Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Saya baru dapat kiriman lagu-lagu dari seorang kawan yang sedang menuntut ilmu di Australia sana. Saya langsung sumringah pol karena di dalamnya ada musik kesukaan saya ... Keroncong dan yang nyanyi Mus Mulyadi. Selain itu ada musik yang juga jadi kegemaran saya dan kegemaran teman pengirim itu ... lagu-lagu pop Sunda yang dilantunkan oleh Doel Sumbang yang sama sekali ndak sumbang. Selain itu ada juga Kang Mas Didi Kempot.
Ah keroncong ... saya sendiri ndak ngerti persisnya kapan saya mulai jatuh cinta dengan musik satu ini. Kocokan ukulele (cuk cak), betotan bass yang dhem dhem dhem itu, gesekan biola serta lengkingan suling ... mak nyep rasanya. Keroncong itu sendiri merupakan musik tua, hasil kreasi bangsa Indonesia dengan ramuan dari sana-sini. Keroncong sendiri bukan berasal dari Portugis, seperti yang banyak dikemukanan orang, walaupun pengaruh Portugis ada dalam musik keroncong (Fado). Lha soal keroncong dan Portugis ini, titik temunya ada di Tugu, sebuah kawasan yang terletak di Timur Jakarta yang penduduknya banyak yang berdarah Portugis dan tersohor karena keroncongnya.
Para pelantun dan penggemar berat lagu-lagu keroncong sering digelari "buaya keroncong", ndak jelas kenapa disebut begitu, ceritanya simpang-siur. Para seniman tua seperti Kusbini (pencipta lagu Bagimu Negri), Bram Titaley (mbahnya Harvey Malaihollo), Gesang (pencipta lagu Bengawan Solo) dan Mus Mulyadi (ndak ada hubungan darah dengan Mus Jumadi) misalnya adalah penyandang gelar "buaya keroncong". Meskipun saya bisa melantunkan beberapa lagu keroncong dan menyukai keroncong, tapi saya itu belum masuk tataran buaya, mungkin masih di tataran cicak.
Kantor yang siang itu praktis hanya menyisakan saya seorang, menambah kesedapan saya menikmati keroncong ... saya bisa ikutan nyanyi. Keroncong Moritsko, Tanah Air, Kemayoran, Bandar Jakarta, Sapu Lidi, Telomoyo dan salah satu favorit saya ... Dewi Murni. Maka bernyanyilah saya bersama Mus Mulyadi ... Dewi Murni berkembenkan sutra ungu/ Melambai meriah rasa/ Semerbak memenuhi/ Angkasa beralih biru. Dibaliknya awan/ Membayang pelangi beraneka warna/ Untuk menyambut Dewi Murni/ Yang turun mandi di tlaga dewa. Kuntum bunga semua/ Semerbak harum menyebar wangi/ Menantikan sang Dewi Murni/ Bertiti pelangi turun mandi .... jreng .... saya serasa Jaka Tarub sedang nginceng Dewi Murni mandi.
Lagu-lagu pop Sunda-nya Doel Sumbang lain lagi. Saya yang sangat sering merasa sebagai "urang Bandung" ya bisa terkekeh-kekeh mendengarkan gojekannya Akang Doel yang barakatak pol. Dengar saja itu lagu-lagu Pabaliut, Awewe Sapi Daging, Beja Ti Jurig, Somse dan Nini Nini Luar Nagri.
Walaupun begitu ada dua lagu Doel Sumbang yang jadi paporit abdi, nya eta Sisi Laut Pangandaran sareng Bulan Batu Hiu (dua tempat yang baru dihantam bencana). Rupina romantis pisan eta lagu. Coba saja cermati bagian awal Bulan Batu Hiu .... Bulan nu nga gantung/ Di langit Batu Hiu/Tinggal sapasi sesa purnama kamari/ Dua duaan anteng sosonoan/ Suka bungah sagala rasa dibedah. Tiis dina hate ... Atau bait-bait lagu Sisi Laut Pangandaran itu ... Harita basa usum halodo panjang/ Calik paduduaan dina samak salambar/ Hmmm saksina bulan anu sapotong/ Hmmm saksina bentang anu baranang ... terkaing-kaing sudah sayanya.
Habis semua saya dengarkan ... lha saya masih punya Didi Kempot dengan jajaran lagu Gedang Goreng, Kuncung, Mas Joko, Cintaku Sekonyong-konyong Koder, Stasiun Balapan dan Tresnamu Koyo Odol.
Begitulah saya ber"karaoke" sambil menunggu sang komputer me-render citra 3D Gunung Tatamailau resolusi tinggi. Lagu Jawa, Sunda, Indonesia ... ah, seperti kata Akang Doel ... dina ruang hate nu aya ukur salira.
Tadinya saya itu mau ndobos soal lain, tetapi begitu baca kegemasan, kejengkelan dan kemuakan yang benar-benar dan tidak akan berhenti sampai disininya Bulik Lita, ha saya kok ya jadi panas juga. Ndak habis pikir sayanya, geleng-geleng sambil misuh-misuh. Ada apa toh? Sudahlah, sampeyan baca saja di tempatnya Bulik Lita ini. Intinya, saya setuju pol sama Bulik, walaupun begitu saya ingin berbagi cerita soal yang satu ini.
Alkisah, salah satu keluarga dekat saya itu baru punya bayi. Sebagai paman yang turut berbahagia ya saya sambangi keluarga muda itu. Wah bayinya laki-laki tampak sehat, ibunyapun tampak bugar segar. Tangtingtungtingtangtingtung ... anaknya lucu betul. Tiba-tiba .... ngeeeeeeek! Bayinya nangis. Refleks tangan saya megang popok ... kering, longok ke dalam popok ... bersih, wah ini mesti kalau bukan karena wajah saya ya pasti bayinya minta susu.
"Neeeeng ... bayimu minta susu nih" saya mbengok begitu. "Ya Maaaaas", kata sang Ibu sambil tergopoh-gopoh membawa botol susu. Lho???!!! kok botol susu sih? Lho ... kok susu bubuk? Lha wong saya itu laki-laki penuh rasa ingin tahu, saya langsung tanya "Lho ... susumu kenapa? apa kamu lagi sakit? kok pake susu bubuk?". Nah, dimulailah acara menyerang dan bertahan dengan kata-kata ... weee tukang ndobos kok dilawan to?
Alasan pertama, kata dokternya mesti begini. Ngawur ... kalau bener itu dokter ngomong begitu, itu namanya dokter layak gantung. Lagi pula Ibunya sehat kok, paling tidak tampak luarnya begitu. Alasan kedua, ada "masalah teknis" dengan "termos ajaib" sang Ibu ... penthil ndelep. Haiyaaah, yang begitu itu bukan masalah kayaknya, kan ada alat bantu, nipple enhancer untuk mengatasi inverted nippled atau flat nipple ... penthil ndelep itu tadi. Alasan ketiga, dari rumah sakit sudah dikasih susu bubuk ini. Jan wedhus mbrangkang, itu rumah sakit bener-bener sakit apa ya? apa yang ngasih susu itu sudah minta ijin dulu? Lha kok lancang? Alasan keempat, demi estetika. Lha ... kebayangkan, kata-kata macam apa yang lantas keluar dari bibir mungil nan indah saya ini? Apa itu susu (dalam hal ini bermakna payudara) mau di-ler buat umum? Singkat cerita saya pulang ke rumah dengan kemrungsung.
Gusti Allah memberi dua payudara menthul-menthul begitu bukan tanpa sebab. Benda itu, dalam keadaan normal, lantas ujug-ujug mengeluarkan susu begitu pemiliknya melahirkan bayi juga bukan tanpa sebab. Manfaat Air Susu Ibu(nya) (ASI) bagi sang bayi, sudahlah saya ndak usah ndobos soal ini, sudah buoanyuoak yang cerita. Lha itu sudah ada susu di dada Ibu yang tinggal sruput kok bayinya malah dijejeli susu dari selangkangan sapi yang dijadikan bubuk yang lantas masih harus dilarutkan lagi dengan air? Bayi yang mestinya girang bakal ngemut penthil kulit malah dipaksa ngemut penthil karet.
Rumah sakit itu .... kalau benar cerita banyak orang bahwa ada rumah sakit yang memberi susu formula pada bayi yang baru lahir itu tanpa meminta ijin terlebih dahulu dari yang punya bayi, waduh bener-bener sakit itu. Apa ada ya tempat mengadu untuk kasus begini? Lantas alasan-alasan itu tadi??? ra mutu.
Masih ingat lagu ini?
aku anak sehat, tubuhku kuat karena Ibuku rajin dan cermat semasa aku bayi, slalu diberi ASI makanan bergizi, dan imunisasi
Mudah-mudahan lagu itu masih lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan iklan susu formula.
Oh iya, ngomong-ngomong soal susu, coba, apa sampeyan bisa ngomong "Susu" dengan lidah dijulurkan keluar sambil digigit dan bibir ndak boleh monyong-monyong?
....... .......
bisa???
....... .......
saya bisa ...
.......
.......
... nenen ...
Lha ... bisa kan?! jadi, kalau yang "sulit" begitu saja bisa, mestinya memberi susu secara eksklusif pada bayi sampeyan tentunya juga bisa. Saya ingin mengulang kata-katanya Bulik Lita lagi, jangan sungkan untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi anda, karena itu hak anda. Saya tambahi, dan hak bayi anda juga. ASI eksklusif ya ... ya ya ya ...
Kemarin itu ngobrol-ngobrol di dunia maya bersama Kang Mas Pecas, ya ngobrol bablas gitu, tanpa tema. Dari mulai soal pertemuan kemarin itu di Omah Sendok sing akeh menungso sampai ngobrol soal-soal ndak jelas. Salah satu obrolannya adalah soal ngumpul-ngumpul akhir tahun. Lha kok ngobrolnya jadi serius, maksudnya serius ngawurnya. Terpikir untuk ngumpul yang agak lama, bukan hanya beberapa jam yang begitu rawon habis langsung pulang (siapa ya ini?). Begini kira-kira isi percakapan kami itu.
Biasanya, akhir tahun itu beberapa diantara kita suka ngumpul-ngumpul, ada yang ngumpul di hotel ada yang di pucuk gunung dan ada pula yang ngumpul di rumah bersama keluarga saja. Acaranya juga beragam, nonton sinden, merenung, berdoa, mendem bareng atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja. Sesukanyalah, lha wong ndak ada aturan kalau malam tahun baru itu harus bagaimana kok. Lha gimana kalau para tukang nge-blog itu diajak ngumpul. Acaranya dilengkapi dengan pertandingan olah raga, olah tawa dan olah-olah dari Bandung seperti oncom, combro, cireng, bala-bala, dan sebangsanya itu. Lha kok olah raga .... lha iya, karena judul pertemuan itu adalah Olimpiager.
Cabang pertandingannya? Weee ... lha yang seru mestinya. Tidak ada cabang perorangan, semua cabang yang akan dipertandingkan adalah cabang beregu sebangsanya gobak sodor, kasti, tarik tambang, benteng-bentengan, petak umpet dan sebangsanya. Lha beregu itu mbagi regunya bagaimana? Lho kan di dunia blog-blogan begini ada banyak aggregat blog toh, lha ya sudah itu saja regunya. Kalau ndak ikutan ngagregat juga bisa membentuk regu sendiri. Lantas tempatnya di mana? Biar Kang Mas Pecas saja yang pecas ndahe soal yang satu ini.
Terbayang sudah itu kacaunya pertandingan petak umpet yang dipertandingkan secara paralel. Coba saja kalau ada tiga pertandingan yang dilaksanakan serentak yang melibatkan enam regu, sementara arena pertandingannya sama, apa ndak ketuker-tuker itu nantinya. Atau pertandingan kasti yang bolanya jangan pakai bola tenis, tapi bola golf.
Tapi sebentar dulu, biasanya akhir tahun itu sibuknya bukan kepalang, itu orang-orang mestinya pada menghilang. Soal waktu ya ndak perlu persis akhir tahun, bisa digeser-geser. Lagipula siapa juga yang bilang acaranya bakal akhir tahun ini, toh mungkin saja acaranya baru bisa terlaksana akhir tahun 2010. Lho ya ndak usah misuh-misuh begitu to, ini cuma obrolannya tukang ndobos dan pemecah kepala saja.
Sampeyan apa ada yang tahu kalau seminggu kemarin itu ada Jambore Pramuka se-Indonesia di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor? Seminggu lamanya, sejak tanggal 16 Juli lalu, para Pramuka itu ngemping di kakinya Gunung Manglayang sana. Saya sendiri ya hampir ndak ngeh kalau tidak "diberitahu" koran. Lha ... kali ini saya mau ndobos soal jaman saya dulu ikut jadi Pramuka.
Saya ini, walaupun tampan dan gagah, dulunya ya Pramuka juga, lha wong jaman itu jadi Pramuka itu wajib. Malah salah satu seragam sekolah setiap hari Sabtu ya seragam Pramuka yang coklat-coklat itu. Lengkap dengan topi coklat, sempritan, pisau belati, gulungan tali, kacu merah-putih dan simbol-simbol ke-Pramukaan lainnya. Hanya saja saya tidak pernah menyesali kewajiban yang satu ini, menikmatinya malah. Saya ikut Pramuka mulai dari Siaga sampai Penggalang Terap yang di bahunya pakai lambang seperti sersan itu. Dasarnya saya suka blusukan dan kemah-kemahan, pantang buat saya hukumnya mbolos acara Pramuka. Apalagi saya juga disemangati oleh Ibu dan Bapak saya yang bekas Pandu.
Berkemah, mencari jejak, memecahkan sandi, mainan morse sampai kibas-kibas bendera semaphore, adalah sebuah kegembiraan. Salah satu lagu wajib "di sini senang di sana senang", benar-benar dilantunkan dengan hati gembira. Berkemah hari Sabtu sore hingga Minggu sore, adalah acara yang ditunggu-tunggu, hanya saja saya itu selalu ditolak ikut masak-masak untuk teman se-regu, mungkin mereka berpikir daripada mereka ndak makan lebih baik saya dicegah untuk tidak masak saja, lagipula mosok ketua regu kok masak?! ketua regu itu tugasnya ya petentengan dan terkadang boleh juga jadi juru icip-icip, quality control ... yang artinya tukang periksa kuali.
Perkenalan saya dengan cara berkemah yang baik dan benar, membaca peta dan kompas, bertahan hidup jauh dari warung dan dapur bunda serta bagaimana hidup bersama orang lain yang bukan keluarga juga saya pelajari di Pramuka. Selain itu juga belajar simpul menyimpul yang kadang hasilnya bisa bikin senyum simpul. Lha masak diajari bagaimana cara menali kuda, punya kuda saja ndak kok.
"Berkesenian" di acara api unggun adalah sebuah acara wajib dalam setiap perkemahan. Acara begini selalu saja memaksa saya mengerahkan segala kemampuan untuk mepermalukan diri sendiri, hingga akhirnya putuslah yang namanya urat malu itu ... sampai sekarang! Kalau dilihat dari sudut pandang positif, namanya belajar memperkuat rasa percaya diri, hanya saja dalam kasus saya ... bablas.
Sebagai Pramuka penyandang bejibun tanda-tanda kecakapan (bukan kecakepan), kecuali masak, saya juga pernah dipilih ikut Jambore. Wah jan sumringah pol. Hanya saja jaman saya itu saya ndak sempat ikut Satuan Karya Pramuka (Saka). Saka itu kira-kira seperti spesialisasi kecakapan sesuai minat. Ada Saka Bahari, buat yang seneng laut-lautan, ada Saka Dirgantara buat yang seneng mabur-maburan, ada saka Wanabakti yang senang hutan-hutanan, ada juga Saka Keluarga Berencana (Kencana) buat yang suka ... suka merencanakan berkeluarga? Lantas saya kok mebayangkan kalau dulu itu saya ikutan Saka-Saka itu, saya ikut Saka apa ya? Mungkin bakal ikut Sakahayang ... mau-maunya sendiri. Sayangnya Saka begini ndak ada, apalagi Saka Blog.
Balik lagi ke Jambore di Kiarapayung itu, baca-baca katanya ada "ceramah" soal sepeda motor dengan sponsor salah satu pabrikan motor terkemuka. Potential market, begitu menurut pihak sponsor. Ada juga soal dodol, sang kudapan manis itu, sampai-sampai para Pramuka diminta membuat karya tulis serta puisi bertema dodol. Lha kok ini bisa berpotensi untuk pembentukan Saka baru, Saka Dodol. Bersamaan dengan Jambore itu juga digelar turnamen golf ... lha ada Saka Golf. Lho kan saya jadi nyinyir ndak mutu begini.
Sudahlah, yang pasti, jaman saya masih ber-Pramuka itu adalah masa yang menyenangkan ... sangat menyenangkan. Sampeyan apa pernah ikut Pramuka?
Ada yang buat saya agak aneh dari para pengguna payung di Jepang ini. Entah mungkin karena harganya yang relatif "murah" untuk ukuran orang Jepang, para pengguna payung banyak yang tidak perduli dengan payungnya. Payung-payung itu setelah sekali dipakai langsung dibuang ke keranjang sampah atau ditinggalkan begitu saja. Saya ndobos soal payung ini sambil nunggu kereta api di bandara, dan saya nulisnya sambil lirik-lirik petugas yang mebersihkan kereta api. Sampai saat ini sudah ada lebih dari 5 payung yang dikumpulkan petugas kebersihan itu dari gerbong-gerbong kereta yang baru datang dari Chiba.
Umumnya payung yang dibuang atau ditinggalkan begitu saja itu bentuknya ndak aneh-aneh dan bahan utama payungnya juga hanya plastik tembus pandang. Saya punya dua payung seperti itu di rumah, dan dua-duanya saya ambil dari tempat sampah. Lha kok mulung? bukan ... bukan ... ini bukan soal mampu beli atau pelit, bahan payung itu dari plastik je yang konon kabarnya tidak bisa terurai di alam dan ujung-ujungnya lha sampeyan ngertikan ke mana ujungnya.
Sampah plastik begini memang agak luar biasa di Jepang, apa-apa dibungkus plastik, belanja sedikit diwadahi plastik. Coba saja beli air mineral dalam botol plastik di warung, tanpa ba bi bu, botol plastik langsung masuk ke kantong plastik begitu kita selesai membayar kalau ndak buru-buru minta agar botol plastik itu jangan diplastiki. Iya sih, itu keranjang sampah sudah dipisah-pisah, mana buat kaleng, mana buat plastik, mana buat kertas dan mana yang buat lainnya. Jadwal buang sampah di perumahan juga ditentukan kapan boleh buang kertas, sampah dapur, plastik dan barang-barang ini itu. Bahkan di lingkungan apartmen saya, mbuang botol plastik (PET) juga punya tatacara, tutup botol dan label minumannya disatukan dengan plastik-plastik lain, lantas botolnya sendiri harus dipisahkan dan dibuang secara terpisah.
Waaah bagus itu, sampah mbuangnya sudah di pisah-pisah dan mestinya nanti plastik-plastik itu bakal didaur ulang ... begitu katanya. Hanya saja ndak tahu kenapa saya kok tetap saja ndak sreg rasanya. Makanya saya selalu berbelanja dengan menggunakan tas dari kain, menolak barang belanjaan dimasukan kantong plastik dan sedapat mungkin ndak beli air yang dikemas dalam botol plastik ... kalau haus saya langsung ngglogok air ledeng saja.
Negara ini memang penuh plastik, apa orang-orang sini juga pada operasi plastik ya kok wajahnya licin-licin begitu. Kalau iya ... kok kasihan ya, ndak bisa ikut acara api unggun itu atau pesta bakar-bakar ikan. Coba saja mereka disuruh ikut, nantikan pipinya pada keluar tulisan swallow ... sandal jepit kwalitas unggul.
Malam Jum'at itu bagi banyak orang identik dengan demit, hantu, genderuwo, ebek, tuyul, kuntilanak, wewe dan mahluk-mahluk seram dari dunia alam sono lainnya. Malam Jum'at kemarin itu, tanggal 20 Juli, saya ya ketemu para penghuni dunia sono dari jenis yang berbeda. Hanya saja mereka itu tidak membuat saya nggreges ketakutan tetapi malah capek ketawa. Malam Jum'at kemarin itu saya bertemu para mahluk tukang ndobos di dunia maya. Sungguh sangat menyenangkan, bisa dibilang puncak kegembiraan acara liburan saya kali ini. Coba saja, apa pernah sampeyan ngumpul di warung sampe warungnya tutup dan yang punya warung malah mohon pamit pulang duluan karena yang ngumpul belum mau pulang juga?
Acara yang digagas Kang Mas Pecas dan Dinda sang penebar pesona di Omah Sendok ini memang luar biasa. Acaranya sendiri dadakan dan praktis tanpa persiapan yang aneh-aneh, semuanya seperti terjadi begitu saja. Undangan hanya "disebar" lewat posting di dua blog dan lewat sarana bincang-bincang (chatting) Pemilihan tempat berkumpul juga hanya lewat komunikasi telepon dengan Dinda yang sangat singkat, dengan acuan koran yang saat itu sedang saya baca. Pilihan itu ternyata tidak mengecewakan, paling tidak warung itu tidak mengusir tamunya walaupun mereka mau tutup.
Ada kelegaan dan kegembiraan yang besar setelah acara itu lewat, karena ternyata para mahluk malam Jum'at kemarin itu benar-benar menyenangkan seperti pesan dan komentar yang sering mereka tinggalkan di kotak mbengok (shoutbox) dunia maya. Beberapa wajah-wajah yang selama ini hanya hidup dalam bayangan, malam itu hadir secara nyata apa adanya lengkap dengan ciri khas masing-masing. Coba saja lihat ada yang datang dengan dandanan sumuknya (gerah), ada yang terlihat sangat mesranya (lha wong manten baru kok), ada juga yang tertawanya menggelegar, dan ada yang dengan tekun melahap hidangan apapun yang lewat. Tak semua memang lantas jadi aktif mengumbar kata-kata, ada pula yang lebih banyak diam sambil senyum-senyum, akan tetapi, yang begini ini tingkahnya ya bisa bikin ger-geran juga. Seperti layaknya kelompok sandiwara jenaka, ada yang tukang ngumpan ada yang tukang nggebuk.
Malam itu kok rasanya komplit, hati terhibur pol, perut juga terhibur sangat. Coba saya ingat-ingat apa saja yang masuk ke perut saya malam itu, tahu gejrot (ini siapa yang pesen ya?), icip-icip soto tangkar tanah tinggi (pedes), rawon, telor asin, dawet, wedang jahe, kopi, teh manis anget dan apa lagi ya? Oh iya ... bir pletok gratisan dari yang punya warung itu. Minuman hangat tanpa alkohol walaupun berjulukan bir itu didapat gratis karena keahlian Dinda menginterogasi pemilik warung. Dapat gratisannya sih cuma satu gelas, tetapi karena yang berminat banyak, maka kalimat seperti ini terlontar "Satu gelas juga ndak apa-apa Mbak, tapi sedotannya delapan belas ya ... ".
Terima kasih buat semua, kalian semua sudah mengisi liburan saya kali ini dengan kesukacitaan yang hebat ... liburan saya kali ini sudah rampung, besok saya sudah harus berdesak-desakan lagi di kereta api di negara yang jauh ini. Sampai ketemu lagi sahabat, saya pasti akan merindukan kalian semua (haiyaaah) ... eh iya, itu kemarin sedotannya gratis juga kan?
Ini kerjaannya Dinda dan saya dipakai jadi tameng. Tapi karena ngajaknya kumpul-kumpul dan pakai makan-makan, lha mana bisa saya tolak, lha wong saya itu sebangsa laler kok, kalo ada makanan ya wajarnya mesti dateng. Jadi begitulah sodara-sodara sekalian, ada undangan buat kumpul-kumpul ini ceritanya dan anda semua diajak ikut berkumpul.
Kang Mas Pecas Ndahe lantas meminta saya memajang pengumuman kumpul-kumpul ini, dengan harapan para pembacanya sudi untuk datang untuk terlibat dalam acara bertatap-tatapan itu. Tetapi, seperti yang dikatakan Kang Mas Pecas itu, "Saya tahu, mungkin ndak semua blogger tertarik datang, apalagi sudi bertemu kami. Mungkin juga ada di antara sampean yang sudah punya acara lain atau masih sibuk bekerja sehingga tak bisa datang. Ndak apa-apa. Ini undangan sukarela, suka-suka. Pokoke santai sajalah".
Ngumpulnya kapan? Hari Kamis tanggal 20 Juli 2006. Tempatnya di Kafe Omah Sendok, Jalan Taman Empu Sendok 45, Blok S, Jakarta Selatan. Katanya tempat itu persisnya ada di belakang pom bensin Senopati, tetapi mudah-mudahan makannya ndak pake aroma bensin. Oh iya, waktunya jam 7 malam sampe warungnya tutup.
Begitu saja ajakan ini, sampai ketemu besok ya .....
tambahan: kata penggagas acaranya "yarwe" ... mbayar dewe-dewe. Dress code? lha...code-nya ndak ada, tapi kalau bisa mohon pakai dress.
Liburan kali ini, selain diisi dengan acara wajib sowan, tentunya juga diisi dengan bertetirah ke beberapa tempat pengundang gembira kesukaan saya. Salah satunya adalah Pantai Ciputih di Ujung Kulon, Banten. Saya suka tempat ini karena pantainya relatif masih bersih, sehingga tak perlu resah pada saat anak-anak sedang berenang-renang atau hanya sekedar main air di pantai. Pengunjungnyapun tak ramai, mungkin karena jalan untuk mencapai tempat ini dari Sumur bisa dibilang rusak kalau tidak mau dibilang hancur. Tetapi yang terpenting, di Ciputih saya bisa leyeh-leyeh dan bisa makan ikan yang masih segar-segar, bukannya makan ikan yang disuruh pura-pura segar seperti di beberapa toko swalayan itu.
Bicara soal makan, dalam perjalanan menuju lokasi tetirah, ada sebuah tempat makan yang tak pernah saya lewatkan untuk dihampiri. Rumah Makan Astry (pakai "y") namanya dan berada di Jalan Raya Labuan sekitar 3 km dari kota Labuan. Jenis makanan yang selalu saya uber di rumah makan ini adalah otak-otak yang ukurannya jumbo. Lha bagaimana ndak jumbo, otak-otak yang kalau di kota-kota besar itu hanya bajunya saja yang besar sementara isinya memiliki ukuran yang memalukan, di tempat ini isinya sampai menuh-menuhin bungkusnya. Disajikan selagi hangat beserta bumbu kacang yang boleh minta lagi sesuka hati, sungguh belum ada lawannya. Akan tetapi karena ukurannya yang tidak umum, paling kuat saya hanya bisa menyantap lima bungkus.
Sebagaimana layaknya rumah makan dengan sajian utama hidangan (dari) laut, tersedia pula sajian ikan, udang dan cumi-cumi yang nikmat rasanya disantap dengan nasi ngebul-ngebul yang dimasak dengan dandang berteknologi lama. Sebagai pelengkap juga tersedia minuman bersebutan "joice" (pakai "o") jeruk, alpukat, melon dan tomat yang kalau mau dicampur-campur juga boleh .... sueger pol itu mestinya, cuma saya kok ya belum pernah pesan. Biasanya saya cuma pesan joice teh anget manis saja.
Lha masalahnya sekarang, Ciputih sendiri itu masih dua jam lebih dari tempat makan sedap ini. Sementara saya itu persis ular, kalau perut penuh lantas ngantuk, untungnya kali ini teman saya yang menyupiri sehingga saya bisa lier-lier tidur-tidur ayam. Akan tetapi, kenikmatan tidur-tidur ayam begini tak akan bisa dinikmati begitu lepas dari Sumur menuju tempat menginap yang jaraknya 7 km itu. Jalan yang hanya berupa jalan tanah bertabur kerikil itu wajahnya sudah ndak karu-karuan, dan dimusim hujan pasti lebih mirip sungai daripada jalan mobil. Jangan berharap banyak jika sampeyan mau mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan sedan atau kendaraan roda empat lain yang berlantai rendah. Bisa-bisa mobil sampeyan malah nyangkut dan berjungkat-jungkit seperti timbangan daging.
Lokasi tempat menginap yang menjadi tujuan itu letaknya persisi di bibir pantai berpasir putih. Dari teras tempat menginap deru ombak bisa didengar dengan jelas, ditambah dengan hembusan angin pantai berbau garam lengkaplah sudah suasana pantainya. Panas? ya tidak juga, karena tempat ini banyak ditumbuhi pohon-pohon yang sudah besar berdaun rimbun. Berenanglah sepuasnya, karena ombak di pantai ini juga ramah. Airnya jernih, ndak nggilani seperti air di Pantai Ancol itu. Selesai berenang, jangan lupa membersihkan badan dengan air tawar, kecuali kalau sampeyan berminat merubah diri jadi ikan asin.
Suasana malam hari lebih yahud lagi, terutama pada saat langit tak berawan. Bintang-bintang, sampe sampeyan keringetan ngitungnya ndak bakal habis itu bintang dihitungi semua. Piringan galaksi Bima Sakti juga jelas terang terlihat, putih seperti tumpahan susu. Sesekali bisa dilihat seleretan meteorit, "bintang jatuh".
Lebih nikmat lagi jika makan malam dimasak sendiri di pinggir pantai. Bukan hanya soal ini masakan sendiri, tetapi prosesnya yang mbundet dan lama itu bikin perut teriak-teriak ndak sabar dan yang namanya air liur sudah seperti banjir bah. Pol tenan nikmatnya makan ikan bakar, seperti syair lagu Antara Anyer dan Jakarta yang diplintir sedikit ... "deru sang ombak, bergilir ke pantai, disambut alunan, liur melambai".
Setelah ngampet ndobos sejak hari Sabtu lalu itu, baru kali ini saya bisa nulis lagi. Sebetulnya belum ada cerita berlibur yang layak untuk diceritakan, tetapi dari pada ngampet ndobos yang bisa berakibat merusak kesehatan jiwa, biarlah saya ndobos soal hari-hari pertama liburan kali ini.
Tiba kembali di Bogor, sambutannya sangat khas Bogor, hujan, listrik mati dan jeritan klakson angkot yang ngangeni itu. Sebagaimana layaknya orang pulang kampung, ya harus ada acara sowan sana-sini dulu. Hari inipun sebetulnya masih dalam rangka setor muka sambil cengengesan begitu. "Sampurasuuuuuun ... spadaaaaa ... ini lho saya datang tanpa oleh-oleh. Oooo kabar saya baik he he he he ... ada cendol?" Lha ... daripada disuguhi minuman tak nikmat teguk, seperti jamu godogan, dan lantas dikata-katai sombong karena suguhan minumannya tak disentuh kan lebih baik kalau kawan yang disambangi itu diberitahu dahulu saya itu senangnya disuguhi apa.
Siang tadi juga begitu, mengunjungi kantor kawan yang tempatnya nyaman, duduk di bawah pohon jambu air yang mulai berbuah di pinggir kali kecil sambil nyeruput dawet ayu, cendol yang dicemplungi irisan nangka, serta disuguhi jajanan pasar. Lebih lengkap lagi setelah diberi ijin untuk menggunakan fasilitas akses internet nir-kabel dan nir-mbayar. Namanya juga sedang berlibur, tentu saja itu semua lantas dilakoni dengan girang hati.
Setelah selesai menghabiskan sajian makan siang, sayapun pindah ke kantor kawan yang lain. Lha, di kantornya teman satu ini, kembali sifat saya untuk tidak menyusahkan teman, memikirkan harus menyuguhi apa, saya lakukan lagi. Apalagi dia tadi itu sedang pilek, kasihan kalau masih disuruh mikir saya itu pantesnya disuguhi apa. Teh sosro panas manis.
Ah, teman-teman itu, kok ya ndak ada kapok-kapoknya dirusuhi terus-terusan begini. Padahal saya itu datangnya ya begitu saja, nongol dan sekonyong-konyong bersabda. Suatu hal yang rasanya ndak mungkin dilakukan kalau sedang di Jepang yang apa-apa harus pakai janjian dulu. Tanpa spontanitas dan kejutan. Bahkan terkadang topik pembicaraanpun sudah direncanakan sejak awal. Beda sekali dengan sowan kali ini, yang setelah disuguhipun masih ndak tahu ngomong soal apa ... ya apa saja, lha wong saya itu bisanya cuma ndobos itu.
Coba sekarang, sampeyan kalau sedang sowan seperti saya ini, ngapain saja sih?
Dari pada plonga-plongo nunggu pesawat ke Jakarta saya tak ndobos saja soal apa-apa saja tingkah polah saya dalam penerbangan, terutama penerbangan yang agak panjang, karena saya itu ndak pernah bisa tidur di pesawat, biar dikasih bantal empuk, selimut hangat dan kursi bisa diubah jadi tempat tidur.
Nonton film. Kalau pas ada yang bagus, ya paling-paling ini yang bisa dilakukan. Ada 80 saluran yang bisa dipilih dan on-demand, bisa mulai nonton kapan suka begitu, dan ada layar monitornya untuk tiap bangku. Kalau dekat-dekat waktu pengumuman Oscar, biasanya filmnya banyak yang bagus. Kalaupun tidak, ada beberapa film dokumenter yang layak tonton. Hanya saja kulit telinga saya itu rada-rada sensitif sama busa penutup ear-phone/head-phone, jadi habis nonton selain garuk-garuk bokong yang panas juga garus-garuk telinga yang gatel.
Jalan-jalan di lorong. Biar ndak pegel-pegel karena kelamaan duduk, bisa jalan-jalan di lorong pesawat. Hanya saja ya harus sabar karena sering banget ketemu awak kabin yang hobinya ndorong-ndorong kereta makanan itu atau sedang ngusung-ngusung minum. Kok ya rajin banget toh ya, itu penumpang kan kebanyakan juga pada tidur. Mbok ya dibiarkan tidur gitu lho, nanti kalau ada yang haus toh tinggal pencet tombol kalau mau minta minum.
Menjelajahi toilet. Lha, ini kegiatan alternatif yang asik juga. Walaupun tampaknya sama saja tiap toilet, tapi kalau diperhatikan ya ada juga bedanya kok. Buka-buka saja itu laci di toilet, ngitung ada berapa sisir, pisau cukur dan sikat gigi sekali pakai yang ada di dalamnya. Bisa juga ngaca, boleh kan sekali-kali menakut-nakuti diri sendiri. Aneh juga itu pisau cukur boleh ada di dalam kabin pesawat. Sejak keamanan penerbangan diperketat, sendok, garpu dan pisau diganti dari yang logam ke yang plastik, tapi pisau cukur masih ada juga.
Menelpon. Mahal memang US$5 per menit ke manapun tujuan teleponnya. Saya sendiri belum pernah pakai fasilitas ini, tetapi saya lihat beberapa penumpang ada saja yang menelpon, dan dari hasil nguping ya cuma mau halo-halo gak penting juga, cuma mau bilang "hai, saya di 35 ribu kaki ini" ... terus kenapa?
Nginternet. Ini termasuk fasilitas baru yang lumayan sering saya pakai. Kalau yang seneng cetingan, lumayan bisa "ngobrol" sama temannya, atau blogwalking toh mirip-mirip sama baca buku juga. Bisa juga dipake buat nulis. Selain itu, karena sambungannya bagus dan cepat, bisa juga dipakai nonton beberapa acara TV seperti siaran berita atau acara olah raga.
Masuk ruang kemudi. Ini salah satu aktivitas yang dulu paling sering saya lakukan. Tetapi sejak ada pesawat yang dipakai buat nabrak gedung, hal ini jadi suuuuusahnya setengah mati. Padahal asik juga ngobrol-ngobrol dengan para penerbang itu soal bagaimana pesawat beroperasi, dan ngobrol soal peralatan terbaru di ruang kemudi. Dulu itu, hampir pasti diijinkan untuk masuk jika pesawat sudah berada di ketinggian jelajah. Toh pada masa-masa itu, kerja pak kapten dan first officer sudah "tidak terlalu banyak". Lha wong pilot-pilot pesawat modern itu kalau dihitung-hitung lebih banyak ndak megang kemudi kok. Full mencet-mencet dan melototi layar-layar monitor.
Pilot baru agak sibuk, di luar lepas landas dan mendarat, kalau ada apa-apa yang bisa membuat penerbangan jadi tak nyaman, misalnya bakal ada turbulensi agak besar di jalur terbang. Minta ijin buat ganti jalur, merubah ketinggian atau mengurangi kecepatan yang terkadang, jika diijinkan oleh pengawas lalu-lintas penerbangan, juga tinggal pencet sana pencet sini lantas pesawatnya mlintir sendiri.
Kalau saya boleh tahu, sampeyan ngapain saja biar ndak bosen kalau sedang ada di dalam pesawat?