Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< August 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Sunday, August 20, 2006
Pilih Mana?

Musim panas di Jepang benar-benar menguras keringat, sumuk, gerah banget. Lha sampeyan bisa membayangkanlah bagaimana tak nyamannya berkereta api di tengah kegerahan jika gerbong kereta tak berpendingin. Walaupun hampir setiap hari harus umpel-umpelan dan kadang tersikut-sikut saya merasa jauh lebih beruntung dari kawan saya yang satu ini yang sama-sama berstatus penunggang kereta. Kalau kawan itu harus bersumuk-sumuk di gerbong manapun yang dia naiki, maka saya di sini punya dua pilihan tingkat kesejukan gerbong. Ada yang bersuhu 28oC ada pula yang bersuhu 26oC, begitu kata poster yang terpampang di stasiun kereta, lengkap dengan petunjuk gerbong mana yang harus saya masuki untuk menikmati suhu pilihan. Hanya saja gerbong 28oC itu jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang 26oC.

Jepang yang apa-apa harus pakai penjelasan, tentunya menetapkan dua angka itu dengan penelitian seksama termasuk berapa suhu yang nyaman untuk para penumpang kereta. Pada saat saya bertanya pada seorang kawan tentang berapa suhu yang nyaman sebenarnya untuk manusia, saya malah dihujani pertanyaan balik ... "untuk aktivitas apa? pakaian yang dipake apa? kecepatan angin berapa? kelembapan berapa? di luar atau di dalam ruangan? ...... orang-orangnya dari mana?" Lha??!!

Maka sibuklah teman itu menerangkan arti dari semua pertanyaannya itu yang kalau ditulis ulang mungkin bisa jadi novel. Hanya saja dari penjelasannya yang panjang sangat itu, saya ya baru tahu kalau berpakaianpun ada satuannya, namanya clo (satuan clothing insulation). Angkanya dari 0 - 4 clo, 0 clo berarti telanjang dan 4 clo itu pakaian musim dingin orang eskimo. Lantas saya menerangkan apa yang saya pakai di musim panas ini, yang menurut dia apa-apa yang saya kenakan itu nilainya 0,6 clo.

Saya pun lantas "dipaksa" oleh teman itu untuk bercerita tentang kereta yang saya naiki hampir setiap hari itu, termasuk pakaian saya dan ngapain saja di gerbong. Setelah menghitung dengan cara MPC (Mbuh Piye Carane), dia lantas menyarankan agar saya mengambil gerbong yang 26oC, yang 28oC itu cocok buat orang dengan pakaian minim (celana/rok pendek, baju tipis banget, dengan daleman minim), kalau saya ambil gerbong itu bakal "agak gerah" katanya.

Saya yang tadinya ndlongop, mulai mengangguk-angguk walaupun tidak sambil berseru seperti burung kutilang yang hinggap di pucuk pohon cemara itu. Terima kasih kawan, tapi saranmu ndak menarik buat diikuti kayaknya, besok-besok saya akan naik gerbong 28oC saja, isinya kok ya lebih menarik kayaknya Wink. Kalau boleh saya tahu, menurut sampeyan saya harus milih yang mana?


Posted at 01:06 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Saturday, August 19, 2006
Pesawat

Numpak montor muluk - pesawat terbang - dijaman sekarang buat banyak orang sudah bukan lagi sebuah kemewahan, apalagi dengan makin banyaknya perusahaan penerbangan yang bertarif murah. Tarif bisa murah karena banyak sebab, mulai dari mesin pesawat yang efisien sampai karena keberanian bisnis yang kadang sulit dipahami (paling tidak oleh saya), yang kesemuanya berujung tarif per penumpang per kilometer menjadi cukup rendah untuk dijangkau banyak orang. Bahkan ada perusahaan penerbangan yang lantas bersemboyan "now everyone can fly". Ya ... hari ini saya ingin ndobos seputaran pesawat terbang karena satu hal, hari ini tanggal 19 Agustus adalah hari kelahiran Orville Wright.

Orville Wright yang lahir pada tanggal 19 Agustus 1871, adalah orang pertama yang terbang dengan menggunakan pesawat bermesin yang bisa dikendalikan. Pesawat yang mereka namai The Flyer (kemudian dikenal dengan nama Kitty Hawk) dirancang oleh Orville bersama-sama dengan kakanya Wilbur Wright. Kakak beradik pemilik pabrik sepeda ini akhirnya bisa menerbangkan pesawatnya pada tanggal 17 Desember 1903 di Kitty Hawk, negara bagian North Carolina, Amerika Serikat. Penerbangan pertama yang berlangsung sangat singkat dan menempuh jarak sangat pendek, dua belas detik dengan jarak 39 meter, dengan tinggi terbang hanya sekitar 10 kaki saja. Hari bersejarah itu ditutup oleh Wilbur dengan penerbangan sejauh 279 meter selama 59 detik. Pesawat terbang pertama ... berkecepatan kurang dari 20 km/jam, berawak satu yang tengkurep di pesawat.

Seratus tiga tahun kemudian, berdasarkan catatan saya untuk pesawat sipil saja ada 470-an jenis (data ini tidak lengkap lho ya) belum yang pesawat buat perang, pesawat eksperimen, pesawat layang. Ukuran, kecepatan dan jarak tempuh pesawat juga makin lama makin bertambah. Pesawat penumpang terbesar yang beroperasi di dunia saat ini, Boeing 747-400ER, bisa dijejali sampai 520-an penumpang, bisa terbang non-stop sejauh 14.200 km, dan bisa terbang dengan kecepatan sekitar 910 km/jam. Tetapi, mulai tahun depan 747 bakal turun ke nomor dua dan nomor satu akan dipegang oleh si raksasa berlantai dua, Airbus A380 dengan 850 penumpang, jarak tempuh 15.000 km dan kecepatan jelajah 1050 km/jam. A380 sedang menyelesaikan tahapan terbang ujinya saat ini. Bandingkan dengan The Flyer, 1 penumpang, 279 meter, 17 km/jam.

Kalau pada waktu Wright bersaudara itu di pesawatnya tengkurep, lha sekarang ya bisa juga tengkurep tapi bisa juga duduk tegak, duduk miring tergantung tempat duduknya mau disetel seperti apa, mau jalan-jalan ya boleh, asal jangan jalan-jalan di luar saja. Tersedia pula sarana hiburan film, tv, lagu, dan permainan. Saya pernah nyoba nonton tanpa berhenti dalam sebuah penerbangan jarak jauh (13 jam-an), ya ndak bisa nonton semua film yang ada juga sangking banyaknya judul yang ditawarkan (tidak dianjurkan ... mata sepet). Penumpang juga lantas dimanjakan dengan suguhan ini itu, apa lagi kalau terdampar di kelas satu, sampeyan yang punya penyakit bulimia juga pasti capek sendiri.

Lantas jumlah orang yang diangkut ... waaaaa mbuh! Data dari International Air Transport Association (IATA) untuk sepuluh perusahaan penerbangan yang membawa penumpang terbanyak saja sudah lebih dari 590 juta penumpang selama tahun 2005. Pokoknya itu lalu lintas udara ya war wer ndak ada berhentinya dan ada banyak bandar udara di dunia yang nyaris tak pernah tutup. Bandara-bandara modern lantas tidak hanya diisi dengan ruang tunggu dan ruang kedatangan untuk calon atau bekas penumpang, sudah lebih dari itu ... ada toserba, pusat jajan, toko buku, hotel, kolam renang, pusat kebugaran, bioskop, panti pijat, taman buat duduk-duduk, perpustakaan, museum, apa lagi ya? ... oh ya, tempat favorit saya ... game center yang bisa main x-box gratis sak kemengnya asak ndak malu diplototi anak kecil saja. Bandara menjadi seperti sebuah kota kecil.

Lha kalau pesawat yang dipakai buat perang?!  Sama saja beraneka rupanya. Dari mulai yang berpenggerak kitiran sampai yang pancar gas. Pada generasi terbaru (generasi 5) sang pengemudi bahkan harus dibantu komputer untuk mengendalikannya, malah bisa "ngilang" dari layar radar. Kecepatan pesawat untuk tempur juga wes ewes ewes, tengok saja pesawat mata-mata yang sudah pensiun Lockheed SR-71 yang berjuluk Blackbird (para pilotnya memanggilnya Habu) bisa terbang dengan kecepatan 3,3 kali kecepatan suara (sekitar 3.529 km/jam). Pesawat tempur yang dimiliki Indonesia tercanggih, SU-30MK "Flanker" buatan Russia, termasuk generasi 4 setengah, mampu terbang hingga 2 kali kecepatan suara.

Siapapun yang membuat pesawat dan seperti apapun bentuk pesawatnya, satu bagian terpenting dari pesawat adalah sayap yang memungkinkan pesawat tersebut bisa miber - terbang, dan untuk satu hal ini yang paling berjasa adalah Leonhard Euler dan Daniel Bernoulli. Bernoulli sang ahli matematika dan fisika itulah yang menemukan prinsip Bernoulli yang menjadi dasar bagi terciptanya sayap pesawat. Secara sederhana Prinsip Bernoulli itu bilang begini, makin cepat udara mengalir, makin kecil tekanannya.  Nah sekarang, bentuk sayap pesawat itu (kalau dilihat dari samping) membuat udara di atas sayap mengalir lebih cepat dari udara di bawah sayap ... ya pesawatnya mumbul.

Begitu saja. Oh iya, apa sampeyan ada yang tahu bagaimana nasib pesawat N250 yang katanya mau dibikin di Bandung itu?

Gambar diambil dari sini dan sini.


Posted at 01:32 am by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Friday, August 18, 2006
Crang Cring

Saya percaya kalau sebagian besar sampeyan semua itu pernah menggunakan fasilitasnya Instant Messaging (IM), itu lho "ngobrol" ketik-ketik lewat internet, atau populer dengan istilah chatting. Ada ombyokan layanan IM saat ini seperti Yahoo! Messenger, Google Talk, Windows Live Services (terdahulu bernama MSN Messenger), Skype, ICQ, mbuh apa lagi ... pokoknya banyak. Fasilitas itu, dari yang tadinya hanya bisa ketak ketik tok, sekarang sudah bisa juga melayani suara dan gambar/video dengan catatan kalo sambungan internetnya nututi. Bisa juga kirim-kiriman dokumen elektronik atau dipake ngerumpi lebih dari dua orang. Pokoknya semakin ke sini dibuat semakin ciamik ... walaupun belum bisa dipake buat ngirim rawon atau gado-gado.

Hanya saja, dengan berbagai alasan, fasilitas ini lantas menjadi fasilitas "haram" dibanyak tempat kerja. Terserah sampeyan mau punya fasilitas ini di rumah, tetapi jangan sekali-kali dipakai di kantor, begitu yang lumayan sering saya dengar. Lha situasi saya (dan beberapa kawan sekerja) justru terbalik, fasilitas ini menjadi fasilitas wajib punya, harus ada, bahkan dibayari kantor (untuk fasilitas tertentu). Maklumlah, kami itu tempat kerjanya pating telecek, nyebar di mana-mana dan sering kali perlu berkomunikasi secara real-time. Lha kok ndak pakai telepon saja? Biaya menjadi alasan disamping sulitnya telepon terkoneksi. Sebagai contoh ekstrim yang terjadi beberapa tahun yang lalu, kawan yang berada di Nairobi (Kenya) harus menghubungi kantor di Inggris untuk minta direlay teleponnya ke Dodoma (Tanzania). Dalam kasus tersebut biaya telepon jadi dobel, Nairobi ke Cambridge (6800 km) dan Cambridge ke Dodoma (7300 km) dan setelah dijumlah jamleh jadi 14100-an km. Padahal jarak Nairobi - Dodoma  ya "cuma" 550-an km atau kira-kira sama dengan jarak dari Jakarta ke perbatasan Jawa Tengah - Jawa Timur (jarak lurus lho ya).

Lho kalau IM jadi fasilitas wajib ... apa saya ndak lantas chatting melulu kerjanya sama teman yang bukan pegawai kantor? Ya ... itu terjadi, sesuatu yang tidak bisa dihindari, tetapi ya tidak melulu. Lagipula, teman-teman itu kok ya ndak rajin crang cring bazz buzz selama jam saya ngantor, walaupun saya selalu dengan senang hati di-crang cring bazz buzz, atau malah di-kriiiiing. Di luar crang cring teman-teman tidak sekantor, acara harian terkadang toh sangat padat dengan crang cring oleh teman sekantor, dari yang cuma bilang "ola" sampe yang nyuruh "baca email, balas segera" (duh...), atau yang ngajak diskusi soal kerjaan sambil bolak-balik ngirim dokumen, yang jika lantas diskusinya jadi terlalu lamban dengan ketak-ketik beralih ke diskusi dengan suara.

Sebagai kepala bagian gosip hangat  yang berusaha melayani para "konsumen" dengan cepat, kadang repot juga. Tetapi, jika hari-hari sepi pengunjung, kok ya kangen juga, seperti bulan-bulan ini dikala banyak kawan kantor sedang liburan musim panas. Kalau saya boleh tahu, di tempat sampeyan gimana?


Posted at 12:13 am by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Thursday, August 17, 2006
Dirgahayu

Hari ini tanggal 17 bulan Agustus ... waaaah Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku hari ini berusia 61 tahun. Saya lantas bedoa pendek saja, "Gusti Allah, terima kasih". Lantas, saya memainkan lagu Indonesia Raya dari file mp3 yang selalu ngikut kemana saya pergi itu dan memasang bendera merah putih di layar monitor. Duh ... dada ini rasanya sesak sekali, saya menangis bahagia, sekali lagi saya berucap "Gusti Allah, terima kasih". Lagu selesai, saya menyeduh kopi bubuk Kapal Api yang masih tersisa, menyruputnya sedikit (lha wong masih panas), nikmat sekali. Dengan mengerahkan segala ketrampilan, saya pun lantas memasak nasi goreng dengan memakai bumbu nasi goreng simpanan yang saya bawa dari Indonesia. Rasanya mungkin ndak karu-karuan, tapi kok ya nikmat sekali. Begitulah sodara-sodara sekalian cuplikan dari adegan "upacara 17 Agustus" nya saya di negeri yang jauh ini, dan berlangsung sedikit lewat tengah malam, dirayakan sendirian di rumah.

Kerinduan akan tanah air disaat hidup di tempat yang jauh, saya kok yakin bukan monopoli saya saja. Kebanggan sebagai anak Indonesia, saya yakin juga bukan monopoli saya saja. Menangis bahagia saat lagu kebangsaan diperdengarkan, wah banyak yang begitu. Berbahagia dan lantas merayakan kebahagiaan itu, banyak juga rasanya yang begini. Lha kalau ini lantas diartikan sebagai pengejawantahan (opo to iki?) dari rasa cinta saya kepada tanah air, maka saya juga tidak sendiri.

Jika sekarang ini Ibu pertiwi sedang bersusah hati, karena mungkin ada anaknya yang mbeling atau sedang ada musibah, maka sebagai anak saya akan berusaha membelai punggungnya yang mudah-mudahan bisa mengurangi rasa gundahnya itu, mungkin juga sambil berkata "Bu, apa yang bisa saya bantu". Atau mungkin hanya diam saja, tapi saya akan memeluknya. Pikiran saya mestinya bakal lari-lari kembali ke masa-masa lalu, masa di mana dunia melihat Ibu saya itu sebagai yang terjajah, juga masa di mana Ibu melawan dan akhirnya masa di mana Ibu bisa berdiri tegak sambil menatap dunia dan berkata "sekarang aku adalah orang berdaulat" dan dunia mengangguk setuju.

Sudah 61 tahun sekarang usianya, saya kok ya belum bisa maringi - memberi kado apa-apa, paling saya hanya mencoba menawarkan rasa cinta saya saja, dan saya yakin akan ada banyak orang yang menawarkan hal yang sama. "Ngasih kado kok umum, mbok ngasih yang lain daripada yang lain", begitu  saya mbatin. Lha gimana, saya baru punya itu je. Oh iya, kalau saya boleh tahu, sampeyan maringi kado apa?


Posted at 01:40 am by Sir Mbilung
Ada (12) yang ndobos juga  

Wednesday, August 16, 2006
Bagi Kreteknya Dong ...


Bayangkan kejadian ini. Sampeyan sedang batuk-batuk dahsyat sampe mengkis-mengkis , ngak ngik nguk. Lantas sampeyan nyerah dan akhirnya mau dibawa ke tabib. Periksa-periksa, tabib ngangguk-ngangguk, lantas sang tabib pergi ke dalam mengambil obat. Tabib keluar dan menyerahkan sebungkus rokok kretek untuk mengobati batuk sampeyan, sambil berujar "Sehari empat kali ya, jangan lupa lho. Rokoknya harus sampai habis". Bayangkan kejadian itu terjadi di masa sekarang. Tabib gemblung po?! paling tidak tabibnya diteriaki begitu, atau malah disawat sandal, lha siapa yang bisa nebak apa yang akan diperbuat orang Indonesia yang lagi marah.

Tetapi konon sekitar 120 tahun yang lalu, begitulah kejadiannya. Di Kudus yang namanya rokok kretek berbungkus daun jagung kering dijual di apotik untuk obat batuk. Konon katanya itu obat terbikin oleh Haji Jamahri yang mencampur tembakau dengan cengkeh untuk mengobati batuknya. Walaupun dianggap sebagai penemu kretek, Haji Jamahri hanya sampai pada tingkat jualan eceran saja. Tidak ada perusahaan rokok kretek hingga dia meninggal. Bikin perusahaan justru muncul dari benaknya orang Kudus lain bernama Nitisemito yang pada tahun 1906 mendirikan perusahaan rokok kretek pertama Bal Tiga (kenapa ya namanya bal tiga?).

Sudahlah, saya ndak akan ndobos soal akibat menghirup kretek, ngudud. Saya juga ndak akan ndobos panjang lebar (yang kalau dikali dapet luas) soal kretek. Saya hanya ingin minta tolong, apa sampeyan ada yang ngerti cerita tentang kretek, sejarahnya. Mbok kalau ada mohon saya dibagi ceritanya. Saya belum sempat ke Kudus untuk datang ke musium kretek dan saya sangat ingin mengetahui lebih banyak soal barang satu ini yang kok kayaknya sudah menjadi bagian dari republik yang besok akan merayakan 61 tahun proklamasi kemerdekaannya. Terima kasih lho sebelumnya, baik buat yang memungkinkan proklamasi itu akhirnya bisa berkumandang maupun yang membagi cerita kreteknya.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Tuesday, August 15, 2006
Jangkrik !

Berangkat keperaduan (tidur maksudnya) di malam hari diiringi nyanyian jangkrik, di luar sana bulan sepotong dan angin silir-silir ... sedap. Belum tentu, paling tidak untuk kasus saya. Dari rumah,  saya masih bisa mendengar suara jangkrik di malam hari dan gara-gara suara itu tidur saya jadi tak mudah. Berisik? bukan ... saya suka suara jangkrik yang mengingatkan pada masa kecil. Hanya saja ini jangkrik kok pada berbunyi lebih awal dari "semestinya", paling tidak di sekitar rumah saya. Mereka mulai bernyanyi dua minggu lebih awal dari biasanya.

Cuma jangkrik? ndak juga. Sampeyan tahu yang namanya gareng pung? tonggeret. Lha ini juga kemlinthi. Di Jepang ada 5 jenis gareng pung, biasanya mereka nyanyinya itu gantian, nyaris berurutan. Lha kok sekarang yang mestinya nyanyi duluan itu telat mulainya 2 minggu, dan lebih gendhengnya lagi sekarang semua nyanyi barengan. Ada juga yang biasanya nyanyi siang hari saja, sekarang juga nyanyi sepanjang malam.

Ah ... kan cuma gareng pung dan jangkrik saja yang kelakuannya mencelat dari pakem. Sebentar ... tadi pagi itu saya jalan-jalan lewat taman di dekat kantor dan ada kupu-kupu yang setahu saya mestinya nggak ada di Tokyo. Satu ekor yang sudah tergeletak mati saya bawa ke kantor dan saya bertanya kepada teman yang senang kupu-kupu ... dia cuma manggut-manggut sambil bilang "sudah beberapa tahun belakangan, kupu-kupu ini menyebar makin ke Utara". Saya jadi ingat musim mekarnya bunga Sakura yang tahun ini lebih panjang dari biasa, dan teman saya bilang kalau di dekat rumahnya ada beberapa pohon yang sudah berbunga sebelum musim semi tiba.

Sudah? Belum juga. Hari ini saya banyak terima email yang berisi keheranan dari Indonesia. Gerombolan yang suka nonton burung itu saling melaporkan keanehan yang mereka lihat. "Aku liat 50-an ekor alap-alap entah alap-alap nippon entah cina, terbang barengan, mereka terbang tinggi sekali, di Pengaron dekat Semarang menuju Timur"... lha biasanya rombongan alap-alap itu lewat akhir September paling cepet. Ada juga yang mengabarkan keheranannya dengan kehadiran burung layang-layang (yang datang dari belahan bumi Utara) yang tiba lebih awal dari biasanya, cerita itu datang dari Medan, Jambi (seperti di foto ini), Bekasi dan Palu. Entah apakah tenggeran layang-layang yang di Yogya (di kantor pos besar itu), di antara Cianjur-Ciranjang dan di Bandung (di Jalan Kopo dan di sepanjang jalan tol)  sana juga sudah mulai disesaki oleh turis musiman tanpa pasport dan visa ini.

Lantas ada apa ini? Saya dulu itu diberitahu kalau binatang itu manut sama alam. Kalau ada gunung mau njeblug misalnya, mereka sudah lari pontang-panting duluan. Di Aceh itu katanya waktu tsunami belum sampai daratan, burung-burung sudah pada beterbangan. Lha yang sekarang ini apa? Selagi saya mencoba untuk mencari-cari jawaban, seorang teman berkata, "tahun ini taifunnya aneh ya, jumlahnya sih mirip tapi datengnya kok barengan". Ya ... ada tiga taifun yang datang nyaris bebarengan kemarin itu.

Saya tidak bermaksud untuk menjadi penyebar gosip bencana, apalagi lantas berkesimpulan apa-apa yang dilihat di dalam film "The Day After Tomorrow" akan terjadi besok atau lusa. Hanya saja beberapa kejadian itu kok ya ndak umum sih dan beberapa malah sudah terjadi beberapa tahun belakangan. Mudah-mudahan kawan yang sedang gemeteran di Antartika sana ndak ngirim email yang isinya menakutkan. Di sekitar rumah sampeyan bagaimana?

oooalah ... jangkriiiiiiik jangkrik ....

Foto oleh Yus RN.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Monday, August 14, 2006
Soklat

Setiap kali saya mempertontonkan raut bodo saya karena gumun, terheran-heran dengan sesuatu, seorang teman selalu berkata "... waaaah jan ndesit tenan kon iki, ora tau mangan soklat!" (waaaah bener-bener kampungan kamu ini, ndak pernah makan coklat!). Lha apa hubungannya antara ndesit sama mangan soklat toh ya? Toh coklat sekarang ada di mana-mana, kayak badminton yang dinyanyikan Benyamin itu ... badminton di mana-mana, di kampung jeung di kota ... Judul dan bentuknya juga aneka rupa, dari mulai  yang lempengan ber cap Ayam, yang segitiga ber cap Toblerone, hingga yang silinder pendek seperti truffle-nya Godiva ber cap Harrods (walaupun ndak ada rasa truffle/jamurnya). Soal selera ... bisa pilih dari yang kelas warung hingga yang kelas Callebaut, Amedel atau Knipschildt sekalian. Ini bukan soal salah atau benar, ini soal selera (dan daya beli) saja, dan saya akan ndobos soal emut-emutan ini.

Saya bukan penggila coklat, suka sih iya (banget) tapi ndak "nagih" dan lagi pula terlalu banyak nyantap coklat kepala saya bisa nyut-nyutan dihantam migraine. Ketertarikan saya akan coklat dimulai setelah membaca cerita fiksi "The Discovery of Chocolate" karangannya James Runcie. Buku yang tidak terlalu tebal ini menceritakan  kisah Diego de Godoy (seorang conquistador anak buah Henando Cortez) yang kepincut Ignacia, gadis Indian Aztec. Ceritanya sih enteng-enteng saja,  cinta cintaan gitu dah, tapi saya malah tertarik dengan cerita coklatnya. Sejak itu saya mulai baca-baca soal coklat, dan sebuah kisah luar biasa ternyata ada di sana.

Mulai dengan dari mana datangnya coklat. Tidak ada perdebatan soal ini, coklat berasal dari Amerika Tengah dan sejarah coklat tak bisa lepas dari sejarah bangsa Indian Amerika Tengah yang sudah bercokol di sana sejak kira-kira lebih dari 1500 tahun sebelum Masehi.  Dari nama-nama suku Indian yang bermukim di tempat itu seperti Olmec, Zapotec, Maya, Teotihuacan, Mixtec dan Aztec, coklat tidak bisa dipisahkan dari Maya dan Aztec, dua suku di mana  coklat adalah kehidupan mereka.

Bukti-bukti kuat yang ada menunjukan bahwa Maya adalah penenggak coklat pertama. Sebuah wadah minum tua suku Maya yang berumur lebih dari 2600 tahun dari Rio Azul di bagian Utara Guatemala diketahui mengandung sisa-sisa coklat. Orang-orang Maya menamai  minuman itu xocolatl. Dari cerita-cerita Maya diketahui bahwa mereka menyiapkan minuman ini dengan menuang cairan coklat sambil berdiri ke wadah yang ditaruh di tanah. Tidak seperti minuman coklat yang kita kenal sekarang, xocolatl bentuknya lebih kental, berbusa dan pahit. Xocolatl bisa dibilang menjadi "makanan" utama orang-orang Maya, dihidangkan untuk sarapan, makan siang dan makan malam bersama dengan madu, cabe dan jagung. Dalam masyarakat Maya coklat dikonsumsi oleh semua kalangan. Orang-orang Maya bahkan menjadikan biji coklat sebagai uang. Empat biji bisa ditukar dengan labu, sepuluh biji bisa dapat kelinci dan seratus biji bisa beli budak.

Hanya saja, berdasarkan analisis linguistik, kata xocolatl bukanlah kata asli Maya, itu berasal dari bahasanya orang Olmec, suku yang lebih tua daripada Maya. Beberapa peninggalan Olmec juga menunjukan adanya penggunaan cairan suci dalam upacara-upacara keagamaan mereka, cairan yang dipercaya sebagai coklat. Siapapun penenggak pertama coklat yang saat ini jelas tampak adalah betapa pentingnya coklat dalam kebudayaan Indian di Amerika Tengah, khususnya Maya dan Aztec.

Keluarnya coklat dari tanah asalnya dimulai dari kedatangan Colombus ke wilayah itu pada saat ia sedang mencari jalan menuju tanah rempah-rempah. Pada kunjungannya ke-empat di tahun 1502, untuk pertama kalinya Colombus mendapatkan biji coklat yang dikiranya biji almond pada saat dia merampok sebuah perahu Indian yang memuat biji coklat di dekat sebuah pulau di lepas pantai Honduras. Tak pernah terlintas dalam benak Colombus jika biji itu adalah alat pembayaran yang sah di kawasan itu, tak juga terlintas dipikirannya bahwa biji itu juga adalah bahan dasar minuman yang penting di kawasan itu. Hanya saja Fernado, anak Colombus, yang kemudian menulis keheranannya bagaimana para Indian itu memperlakukan biji coklat, " ... mereka memunguti dengan segera setiap biji yang jatuh, seolah-olah yang jatuh itu mata mereka sendiri ...".

Perkenalan Eropa dengan coklat baru terjadi dua puluh tahun kemudian ketika Hernando Cortes sang conquistador pemusnah Aztec membawa beberapa peti biji coklat (Cacao) ke Spanyol. Tiga tahun sebelumnya, Cortes diperkenalkan dengan minuman pahit oleh raja Aztec, Motecuhzoma Xocoyotzin, yang dalam Bahasa Aztec disebut chocolatl yang merupakan campuran coklat, cabe, bunga-bungaan, vanilla dan madu. Pada saat Cortes kembali ke Spanyol pada tahun 1528 kapal-kapalnya dipenuhi dengan biji coklat dan alat-alat pembuat minuman coklat.

Begitu masuk ke Spanyol, coklat menjadi minuman para bangsawan dan orang-orang kaya. Biji coklat dan alat-alat pembuat minuman coklat disembunyikan di biara-biara Spanyol dan selama seratus tahun rahasia pembuatan coklat dijaga rapat sebelum akhirnya Antonio Carletti, seorang pengembara berkebangsaan Italia menemukan rahasia coklat pada tahun 1606 dan sejak itu coklat tersebar ke seluruh Eropa. Tak buruh waktu lama sebelum coklat kemudian dikenal luas di Perancis, Inggris, Belgia, Swiss dan beberapa negara lain dan biji coklat lantas ditanam di perkebunan-perkebunan negara jajahan mereka. Monopoli Spanyol berakhir sudah.

Perancis pada awalnya menganggap coklat sebagai hasil dari kebudayaan terkebelakang dan minuman yang berbahaya, hingga Ratu Anne yang merupakan istri dari Louis XIII memproklamirkan coklat sebagai minuman resmi Kerajaan Perancis. Inggris lain lagi, coklat langsung populer dan Kerajaan Inggris menetapkan pajak yang gila-gilaan tingginya untuk biji coklat ... pajak per pon biji coklat kira-kira sama dengan harga tiga per-empat pon emas. Tidak heran jika coklat kemudian dikenal sebagai minuman para kalangan atas.

Tetapi orang yang paling berjasa membuat coklat menjadi makanan dan minuman dengan harga terjangkau adalah seorang Belanda bernama Coenraad Johannes van Houten yang pada tahun 1828 menemukan alat untuk mengekstrak minyak/lemak biji coklat. Residu kering dari proses ini kemudian dihaluskan sehingga menghasilkan coklat dalam bentuk bubuk dan tinggal digrujug air panas saja, jadilah minuman coklat. Van Houten kemudian menemukan cara untuk mengurangi keasaman dan rasa pahit dari coklat dengan menggunakan alkali. Teknik yang mirip kemudian digunakan oleh Joseph Fry dan John Cadbury dari Inggris untuk menghasilkan bubuk coklat dan tidak hanya itu, perasan biji coklatnya yang menghasilkan lemak coklat (cocoa butter) lantas diproses lebih jauh dan menghasilkan coklat yang bisa dimakan. Coklat bukan lagi hanya bisa diminum tapi juga bisa diemut-emut.

Adalah Heinrich Nestle, seorang berkebangsaan Jerman, dan Daniel Peter, yang berkebangsaan Swiss, mencampur coklat dengan susu sapi, tepung gandum dan gula. Ini menjadikan coklat memiliki rasa yang mirip dengan coklat yang kita kenal sekarang, coklat susu, walapun tujuan awal Nestle pada saat itu adalah untuk mendapatkan produk untuk membantu bayi-bayi yang kekurangan gizi karena ibu sang bayi tak mampu menyusui bayinya.

Coklat batangan yang kita kenal sekarang proses pembuatannya ditemukan oleh orang Swiss, Rodolphe Lindt, dengan menyempurnakan teknik yang ditemukan oleh para pendahulunya. Dia lantas mencampurkan kembali lemak coklat hasil ekstrak biji coklat dengan coklat bubuk dan hasilnya, coklat batang yang getas, bisa dipatahkan, tetapi meleleh di dalam mulut.

Coklat, biji buah yang pernah menjadi alat tukar, diminum dan sekarang juga dimakan. Coklat, entah itu dalam bentuk bubuk atau batangan, bisa ditemukan di mana-mana. Coklat bukan lagi hanya dinikmati oleh orang-orang Olmec, Maya, Aztec dan Eropa, coklat sudah menjadi produk dunia. Saat ini gabungan dari negara-negara Pantai Gading, Ghana, Brazil dan Indonesia, menghasilkan sekitar 75% biji coklat dunia. Tetapi para petani coklat di negara-negara tersebut hanya menikmati 5% keuntungan dari perdagangan coklat dan sebagian besar biji coklat itu diolah menjadi produk jadi di negara-negara utara. Tak kurang dari 80% pasar coklat dunia dikuasai oleh enam perusahaan besar dan lima diantaranya adalah perusahaan dari Eropa (Nestle, Suchard, Mars, Cadbury dan Ferrero) dan satu dari Amerika Serikat (Hersey's).

Coklat yang pahit-pahit manis itu dalam perdagangan dunia saat ini masih menyisakan banyak kepahitan, terutama bagi para petani coklat di negara-negara tropis di mana pohon coklat bisa tumbuh subur. Kepahitan yang juga dialami oleh para pekerja anak di kebun-kebun coklat yang nyaris berada dalam kondisi sebagai budak. Sebagian besar kemanisan coklat hanya dinikmati oleh para produsen besar coklat yang semua ada di belahan bumi utara. Di Pantai Gading yang menjadi produsen biji coklat terbesar di dunia ada sekitar 600 ribu kebun coklat dan di sana tidak kurang dari 15 ribu anak bekerja sebagai budak, kebanyakan dari mereka berasal dari Mali yang terletak di sebelah Utara Pantai Gading.

Jadi sederek sedoyo, walaupun van Houten sudah menemukan cara untuk menurunkan rasa pahit pada coklat, tampaknya rasa pahit itu ya belum juga hilang. Masih kurang pahit? Tanggal 13 Agustus kemarin adalah "hari ulang tahun" ke 485 jatuhnya Kerajaan Aztec yang memperkenalkan coklat kepada dunia melalui Spanyol. Begitulah cerita coklat. Hanya sampai sekarang saya tetap belum ngeh, apa hubungan antara ndesitnya saya dengan ora tau mangan soklat itu. Sampeyan ada yang tahu?





Gambar diambil dari sini, sini, sini dan koleksi pribadi.


Posted at 12:15 am by Sir Mbilung
Ada (11) yang ndobos juga  

Sunday, August 13, 2006
Kembali .. Mungkin, Sakit Perut .. Pasti

Seorang teman Jepang di kantor hari Jum'at kemarin dengan sumringahnya pamitan untuk berangkat ke kantor pusat di Cambridge, Inggris. Dia akan ada di sana selama sebulan lebih dan saya yakin dia bakal menikmatinya, karena mbuh kenapa dia suka sekali kota tua yang nyaris rata itu. Dia suka sekali dengan Sungai Cam yang membelah kota, dia suka berdayung-dayung atau ber-punting di sungai yang airnya (tampak) jernih dan dia selalu sumringah kalau diajak jalan-jalan ke daerah pertanian di sekitar Cambridge.

Saya jadi ingat pertama kali dia datang ke kota itu setahun yang lalu, saya mengajaknya duduk-duduk di pinggir kali, tempat kesukaan saya untuk membaca buku. Sambil duduk-duduk di pinggir kali dia sibuk nyerocos mengungkapkan kekagumannya dengan sungai, kota dan pemandangan lahan pertanian di Cambridge. Sesekali dengan tersenyum lebar dia menunjuk-nunjuk bebek dan angsa yang berenang di kali, mengganggu kosentrasi saya yang sedang membaca. Kenapa pula orang ini tadi saya ajak ke pinggir kali, saya kan ke sini mau membaca dengan tenang yang merupakan kemewahan buat saya.

Buku lantas saya tutup dan ide jahil untuk membalas kekejamannya mengganggu kenikmatan saya membaca lantas terlintas. Bukan ide yang orisinal sih sebetulnya, hanya terinspirasi hal serupa yang ada di Indonesia. Saya tahu banyak orang Jepang yang percaya tahyul, makanya jualan jimat dan ramalan laku di Jepang. Saya lantas berkata "Kamu kayaknya suka sekali kota ini ya, masih ingin balik lagi ke sini?". Dia mengangguk dengan antusias, matanya yang biasanya hanya segaris melotot dan bibirnya tersenyum. "Begini. Ada kepercayaan di sini, kalau kamu minum air Sungai Cam, kamu akan kembali lagi ke kota ini", mencontek cerita serupa yang pernah saya dengar untuk Sungai Musi dan Sungai Barito. Lha kok tanpa ba bi bu dia lantas pergi ke pinggir sungai dan mengambil air sungai itu dengan dua tangannya lantas diminum. Wahaaaa ... banyu kali ne diglogok. Memang air kalinya sih kelihatan bening, tapi itu air kali sebelum masuk kota ya lewat lahan pertanian dan peternakan dulu di luar kota sana ... ada peternakan sapi dan babi. Belum lagi orang iseng atau kebelet yang kencing di sungai.

Sejak itu dia sudah dua kali lagi kembali ke Cambridge, dan hari Senin nanti adalah kali ke-empat dia ada di kota itu. Dalam setahun empat kali dia datang ke kota yang dia sukai itu. Saya ya ndak ngerti apa itu ada hubungannya dengan kenekatannya minum air Sungai Cam. Saya juga ndak ngerti apakah dia sakit perut sehari kemudian ada hubungannya dengan minum air kali itu ... ndak sempet nanya, lha wong dia masih mlintir di kamar waktu saya mau pulang

Dasar Jepang, minum pakai es batu di Indonesia saja murus-murus, lha kok mekitik nggelogok banyu kali?


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (8) yang ndobos juga  

Saturday, August 12, 2006
Mercon Njeblug Ndase

Musim panas di Jepang ndak lengkap tanpa hanabi, begitu katanya, sebuah tradisi tua main petasan. Hanabi yang konon kabarnya sudah ada sejak jaman Shogun Ieyasu Tokugawa itu kabarnya dipertontonkan untuk pertamakalinya oleh orang Inggris kepada Ieyasu pada tahun 1613. Konon kabarnya hanabi adalah pertunjukan kembang api paling indah se-dunia dan tak seorangpun di Jepang yang (katanya) ingin melewatkan kesempatan untuk ber-hanabi. Lagipula pertunjukan kembang api tidak hanya dipertunjukan di satu tempat saja. Ada banyak sekali tempat yang menawarkan tontonan gratis ini.

Indah? tak boleh melewatkan? maka saya lantas mengangguk setuju ketika seorang teman di kantor pada hari Kamis yang lalu, tanpa peringatan lebih dahulu, mengajak saya untuk menikmati pertunjukan penuh ledakan itu. Pertanyaan saya kepada dia adalah, di mana acaranya dan berapa banyak orang yang bakal datang nonton acara bakar-bakar petasan itu. Lha wong saya itu orangnya males jalan kaki jauh dan umpel-umpelan je. Oooh dekat saja kok dari rumah dan yang nonton ndak begitu banyak, paling hanya beberapa ribu orang. Ya, beberapa ribu memang tidak banyak, karena pertunjukan di Teluk Tokyo katanya bisa dihadiri oleh ratusan ribu orang.

Maka berangkatlah kami ber-enam untuk nonton bakar-bakar kembang api. Tiba di stasiun kereta api terdekat dari tempat pertunjukan orang sudah berjejalan dengan berbagai gaya dandanan, ada yang berkimono, beryukata, bercelana pendek atau ngerok mini. Keluar stasiun tukang jual jajanan sudah berjubel di pinggir jalan sambil teriak-teriak membualkan kelezatan barang daganganya dan sesekali ditimpali suara para penunjuk jalan yang mengarahkan rombongan manusia menuju tempat pertunjukan. Itu gerombolan orang yang lebih mirip calon peserta karnaval untungnya tertib dan mau patuh untuk diatur.

Tempat pertunjukan yang saya datangi ada di tepi Sungai Tama, para penonton berjubelan di satu sisi dan para pelepas petasan di sisi lain. Acara katanya dimulai pukul setengah delapan, dan dasar Jepang, pukul setengah delapan teng petasan roket pertama meluncur ..... suiiiiiiiiiiit ... dhier, bleng, pretekpretekpretek, bleng. Orang-orang bertepuk sambil sorak-sorak. Begitulah acara yang berlangsung selama satu jam kurang sedikit itu diisi oleh segala macam rupa kembang api warna-warni yang meluncur, menyembur, meledak ndak putus-putus. Selesai pertunjukan, kisah buat saya baru dimulai.

Sebagaimana lazimnya keriaan di semua tempat, orang datang ke tempat keriaan tersebut dalam beberapa gelombang, tetapi begitu keriaan selesai, semua pulang dalam satu gelombang. Seorang kawan lantas berinisiatif untuk berjalan kaki ke stasiun kereta lainnya saja kalau tidak mau umpel-umpelan di stasiun terdekat, lagipula tempatnya tidak jauh, begitu katanya. Tidak jauh mestinya kalau tidak pakai acara jalan-jalan tanpa arah dulu ... nyasar. Akhirnya dengan diiringi napas memburu, stasiun yang tak ramai itu bisa ditemukan, lega rasanya ... lha wong kami sudah jalan setengah jam je.

Lha kok ndilalah, seorang teman yang rumahnya dekat rumah saya malah mengajak saya untuk jalan kaki saja pulang ke rumah, "tempat tinggal kita sudah dekat dari sini" begitu katanya. Ah ya sudahlah, saya temani saja kawan satu ini, toh nanti bisa naik bus ke rumah. Maklum saja, rumah saya itu ada di puncak bukit dan jalan kaki nanjak bukit di malam yang gerah seperti saat itu bukan ide bagus. Berjalanlah kami. Katanya dekat? lha kok ndak sampai-sampai toh, dan saya mulai misuh-misuh dalam berbagai bahasa daerah di tanah air. Teman itu lantas bertanya apa arti kata-kata itu. Saya katakan bahwa itu kata-kata penyemangat ... maka diapun lantas ikut-ikutan menyemangati saya dengan "kata-kata penyemangat" itu. Jaaan ... bajigur bosok tenan bocah iki.

Setengah jam kemudian tibalah kami disebuah pertigaan yang tidak saya kenal, dan teman itu berkata, "kamu belok di sini, ikuti saja jalan itu, kira-kira setengah jam kamu bakal sampai di rumah". Lho? halte busnya mana? Teman itu bilang lagi ... "ini bukan rute bus karena bus ndak akan kuat lewat tanjakan itu, bus lewat jalan satunya lagi, masih agak jauh". Heh? nanjak, setengah jam, seketika itu juga terbayanglah seraut wajah tampan yang sedang tersengal-sengal dan banjir keringet. Saya lantas bertanya, dia mau kemana, kan rumahnya dekat rumah saya? "Saya harus ke kantor saya dulu, mau ngambil skuter ... sampai ketemu lagi ya, jane ... konbanwa" sembari melambaikan tangan. Saya hanya bisa senyum asem sambil menjawab salamnya diiringi senyum ramah ... "jane kon asu".

Jan njeblug ndase tenan kawan satu itu.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Friday, August 11, 2006
Bumbu Dapur -- Bagian 5

Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.

Bagian ini adalah bagian akhir (mudah-mudahan) dari seri bumbu dapur. Dalam bagian ini saya ingin konsentrasi ndobos perkara persaingan Inggris dan Belanda dalam memperebutkan rempah-rempah. Belanda dengan gayanya yang langsung-langsung saja dan cenderung "kasar" dan Inggris yang malu-malu. Perlu dicatat bahwa persaingan yang terjadi di tanah yang sekarang bernama Indonesia ini sering kali lepas dari apa yang terjadi di Eropa, tetapi apa yang terjadi di tanah ini sangat mempengaruhi Eropa. Apa yang terjadi di tanah ini adalah sebagian besar disebabkan oleh kepentingan ekonomi, bukan politik. Bisa saja Inggris perang lawan Belanda di Eropa sana (mereka empat kali berperang) tetapi di tanah ini mereka bisa bekerjasama untuk nggebuk Spanyol, atau bisa saja mereka sedang damai di Eropa sana tetapi di sini saling gebuk.

Inggris tiba duluan di Maluku pada tahun 1579 melalui jalur Pasifik. Ekspedisi ini dipimpin oleh Francis Drake dan Drake lantas membuat perjanjian persahabatan dengan Sultan Baabulah dari Ternate. Tetapi keberhasilan ini tidak lantas ditindak lanjuti, padahal Drake sewaktu pulang ke Inggris dia mengangkut begitu banyak rempah dan disambut bak pahlawan. Inggris lantas mencoba masuk melalui rute Afrika, tetapi justru Belanda yang tiba lebih dahulu di Banten di bawah pimpinan  Cornelis de Houtman yang tiba di Banten tahun 1595. Keberhasilan ini ditindak lanjuti oleh Belanda dengan mengirim ekspedisi besar-besaran. Sepanjang tahun 1597 hingga 1601 saja, Belanda mengirim tidak kurang dari 65 kapal, beberapa bahkan ada yang sampai di Jepang, belum lagi rute Pasifik yang juga dijajal Belanda (oleh Oliver van Noort). Pos-pos dagang Belanda juga berdiri di mana-mana, termasuk di Banten, Maluku dan Banda. Inggris yang sementara hanya bisa ngiler melihat keberhasilan Belanda bukannya malah buru-buru berangkat malah sibuk mendirikan serikat dagang dulu (Inggris sekaleeeee).

Pada tanggal 31 Desember 1600 berdirilah British East India Company (EIC) dan baru dua bulan kemudia EIC mengirim ekspedisinya pertama di bawah pimpinan James Lancaster. Lancaster akhirnya tiba di banten tahun 1602 ... Belanda sudah nangkring duluan di sana dan sudah angkut-angkut rempah dari Banda dan Maluku. Jauh di Eropa sana pada tahun 1602,  Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC) atau Serikat Dagang Hindia Timur yang berdiri pada tanggal 20 Maret 1602 adalah persahaan multinasional pertama di dunia yang  diberi hak monopoli selama 21 tahun oleh Republik Belanda (pada waktu itu Belanda adalah Republik) dan daerah kerjanya mencakup seluruh Asia. Sejak itu "pertempuran dagang" yang terjadi adalah antara dua perusahaan dagang ini, VOC lawan EIC.

Pada tahun 1605, Henry Middleton berangkat ke Ternate, dan ternyata surat perjanjian pertemanan yang ditandatangani oleh Drake dan Sultan Baabulah masih berlaku, kapal-kapal Middleton langsung ditimbuni oleh rempah-rempah ... lha konco lawas je. Inggris tampaknya lebih mendapat simpati dari penduduk setempat dalam berdagang, mungkin karena ndak brangasan seperti Belanda. Banda yang kala itu sudah dikuasai Belanda susah sekali dimasuki Inggris, maklum saja, pala hanya ada di tenpat ini dan Belanda tak hendak kehilangan monopolinya. Tetapi ada dua pulau kecil di Kepulauan Banda yang akhirnya bisa didapat Inggris yaitu Pulau Ai dan Pulau Run, dua pulau terluar di sisi Barat dari kepulauan Banda (coba sampeyan cari di peta), dan dari dua pulau seumprit ini pasokan pala untuk Inggris didapat. Belanda masih bisa mentolerir hal tersebut, paling kapal Inggris diganggu saja. Sampai akhirnya Belanda tak tahan lagi dan Pulau Ai diserbu dan direbut tahun 1616, sementara Pulau Run praktis direbut tahun 1621, walaupun Inggris masih menganggap Pulau itu adalah milik mereka.

Lha ditengah-tengah "perang dagang" itu ada sebuah kejadian yang membuat tanah yang nantinya bernama Indonesia ini  hampir dijajah Inggris. Begini ceritanya ... pada tahun 1619 Inggris dan Belanda menandatangani sebuah perjanjian yang isinya sepertiga rempah boleh dimiliki oleh Inggris, sementara duapertiganya dimiliki Belanda. Tetapi Inggris diam-diam tetap saja mengambil lebih dari jatah, ketahuan dan ribut hingga akhirnya Inggris menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1623. Babak belur Belandanya dan tinggal sedikiiiiiit lagi Belanda bisa habis, ... lha malah tidak dihabisi. Kapal Belanda yang masih belum hancur malah dibiarkan pergi ... lari ke Ambon.

Begitu sampai Ambon, mereka langsung menyerang pos Inggris dan menawan sepuluh orang Inggris, sembilan tentara bayaran Jepang (samurai) dan satu orang Portugis. Tawanan ini disiksa hebat ... termasuk diledakan tangan dan kakinya, kalau masih hidup, walaupun sudah disiksa begitu, lantas dibunuh. Setelah kejadian itu, Inggris mulai menarik diri dari Hindia dan hanya berkonsentrasi dagang di India saja ... mungkin mereka sadar, serumah sama orang gila agak susah, Inggris akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Banda dan Maluku tahun 1624, kemudian meninggalkan Batavia ke Banten tahun 1628 dan mundur total dari Jawa tahun 1683. Inggris sudah melihat tak ada untungnya bertahan di Hindia, lagipula harga rempah-rempah juga mulai jeblog karena over supply sejak tahun 1660. Hal ini terjadi sebagian karena Belanda begitu aktif "menyemangati penduduk setempat" untuk menanam rempah, selain itu juga karena "pinternya" Inggris, karena sebelum mereka keluar dari Maluku dan lari dari Pulau Run, mereka tak lupa membawa oleh-oleh berupa bibit rempah. Bibit-bibit itu kemudian disebar di beberapa koloninya sehingga rempah berharga tinggi itu sudah tidak lagi sulit didapat.

Di tempat lain Inggris juga "nakal". Setelah Perang Inggris-Belanda jilid 1 selesai pada tahun 1654, mereka malah menyerbu dan merebut New Amsterdam dan Pulau Manhattan di Amerika. Perkelahian dua negara itu kemudia berlangsung lagi pada tahun 1665 dan dikenal dengan Perang Inggris-Belanda jilid 2. Perang itu berakhir tahun 1667 dengan ditandatanganinya Perjanjian Breda. Dalam Perjanjian Breda ada tertera soal ganti rugi yang harus dibayar Belanda akibat menyiksa dan membunuh orang-orang Inggris di Maluku (1623) dan juga tertera bahwa Belanda melepas klaimnya terhadap New Amsterdam dan Pulau Manhattan yang direbut Inggris pada tahun 1654 dan menyerahkannya kepada Inggris, tetapi sebagai gantinya .... Inggris harus melepas klaim mereka terhadap Pulau Run. Haiyaaaaah, apa sampeyan tahu? itu yang namanya New Amsterdam sekarang bernama New York. Lha sekarang coba sampeyan cari di peta .... di mana New York? Gampang? Naaaah...sekarang sampeyan coba cari di mana letak Pulau Run.

Inggris yang akhirnya mundur total dari Maluku dan Banda praktis memberikan Belanda kontrol penuh terhadap Hindia. Belanda jadi raja dunia sekarang .... dengan sedikit variasi kecil seperti Amerika yang ikut-ikutan mencoba dagang rempah (terutama lada) dengan Sumatera. Merosotnya harga rempah menjadi salah satu sebab VOC bubar tahun 1798 dengan hutang yang gila-gilaan, selain karena faktor salah urus dan masalah komunikasi dengan Amsterdam yang jauh dari Batavia. Lha bagaimana ndak repot kalau perusahaan sebesar VOC dengan puluhan ribu karyawan tetapi surat menyurat baru sampai 9 bulan kemudian. Apa sampeyan tahu kalau semua aset dan hutang VOC itu lantas diambil alih oleh Republik Batavia??!!

Sudah habiskah perjalanan rempah-rempah? ... ya belum. Amerika yang tadinya dikira tak berempah itu toh akhirnya menyumbang Vanilla dan Cabe. Rempah-rempah telah menjadi pemicu bagi ekplorasi besar di bumi ini. Eksplorasi yang akhirnya membawa begitu banyak bahan makanan ke meja-meja makan di seluruh dunia, tidak hanya rempah lho ... dari mulai jagung, tomat, kentang, cabe, vanilla, coklat, kayu manis, cengkeh, pala, kemiri, dan masih banyak lagi. Eksplorasi yang akhirnya memunculkan perbudakan, penjajahan dan pemusnahan bangsa. Saat inipun rempah-rempah tampaknya masih terus mengembara menyertai perjalanan manusia mencari "dunia baru" ... rempah-rempah terbang ke bulan! dibawa oleh awak Apollo 11 tahun 1969 dalam makanan mereka. Kemana berikutnya? Mars?

Nah sekarang coba sampeyan ambil lada, cengkeh atau kayu manis dari dapur, pandangi barang itu dan ingat-ingat cerita ini.

Begitulah sederek sedoyo, karena saya sudah mengi sementara bayi tikus untuk obat mengi di sini ndak ada (Mas Tito mau ngirimi saya?), cerita bumbu dapur yang "agak panjang" ini saya sudahi saja dengan ucapan kalau ada sumur di ladang ... sampeyan mbok nimba. Mudah-mudahan ada gunanya.

Ucapan terima kasih: Buat Suster Bernadeth yang pertama kali ndongengi saya soal rempah dan buat Herman Teguh sang teman dalam duka yang rajin mengabarkan soal buku berlatar belakang sejarah dan teman diskusi ngalor ngidul soal sejarah.
Beberapa sumber yang saya pakai: Wikipedia tentu saja; bukunya Giles Milton, Nathaniel's Nutmeg; bukunya John Keay, the Spice Route; bukunya Boxer, Dutch Merchants and Marines in Asia; bukunya Holden Furber, Rival Empires of Trade in the Orient 1600 -1800; bukunya Hanna Willard dan Des Alwi, Turbulent Times Past in Ternate and Tidore.

Gambar diambil dari sini, sini dan sini.

-- TAMAT --

Posted at 12:08 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Previous Page Next Page