Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, August 06, 2006
Sejarah

Akhir pekan ini saya isi dengan membaca dan menulis, sama sekali tidak keluar rumah. Ini gara-gara ibu yang satu ini, ujug-ujug juga minta didongengi seperti Mas Yoyok, MpokB dan Mas Gandrik. Bukan karena saya ndak hafal ceritanya, saya membaca lagi supaya ndak ada hal-hal penting yang terlewat, maklum ibu itu minta saya ndobos soal sejarah je.

Sejarah ... inilah salah satu mata pelajaran yang saya suka sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah dulu. Saya akui kalau guru sejarah saya itu, Suster Bernadeth, cantiknya pol, tetapi saya lebih tertarik karena gaya tuturnya yang lebih seperti orang bercerita, ndongeng. Suster Bernadeth juga tidak pernah memaksa kami menghafal angka-angka tanggal bulan tahun. Suatu kali dia bertutur manis "buat saya, yang penting kalian memahami mengapa suatu hal itu terjadi dan apa akibatnya di masa sesudahnya".  Buatnya, kapan perang Diponegoro itu mulai dan kapan selesai menjadi seperti pelengkap saja, tetapi kenapa Diponegoro memutuskan untuk berperang dan kenapa dia lantas memutuskan untuk mau berunding adalah hal yang penting.

Saya lantas sering terkagum-kagum dengan para saudara sepupu saya yang seumuran (mereka bersekolah di tempat yang ndak ada Suster Bernadeth-nya). Mereka hafal tanggal bulan tahun sebuah peristiwa atau kelahiran dan kematian tokoh. Tetapi mereka sama sekali tak pernah diberitahu soal masalah sengketa tanah dan harga diri yang menyebabkan Diponegoro memaklumatkan perang suci terhadap Belanda. Perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Jawa yang membuat bangkrut pemerintah kolonial Belanda.

Saya tak hendak menyalahkan para penganut jurus menghafal angka, saya hanya ingin menggugat jika jurus tersebut lantas dijadikan satu-satunya jurus untuk memahami apa yang sudah terjadi, memahami sejarah. Saya lantas bersedih ketika mengetahui bahwa jurus itulah yang umum diajarkan pada banyak sekolah di Indonesia, sementara para pejabat dan praktisi di dunia politik sibuk mbengok "kita harus belajar dari sejarah" ... belajar apa? belajar menghafal angka begitu? Lagi pula mengingat angka itu bukanlah pekerjaan gampang, bisa-bisa tertukar dengan nomor PIN ATM. Lantas jika ada kejadian tak mengenakan kita dikatakan sebagai bangsa pelupa, walaupun sebenarnya mungkin bukan lupa, tapi ya ndak pernah diberi tahu saja.

Agak lega juga saya ketika tahu anak saya lancar bercerita soal Perang Pasifik. Suatu malam, saya didongengi olehnya soal perang itu. Hari ini, ditengah baca-baca dan tulis-tulis, saya jadi kangen Suster Bernadeth.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, August 05, 2006
Saya (Sudah) Bisa Slurrrppp ...

Orang Jepang gemar makan mie, istilah generik untuk makanan yang dibuat dari tepung terigu  dan lantas dibentuk panjang-panjang seperti tali atau benang itu .... ya mie. Macam-macam namanya di sini, ada  Soba, Ramen, Udon, Somen, Yakisoba, dan mbuh apa lagi, pokoknya mie lah.

Walaupun saya bisa (dan suka) makan mie-mie begitu, tetapi berdasarkan standard Jepang saya belum lulus dalam soal makan mie yang baik dan benar, serta sopan. Untuk dapat disebut sebagai penyantap mie yang layak, makan mie-nya harus dengan cara disedot dan proses penyedotannya harus diiringi dengan bunyi slurrrppp begitu.

Lha sulit ini bagi saya. Sedari kecil saya diajari oleh orang tua untuk tidak mengeluarkan suara pada saat bersantap. Baik itu suara karena omongan, mulut berkecipak atau berbunyi slurrrppp itu tadi. Kalau itu dilanggar, tatapan bapak saya yang kurang bagus dan omelan ibu saya yang lebih deras dari hujan itu adalah imbalannya. Pokoknya ndak sopan katanya.

Lha kok ndilalah aturan makan mie di negara ini berkata lain, harus pakai slurrrppp begitu. Ya sudah, toh pepatah bilang "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" yang artinya junjunglah langit kalau tidak mau ketiban langit. Maka dengan semangat agar tidak ketiban langit, sayapun mulai belajar slurrrppp yang baik dan benar.

Sudah lama pelajaran ini saya lakoni, dan makan siang yang namanya menu mie itu jadi menu yang rajin dipilih. Gagal maning gagal maning, sulit sekali ini pelajaran, lha wong saya itu ya pada dasarnya anak yang sopan dan trauma slurrrppp kok. Tetapi dengan upaya yang keras dan bersungguh-sungguh, berita bahagia ini bisa saya bagi ke semua pembaca.

Siang tadi, sekitar pukul 12:45 waktu Tokyo dengan mie jenis soba saya berhasil menyelurup mie itu. Kekerasan bunyi dinyatakan lulus, kemulusan mie masuk ke dalam mulut pun saya lulus dan mangkok licin tandas diakhir acara bersantap. Sudah luluskah saya? .... lulus sih, tetapi dengan catatan.

Jika sedang ber-slurrrppp begitu, itu kuah mie tidak boleh blepetan kemana-mana. Saya itukan namanya juga baru bisa bunyi saja, jadi tadi siang itu bukan hanya baju bagian atas yang dibasahi kuah mie tetapi juga muka. Kali itu, sehabis makan saya tidak hanya cuci tangan, tetapi juga cuci muka.

Mungkin kalau dalam Bahasa Jawa, mie soba itu harus diterjemahkan sebagai Mie Raub. Sampeyan mau saya slurrrppp, nanti kalau sudah bisa raub.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:28 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Friday, August 04, 2006
Borg

Repot memang kalau berani mulai ndobos hal-hal yang menyangkut "kesukaan" atau "kegilaan" (tergantung dari kadarnya), bisa-bisa malah menuai protes, atau dalam kadar yang lebih ringan "ketidakpuasan" dari para pemirsa dobosan itu. Kemarin itu saya ndobos soal Star Trek yang dengan upaya sekeras saya mampu, saya potong di banyak bagian atas nama tenggang rasa, karena toh tidak semua orang yang berbaik hati nyambangi blog saya ini adalah penyuka Star Trek. Lha gara-gara motong itu Mas Yoyok sebagai penggemar Borg dan Blog kecewa. Maaf Mas, saya coba obati kekecewaan sampeyan itu dengan ndobos soal Borg kali ini, walaupun ini berarti harus menggeser jadwal terbit tulisan lain. Mudah-mudahan puas dan para pembaca yang bukan penggemar Star Trek bisa juga turut menikmati (at your own risk ya). Lha buat saya sendiri,  "anda puas saya lemas" ... bagus buat ditulis di bak truk.

Borg, mahluk hidup setengah mesin (cybernetic organism) memang banyak penggemarnya, baik sebagai hiburan maupun untuk lantas dijadikan kultur sendiri. Menurut saya itu terjadi karena Borg di satu sisi begitu dekat dengan kehidupan kita tetapi di sisi lain agak-agak tersembunyi. Bagaimana sejarahya, dari mana mereka berasal, bagaimana akhirnya, bagaimana kehidupan mereka, pertanyaan-pertanyaan model infotainment yang baru saja difatwai itu memang sudah jamak. Baiklah, saya mulai saja ...

Borg adalah nama yang diberikan pada sebuah entitas (mahluk) yang terdiri dari entah berapa banyak "individu" yang disebut drone atau Borg Drone. Kata individu sengaja saya beri tanda kutip karena dalam kamusnya Borg individualisme itu tidak ada, yang ada hanya kelompok. Borg  berasal dari Delta Quadrant dalam galaksi Bima Sakti, sama dengan galaksi tempat hidup kita ini. Bayangkan galaksi Bima Sakti ini seperti sebuah piring, lantas dibagi empat sama besar dengan titik tengah piring sebagai titik bagi, sehingga kita mendapatkan empat juring sama besar. Bagian kiri bawah adalah Alpha Quadrant di mana kita berada, lantas bergerak berlawanan dengan jarum jam, Beta Quadrant, Delta Quadrant dan yang ada di kiri atas adalah Gamma Quadrant. Kalau masih bingung bisa lihat peta di sebelah ini.

Borg memiliki rumah yang disebut Unimatrix yang sayangnya belum pernah di sensus ada berapa jumlahnya. Seingat saya nomer terbesar adalah Unimatrix 525 tempat asal drone Four of Twelve, yang muncul pada salah satu episode di Star Trek: Voyager. Soal nama drone yang aneh begitu, silahkan baca artikel sebelum ini. Borg hanya memiliki satu tujuan hidup, mendapatkan kesempurnaan. Borg dipimpin oleh seorang ratu dan seluruh Borg Drone ada di bawah kendali sang ratu ini. Seperti sudah saya katakan, sifat individu itu tak ada dalam Borg, semua kesadaran akan keberadaan diri sendiri dikumpulkan dalam hive mind yang pada akhirnya membentuk sebuah kesadaran bersama. Hive mind inilah yang membawa seluruh Borg untuk mencapai tujuan utamanya itu dengan sang ratu sebagai pucuk pimpinan tertinggi. Kepentingan pribadi, keinginan individu ditiadakan (termasuk keinginan pribadi sang ratu ... kalau ada) demi kepentingan bersama dan setiap drone lantas diberi tugas untuk mencapai kepentingan tersebut. Tidak ada toleransi di sini, kalau ada Borg yang mengalami kelainan, ya langsung diputus koneksinya ke hive mind dan biasanya lantas dienyahkan. He he he ... kok rasanya rada-rada akrab ya dengan situasi begini ya.

Sekarang asal-usul Borg. Lha ini, ndak jelas, lha wong waktu saya lahir itu Borg sudah ada duluan kok. Lagipula, tidak satupun serial dan film layar lebar Star Trek (seingat saya) yang menceritakan soal ini, walaupun ada beberapa indikasi. Guinan (diperankan oleh Whoopy Goldberg), sang bartender tua yang awet banget mukanya yang bertugas di Ten Forward (ruang leyeh-leyeh awak pesawat Enterprise) pernah berkata bahwa Borg sudah ada sejak bermilenia-milenia yang lalu. Tetapi lha wong namanya para penggila Star Trek itu beneran gendheng kok, lantas muncul beberapa versi cerita (yang tidak di filmkan) soal asal-usul tersebut di milis dan komik. Salah satu versi yang merupakan favoit saya adalah sebagai berikut;  Pada suatu waktu ada seorang raja yang mempunyai seorang putri (lha kok mirip putri salju ya awalnya?). Sang putri menderita suatu penyakit yang merusak tubuhnya. Tidak sebagaimana umumnya cerita raja yang putrinya sakit dan lantas bikin sayembara, raja ini malah memanggil para ahli ilmu pengetahuan untuk mengobati putrinya. Para ahli lantas menggunakan teknologi tercanggih yang mereka miliki, nano technology (nanotech) dan lantas robot-robot berukuran sangat renik (berukuran nano) dilepaskan ke dalam tubuh sang putri. Hanya saja para robot itu tidak diprogram untuk hanya menyembuhkan sang putri, tetapi juga diprogram untuk membuat sang putri menjadi sempurna. Bagian-bagian tubuh sang putri lantas dihilangkan, diganti atau ditambahi, sang putri menjadi mahluk baru ... ratu Borg pertama lahir dengan satu tujuan, untuk menjadi mahluk sempurna!

Dalam Star Trek, Borg digambarkan dengan berbagai sifat, ada yang digambarkan sebagai bangsa yang cuek, ndak mau ngganggu bangsa lain kecuali kalau diprovokasi. Dalam cerita lain Borg digambarkan sebagai bangsa yang sangat agresif, menyerang walaupun tanpa di provokasi. Diprovokasi atau tidak, jika Borg menyerang maka hanya ada dua pilihan bagi yang diserang, terima mati atau mau diasimilasi paksa. Cara satu-satunya untuk selamat adalah menghancurkan seluruh drone, karena dalam kamus Borg kata menyerah itu tidak ada dan ini bukan hanya semboyan. Ada banyak bertebaran di film-film Star Trek kata-kata kengerian yang terlontar tentang Borg, ini ada beberapa yang bisa saya kutip :

"In their Collective state, the Borg are utterly without mercy, driven on by will alone, the will to conquer. They are beyond redemption, beyond reason" (Jean-Luc Picard).

"The Borg Collective is like a force of nature. You don't feel anger toward a storm on the horizon, you just avoid it" (Bangsa Arturius).

atau yang nyeleneh bikin saya senyum,

"The Borg is the party poopers of the galaxy" (The Doctor kepada Seven of Nine yang "bekas" Borg dalam serial Star Trek: Voyager).

Bagi banyak mahluk, mereka lebih memilih mati daripada diasimilasi oleh Borg. Ini bukan soal harga diri, karena menurut mereka diasimilasi oleh Borg itu lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Yang dimaksud dengan diasimilasi di sini adalah dijadikan drone oleh Borg drone. Cara borg mengasimilasi mahluk lain adalah dengan cara menyuntikkan nanobots (robot nano) ke tubuh mahluk hidup lain itu. Nanobots lantas bekerja merubah tubuh mahluk malang itu dari dalam. Pekerjaan selanjutnya, para drone mengiris, memotong, mencabut, mengganti dan menambahi bagian-bagian tubuh mahluk malang itu sehingga dia layak bergelar drone, bagian dari Borg. Langkah berikutnya adalah menamai drone baru itu sesuai dengan kedudukannya, fungsinya dan tempatnya bekerja ... Seven of Nine, Tertiary Adjunct of Unimatrix 01 ... suit suiiiiit, sekseeeh sungguh. Untuk setiap bangsa yang berhasil diasimilasi lantas diberi nomer. Jadi dalam Borg ada itu spesies 556 atau yang terkenal adalah spesies 125 yang lantas jadi ratu. Sebagai catatan, nomer urut mahasiswa saya dulu itu adalah 125 ... nomer cantik.

Senjata yang banyak digunakan dalam film Star Trek adalah phaser, pistol atau senapan sinar. Lha wong namanya sinar, kan gelombang elektromagnetik itu yang punya frekuensi. Dalam pelajaran fisika kan sudah diberitahu kalau yang namanya frekuensi itu bisa di saring. Borg sebenarnya tidak kebal senjata sinar itu, tapi kalau drone dibedil sinar begini, sebelum mati dia mengirimkan informasi pada frekuensi berapa senjata itu disetel. Informasi itu lantas menyebar ke semua drone lain yang ada di dekat tempat kejadian dan akibatnya semua drone di situ tau harus nyaring frekuensi berapa agar tidak modar atau semaput seperti bekas temannya yang di ssssssrt itu. Makanya cara efektif untuk melumpuhkan drone adalah dengan dikepruk, digebuki dengan catatan kalau kuat ... karena drone itu tenaganya luar biasa.

Pesawat Borg. Jangan membayangkan pesawat ruang angkasa Borg seperti pesawat ruang angkasa mahluk lain yang cantik dilihat dan aerodinamis. Bentuk aerodinamis adalah kesia-siaan di ruang angkasa yang hampa, hukum aerodinamika tidak berlaku, lha wong ndak ada udara atau cairan yang menghambat gerak pesawat kok. Bentuk pesawat ruang angkasa Borg adalah kubus pejal. Praktis, gampang nyucinya, ndak banyak tekukan kayak mobil mahal atau motor bebek itu. Kubus ini memiliki volume 28 kilometer kubik dan bisa mengangkut 200 ribu drones. Tidak seperti halnya pesawat ruang angkasa mahluk lain yang terbagi-bagi dengan jelas seperti ini ruang kemudi, ini ruang mesin, ini dapur, itu rumah sakit, ini wc, dst., pesawat Borg tidak begitu, semua bagian-bagian itu tersebar di seluruh pesawat dan oleh karenanya pesawat ini kadang tetap mampu bertempur walaupun sudah babak belur. Ini menjadikan pesawat Borg sebagai pesawat paling ditakuti. Dalam sebuah pertempuran besar di dekat bintang Wolf 359 yang ada di gugus bintang Leo, 1 pesawat Borg dikeroyok 40 pesawat federasi dan ketika pertempuran selesai dengan hancurnya pesawat Borg itu, hanya ada satu pesawat federasi yang tersisa ... Enterprise.

Ada banyak tokoh Borg yang lantas saya "akrabi", tetapi jika saya hanya boleh memilih satu untuk diceritakan, maka yang saya pilih adalah Locutus of Borg  (walaupun ingin sekali memilih Seven of Nine yang aduhai itu). Ini tokoh istimewa sekali, karena sebelum diasimilasi dan dinamai Locutus (penamaan seperti ini juga merupakan keanehan dalam dunia Borg) tokoh ini aslinya adalah Jean-Luc Picard sang kapten Enterprise. Kisah lengkap Picard dari mulai tertangkap, menjadi Borg, hingga bisa lepas dan kembali "normal" bisa disaksikan di episode The Best of Both World I dan II yang merupakan episode yang paling saya sukai. Terasimilasinya Picard ke dalam Borg memberikan keuntungan besar bagi Borg. Picard yang paham ini itunya United Federation of Planets (UFP) itu menjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga bagi Borg, belum lagi pengetahuan Picard akan taktik perang. Babak belurnya UFP dalam pertempuran di Wolf 359 sebagian disebabkan oleh pengetahuan yang "diberikan" oleh Picard kepada Borg. Walaupun pada akhirnya Picard bisa dilepaskan dan disembuhkan, sisa-sisa Locutus tetap melekat dalam diri Picard.

Pada tulisan kemarin soal Star Trek saya menyebutkan bahwa Borg untuk saya memiliki cara hidup seperti semut. Nah, mungkin sampeyan sudah bisa melihatnya kenapa, tapi kalau belum jelas kira-kira begini. Ratu Borg dan ratu semut itu punya kemiripan yang sangat dalam mengatur anak buahnya (drone). Seluruh anggota koloni semut memiliki tugas yang jelas, ada tukang kebun, ada tukang ngasuh anak, pengangkut, tentara dsb. Borg juga begitu, setiap individu Borg (drone) memiliki tugas yang yang jelas. Kalau Borg mengasimilasi mahluk hidup lain untuk dijadikan budak, semut juga begitu. Ada jenis semut yang memiliki budak belian. Lho ... ada ini, betul. Semut ini menculik telur dan larva semut lain, lantas itu larva dan telur hasil nyulik dipelihara (tak lupa dicekoki berbagai hormon) dan sesudah besar dijadikan budak. Bahkan ada semut dari marga Polyergus dari Amerika Selatan lebih edan lagi, semut yang baru jadi ratu semut menyerang ratu semut koloni semut dari jenis lain, membunuh ratunya dan seluruh koloni semut itu diperbudaknya untuk merawat anak-anak yang dihasilkannya.

Asimilasi paksa gaya Borg dengan menyuntikan nanobots ke tubuh mahluk hidup lain juga terjadi di dunia nyata yang kita tinggali ini walaupun tidak dengan cara menyuntikkan nanobots. Ndak percaya? mari kita lihat. Coba tengok kehidupan di banyak kota besar dunia yang katanya menjurus ke arah pendahuluan kepentingan individu itu ... wah ndobos itu, yang ada adalah ke arah mendahulukan kepentingan segelintir orang yang lantas dinamai "kepentingan bersama".  Tengok saja orang-orang di Tokyo, penyeragaman itu tampak sangat mencolok, orang-orang diarahkan untuk menjadi budak "kepentingan bersama" itu. Perlawanan yang dilakukan sekumpulan orang dengan gaya Harajuku-nya dianggap sebagai penyempalan. Lihat pula para "salary man" itu, ber-jas gelap, celana gelap, berbaju putih dan berdasi gelap persis kayak Man in Black yang kehilangan cengdem (kacamata hitam) ... seragam. Maka tak heran kalau teman di kantor kemarin itu pada ternganga ketika saya ngantor pakai baju kaos saja, walaupun di kaosnya ada gambar pertunjukan tonil yang menurut saya bagus banget.

Para "salary man" ini juga tak berani pulang ke rumah sebelum atasannya beranjak dari meja kerjanya, dan para atasanpun seolah dibebani rasa malu jika pulang tepat waktu. Berani nyempal, maka para penyempal ini akan diberi cap antisosial dan dikucilkan. Bagi yang ndak kuat mengikuti aturan-aturan itu bisa tersisih dan lantas jadi gelandangan atau jadi peloncat yang ndak indah dari gedung bertingkat atau menabrakkan diri ke kereta api yang sedang melaju ... bunuh diri. Gejala begini memang terlihat jelas di Tokyo, tetapi tidak unik buat kota ini saja. Pada kadar yang lebih samar hal yang sama juga terjadi di London, Paris, New York, Singapura, Shanghai dan banyak kota besar lainnya, mungkin juga di Jakarta (haree genee kagak punya hp? antisosial lu).

Aturan main di dunia juga mulai diseragamkan di beberapa bidang. Coba tengok GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) yang ngurusi perdagangan barang dunia yang diributkan dengan sangat itu. Belum selesai masalahnya, GATT lantas berubah wujud menjadi WTO (World Trade Organization) yang tidak hanya ngurusi perdagangan barang, tetapi juga jasa. Ah ... kenapa ikutan WTO? ndak usah ndaftar saja ... lebih celaka lagi, bisa-bisa ndak ada rekanan dagang. Globalisasi memang menuntut penyeragaman dibanyak hal, yang namanya keunikan memang harus dibunuh.

Internet mencengkram dunia dan semakin lama semakin kuat cengkramannya. Saya bisa gelagapan kalau satu hari saja tidak terhubung dengan internet, lha gimana bisa majang artikel di blog? Dalam kejadian lain, memberi tahu teman sekantor yang berada di hadapan, kirim email, dan ini sudah terjadi, lha wong saya sering banget kok terima email dari rekan kantor yang duduknya persis di depan saya. Mana yang namanya omong-omong itu, seperti yang dilakukan Kang Mas Pecas dengan Paklik Isnogud. Komunikasi model begini harus dimatikan, karena mengganggu produktivitas kerja. Disuruh kerja kok malah ngobrol ... kalo chatting atau ngeblog ndak apa-apa, kan kelihatannya sibuk di depan layar monitor. Huh ... ndak pernah mau ngobrol, dasar individualis, antisosial ... begitukah? Lha nanti kalau ngobrol lantas  dicap korupsi waktu kerja dan itu melanggar aturan, dicap sak maunya sendiri (individualis) dan antisosial.

Menurut saya kita kok sedang diasimilasi ya, di-Borg-kan begitu. Keragaman yang indah itu mulai dihilangkan, perbedaan harus ditiadakan, Nadine Chandrawanita harus ngomong engres. Berani nolak ... ingat lho kata Borg "Resistance is Futile". Akan tetapi Hugh, salah satu Borg nyempal bilang, "resistance is not futile" ...

Mungkin karena ini pula saya suka Star Trek yang ada Borg-nya ... karena Borg-nya selalu kalah.

Dari berbagai sumber dan semua gambar diambil dari sini dan sini.


Posted at 01:13 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Thursday, August 03, 2006
Ya ... Saya Trekkie

Space, the final frontier. These are the voyages of the starship Enterprise. Its continuing mission: to explore strange new worlds, to seek out new life and new civilizations, to boldly go where no one has gone before


Kalau ada cerita yang bisa bikin saya terengah-engah sampe rem ndobos saya blong lebih dari cerita soal naga, maka cerita itu adalah cerita seputar Star Trek. Ya ... saya seorang "Trekkie" (atau boleh juga "Trekker") ... penggemar Star Trek dengan tanda kutip, karena dengan nada yang mencoba untuk meyakinkan, saya belum sampai pada tataran tergila-gila, hanya kesengsem berat saja pada cerita tentang sebuah federasi planet dari masa depan. Sebagai penguat dari pembelaan diri agar tidak dikatakan gila Star Trek,  saya itu agak pemilih dan dari semua Star Trek saya hanya sangat menyukai Star Trek: The Next Generation. Saya berusaha untuk tidak ndobos banyak soal "the physic of Star Trek" atau gosip yang melanda para pemerannya, saya hanya ingin ndobos yang ringan-ringan saja seputar Star Trek dan apa akibatnya pada saya.

Star Trek diawali sebagai sebuah film serial televisi, yang diciptakan oleh Gene Roddenberry, pertama kali ditayangkan pada bulan September 1966. Star Trek pertama ini, juga dikenal dengan nama The Original Series (TOS), menceritakan tentang misi pesawat Enterprise yang dipimpin oleh Captain Kirk (diperankan oleh William Shatner). Episode pembukanya diberi judul "The Man Trap". TOS ini ternyata ndak laku, hanya 3 musim saja dan lantas dihentikan. TOS justru menjadi sangat populer belakangan hari ketika diputar ulang pada tahun 70-an. Buat saya TOS adalah perintis jalan ketertarikan saya pada Star Trek, walaupun belakangan pas saya tonton lagi beberapa episode TOS saya kok ndak begitu suka, kecuali pada karakter Spock.

Jika banyak orang lantas mengagumi Kirk sang kapten yang digambarkan sebagai sosok jagon mirip koboi, saya tidak pernah mengagumi Kirk, lha wong kapten kok gedandapan begitu gayanya. Tokoh yang saya kagumi justru Mr. Spock (Leonard Nimoy), mahluk setengah manusia bumi (atau Terran dalam istilah Star Trek) dan setengah Vulcan. Ayah Spock, Sarek, adalah duta besar dari Vulcan sementara ibunya, Amanda Greyson, adalah Terran. Spock sendiri menampilkan ciri fisik Vulcan yang kuat, alis mata meninggi, rambut poni dan yang paling terkenal adalah kuping runcingnya yang mirip Oki temennya Nirmala dari Negeri Dongeng di Majalah Bobo itu. Walaupun setengah Vulcan, Spock mampu melakukan Vulcan Grip yang terdiri dari Vulcan nerve pinch dan Vulcan Death Grip. Pokoknya kalo pundak sampeyan dipegang Spock terus dipencet, sampeyan bisa semaput atau malah modar sekalian. Untuk peringatan, jangan sekali-kali minta dipijeti sama Spock.

Pada tahun 1987 dimulailah serial lanjutan dari TOS. Star Trek: The Next Generation (TNG). Serial yang aslinya diputar hingga tahun 1994 ini terdiri dari 178 episode. Inilah serial Star Trek yang paling laku di pasaran dan yang paling saya suka. Mungkin disebabkan oleh kharisma sang Kapten, Jean-Luc Picard (Patrick Stewart), kepolosan Data (Brent Spiner), kegagahan Worf (Michael Dorn), Kepandaian Geordi LaForge (LeVar Burton) dan kejelitaan Natasha Yar (Denise Crosby). Disamping itu ada beberapa karakter penting dalam TNG yang buat saya kok lebih mirip bumbu seperti Riker, Troi, Beverly dan Wesley (ini Ibu dan anak). Yar yang bermain sebagai kepala satpam di TNG , hanya muncul satu musim saja dan dia "dimatikan" dalam lakon "Skin of Evil". Posisinya sebagai komandan satpam diambil oleh Worf, sang pejuang dari Klingon.

Kira-kira empat bulan sebelum TNG habis masa putarnya, Star Trek: Deep Space Nine (DSN) dimulai dan selesai tahun 1999  Berbeda dengan TOS dan TNG yang rajin kluyuran numpak Enterprise, DSN praktis hanya berkutat di sebuah stasiun ruang angkasa yang bernama Deep Space Nine yang dikomandani oleh Captain Benjamin Sisko (Avery Brooks). Sukses juga serial ini (walaupun tidak sesukses TNG), terbukti dari DSN lantas muncul gerombolan penggemar sempalan Trekkie yang menamakan diri mereka "Niners". Terus terang saya sendiri hampir tidak pernah nonton DSN, ndak "klik" saja. Mungkin karena inilah serial Star Trek yang bebas dari pengaruh Gene Roddenberry sang pencipta Star Trek.

Untung saya tidak tersiksa terlalu lama karena pada tahun 1995 Star Trek: Voyager (VOY) dimulai penayangannya. Buat saya VOY adalah "the second best"  setelah TNG. Inilah pertama kalinya seorang perempuan menjadi Kapten pada pesawat antar bintang, Captain Kathryn Janeway (Kate Mulgrew). Karakter yang saya suka di VOY adalah Mbak Kapten itu, Seven of Nine (Jeri Ryan) yang gurih banget kayaknya, sang dokter - The Doctor (Robert Picardo) yang sinis pol, sang tukang kebon Kes (Jennifer Lien) dan si jidat berkerut B'Elanna Torres (Roxan Dawson). Bagi saya VOY sangat feminin dan lokasi pengembaraan pesawat antar bintang tidak lagi di Alpha Quadrant seperti TOS dan TNG, tetapi di Delta Quadrant-nya galaksi Bima Sakti. Inilah serial yang menggambarkan perjuangan para perempuan untuk bertahan hidup di "angkasa" asing dan upaya mereka untuk pulang ke rumah. Serial ini dibuat setelah Bapak Star Trek Gene Roddenberry meninggal dunia.

Serial paling bontot dari Star Trek adalah Enterprise (ENT) yang ditanyangkan dari tahun 2001 hingga tahun 2005. Cerita ENT sebenarnya adalah kilas balik sebelum masa TOS dan hanya dibuat sebanyak 98 episode saja. Dari segi teknologi, apa yang dimiliki oleh ENT yang dikomandani oleh Captain Jonathan Archer (Scott Bakula) ini ndak ada apa-apanya dibanding dengan serial Star Trek lainnya. Tokoh layak kagum versi saya adalah T'Pol (Jolene Blalock) yang wuih dan Hoshi Sato (Linda Park) yang puinter ngomong macam-macam bahasa itu.

Begitulah bagian pembuka ndobosnya saya soal Star Trek. Pembuka? ... Lha kan tadi saya sudah wanti-wanti kalau soal Star Trek bisa blong rem ndobos saya. Kalau sudah capek bacanya, ya istirahat dulu, minum dulu.

Terus ya ...

Ada sebuah bangsa, kelompok atau dalam istilah Star Trek digelari "collective" yang membuat saya terkagum-kagum, dan mereka dinamakan Borg ... sounds Swedish? Ndak, mereka sama sekali ndak ada mirip-miripnya dengan orang Swedia. Borg adalah humanoid (mahluk mirip manusia ... maaf kalau saya anthroposentris) setengah mesin (cybernetic organism). Lepas dari mana Gene Roddenberry mendapat ide menciptakan karakter Borg, buat saya Borg mirip (cara "hidupnya") dengan serangga terutama semut atau rayap. Borg adalah kumpulan dari banyak Borg drones yang saling terhubung serta lantas membentuk sebuah entitas tunggal ... Borg.

Menurut cerita Borg berasal dari Delta Quadrant dan sarang utama mereka bernama unicomplex yang dipimpin oleh seorang Ratu Borg, seluruh Borg drones dikendalikan oleh "seorang" ratu itu. Tidak sebagaimana umumnya pesawat antar bintang semua mahluk dalam Star Trek yang bentuknya indah, gagah dan rada-rada aerodinamis, pesawat Borg berbentuk sangat sederhana ... kubus. Di dalam kubus (Borg cube) itu setiap drone memiliki/memainkan peran yang jelas, sama seperti seekor semut dalam koloninya.

Soal nama yang dipakai oleh setiap drone itu, terasa asing untuk telinga umum (walaupun sudah diterjemahkan), namanya lebih mirip alamat internet sebuah komputer. Misalnya, Seven si sekseeeeh dalam serial Star Trek: Voyager, yang dulunya Borg dan lantas dimanusiakan kembali dan menjadi salah satu awak Voyager (episode Scorpion), bernama Seven of Nine, lengkapnya Seven of Nine, Tertiary Adjunct of Unimatrix 01 ...  baik, diartikannya begini, Seven adalah drone nomer tujuh dari sembilan drone yang bekerja di unit 01 yang berlokasi di Unimatrix dan Seven memiliki fungsi sebagai tertiary adjunct. Kalau dimodifikasi sedikit dengan analogi jaringan komputer maka nama itu bisa dibaca jadi begini komputer ke tujuh dari sembilan komputer di jaringan 01 yang terdapat di kantor pusat dan berfungsi sebagai tertiary adjunct. Lantas saya membayangkan nama saya di dunia Borg ... budak belian nomer 17 dari 17 pesuruh di Tokyo yang berfungsi sebagai pesuruhnya pesuruh ... pol!

Borg pertama kali dipertemukan dengan dunia Federasi Antar Planet pada tahun 2365 (kalau kita diberi umur panjang, mungkin kita bisa mengalami pertemuan ini) lewat para awak Enterprise dalam lakon "Q Who?" (bunyi lakonnya kalau dilafalkan kok mirip "yuhuuuu" ya?). Sejak saat itu Borg menjadi musuh yang paling sulit dikalahkan oleh federasi dan Borg nyaris identik dengan "kematian". Borg sendiri tidak menjadikan membunuh sebagai tujuan utama mereka, karena mereka lebih "tertarik" untuk menjadikan mahluk hidup lain sebagai bagian dari mereka, istilahnya mengasimilasi (secara paksa) mahluk hidup lain untuk menjadi bagian dari Borg.

Dari semua dialog yang ditulis untuk Borg (lebih tepatnya disebut monolog), ada sepenggal yang jadi favorit saya dan sampai sekarang selalu saya ingat. Bunyinya begini ... "We are the Borg. Lower your shields and surrender your ships. We will add your biological and technological distinctiveness to our own. Your culture will adapt to service us. Resistance is futile". Kata "Resistance is futile" ini lantas ngetop berat, yang kalau diartikan menjadi "udah deh, kagak ada gunanya ngelawan", sering saya pakai kalau sedang ngotot-ngototan sama para bos di kantor, tak lupa saya memasang mimik Borg yang lempeng nir-emosi itu.

Selain memiliki koleksi semua film Star Trek untuk layar lebar (The Motion Picture, Wrath of Khan, Seach for Spock, Voyage Home, Final Frontier, Undiscovered Country, Generations, First Contact, Insurrection dan Nemesis ) saya juga memiliki koleksi semua episode serial Star Trek yang ada Borg-nya. Dari koleksi itu yang jadi favorit saya adalah The First Contact (layar lebar) dan The Best of Both World (TBBW) I dan II (dari serial TNG). First Contact bercerita tentang kontak pertama antara manusia di bumi dengan bangsa Vulcan (bangsanya Spock) sementara dalam TBBW diceritakan tentang Picard yang diasimilasi oleh Borg.

Bangsa lain yang saya sukai adalah Ferenggi (pedagang rakus ini) yang sering membuat saya terkekeh-kekeh, Klingon (si tukang kelai) yang barbar liar tuna budaya dan Vulcan yang hanya punya logika dan tidak punya emosi.

Begitulah bagian tengah dari dobosan saya soal Star Trek.

Lanjut ...

Pada bagian ini saya ingin berkisah soal pengaruh racun Star Trek pada hidup saya. Saya itu kecilnya mbeling dan tanpa unggah-ungguh walaupun tampan (kata Ibu saya ini lho). Lha waktu Star Trek mulai ditayangkan di TVRI itu, di rumah saya ndak ada tv sehingga kalau mau nonton Star Trek saya harus ke rumah tetangga. Agar selalu diperbolehkan ikut nonton, saya lantas berusaha keras untuk belajar menjadi anak yang beradab, mengucap salam, permisi sebelum masuk rumah orang dan tak lupa melepas sandal di depan pintu sambil senyum. Gara-gara Star Trek saya sekarang berkepribadian ganda!

Gara-gara Star Trek pula saya menyenangi fisika dan astronomi (bukan astrologi). Bisa dibilang bahwa guru fisika dan astronomi saya itu ya Star Trek. Dari mulai fisika mekanika klasiknya Newton sampai fisika kuantum dan teori dawai (string theory) saya "pelajari" melalui Star Trek, pokoknya .... ooo ini toh yang dimaksud dengan lipatan ruang-waktu, atau oooo gitu toh penjabaran dimensi paralel, dst dst. Gara-gara Star Trek juga saya menyenangi kebudayaan, menghargai dan menikmati perbedaan baik itu perbedaan fisik, cara hidup dan cara pikir. Star Trek bikin saya ingin membaca dan mempelajari segala hal, Star Trek bikin saya ndak fokus!

Pada saat TNG ditayangkan di salah satu televisi di Indonesia saya selalu "menyempatkan diri" untuk nonton. Lha kok ndilalah acara ini disiarkannya pada siang hari, padahal itu jam kerja. Saya lantas minta ijin sama atasan saya untuk nonton barang satu jam-an setiap minggunya. Gara-gara sinetron ruang angkasa ini saya jadi berani mbolos!

Begitulah Star Trek yang juga digemari oleh Mpok yang satu ini. Saya tak pamit dulu ... live long and prosper buat anda semua.

Beam me up Scotty!

Dari berbagai sumber dan semua gambar diambil dari sini dan sini.


Posted at 01:56 am by Sir Mbilung
Ada (13) yang ndobos juga  

Wednesday, August 02, 2006
Naga Gandrik

Begitu saya membaca permintaannya Mas Gandrik saya langsung mak deg ... naga??!! Menyusun dobosan pendek soal naga itu bisa mengkis-mengkis sayanya. Bagaimana ndak mengkis-mengkis, lha wong naga itu mahluk populer je, cerita soal naga itu dijumpai dibanyak kebudayaan dan kepercayaan. Referensi soal naga bisa memenuhi banyak rak buku di berbagai perpustakaan, film soal naga atau yang ada naganya pating telecek. Biyuh-biyuh, ndobos soal naga naga-naganya tidak mudah dan tidak bisa singkat, jadi beriap-siaplah untuk bosan membaca dobosan saya kali ini. Buat Mas Gandrik, ini mesti ada "bayarannya", sampeyan harus mulai nge-blog! itu saja.

Sebagai tukang ndobos yang suka pilah-pilah, secara umum saya memilah naga menjadi tiga. Ada naga barat, naga timur dan naga dunia baru, ndak usah dicari acuannya, ini cuma karangan saya saja. Naga barat itu naga yang ada di Benua Eropa sana, naga timur yang ada di Asia sini dan naga dunia baru yang ada di Amerika. Pembagian itu saya dasarkan pada ciri fisik, sifat dan persepsi  manusia terhadap mahluk ini ... he he he kok kayak skripsi.

Ada kesamaan umum dari naga dalam tiga pembagian ngawur saya itu. Naga mengambil bentuk dasar ular, bertanduk, memiliki kesaktian, dikagumi sekaligus ditakuti, mahluk tua, bernuansa magis, populer, berpenampilan seram atau diseram-seramkan dan mampu menggiring imajinasi manusia ke arah yang mengejutkan. Tidak seperti mitologi Phoenix yang akarnya dari Mesir, perdebatan asal naga tampaknya tidak akan ketemu ujungnya  (apa iya pernah ada seminar naga?). Kalaupun lantas saya berkata bahwa naga itu asalnya dari imajinasi manusia yang luar biasa, mestinya ada yang bakal bengok-bengok protes, terutama para "ahli" cryptozoology itu ... opo meneh iki. Nanti saja soal yang satu ini.

Naga barat itu berciri fisik pejal, kokoh, tegap, gagah, berkaki empat dan umumnya berkepala satu yang berbentuk segi tiga atau turunannya. Naga dari barat mampu menyemburkan api, bersayap mirip sayap kelelawar, bisa terbang dan yang penting, naga dari barat umumnya digambarkan sebagai mahluk jahat. Beberapa pengecualian ada pada Hydra, naga dalam mitologi Yunani yang menjadi lawan berkelahi Hercules itu, kepala Hydra ada delapan .... untungnya Hydra ndak punya rambut, lha kasian tukang cukurnya kalau begini.

Walaupun naga dari barat ini umumnya digambarkan sebagai mahluk jahat penuh angkara, sumbu pendek (gampang marah), tukang nyulik putri cantik, pokoknya jahat pol, tetapi ada beberapa naga dari barat yang digambarkan sebagai naga yang baik. Contoh naga baik bisa dilihat pada sosok Draco dalam film Dragon Heart dan sosok Saphira pada cerita Eragon dan sambungannya Eldest. Ada pula naga yang "netral" seperti dalam cerita enam seri Earthsea-nya Ursula K LeGuin. Bandingkan dengan naga-naga jahat dalam film Reign of Fire yang digambarkan mampu meluluh lantakkan kota-kota di Eropa atau naga-naga dalam buku the Lord of the Rings seperti Ancalagon, Glaurung, Smaug, Nazgul dan mbuh apa lagi itu.

Di dunia barat sana, umumnya naga digambarkan sebagai mahluk wajib bunuh. Naga adalah pengejawantahan kejahatan yang sangat. Dalam cerita-cerita kepahlawanan, para ksatria barat bisa masuk dalam golongan elit jika dia sudah bisa membunuh naga dan layak bergelar the dragon slayer, sang pembantai naga. Lha gimana ndak elit, naga itu kebal senjata je, tombak, panah dan pedang ndak ada artinya. Senjata tajam tak mampu menembus kekokohan sisik-sisik naga. Belum lagi kalau naganya marah, mulutnya bisa menyemburkan api! Gigi-giginya setajam pisau cukur, kuku-kuku kakinya setajam pedang, monster pol iki. Tetapi naga dari barat punya satu kelemahan yang disepakati oleh para ahli naga ... keleknya. Ya ... ketiak naga adalah bagian yang empuk. Bagian yang menghubungkan sayap dan badan naga itu tidak dilindungi sisik anti senjata tajam.

Karena membunuh naga adalah pekerjaan yang membutuhkan keahlian dan keberanian luar biasa, naga lantas identik dengan kepahlawanan. Wales, yang merupakan bagian dari Britania Raya itu, memajang naga merah sebagai bagian dari benderanya. Saint George sang pelindung Inggris adalah salah satu dragon slayer dan perisainya yang bertanda "+" merah lantas menjadi simbol Inggris.

Naga timur lain lagi. Bentuk dasarnya masih ular, tetapi lebih panjang dibanding naga barat. Naga cina adalah penggambaran naga yang umum dari naga timur. Kakinya juga empat seperti naga barat, tetapi kepalanya tidak segi tiga walaupun begitu giginya tetap saja bikin ngeri, tajam-tajam. Kadang naganya dikasih kumis tipis mekitik yang melintir di ujungnya, berjenggot seperti jenggot kambing, lubang hidungnya juga besar dan mata belok. Lihat saja naga di tarian barongsai itu.

Umumnya naga dari timur tidak menyemburkan api dan naga digambarkan hidup di dunia bawah, dalam tanah atau dalam air, walaupun naga dari cina digambarkan bisa terbang tanpa sayap dan ada yang digambarkan bisa menyemburkan api juga. Selain itu naga dari timur digambarkan sebagai mahluk yang bijak, baik, sakti, cerdas dan bahkan dipuja.

Dalam mitologi di Kamboja, naga disebut sebagai asal dari orang-orang Kamboja, di Sri Lanka juga begitu. Sementara di India naga adalah mahluk yang hidup di bawah tanah dan musuh dari Garuda. Sementara di Cina, naga memainkan peran penting dalam kebudayaan Cina. Naga adalah simbol kaisar, naga adalah sang penguasa air (ingat perahu naga?), dan lambang keberuntungan yang berasosiasi dengan angka sembilan karena naga memiliki sembilan rupa dan sembilan anak.

Ya ... naga dari timur tidak bersayap seperti saudaranya di barat sana dengan pengecualian naga modern dari Jepang. Dalam beberapa produk kebudayaan Jepang modern naga digambarkan lebih mirip naga dari barat. tengok saja naga Bahamut seperti pujaannya Mas Yoyok itu. Naga yang satu ini adalah karakter kunci dalam game Final Fantasy. Gambaran fisik naga yang khas dari timur bisa dilihat di beberapa film kartun seperti Mushu dalam film Mulan, naga di film kartun Dragonball dan Dojo dalam serial kartun Xiaolin Showdown.

Dalam cerita wayang naga juga tampil. Tokoh terkenal dalam wayang yang separuh naga adalah Antareja, putra Bima dari Nagagini yang merupakan putri dari Antaboga sang penguasa perut bumi. Antareja yang juga saudara Gatotkaca lain Ibu ini saktinya ndak ketulungan, bisa jalan-jalan dalam perut bumi dan bisa membunuh lawannya hanya dengan menjilat telapak kaki lawannya itu. Sangking saktinya, Antareja lantas "harus dibunuh" sebelum perang Baratayudha berlangsung. Antareja mati karena diminta untuk menjilat telapak kakinya sendiri oleh Kresna.

Di kawasan Indochina, naga diyakini hidup di aliran Sungai Mekong yang bentuknya meliuk-liuk seperti naga itu. Saluran televisi Discovery Channel beberapa bulan lalu pernah menayangkan film dokumenter soal naga dari Mekong ini, dengan mengambil lokasi di Thailand.  Begitu kuatnya keyakinan akan keberadaan naga hidup ini, sehingga naga dari Asia ini masuk dalam daftar carinya para penekun cryptozoology. Cryptozoology adalah "cabang ilmu biologi" yang menekuni pencarian mahluk-mahluk ndak jelas seperti monster dari Loch Ness, Yeti si manusia salju dari Himalaya (pernah baca TinTin?), Big Foot dari Amerika (pernah nonton Harry and the Henderson?), orang pendek dari Sumatera yang katanya jalannya mundur dan masih banyak lagi.

Naga dari dunia baru tidak banyak diceritakan. Naga dari dunia baru ini bentuk fisiknya merupakan campuran naga barat dan naga timur. Di Mexico Quetzalcoatl adalah naga dalam kebudayaan Olmec yang bentuknya mirip naga dari timur tetapi memiliki sayap seperti naga dari barat. Hanya saja sayap Quetzalcoatl ini tidak seperti sayapnya kelelawar, malah lebih mirip sayap burung. Quetzalcoatl saat ini diasosiasikan dengan burung Quetzal yang cantik itu, sama sekali ndak mengerikan.

Habis? Masih bisa panjang kalau terus ndobos soal naga, Ada naga yang cuma berkaki dua seperti Wyvern, belum lagi Drake, Lindorm, perahu-perahu orang Viking yang berkepala naga, Keris Nagasasra waaaaah sudah sudah ... Begitulah naga, banyak versinya, rupa-rupa bentuknya, hidup dalam banyak cerita.

Buat Mas Gandrik, lunas ya Mas, sekarang saya nunggu sampeyan bikin blog. Buat yang lain kalau akhirnya sampeyan bisa sampai membaca bagian akhir ini, sampeyan suka naga ya? Ya begitu saja, saya tak pamit dulu, mau kumur-kumur dan sikat gigi, dari tadi ndobos begini naga-naganya mulut saya sudah bau naga.

Dari berbagai sumber, gambar diambil dari sini.



Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Tuesday, August 01, 2006
Burung Berapi-Api

Sekarang ini sedang musim orang main-main api buat mbakar hutan, atau mbakar bekas hutan. Tadinya saya mau ndobos soal burung dan main-main api ini, tapi Mas Jum sudah mendahului dan berita begini juga sudah bertebaran di mana-mana. Lha kok ndilalah Mbak Eny memberi ide agar saya ndobos saja tentang sesuatu yang masih ada hubungannya dengan burung dan api, ndobos soal kesukaannya Mbak Eny, burung yang berapi-api ... Phoenix.

Bagi para penggemar Harry Potter, Phoenix bukanlah nama yang asing. Phoenix adalah burung peliharaan kepala sekolah sihir Hogwarts, Albus Dumbledore, yang diberinya nama Fawkes. Kepala sekolah kok hobinya melihara burung? Menilik asal pengarang Harry Potter itu dari Inggris, saya kok yakin nama Fawkes ada hubungannya dengan Guy Fawkes yang bercita-cita untuk membunuh Raja Inggris kala itu, James I,  dan semua anggota House of Lords dan House of Commons dengan cara meledakkan mereka semua pada tanggal 5 November 1605 yang dikenal dengan gunpowder plot. Hingga kini, upaya yang gagal itu masih diperingati di Inggris dalam sebuah festival yang diberi nama Bonfire pada setiap tanggal 5 November dengan membakar boneka Fawkes.

Bagi para penggemar film dan serial Star Trek, saya salah satunya, nama Phoenix juga tidak asing. Phoenix adalah nama pesawat yang dibuat oleh Zefram Cochrane dan diterbangkan pada tahun 2063 sesudah berakhirnya Perang Dunia III . Phoenix adalah pesawat pertama buatan manusia yang mampu bergerak dengan kecepatan warp, kecepatan cahaya. Buat yang tertarik dengan cerita ini bisa nonton di Film Star Trek, First Contact. Nama Phoenix sengaja dipilih sebagai lambang kebangkitan kembali umat manusia dari abu kehancuran akibat perang.

Abu? ya ... karena menurut cerita Phoenix lahir dari abu. Mbundet? Begini kisahnya. Mitologi Phoenix itu berawal dari Mesir dan diceritakan bahwa ada burung suci yang bentuknya menyerupai cangak (seperti kuntul tapi lebih besar) yang mempunyai dua helai bulu sebagai mahkotanya. Oleh orang-orang Mesir, burung ini diberi nama Bennu. Nama Bennu tampaknya berhubungan dengan kata weben yang berarti bangkit atau bersinar, dan Bennu selalu dikaitkan dengan matahari dan kelahiran kembali. Walaupun begitu Bennu juga dikaitkan dengan kematian karena namanya juga muncul dalam Buku Kematian (sudah pernah nonton film The Mummy dan The Mummy Return?), dan di dalam buku itu ada tertulis "Akulah Bennu sang burung, nyawa dari Ra (dewa matahari), dan penuntun para dewa ke alam kematian" .... hiiiiii ....

Sudahlah saya ndak akan ndobos lebih jauh soal serem-serem begini, bisa-bisa saya jadi takut sendiri. Begitulah, entah melalui jalur mana, mungkin jalur dagang, kisah Bennu sang burung ini kemudian tersebar ke Yunani dan di sanalah nama Bennu berangsur berganti menjadi Phoenix. Phoenix sekarang mengambil sosok sebagai burung merak atau elang yang tentu saja berapi-api, membara.  Phoenix itu adalah burung jantan dan dikatakan bisa hidup antara 500 sampai lebih dari 1000 tahun lamanya. Kata lagunya Ismail Marzuki "Tinggi Gunung Seribu Janji", seribu tahun itu tidak lama, hanya sekejap mata.

Jika tiba waktunya untuk mati, Phoenix katanya akan membangun sarang dari batang kayu manis dan rempah-rempah lain, lantas sambil angkrem dengan tenang ... bleng ... Phoenix mengobongkan dirinya sendiri, terbakar habis sampai jadi abu. Lantas dari abu itu keluarlah bayi Phoenix ... jantan lagi. Phoenix dikatakan bisa menyembuhkan lukanya sendiri, mirip Woverine dalam X-Men, sehingga praktis dia tidak bisa terluka atau mati. Abu-abu sisa membakar diri itu lantas dimasukan ke dalam telur yang terbuat dari getah pohon myrrh dan disemayamkan di Heliopolis (Kota Matahari) di Mesir. Begitulah Phoenix burung yang kagak ada matinya, lambang dari api, keabadian, kematian dan kebangkitan. Satu hal lagi, Phoenix burung gagah ini ndak makan daging, dia pemakan sayur, vegetarian, atau dalam dunia hewan dia dikenal sebagai herbivora ... kayak sapi itu.

Apa Phoenix lantas hanya ngetop di Mesir dan Yunani saja? Tidak sodara-sodara, Phoenix juga hadir di berbagai kebudayaan tua seperti Roma, Cina, Jepang, Russia dan Indian Amerika. Poenix juga hadir dalam berbagai produk modern seperti dalam beberapa kartun Jepang antara lain (yang saya ingat) Digimon, Pokemon serta Yugi Oh dan tentu saja dalam cerita Harry Potter. Tuh kan ... Phoenix emang kagak ada matinye ...

Dari hasil inget-inget dan berbagai sumber, gambar Phoenix diambil dari sini


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Monday, July 31, 2006
Sangkuni

Jika orang berbincang tentang tokoh wayang, maka pokok pembicaraan biasanya berkisar pada tokoh-tokoh gagah, sakti, baik hati, pokoknya pahlawan pol semisal Arjuna, Bima, Gatotkaca, Bisma, Srikandi, Kresna atau dalam intensitas penyebutan yang lebih jarang ada nama-nama Baladewa, Drestajumna, Sahadewa atau Karna. Samalah seperti kalau sedang ngobrol soal tokoh super hero, mestinya jarang kalau yang dijadikan bahan obrolan itu adalah Joker, Luthor, Ghazul, Ki Wilawuk, Doktor Setan atau Kucing Merah, kecuali kalau yang ngobrol itu ya para super hero ... "Gun Gun, piye kabare Ki Wilawuk?" ... begitu tanya Godam pada Gundala.

Tokoh-tokoh antagonis begitu, paling-paling hanya namanya yang lantas dicatut buat menakut-nakuti anak kecil ... "awas lho, kalau kamu nakal nanti tak panggilkan scarecrow!" (nyatut nama musuhnya Batman) atau ... "kamu ini nakal terus, mau tak panggilkan Polisi?!" (lho??). Begitulah, dalam keseharian akhirnya para tokoh jahat itu lantas hanya berfungsi sebagai orang-orangan sawah, bebegig, memedi. Padahal, tanpa mereka itu, para manusia super pembela kebenaran (yang bekerja di luar jalur hukum itu) ya ndak ada artinya. Lha, saya ini mau ndobos soal salah satu "tokoh jahat" dalam dunia wayang yang banyak pembencinya. Patih Sangkuni.

Patih Sangkuni, bisa juga Sengkuni, Sangkuning atau Shakuni, adalah tokoh jahat kunci dalam kisah Mahabharata. Sebagai seorang patih dan sekaligus penasehat Duryudana sang raja Hastina, Sangkuni memainkan peran yang sangat penting dalam konflik antara Pandawa dan Kurawa yang berujung pada perang Bharatayudha di Kurusetra yang memusnahkan sebagian besar keluarga Bharata itu. Sangkuni membuat Mahabharata menjadi "hidup" dan seorang seperti Widura yang baik hati dan bijaksana tak mampu menghentikan ketajaman akal bulus dan celoteh berbisa Sangkuni.

Sangkuni adalah putra Prabu Keswara dan paman dari para Kurawa. Adiknya, Dewi Gandari, adalah istri dari Prabu Dretarasta yang juga adalah orang tua para Kurawa. Dendam Sangkuni pada keluarga Pandawa (anak-anak Pandu), berawal dari kegagalannya mendapatkan Kunti dalam sayembara yang dimenangkan oleh Pandu. Kalah beradu sakti dengan Pandu, Sangkuni lantas menyerahkan adiknya, Dewi Gandari, pada Pandu untuk diperistri. Alih-alih mengambil Gandari, Pandu menyerahkan Gandari kepada kakaknya, Dretarasta yang buta. Dendam Sangkuni telah dipupuk sejak awal cerita. Tidak berhasil mendapatkan Kunti, Sangkuni toh tetap saja tergila-gila pada Kunti. Dalam sebuah peristiwa, Sangkuni mengganggu Kunti hingga kemben yang dipakai Kunti melorot. Sejak saat itu Kunti bersumpah untuk tidak lagi memakai kemben sampai ia bisa mengenakan kemben yang terbuat dari kulit Sangkuni (sebuah sumpah yang mengerikan).

Peran Sangkuni terpenting dalam penghancuran keluarga Bharata justru diawali setelah Pandawa keluar dari Hastina dan mendirikan kerajaan yang beribukota di  Indraprasta. Keserakahan Kurawa untuk mendapatkan kerajaan baru itu, kebencian Sangkuni pada Pandawa menjadi pemicu awal terjadinya perjudian legendaris antara Kurawa dan Pandawa. Judi dengan menggunakan dadu, yang konon terbuat dari tulang paha Ayah Sangkuni dan mematuhi perintah Sangkuni itu, tentu saja dimenangkan oleh Kurawa. Yudhistira sang sulung Pandawa yang berjudi, mempertaruhkan kerajaannya, saudara-saudaranya dan juga istri para Pandawa, Dewi Drupadi. Perjudian yang sebagian pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas di sini, memperlihatkan betapa ternistanya Drupadi yang lantas bersumpah untuk tidak lagi menggelung rambutnya sebelum dicuci dengan darah Dursasana (lagi ... sebuah sumpah yang mengerikan dari seorang perempuan). Pandawa kehilangan kerajaannya, mereka harus mengasingkan diri selama 13 tahun di hutan dan satu tahun bersembunyi tanpa boleh terlihat oleh Kurawa.

Pandawa yang berhasil menjalani masa pembuangan dan main petak umpet selama setahun itu, Pandawa ngumpet di Wirata, toh pada akhirnya tidak juga bisa mendapatkan kembali kerajaannya. Sangkuni kembali berperan besar di sini dalam perundingan dengan Kresna yang menjadi wakil para Pandawa untuk mendapatkan kembali hak mereka. Perundingan yang gagal itu, berujung pada perang antar saudara sendiri, perang besar yang kemudian diberi nama Bharatayudha. Perang yang menghabiskan semua anak Dretarastra dan Gandari yang jumlahnya seratus itu, perang yang juga menuntut korban para ksatria bernama besar seperti Gatotkaca, Karna, Bhisma, Dhorna, Abimanyu. Bahkan beberapa ksatria sakti sudah harus digugurkan sebelum perang itu terjadi, sebut saja nama Antareja dan tokoh kegemaran saya Wisanggeni. Perang yang juga merenggut nyawa sang pemicu ... Sangkuni.

Siapa yang membunuh Sangkuni, tergantung versi cerita. Dalam satu versi dikatakan bahwa Bima sang raksasa Pandawa lah yang menghabisi Sangkuni dan lantas merobek mulut Sangkuni dengan tangannya. Dalam versi lain dikisahkan bagaimana Sangkuni mati ditangan sang bungsu Pandawa yang pendiam dan jagoan pedang, Sahadewa. Siapapun yang membunuh Sangkuni, Kunti akhirnya bisa mengenakan kemben lagi, terbuat dari kulit Sangkuni.

Keburukan Sangkuni tampaknya tak termaafkan. Para politisi menggunakan nama tokoh ini untuk menggambarkan lawan politiknya yang dinilai jahat keterlaluan dengan ucapan "... dasar Sangkuni". Wayangnya masih saja dilempar oleh dalang ke penonton untuk lantas diinjak-injak oleh penonton yang tersihir oleh aksi sang dalang. Tidak seperti wayang lainnya yang lantas masuk kotak begitu pertunjukan selesai, Sangkuni atau sisa-sisanya masih berada di luar kotak, tercabik-cabik diinjak kaki-kaki penonton yang marah.

Tak terbayangkan rasanya Mahabharata tanpa Sangkuni. Kisah yang indah itu hanya akan  menjadi kisah sekelas Putri Salju atau Putri Tidur tanpa Sangkuni. Para Pandawa hanya akan diceritakan sebagai kumpulan tokoh bangsawan kemayu yang memerintah sebuah negri, sama halnya dengan Kurawa. Kresna hanya akan dilihat sebagai pelengkap. Tokoh-tokoh seperti Semar, Gareng, Petruk, Bagong, Togog, Bilung akan kehilangan perannya. Sangkuni sang korban dendam dan kelicikannya sendiri ... untung dia sudah mati di Kurusetra. Ah ... apa iya dia sudah mati?

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (20) yang ndobos juga  

Sunday, July 30, 2006
Naik-Naik ke Puncak Gunung

Sampeyan pernah naik gunung? Berapa tinggi gunungnya? Saya sendiri bukan pendaki gunung, kalaupun saya naik gunung lebih sering karena tuntutan kerja, walaupun pernah sekali dua hanya untuk jalan-jalan saja. Jadi berbeda dengan George Mallory yang mendaki gunung because it's there, saya mendaki because I must go up there. Gunung yang saya daki juga ndak tinggi-tinggi amat, semua gunung yang pernah saya daki tingginya tidak ada yang lebih dari 4000 meter, mainnya cuma di kelas 3000-an saja. Kemarin itu saya mendengar berita kalau ada 10 perempuan Indonesia yang akan mendaki gunung yang tinggi-tinggi sekali, yang kalaupun mereka sempat tolah toleh kiri kanan tidak akan bakal lihat pohon cemara. Tolah toleh paling yang dilihat cuma timbunan salju dan es karena mereka berniat mendaki ke puncak gunung tertinggi di dunia ... puncak Everest.

Sepuluh perempuan itu bergabung dalam Ekspedisi Everest Putri Indonesia 2007. Saya menulis soal ini bukan karena mereka itu perempuan, tetapi karena ada dari mereka yang saya kenal dan saya kira dia sudah ndak pene'an lagi. Lha kok ujug-ujug saya lihat namanya ada dalam daftar pendaki. Lantas apa yang salah dengan itu? ya tidak ada yang salah, lha wong namanya gunung, buat pendaki benda itu mestinya selalu memanggil-manggil, apalagi ini Everest yang selalu dikatakan sebagai tujuan idaman semua pendaki gunung. Saya juga ndak akan ndobos soal ekspedisi para putri itu, saya hanya mau ndobos soal gunung yang mau dipanjat mereka itu.

Nama Everest sebenarnya baru diberikan pada puncak gunung tertinggi itu pada tahun 1865 oleh Andrew Waugh, mengambil dari nama George Everest, nama atasan Waugh. Ironisnya, gunung yang terletak di Nepal itu, tidak memiliki nama Nepal hingga awal tahun 1960-an. Baru setelah awal 60an itulah Everest diberi nama Sagarmatha sebagai nama Nepal-nya. Sebetulnya ada nama-nama tua untuk puncak gunung itu, seperti Devgiri atau Chomolungma, tetapi karena berbagai alasan nama-nama tersebut tak penah dipakai secara resmi. Satu hal lagi yang sering dikacaukan orang adalah nama Everest dengan Himalaya. Everest adalah nama salah satu puncak di pegunungan Himalaya.

Pegunungan Himalaya sendiri membentang sepanjang kurang lebih 2400 km dari mulai Nanga Parbat di Pakistan hingga ke Namche Barwa di Bhutan. Himalaya, yang dalam bahasa Sansekerta berarti tempatnya salju itu, merupakan rumah bagi puncak-puncak gunung tertinggi di dunia. Paling tidak ada delapan puncak yang memiliki ketinggian di atas 8000 meter dan ada lebih dari 100 puncak berketinggian lebih dari 7200 meter. Jadi kalau dibuat daftar 100 puncak-puncak gunung tertinggi di dunia, semuanya ada di Pegunungan Himalaya. Dari 100 puncak itu paling tidak ada tiga yang belum pernah didaki sampai saat ini, sementara puncak pertama yang berhasil didaki adalah Jongsong Peak (7462 m) pada tahun 1930 sedangkan yang paling gres berhasil didaki adalah Nangpai Gosum (7350 m) pada tahun 1996. Dari seratus puncak itu, Everest (8848 m) adalah puncak yang paling sering didaki dan paling sering dicoba untuk didaki.

Dalam skala waktu geologi, Pegunungan Himalaya sendiri umurnya relatif masih muda. Pegunungan ini terbentuk akibat tabrakan lempeng anak benua India dengan lempeng Eurasia sekitar 70-40 juta tahun yang lalu.  Sampai sekarangpun lempeng India ini masih terus merangsek ke Utara sehingga pegunungan Himalaya itu ya masih nambah terus tingginya. Karena masih belum stabil begini, tidak heran kalau yang namanya gempa masih sering terjadi di kawasan Himalaya. Pegunungan yang menjulang dan masih terus tumbuh ini juga merupakan mata air bagi banyak sungai-sungai di Utara maupun Selatan Himalaya. Sungai-sungai itu menjadi nadi kehidupan bagi lebih dari 750 juta jiwa manusia, lha ya maklum saja karena pegunungan ini tumbuh di salah satu kawasan yang paling banyak dihuni manusia je. Bisa terbayangkan, bencana macam apa yang bakal terjadi kalau ada "apa-apa" dengan sumber air itu.

Bencana memang menghantui tempat ini. Disamping gempa, bencana lebih besar bisa terjadi akibat dari pemanasan global yang sering didengung-dengungkan itu. Naiknya suhu permukaan bumi bisa mencairkan "salju abadi" yang menutupi puncak-puncak gunung di Himalaya. Kekeringan dan banjir adalah akibatnya. Sementara hutan-hutan di lereng-lereng pegunungan juga rajin dijarah, longsor adalah konsekuensi logis dari tindakan itu. Selain "bencana alam" (yang sebagian besar juga akibat ulahnya manusia) bencana yang bukan alam juga menghantui kawasan yang indah ini. Konflik perbatasan dan politik di India, Pakistan, Nepal dan Tibet dan konflik akibat ngotot-ngototan soal hak pengelolaan air, rajin juga muncul di banyak media pemberitaan.

Konflik, bencana, hambatan fisik dan mental, mudah-mudahan tidak menyurutkan semangat 10 perempuan itu untuk mendaki Everest pada musim semi tahun depan. Jalur pendakian kabarnya sudah dipilih, mengikuti rutenya Norgay dan Hillary yang merupakan dua orang pertama yang berhasil mencapai puncak Everest lebih dari setengah abad yang lalu. Tidak sebagaimana para Pandawa yang mendaki Himalaya untuk menemui kematian dalam lakon Pandawa Seda, sepuluh perempuan itu saya yakin berangkat ke sana justru untuk membuat hidup lebih hidup, karena saya tahu teman saya itu adalah pencinta kehidupan. Selamat berlatih Mbak-Mbak sekalian dan selamat mendaki.

Dari berbagai sumber; photo oleh Pavel Novak dan diambil dari sini.


Posted at 01:21 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Saturday, July 29, 2006
Aku Kangen Remet-Remetan Karo Kowe

Apa sampeyan pernah dengar nama Didi Prasetyo? Pria 42 tahun dari Jawa Tengah ini adalah pelantun lagu berbahasa Jawa dengan nama panggung Didi Kempot. Kiriman lagu dari teman saya itu juga menyertakan beberapa lagu yang dibawakan oleh Mas Didi ini. Kalau kemarin itu saya ndobos soal lagu keroncong dan lagunya Akang Doel Sumbang, kali ini saya ndobos soal penyanyi gondrong yang ndak kempot tuh.

Banyak kawan saya langsung berkata "nggilani" kalau saya mulai ngomong soal Didi Kempot, atau "wah vulgar lagu-lagunya dia itu, coba dengerin tuh lagu Cucak Rowo" (saya pernah ndobos soal ini di sini). Tetapi dengan berprinsip biarkan anjing menggonggong toh nantinya masuk kuali juga, saya tetap saja menjadi salah satu penikmat Didi Kempot. Nggilani? mungkin, vulgar? mungkin, ikatan primodial? mungkin, kekaguman? mungkin juga, tapi tampaknya campuran semua faktor tersebutlah yang membuat saya tetap bisa menikmati alunan suara Mas Didi dan terkekeh-kekeh mendengar lirik beberapa lagunya.

Mas Didi ini ya tersohor juga seperti kakaknya, pelawak Mamiek dari Srimulat yang rambutnya dikeliri seperti sigung (Mydaus javanensis) itu. Mengawali karirnya sebagai pengamen jalanan dan sempat menjadi penghuni kolong jembatan layang Slipi, di Jakarta, karena menolak untuk tinggal bersama sang kakak yang sudah terkenal dengan alasan dia mau memulai karirnya dari bawah. Walaupun toh akhirnya Mas Didi tak menolak bantuan sang kakak yang mengenalkannya pada seorang penggiat usaha rekaman. Rekaman pertama menelurkan lagu We Cen Yu (Kowe Pancen Ayu -- Kamu Memang Cantik) yang belakangan justru populer di Suriname.

Mas Didi memang ngetop di Suriname, negara di Amerika Selatan, yang lebih dari 15% penduduknya adalah keturunan Jawa. Lha di Indonesia sendiri Mas Didi belum terkenal hingga keluar lagu Cintaku Sekonyong-Konyong Koder -- CSKK (Koder itu ndak ada Bahasa Indonesianya), Stasiun Balapan dan Cucak Rowo. CSKK dan Stasiun Balapan itu lagu cinta tetapi tetap saja bikin saya tertawa senang walaupun kok ya pahit juga.

Coba kita lihat lirik awal CSKK ... cintaku sekonyong-konyong koder/ karo kowe cah ayu sing bakul lemper/ lempermu pancen super/ resik tur anti laler/ yen ra petuk sedino neng sirah nggliyer (cintaku sekonyong-konyong koder/ padamu anak cantik yang jualan lemper/ lempermu memang super/ bersih dan anti lalat/ kalau tak bertemu sehari kepalaku pusing). Sukseskah cintanya pada bakul lemper ayu ini ....  tiwas aku dandan mlitik/ rambutku lengone pomed/ malah kowe lungo plencing/ ora pamit mit mit mit mit mit ... (aku sudah dandan keren/ pake minyak rambut pomade/ kamu malah pergi/ tidak memberi tahu).

Lagu Stasiun Balapan juga soal cinta, kekasih yang ditinggal pergi. Penggalan liriknya begini ... Neng stasiun balapan/ rasane koyo wong kelangan/ kowe ninggal aku/ ra kroso netes eluh neng pipiku (di stasiun balapan/ rasanya seperti orang yang kehilangan/ engkau pergi meninggalkan aku/ tak terasa air mata menetes di pipiku) ... lha manis ini, tetapi bait berikutnya berisi ... daaah dadah sayang ... daaah selamat jalan ... (ndak perlu diterjemahkan ya), saya ngakak pas dibagian itu, ndak bisa dijelaskan kenapa, ngakak saja, tapi kok ya pahit.

Lha balik lagi ke Suriname, Mas Didi rajin melakukan pertunjukan di negara ini. Namanya berkibar gagah, lagunya sering berkumandang di Radio Bangsa Jawa (yang bermarkas di Belanda), penggemarnya banyak, mendapat anugrah dari Presiden Suriname dan pernah dinobatkan menjadi artis teladan pop Jawa. Salah satu lagunya yang amat terkenal di Suriname adalah Angin Paramaribo (Paramaribo adalah ibu kota Suriname). Ini lagu cinta juga, yang di Indonesia lantas diganti judulnya menjadi Kangen Kowe (Rindu Padamu).

Mas Didi juga bisa "nakal", lagu Cucak Rowo itu salah satunya, tapi buat saya yang bikin saya geli adalah hasil rombakan lagu Kuch Kuch Hota Hai dari India itu, yang dinyanyikannya bersama Yan Vellia (penyanyi dangdut asal Solo). Musiknya utuh tetapi kata-katanya diganti dan judulnya juga diganti menjadi Remet-Remetan (saling meremas) ... aduh penake, aduh senenge/ yen lungguh jejer kowe, remet-remetan tangane (aduh enaknya, aduh senangnya/ duduk disampingmu saling meremas tangan).

Mas Didi memulai semuanya dari bawah, bawah sekali. Walaupun dalam  lagu Kuncung Mas Didi bernyanyi ... pis kolopis kuntul baris/ ke kere ra uwis-uwis (susah ndak habis-habis), dengan kerja keras Mas Didi merangkak untuk mencapai tataran sekarang. Terkenal, masih teguh berpegang pada budaya asalnya. Nakal, nyeleneh, vulgar, nggilani? buat saya Mas Didi itu ya sosok orang yang berjuang, ndak instant.


Posted at 12:45 am by Sir Mbilung
Ada (13) yang ndobos juga  

Friday, July 28, 2006
Nu Aya Ukur Salira

Saya baru dapat kiriman lagu-lagu dari seorang kawan yang sedang menuntut ilmu di Australia sana. Saya langsung sumringah pol karena di dalamnya ada musik kesukaan saya ... Keroncong dan yang nyanyi Mus Mulyadi. Selain itu ada musik yang juga jadi kegemaran saya dan kegemaran teman pengirim itu ... lagu-lagu pop Sunda yang dilantunkan oleh Doel Sumbang yang sama sekali ndak sumbang. Selain itu ada juga Kang Mas Didi Kempot.

Ah keroncong ... saya sendiri ndak ngerti persisnya kapan saya mulai jatuh cinta dengan musik satu ini. Kocokan ukulele (cuk cak), betotan bass yang dhem dhem dhem itu, gesekan biola serta lengkingan suling ... mak nyep rasanya. Keroncong itu sendiri merupakan musik tua, hasil kreasi bangsa Indonesia dengan ramuan dari sana-sini. Keroncong sendiri bukan berasal dari Portugis, seperti yang banyak dikemukanan orang, walaupun pengaruh Portugis ada dalam musik keroncong (Fado). Lha soal keroncong dan Portugis ini, titik temunya ada di Tugu, sebuah kawasan yang terletak di Timur Jakarta yang penduduknya banyak yang berdarah Portugis dan tersohor karena keroncongnya.

Para pelantun dan penggemar berat lagu-lagu keroncong sering digelari "buaya keroncong", ndak jelas kenapa disebut begitu, ceritanya simpang-siur. Para seniman tua seperti Kusbini (pencipta lagu Bagimu Negri), Bram Titaley (mbahnya Harvey Malaihollo), Gesang (pencipta lagu Bengawan Solo) dan Mus Mulyadi (ndak ada hubungan darah dengan Mus Jumadi) misalnya adalah penyandang gelar "buaya keroncong". Meskipun saya bisa melantunkan beberapa lagu keroncong dan menyukai keroncong, tapi saya itu belum masuk tataran buaya, mungkin masih di tataran cicak.

Kantor yang siang itu praktis hanya menyisakan saya seorang, menambah kesedapan saya menikmati keroncong ... saya bisa ikutan nyanyi. Keroncong Moritsko, Tanah Air, Kemayoran, Bandar Jakarta, Sapu Lidi, Telomoyo dan salah satu favorit saya ... Dewi Murni. Maka bernyanyilah saya bersama Mus Mulyadi ... Dewi Murni berkembenkan sutra ungu/ Melambai meriah rasa/ Semerbak memenuhi/ Angkasa beralih biru. Dibaliknya awan/ Membayang pelangi beraneka warna/ Untuk menyambut Dewi Murni/ Yang turun mandi di tlaga dewa. Kuntum bunga semua/ Semerbak harum menyebar wangi/ Menantikan sang Dewi Murni/ Bertiti pelangi turun mandi .... jreng .... saya serasa Jaka Tarub sedang nginceng Dewi Murni mandi.

Lagu-lagu pop Sunda-nya Doel Sumbang lain lagi. Saya yang sangat sering merasa sebagai "urang Bandung" ya bisa terkekeh-kekeh mendengarkan gojekannya Akang Doel yang barakatak pol. Dengar saja itu lagu-lagu Pabaliut, Awewe Sapi Daging, Beja Ti Jurig, Somse dan Nini Nini Luar Nagri.

Walaupun begitu ada dua lagu Doel Sumbang yang jadi paporit abdi, nya eta Sisi Laut Pangandaran sareng Bulan Batu Hiu (dua tempat yang baru dihantam bencana). Rupina romantis pisan eta lagu. Coba saja cermati bagian awal Bulan Batu Hiu .... Bulan nu nga gantung/ Di langit Batu Hiu/Tinggal sapasi sesa purnama kamari/ Dua duaan anteng sosonoan/ Suka bungah sagala rasa dibedah.  Tiis dina hate ... Atau bait-bait lagu Sisi Laut Pangandaran itu ... Harita basa usum halodo panjang/ Calik paduduaan dina samak salambar/ Hmmm saksina bulan anu sapotong/ Hmmm saksina bentang anu baranang ... terkaing-kaing sudah sayanya.

Habis semua saya dengarkan ... lha saya masih punya Didi Kempot dengan jajaran lagu Gedang Goreng, Kuncung, Mas Joko, Cintaku Sekonyong-konyong Koder, Stasiun Balapan dan Tresnamu Koyo Odol.

Begitulah saya ber"karaoke" sambil menunggu sang komputer me-render citra 3D Gunung Tatamailau resolusi tinggi. Lagu Jawa, Sunda, Indonesia ... ah, seperti kata Akang Doel ... dina ruang hate nu aya ukur salira.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (13) yang ndobos juga  

Next Page