Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Bumi makin panas. Saya dan istri saya beberapa kali pernah "ngobrol" soal ini. Hanya saja dasar sayanya tukang ndobos maka obrolan itu sering hanya satu arah, dari saya yang nyerocos, ke istri saya yang mendengarkan dengan santun. Sok merasa ilmuwan (ndaftar jadi dosen ndak pernah keterima, karena faktor kelakuan kayaknya), tentu saja saya ndobosnya disertai pemaparan hasil-hasil kajian iklim, es, fosil, lapisan bumi, mbuh apa lagi, biar afdol (walaupun saya bukan penelitinya). Itu penjelasan sangking njelimetnya sampai-sampai saya bingung sendiri. "Ini yang namanya global warming itu Jeng, pemanasan global ... sudah sekian dekade suhu rata-rata bumi itu bertambah nul koma sekian derajat celcius lho, akibatnya kan ga gu go gi, lantas ada negara-negara sontoloyo yang ndak mau bertanggung jawab karena menurutnya ba bi bu bo, sehingga ujung-ujungnya na ni nu no ... ... ialah ... nggggg ... pokoknya ngggg ... ya begitu jeng! ... nah bukti-bukti global warmingnya ca ce ci ce co ha he hi ho hu ma mo mi me mu ... jelaskan? ngerti?!". Istri saya biasanya cuma senyum lantas pergi saja ... waaah dasar perempuan, ndak ngilmiah!
Lha kok ndilalah, sore kemarin itu sebelum saya pulang kantor, muncul sebuah email dari istri saya. Lha tumben kirim email. Lho kok ndak ada kata-katanya? Wooo ada gambarnya, wah pasti dia baru terima gambar dari salah satu milis yang membuatnya bingung sehingga dia ingin bertanya pada saya. Kepada siapa lagi dia bertanya coba? weeee ... saya je ... coba, apa sih gambarnya.
Dhueerrrrrrrrr .....
Iya ya ... saya itu jadi orang kok masih sering keminter ya?
Saya mulai dengan wanti-wanti. Ndobosan saya kali ini penuh "kekerasan", ada juga bunuh membunuhnya, perbuatan "tidak bertanggung jawab" dan "tak bermoral". Sudah ya, resiko buruk akibat membaca tulisan ini (kalau ada) ditanggung sendiri oleh pembaca. Mari kita mulai.
Pernah lihat atau masih ingat dengan jam yang jika jarum panjangnya pas di angka enam atau dua belas lantas dari jam itu keluar burung-burungan dan jamnya berbunyi kukuuu kukuuu kukuuu ... Suara yang ditirukan itu adalah suara burung European Cuckoo (Cuculus canorus). Burung ini masih berkerabat dekat dengan Plaintive Cuckoo (Cuculus merulinus) yang hidup di Indonesia. Plaintive Cuckoo ini di Indonesia dikenal dengan nama Wiwik kelabu, Sirit uncuing atau Kedasih, sedangkan dalam Bahasa Melayu ia dinamai Sewah Mati Anak (hiiiii ....). Ada kisah yang mengatakan kalau Kedasih bersuara bakal ada yang meninggal ... ya ada benarnya sih, lha wong tiap hari Kedasih bersuara dan tiap hari juga ada yang meninggal, cuma kok ya ndak nyambung rasanya. Sudahlah, saya tidak akan ndobos soal nyanyian Kedasih atau kukuu kukuu nya kerabat Kedasih di Eropa sana. Saya ingin ndobos soal perilaku yang dilakukan oleh beberapa jenis burung dari keluarga Cuckoo yang jika terjadi di dunia manusia maka pelakunya bisa disumpahi wong sak jagat serta masih ditambah dengan dijatuhi hukuman sangat berat, malah mungkin hukuman mati.
Perilaku apa gerangan yang dilakukan hingga diganjar hukuman demikian berat? begini kisahnya. Pada umumnya burung itu sebelum kawin dan bertelur akan membuat sarang terlebih dahulu untuk tempat bertelur, angkrem - mengerami, dan membesarkan anak-anaknya. Tidak demikian halnya dengan Kedasih dan European Cuckoo serta beberapa jenis Cuckoo lainnya, mereka bahkan tidak pernah punya sarang sama sekali. Mereka bertelur di sarang burung jenis lain, dan melarikan diri dari tanggung jawab, malah cari pasangan lagi, kawin lagi dan bertelur lagi. Telur mereka lantas dierami oleh burung lain yang sarangnya ditumpangi itu, dan jika sudah menetas anaknya juga dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh orang tua angkatnya itu.
Tetapi itu belum seberapa. Pada beberapa jenis Cuckoo, pada saat mereka menaruh telur di sarang burung jenis lain, mereka juga membuang telur-telur yang ada di sarang burung yang bakal dititipi anaknya itu. Ada pula Cuckoo yang lantas "membunuh" telur burung lain dengan cara mematuknya hingga pecah. Jika hal tersebut tidak dilakukan oleh induknya, maka anak Cuckoo akan melakukannya. Masa eram telur Cuckoo itu relatif lebih singkat dibandingkan dengan masa eram telur jenis burung yang sarangnya ditumpangi, sehingga telur titipan tersebut akan menetas duluan. Begitu menetas, kegiatan pertama yang dilakukan oleh anak Cuckoo yang melek saja belum bisa itu adalah membuang telur lain yang ada di sarang.
Anak Cuckoo ini lantas menjadi anak tunggal yang mendapat perhatian penuh dari induk tirinya. Pertumbuhan anak Cuckoo juga cepat, sehingga dalam waktu singkat besar badannya bisa melebihi besar badan induk tirinya. Badan besar makanpun perlu banyak tentu saja, maka sang induk tiri akan sibuk sesibuk-sibuknya mencari makan tanpa henti untuk membesarkan anak tirinya yang sudah besar itu. Lha ... siapa bilang induk tiri itu kejam, dalam kasus ini induk tiri itu penuh kasih sayang ... hanya memberi tak harap kembali.
Pada beberapa kasus, soal makan ini bisa jadi rumit. Jika jenis burung yang sarangnya ditumpangi itu bersarang secara berkelompok, maka sang induk tiri harus bersaing dengan induk-induk lain di kompleks sarang itu untuk mendapatkan makanan dari daerah di sekitar kompleks sarang. Kalau makanan tak mencukupi, anak tiri yang bongsor itu bisa kelaparan dan mati. Naaaah ... dalam kasus ini, induk kandung anak burung itu memainkan perannya. Sang induk kandung akan merusak sarang-sarang lain di kompleks, sehingga para penghuni kompleks yang sarangnya tak dititipi terpaksa harus pindah tanpa ganti rugi. Gusur paksa model begini memudahkan sang induk tiri untuk memperoleh makanan bagi anak tirinya yang lahap itu.
Cukup demikian kelakuannya? Belum. Pada beberapa kejadian, sang anak tiri ini nantinya kalau sudah dewasa dan mampu menghasilkan telur, bisa-bisa dia akan menaruh telurnya di sarang sang induk tirinya dan melakukan ritual pembunuhan serta perusakan sarang seperti yang dilakukan oleh induk kandungnya. Kejam?! Dalam dunia hewan, kata kejam tidak berlaku, ini hanya soal siapa yang kuat, cerdik dan licik saja yang akan bertahan hidup. Lantas bagaimana dengan perumpamaan yang menyamakan manusia dengan hewan bagi manusia yang kejamnya ndak ketulungan? Menurut sampeyan apa perumpamaan itu adil buat hewan?
Lali Begins at Forty adalah topik percakapan saya dengan Kang Mas Ambyarndase barusan ini, plesetan dari adagium Life Begins at Forty. Saya sendiri lali -- lupa, bagaimana awalnya hingga istilah itu keluar, ah biarlah toh saya masih ingat intinya apa. Saya jadi ingin ndobos soal saya dan lali, yang sedikit berbeda dengan Kang Mas karena buat saya Lali Begins at Fourteen. Isi sel-sel kecil kelabu saya (meminjam istilah Hercule Poirot) memang gampang terhapus, sehingga saya jadi gampang lupa walaupun tak lantas menjadi lalijiwo (masih adakah tempat ini di Jl. Kaliurang Yogya?).
Saya itu memandang lali lebih sebagai anugrah yang perlu disyukuri. Lha apa-apa yang sudah diparingi oleh Gusti Allah itu kan mestinya disyukuri toh. Coba kita ini tidak bisa lali, apa ndak karu-karuan kita ini jadinya. Kita jadi ingat semua hal yang menyakitkan, menyedihkan, mengecewakan, menakutkan, yang ndak penting pokoknya semua diingat tak ada yang terhapus. Walaupun kalau argumennya dibalik menjadi, kita mengingat semua hal yang menyenangkan, kok ya kesannya jadi ndak seram. Hanya saja, seberapa banyakpun volume dan kerutan otak kita, kapasitasnya untuk mengingat tetap ada batasnya, sehingga kemampuan otak kita untuk menghapus kenangan menjadi penting agar tidak keluar tulisan not enough memory ... lantas hang.
Lalu seberapa sering saya lali? Sering sekali, walaupun saya tidak menenggak obat penghilang rasa sakit kepala yang katanya bisa bikin lupa itu ... teman-teman, saudara, ibu, bapak, anak-anak dan istri sering kali memberitahu saya (ini istilah halusnya lho) betapa pelupanya saya. Sejak dulu, julukan yang berkaitan dengan lali (terutama lalijiwo) kerap menjadi panggilan sayang buat saya ... marah? ya tidak juga karena memang begitulah adanya, dan lagi pula toh saya juga tidak ingat siapa yang harus saya marahi ... wis lali.
Hanya saja, ada satu lali yang membuat saya takut ... lali bojo -- lupa istri dan itu terjadi beberapa kali. Pada saat baru menikah dulu, saya sering terkaget-kaget pada saat bangun pagi atau sedang ngelilir tengah malam karena ada perempuan tidur di sebelah saya ... lha kok kayaknya kenal?? ... ooo iya ini istri saya (rentetan peristiwanya hanya terjadi sesaat kok). Pernah juga saya lali meninggalkan istri saya di supermarket ... kok kayaknya ada yang tertinggal ya? tapi apa? ... sesudah separo jalan ke rumah baru ingat. Untungnya saya tak langsung diberondong oleh istri saya, tapi ditanya "baik-baik" (ramah tapi giginya rapet) . "Dari mana?" ... "anu Jeng, saya ngisi bensin dulu tadi itu ... sudah selesai belanjanya?". Mestinya istri saya itu ya tahu kalau saya bohong, lha wong jarum penunjuk pengukur bensin tidak berubah kok, lagipula sejak kapan saya pernah pegang uang. Kalau sudah begini biasanya dia cuma melirik, sambil senyum. Tanggal dan bulan pernikahan kami persis sama dengan tanggal dan bulan ulang tahun saya. Istri saya itu memang penuh pengertian, dia tahu persis bagaimana pelupanya dan narsisnya saya ini. Coba kalau tanggal dan bulannya beda? Karena itu dia lantas saya anggap sebagai hadiah ulang tahun paling top buat saya dan hal ini tidak ingin saya lupakan. Lho ... jarang toh ada yang ulang tahun dikadoi bojo?! Malah dulu itu teman-teman saya yang pada kurang ajar itu waktu pertama kali hendak saya perkenalkan pada istri saya mereka langsung nanya "mana perempuan bernasib malang itu?" Lho?!
Di Jepang sini yang namanya lali itu harus ditebus dengan mbungkuk-mbungkuk sampai capek, meminta maaf karena lupa. Di sini orang tak boleh lupa, dan buat para pelupa lantas dibuatlah mesin pengingat yang kadang disatukan dengan alat lain seperti jam atau telepon genggam. Maka, seringnya telepon genggam seseorang meraung-raung tak berarti sang pemilik itu populer, bisa saja sang pemilik itu pelupa. Tidak boleh lali menyebabkan banyak orang Jepang lantas jadi lalijiwo, tak lagi berpikir sehat (saya cuma "nuduh" lho ya, atau halusnya menebak secara empiris ... educated guess ... he he). Lha bagaimana tidak, selama saya di sini entah sudah berapa kali ada kejadian kereta api terlambat. Bukaaaaan, bukan karena masinisnya lali, tapi karena ada yang menabrakkan diri ke kereta yang sedang melaju kencang. Kalau sudah begini, seluruh jalur yang terkait dengan jalur dimana bunuh diri terjadi lantas berhenti.
Bagaimana saya tidak mengatakan orang itu lalijiwo, selain karena orang itu menghilangkan nyawanya sendiri dia juga membuat keluarganya bangkrut. Keluarganya harus membayar ganti rugi akibat perbuatannya itu kepada para konsumen yang merasa dirugikan oleh kelakukannya itu melalui perusahaan kereta api yang keretanya dipakai untuk bunuh diri. Besarnya ganti rugi yang harus dibayar oleh "para ahli waris nombok" ini sekitar 100 juta Yen, bahkan pernah ada yang harus membayar 140 juta Yen (lebih dari 10,6 milyar Rupiah). Herannya lagi, waktu yang dipilih sering kali bertepatan dengan jam-jam sibuk saat orang-orang hendak berangkat kerja atau pulang kerja. Jadilah gerutuan (dalam kasus ekstrim mungkin sumpah serapah) berjuta orang yang mengiringi kepergiannya (Stasiun Shinjuku saja melayani lebih dari 3 juta orang per hari). Jika stasiun Shinjuku dipakai untuk bunuh diri maka paling tidak ada 11 jalur layanan (lines) kereta yang bisa terganggu.
Lali memang sudah menjadi sifat manusia, begitu kata orang bijak, dan lali tidak kenal umur. Walaupun ada banyak hal yang katanya harus selalu diingat -- tak boleh dilupakan. Perkara setelah usia empat puluh lali lantas menjadi kebiasaan saya belum nemu ada statistik yang menunjukan bahwa itulah usia rata-rata bagi berkuasanya sifat lali tadi. Kita perlu lali dalam kadar yang tepat untuk tidak lalijiwo, karena terlalu sering lali jadi merugikan diri sendiri (dan orang lain). Lali menyampaikan pesan atau lali bagaimana pesan itu seharusnya disampaikan juga berbahaya, misal: pesan aslinya berbunyi begini "Pak ... Boyolali, Bojonegoro, kacau balau". Pada saat pesan itu sampai ke tujuan bunyinya jadi begini: "Pak Boyo lali bojo negoro kacau balau". Ndak sehat ini.
Hanya saja ada jenis lali lain yang justru membuat kita jadi tambah sehat dan bugar lho, yaitu lali santai, lali pagi dan lali gembila .... *kriuuk .. garing .. biarin, dari pada kusut seperti lali lemali?*
Berhubung saya itu buta huruf Kana dan Kanji apa isi pesan poster di sebelah ini hanya saya tebak-tebak saja. Musim panas di Jepang yang gerah sangat, tentunya membuat banyak orang lantas mencari makanan atau minuman yang seger-seger. Minuman yang dipajang di poster tampaknya menawarkan kesegaran itu. Minuman tersebut tampaknya juga bisa didapat dengan harga yang relatif murah, seratus yen saja, sudah termasuk sedotan dan wadah minumannya, sedang yang memperagakan cara meminumnya tampaknya tidak dijual. Hanya saja, minuman tersebut bisa diperoleh dengan harga itu selama rentang waktu antara 18 Agustus hingga 14 September dan jika anda mampu meminumnya dalam sikap seperti yang diperagakan dalam poster. Betul begitu?
Betul atau tidak betul yang jelas menyedot minuman dengan sikap tubuh seperti yang diperagakan di poster itu, bisa bikin repot orang seperti saya yang ototnya sudah tak lagi lentur. Tetapi mungkin bagi orang Jepang ini bukan masalah besar, toh negeri ini adalah negeri asal bagi banyak seni bela diri yang menuntut banyak kelenturan tubuh. Seni beladiri yang berasal dari Jepang entah berapa puluh jumlahnya, yang saya ingat adalah Karate, Judo, Shorinji Kempo (atau Kenpo), Jujutsu (atau Jujitsu), Kendo, Aikido, Taido dan Sumo.
Dari nama-nama itu, tampaknya Sumo yang paling tersohor di Jepang. Seperti layaknya pegawai, pesumo (rikishi) di Jepang menerima gaji bulanan. Pesumo lapis tertinggi (Yokozuna) menerima bayaran per bulan tidak kurang dari 2,800,000 Yen atau sekitar 200 juta Rupiah. Hanya saja untuk mencapai tingkatan Yokozuna amat sangat sulit, dan saat ini di Jepang hanya ada satu orang Yokozuna yang masih aktif, Asashoryu Akinori dan dia bukan orang asli Jepang tapi dari Mongolia. Tidak ada orang asli Jepang yang menjadi Yokozuna sejak Maret 2000 pada saat Masaru mengundurkan diri. Sejak itu, tingkatan Yokozuna hanya diisi oleh orang yang berasal dari luar Jepang. Musashimaru sang pendahulu Asashoryu aslinya dari Samoa.
Dari semua nama cabang beladiri Jepang, praktis hanya Kendo yang menggunakan alat (pedang atau tongkat) sedangkan sisanya tangan kosong saja. Kendo, yang bisa diartikan sebagai jalan pedang, berbeda dengan anggar. Pedang dipegang dengan dua tangan, langkah kaki yang sepi dan tiba-tiba ... bat bet pletak! Anggar "lebih dinamis", langkah kakinya ramai dan pertukaran sabetan pedang sering terlihat. Hanya saja, saya lebih suka melihat Kendo yang kesannya ndak grusa-grusu.
Lha, kalo soal favorit saya ... Shorinji Kempo. Indah dan nyaris tak punya jurus untuk membunuh, hanya melumpuhkan. Dibandingkan dengan seni beladiri lainnya, Shorinji Kempo termasuk muda, baru "didirikan" pada tahun 1947 oleh pendeta Doshin So (Kaiso -- sang pendiri), walaupun akar dari Shorinji Kempo sendiri mungkin sudah berumur ribuan tahun dan bermula dari India. Walaupun dalam pertandingan ada cabang perkelahian bebasnya (randori), tetapi saya lebih tertarik untuk nonton cabang kerapihan tehnik (embu), yang menekankan pada cara bertahan, menghindar dan mengunci lawan. Perkara tak ada jurus membunuh tidak lepas dari sejarah hidup sang pendiri yang melihat bagaimana perang lantas meluluh lantakan manusia. Kaiso adalah seorang anti perang yang disebutnya sebagai simbol dari semua kebodohan manusia.
Sampai sekarang saya belum pernah membeli minuman itu, karena toh saya juga praktis tidak akan berada di Jepang selama masa berlakunya harga spesial itu. Lagi pula posisinya itu lho ... tetapi saya yakin sang Presiden World Shorinji Kempo Organization, Yuuki So yang jelita itu, bisa dengan mudah melakukannya.
Musim panas di Jepang benar-benar menguras keringat, sumuk, gerah banget. Lha sampeyan bisa membayangkanlah bagaimana tak nyamannya berkereta api di tengah kegerahan jika gerbong kereta tak berpendingin. Walaupun hampir setiap hari harus umpel-umpelan dan kadang tersikut-sikut saya merasa jauh lebih beruntung dari kawan saya yang satu ini yang sama-sama berstatus penunggang kereta. Kalau kawan itu harus bersumuk-sumuk di gerbong manapun yang dia naiki, maka saya di sini punya dua pilihan tingkat kesejukan gerbong. Ada yang bersuhu 28oC ada pula yang bersuhu 26oC, begitu kata poster yang terpampang di stasiun kereta, lengkap dengan petunjuk gerbong mana yang harus saya masuki untuk menikmati suhu pilihan. Hanya saja gerbong 28oC itu jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang 26oC.
Jepang yang apa-apa harus pakai penjelasan, tentunya menetapkan dua angka itu dengan penelitian seksama termasuk berapa suhu yang nyaman untuk para penumpang kereta. Pada saat saya bertanya pada seorang kawan tentang berapa suhu yang nyaman sebenarnya untuk manusia, saya malah dihujani pertanyaan balik ... "untuk aktivitas apa? pakaian yang dipake apa? kecepatan angin berapa? kelembapan berapa? di luar atau di dalam ruangan? ...... orang-orangnya dari mana?" Lha??!!
Maka sibuklah teman itu menerangkan arti dari semua pertanyaannya itu yang kalau ditulis ulang mungkin bisa jadi novel. Hanya saja dari penjelasannya yang panjang sangat itu, saya ya baru tahu kalau berpakaianpun ada satuannya, namanya clo (satuan clothing insulation). Angkanya dari 0 - 4 clo, 0 clo berarti telanjang dan 4 clo itu pakaian musim dingin orang eskimo. Lantas saya menerangkan apa yang saya pakai di musim panas ini, yang menurut dia apa-apa yang saya kenakan itu nilainya 0,6 clo.
Saya pun lantas "dipaksa" oleh teman itu untuk bercerita tentang kereta yang saya naiki hampir setiap hari itu, termasuk pakaian saya dan ngapain saja di gerbong. Setelah menghitung dengan cara MPC (Mbuh Piye Carane), dia lantas menyarankan agar saya mengambil gerbong yang 26oC, yang 28oC itu cocok buat orang dengan pakaian minim (celana/rok pendek, baju tipis banget, dengan daleman minim), kalau saya ambil gerbong itu bakal "agak gerah" katanya.
Saya yang tadinya ndlongop, mulai mengangguk-angguk walaupun tidak sambil berseru seperti burung kutilang yang hinggap di pucuk pohon cemara itu. Terima kasih kawan, tapi saranmu ndak menarik buat diikuti kayaknya, besok-besok saya akan naik gerbong 28oC saja, isinya kok ya lebih menarik kayaknya . Kalau boleh saya tahu, menurut sampeyan saya harus milih yang mana?
Numpak montor muluk - pesawat terbang - dijaman sekarang buat banyak orang sudah bukan lagi sebuah kemewahan, apalagi dengan makin banyaknya perusahaan penerbangan yang bertarif murah. Tarif bisa murah karena banyak sebab, mulai dari mesin pesawat yang efisien sampai karena keberanian bisnis yang kadang sulit dipahami (paling tidak oleh saya), yang kesemuanya berujung tarif per penumpang per kilometer menjadi cukup rendah untuk dijangkau banyak orang. Bahkan ada perusahaan penerbangan yang lantas bersemboyan "now everyone can fly". Ya ... hari ini saya ingin ndobos seputaran pesawat terbang karena satu hal, hari ini tanggal 19 Agustus adalah hari kelahiran Orville Wright.
Orville Wright yang lahir pada tanggal 19 Agustus 1871, adalah orang pertama yang terbang dengan menggunakan pesawat bermesin yang bisa dikendalikan. Pesawat yang mereka namai The Flyer (kemudian dikenal dengan nama Kitty Hawk) dirancang oleh Orville bersama-sama dengan kakanya Wilbur Wright. Kakak beradik pemilik pabrik sepeda ini akhirnya bisa menerbangkan pesawatnya pada tanggal 17 Desember 1903 di Kitty Hawk, negara bagian North Carolina, Amerika Serikat. Penerbangan pertama yang berlangsung sangat singkat dan menempuh jarak sangat pendek, dua belas detik dengan jarak 39 meter, dengan tinggi terbang hanya sekitar 10 kaki saja. Hari bersejarah itu ditutup oleh Wilbur dengan penerbangan sejauh 279 meter selama 59 detik. Pesawat terbang pertama ... berkecepatan kurang dari 20 km/jam, berawak satu yang tengkurep di pesawat.
Seratus tiga tahun kemudian, berdasarkan catatan saya untuk pesawat sipil saja ada 470-an jenis (data ini tidak lengkap lho ya) belum yang pesawat buat perang, pesawat eksperimen, pesawat layang. Ukuran, kecepatan dan jarak tempuh pesawat juga makin lama makin bertambah. Pesawat penumpang terbesar yang beroperasi di dunia saat ini, Boeing 747-400ER, bisa dijejali sampai 520-an penumpang, bisa terbang non-stop sejauh 14.200 km, dan bisa terbang dengan kecepatan sekitar 910 km/jam. Tetapi, mulai tahun depan 747 bakal turun ke nomor dua dan nomor satu akan dipegang oleh si raksasa berlantai dua, Airbus A380 dengan 850 penumpang, jarak tempuh 15.000 km dan kecepatan jelajah 1050 km/jam. A380 sedang menyelesaikan tahapan terbang ujinya saat ini. Bandingkan dengan The Flyer, 1 penumpang, 279 meter, 17 km/jam.
Kalau pada waktu Wright bersaudara itu di pesawatnya tengkurep, lha sekarang ya bisa juga tengkurep tapi bisa juga duduk tegak, duduk miring tergantung tempat duduknya mau disetel seperti apa, mau jalan-jalan ya boleh, asal jangan jalan-jalan di luar saja. Tersedia pula sarana hiburan film, tv, lagu, dan permainan. Saya pernah nyoba nonton tanpa berhenti dalam sebuah penerbangan jarak jauh (13 jam-an), ya ndak bisa nonton semua film yang ada juga sangking banyaknya judul yang ditawarkan (tidak dianjurkan ... mata sepet). Penumpang juga lantas dimanjakan dengan suguhan ini itu, apa lagi kalau terdampar di kelas satu, sampeyan yang punya penyakit bulimia juga pasti capek sendiri.
Lantas jumlah orang yang diangkut ... waaaaa mbuh! Data dari International Air Transport Association (IATA) untuk sepuluh perusahaan penerbangan yang membawa penumpang terbanyak saja sudah lebih dari 590 juta penumpang selama tahun 2005. Pokoknya itu lalu lintas udara ya war wer ndak ada berhentinya dan ada banyak bandar udara di dunia yang nyaris tak pernah tutup. Bandara-bandara modern lantas tidak hanya diisi dengan ruang tunggu dan ruang kedatangan untuk calon atau bekas penumpang, sudah lebih dari itu ... ada toserba, pusat jajan, toko buku, hotel, kolam renang, pusat kebugaran, bioskop, panti pijat, taman buat duduk-duduk, perpustakaan, museum, apa lagi ya? ... oh ya, tempat favorit saya ... game center yang bisa main x-box gratis sak kemengnya asak ndak malu diplototi anak kecil saja. Bandara menjadi seperti sebuah kota kecil.
Lha kalau pesawat yang dipakai buat perang?! Sama saja beraneka rupanya. Dari mulai yang berpenggerak kitiran sampai yang pancar gas. Pada generasi terbaru (generasi 5) sang pengemudi bahkan harus dibantu komputer untuk mengendalikannya, malah bisa "ngilang" dari layar radar. Kecepatan pesawat untuk tempur juga wes ewes ewes, tengok saja pesawat mata-mata yang sudah pensiun Lockheed SR-71 yang berjuluk Blackbird (para pilotnya memanggilnya Habu) bisa terbang dengan kecepatan 3,3 kali kecepatan suara (sekitar 3.529 km/jam). Pesawat tempur yang dimiliki Indonesia tercanggih, SU-30MK "Flanker" buatan Russia, termasuk generasi 4 setengah, mampu terbang hingga 2 kali kecepatan suara.
Siapapun yang membuat pesawat dan seperti apapun bentuk pesawatnya, satu bagian terpenting dari pesawat adalah sayap yang memungkinkan pesawat tersebut bisa miber - terbang, dan untuk satu hal ini yang paling berjasa adalah Leonhard Euler dan Daniel Bernoulli. Bernoulli sang ahli matematika dan fisika itulah yang menemukan prinsip Bernoulli yang menjadi dasar bagi terciptanya sayap pesawat. Secara sederhana Prinsip Bernoulli itu bilang begini, makin cepat udara mengalir, makin kecil tekanannya. Nah sekarang, bentuk sayap pesawat itu (kalau dilihat dari samping) membuat udara di atas sayap mengalir lebih cepat dari udara di bawah sayap ... ya pesawatnya mumbul.
Begitu saja. Oh iya, apa sampeyan ada yang tahu bagaimana nasib pesawat N250 yang katanya mau dibikin di Bandung itu?
Saya percaya kalau sebagian besar sampeyan semua itu pernah menggunakan fasilitasnya Instant Messaging (IM), itu lho "ngobrol" ketik-ketik lewat internet, atau populer dengan istilah chatting. Ada ombyokan layanan IM saat ini seperti Yahoo! Messenger, Google Talk, Windows Live Services (terdahulu bernama MSN Messenger), Skype, ICQ, mbuh apa lagi ... pokoknya banyak. Fasilitas itu, dari yang tadinya hanya bisa ketak ketik tok, sekarang sudah bisa juga melayani suara dan gambar/video dengan catatan kalo sambungan internetnya nututi. Bisa juga kirim-kiriman dokumen elektronik atau dipake ngerumpi lebih dari dua orang. Pokoknya semakin ke sini dibuat semakin ciamik ... walaupun belum bisa dipake buat ngirim rawon atau gado-gado.
Hanya saja, dengan berbagai alasan, fasilitas ini lantas menjadi fasilitas "haram" dibanyak tempat kerja. Terserah sampeyan mau punya fasilitas ini di rumah, tetapi jangan sekali-kali dipakai di kantor, begitu yang lumayan sering saya dengar. Lha situasi saya (dan beberapa kawan sekerja) justru terbalik, fasilitas ini menjadi fasilitas wajib punya, harus ada, bahkan dibayari kantor (untuk fasilitas tertentu). Maklumlah, kami itu tempat kerjanya pating telecek, nyebar di mana-mana dan sering kali perlu berkomunikasi secara real-time. Lha kok ndak pakai telepon saja? Biaya menjadi alasan disamping sulitnya telepon terkoneksi. Sebagai contoh ekstrim yang terjadi beberapa tahun yang lalu, kawan yang berada di Nairobi (Kenya) harus menghubungi kantor di Inggris untuk minta direlay teleponnya ke Dodoma (Tanzania). Dalam kasus tersebut biaya telepon jadi dobel, Nairobi ke Cambridge (6800 km) dan Cambridge ke Dodoma (7300 km) dan setelah dijumlah jamleh jadi 14100-an km. Padahal jarak Nairobi - Dodoma ya "cuma" 550-an km atau kira-kira sama dengan jarak dari Jakarta ke perbatasan Jawa Tengah - Jawa Timur (jarak lurus lho ya).
Lho kalau IM jadi fasilitas wajib ... apa saya ndak lantas chatting melulu kerjanya sama teman yang bukan pegawai kantor? Ya ... itu terjadi, sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi ya tidak melulu. Lagipula, teman-teman itu kok ya ndak rajin crang cring bazz buzz selama jam saya ngantor, walaupun saya selalu dengan senang hati di-crang cring bazz buzz, atau malah di-kriiiiing. Di luar crang cring teman-teman tidak sekantor, acara harian terkadang toh sangat padat dengan crang cring oleh teman sekantor, dari yang cuma bilang "ola" sampe yang nyuruh "baca email, balas segera" (duh...), atau yang ngajak diskusi soal kerjaan sambil bolak-balik ngirim dokumen, yang jika lantas diskusinya jadi terlalu lamban dengan ketak-ketik beralih ke diskusi dengan suara.
Sebagai kepala bagian gosip hangat yang berusaha melayani para "konsumen" dengan cepat, kadang repot juga. Tetapi, jika hari-hari sepi pengunjung, kok ya kangen juga, seperti bulan-bulan ini dikala banyak kawan kantor sedang liburan musim panas. Kalau saya boleh tahu, di tempat sampeyan gimana?
Hari ini tanggal 17 bulan Agustus ... waaaah Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku hari ini berusia 61 tahun. Saya lantas bedoa pendek saja, "Gusti Allah, terima kasih". Lantas, saya memainkan lagu Indonesia Raya dari file mp3 yang selalu ngikut kemana saya pergi itu dan memasang bendera merah putih di layar monitor. Duh ... dada ini rasanya sesak sekali, saya menangis bahagia, sekali lagi saya berucap "Gusti Allah, terima kasih". Lagu selesai, saya menyeduh kopi bubuk Kapal Api yang masih tersisa, menyruputnya sedikit (lha wong masih panas), nikmat sekali. Dengan mengerahkan segala ketrampilan, saya pun lantas memasak nasi goreng dengan memakai bumbu nasi goreng simpanan yang saya bawa dari Indonesia. Rasanya mungkin ndak karu-karuan, tapi kok ya nikmat sekali. Begitulah sodara-sodara sekalian cuplikan dari adegan "upacara 17 Agustus" nya saya di negeri yang jauh ini, dan berlangsung sedikit lewat tengah malam, dirayakan sendirian di rumah.
Kerinduan akan tanah air disaat hidup di tempat yang jauh, saya kok yakin bukan monopoli saya saja. Kebanggan sebagai anak Indonesia, saya yakin juga bukan monopoli saya saja. Menangis bahagia saat lagu kebangsaan diperdengarkan, wah banyak yang begitu. Berbahagia dan lantas merayakan kebahagiaan itu, banyak juga rasanya yang begini. Lha kalau ini lantas diartikan sebagai pengejawantahan (opo to iki?) dari rasa cinta saya kepada tanah air, maka saya juga tidak sendiri.
Jika sekarang ini Ibu pertiwi sedang bersusah hati, karena mungkin ada anaknya yang mbeling atau sedang ada musibah, maka sebagai anak saya akan berusaha membelai punggungnya yang mudah-mudahan bisa mengurangi rasa gundahnya itu, mungkin juga sambil berkata "Bu, apa yang bisa saya bantu". Atau mungkin hanya diam saja, tapi saya akan memeluknya. Pikiran saya mestinya bakal lari-lari kembali ke masa-masa lalu, masa di mana dunia melihat Ibu saya itu sebagai yang terjajah, juga masa di mana Ibu melawan dan akhirnya masa di mana Ibu bisa berdiri tegak sambil menatap dunia dan berkata "sekarang aku adalah orang berdaulat" dan dunia mengangguk setuju.
Sudah 61 tahun sekarang usianya, saya kok ya belum bisa maringi - memberi kado apa-apa, paling saya hanya mencoba menawarkan rasa cinta saya saja, dan saya yakin akan ada banyak orang yang menawarkan hal yang sama. "Ngasih kado kok umum, mbok ngasih yang lain daripada yang lain", begitu saya mbatin. Lha gimana, saya baru punya itu je. Oh iya, kalau saya boleh tahu, sampeyan maringi kado apa?
Bayangkan kejadian ini. Sampeyan sedang batuk-batuk dahsyat sampe mengkis-mengkis , ngak ngik nguk. Lantas sampeyan nyerah dan akhirnya mau dibawa ke tabib. Periksa-periksa, tabib ngangguk-ngangguk, lantas sang tabib pergi ke dalam mengambil obat. Tabib keluar dan menyerahkan sebungkus rokok kretek untuk mengobati batuk sampeyan, sambil berujar "Sehari empat kali ya, jangan lupa lho. Rokoknya harus sampai habis". Bayangkan kejadian itu terjadi di masa sekarang. Tabib gemblung po?! paling tidak tabibnya diteriaki begitu, atau malah disawat sandal, lha siapa yang bisa nebak apa yang akan diperbuat orang Indonesia yang lagi marah.
Tetapi konon sekitar 120 tahun yang lalu, begitulah kejadiannya. Di Kudus yang namanya rokok kretek berbungkus daun jagung kering dijual di apotik untuk obat batuk. Konon katanya itu obat terbikin oleh Haji Jamahri yang mencampur tembakau dengan cengkeh untuk mengobati batuknya. Walaupun dianggap sebagai penemu kretek, Haji Jamahri hanya sampai pada tingkat jualan eceran saja. Tidak ada perusahaan rokok kretek hingga dia meninggal. Bikin perusahaan justru muncul dari benaknya orang Kudus lain bernama Nitisemito yang pada tahun 1906 mendirikan perusahaan rokok kretek pertama Bal Tiga (kenapa ya namanya bal tiga?).
Sudahlah, saya ndak akan ndobos soal akibat menghirup kretek, ngudud. Saya juga ndak akan ndobos panjang lebar (yang kalau dikali dapet luas) soal kretek. Saya hanya ingin minta tolong, apa sampeyan ada yang ngerti cerita tentang kretek, sejarahnya. Mbok kalau ada mohon saya dibagi ceritanya. Saya belum sempat ke Kudus untuk datang ke musium kretek dan saya sangat ingin mengetahui lebih banyak soal barang satu ini yang kok kayaknya sudah menjadi bagian dari republik yang besok akan merayakan 61 tahun proklamasi kemerdekaannya. Terima kasih lho sebelumnya, baik buat yang memungkinkan proklamasi itu akhirnya bisa berkumandang maupun yang membagi cerita kreteknya.
Berangkat keperaduan (tidur maksudnya) di malam hari diiringi nyanyian jangkrik, di luar sana bulan sepotong dan angin silir-silir ... sedap. Belum tentu, paling tidak untuk kasus saya. Dari rumah, saya masih bisa mendengar suara jangkrik di malam hari dan gara-gara suara itu tidur saya jadi tak mudah. Berisik? bukan ... saya suka suara jangkrik yang mengingatkan pada masa kecil. Hanya saja ini jangkrik kok pada berbunyi lebih awal dari "semestinya", paling tidak di sekitar rumah saya. Mereka mulai bernyanyi dua minggu lebih awal dari biasanya.
Cuma jangkrik? ndak juga. Sampeyan tahu yang namanya gareng pung? tonggeret. Lha ini juga kemlinthi. Di Jepang ada 5 jenis gareng pung, biasanya mereka nyanyinya itu gantian, nyaris berurutan. Lha kok sekarang yang mestinya nyanyi duluan itu telat mulainya 2 minggu, dan lebih gendhengnya lagi sekarang semua nyanyi barengan. Ada juga yang biasanya nyanyi siang hari saja, sekarang juga nyanyi sepanjang malam.
Ah ... kan cuma gareng pung dan jangkrik saja yang kelakuannya mencelat dari pakem. Sebentar ... tadi pagi itu saya jalan-jalan lewat taman di dekat kantor dan ada kupu-kupu yang setahu saya mestinya nggak ada di Tokyo. Satu ekor yang sudah tergeletak mati saya bawa ke kantor dan saya bertanya kepada teman yang senang kupu-kupu ... dia cuma manggut-manggut sambil bilang "sudah beberapa tahun belakangan, kupu-kupu ini menyebar makin ke Utara". Saya jadi ingat musim mekarnya bunga Sakura yang tahun ini lebih panjang dari biasa, dan teman saya bilang kalau di dekat rumahnya ada beberapa pohon yang sudah berbunga sebelum musim semi tiba.
Sudah? Belum juga. Hari ini saya banyak terima email yang berisi keheranan dari Indonesia. Gerombolan yang suka nonton burung itu saling melaporkan keanehan yang mereka lihat. "Aku liat 50-an ekor alap-alap entah alap-alap nippon entah cina, terbang barengan, mereka terbang tinggi sekali, di Pengaron dekat Semarang menuju Timur"... lha biasanya rombongan alap-alap itu lewat akhir September paling cepet. Ada juga yang mengabarkan keheranannya dengan kehadiran burung layang-layang (yang datang dari belahan bumi Utara) yang tiba lebih awal dari biasanya, cerita itu datang dari Medan, Jambi (seperti di foto ini), Bekasi dan Palu. Entah apakah tenggeran layang-layang yang di Yogya (di kantor pos besar itu), di antara Cianjur-Ciranjang dan di Bandung (di Jalan Kopo dan di sepanjang jalan tol) sana juga sudah mulai disesaki oleh turis musiman tanpa pasport dan visa ini.
Lantas ada apa ini? Saya dulu itu diberitahu kalau binatang itu manut sama alam. Kalau ada gunung mau njeblug misalnya, mereka sudah lari pontang-panting duluan. Di Aceh itu katanya waktu tsunami belum sampai daratan, burung-burung sudah pada beterbangan. Lha yang sekarang ini apa? Selagi saya mencoba untuk mencari-cari jawaban, seorang teman berkata, "tahun ini taifunnya aneh ya, jumlahnya sih mirip tapi datengnya kok barengan". Ya ... ada tiga taifun yang datang nyaris bebarengan kemarin itu.
Saya tidak bermaksud untuk menjadi penyebar gosip bencana, apalagi lantas berkesimpulan apa-apa yang dilihat di dalam film "The Day After Tomorrow" akan terjadi besok atau lusa. Hanya saja beberapa kejadian itu kok ya ndak umum sih dan beberapa malah sudah terjadi beberapa tahun belakangan. Mudah-mudahan kawan yang sedang gemeteran di Antartika sana ndak ngirim email yang isinya menakutkan. Di sekitar rumah sampeyan bagaimana?