Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Ini kerjaannya Dinda dan saya dipakai jadi tameng. Tapi karena ngajaknya kumpul-kumpul dan pakai makan-makan, lha mana bisa saya tolak, lha wong saya itu sebangsa laler kok, kalo ada makanan ya wajarnya mesti dateng. Jadi begitulah sodara-sodara sekalian, ada undangan buat kumpul-kumpul ini ceritanya dan anda semua diajak ikut berkumpul.
Kang Mas Pecas Ndahe lantas meminta saya memajang pengumuman kumpul-kumpul ini, dengan harapan para pembacanya sudi untuk datang untuk terlibat dalam acara bertatap-tatapan itu. Tetapi, seperti yang dikatakan Kang Mas Pecas itu, "Saya tahu, mungkin ndak semua blogger tertarik datang, apalagi sudi bertemu kami. Mungkin juga ada di antara sampean yang sudah punya acara lain atau masih sibuk bekerja sehingga tak bisa datang. Ndak apa-apa. Ini undangan sukarela, suka-suka. Pokoke santai sajalah".
Ngumpulnya kapan? Hari Kamis tanggal 20 Juli 2006. Tempatnya di Kafe Omah Sendok, Jalan Taman Empu Sendok 45, Blok S, Jakarta Selatan. Katanya tempat itu persisnya ada di belakang pom bensin Senopati, tetapi mudah-mudahan makannya ndak pake aroma bensin. Oh iya, waktunya jam 7 malam sampe warungnya tutup.
Begitu saja ajakan ini, sampai ketemu besok ya .....
tambahan: kata penggagas acaranya "yarwe" ... mbayar dewe-dewe. Dress code? lha...code-nya ndak ada, tapi kalau bisa mohon pakai dress.
Liburan kali ini, selain diisi dengan acara wajib sowan, tentunya juga diisi dengan bertetirah ke beberapa tempat pengundang gembira kesukaan saya. Salah satunya adalah Pantai Ciputih di Ujung Kulon, Banten. Saya suka tempat ini karena pantainya relatif masih bersih, sehingga tak perlu resah pada saat anak-anak sedang berenang-renang atau hanya sekedar main air di pantai. Pengunjungnyapun tak ramai, mungkin karena jalan untuk mencapai tempat ini dari Sumur bisa dibilang rusak kalau tidak mau dibilang hancur. Tetapi yang terpenting, di Ciputih saya bisa leyeh-leyeh dan bisa makan ikan yang masih segar-segar, bukannya makan ikan yang disuruh pura-pura segar seperti di beberapa toko swalayan itu.
Bicara soal makan, dalam perjalanan menuju lokasi tetirah, ada sebuah tempat makan yang tak pernah saya lewatkan untuk dihampiri. Rumah Makan Astry (pakai "y") namanya dan berada di Jalan Raya Labuan sekitar 3 km dari kota Labuan. Jenis makanan yang selalu saya uber di rumah makan ini adalah otak-otak yang ukurannya jumbo. Lha bagaimana ndak jumbo, otak-otak yang kalau di kota-kota besar itu hanya bajunya saja yang besar sementara isinya memiliki ukuran yang memalukan, di tempat ini isinya sampai menuh-menuhin bungkusnya. Disajikan selagi hangat beserta bumbu kacang yang boleh minta lagi sesuka hati, sungguh belum ada lawannya. Akan tetapi karena ukurannya yang tidak umum, paling kuat saya hanya bisa menyantap lima bungkus.
Sebagaimana layaknya rumah makan dengan sajian utama hidangan (dari) laut, tersedia pula sajian ikan, udang dan cumi-cumi yang nikmat rasanya disantap dengan nasi ngebul-ngebul yang dimasak dengan dandang berteknologi lama. Sebagai pelengkap juga tersedia minuman bersebutan "joice" (pakai "o") jeruk, alpukat, melon dan tomat yang kalau mau dicampur-campur juga boleh .... sueger pol itu mestinya, cuma saya kok ya belum pernah pesan. Biasanya saya cuma pesan joice teh anget manis saja.
Lha masalahnya sekarang, Ciputih sendiri itu masih dua jam lebih dari tempat makan sedap ini. Sementara saya itu persis ular, kalau perut penuh lantas ngantuk, untungnya kali ini teman saya yang menyupiri sehingga saya bisa lier-lier tidur-tidur ayam. Akan tetapi, kenikmatan tidur-tidur ayam begini tak akan bisa dinikmati begitu lepas dari Sumur menuju tempat menginap yang jaraknya 7 km itu. Jalan yang hanya berupa jalan tanah bertabur kerikil itu wajahnya sudah ndak karu-karuan, dan dimusim hujan pasti lebih mirip sungai daripada jalan mobil. Jangan berharap banyak jika sampeyan mau mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan sedan atau kendaraan roda empat lain yang berlantai rendah. Bisa-bisa mobil sampeyan malah nyangkut dan berjungkat-jungkit seperti timbangan daging.
Lokasi tempat menginap yang menjadi tujuan itu letaknya persisi di bibir pantai berpasir putih. Dari teras tempat menginap deru ombak bisa didengar dengan jelas, ditambah dengan hembusan angin pantai berbau garam lengkaplah sudah suasana pantainya. Panas? ya tidak juga, karena tempat ini banyak ditumbuhi pohon-pohon yang sudah besar berdaun rimbun. Berenanglah sepuasnya, karena ombak di pantai ini juga ramah. Airnya jernih, ndak nggilani seperti air di Pantai Ancol itu. Selesai berenang, jangan lupa membersihkan badan dengan air tawar, kecuali kalau sampeyan berminat merubah diri jadi ikan asin.
Suasana malam hari lebih yahud lagi, terutama pada saat langit tak berawan. Bintang-bintang, sampe sampeyan keringetan ngitungnya ndak bakal habis itu bintang dihitungi semua. Piringan galaksi Bima Sakti juga jelas terang terlihat, putih seperti tumpahan susu. Sesekali bisa dilihat seleretan meteorit, "bintang jatuh".
Lebih nikmat lagi jika makan malam dimasak sendiri di pinggir pantai. Bukan hanya soal ini masakan sendiri, tetapi prosesnya yang mbundet dan lama itu bikin perut teriak-teriak ndak sabar dan yang namanya air liur sudah seperti banjir bah. Pol tenan nikmatnya makan ikan bakar, seperti syair lagu Antara Anyer dan Jakarta yang diplintir sedikit ... "deru sang ombak, bergilir ke pantai, disambut alunan, liur melambai".
Setelah ngampet ndobos sejak hari Sabtu lalu itu, baru kali ini saya bisa nulis lagi. Sebetulnya belum ada cerita berlibur yang layak untuk diceritakan, tetapi dari pada ngampet ndobos yang bisa berakibat merusak kesehatan jiwa, biarlah saya ndobos soal hari-hari pertama liburan kali ini.
Tiba kembali di Bogor, sambutannya sangat khas Bogor, hujan, listrik mati dan jeritan klakson angkot yang ngangeni itu. Sebagaimana layaknya orang pulang kampung, ya harus ada acara sowan sana-sini dulu. Hari inipun sebetulnya masih dalam rangka setor muka sambil cengengesan begitu. "Sampurasuuuuuun ... spadaaaaa ... ini lho saya datang tanpa oleh-oleh. Oooo kabar saya baik he he he he ... ada cendol?" Lha ... daripada disuguhi minuman tak nikmat teguk, seperti jamu godogan, dan lantas dikata-katai sombong karena suguhan minumannya tak disentuh kan lebih baik kalau kawan yang disambangi itu diberitahu dahulu saya itu senangnya disuguhi apa.
Siang tadi juga begitu, mengunjungi kantor kawan yang tempatnya nyaman, duduk di bawah pohon jambu air yang mulai berbuah di pinggir kali kecil sambil nyeruput dawet ayu, cendol yang dicemplungi irisan nangka, serta disuguhi jajanan pasar. Lebih lengkap lagi setelah diberi ijin untuk menggunakan fasilitas akses internet nir-kabel dan nir-mbayar. Namanya juga sedang berlibur, tentu saja itu semua lantas dilakoni dengan girang hati.
Setelah selesai menghabiskan sajian makan siang, sayapun pindah ke kantor kawan yang lain. Lha, di kantornya teman satu ini, kembali sifat saya untuk tidak menyusahkan teman, memikirkan harus menyuguhi apa, saya lakukan lagi. Apalagi dia tadi itu sedang pilek, kasihan kalau masih disuruh mikir saya itu pantesnya disuguhi apa. Teh sosro panas manis.
Ah, teman-teman itu, kok ya ndak ada kapok-kapoknya dirusuhi terus-terusan begini. Padahal saya itu datangnya ya begitu saja, nongol dan sekonyong-konyong bersabda. Suatu hal yang rasanya ndak mungkin dilakukan kalau sedang di Jepang yang apa-apa harus pakai janjian dulu. Tanpa spontanitas dan kejutan. Bahkan terkadang topik pembicaraanpun sudah direncanakan sejak awal. Beda sekali dengan sowan kali ini, yang setelah disuguhipun masih ndak tahu ngomong soal apa ... ya apa saja, lha wong saya itu bisanya cuma ndobos itu.
Coba sekarang, sampeyan kalau sedang sowan seperti saya ini, ngapain saja sih?
Dari pada plonga-plongo nunggu pesawat ke Jakarta saya tak ndobos saja soal apa-apa saja tingkah polah saya dalam penerbangan, terutama penerbangan yang agak panjang, karena saya itu ndak pernah bisa tidur di pesawat, biar dikasih bantal empuk, selimut hangat dan kursi bisa diubah jadi tempat tidur.
Nonton film. Kalau pas ada yang bagus, ya paling-paling ini yang bisa dilakukan. Ada 80 saluran yang bisa dipilih dan on-demand, bisa mulai nonton kapan suka begitu, dan ada layar monitornya untuk tiap bangku. Kalau dekat-dekat waktu pengumuman Oscar, biasanya filmnya banyak yang bagus. Kalaupun tidak, ada beberapa film dokumenter yang layak tonton. Hanya saja kulit telinga saya itu rada-rada sensitif sama busa penutup ear-phone/head-phone, jadi habis nonton selain garuk-garuk bokong yang panas juga garus-garuk telinga yang gatel.
Jalan-jalan di lorong. Biar ndak pegel-pegel karena kelamaan duduk, bisa jalan-jalan di lorong pesawat. Hanya saja ya harus sabar karena sering banget ketemu awak kabin yang hobinya ndorong-ndorong kereta makanan itu atau sedang ngusung-ngusung minum. Kok ya rajin banget toh ya, itu penumpang kan kebanyakan juga pada tidur. Mbok ya dibiarkan tidur gitu lho, nanti kalau ada yang haus toh tinggal pencet tombol kalau mau minta minum.
Menjelajahi toilet. Lha, ini kegiatan alternatif yang asik juga. Walaupun tampaknya sama saja tiap toilet, tapi kalau diperhatikan ya ada juga bedanya kok. Buka-buka saja itu laci di toilet, ngitung ada berapa sisir, pisau cukur dan sikat gigi sekali pakai yang ada di dalamnya. Bisa juga ngaca, boleh kan sekali-kali menakut-nakuti diri sendiri. Aneh juga itu pisau cukur boleh ada di dalam kabin pesawat. Sejak keamanan penerbangan diperketat, sendok, garpu dan pisau diganti dari yang logam ke yang plastik, tapi pisau cukur masih ada juga.
Menelpon. Mahal memang US$5 per menit ke manapun tujuan teleponnya. Saya sendiri belum pernah pakai fasilitas ini, tetapi saya lihat beberapa penumpang ada saja yang menelpon, dan dari hasil nguping ya cuma mau halo-halo gak penting juga, cuma mau bilang "hai, saya di 35 ribu kaki ini" ... terus kenapa?
Nginternet. Ini termasuk fasilitas baru yang lumayan sering saya pakai. Kalau yang seneng cetingan, lumayan bisa "ngobrol" sama temannya, atau blogwalking toh mirip-mirip sama baca buku juga. Bisa juga dipake buat nulis. Selain itu, karena sambungannya bagus dan cepat, bisa juga dipakai nonton beberapa acara TV seperti siaran berita atau acara olah raga.
Masuk ruang kemudi. Ini salah satu aktivitas yang dulu paling sering saya lakukan. Tetapi sejak ada pesawat yang dipakai buat nabrak gedung, hal ini jadi suuuuusahnya setengah mati. Padahal asik juga ngobrol-ngobrol dengan para penerbang itu soal bagaimana pesawat beroperasi, dan ngobrol soal peralatan terbaru di ruang kemudi. Dulu itu, hampir pasti diijinkan untuk masuk jika pesawat sudah berada di ketinggian jelajah. Toh pada masa-masa itu, kerja pak kapten dan first officer sudah "tidak terlalu banyak". Lha wong pilot-pilot pesawat modern itu kalau dihitung-hitung lebih banyak ndak megang kemudi kok. Full mencet-mencet dan melototi layar-layar monitor.
Pilot baru agak sibuk, di luar lepas landas dan mendarat, kalau ada apa-apa yang bisa membuat penerbangan jadi tak nyaman, misalnya bakal ada turbulensi agak besar di jalur terbang. Minta ijin buat ganti jalur, merubah ketinggian atau mengurangi kecepatan yang terkadang, jika diijinkan oleh pengawas lalu-lintas penerbangan, juga tinggal pencet sana pencet sini lantas pesawatnya mlintir sendiri.
Kalau saya boleh tahu, sampeyan ngapain saja biar ndak bosen kalau sedang ada di dalam pesawat?
Libur ... huhuuuy hari ini libur dimulai, maksudnya ini libur dari tempat yang rajin banget ngirimi saya uang tiap bulan itu. Dari tempat ini saya dapet jatah cuti resminya 25 hari kerja dalam setahun, yang ndak resmi ya ndak ada tertulis diaturannya. Lha yang namanya ndak tertulis itu kan bukan berarti tidak boleh to? Tapi lha wong saya ini namanya juga pegawe yang disayangi oleh majikan, jatah resmi saja tidak pernah habis.
Masalahnya sekarang bukan soal habis tidak habisnya jatah itu, tapi apa iya saya bisa cuti ndobos? Lantas kalau bisa, ini isi kepala mau dibuang ke mana? "Nganu ... sampeyan ndobos live saja, unplugged". Haiyaaaah ... mana bisa, lha wong saya ini pemalu dan pendiamnya nyundul langit kok! Ndobos nulis ini sudah yang paling pas. Lagi pula kalau nulis itu, ada kesalahan bisa diubah, diperbaiki, lha kalau ndobos langsung, salah ya salah sudah ... ndak segampang bilang maaf kayak penyiar tv yang tiba-tiba berbangkis pas baca berita itu. " .... situasi di sekitar Merapi yang sedang ...uuu uuu UUUWAHIIIING... maaf ..." untung penyiarnya ndak pake sanggul, kalo pake, apa ndak nggelinding sanggulnya. Bisa-bisa lantas dipotong iklan warta beritanya, karena penyiarnya lagi sibuk nguber sanggul.
Pokoknya tidak lah ya kalau saya harus ndobos nyerocos secara langsung. Hanya saja, tampaknya frekuensi ndobos yang minimal sehari sekali ini, selama masa libur tampaknya akan turun. Lagi pula tempat saya berlibur nanti, yang belum pasti mau ke mana, bisa saja tidak memiliki fasilitas sambungan internet. Kalau dalam perjalanan pulang ke Bogor atau dari Bogor ke Tokyo lagi ndak ada masalah, toh sekarang bandara yang disinggahi menyediakan fasilitas ini secara cuma-cuma. Di dalam pesawat juga begitu, berfasilitas internet nir-kabel.
Jadi, saya liburan dulu ya. Kalau nanti bisa curi-curi kesempatan saya akan ndobos tertulis. He he he, siapa bilang kerja itu lebih sibuk dari pada liburan? Ndobos saja ndak sempat.
Mumpung belum minggat liburan saya meneruskan ndobos soal liburan lagi ya. Ini ceritanya saya itu belum libur tapi persiapannya lebih seru ketimbang mau mantenan. Lha jelas saja konsentrasi kerja saya jadi ambyar, berkeping-keping, lantas kerjanya jadi agak ogah-ogahan gitu. Untungnya yang mbayar saya konsentrasinya masih penuh, dan mbayarnya ndak ogah-ogahan. Bagaimana konsentrasi tidak berantakan, pikiran ini dipenuhi dengan pertanyaan mau ke mana liburan nanti? Belum lagi saya itu punya kebiasaan buruk, selalu bingung kalau ditanya mau liburan ke mana?
Liburan mendatang ini saya juga belum punya rencana mau ke mana. Ada yang ngajak ke Bali, ada yang ngajak metik strawberry di Ciwidey, ada yang ngajak jemur-jemur di pantai, ada yang ngajak napak tilas jalan-jalan ke hutan lagi. Mana yang natinya bakal terwujud, mbuh! Buat saya sih yang penting bisa istirahat, dolan sama anak-anak, hati senang, ndak kemrungsung dan ndak capek serta full tertawa-tawa, walaupun biasanya saya yang ditertawa-tawakan. Dari semua rencana itu, yang sudah tak bisa diganggu gugat adalah menghadiri mantenan Ibu yang satu ini, sisanya masih penuh dengan ketidakpastian.
Biarlah, teman-teman saya yang baik hati peramah serta tidak sombong itu dan boss besar saya (istri) yang mbundet mikir tukang ndobos ini enaknya dijerumuskan ke mana. Lha wong saya itu maunya berlibur kok malah disuruh ikut mikir to? Kang Mas Pecas Ndahe yang ndasnya belum pecah juga mungkin punya ide sebagus idenya kalau nulis buat blog. Mbah Mo yang hobinya jalan-jalan itu juga mestinya punya usul.
Liburan ... akhirnya dalam waktu kurang dari 48 jam lagi saya memasuki masa itu, dan dalam waktu kurang dari 72 jam lagi sudah kruntelan sama anak-anak dan istri (bukan istri-istri) lagi. Lha, sekalian memenuhi permintaan Mas Yudhi (lagi-lagi) saya mau ndobos soal liburan-liburan yang telah lalu.
Begini Mas Yudhi, saya itu ndak plesiran di luar negri, saya itu plesiran kalau di Indonesia. Bisa macem-macem acara liburan saya, bisa cuma leyeh-leyeh di rumah, kumpul dengan teman-teman, atau jalan-jalan kadang hanya bersama keluarga tetapi sering juga bersama keluarga teman-teman. Jalan-jalan yang paling saya suka itu ke luar dari kota besar, bisa ke pantai, hutan atau gunung. Salah satu liburan yang paling berkesan itu waktu liburan ke Way Kambas.
Kalau ke Way Kambas, saya nyaris tidak pernah berkunjung ke Pusat Latihan Gajah (PLG) yang ramai turis itu. Tujuan saya cuma satu, blusukan di hutan Way Kanan, salah satu lokasi di dalam Taman Nasional Way Kambas. Maklum, lha wong saya dulu pernah lama di tempat ini. Banyak dari para petugas penjaga Taman Nasional ini sudah seperti keluarga sendiri. Anak-anak saya juga suenengnya pol kalau dibawa ke tempat ini. Si Mas yang sudah bisa ndayung dan si Adik yang hobinya memancing ikan (dan memancing keributan) ujug-ujug bisa rukun dan tenang di Sungai Way Kanan. Para petugas itu tidak saja sibuk mencarikan umpan buat si Adik memancing, kadang malah "menyupiri" speedboat untuk mengantarkan si Adik memancing di Kali Biru ... benar-benar serasa baginda raja anak itu di sana.
Kalau ikan sudah didapat, si Adik langsung berlari-lari ke para petugas itu sambil teriak-teriak "Om Apri ... Om Gimin ... Om Dedi ini buat makan siangnya sudah dapat" dan lantas dia sibuk ikut "membantu" acara bersih-bersih dan masak-masak ikan itu. Sementara si Mas, dengan basah kuyup sehabis berenang di sungai dengan santainya berujar "makan apa kita Om?" Si Adik yang biasanya susahnya luar biasa kalau disuruh makan, tiba-tiba jadi lahap sekali makannya.
Menginap di tengah hutan, malam-malam bisa melihat bintang sambil nyeruput kopi dan bertukar cerita tentang kebakaran hutan dan bagaimana mereka harus selalu siap berangkat memadamkan api. Cerita tentang patroli keliling hutan terakhir yang tanpa bekal itu, dikejar gajah liar, cerita Apri tentang hasil camera-trap penelitian harimaunya, kelucuan-kelucuan pada saat mengantar para turis yang hendak melihat burung di Way Kanan atau cerita betapa mbelingnya mahluk bernama Jumadi yang sekarang ikut-ikutan bikin blog itu.
Apri itu jempolan kalau soal burung, ngaku kalah saya sama dia. Bahasa Inggrisnya juga cas cis cus, ndak heran kalau dia lantas jadi rebutan para peneliti untuk dijadikan asisten, walaupun menurut saya dia pantes jadi kepala peneliti. Sementara Dedi, anak Banten-Jawa yang pada saat saya penelitian di tempat ini masih jadi "anak bawang" tukang bersih-bersih kapal, sekarang sudah piawai ngomong dan praktek soal radio-tracking (memetakan pergerakan hewan dengan radio telemetri).
Pulang dari Way Kambas, acara pamitan bisa menghabiskan waktu setengah hari sendiri. Itu acara pamitan sama lebaran ndak ada bedanya, tiap masuk rumah mesti harus duduk dulu, disuguhi segala macem dan HARUS bawa pulang oleh-oleh dari yang dipamiti. Mobil saya itu selalu penuh pemberian yang tak bisa ditolak. Pisang bertandan-tandan, kelapa, kripik pisang, kopi, jambu, kueh dan mbuh apa lagi. Pokoknya persis seperti perampok baru pulang menjarah hasil bumi kampung.
Ya begitu itu, kalau sudah ke sana jadi males pulang. Mobil penuh hasil jarahan, si Mas tidur nyenyak di kasur dan si Adik masih sesenggukan nangis ndak mau pulang. Way Kambas ... bukan hanya berlibur, tapi juga mengunjungi saudara. Dunia masih disesaki oleh banyak orang baik.
Kali ini saya mau nggrundel, misuh-misuh, tetapi tidak disertai dengan benci-benci dan kutuk-kutuk. Belakangan ini saya ada membaca beberapa blog (bisa juga cring) dan email yang menceritakan tentang kesusahan mereka mendapatkan visa untuk berkunjung ke beberapa negara tertentu. Waaah, mau melancong. Mungkin sedang musim libur dan rejeki sedang bagus sehingga bisa bertetirah ke negara manca.
Sama halnya dengan penduduk dunia lainnya yang dianggap "kelas kambing", warganegara Indonesia itu kalau hendak bepergian ke luar negeri ya harus berbekal visa (kecuali untuk segelintir negara tertentu atau jenis passport tertentu), ndak peduli seberapa banyak duitnya dan seberapa tinggi jabatannya. Mau berangkatnya itu nyeker, nyendal jepit, mbakiak atau pakai sepatu Christian Louboutin, pokoknya visa.
Lha, soal visa ini saya punya cerita yang sengak pol. Begini kisahnya. Pada jaman dahulu kala saya ada menerima sebuah undangan untuk berkunjung ke negara Belanda, yang ngundang departemen luar negerinya negara itu juga. Karena pada saat itu saya sedang berada di Inggris, maka sayapun dipetuahi untuk meminta visa di kedutaan besar negara kecil ini di London. Seorang kawan menyarankan agar saya datang ke kedutaan itu jam 5 pagi. Heeeeee ... jam 5 pagi? musim dingin pula. Tetapi baiklah.
Jam lima pagi lebih sedikit tibalah saya di tempat itu, terbungkus rapat seperti lontong jalan, lha wong dingin kok mana pake hujan rintik-rintik lagi. Jaran mendem, itu yang ngantri kok sudah panjang? Lho malah ada yang kayaknya nginep juga di situ. Maka ikut ngantrilah saya di pinggir jalan di luar pagar kedutaan negara mekitik ini. Makin lama antrian ya makin panjang, ada malah seorang Ibu dengan dua anak kecil, yang satu di kereta bayi dan satunya digendong ... melihat mereka itu saya kok merasa bahwa nasib saya jauh lebih bagus.
Pukul delapan pagi, pintu gerbang dibuka dan ada satu orang yang keluar. Wuiiih jan londo tenan, asli iki, badannya besar, kekar, perutnya mumbul-mumbul, ndak senyum, mripate galak, wah mestinya Pak Duta Besar ini ... ooo bukan ternyata, itu petugas bagi-bagi formulir. Pukul setengah sembilan, ndoro londo tadi keluar lagi, weee kali ini bagi-bagi nomer. Saya dapet!! tetapi kok banyak yang nggak dapet ya? termasuk Ibu dan dua anak tadi. Lantas sang ndoro londo njeplak dengan lantang "yang dapet nomer tunggu di luar sini sampai diminta masuk, yang ndak dapet nomer boleh pulang". Oooh begitu .... He??? Lha si mbok yang beranak dua tadi mosok disuruh pulang? setelah 3 jam lebih ngantri di hujan dan dingin!!!
Lha mestinya londo itu rak pinter dan paham soal-soal kemanusiaan to? ah tak ajak ngomong saja "ndoro tuan ... ndoro tuan ... Ibu itu dan anaknya sudah ngantri lama sekali, bisa ya dia ikut masuk". Lha dijawab "he kowe apa tidak tahu aturan, yang tidak dapat nomer tidak boleh masuk, jumlah peminta-minta visa setiap hari dibatasi". Hati saya yang biasanya anyep sejuk itu mulai panas "bagaimana kalau nomer saya ini saya berikan ke Ibu itu saja ndoro tuan", lha malah mendelik "tidak bisa, kowe kalau tidak mau pakai nomer itu terserah, kowe boleh pulang saja". Waaah jan londo asu, kirik, segawon (sekarang saya mendidih beneran), saya mendelik balik. Londo satu ini enaknya diantemi saja apa ya ... tapi ya saya ndak berani, lha wong kekeran dia je, kalau saya ditempiling balik bisa mlintir kayak kitiran sayanya, belum nanti nomer saya diambil lagi, padahal sudah ngantri lama, rugi dua kali, nomer ilang muka ganteng saya remuk. Begitulah, singkat cerita, saya akhirnya dapat visa (diposkan seminggu kemudian).
Beberapa masa kemudian ada saya dengar kalau pemerintah Indonesia memberlakukan perubahan kebijakan soal visa. Tadinya banyak negara yang warganya bisa blas-blus masuk Indonesia. Tidak begitu lagi. Kalau negaranya tidak mem-blas-blus kan warga Indonesia, mereka juga tidak bisa blas-blus ke Indonesia. Lantas diberlakukanlah visa on arrival, bisa diperoleh di beberapa bandara dan pelabuhan laut tertentu, mbayar. Hanya saja warga Belanda tidak bisa dapat visa on arrival, mereka harus ngantri di kedutaan atau konsulat Indonesia di negara di mana mereka berada kalau mau berkunjung ke Indonesia. Lha ini yang bikin saya sangat bersedih hati.
Kenapa? kenapa mereka dibuat susah untuk masuk ke negara saya? mbales? reciprocal visa policy? an eye for an eye? Kenapa? Kenapa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang ramah berbudi luhur berbudaya tinggi harus menurunkan derajatnya serendah bangsa Belanda itu? Apa iya semua orang Belanda itu kelakuannya sama dengan ndoro tuan tukang bagi-bagi formulir dan nomer itu? Mbok mari kita sambut dengan senyum kedatangan orang-orang itu ke negara kita. Takut ada yang menyalahgunakan kemudahan? Lha ya kalau ada yang ngawur tinggal ditangkep lantas disuruh pulang, tapi ndak usah pake dikeplaki segala lho ya.
Kata eyang Mahatma Gandhi "An eye for an eye makes the whole world blind", nyulek mata dibales nyulek mata sak dunia picek kabeh. Tapi ya memang harus begitu mungkin ya, lantas prinsipnya jadi "kalau bisa dibikin susah, kenapa harus dibikin gampang?"
Tambahan: Sekarang ini jika hendak aplikasi visa ke Belanda di London harus pakai janjian dulu, lewat telepon yang pulsanya £ 1 per menit! Ndak tau kalau di Indonesia prosedurnya bagaimana.
Tidak sebagaimana manusia, lumba-lumba dan chimpanzee, burung tidak mengenal istilah "sex for pleasure", buat burung dan kebanyakan binatang lainnya, sex itu ya hanya untuk menghasilkan keturunan, procreative sex begitu istilahnya. Sperma dilepas, sel telur menanti, ketemu, keluarnya anak atau telur. Lha, karena akibat yang ditimbulkan dari acara bikin anak ini bakal berbuntut panjang, hewan-hewan itu lantas "mengatur diri" kapan ritual tersebut dilaksanakan. Untuk hewan yang tinggal di negara bermusim empat, itung-itungannya mesti pas.
Lha ini mau ndobos soal apa to? Saya ini mau ndobos soal birahi burung layang-layang agar hutang saya ke Ibu ini terlunasi. Kata birahi sendiri sepertinya berasal dari kata dalam Bahasa Sansekerta yang artinya kurang lebih cinta yang sangat dalam, menggebu-gebu, secara sungguh-sungguh. Pokoknya kalau sedang birahi gambarannya seperti dunia milik berdua, berjuta rasanya yang kalau diampet bisa berkeping-keping.
Soal birahi burung layang-layang, atau saya sebut saja Layang-layang api (Hirundo rustica) ceritanya begini. Burung yang satu ini sebenarnya adalah burung yang hidup di belahan bumi Utara. Pada saat musim gugur hampir berakhir, berbondong-bondong mereka terbang ke Selatan sejauh belasan ribu kilometer, liburan musim dingin. Pada awal musim semi, mereka kembali lagi kerumahnya untuk membuat sarang, kawin, mengerami telur, membesarkan anaknya dan siap-siap lagi untuk terbang ke Selatan. Rutin itu. Masa birahi burung ini ya singkat-singkat saja, pas mau kawin itu. Ndak seperti manusia yang bisa birahi nyaris sepanjang waktu.
Burung-burung itu membutuhkan pemicu untuk bisa kawin, ya birahi itu. Saat mana hormon-hormon tertentu dalam tubuhnya mulai menggelegak. Burung jantan lantas dandan pol-polan (dalam dunia burung, jantan adalah pesolek), agar tampak menarik dan beberapa jenis bahkan mulai menari-nari untuk menarik betina. Sementara hormon sang betina mulai siap-siap mematangkan telur agar siap pijah dan sang betina juga mulai memilih-milih jantan mana yang layak membuahi telurnya. Kilau bulu, kekokohan badan atau kelincahan menari bisa mengundang birahi betina.
Pada layang-layang api, percumbuan dilakukan di udara dengan saling mengejar, kadang-kadang mereka hinggap dan saling menyentuhkan kepalanya ke badan pasangannya. Burung betina biasanya lebih cenderung memilih jantan berekor panjang. Acara puncaknya sendiri berlangsung di udara, sambil terbang. Begitu selesai, keduanya lantas membangun sarang dari gumpalan lumpur, rerumputan, bulu dan barang-barang empuk nan lembut lainnya. Ada 4 sampai 5 telur dalam satu sarang, yang setelah menetas kedua induknya merawat anak-anak itu bersama-sama. Pas disaat anak sudah mahir terbang, pas musim boyongan itu datang lagi. Berbondong-bondong pindahlah mereka. Pada saat harus kembali ke Utara, kadang ada beberapa layang-layang muda yang memilih tetap tinggal di pengungsian, toh mereka juga belum bisa kawin. Burung ketinggalan ini pernah difoto oleh Pak De Kere Kemplu di sini.
Urusan birahi bagi layang-layang memang harus diatur ketat karena ini menyangkut perut. Terlalu awal kawinnya, pas si anak menetas, makanan belum ada. Telat, makanan sudah habis. Maka bagi layang-layang yang namanya birahi tak terkendali itu bisa bikin celaka. Birahi harus tapi jangan kecepetan, telat atau terlalu lama, bisa-bisa ndak makan itu anak-anak.
Manusia memang bukan burung, tingkahnya macem-macem untuk urusan birahi begini. Makanya jamu seperti jamu sari rapet begitu jadi laris manis. Kalau untuk laki-laki apa ya namanya? Jamu jebol tembok?
Jadi begitulah urusan birahi ini saya tutup. Untuk Mbak Fitri, birahinya sudah saya penuhi lho ya. Lunas.
Hari Minggu, hujan, saya nonton Lion King saja, film kartun yang selalu bisa bikin saya tersenyum geli melihat tingkah dua karakter di dalamnya ... Timon seekor Meerkat dan Pumba si babi hutan (Warthog) para pendamping Simba sang Singa. Salah satu dialog kesukaan saya dalam film ini adalah percakapan tiga sahabat (Simon - Pumba - Simba) tentang bintang.
Pumba (P) : Timon .. Timon (T) : Yea .. P : Ever wonder what those sparkly dots are up there? T : Pumba, I do not wonder ... I know! P : What are they? T : They are fireflies. Fireflies that mmmmm got stuck up on that big ... bluish black thing. P : Ooo gee. I always thought that they were balls of gas burning billions of miles away. T : Pumba .. with you, everything is gas. P : Simba, what do you think? Simba : Well, somebody once told me that the great kings of the past are up there watching over us. P : Really? T : You mean a bunch of royal dead guys are watching us?
Adegan itu saya lihat berulang-ulang, selain supaya saya bisa nulis percakapannya, juga karena buat saya percakapan itu kok ya menarik. Mari kita ganti ketiga tokoh tadi dengan Isaac Newton, Stephen Hawking dan Edward Witten. Mestinya mereka lantas ndobos mulai soal bola gas bercahaya, big bang sampai getaran dawai energinya string theory.
Sampeyan kapan terakhir lihat bintang-bintang di langit itu? dan menurut sampeyan apa sih bintang itu?