sontoloyo dan beberapa lainnya, ada beberapa blog atau cring baru yang bisa bikin sampeyan ikutan mlintir. Coba saja tengok Kemlinthi, NggedabrusSumuk ra Kringeten dan Bawor. Menurut saya ini tidak menunjukan betapa mlintirnya bangsa ini, tapi lebih kepada betapa plintiran itu masih diperlukan sebagai sarana untuk memandang kehidupan dari sisi lain. Lha yang namanya mlintir itu memang terkadang tidak memerlukan wajah.

Haiyaaah ... ndobos! Lha ya ndobos karena memang itulah tugasnya Mbilung.

© foto diri miliknya David Armstrong yang diambil dari sini.


Posted at 12:48 am by Sir Mbilung
Ada (9) yang ndobos juga  

Next Page