Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sampeyan pernah naik gunung? Berapa tinggi gunungnya? Saya sendiri bukan pendaki gunung, kalaupun saya naik gunung lebih sering karena tuntutan kerja, walaupun pernah sekali dua hanya untuk jalan-jalan saja. Jadi berbeda dengan George Mallory yang mendaki gunung because it's there, saya mendaki because I must go up there. Gunung yang saya daki juga ndak tinggi-tinggi amat, semua gunung yang pernah saya daki tingginya tidak ada yang lebih dari 4000 meter, mainnya cuma di kelas 3000-an saja. Kemarin itu saya mendengar berita kalau ada 10 perempuan Indonesia yang akan mendaki gunung yang tinggi-tinggi sekali, yang kalaupun mereka sempat tolah toleh kiri kanan tidak akan bakal lihat pohon cemara. Tolah toleh paling yang dilihat cuma timbunan salju dan es karena mereka berniat mendaki ke puncak gunung tertinggi di dunia ... puncak Everest.
Sepuluh perempuan itu bergabung dalam Ekspedisi Everest Putri Indonesia 2007. Saya menulis soal ini bukan karena mereka itu perempuan, tetapi karena ada dari mereka yang saya kenal dan saya kira dia sudah ndak pene'an lagi. Lha kok ujug-ujug saya lihat namanya ada dalam daftar pendaki. Lantas apa yang salah dengan itu? ya tidak ada yang salah, lha wong namanya gunung, buat pendaki benda itu mestinya selalu memanggil-manggil, apalagi ini Everest yang selalu dikatakan sebagai tujuan idaman semua pendaki gunung. Saya juga ndak akan ndobos soal ekspedisi para putri itu, saya hanya mau ndobos soal gunung yang mau dipanjat mereka itu.
Nama Everest sebenarnya baru diberikan pada puncak gunung tertinggi itu pada tahun 1865 oleh Andrew Waugh, mengambil dari nama George Everest, nama atasan Waugh. Ironisnya, gunung yang terletak di Nepal itu, tidak memiliki nama Nepal hingga awal tahun 1960-an. Baru setelah awal 60an itulah Everest diberi nama Sagarmatha sebagai nama Nepal-nya. Sebetulnya ada nama-nama tua untuk puncak gunung itu, seperti Devgiri atau Chomolungma, tetapi karena berbagai alasan nama-nama tersebut tak penah dipakai secara resmi. Satu hal lagi yang sering dikacaukan orang adalah nama Everest dengan Himalaya. Everest adalah nama salah satu puncak di pegunungan Himalaya.
Pegunungan Himalaya sendiri membentang sepanjang kurang lebih 2400 km dari mulai Nanga Parbat di Pakistan hingga ke Namche Barwa di Bhutan. Himalaya, yang dalam bahasa Sansekerta berarti tempatnya salju itu, merupakan rumah bagi puncak-puncak gunung tertinggi di dunia. Paling tidak ada delapan puncak yang memiliki ketinggian di atas 8000 meter dan ada lebih dari 100 puncak berketinggian lebih dari 7200 meter. Jadi kalau dibuat daftar 100 puncak-puncak gunung tertinggi di dunia, semuanya ada di Pegunungan Himalaya. Dari 100 puncak itu paling tidak ada tiga yang belum pernah didaki sampai saat ini, sementara puncak pertama yang berhasil didaki adalah Jongsong Peak (7462 m) pada tahun 1930 sedangkan yang paling gres berhasil didaki adalah Nangpai Gosum (7350 m) pada tahun 1996. Dari seratus puncak itu, Everest (8848 m) adalah puncak yang paling sering didaki dan paling sering dicoba untuk didaki.
Dalam skala waktu geologi, Pegunungan Himalaya sendiri umurnya relatif masih muda. Pegunungan ini terbentuk akibat tabrakan lempeng anak benua India dengan lempeng Eurasia sekitar 70-40 juta tahun yang lalu. Sampai sekarangpun lempeng India ini masih terus merangsek ke Utara sehingga pegunungan Himalaya itu ya masih nambah terus tingginya. Karena masih belum stabil begini, tidak heran kalau yang namanya gempa masih sering terjadi di kawasan Himalaya. Pegunungan yang menjulang dan masih terus tumbuh ini juga merupakan mata air bagi banyak sungai-sungai di Utara maupun Selatan Himalaya. Sungai-sungai itu menjadi nadi kehidupan bagi lebih dari 750 juta jiwa manusia, lha ya maklum saja karena pegunungan ini tumbuh di salah satu kawasan yang paling banyak dihuni manusia je. Bisa terbayangkan, bencana macam apa yang bakal terjadi kalau ada "apa-apa" dengan sumber air itu.
Bencana memang menghantui tempat ini. Disamping gempa, bencana lebih besar bisa terjadi akibat dari pemanasan global yang sering didengung-dengungkan itu. Naiknya suhu permukaan bumi bisa mencairkan "salju abadi" yang menutupi puncak-puncak gunung di Himalaya. Kekeringan dan banjir adalah akibatnya. Sementara hutan-hutan di lereng-lereng pegunungan juga rajin dijarah, longsor adalah konsekuensi logis dari tindakan itu. Selain "bencana alam" (yang sebagian besar juga akibat ulahnya manusia) bencana yang bukan alam juga menghantui kawasan yang indah ini. Konflik perbatasan dan politik di India, Pakistan, Nepal dan Tibet dan konflik akibat ngotot-ngototan soal hak pengelolaan air, rajin juga muncul di banyak media pemberitaan.
Konflik, bencana, hambatan fisik dan mental, mudah-mudahan tidak menyurutkan semangat 10 perempuan itu untuk mendaki Everest pada musim semi tahun depan. Jalur pendakian kabarnya sudah dipilih, mengikuti rutenya Norgay dan Hillary yang merupakan dua orang pertama yang berhasil mencapai puncak Everest lebih dari setengah abad yang lalu. Tidak sebagaimana para Pandawa yang mendaki Himalaya untuk menemui kematian dalam lakon Pandawa Seda, sepuluh perempuan itu saya yakin berangkat ke sana justru untuk membuat hidup lebih hidup, karena saya tahu teman saya itu adalah pencinta kehidupan. Selamat berlatih Mbak-Mbak sekalian dan selamat mendaki.
Dari berbagai sumber; photo oleh Pavel Novak dan diambil dari sini.
Apa sampeyan pernah dengar nama Didi Prasetyo? Pria 42 tahun dari Jawa Tengah ini adalah pelantun lagu berbahasa Jawa dengan nama panggung Didi Kempot. Kiriman lagu dari teman saya itu juga menyertakan beberapa lagu yang dibawakan oleh Mas Didi ini. Kalau kemarin itu saya ndobos soal lagu keroncong dan lagunya Akang Doel Sumbang, kali ini saya ndobos soal penyanyi gondrong yang ndak kempot tuh.
Banyak kawan saya langsung berkata "nggilani" kalau saya mulai ngomong soal Didi Kempot, atau "wah vulgar lagu-lagunya dia itu, coba dengerin tuh lagu Cucak Rowo" (saya pernah ndobos soal ini di sini). Tetapi dengan berprinsip biarkan anjing menggonggong toh nantinya masuk kuali juga, saya tetap saja menjadi salah satu penikmat Didi Kempot. Nggilani? mungkin, vulgar? mungkin, ikatan primodial? mungkin, kekaguman? mungkin juga, tapi tampaknya campuran semua faktor tersebutlah yang membuat saya tetap bisa menikmati alunan suara Mas Didi dan terkekeh-kekeh mendengar lirik beberapa lagunya.
Mas Didi ini ya tersohor juga seperti kakaknya, pelawak Mamiek dari Srimulat yang rambutnya dikeliri seperti sigung (Mydaus javanensis) itu. Mengawali karirnya sebagai pengamen jalanan dan sempat menjadi penghuni kolong jembatan layang Slipi, di Jakarta, karena menolak untuk tinggal bersama sang kakak yang sudah terkenal dengan alasan dia mau memulai karirnya dari bawah. Walaupun toh akhirnya Mas Didi tak menolak bantuan sang kakak yang mengenalkannya pada seorang penggiat usaha rekaman. Rekaman pertama menelurkan lagu We Cen Yu (Kowe Pancen Ayu -- Kamu Memang Cantik) yang belakangan justru populer di Suriname.
Mas Didi memang ngetop di Suriname, negara di Amerika Selatan, yang lebih dari 15% penduduknya adalah keturunan Jawa. Lha di Indonesia sendiri Mas Didi belum terkenal hingga keluar lagu Cintaku Sekonyong-Konyong Koder -- CSKK (Koder itu ndak ada Bahasa Indonesianya), Stasiun Balapan dan Cucak Rowo. CSKK dan Stasiun Balapan itu lagu cinta tetapi tetap saja bikin saya tertawa senang walaupun kok ya pahit juga.
Coba kita lihat lirik awal CSKK ... cintaku sekonyong-konyong koder/ karo kowe cah ayu sing bakul lemper/ lempermu pancen super/ resik tur anti laler/ yen ra petuk sedino neng sirah nggliyer (cintaku sekonyong-konyong koder/ padamu anak cantik yang jualan lemper/ lempermu memang super/ bersih dan anti lalat/ kalau tak bertemu sehari kepalaku pusing). Sukseskah cintanya pada bakul lemper ayu ini .... tiwas aku dandan mlitik/ rambutku lengone pomed/ malah kowe lungo plencing/ ora pamit mit mit mit mit mit ... (aku sudah dandan keren/ pake minyak rambut pomade/ kamu malah pergi/ tidak memberi tahu).
Lagu Stasiun Balapan juga soal cinta, kekasih yang ditinggal pergi. Penggalan liriknya begini ... Neng stasiun balapan/ rasane koyo wong kelangan/ kowe ninggal aku/ ra kroso netes eluh neng pipiku (di stasiun balapan/ rasanya seperti orang yang kehilangan/ engkau pergi meninggalkan aku/ tak terasa air mata menetes di pipiku) ... lha manis ini, tetapi bait berikutnya berisi ... daaah dadah sayang ... daaah selamat jalan ... (ndak perlu diterjemahkan ya), saya ngakak pas dibagian itu, ndak bisa dijelaskan kenapa, ngakak saja, tapi kok ya pahit.
Lha balik lagi ke Suriname, Mas Didi rajin melakukan pertunjukan di negara ini. Namanya berkibar gagah, lagunya sering berkumandang di Radio Bangsa Jawa (yang bermarkas di Belanda), penggemarnya banyak, mendapat anugrah dari Presiden Suriname dan pernah dinobatkan menjadi artis teladan pop Jawa. Salah satu lagunya yang amat terkenal di Suriname adalah Angin Paramaribo (Paramaribo adalah ibu kota Suriname). Ini lagu cinta juga, yang di Indonesia lantas diganti judulnya menjadi Kangen Kowe (Rindu Padamu).
Mas Didi juga bisa "nakal", lagu Cucak Rowo itu salah satunya, tapi buat saya yang bikin saya geli adalah hasil rombakan lagu Kuch Kuch Hota Hai dari India itu, yang dinyanyikannya bersama Yan Vellia (penyanyi dangdut asal Solo). Musiknya utuh tetapi kata-katanya diganti dan judulnya juga diganti menjadi Remet-Remetan (saling meremas) ... aduh penake, aduh senenge/ yen lungguh jejer kowe, remet-remetan tangane (aduh enaknya, aduh senangnya/ duduk disampingmu saling meremas tangan).
Mas Didi memulai semuanya dari bawah, bawah sekali. Walaupun dalam lagu Kuncung Mas Didi bernyanyi ... pis kolopis kuntul baris/ ke kere ra uwis-uwis (susah ndak habis-habis), dengan kerja keras Mas Didi merangkak untuk mencapai tataran sekarang. Terkenal, masih teguh berpegang pada budaya asalnya. Nakal, nyeleneh, vulgar, nggilani? buat saya Mas Didi itu ya sosok orang yang berjuang, ndak instant.
Saya baru dapat kiriman lagu-lagu dari seorang kawan yang sedang menuntut ilmu di Australia sana. Saya langsung sumringah pol karena di dalamnya ada musik kesukaan saya ... Keroncong dan yang nyanyi Mus Mulyadi. Selain itu ada musik yang juga jadi kegemaran saya dan kegemaran teman pengirim itu ... lagu-lagu pop Sunda yang dilantunkan oleh Doel Sumbang yang sama sekali ndak sumbang. Selain itu ada juga Kang Mas Didi Kempot.
Ah keroncong ... saya sendiri ndak ngerti persisnya kapan saya mulai jatuh cinta dengan musik satu ini. Kocokan ukulele (cuk cak), betotan bass yang dhem dhem dhem itu, gesekan biola serta lengkingan suling ... mak nyep rasanya. Keroncong itu sendiri merupakan musik tua, hasil kreasi bangsa Indonesia dengan ramuan dari sana-sini. Keroncong sendiri bukan berasal dari Portugis, seperti yang banyak dikemukanan orang, walaupun pengaruh Portugis ada dalam musik keroncong (Fado). Lha soal keroncong dan Portugis ini, titik temunya ada di Tugu, sebuah kawasan yang terletak di Timur Jakarta yang penduduknya banyak yang berdarah Portugis dan tersohor karena keroncongnya.
Para pelantun dan penggemar berat lagu-lagu keroncong sering digelari "buaya keroncong", ndak jelas kenapa disebut begitu, ceritanya simpang-siur. Para seniman tua seperti Kusbini (pencipta lagu Bagimu Negri), Bram Titaley (mbahnya Harvey Malaihollo), Gesang (pencipta lagu Bengawan Solo) dan Mus Mulyadi (ndak ada hubungan darah dengan Mus Jumadi) misalnya adalah penyandang gelar "buaya keroncong". Meskipun saya bisa melantunkan beberapa lagu keroncong dan menyukai keroncong, tapi saya itu belum masuk tataran buaya, mungkin masih di tataran cicak.
Kantor yang siang itu praktis hanya menyisakan saya seorang, menambah kesedapan saya menikmati keroncong ... saya bisa ikutan nyanyi. Keroncong Moritsko, Tanah Air, Kemayoran, Bandar Jakarta, Sapu Lidi, Telomoyo dan salah satu favorit saya ... Dewi Murni. Maka bernyanyilah saya bersama Mus Mulyadi ... Dewi Murni berkembenkan sutra ungu/ Melambai meriah rasa/ Semerbak memenuhi/ Angkasa beralih biru. Dibaliknya awan/ Membayang pelangi beraneka warna/ Untuk menyambut Dewi Murni/ Yang turun mandi di tlaga dewa. Kuntum bunga semua/ Semerbak harum menyebar wangi/ Menantikan sang Dewi Murni/ Bertiti pelangi turun mandi .... jreng .... saya serasa Jaka Tarub sedang nginceng Dewi Murni mandi.
Lagu-lagu pop Sunda-nya Doel Sumbang lain lagi. Saya yang sangat sering merasa sebagai "urang Bandung" ya bisa terkekeh-kekeh mendengarkan gojekannya Akang Doel yang barakatak pol. Dengar saja itu lagu-lagu Pabaliut, Awewe Sapi Daging, Beja Ti Jurig, Somse dan Nini Nini Luar Nagri.
Walaupun begitu ada dua lagu Doel Sumbang yang jadi paporit abdi, nya eta Sisi Laut Pangandaran sareng Bulan Batu Hiu (dua tempat yang baru dihantam bencana). Rupina romantis pisan eta lagu. Coba saja cermati bagian awal Bulan Batu Hiu .... Bulan nu nga gantung/ Di langit Batu Hiu/Tinggal sapasi sesa purnama kamari/ Dua duaan anteng sosonoan/ Suka bungah sagala rasa dibedah. Tiis dina hate ... Atau bait-bait lagu Sisi Laut Pangandaran itu ... Harita basa usum halodo panjang/ Calik paduduaan dina samak salambar/ Hmmm saksina bulan anu sapotong/ Hmmm saksina bentang anu baranang ... terkaing-kaing sudah sayanya.
Habis semua saya dengarkan ... lha saya masih punya Didi Kempot dengan jajaran lagu Gedang Goreng, Kuncung, Mas Joko, Cintaku Sekonyong-konyong Koder, Stasiun Balapan dan Tresnamu Koyo Odol.
Begitulah saya ber"karaoke" sambil menunggu sang komputer me-render citra 3D Gunung Tatamailau resolusi tinggi. Lagu Jawa, Sunda, Indonesia ... ah, seperti kata Akang Doel ... dina ruang hate nu aya ukur salira.
Tadinya saya itu mau ndobos soal lain, tetapi begitu baca kegemasan, kejengkelan dan kemuakan yang benar-benar dan tidak akan berhenti sampai disininya Bulik Lita, ha saya kok ya jadi panas juga. Ndak habis pikir sayanya, geleng-geleng sambil misuh-misuh. Ada apa toh? Sudahlah, sampeyan baca saja di tempatnya Bulik Lita ini. Intinya, saya setuju pol sama Bulik, walaupun begitu saya ingin berbagi cerita soal yang satu ini.
Alkisah, salah satu keluarga dekat saya itu baru punya bayi. Sebagai paman yang turut berbahagia ya saya sambangi keluarga muda itu. Wah bayinya laki-laki tampak sehat, ibunyapun tampak bugar segar. Tangtingtungtingtangtingtung ... anaknya lucu betul. Tiba-tiba .... ngeeeeeeek! Bayinya nangis. Refleks tangan saya megang popok ... kering, longok ke dalam popok ... bersih, wah ini mesti kalau bukan karena wajah saya ya pasti bayinya minta susu.
"Neeeeng ... bayimu minta susu nih" saya mbengok begitu. "Ya Maaaaas", kata sang Ibu sambil tergopoh-gopoh membawa botol susu. Lho???!!! kok botol susu sih? Lho ... kok susu bubuk? Lha wong saya itu laki-laki penuh rasa ingin tahu, saya langsung tanya "Lho ... susumu kenapa? apa kamu lagi sakit? kok pake susu bubuk?". Nah, dimulailah acara menyerang dan bertahan dengan kata-kata ... weee tukang ndobos kok dilawan to?
Alasan pertama, kata dokternya mesti begini. Ngawur ... kalau bener itu dokter ngomong begitu, itu namanya dokter layak gantung. Lagi pula Ibunya sehat kok, paling tidak tampak luarnya begitu. Alasan kedua, ada "masalah teknis" dengan "termos ajaib" sang Ibu ... penthil ndelep. Haiyaaah, yang begitu itu bukan masalah kayaknya, kan ada alat bantu, nipple enhancer untuk mengatasi inverted nippled atau flat nipple ... penthil ndelep itu tadi. Alasan ketiga, dari rumah sakit sudah dikasih susu bubuk ini. Jan wedhus mbrangkang, itu rumah sakit bener-bener sakit apa ya? apa yang ngasih susu itu sudah minta ijin dulu? Lha kok lancang? Alasan keempat, demi estetika. Lha ... kebayangkan, kata-kata macam apa yang lantas keluar dari bibir mungil nan indah saya ini? Apa itu susu (dalam hal ini bermakna payudara) mau di-ler buat umum? Singkat cerita saya pulang ke rumah dengan kemrungsung.
Gusti Allah memberi dua payudara menthul-menthul begitu bukan tanpa sebab. Benda itu, dalam keadaan normal, lantas ujug-ujug mengeluarkan susu begitu pemiliknya melahirkan bayi juga bukan tanpa sebab. Manfaat Air Susu Ibu(nya) (ASI) bagi sang bayi, sudahlah saya ndak usah ndobos soal ini, sudah buoanyuoak yang cerita. Lha itu sudah ada susu di dada Ibu yang tinggal sruput kok bayinya malah dijejeli susu dari selangkangan sapi yang dijadikan bubuk yang lantas masih harus dilarutkan lagi dengan air? Bayi yang mestinya girang bakal ngemut penthil kulit malah dipaksa ngemut penthil karet.
Rumah sakit itu .... kalau benar cerita banyak orang bahwa ada rumah sakit yang memberi susu formula pada bayi yang baru lahir itu tanpa meminta ijin terlebih dahulu dari yang punya bayi, waduh bener-bener sakit itu. Apa ada ya tempat mengadu untuk kasus begini? Lantas alasan-alasan itu tadi??? ra mutu.
Masih ingat lagu ini?
aku anak sehat, tubuhku kuat karena Ibuku rajin dan cermat semasa aku bayi, slalu diberi ASI makanan bergizi, dan imunisasi
Mudah-mudahan lagu itu masih lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan iklan susu formula.
Oh iya, ngomong-ngomong soal susu, coba, apa sampeyan bisa ngomong "Susu" dengan lidah dijulurkan keluar sambil digigit dan bibir ndak boleh monyong-monyong?
....... .......
bisa???
....... .......
saya bisa ...
.......
.......
... nenen ...
Lha ... bisa kan?! jadi, kalau yang "sulit" begitu saja bisa, mestinya memberi susu secara eksklusif pada bayi sampeyan tentunya juga bisa. Saya ingin mengulang kata-katanya Bulik Lita lagi, jangan sungkan untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi anda, karena itu hak anda. Saya tambahi, dan hak bayi anda juga. ASI eksklusif ya ... ya ya ya ...
Kemarin itu ngobrol-ngobrol di dunia maya bersama Kang Mas Pecas, ya ngobrol bablas gitu, tanpa tema. Dari mulai soal pertemuan kemarin itu di Omah Sendok sing akeh menungso sampai ngobrol soal-soal ndak jelas. Salah satu obrolannya adalah soal ngumpul-ngumpul akhir tahun. Lha kok ngobrolnya jadi serius, maksudnya serius ngawurnya. Terpikir untuk ngumpul yang agak lama, bukan hanya beberapa jam yang begitu rawon habis langsung pulang (siapa ya ini?). Begini kira-kira isi percakapan kami itu.
Biasanya, akhir tahun itu beberapa diantara kita suka ngumpul-ngumpul, ada yang ngumpul di hotel ada yang di pucuk gunung dan ada pula yang ngumpul di rumah bersama keluarga saja. Acaranya juga beragam, nonton sinden, merenung, berdoa, mendem bareng atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol saja. Sesukanyalah, lha wong ndak ada aturan kalau malam tahun baru itu harus bagaimana kok. Lha gimana kalau para tukang nge-blog itu diajak ngumpul. Acaranya dilengkapi dengan pertandingan olah raga, olah tawa dan olah-olah dari Bandung seperti oncom, combro, cireng, bala-bala, dan sebangsanya itu. Lha kok olah raga .... lha iya, karena judul pertemuan itu adalah Olimpiager.
Cabang pertandingannya? Weee ... lha yang seru mestinya. Tidak ada cabang perorangan, semua cabang yang akan dipertandingkan adalah cabang beregu sebangsanya gobak sodor, kasti, tarik tambang, benteng-bentengan, petak umpet dan sebangsanya. Lha beregu itu mbagi regunya bagaimana? Lho kan di dunia blog-blogan begini ada banyak aggregat blog toh, lha ya sudah itu saja regunya. Kalau ndak ikutan ngagregat juga bisa membentuk regu sendiri. Lantas tempatnya di mana? Biar Kang Mas Pecas saja yang pecas ndahe soal yang satu ini.
Terbayang sudah itu kacaunya pertandingan petak umpet yang dipertandingkan secara paralel. Coba saja kalau ada tiga pertandingan yang dilaksanakan serentak yang melibatkan enam regu, sementara arena pertandingannya sama, apa ndak ketuker-tuker itu nantinya. Atau pertandingan kasti yang bolanya jangan pakai bola tenis, tapi bola golf.
Tapi sebentar dulu, biasanya akhir tahun itu sibuknya bukan kepalang, itu orang-orang mestinya pada menghilang. Soal waktu ya ndak perlu persis akhir tahun, bisa digeser-geser. Lagipula siapa juga yang bilang acaranya bakal akhir tahun ini, toh mungkin saja acaranya baru bisa terlaksana akhir tahun 2010. Lho ya ndak usah misuh-misuh begitu to, ini cuma obrolannya tukang ndobos dan pemecah kepala saja.
Sampeyan apa ada yang tahu kalau seminggu kemarin itu ada Jambore Pramuka se-Indonesia di Bumi Perkemahan Kiarapayung, Jatinangor? Seminggu lamanya, sejak tanggal 16 Juli lalu, para Pramuka itu ngemping di kakinya Gunung Manglayang sana. Saya sendiri ya hampir ndak ngeh kalau tidak "diberitahu" koran. Lha ... kali ini saya mau ndobos soal jaman saya dulu ikut jadi Pramuka.
Saya ini, walaupun tampan dan gagah, dulunya ya Pramuka juga, lha wong jaman itu jadi Pramuka itu wajib. Malah salah satu seragam sekolah setiap hari Sabtu ya seragam Pramuka yang coklat-coklat itu. Lengkap dengan topi coklat, sempritan, pisau belati, gulungan tali, kacu merah-putih dan simbol-simbol ke-Pramukaan lainnya. Hanya saja saya tidak pernah menyesali kewajiban yang satu ini, menikmatinya malah. Saya ikut Pramuka mulai dari Siaga sampai Penggalang Terap yang di bahunya pakai lambang seperti sersan itu. Dasarnya saya suka blusukan dan kemah-kemahan, pantang buat saya hukumnya mbolos acara Pramuka. Apalagi saya juga disemangati oleh Ibu dan Bapak saya yang bekas Pandu.
Berkemah, mencari jejak, memecahkan sandi, mainan morse sampai kibas-kibas bendera semaphore, adalah sebuah kegembiraan. Salah satu lagu wajib "di sini senang di sana senang", benar-benar dilantunkan dengan hati gembira. Berkemah hari Sabtu sore hingga Minggu sore, adalah acara yang ditunggu-tunggu, hanya saja saya itu selalu ditolak ikut masak-masak untuk teman se-regu, mungkin mereka berpikir daripada mereka ndak makan lebih baik saya dicegah untuk tidak masak saja, lagipula mosok ketua regu kok masak?! ketua regu itu tugasnya ya petentengan dan terkadang boleh juga jadi juru icip-icip, quality control ... yang artinya tukang periksa kuali.
Perkenalan saya dengan cara berkemah yang baik dan benar, membaca peta dan kompas, bertahan hidup jauh dari warung dan dapur bunda serta bagaimana hidup bersama orang lain yang bukan keluarga juga saya pelajari di Pramuka. Selain itu juga belajar simpul menyimpul yang kadang hasilnya bisa bikin senyum simpul. Lha masak diajari bagaimana cara menali kuda, punya kuda saja ndak kok.
"Berkesenian" di acara api unggun adalah sebuah acara wajib dalam setiap perkemahan. Acara begini selalu saja memaksa saya mengerahkan segala kemampuan untuk mepermalukan diri sendiri, hingga akhirnya putuslah yang namanya urat malu itu ... sampai sekarang! Kalau dilihat dari sudut pandang positif, namanya belajar memperkuat rasa percaya diri, hanya saja dalam kasus saya ... bablas.
Sebagai Pramuka penyandang bejibun tanda-tanda kecakapan (bukan kecakepan), kecuali masak, saya juga pernah dipilih ikut Jambore. Wah jan sumringah pol. Hanya saja jaman saya itu saya ndak sempat ikut Satuan Karya Pramuka (Saka). Saka itu kira-kira seperti spesialisasi kecakapan sesuai minat. Ada Saka Bahari, buat yang seneng laut-lautan, ada Saka Dirgantara buat yang seneng mabur-maburan, ada saka Wanabakti yang senang hutan-hutanan, ada juga Saka Keluarga Berencana (Kencana) buat yang suka ... suka merencanakan berkeluarga? Lantas saya kok mebayangkan kalau dulu itu saya ikutan Saka-Saka itu, saya ikut Saka apa ya? Mungkin bakal ikut Sakahayang ... mau-maunya sendiri. Sayangnya Saka begini ndak ada, apalagi Saka Blog.
Balik lagi ke Jambore di Kiarapayung itu, baca-baca katanya ada "ceramah" soal sepeda motor dengan sponsor salah satu pabrikan motor terkemuka. Potential market, begitu menurut pihak sponsor. Ada juga soal dodol, sang kudapan manis itu, sampai-sampai para Pramuka diminta membuat karya tulis serta puisi bertema dodol. Lha kok ini bisa berpotensi untuk pembentukan Saka baru, Saka Dodol. Bersamaan dengan Jambore itu juga digelar turnamen golf ... lha ada Saka Golf. Lho kan saya jadi nyinyir ndak mutu begini.
Sudahlah, yang pasti, jaman saya masih ber-Pramuka itu adalah masa yang menyenangkan ... sangat menyenangkan. Sampeyan apa pernah ikut Pramuka?
Ada yang buat saya agak aneh dari para pengguna payung di Jepang ini. Entah mungkin karena harganya yang relatif "murah" untuk ukuran orang Jepang, para pengguna payung banyak yang tidak perduli dengan payungnya. Payung-payung itu setelah sekali dipakai langsung dibuang ke keranjang sampah atau ditinggalkan begitu saja. Saya ndobos soal payung ini sambil nunggu kereta api di bandara, dan saya nulisnya sambil lirik-lirik petugas yang mebersihkan kereta api. Sampai saat ini sudah ada lebih dari 5 payung yang dikumpulkan petugas kebersihan itu dari gerbong-gerbong kereta yang baru datang dari Chiba.
Umumnya payung yang dibuang atau ditinggalkan begitu saja itu bentuknya ndak aneh-aneh dan bahan utama payungnya juga hanya plastik tembus pandang. Saya punya dua payung seperti itu di rumah, dan dua-duanya saya ambil dari tempat sampah. Lha kok mulung? bukan ... bukan ... ini bukan soal mampu beli atau pelit, bahan payung itu dari plastik je yang konon kabarnya tidak bisa terurai di alam dan ujung-ujungnya lha sampeyan ngertikan ke mana ujungnya.
Sampah plastik begini memang agak luar biasa di Jepang, apa-apa dibungkus plastik, belanja sedikit diwadahi plastik. Coba saja beli air mineral dalam botol plastik di warung, tanpa ba bi bu, botol plastik langsung masuk ke kantong plastik begitu kita selesai membayar kalau ndak buru-buru minta agar botol plastik itu jangan diplastiki. Iya sih, itu keranjang sampah sudah dipisah-pisah, mana buat kaleng, mana buat plastik, mana buat kertas dan mana yang buat lainnya. Jadwal buang sampah di perumahan juga ditentukan kapan boleh buang kertas, sampah dapur, plastik dan barang-barang ini itu. Bahkan di lingkungan apartmen saya, mbuang botol plastik (PET) juga punya tatacara, tutup botol dan label minumannya disatukan dengan plastik-plastik lain, lantas botolnya sendiri harus dipisahkan dan dibuang secara terpisah.
Waaah bagus itu, sampah mbuangnya sudah di pisah-pisah dan mestinya nanti plastik-plastik itu bakal didaur ulang ... begitu katanya. Hanya saja ndak tahu kenapa saya kok tetap saja ndak sreg rasanya. Makanya saya selalu berbelanja dengan menggunakan tas dari kain, menolak barang belanjaan dimasukan kantong plastik dan sedapat mungkin ndak beli air yang dikemas dalam botol plastik ... kalau haus saya langsung ngglogok air ledeng saja.
Negara ini memang penuh plastik, apa orang-orang sini juga pada operasi plastik ya kok wajahnya licin-licin begitu. Kalau iya ... kok kasihan ya, ndak bisa ikut acara api unggun itu atau pesta bakar-bakar ikan. Coba saja mereka disuruh ikut, nantikan pipinya pada keluar tulisan swallow ... sandal jepit kwalitas unggul.
Malam Jum'at itu bagi banyak orang identik dengan demit, hantu, genderuwo, ebek, tuyul, kuntilanak, wewe dan mahluk-mahluk seram dari dunia alam sono lainnya. Malam Jum'at kemarin itu, tanggal 20 Juli, saya ya ketemu para penghuni dunia sono dari jenis yang berbeda. Hanya saja mereka itu tidak membuat saya nggreges ketakutan tetapi malah capek ketawa. Malam Jum'at kemarin itu saya bertemu para mahluk tukang ndobos di dunia maya. Sungguh sangat menyenangkan, bisa dibilang puncak kegembiraan acara liburan saya kali ini. Coba saja, apa pernah sampeyan ngumpul di warung sampe warungnya tutup dan yang punya warung malah mohon pamit pulang duluan karena yang ngumpul belum mau pulang juga?
Acara yang digagas Kang Mas Pecas dan Dinda sang penebar pesona di Omah Sendok ini memang luar biasa. Acaranya sendiri dadakan dan praktis tanpa persiapan yang aneh-aneh, semuanya seperti terjadi begitu saja. Undangan hanya "disebar" lewat posting di dua blog dan lewat sarana bincang-bincang (chatting) Pemilihan tempat berkumpul juga hanya lewat komunikasi telepon dengan Dinda yang sangat singkat, dengan acuan koran yang saat itu sedang saya baca. Pilihan itu ternyata tidak mengecewakan, paling tidak warung itu tidak mengusir tamunya walaupun mereka mau tutup.
Ada kelegaan dan kegembiraan yang besar setelah acara itu lewat, karena ternyata para mahluk malam Jum'at kemarin itu benar-benar menyenangkan seperti pesan dan komentar yang sering mereka tinggalkan di kotak mbengok (shoutbox) dunia maya. Beberapa wajah-wajah yang selama ini hanya hidup dalam bayangan, malam itu hadir secara nyata apa adanya lengkap dengan ciri khas masing-masing. Coba saja lihat ada yang datang dengan dandanan sumuknya (gerah), ada yang terlihat sangat mesranya (lha wong manten baru kok), ada juga yang tertawanya menggelegar, dan ada yang dengan tekun melahap hidangan apapun yang lewat. Tak semua memang lantas jadi aktif mengumbar kata-kata, ada pula yang lebih banyak diam sambil senyum-senyum, akan tetapi, yang begini ini tingkahnya ya bisa bikin ger-geran juga. Seperti layaknya kelompok sandiwara jenaka, ada yang tukang ngumpan ada yang tukang nggebuk.
Malam itu kok rasanya komplit, hati terhibur pol, perut juga terhibur sangat. Coba saya ingat-ingat apa saja yang masuk ke perut saya malam itu, tahu gejrot (ini siapa yang pesen ya?), icip-icip soto tangkar tanah tinggi (pedes), rawon, telor asin, dawet, wedang jahe, kopi, teh manis anget dan apa lagi ya? Oh iya ... bir pletok gratisan dari yang punya warung itu. Minuman hangat tanpa alkohol walaupun berjulukan bir itu didapat gratis karena keahlian Dinda menginterogasi pemilik warung. Dapat gratisannya sih cuma satu gelas, tetapi karena yang berminat banyak, maka kalimat seperti ini terlontar "Satu gelas juga ndak apa-apa Mbak, tapi sedotannya delapan belas ya ... ".
Terima kasih buat semua, kalian semua sudah mengisi liburan saya kali ini dengan kesukacitaan yang hebat ... liburan saya kali ini sudah rampung, besok saya sudah harus berdesak-desakan lagi di kereta api di negara yang jauh ini. Sampai ketemu lagi sahabat, saya pasti akan merindukan kalian semua (haiyaaah) ... eh iya, itu kemarin sedotannya gratis juga kan?
Ini kerjaannya Dinda dan saya dipakai jadi tameng. Tapi karena ngajaknya kumpul-kumpul dan pakai makan-makan, lha mana bisa saya tolak, lha wong saya itu sebangsa laler kok, kalo ada makanan ya wajarnya mesti dateng. Jadi begitulah sodara-sodara sekalian, ada undangan buat kumpul-kumpul ini ceritanya dan anda semua diajak ikut berkumpul.
Kang Mas Pecas Ndahe lantas meminta saya memajang pengumuman kumpul-kumpul ini, dengan harapan para pembacanya sudi untuk datang untuk terlibat dalam acara bertatap-tatapan itu. Tetapi, seperti yang dikatakan Kang Mas Pecas itu, "Saya tahu, mungkin ndak semua blogger tertarik datang, apalagi sudi bertemu kami. Mungkin juga ada di antara sampean yang sudah punya acara lain atau masih sibuk bekerja sehingga tak bisa datang. Ndak apa-apa. Ini undangan sukarela, suka-suka. Pokoke santai sajalah".
Ngumpulnya kapan? Hari Kamis tanggal 20 Juli 2006. Tempatnya di Kafe Omah Sendok, Jalan Taman Empu Sendok 45, Blok S, Jakarta Selatan. Katanya tempat itu persisnya ada di belakang pom bensin Senopati, tetapi mudah-mudahan makannya ndak pake aroma bensin. Oh iya, waktunya jam 7 malam sampe warungnya tutup.
Begitu saja ajakan ini, sampai ketemu besok ya .....
tambahan: kata penggagas acaranya "yarwe" ... mbayar dewe-dewe. Dress code? lha...code-nya ndak ada, tapi kalau bisa mohon pakai dress.
Liburan kali ini, selain diisi dengan acara wajib sowan, tentunya juga diisi dengan bertetirah ke beberapa tempat pengundang gembira kesukaan saya. Salah satunya adalah Pantai Ciputih di Ujung Kulon, Banten. Saya suka tempat ini karena pantainya relatif masih bersih, sehingga tak perlu resah pada saat anak-anak sedang berenang-renang atau hanya sekedar main air di pantai. Pengunjungnyapun tak ramai, mungkin karena jalan untuk mencapai tempat ini dari Sumur bisa dibilang rusak kalau tidak mau dibilang hancur. Tetapi yang terpenting, di Ciputih saya bisa leyeh-leyeh dan bisa makan ikan yang masih segar-segar, bukannya makan ikan yang disuruh pura-pura segar seperti di beberapa toko swalayan itu.
Bicara soal makan, dalam perjalanan menuju lokasi tetirah, ada sebuah tempat makan yang tak pernah saya lewatkan untuk dihampiri. Rumah Makan Astry (pakai "y") namanya dan berada di Jalan Raya Labuan sekitar 3 km dari kota Labuan. Jenis makanan yang selalu saya uber di rumah makan ini adalah otak-otak yang ukurannya jumbo. Lha bagaimana ndak jumbo, otak-otak yang kalau di kota-kota besar itu hanya bajunya saja yang besar sementara isinya memiliki ukuran yang memalukan, di tempat ini isinya sampai menuh-menuhin bungkusnya. Disajikan selagi hangat beserta bumbu kacang yang boleh minta lagi sesuka hati, sungguh belum ada lawannya. Akan tetapi karena ukurannya yang tidak umum, paling kuat saya hanya bisa menyantap lima bungkus.
Sebagaimana layaknya rumah makan dengan sajian utama hidangan (dari) laut, tersedia pula sajian ikan, udang dan cumi-cumi yang nikmat rasanya disantap dengan nasi ngebul-ngebul yang dimasak dengan dandang berteknologi lama. Sebagai pelengkap juga tersedia minuman bersebutan "joice" (pakai "o") jeruk, alpukat, melon dan tomat yang kalau mau dicampur-campur juga boleh .... sueger pol itu mestinya, cuma saya kok ya belum pernah pesan. Biasanya saya cuma pesan joice teh anget manis saja.
Lha masalahnya sekarang, Ciputih sendiri itu masih dua jam lebih dari tempat makan sedap ini. Sementara saya itu persis ular, kalau perut penuh lantas ngantuk, untungnya kali ini teman saya yang menyupiri sehingga saya bisa lier-lier tidur-tidur ayam. Akan tetapi, kenikmatan tidur-tidur ayam begini tak akan bisa dinikmati begitu lepas dari Sumur menuju tempat menginap yang jaraknya 7 km itu. Jalan yang hanya berupa jalan tanah bertabur kerikil itu wajahnya sudah ndak karu-karuan, dan dimusim hujan pasti lebih mirip sungai daripada jalan mobil. Jangan berharap banyak jika sampeyan mau mengunjungi tempat ini dengan menggunakan kendaraan sedan atau kendaraan roda empat lain yang berlantai rendah. Bisa-bisa mobil sampeyan malah nyangkut dan berjungkat-jungkit seperti timbangan daging.
Lokasi tempat menginap yang menjadi tujuan itu letaknya persisi di bibir pantai berpasir putih. Dari teras tempat menginap deru ombak bisa didengar dengan jelas, ditambah dengan hembusan angin pantai berbau garam lengkaplah sudah suasana pantainya. Panas? ya tidak juga, karena tempat ini banyak ditumbuhi pohon-pohon yang sudah besar berdaun rimbun. Berenanglah sepuasnya, karena ombak di pantai ini juga ramah. Airnya jernih, ndak nggilani seperti air di Pantai Ancol itu. Selesai berenang, jangan lupa membersihkan badan dengan air tawar, kecuali kalau sampeyan berminat merubah diri jadi ikan asin.
Suasana malam hari lebih yahud lagi, terutama pada saat langit tak berawan. Bintang-bintang, sampe sampeyan keringetan ngitungnya ndak bakal habis itu bintang dihitungi semua. Piringan galaksi Bima Sakti juga jelas terang terlihat, putih seperti tumpahan susu. Sesekali bisa dilihat seleretan meteorit, "bintang jatuh".
Lebih nikmat lagi jika makan malam dimasak sendiri di pinggir pantai. Bukan hanya soal ini masakan sendiri, tetapi prosesnya yang mbundet dan lama itu bikin perut teriak-teriak ndak sabar dan yang namanya air liur sudah seperti banjir bah. Pol tenan nikmatnya makan ikan bakar, seperti syair lagu Antara Anyer dan Jakarta yang diplintir sedikit ... "deru sang ombak, bergilir ke pantai, disambut alunan, liur melambai".