Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Libur ... huhuuuy hari ini libur dimulai, maksudnya ini libur dari tempat yang rajin banget ngirimi saya uang tiap bulan itu. Dari tempat ini saya dapet jatah cuti resminya 25 hari kerja dalam setahun, yang ndak resmi ya ndak ada tertulis diaturannya. Lha yang namanya ndak tertulis itu kan bukan berarti tidak boleh to? Tapi lha wong saya ini namanya juga pegawe yang disayangi oleh majikan, jatah resmi saja tidak pernah habis.
Masalahnya sekarang bukan soal habis tidak habisnya jatah itu, tapi apa iya saya bisa cuti ndobos? Lantas kalau bisa, ini isi kepala mau dibuang ke mana? "Nganu ... sampeyan ndobos live saja, unplugged". Haiyaaaah ... mana bisa, lha wong saya ini pemalu dan pendiamnya nyundul langit kok! Ndobos nulis ini sudah yang paling pas. Lagi pula kalau nulis itu, ada kesalahan bisa diubah, diperbaiki, lha kalau ndobos langsung, salah ya salah sudah ... ndak segampang bilang maaf kayak penyiar tv yang tiba-tiba berbangkis pas baca berita itu. " .... situasi di sekitar Merapi yang sedang ...uuu uuu UUUWAHIIIING... maaf ..." untung penyiarnya ndak pake sanggul, kalo pake, apa ndak nggelinding sanggulnya. Bisa-bisa lantas dipotong iklan warta beritanya, karena penyiarnya lagi sibuk nguber sanggul.
Pokoknya tidak lah ya kalau saya harus ndobos nyerocos secara langsung. Hanya saja, tampaknya frekuensi ndobos yang minimal sehari sekali ini, selama masa libur tampaknya akan turun. Lagi pula tempat saya berlibur nanti, yang belum pasti mau ke mana, bisa saja tidak memiliki fasilitas sambungan internet. Kalau dalam perjalanan pulang ke Bogor atau dari Bogor ke Tokyo lagi ndak ada masalah, toh sekarang bandara yang disinggahi menyediakan fasilitas ini secara cuma-cuma. Di dalam pesawat juga begitu, berfasilitas internet nir-kabel.
Jadi, saya liburan dulu ya. Kalau nanti bisa curi-curi kesempatan saya akan ndobos tertulis. He he he, siapa bilang kerja itu lebih sibuk dari pada liburan? Ndobos saja ndak sempat.
Mumpung belum minggat liburan saya meneruskan ndobos soal liburan lagi ya. Ini ceritanya saya itu belum libur tapi persiapannya lebih seru ketimbang mau mantenan. Lha jelas saja konsentrasi kerja saya jadi ambyar, berkeping-keping, lantas kerjanya jadi agak ogah-ogahan gitu. Untungnya yang mbayar saya konsentrasinya masih penuh, dan mbayarnya ndak ogah-ogahan. Bagaimana konsentrasi tidak berantakan, pikiran ini dipenuhi dengan pertanyaan mau ke mana liburan nanti? Belum lagi saya itu punya kebiasaan buruk, selalu bingung kalau ditanya mau liburan ke mana?
Liburan mendatang ini saya juga belum punya rencana mau ke mana. Ada yang ngajak ke Bali, ada yang ngajak metik strawberry di Ciwidey, ada yang ngajak jemur-jemur di pantai, ada yang ngajak napak tilas jalan-jalan ke hutan lagi. Mana yang natinya bakal terwujud, mbuh! Buat saya sih yang penting bisa istirahat, dolan sama anak-anak, hati senang, ndak kemrungsung dan ndak capek serta full tertawa-tawa, walaupun biasanya saya yang ditertawa-tawakan. Dari semua rencana itu, yang sudah tak bisa diganggu gugat adalah menghadiri mantenan Ibu yang satu ini, sisanya masih penuh dengan ketidakpastian.
Biarlah, teman-teman saya yang baik hati peramah serta tidak sombong itu dan boss besar saya (istri) yang mbundet mikir tukang ndobos ini enaknya dijerumuskan ke mana. Lha wong saya itu maunya berlibur kok malah disuruh ikut mikir to? Kang Mas Pecas Ndahe yang ndasnya belum pecah juga mungkin punya ide sebagus idenya kalau nulis buat blog. Mbah Mo yang hobinya jalan-jalan itu juga mestinya punya usul.
Liburan ... akhirnya dalam waktu kurang dari 48 jam lagi saya memasuki masa itu, dan dalam waktu kurang dari 72 jam lagi sudah kruntelan sama anak-anak dan istri (bukan istri-istri) lagi. Lha, sekalian memenuhi permintaan Mas Yudhi (lagi-lagi) saya mau ndobos soal liburan-liburan yang telah lalu.
Begini Mas Yudhi, saya itu ndak plesiran di luar negri, saya itu plesiran kalau di Indonesia. Bisa macem-macem acara liburan saya, bisa cuma leyeh-leyeh di rumah, kumpul dengan teman-teman, atau jalan-jalan kadang hanya bersama keluarga tetapi sering juga bersama keluarga teman-teman. Jalan-jalan yang paling saya suka itu ke luar dari kota besar, bisa ke pantai, hutan atau gunung. Salah satu liburan yang paling berkesan itu waktu liburan ke Way Kambas.
Kalau ke Way Kambas, saya nyaris tidak pernah berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) yang ramai turis itu. Tujuan saya cuma satu, blusukan di hutan Way Kanan, salah satu lokasi di dalam Taman Nasional Way Kambas. Maklum, lha wong saya dulu pernah lama di tempat ini. Banyak dari para petugas penjaga Taman Nasional ini sudah seperti keluarga sendiri. Anak-anak saya juga suenengnya pol kalau dibawa ke tempat ini. Si Mas yang sudah bisa ndayung dan si Adik yang hobinya memancing ikan (dan memancing keributan) ujug-ujug bisa rukun dan tenang di Sungai Way Kanan. Para petugas itu tidak saja sibuk mencarikan umpan buat si Adik memancing, kadang malah "menyupiri" speedboat untuk mengantarkan si Adik memancing di Kali Biru ... benar-benar serasa baginda raja anak itu di sana.
Kalau ikan sudah didapat, si Adik langsung berlari-lari ke para petugas itu sambil teriak-teriak "Om Apri ... Om Gimin ... Om Dedi ini buat makan siangnya sudah dapat" dan lantas dia sibuk ikut "membantu" acara bersih-bersih dan masak-masak ikan itu. Sementara si Mas, dengan basah kuyup sehabis berenang di sungai dengan santainya berujar "makan apa kita Om?" Si Adik yang biasanya susahnya luar biasa kalau disuruh makan, tiba-tiba jadi lahap sekali makannya.
Menginap di tengah hutan, malam-malam bisa melihat bintang sambil nyeruput kopi dan bertukar cerita tentang kebakaran hutan dan bagaimana mereka harus selalu siap berangkat memadamkan api. Cerita tentang patroli keliling hutan terakhir yang tanpa bekal itu, dikejar gajah liar, cerita Apri tentang hasil camera-trap penelitian harimaunya, kelucuan-kelucuan pada saat mengantar para turis yang hendak melihat burung di Way Kanan atau cerita betapa mbelingnya mahluk bernama Jumadi yang sekarang ikut-ikutan bikin blog itu.
Apri itu jempolan kalau soal burung, ngaku kalah saya sama dia. Bahasa Inggrisnya juga cas cis cus, ndak heran kalau dia lantas jadi rebutan para peneliti untuk dijadikan asisten, walaupun menurut saya dia pantes jadi kepala peneliti. Sementara Dedi, anak Banten-Jawa yang pada saat saya penelitian di tempat ini masih jadi "anak bawang" tukang bersih-bersih kapal, sekarang sudah piawai ngomong dan praktek soal radio-tracking (memetakan pergerakan hewan dengan radio telemetri).
Pulang dari Way Kambas, acara pamitan bisa menghabiskan waktu setengah hari sendiri. Itu acara pamitan sama lebaran ndak ada bedanya, tiap masuk rumah mesti harus duduk dulu, disuguhi segala macem dan HARUS bawa pulang oleh-oleh dari yang dipamiti. Mobil saya itu selalu penuh pemberian yang tak bisa ditolak. Pisang bertandan-tandan, kelapa, kripik pisang, kopi, jambu, kueh dan mbuh apa lagi. Pokoknya persis seperti perampok baru pulang menjarah hasil bumi kampung.
Ya begitu itu, kalau sudah ke sana jadi males pulang. Mobil penuh hasil jarahan, si Mas tidur nyenyak di kasur dan si Adik masih sesenggukan nangis ndak mau pulang. Way Kambas ... bukan hanya berlibur, tapi juga mengunjungi saudara. Dunia masih disesaki oleh banyak orang baik.
Kali ini saya mau nggrundel, misuh-misuh, tetapi tidak disertai dengan benci-benci dan kutuk-kutuk. Belakangan ini saya ada membaca beberapa blog (bisa juga cring) dan email yang menceritakan tentang kesusahan mereka mendapatkan visa untuk berkunjung ke beberapa negara tertentu. Waaah, mau melancong. Mungkin sedang musim libur dan rejeki sedang bagus sehingga bisa bertetirah ke negara manca.
Sama halnya dengan penduduk dunia lainnya yang dianggap "kelas kambing", warganegara Indonesia itu kalau hendak bepergian ke luar negeri ya harus berbekal visa (kecuali untuk segelintir negara tertentu atau jenis passport tertentu), ndak peduli seberapa banyak duitnya dan seberapa tinggi jabatannya. Mau berangkatnya itu nyeker, nyendal jepit, mbakiak atau pakai sepatu Christian Louboutin, pokoknya visa.
Lha, soal visa ini saya punya cerita yang sengak pol. Begini kisahnya. Pada jaman dahulu kala saya ada menerima sebuah undangan untuk berkunjung ke negara Belanda, yang ngundang departemen luar negerinya negara itu juga. Karena pada saat itu saya sedang berada di Inggris, maka sayapun dipetuahi untuk meminta visa di kedutaan besar negara kecil ini di London. Seorang kawan menyarankan agar saya datang ke kedutaan itu jam 5 pagi. Heeeeee ... jam 5 pagi? musim dingin pula. Tetapi baiklah.
Jam lima pagi lebih sedikit tibalah saya di tempat itu, terbungkus rapat seperti lontong jalan, lha wong dingin kok mana pake hujan rintik-rintik lagi. Jaran mendem, itu yang ngantri kok sudah panjang? Lho malah ada yang kayaknya nginep juga di situ. Maka ikut ngantrilah saya di pinggir jalan di luar pagar kedutaan negara mekitik ini. Makin lama antrian ya makin panjang, ada malah seorang Ibu dengan dua anak kecil, yang satu di kereta bayi dan satunya digendong ... melihat mereka itu saya kok merasa bahwa nasib saya jauh lebih bagus.
Pukul delapan pagi, pintu gerbang dibuka dan ada satu orang yang keluar. Wuiiih jan londo tenan, asli iki, badannya besar, kekar, perutnya mumbul-mumbul, ndak senyum, mripate galak, wah mestinya Pak Duta Besar ini ... ooo bukan ternyata, itu petugas bagi-bagi formulir. Pukul setengah sembilan, ndoro londo tadi keluar lagi, weee kali ini bagi-bagi nomer. Saya dapet!! tetapi kok banyak yang nggak dapet ya? termasuk Ibu dan dua anak tadi. Lantas sang ndoro londo njeplak dengan lantang "yang dapet nomer tunggu di luar sini sampai diminta masuk, yang ndak dapet nomer boleh pulang". Oooh begitu .... He??? Lha si mbok yang beranak dua tadi mosok disuruh pulang? setelah 3 jam lebih ngantri di hujan dan dingin!!!
Lha mestinya londo itu rak pinter dan paham soal-soal kemanusiaan to? ah tak ajak ngomong saja "ndoro tuan ... ndoro tuan ... Ibu itu dan anaknya sudah ngantri lama sekali, bisa ya dia ikut masuk". Lha dijawab "he kowe apa tidak tahu aturan, yang tidak dapat nomer tidak boleh masuk, jumlah peminta-minta visa setiap hari dibatasi". Hati saya yang biasanya anyep sejuk itu mulai panas "bagaimana kalau nomer saya ini saya berikan ke Ibu itu saja ndoro tuan", lha malah mendelik "tidak bisa, kowe kalau tidak mau pakai nomer itu terserah, kowe boleh pulang saja". Waaah jan londo asu, kirik, segawon (sekarang saya mendidih beneran), saya mendelik balik. Londo satu ini enaknya diantemi saja apa ya ... tapi ya saya ndak berani, lha wong kekeran dia je, kalau saya ditempiling balik bisa mlintir kayak kitiran sayanya, belum nanti nomer saya diambil lagi, padahal sudah ngantri lama, rugi dua kali, nomer ilang muka ganteng saya remuk. Begitulah, singkat cerita, saya akhirnya dapat visa (diposkan seminggu kemudian).
Beberapa masa kemudian ada saya dengar kalau pemerintah Indonesia memberlakukan perubahan kebijakan soal visa. Tadinya banyak negara yang warganya bisa blas-blus masuk Indonesia. Tidak begitu lagi. Kalau negaranya tidak mem-blas-blus kan warga Indonesia, mereka juga tidak bisa blas-blus ke Indonesia. Lantas diberlakukanlah visa on arrival, bisa diperoleh di beberapa bandara dan pelabuhan laut tertentu, mbayar. Hanya saja warga Belanda tidak bisa dapat visa on arrival, mereka harus ngantri di kedutaan atau konsulat Indonesia di negara di mana mereka berada kalau mau berkunjung ke Indonesia. Lha ini yang bikin saya sangat bersedih hati.
Kenapa? kenapa mereka dibuat susah untuk masuk ke negara saya? mbales? reciprocal visa policy? an eye for an eye? Kenapa? Kenapa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah berbudi luhur berbudaya tinggi harus menurunkan derajatnya serendah bangsa Belanda itu? Apa iya semua orang Belanda itu kelakuannya sama dengan ndoro tuan tukang bagi-bagi formulir dan nomer itu? Mbok mari kita sambut dengan senyum kedatangan orang-orang itu ke negara kita. Takut ada yang menyalahgunakan kemudahan? Lha ya kalau ada yang ngawur tinggal ditangkep lantas disuruh pulang, tapi ndak usah pake dikeplaki segala lho ya.
Kata eyang Mahatma Gandhi "An eye for an eye makes the whole world blind", nyulek mata dibales nyulek mata sak dunia picek kabeh. Tapi ya memang harus begitu mungkin ya, lantas prinsipnya jadi "kalau bisa dibikin susah, kenapa harus dibikin gampang?"
Tambahan: Sekarang ini jika hendak aplikasi visa ke Belanda di London harus pakai janjian dulu, lewat telepon yang pulsanya £ 1 per menit! Ndak tau kalau di Indonesia prosedurnya bagaimana.
Tidak sebagaimana manusia, lumba-lumba dan chimpanzee, burung tidak mengenal istilah "sex for pleasure", buat burung dan kebanyakan binatang lainnya, sex itu ya hanya untuk menghasilkan keturunan, procreative sex begitu istilahnya. Sperma dilepas, sel telur menanti, ketemu, keluarnya anak atau telur. Lha, karena akibat yang ditimbulkan dari acara bikin anak ini bakal berbuntut panjang, hewan-hewan itu lantas "mengatur diri" kapan ritual tersebut dilaksanakan. Untuk hewan yang tinggal di negara bermusim empat, itung-itungannya mesti pas.
Lha ini mau ndobos soal apa to? Saya ini mau ndobos soal birahi burung layang-layang agar hutang saya ke Ibu ini terlunasi. Kata birahi sendiri sepertinya berasal dari kata dalam Bahasa Sansekerta yang artinya kurang lebih cinta yang sangat dalam, menggebu-gebu, secara sungguh-sungguh. Pokoknya kalau sedang birahi gambarannya seperti dunia milik berdua, berjuta rasanya yang kalau diampet bisa berkeping-keping.
Soal birahi burung layang-layang, atau saya sebut saja Layang-layang api (Hirundo rustica) ceritanya begini. Burung yang satu ini sebenarnya adalah burung yang hidup di belahan bumi Utara. Pada saat musim gugur hampir berakhir, berbondong-bondong mereka terbang ke Selatan sejauh belasan ribu kilometer, liburan musim dingin. Pada awal musim semi, mereka kembali lagi kerumahnya untuk membuat sarang, kawin, mengerami telur, membesarkan anaknya dan siap-siap lagi untuk terbang ke Selatan. Rutin itu. Masa birahi burung ini ya singkat-singkat saja, pas mau kawin itu. Ndak seperti manusia yang bisa birahi nyaris sepanjang waktu.
Burung-burung itu membutuhkan pemicu untuk bisa kawin, ya birahi itu. Saat mana hormon-hormon tertentu dalam tubuhnya mulai menggelegak. Burung jantan lantas dandan pol-polan (dalam dunia burung, jantan adalah pesolek), agar tampak menarik dan beberapa jenis bahkan mulai menari-nari untuk menarik betina. Sementara hormon sang betina mulai siap-siap mematangkan telur agar siap pijah dan sang betina juga mulai memilih-milih jantan mana yang layak membuahi telurnya. Kilau bulu, kekokohan badan atau kelincahan menari bisa mengundang birahi betina.
Pada layang-layang api, percumbuan dilakukan di udara dengan saling mengejar, kadang-kadang mereka hinggap dan saling menyentuhkan kepalanya ke badan pasangannya. Burung betina biasanya lebih cenderung memilih jantan berekor panjang. Acara puncaknya sendiri berlangsung di udara, sambil terbang. Begitu selesai, keduanya lantas membangun sarang dari gumpalan lumpur, rerumputan, bulu dan barang-barang empuk nan lembut lainnya. Ada 4 sampai 5 telur dalam satu sarang, yang setelah menetas kedua induknya merawat anak-anak itu bersama-sama. Pas disaat anak sudah mahir terbang, pas musim boyongan itu datang lagi. Berbondong-bondong pindahlah mereka. Pada saat harus kembali ke Utara, kadang ada beberapa layang-layang muda yang memilih tetap tinggal di pengungsian, toh mereka juga belum bisa kawin. Burung ketinggalan ini pernah difoto oleh Pak De Kere Kemplu di sini.
Urusan birahi bagi layang-layang memang harus diatur ketat karena ini menyangkut perut. Terlalu awal kawinnya, pas si anak menetas, makanan belum ada. Telat, makanan sudah habis. Maka bagi layang-layang yang namanya birahi tak terkendali itu bisa bikin celaka. Birahi harus tapi jangan kecepetan, telat atau terlalu lama, bisa-bisa ndak makan itu anak-anak.
Manusia memang bukan burung, tingkahnya macem-macem untuk urusan birahi begini. Makanya jamu seperti jamu sari rapet begitu jadi laris manis. Kalau untuk laki-laki apa ya namanya? Jamu jebol tembok?
Jadi begitulah urusan birahi ini saya tutup. Untuk Mbak Fitri, birahinya sudah saya penuhi lho ya. Lunas.
Hari Minggu, hujan, saya nonton Lion King saja, film kartun yang selalu bisa bikin saya tersenyum geli melihat tingkah dua karakter di dalamnya ... Timon seekor Meerkat dan Pumba si babi hutan (Warthog) para pendamping Simba sang Singa. Salah satu dialog kesukaan saya dalam film ini adalah percakapan tiga sahabat (Simon - Pumba - Simba) tentang bintang.
Pumba (P) : Timon .. Timon (T) : Yea .. P : Ever wonder what those sparkly dots are up there? T : Pumba, I do not wonder ... I know! P : What are they? T : They are fireflies. Fireflies that mmmmm got stuck up on that big ... bluish black thing. P : Ooo gee. I always thought that they were balls of gas burning billions of miles away. T : Pumba .. with you, everything is gas. P : Simba, what do you think? Simba : Well, somebody once told me that the great kings of the past are up there watching over us. P : Really? T : You mean a bunch of royal dead guys are watching us?
Adegan itu saya lihat berulang-ulang, selain supaya saya bisa nulis percakapannya, juga karena buat saya percakapan itu kok ya menarik. Mari kita ganti ketiga tokoh tadi dengan Isaac Newton, Stephen Hawking dan Edward Witten. Mestinya mereka lantas ndobos mulai soal bola gas bercahaya, big bang sampai getaran dawai energinya string theory.
Sampeyan kapan terakhir lihat bintang-bintang di langit itu? dan menurut sampeyan apa sih bintang itu?
Apa ya rasanya nunggang motor yang ngebutnya 300 km/jam? Apa yang nunggang motornya ndak langsung berkibar-kibar itu? Apa ndak terbang? Lha bagaimana saya ndak gumun, lha wong pesawat penumpang terbesar saat ini saja, Boeing 747-400, sudah bisa mengangkasa dengan kecepatan kurang dari 200 km/jam (ground speed, tergantung berat beban dan kondisi landasan pacu). BetuI sodara-sodara sekalian, saya akan ndobos soal balapan lagi.
Mobil F1 paling cepet bisa digeber sampai 386 km/jam, itu record dunia sekarang yang dibuat tahun 1998. Kenceng ya ... tapi coba yang satu ini 347 km/jam, sedikit lebih rendah, tapi kendaraannya rodanya cuma dua dan penunggangnya ndak pake sabuk pengaman. Iya itu kecepatan sepeda motor MotoGP (sampai 990cc). Naaah, kalau ndobos soal MotoGP ya ndobos soal kampiunnyalah, itu lho "doktor" kriting kriwil-kriwil yang belum ada lawannya.
Saya sama Vale (saya ya gini kalo manggil Valentino Rossi itu) sama-sama suka Cameron Diaz dan sama-sama juga suka Blues Brothers. Cuma soal tunggangan dan kecepatan kami berbeda selera, dia suka naik motor, kebut-kebutan sambil mbungkuk-mbungkuk, lha saya suka naik mobil alon-alon dengan bantal di punggung.
Vale lahir di Urbino, Italia, tanggal 16 Februari dua puluh tujuh tahun yang lalu. Mulai suka naik motor umur dua tahun!! jamannya umur segitu saya itu lari saja belum lurus. Vale mulai nyoba-nyoba mbalap dengan motor waktu dia berumur 12 tahun. Umur 14 tahun sudah mulai balapan motor secara serius ... ini mesti SIM C - nya nembak, lha buktinya dia belum bisa tuh waktu itu. Balapan pertamanya dengan motor Cagiva 125cc itu ditandai dengan jatuh-jatuh di tikungan pertama dan kedua padahal itu balapan lokalan saja. Tetapi tahun berikutnya, Vale tidak tertahankan di balapan lokal ini, dan tahun 1995 mulai ngebut di tingkat regional yang hasilnya juara tiga sak Eropa untuk kelas 125cc itu.
Tahun 1996, Vale mulai masuk ke seri balapan tingkat dunia kelas 125cc, dengan balapan pertamanya di Malaysia, cuma finish di urutan ke 6 bahkan di balapan berikutnya di Sentul, Vale cuma finish di urutan ke 11. Lha wong namanya juga tukang trek-trekan baru, tetapi hasil tahun itu tidak terlalu jelek buat Vale yang akhirnya ada di urutan 9 dunia. Lha, tahun berikutnya di kelas yang sama ... Vale ngebut sak ngebut-ngebutnya, dia jadi juara dunia termasuk menang di Sentul.
Tahun 1998, Vale naik kelas, pindah ke 250cc dan bisa jadi juara 2 dunia. Tahun 1999 Vale menjadi juara dunia termuda untuk kelas 250cc. Tahun 2000, Vale naik kelas lagi ke 500cc dan dapet juara 2 dan jadi jawara dunia tahun 2001. Tahun 2002, Vale ada di kelas MotoGP (kelas yang menggantikan kelas 500cc) dan hingga kini juara terus. Di MotoGP ini Vale membuktikan bahwa soal tunggangan ndak masalah, Yamaha kek, Ya Honda kek pokoknya asal ditumpa'i Vale ya menang. Juara kok ndak bosen.
Nah soal naik motor mbungkuk itu ada cerita Vale kalah balapan sama sepur, kereta api, waktu latihan mau ikut balapan di Sentul. Padahal sepurnya ya sepur Indonesia je ... Bogor - Sukabumi, dan Vale sudah mbungkuk pol biar motornya lari sak kenceng-kencengnya ... ya masih saja kalah. Lha ternyata ... pas dilihat, itu penumpang sak gerbong lagi mbungkuk semua.
MMembaca tulisan di blog tetangga saya jadi gatel. Lha mengaku sebagai oxymoron je, padahal .... lihat sajalah kesimpulan ndobos saya kali ini. Gatel bikin saya kok jadi ingin ndobos soal di luar burung, wayang dan bintang-bintang. Lagipula sudah agak lama saya ndak nulis spontan tanpa "penelitian" model begini. Saya mau ndobos soal skripsi, disertasi, final paper, thesis atau tugas akhir ... terserah sampeyan nama mana yang mau dipakai, toh buat saya ndak ada bedanya, semuanya sama artinya dengan "pengucilan diri sambil kemrungsung" yang disingkat PSK.
PSK saya yang pertama itu adalah hasil klayapan di hutan selama dua tahun yang isinya (kalau bisa dibilang begitu) adalah cerita soal kenapa hewan ini begitu dan begini, ndak penting. PSK itu saya tulis dengan bantuan komputer berotak Intel 8086 dan disimpan dalam media yang untuk jaman sekarang lebih pas untuk dijadikan tatakan piring. Seperti lazimnya sebuah PSK, harus dapat ijin layak jilid dari para tokoh yang berpangkat dosen pembimbing yang kadang gelarnya lebih panjang dari namanya. Kok ya tega-teganya itu nama yang dijepit gelar-gelar begitu harus ikut ditulis, apa ndak narsis itu namanya?
Persoalan untuk mendapatkan ijin layak jilid itulah yang kadang mengundang rasa jengkel ... bukan ... bukan jengkel sepeda, ini jengkel beneran tanpa plesetan. Hasil begadangan yang tersusun rapih dalam puluhan lembar kertas itu dengan teganya lantas dirubah menjadi topeng badut, penuh coretan bertinta merah dan tulisan tangan tidak layak baca disemua halaman. Tulisan ini harus diperbaiki, begitu pesannya. Celakanya, kejadian begini tidak hanya terjadi sekali, bisa berkali-kali dan mahluk dosen pembimbing itu jumlahnya lebih dari satu. Entah sudah berapa rim kertas habis hanya untuk mendapatkan stempel layak jilid.
Kalau begini terus, PSK saya kan bisa-bisa isinya bukan lagi pikiran saya tapi pikirannya para dosen pembimbing yang tidak ikutan blusukan di hutan dua tahun. Sampeyan pernah mengalami kejadian begini? ada kiat jitu untuk mengatasi hasrat mencoret berlebih dari dosen-dosen itu. Lho ... tukang ndobos kok dilawan. Begini, biarkan tulisan sampeyan itu diacak-acak, biarkan saja, terima saja. Kemudian, menghilanglah barang seminggu, jangan temui oknum gila nyoret itu. Lha ... seminggu kemudian, temui lagi dia dengan tulisan yang sama persis sambil berkata "ini Pak/Bu hasil yang kemarin itu". Logikanya sederhana saja, para dosen itu merasa tulisan baru layak jilid kalau sudah dicoreti, dikomentari sebanyak tiga atau empat kali. Works for me.
PSK saya yang kedua mengakalinya tidak semudah PSK pertama. Jaman sudah berubah, tulisan tidak perlu dicetak rapih dan diserahkan dengan cara tatap muka dengan para dosen pembimbing. Tulisan diserahkan dalam bentuk surat elektronik atau email. Hemat kertas, hemat tenaga. Hanya saja, para dosen itu sekarang punya salinan tulisan sampeyan terdahulu. Tidak ada akal-akalan di sini, yang diuji adalah tingkat percaya diri.
Untungnya saya, para dosen pembimbing di sekolah saya ini, bukanlah modelnya dosen kemlinthi, yang ndak boleh didebat dan diajak berkelahi. Kalau coretannya ndak penting-penting amat, dosennya saya datangi, saya nyerocos ... "Pak, sampeyan itu dosen pembimbing bukan editor". Kalau coretannya mengarah ke perubahan isi, saya nyerocos ... "ini PSK saya bukan PSK sampeyan, apa sampeyan sudah baca ini ini ini ini ini ini itu itu itu itu itu itu. Kalau dirubah seperti ini maka jadinya akan begini begini begini dan saya tidak sepaham dengan jalan pikiran begitu" (catatan: nyerocosnya harus dengan sesedikit mungkin menarik napas, jaga nada suara untuk tetap rendah, tatap matanya, dan jangan lupa tangan harus bergaya seperti tangannya SBY). Selesai. Works for me.
Lha ... ada juga dosen yang gila statistik, gila rumus dan gila angka. Ada juga yang maunya PSK itu harus tebal, penuh gambar, grafik, angka, rumus ... pokoknya harus "kelihatan pintar" dan mbingungi. Lho ... pintar kok disamakan dengan mbingungi, ini yang kayaknya pantes disebut oxymoron, yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan lantas disingkat jadinya pinpinbo itu.
Oh iya ... PSK saya pertama 50 halaman termasuk cover, yang kedua 24 halaman. Kalau PSK sampeyan seberapa montoknya?
Saya itu tanya ke sampeyan semua soal kenapa simbol negara kita itu, Garuda, kok nengoknya ke arah barat. Saya itu tanya karena saya sendiri ya ndak paham benar, cuma nebak-nebak saja, lha kok malah disuruh cerita soal ini. Ya sudah, saya ndobos saja sekalian. Hanya saja tolong diingat bahwa yang saya tulis ini belum tentu benar (bisa juga dibaca belum tentu salah).
Soal tolehan Garuda ini saya lontarkan tadinya karena saya kok ndak nemu kisah kenapa dulu Sultan Hamid II dan Bung Karno itu nggambar Garuda-nya kok begitu. Soal jumlah bulu sayap, ekor dan leher, sudahlah, itu pengetahuan yang sangat umum. Toh soal yang satu ini juga lantas mengundang gojek ra mutu yang tetap saja membuat saya tersenyum. Coba kalau Indonesia merdeka tanggal 2 Januari, apa ndak lambang negara kita itu jadi capung atau laron jadinya.
Menurut saya begini. Ingat Hanuman, monyet (mohon dibedakan antara monyet dan kera -- monkey and ape) berbulu putih, titisan Batara Bayu, sakti, abdi Rama yang setia dan anti api itu? Lha katanya, Hanuman itu punya 5 wajah (pancamukha). Kalau ada istilah orang bermuka dua yang konotasinya negatif, Hanuman yang berwajah lima ini semua bermakna positif. Lima muka Hanuman itu adalah; Hayagriva yang menghadap ke atas, Varaha yang menghadap ke Utara, Narashima menghadap ke Selatan, wajah Hanuman yang kita kenal itu menghadap ke Timur dan Garuda yang menghadap ke Barat.
Lha kok ke Barat? Tak ada juga penjelasan soal ini, maka saya ndobos saja dengan bersemangat. Seperti juga wajah-wajah Hanuman lainnya yang punya makna, wajah Garuda-nya Hanuman dipercaya sebagai kekuatan untuk melawan ilmu hitam dan racun. Buat saya itu adalah lambang melawan kegelapan. Gelap seperti saat matahari menghilang di Barat. Gelap yang membutuhkan cahaya dan Garuda adalah cahaya.
Bagaimana tidak, Garuda itu katanya waktu lahir terang benderang, padang gilar-gilar, bahkan sempat dikira Batara Agni sang dewa api. Tubuhnya juga memancarkan cahaya yang berkilau. Klop sudah, gelap lawannya terang. Maka Garuda harus noleh ke kanan, ke arah Barat, untuk melawan kegelapan.
Dalam kisah lain yang tidak ada hubungannya, rumah Garuda itu di Barat. Coba kalau sampeyan sedang ada di luar kota besar pada malam hari disaat langit terang oleh bintang dan tak berawan. Tengoklah ke arah Barat, Rasi Bintang Aquila (Garuda) ada di sana seolah sedang melayang melintas Bima Sakti (Milky Way).
Bintang Altair yang paling terang adalah kepalanya dan diapit oleh Alshain sebagai sayap dan Tarazed sebagai paruhnya. Pada rasi bintang itu bisa juga dilihat ada Delta Aquila sebagai brutu Garuda, Eta Aquila sebagai ujung sayap dan Iota Aquila sebagai ujung ekornya.
Lha karena sebab-sebab di atas itulah saya berani bilang bahwa Garuda itu menolehnya ya harus ke Barat. Tapi lha wong saya itu cuma ndobos, kalau salah ya maaf. Begitu, jadi lunas hutang saya buat para insan penasaran soal tolehan Garuda ya. Sampeyan punya pendapat lain?
Lagu Cucak rowo, yang entah diciptakan oleh siapa, sempat populer agak lama di Indonesia dan mungkin juga di Suriname. Soal siapa yang mempopulerkannya silahkan sampeyan berdebat saja sendiri, apakah Didi Kempot, Tina Toon, Inul bor-boran, Rona penyanyi cilik dari Kendal, Harris Sudarwanto a.k.a HR Senopati a.k.a Londo atau malah supporter PSIS, karena dulu (entah sekarang) lagu ini jadi lagu wajib para supporter PSIS setiap kali Panser Biru tanding di Semarang. Kali ini ijinkan saya ndobos ngalor ngidul campur aduk soal Cucak rowo ini. Kalau lantas dianggap saru, porno, jorok, saya minta maaf duluan ya.
Cucak rowo atau juga dikenal dengan nama Cucak rawa, Straw-headed Bulbul atau Pycnonotus zeylanicus adalah nama burung yang hidup di Indonesia (Sumatera, Kalimantan dan Jawa*), Singapura, Malaysia (Sabah, Sarawak, Semenanjung Malaya), Thailand dan Myanmar bagian selatan. Burung ini termasuk keluarga Kutilang dan hidup di hutan-hutan dataran rendah di dekat aliran sungai, mungkin karena inilah namanya berakhiran dengan kata "rawa". Tidak seperti kerabatnya sesama Kutilang yang rajin bernyanyi di pucuk pohon cemara (atau cempaka?), Cucak rawa sering turun ke tanah untuk mencari makan.
Bagi penggemar burung berkicau dalam kandang, suara Cucak rawa katanya bagus. Keelokan suaranya jugalah yang menjadi salah satu penyebab Cucak rawa masuk dalam daftar jenis burung yang terancam punah. Lha bagaimana ndak terancam punah lha wong Cucak rawa itu adalah salah satu burung hot item untuk diburu dan lantas dimasukan ke dalam kandang je. Belum lagi hutan dataran rendah yang jadi rumahnya itu gurih banget buat "disantap" oleh penggundul hutan. Berita sedih berikutnya adalah, burung ini di Pulau Jawa sudah punah di alam, habis bis bis. Terakhir terlihat di Ujung Kulon pada awal tahun 1970-an.
Kembali ke lagu Cucak rowo tadi, kata lagu itu Cucak rowo dowo buntute (panjang buntutnya), saya saja yang berani memproklamirkan diri sebagai tukang ndobos ndak berani bilang buntutnya Cucak rawa itu panjang. Buntutnya (atau tepatnya bulu ekornya) ya ukurannya kira-kira sama dengan Kutilang. Lirik lagu itu juga berbunyi buntute sing akeh wulune (buntutnya yang banyak bulunya), haiyaaah ... banyak bagaimana? Jumlah bulu ekornya sama dengan Kutilang, persis! Nek di goyang ser ser aduh enake ... ndak ngerti saya. Burung kok digoyang-goyang to? mungkin liriknya mesti diganti jadi nek digoyang ser ser mumet manuke.
Ndobos soal burung, ada satu gojek kere dan saru soal burung :
Dul : Dil .. bentuknya panjang, ada rambutnya, tempatnya di selangkangan, apa coba .... tapi ndak boleh jorok lho ya. Dil : He? Wah kalau ndak boleh jorok, ndak tahu saya jawabannya. Dul : Waaah ... payah kamu Dil, jawabannya itu titit!. Dil : Lho ... katanya ndak boleh jorok. Dul : Lha ya kalau tititmu itu jorok mbok ya dicuci dulu.