Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, August 26, 2006
Sapi Kobe?

Sapi Kobe? wah iya, pernah dulu saya makan daging sapi ini sekali ... lantas kapok (cerita soal ini lain waktu saja). Bagi para penikmat daging sapi, konon kabarnya inilah daging sapi termewah, tapi yang jelas harganya relatif muahaaaal. Kobe beef mentah di Jepang dijual lebih dari 110 ribu Yen per setengah kilonya, sementara memasaknya juga bikin repot, daging mentahnya haluuuus sekali dan dengan guratan lemak di dagingnya irisan daging sapi ini persis marmer. Salah memasaknya, daging ini jadi ndak ada rasanya, sepo, tak layak santap.

Lha kok mahal? Hukum ekonomi berlaku, pesediaan sedikit permintaan banyak. Satu perternakan biasa-biasa saja di Kobe sana paling hanya memelihara 5 ekor sapi, peternakan besar paling hanya 15 sampai 20 sapi. Alasan lain, perawatannya. Makanannya hanya makanan yang terbaik untuk sapi, dan setiap musim panas diberi minum bir yang katanya untuk menambah nafsu makan sapi dan membuat daging jadi empuk. Tambahan lagi, pijetan! Lha yang namanya sapi di Jepang yang lahan pertaniannya sempit, sapi begini ya ndak dilepas begitu saja, dikandangi. Namanya ndak pernah olah raga, otot-otot sapi bisa pegal-pegal dan terapinya ya harus dipijet dan dielus-elus dengan sikat khusus, setelah sebelumnya badan sapi itu diguyur sake. Pokoknya ini sapi diperlakukan seperti anak manja, agar dagingnya nanti empuk, enak dan cepat besar. Mungkin peternak di Kobe itu sambil ngelus-ngelus Sapi Kobenya lantas berharap ... "cepet besar ya ... supaya cepat dipotong"

Bentuk sapinya seperti apa sih? Begitu tanya Ibu Ely dan blanthik dari Jakarta. Ya ... sapi! bentuknya begitu-begitu saja, dalam dunia ilmiah juga digolongkan sama dengan sapi lainnya, hewan menyusui dari bangsa Artiodactyla, keluarga Bovidae, marga Bos dan jenis taurus, bernama latin lengkap Bos taurus. Satu marga dengan Banteng Bos sondaicus. Jadi kalau sampeyan memanggil atasan sampeyan dengan sebutan Bos ... mbok ya jangan to ... atasan kok di sapi sapi sih?

Tidak ada yang ganjil dari Sapi Kobe, hanya cara perawatan pra-jagalnya saja yang ndak umum. Bentuknya samalah dengan sapi di sini, kukunya juga genap, ndak ganjil kayak kuku kuda. Jadi ingat jaman sekolah menengah, pembagian hewan ternak berdasarkan kuku itu tadi, hewan berkuku genap dan hewan berkuku ganjil. Saya ndak masuk dua-duanya ... saya itu masuk golongan orang berwajah ganjil.

Ralat: Salah ... salah ... harga dagingnya 11 ribu Yen per setengah kilo bukan 110 ribu ... terimakasih buat Tifoso.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Friday, August 25, 2006
Sir Mbilung Lord of Ndobos

HHari Kamis kemarin saya resmi memasuki masa turne (turu mrono mrene), keliling dari kantor ke kantor seperti penilik sekolah. Lha ... masa-masa paling awal dari musim turne kali ini dimulai dengan kejadian mendebarkan dan bakat ndobos saya terbukti berguna banyak. Sampeyan masih ingat kan kalau saya itu punya sifat lali - pelupa yang agak-agak parah? Naaah, semua dimulai dari situ. Begini kisahnya.

Penerbangan pertama, Tokyo - Singapura, jam berangkat 11:30 waktu Tokyo. Halaaaah, ini artinya saya ndak bisa berangkat dari rumah, bisa kesiangan sampai di Bandara Narita. Ya sudah, tidur di hotel saja di Tokyo, cari yang dekat stasiun kereta api di Shinjuku.  Penyakit insomnia saya masih belum sembuh, seperti biasa baru bisa tidur setelah lewat jam 3 pagi. Berhubung saya tidak membawa jam kesayangan penggugah tidur, saya pasang alarm yang ada di HP saja, jam 6:30 agar tak terlambat untuk naik kereta jam 7 pagi dari Shinjuku.  Alarm terpasang, tidur lelap.

Kali itu saya bangun paginya sueeeger pol, lebih dulu dari alarm! Lho hebat ini. Akan tetapi...kok di luar terang sekali ya? Lho, jam tangan saya menunjukan pukul 8:30 kurang sedikit??? ... he!!!! Lha kok?!! Lupa ... terakhir kali jam di HP itu di set untuk Waktu Indonesia Bagian Barat dan jam 6:30 WIB itu sama dengan jam 8:30 waktu Tokyo. Sudah, ndak pake mandi langsung ngacir ke stasiun. Tiba bermandi keringat hanya untuk kecewa, karena kereta berikutnya baru ada jam 9:40 dan tiba di Narita jam 10:57, padagal itu counter chek-in tutup setengah jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat, lha dari stasiun kereta ke counter masih agak jauh, bakal ketinggalan pesawat ini. Sudahlah, tak ada pilihan, saya akan coba menghubungi perusahaan penerbangan itu saja dari kereta.

Saya lantas menelpon ke perusahaan penerbangan itu di Narita. Suara merdu menjawab, dan dengan sopan mereka bilang saya tidak akan bisa berangkat, kalau mau pakai penerbangan berikutnya saja yang jam 7-an malam. Lha, ndak bisa, karena penerbangan koneksi saya berikutnya itu jam 9 waktu Singapura, dan tiket yang dari Singapura itu ndak bisa diganti waktunya (murah sih!). Pemecahannya, ganti penerbangan yang dari Tokyo dan beli tiket baru untuk yang dari Singapura. Hajinguk, beli lagi!!! Mulailah perundingan yang tampaknya sia-sia itu dilakukan, hingga akhirnya sang suara merdu menang, saya harus mengambil penerbangan berikutnya dan ganti tiket yang dari Singapura, titik. Saya mulai menyerah, opsi itu saya ambil dan suara merdu meminta nama saya untuk pembelian tiket sambungan dari Singapura. nama diberikan dan rincian lain juga termasuk kartu keanggotaan penerbangan itu.

Tiba-tiba ... suara merdu bertanya "Are you a gold member?" saya jawab "Yes I am, dan sudah lama", ujug-ujug ada kosa kata baru yang keluar dari suara merdu ketika memanggil saya ... MISTER dan SIR ... lantas diikuti dengan nama lengkap saya. Begini katanya "Mister Mbilung, kalau tuan bisa tiba di counter sebelum pintu pesawat ditutup, kami masih bisa memasukan tuan ke penerbangan ini Sir". Ooo begitu?? ... hokeh.  Tiba di Narita tepat jam 10:57, sampai di dekat counter sekitar  jam 11:10-an, dua puluh menit sebelum jadwal keberangkatan. Jahil ... saya ndak langsung ke counter, tapi saya tunggu dulu, betul nggak janji mereka.

Lenggang kangkung saya ke counter jam 11:15, ho ho ho ... ada panitia penyambutan, koper, tiket dan passport saya langsung diambil, dan salah satu petugas berkata, "Mister Mbilung, anda ternyata sudah melakukan check-in online Sir, tetapi bangku yang anda pilih sudah kami berikan ke penumpang lain dalam daftar standby". Muka kecewa saya langsung terpampang jelas dan ndobos kalau saya kecewa .... "Begini saja Mister Mbilung, kami masih ada bangku kosong, kalau tuan berkenan, kami bisa pindahkan anda Sir". Saya mengangguk, masih dengan tampang kecewa. Boarding pass diberikan, daaaaaan...boarding pass itu tidak dengan warna seperti biasanya .... baca ... haiyaaaaaaa .... kelas bisnis!!! sumringah langsung keluar tapi tampang datar dipaksa untuk dipasang. Begitulah, dengan diantar oleh seorang mbak manis kami berlari menuju pintu keberangkatan, imigrasi lancar dan cangkingan tidak lagi diperiksa. Duduk manis di kursi lebar dan minuman, handuk hangat serta senyum manis menyambut kedatangan Sir Mbilung.

Sudah selesai ndobosnya? belum. Saya langsung memanggil salah satu awak kabin dan bertanya "apa nomer registrasi pesawat ini" (saya memang hobi nyatet begini), kebingungan di wajah awak kabin berbaju ketat banget itu langsung saya timpali "saya suka mencatat semua detail penerbangan saya untuk diceritakan". "Ah I see, you are a writer, right Sir?", mengangguk sayanya, dan saya ndak bohong ... kan saya sering nulis buat blog saya ini.

Penerbangan agak panjang itu kemudian diisi dengan limpahan makanan, minuman dan senyuman, yang setiap akan dihidangkan selalu diawali dengan pertanyaan, "Mister Mbilung ... bade kersa ngunjuk lan dahar?" Selalu dijawab dengan anggukan ... "kopi Mbak!" ... "Sendiko dawuh Mister Mbilung, ini daftar jenis kopi yang tersedia Sir". Bingung sayanya, lha wong namanya aneh-aneh je, mana kopi tubruk ndak ada di daftar ... "what do you recommend?" ini jawaban tipikal saya buat ngeles kalau bingung. Pertanyaan-pertanyaan kecil dari para awak kabin lantas rajin datang, seperti "sering bepergian? sudah ke mana saja? memakai penerbangan apa saja?, dll", semua bisa saya jawab dengan baik, tanpa harus "berbohong" ... betul, saya ndak bohong saya hanya economical with the truth.

Begitulah sodara-sodara ... tampaknya saya harus ganti nama menjadi Sir Mbilung Lord of Ndobos ... sampeyan setuju?


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (15) yang ndobos juga  

Thursday, August 24, 2006
Bacalah

Saya ndak ndobos kali ini. Saya tercengang, tersentuh dan capek saya hilang. Berawal dari baca-baca gombalnya Pakde Tyo di bagian BERBAGI itu, ada tulisan MENYENTUH, apa lagi ini ... ngawuran seru mana lagi ini, begitu pikir saya. Sudah, klik saja.

Jreng ... tercengang, tersentuh dan capek hilang itu tadi. Tak usahlah saya lantas membahas apa-apa yang ada di dalamnya, ada Indonesia di situ, sampeyan lihat saja sendiri. Menurut saya, ini wajib baca dan saya hanya mau bilang begitu.


Posted at 01:58 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Jantan Berdandan

Soal bersolek, mempercantik diri, dalam dunia manusia umumnya dilakukan perempuan. Sebentar ... umum?? apa maksud saudara?? Apa kalau laki-laki yang berdandan lantas boleh disebut laki-laki tidak umum!!! Ayo jelaskan ... Baiklah, begini, hmmmm, yang saya maksud umum itu lebih banyak perempuan berdandan dibandingkan dengan lelaki berdandan. Ah ... ndobos, mana bukti statistiknya. Lha ndak punya saya, dan benar itu saya ndobos dan menurut saya ndobos itu ya ndak perlu pake statistik, lha wong waton njeplak kok. Lagi pula dalam dunia burung, yang berkelamin jantan itu lebih cantik lho, saya ndak asal ndobos kalau soal burung jantan ini. Begini kisahnya ....

Pada banyak jenis burung ada perbedaan penampakan antara yang jantan dan yang betina, istilah enggresnya sexual dimorphism atau kalau diterjemahkan bebas menjadi perbedaan wujud antar jenis kelamin (mbundet yak?). Pada jenis burung yang begini ini, yang jantan biasanya lebih kinclong warna bulunya dibandingkan dengan yang betinanya. Contoh paling gampang ya ayam. Tengok ayam jantan itu...wih warna-warni bulunya, sementara yang betina ... haiyaaah ... mbok nyalon?!! Contoh lain, Cendrawasih ... lihat yang jantan, aduuuuuh coklat, biru, kuning, hitam, merah, pokoknya ck ck geleng-geleng. Lha yang betina ... sudahlah. Tambahan lagi, yang Cendrawasih jantan, penari ulung, lha yang betina ... hanya terkagum-kagum saja. Contoh lain lagi? Merak ... apa iya lantas Merak betina diuber-uber pengrajin reog buat dicabuti bulunya?

Lha kok bisa, kok terbalik dengan dunia manusia ... sebenarnya tidak terbalik, sama saja. Coba saja orang sak kampung disuruh melepaskan semua pakaiannya (in the name of science, biar ndak dituduh macem-macem), hilangkan semua dandanan. Kita bisa melihat perbedaan itu. Umumnya (umumnya lagi), yang laki-laki lebih berotot, garisnya lebih tegas, sementara yang perempuan lebih lembut. Lha dalam dunia burung ketegasan tadi ditunjukan dengan warna. Karena itu warna bulu burung jantan lebih berbinar-binar, untuk menunjukan kepada para betina "ini lho saya gagah, saya bisa memberimu keturunan unggul" atau kalau burungnya pakai menari "lihat tarianku, lebih komplit, lebih bertenaga, turunan unggul yang bisa kamu dapatkan". Lha kan manusia pakai baju? Makanya lantas "perhiasan" pada manusia laki-laki menjadi agak berbeda dengan burung jantan dan bentuknya macam-macam, mulai dari sekedar otot yang tak tertutup baju, baju yang bagus untuk menutupi otot tak layak pandang, hingga simbol-simbol kemapanan yang melekat pada sosoknya dan tatapannya berkata "ini lho saya yang bisa melindungimu dan memberi kepastian masa depanmu dan anak-anak kita nanti"  Insting hewani itu, seberapa kecilnyapun, masih ada pada manusia.

Makin muda umur manusianya, penilaian pada ciri-ciri fisik lawan jenisnya makin dominan. Ingat ndak sampeyan (yang laki-laki), waktu kecil dulu apa cita-citanya kalu sudah besar nanti? Biasanya bercita-cita menjadi seseorang yang terlihat gagah di mata sampeyan. Kalau yang perempuan, dulu itu (sekarang juga masih kali ya) maunya dapat pasangan yang seperti apa? Saya jadi ingat anekdot kasar sarat "pelecehan" gender yang begini isinya, seorang perempuan itu mulanya berpikir siapa saya ... saya yang paling ciamik, ndak ada yang mau dilirik. Lantas besar sedikit berubah menjadi siapa dia (bisa juga, siapa ya dia?) ... kasarnya punya apa dia. Masih ndak dapet juga ... berubah lagi menjadi siapa saja. Stop!!! dari pada saya disawat sandal sama istri, saya stop saja soal manusia sampai di sini ... karena dulu itu kalau dipakai dua level awal penilaian memilih jodoh, saya sudah tersisih sejak awal.

Kembali ke burung, tak ada Cendrawasih betina yang mau dikawini oleh jantan tak berbulu terawat dan tak pandai menari. Karena itu, burung jantan akan menghabiskan banyak sekali energinya untuk merawat bulu, berlatih menari, dan pada musim kawin nanti siap beraksi dengan dandanan dan tarian terbaik. Ini lho saya, yang akan meberikanmu turunan terbaik seperti impianmu (hewan punya mimpi ndak ya?).

Lha, pertanyaan buat sampeyan ... "burungnya" burung diberi julukan apa ya? apa ada toh dalam bahasa burung kalimat yang berbunyi "iiih manusia kamu kelihatan tuh, malu dong!

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:56 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Wednesday, August 23, 2006
Sok Pinter

Bumi makin panas. Saya dan istri saya beberapa kali pernah "ngobrol" soal ini. Hanya saja dasar sayanya tukang ndobos maka obrolan itu sering hanya satu arah, dari saya yang nyerocos, ke istri saya yang mendengarkan dengan santun. Sok merasa ilmuwan (ndaftar jadi dosen ndak pernah keterima, karena faktor kelakuan kayaknya), tentu saja saya ndobosnya disertai pemaparan hasil-hasil kajian iklim, es, fosil, lapisan bumi, mbuh apa lagi, biar afdol (walaupun saya bukan penelitinya). Itu penjelasan sangking njelimetnya  sampai-sampai saya bingung sendiri. "Ini yang namanya global warming itu Jeng, pemanasan global ... sudah sekian dekade suhu rata-rata bumi itu bertambah nul koma sekian derajat celcius lho, akibatnya kan ga gu go gi, lantas ada negara-negara sontoloyo yang ndak mau bertanggung jawab karena menurutnya ba bi bu bo, sehingga ujung-ujungnya na ni nu no ... ... ialah ... nggggg ... pokoknya ngggg ... ya begitu jeng! ... nah bukti-bukti global warmingnya ca ce ci ce co ha he hi ho hu ma mo mi me mu ... jelaskan? ngerti?!". Istri saya biasanya cuma senyum lantas pergi saja ... waaah dasar perempuan, ndak ngilmiah!

Lha kok ndilalah, sore kemarin itu sebelum saya pulang kantor, muncul sebuah email dari istri saya. Lha tumben kirim email. Lho kok ndak ada kata-katanya? Wooo ada gambarnya, wah pasti dia baru terima gambar dari salah satu milis yang membuatnya bingung sehingga dia ingin bertanya pada saya. Kepada siapa lagi dia bertanya coba? weeee ... saya je ... coba, apa sih gambarnya.


Dhueerrrrrrrrr .....




Iya ya ... saya itu jadi orang kok masih sering keminter ya?


Posted at 02:21 am by Sir Mbilung
Ada (19) yang ndobos juga  

Teganya .. Teganya .. Teganya

Saya mulai dengan wanti-wanti. Ndobosan saya kali ini penuh "kekerasan", ada juga bunuh membunuhnya, perbuatan "tidak bertanggung jawab" dan "tak bermoral". Sudah ya, resiko buruk akibat membaca tulisan ini (kalau ada) ditanggung sendiri oleh pembaca. Mari kita mulai.

Pernah lihat atau masih ingat dengan jam yang jika jarum panjangnya pas di angka enam atau dua belas lantas dari jam itu keluar burung-burungan dan jamnya berbunyi kukuuu kukuuu kukuuu ... Suara yang ditirukan itu adalah suara burung European Cuckoo (Cuculus canorus). Burung ini masih berkerabat dekat dengan Plaintive Cuckoo (Cuculus merulinus) yang hidup di Indonesia. Plaintive Cuckoo ini di Indonesia dikenal dengan nama Wiwik kelabu, Sirit uncuing atau Kedasih, sedangkan dalam Bahasa Melayu ia dinamai Sewah Mati Anak (hiiiii ....). Ada kisah yang mengatakan kalau Kedasih bersuara bakal ada yang meninggal ... ya ada benarnya sih, lha wong tiap hari Kedasih bersuara dan tiap hari juga ada yang meninggal, cuma kok ya ndak nyambung rasanya.  Sudahlah, saya tidak akan ndobos soal nyanyian Kedasih atau kukuu kukuu nya kerabat Kedasih di Eropa sana. Saya ingin ndobos soal perilaku yang dilakukan oleh beberapa jenis burung dari keluarga Cuckoo yang jika terjadi di dunia manusia maka pelakunya bisa disumpahi wong sak jagat serta masih ditambah dengan dijatuhi hukuman sangat berat, malah mungkin hukuman mati.

Perilaku apa gerangan yang dilakukan hingga diganjar hukuman demikian berat? begini kisahnya. Pada umumnya burung itu sebelum kawin dan bertelur akan membuat sarang terlebih dahulu untuk tempat bertelur, angkrem - mengerami, dan membesarkan anak-anaknya. Tidak demikian halnya dengan Kedasih dan European Cuckoo serta beberapa jenis Cuckoo lainnya, mereka bahkan tidak pernah punya sarang sama sekali. Mereka bertelur di sarang burung jenis lain, dan melarikan diri dari tanggung jawab, malah cari pasangan lagi, kawin lagi dan bertelur lagi. Telur mereka lantas dierami oleh burung lain yang sarangnya ditumpangi itu, dan jika sudah menetas anaknya juga dipelihara dengan penuh kasih sayang oleh orang tua angkatnya itu.

Tetapi itu belum seberapa. Pada beberapa jenis Cuckoo, pada saat mereka menaruh telur di sarang burung jenis lain, mereka juga membuang telur-telur yang ada di sarang burung yang bakal dititipi anaknya itu. Ada pula Cuckoo yang lantas "membunuh" telur burung lain dengan cara mematuknya hingga pecah. Jika hal tersebut tidak dilakukan oleh induknya, maka anak Cuckoo akan melakukannya. Masa eram telur Cuckoo itu relatif lebih singkat dibandingkan dengan masa eram telur jenis burung yang sarangnya ditumpangi, sehingga telur titipan tersebut akan menetas duluan. Begitu menetas, kegiatan pertama yang dilakukan oleh anak Cuckoo yang melek saja belum bisa itu adalah membuang telur lain yang ada di sarang.

Anak Cuckoo ini lantas menjadi anak tunggal yang mendapat perhatian penuh dari induk tirinya. Pertumbuhan anak Cuckoo juga cepat, sehingga dalam waktu singkat besar badannya bisa melebihi besar badan induk tirinya. Badan besar makanpun perlu banyak tentu saja, maka sang induk tiri akan sibuk sesibuk-sibuknya mencari makan tanpa henti untuk membesarkan anak tirinya yang sudah besar itu. Lha ... siapa bilang induk tiri itu kejam, dalam kasus ini induk tiri itu penuh kasih sayang ... hanya memberi tak harap kembali.

Pada beberapa kasus, soal makan ini bisa jadi rumit. Jika jenis burung yang sarangnya ditumpangi itu bersarang secara berkelompok, maka sang induk tiri harus bersaing dengan induk-induk lain di kompleks sarang itu untuk mendapatkan makanan dari daerah di sekitar kompleks sarang. Kalau makanan tak mencukupi, anak tiri yang bongsor itu bisa kelaparan dan mati. Naaaah ... dalam kasus ini, induk kandung anak burung itu memainkan perannya. Sang induk kandung akan merusak sarang-sarang lain di kompleks, sehingga para penghuni kompleks yang sarangnya tak dititipi terpaksa harus pindah tanpa ganti rugi. Gusur paksa model begini memudahkan sang induk tiri untuk memperoleh makanan bagi anak tirinya yang lahap itu.

Cukup demikian kelakuannya? Belum. Pada beberapa kejadian, sang anak tiri ini nantinya kalau sudah dewasa dan mampu menghasilkan telur, bisa-bisa dia akan menaruh telurnya di sarang sang induk tirinya dan melakukan ritual pembunuhan serta perusakan sarang seperti yang dilakukan oleh induk kandungnya.  Kejam?! Dalam dunia hewan, kata kejam tidak berlaku, ini hanya soal siapa yang kuat, cerdik dan licik saja yang akan bertahan hidup. Lantas bagaimana dengan perumpamaan yang menyamakan manusia dengan hewan bagi manusia yang kejamnya ndak ketulungan? Menurut sampeyan apa perumpamaan itu adil buat hewan?

Sampeyan ada yang tahu kenapa sebuah film lawas diberi judul "One Flew Over the Cuckoo's Nest" ?

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:15 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Tuesday, August 22, 2006
Lali Begins at Forty

Lali Begins at Forty adalah topik percakapan saya dengan Kang Mas Ambyarndase barusan ini, plesetan dari adagium Life Begins at Forty. Saya sendiri lali -- lupa, bagaimana awalnya hingga istilah itu keluar, ah biarlah toh saya masih ingat intinya apa. Saya jadi ingin ndobos soal saya dan lali, yang sedikit berbeda dengan Kang Mas karena buat saya Lali Begins at Fourteen. Isi sel-sel kecil kelabu saya (meminjam istilah Hercule Poirot) memang gampang terhapus, sehingga saya jadi gampang lupa walaupun tak lantas menjadi lalijiwo (masih adakah tempat ini di Jl. Kaliurang Yogya?).

Saya itu memandang lali lebih sebagai anugrah yang perlu disyukuri. Lha apa-apa yang sudah diparingi oleh Gusti Allah itu kan mestinya disyukuri toh. Coba kita ini tidak bisa lali, apa ndak karu-karuan kita ini jadinya. Kita jadi ingat semua hal yang menyakitkan, menyedihkan, mengecewakan, menakutkan, yang ndak penting pokoknya semua diingat tak ada yang terhapus. Walaupun kalau argumennya dibalik menjadi, kita mengingat semua hal yang menyenangkan, kok ya kesannya jadi ndak seram. Hanya saja, seberapa banyakpun volume dan kerutan otak kita, kapasitasnya untuk mengingat tetap ada batasnya, sehingga kemampuan otak kita untuk menghapus kenangan menjadi penting agar tidak keluar tulisan not enough memory ... lantas hang.

Lalu seberapa sering saya lali? Sering sekali, walaupun saya tidak menenggak obat penghilang rasa sakit kepala yang katanya bisa bikin lupa itu ... teman-teman, saudara, ibu, bapak, anak-anak dan istri sering kali memberitahu saya (ini istilah halusnya lho) betapa pelupanya saya. Sejak dulu, julukan yang berkaitan dengan lali (terutama lalijiwo) kerap menjadi panggilan sayang buat saya ... marah? ya tidak juga karena memang begitulah adanya, dan lagi pula toh saya juga tidak ingat siapa yang harus saya marahi ... wis lali.

Hanya saja, ada satu lali yang membuat saya takut ... lali bojo -- lupa istri dan itu terjadi beberapa kali. Pada saat baru menikah dulu, saya sering terkaget-kaget pada saat bangun pagi atau sedang ngelilir tengah malam karena ada perempuan tidur di sebelah saya ... lha kok kayaknya kenal?? ... ooo iya ini istri saya (rentetan peristiwanya hanya terjadi sesaat kok). Pernah juga saya lali meninggalkan istri saya di supermarket ... kok kayaknya ada yang tertinggal ya? tapi apa? ... sesudah separo jalan ke rumah baru ingat. Untungnya saya tak langsung diberondong oleh istri saya, tapi ditanya "baik-baik" (ramah tapi giginya rapet) . "Dari mana?" ... "anu Jeng, saya ngisi bensin dulu tadi itu ... sudah selesai belanjanya?". Mestinya istri saya itu ya tahu kalau saya bohong, lha wong jarum penunjuk pengukur bensin tidak berubah kok, lagipula sejak kapan saya pernah pegang uang. Kalau sudah begini biasanya dia cuma melirik, sambil senyum.  Tanggal dan bulan pernikahan kami persis sama dengan tanggal dan bulan ulang tahun saya. Istri saya itu memang penuh pengertian, dia tahu persis bagaimana pelupanya dan narsisnya saya ini. Coba kalau tanggal dan bulannya beda? Karena itu dia lantas saya anggap sebagai hadiah ulang tahun paling top buat saya dan hal ini tidak ingin saya lupakan. Lho ... jarang toh ada yang ulang tahun dikadoi bojo?! Malah dulu itu teman-teman saya yang pada kurang ajar itu waktu pertama kali hendak saya perkenalkan pada istri saya mereka langsung nanya "mana perempuan bernasib malang itu?" Lho?!

Di Jepang sini yang namanya lali itu harus ditebus dengan mbungkuk-mbungkuk sampai capek, meminta maaf karena lupa. Di sini orang tak boleh lupa, dan buat para pelupa lantas dibuatlah mesin pengingat yang kadang disatukan dengan alat lain seperti jam atau telepon genggam. Maka, seringnya telepon genggam seseorang meraung-raung tak berarti sang pemilik itu populer, bisa saja sang pemilik itu pelupa. Tidak boleh lali menyebabkan banyak orang Jepang lantas jadi lalijiwo, tak lagi berpikir sehat (saya cuma "nuduh" lho ya, atau halusnya menebak secara empiris ... educated guess ... he he). Lha bagaimana tidak, selama saya di sini entah sudah berapa kali ada kejadian kereta api terlambat. Bukaaaaan, bukan karena masinisnya lali, tapi karena ada yang menabrakkan diri ke kereta yang sedang melaju kencang. Kalau sudah begini, seluruh jalur yang terkait dengan jalur dimana bunuh diri terjadi lantas berhenti.

Bagaimana saya tidak mengatakan orang itu lalijiwo, selain karena orang itu menghilangkan nyawanya sendiri dia juga membuat keluarganya bangkrut. Keluarganya harus membayar ganti rugi akibat perbuatannya itu kepada para konsumen  yang merasa dirugikan oleh kelakukannya itu melalui perusahaan kereta api yang keretanya dipakai untuk bunuh diri. Besarnya ganti rugi yang harus dibayar oleh "para ahli waris nombok" ini sekitar 100 juta Yen, bahkan pernah ada yang harus membayar 140 juta Yen (lebih dari 10,6 milyar Rupiah). Herannya lagi, waktu yang dipilih sering kali bertepatan dengan jam-jam sibuk saat orang-orang hendak berangkat kerja atau pulang kerja. Jadilah gerutuan (dalam kasus ekstrim mungkin sumpah serapah) berjuta orang yang mengiringi kepergiannya (Stasiun Shinjuku saja melayani lebih dari 3 juta orang per hari). Jika stasiun Shinjuku dipakai untuk bunuh diri maka paling tidak ada 11 jalur layanan (lines) kereta yang bisa terganggu.

Lali memang sudah menjadi sifat manusia, begitu kata orang bijak, dan lali tidak kenal umur. Walaupun ada banyak hal yang katanya harus selalu diingat -- tak boleh dilupakan. Perkara setelah usia empat puluh lali lantas menjadi kebiasaan saya belum nemu ada statistik yang menunjukan bahwa itulah usia rata-rata bagi berkuasanya sifat lali tadi. Kita perlu lali dalam kadar yang tepat untuk tidak lalijiwo, karena terlalu sering lali jadi merugikan diri sendiri (dan orang lain). Lali menyampaikan pesan atau lali bagaimana pesan itu seharusnya disampaikan juga berbahaya, misal: pesan aslinya berbunyi begini "Pak ... Boyolali, Bojonegoro, kacau balau". Pada saat pesan itu sampai ke tujuan bunyinya jadi begini: "Pak Boyo lali bojo negoro kacau balau". Ndak sehat ini.

Hanya saja ada jenis lali lain yang justru membuat kita jadi tambah sehat dan bugar lho, yaitu lali santai, lali pagi dan lali gembila  .... *kriuuk .. garing .. biarin, dari pada kusut seperti lali lemali?*

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:19 am by Sir Mbilung
Ada (13) yang ndobos juga  

Monday, August 21, 2006
Mau Murah ... Ditekuk-Tekuk

Berhubung saya itu buta huruf Kana dan Kanji apa isi pesan poster di sebelah ini hanya saya tebak-tebak saja. Musim panas di Jepang yang gerah sangat, tentunya membuat banyak orang lantas mencari makanan atau minuman yang seger-seger. Minuman yang dipajang di poster tampaknya menawarkan kesegaran itu. Minuman tersebut tampaknya juga bisa didapat dengan harga yang relatif murah, seratus yen saja, sudah termasuk sedotan dan wadah minumannya, sedang yang memperagakan cara meminumnya tampaknya tidak dijual. Hanya saja, minuman tersebut bisa diperoleh dengan harga itu selama rentang waktu antara 18 Agustus hingga 14 September dan jika anda mampu meminumnya dalam sikap seperti yang diperagakan dalam poster. Betul begitu?

Betul atau tidak betul yang jelas menyedot minuman dengan sikap tubuh seperti yang diperagakan di poster itu, bisa bikin repot orang seperti saya yang ototnya sudah tak lagi lentur. Tetapi mungkin bagi orang Jepang ini bukan masalah besar, toh negeri ini adalah negeri asal bagi banyak seni bela diri yang menuntut banyak kelenturan tubuh. Seni beladiri yang berasal dari Jepang entah berapa puluh jumlahnya, yang saya ingat adalah Karate, Judo, Shorinji Kempo (atau Kenpo), Jujutsu (atau Jujitsu), Kendo, Aikido, Taido dan Sumo.

Dari nama-nama itu, tampaknya Sumo yang paling tersohor di Jepang. Seperti layaknya pegawai, pesumo (rikishi) di Jepang menerima gaji bulanan. Pesumo lapis tertinggi (Yokozuna) menerima bayaran per bulan tidak kurang dari 2,800,000 Yen atau sekitar 200 juta Rupiah. Hanya saja untuk mencapai tingkatan Yokozuna amat sangat sulit, dan saat ini di Jepang hanya ada satu orang Yokozuna yang masih aktif, Asashoryu Akinori dan dia bukan orang asli Jepang tapi dari Mongolia. Tidak ada orang asli Jepang yang menjadi Yokozuna sejak Maret 2000 pada saat Masaru mengundurkan diri. Sejak itu, tingkatan Yokozuna hanya diisi oleh orang yang berasal dari luar Jepang. Musashimaru sang pendahulu Asashoryu aslinya dari Samoa.

Dari semua nama cabang beladiri Jepang, praktis hanya Kendo yang menggunakan alat (pedang atau tongkat) sedangkan sisanya tangan kosong saja. Kendo, yang bisa diartikan sebagai jalan pedang, berbeda dengan anggar. Pedang dipegang dengan dua tangan, langkah kaki yang sepi dan tiba-tiba ... bat bet pletak! Anggar "lebih dinamis", langkah kakinya ramai dan pertukaran sabetan pedang sering terlihat. Hanya saja, saya lebih suka melihat Kendo yang kesannya ndak grusa-grusu.

Lha, kalo soal favorit saya ... Shorinji Kempo. Indah dan nyaris tak punya jurus untuk membunuh, hanya melumpuhkan. Dibandingkan dengan seni beladiri lainnya, Shorinji Kempo termasuk muda, baru "didirikan" pada tahun 1947 oleh pendeta Doshin So (Kaiso -- sang pendiri), walaupun akar dari Shorinji Kempo sendiri mungkin sudah berumur ribuan tahun dan bermula dari India. Walaupun dalam pertandingan ada cabang perkelahian bebasnya (randori), tetapi saya lebih tertarik untuk nonton cabang kerapihan tehnik (embu), yang menekankan pada cara bertahan, menghindar dan mengunci lawan.  Perkara tak ada jurus membunuh tidak lepas dari sejarah hidup sang pendiri yang melihat bagaimana perang lantas meluluh lantakan manusia. Kaiso adalah seorang anti perang yang disebutnya sebagai simbol dari semua kebodohan manusia.

Sampai sekarang saya belum  pernah membeli minuman itu, karena toh saya juga praktis tidak akan berada di Jepang selama masa berlakunya harga spesial itu. Lagi pula posisinya itu lho ... tetapi saya yakin sang Presiden World Shorinji Kempo Organization, Yuuki So yang jelita itu, bisa dengan mudah melakukannya.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Sunday, August 20, 2006
Pilih Mana?

Musim panas di Jepang benar-benar menguras keringat, sumuk, gerah banget. Lha sampeyan bisa membayangkanlah bagaimana tak nyamannya berkereta api di tengah kegerahan jika gerbong kereta tak berpendingin. Walaupun hampir setiap hari harus umpel-umpelan dan kadang tersikut-sikut saya merasa jauh lebih beruntung dari kawan saya yang satu ini yang sama-sama berstatus penunggang kereta. Kalau kawan itu harus bersumuk-sumuk di gerbong manapun yang dia naiki, maka saya di sini punya dua pilihan tingkat kesejukan gerbong. Ada yang bersuhu 28oC ada pula yang bersuhu 26oC, begitu kata poster yang terpampang di stasiun kereta, lengkap dengan petunjuk gerbong mana yang harus saya masuki untuk menikmati suhu pilihan. Hanya saja gerbong 28oC itu jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang 26oC.

Jepang yang apa-apa harus pakai penjelasan, tentunya menetapkan dua angka itu dengan penelitian seksama termasuk berapa suhu yang nyaman untuk para penumpang kereta. Pada saat saya bertanya pada seorang kawan tentang berapa suhu yang nyaman sebenarnya untuk manusia, saya malah dihujani pertanyaan balik ... "untuk aktivitas apa? pakaian yang dipake apa? kecepatan angin berapa? kelembapan berapa? di luar atau di dalam ruangan? ...... orang-orangnya dari mana?" Lha??!!

Maka sibuklah teman itu menerangkan arti dari semua pertanyaannya itu yang kalau ditulis ulang mungkin bisa jadi novel. Hanya saja dari penjelasannya yang panjang sangat itu, saya ya baru tahu kalau berpakaianpun ada satuannya, namanya clo (satuan clothing insulation). Angkanya dari 0 - 4 clo, 0 clo berarti telanjang dan 4 clo itu pakaian musim dingin orang eskimo. Lantas saya menerangkan apa yang saya pakai di musim panas ini, yang menurut dia apa-apa yang saya kenakan itu nilainya 0,6 clo.

Saya pun lantas "dipaksa" oleh teman itu untuk bercerita tentang kereta yang saya naiki hampir setiap hari itu, termasuk pakaian saya dan ngapain saja di gerbong. Setelah menghitung dengan cara MPC (Mbuh Piye Carane), dia lantas menyarankan agar saya mengambil gerbong yang 26oC, yang 28oC itu cocok buat orang dengan pakaian minim (celana/rok pendek, baju tipis banget, dengan daleman minim), kalau saya ambil gerbong itu bakal "agak gerah" katanya.

Saya yang tadinya ndlongop, mulai mengangguk-angguk walaupun tidak sambil berseru seperti burung kutilang yang hinggap di pucuk pohon cemara itu. Terima kasih kawan, tapi saranmu ndak menarik buat diikuti kayaknya, besok-besok saya akan naik gerbong 28oC saja, isinya kok ya lebih menarik kayaknya Wink. Kalau boleh saya tahu, menurut sampeyan saya harus milih yang mana?


Posted at 01:06 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Saturday, August 19, 2006
Pesawat

Numpak montor muluk - pesawat terbang - dijaman sekarang buat banyak orang sudah bukan lagi sebuah kemewahan, apalagi dengan makin banyaknya perusahaan penerbangan yang bertarif murah. Tarif bisa murah karena banyak sebab, mulai dari mesin pesawat yang efisien sampai karena keberanian bisnis yang kadang sulit dipahami (paling tidak oleh saya), yang kesemuanya berujung tarif per penumpang per kilometer menjadi cukup rendah untuk dijangkau banyak orang. Bahkan ada perusahaan penerbangan yang lantas bersemboyan "now everyone can fly". Ya ... hari ini saya ingin ndobos seputaran pesawat terbang karena satu hal, hari ini tanggal 19 Agustus adalah hari kelahiran Orville Wright.

Orville Wright yang lahir pada tanggal 19 Agustus 1871, adalah orang pertama yang terbang dengan menggunakan pesawat bermesin yang bisa dikendalikan. Pesawat yang mereka namai The Flyer (kemudian dikenal dengan nama Kitty Hawk) dirancang oleh Orville bersama-sama dengan kakanya Wilbur Wright. Kakak beradik pemilik pabrik sepeda ini akhirnya bisa menerbangkan pesawatnya pada tanggal 17 Desember 1903 di Kitty Hawk, negara bagian North Carolina, Amerika Serikat. Penerbangan pertama yang berlangsung sangat singkat dan menempuh jarak sangat pendek, dua belas detik dengan jarak 39 meter, dengan tinggi terbang hanya sekitar 10 kaki saja. Hari bersejarah itu ditutup oleh Wilbur dengan penerbangan sejauh 279 meter selama 59 detik. Pesawat terbang pertama ... berkecepatan kurang dari 20 km/jam, berawak satu yang tengkurep di pesawat.

Seratus tiga tahun kemudian, berdasarkan catatan saya untuk pesawat sipil saja ada 470-an jenis (data ini tidak lengkap lho ya) belum yang pesawat buat perang, pesawat eksperimen, pesawat layang. Ukuran, kecepatan dan jarak tempuh pesawat juga makin lama makin bertambah. Pesawat penumpang terbesar yang beroperasi di dunia saat ini, Boeing 747-400ER, bisa dijejali sampai 520-an penumpang, bisa terbang non-stop sejauh 14.200 km, dan bisa terbang dengan kecepatan sekitar 910 km/jam. Tetapi, mulai tahun depan 747 bakal turun ke nomor dua dan nomor satu akan dipegang oleh si raksasa berlantai dua, Airbus A380 dengan 850 penumpang, jarak tempuh 15.000 km dan kecepatan jelajah 1050 km/jam. A380 sedang menyelesaikan tahapan terbang ujinya saat ini. Bandingkan dengan The Flyer, 1 penumpang, 279 meter, 17 km/jam.

Kalau pada waktu Wright bersaudara itu di pesawatnya tengkurep, lha sekarang ya bisa juga tengkurep tapi bisa juga duduk tegak, duduk miring tergantung tempat duduknya mau disetel seperti apa, mau jalan-jalan ya boleh, asal jangan jalan-jalan di luar saja. Tersedia pula sarana hiburan film, tv, lagu, dan permainan. Saya pernah nyoba nonton tanpa berhenti dalam sebuah penerbangan jarak jauh (13 jam-an), ya ndak bisa nonton semua film yang ada juga sangking banyaknya judul yang ditawarkan (tidak dianjurkan ... mata sepet). Penumpang juga lantas dimanjakan dengan suguhan ini itu, apa lagi kalau terdampar di kelas satu, sampeyan yang punya penyakit bulimia juga pasti capek sendiri.

Lantas jumlah orang yang diangkut ... waaaaa mbuh! Data dari International Air Transport Association (IATA) untuk sepuluh perusahaan penerbangan yang membawa penumpang terbanyak saja sudah lebih dari 590 juta penumpang selama tahun 2005. Pokoknya itu lalu lintas udara ya war wer ndak ada berhentinya dan ada banyak bandar udara di dunia yang nyaris tak pernah tutup. Bandara-bandara modern lantas tidak hanya diisi dengan ruang tunggu dan ruang kedatangan untuk calon atau bekas penumpang, sudah lebih dari itu ... ada toserba, pusat jajan, toko buku, hotel, kolam renang, pusat kebugaran, bioskop, panti pijat, taman buat duduk-duduk, perpustakaan, museum, apa lagi ya? ... oh ya, tempat favorit saya ... game center yang bisa main x-box gratis sak kemengnya asak ndak malu diplototi anak kecil saja. Bandara menjadi seperti sebuah kota kecil.

Lha kalau pesawat yang dipakai buat perang?!  Sama saja beraneka rupanya. Dari mulai yang berpenggerak kitiran sampai yang pancar gas. Pada generasi terbaru (generasi 5) sang pengemudi bahkan harus dibantu komputer untuk mengendalikannya, malah bisa "ngilang" dari layar radar. Kecepatan pesawat untuk tempur juga wes ewes ewes, tengok saja pesawat mata-mata yang sudah pensiun Lockheed SR-71 yang berjuluk Blackbird (para pilotnya memanggilnya Habu) bisa terbang dengan kecepatan 3,3 kali kecepatan suara (sekitar 3.529 km/jam). Pesawat tempur yang dimiliki Indonesia tercanggih, SU-30MK "Flanker" buatan Russia, termasuk generasi 4 setengah, mampu terbang hingga 2 kali kecepatan suara.

Siapapun yang membuat pesawat dan seperti apapun bentuk pesawatnya, satu bagian terpenting dari pesawat adalah sayap yang memungkinkan pesawat tersebut bisa miber - terbang, dan untuk satu hal ini yang paling berjasa adalah Leonhard Euler dan Daniel Bernoulli. Bernoulli sang ahli matematika dan fisika itulah yang menemukan prinsip Bernoulli yang menjadi dasar bagi terciptanya sayap pesawat. Secara sederhana Prinsip Bernoulli itu bilang begini, makin cepat udara mengalir, makin kecil tekanannya.  Nah sekarang, bentuk sayap pesawat itu (kalau dilihat dari samping) membuat udara di atas sayap mengalir lebih cepat dari udara di bawah sayap ... ya pesawatnya mumbul.

Begitu saja. Oh iya, apa sampeyan ada yang tahu bagaimana nasib pesawat N250 yang katanya mau dibikin di Bandung itu?

Gambar diambil dari sini dan sini.


Posted at 01:32 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Next Page