Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Sering kali saya misuh-misuh di jalan tol tanpa tangan teracung-acung, hanya bibir saja yang teracung-acung. Apa pasal? lha saya itu disalip dari kiri. Kalau saya sedang mengemudi di jalur tengah, disalip dari kiri begitu saya masih bisa menahan pisuhan karena hal itu terjadi mungkin juga karena saya lalai mengemudi terlalu lamban, akan tetapi jika saya sudah ada di jalur paling kiri masih juga disalip dari kiri lain perkara ini namanya. Itu jalur yang dipakai nyalip kan bahu jalan yang katanya hanya boleh dipakai dalam keadaan darurat. Kedaruratan apa gerangan sehingga mobil penyalip itu "terpaksa" mendahului saya dari sebelah kiri? Kebelet pipis? lha kok ndak berhenti?
Biasanya lagi (kali ini saya nuduh, buktinya hanya empiris) mobil yang "ngawur" begitu adalah mobil-mobil bermerk ternama dan bertenaga besar. Saya yang berharap disusul dari kanan tentu saja terkaget-kaget karena ada barang melaju kencang di sebelah kiri. Lha wong namanya latah, kalau kaget ya sayanya misuh. Tetapi yang bikin saya lebih kesal lagi, menyalip lewat bahu jalan itu berbahaya. Ndobos? Ndak ... saya kehilangan Paklik, Bulik dan saudara sepupu karena bus yang mereka tumpangi saat itu melaju di bahu jalan dan menabrak truk yang sedang berhenti hingga terbakar ... banyak penumpangnya yang nyawanya terbuang percumah karena kelakuan sang pengemudi. Sudahlah, melaju di bahu jalan itu berbahaya, membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Sebuah gerakan yang diprakarsai oleh Andrianto untuk tidak menggunakan bahu jalan tentu saja layak untuk saya dukung. Maka saya dengan senang hati akan memajang gambar gerakan tersebut pada blog saya. Mudah-mudahan pisuhan saya bisa berkurang frekuensinya dan yang paling penting tak ada lagi pengemudi mbeling yang membahayakan orang lain model begini.
Apa ada gerakan seperti ini untuk yang suka membuang sampah lewat jendela mobil? Tindakan itu mungkin "tidak berbahaya" tetapi buat saya rasanya kok nggilani ya?!
Pertama-tama harus ikut bersimpati sama yang punya warung, yang tampangnya ke gadrik-gandrik-an itu, karena tempatnya berdagang dijadikan arena berkumpulnya para penulis gila. Kali ini para penulis ngumpulnya tidak lagi di rumahnya sendok ... pindah, karena tempat ngumpul lama itu pasti sudah nutup warungnya begitu baca pengumuman soal kumpul-kumpul ini. Pada awalnya pemilik warung tempat ngumpul kali ini mungkin bergirang hati ... waaaah banyak yang datang, dan kayaknya bertampang rakus. Makanya ... jangan melihat calon pelanggan warung dari wajahnya, mbok ya lihat dari dompetnya.
Kali ini waktu pertemuan lebih singkat (betul begitu?), tetapi kerugian yang diderita pemilik warung tampaknya lebih besar dari pertemuan pertama. Namanya juga warung pizza ... martabak Italia itu, lha kok ndak ada yang pesen pizza sama sekali. Malah pada pesen swiwi (sayap ayam) goreng, mie tanpa kuah, air mineral dan minuman berjudul aneh yang diberi keterangan "menyegarkan mulut, membuka mata". Saya pesan minuman itu saja ... tentunya ini yang keluar bakal odol kecut. Saya perlu sajian itu, lha namanya adu abab perlu penyegar mulut dan mata juga harus tetap awas untuk melihat gelagat kalau-kalau ada yang berniat aniaya. Untuk makanan? ya saya ndak pesen pizza juga, lha wong nyari pizza yang toppingnya gudeg atau tongseng ndak ada je.
Warung ini punya seragam karyawan yang ndak umum, lha orang kok dipakein balon diplintir? Sangking terpesonanya saya sampai lupa motret Mbak Balon itu. Mungkin itu salah satu upaya untuk membantu meringankan tubuh sang karyawan yang bertugas membawa nampan-nampan minuman dan makanan pesanan yang kayaknya berat. Tampaknya berhasil, karena itu Mbak-Mbak berbalon jalannya jinjit. Kalau gasnya kebanyakan mestinya ndak napak lantai itu.
Pertemuannya sendiri berlangsung meriah, walaupun kata-kata terlalu meriah juga boleh digunakan. Malah ada rencana buat nyanyi selamat ulang tahun, siapa tahu dapat kueh gratis. Juga ada acara "foto bersama artis" yang berkali-kali harus diulang karena yang motret ndak kuat menahan geli melihat wajah artisnya yang memang nggilani. Ada pula kegiatan sibuk mencatat kata-kata asing di atas serbet kertas. Dinda yang bukan Jawa itu tentu senang karena sekarang sudah bisa pesan sego rawon - nasi rawon, makanan kesukaannya itu dalam Bahasa Jawa ... "Kulo bade pesen segawon mawon", begitu Dinda berkali-kali melatih ucapan itu. Atau berlatih bagaimana menjawab dengan sopan rayuan yang dilontarkan Kang Mas Pecas ... "Lambemu cooook" ... Mbak Atta memang guru yang sabar dan pintar.
Entah bagaimana Mas Jumadi juga lantas beroleh nama baru yang gagah dan panjang ... Teguh Didi Jumadi dan tentu saja dia dengan antusias menyambut tawaran untuk berkumpul di buderan HI bersama-sama Mas Bahtiar dan kawan-kawannya. Tak lupa diingatkan agar Mas Jumadi membawa sempak - celana berenang, dalam acara kumpul-kumpul di buderan HI nanti, siapa tahu mau sekalian berenang. Siapa bilang hanya badut Ancol saja yang dengan senang hati mau diajak foto bersama, Mas Jumadi juga mau, walaupun harus dibayar dengan belaian. Membelai Jumadi tampaknya memang tidak berbahaya, tetapi Mbak Rara sudah disarankan agar mensuci hamakan tangannya dengan karbol begitu tiba di rumah serta meminum antibiotik berspektrum luas untuk bejaga-jaga.
Lantas, siapa saja sih yang datang dan foto-foto pertemuannya mana? tengok sajalah di sini untuk melihat daftar peserta beserta blog mereka, sementara untuk foto di sinilah tempatnya. Saya hanya ingin memajang satu foto saja yang saya beri judul Gandrik's Angels.
Kemarin itu ndak majang tulisan di blog ini. Dua alasan saja ... satu, blogdrive lagi njengking - ada masalah dengan sistemnya dan dua, karena saya ketiban gori (nangka). Blogdrive bilang begini :
We've experienced some complications regarding hardware during a necessary system upgrade. We are working very hard to get things back on line. We will have the system restored soon. There has been no data loss. We will give more details about the problems that occurred after we have things up and running. Thank you for your patience in this matter.
Soal macet-macet begini mau bilang apa? namanya juga blog gratisan, walaupun kemacetan begini mungkin juga dialami oleh yang tidak gratisan.
Soal ketiban nangka itu ya memang resiko nginternet di bawah pohon nangka yang buahnya sudah ting nggranthil siap gogrok.
Minggu kemarin itu saya menghadiri mantenan keponakan perempuan saya yang paling besar. "Pakde...pokoknya kakak nggak mau tahu, De harus pulang kalo kakak nikah!" Namanya juga keponakan jaman sekarang, ndak dituruti bisa diprenguti berabad-abad sayanya. Maka sayapun mematuhinya. Tidak ada yang aneh dari perhelatan pernikahan dengan adat Betawi itu, saya sangat menikmati pertunjukan "buka palang pintu" yang dipenuhi adu pantun dan pencak silat. Malah yang adu silat, sangking semangatnya hampir nibani meja penuh minuman untuk suguhan tamu. Meja selamat, minuman juga selamat, hanya pesilatnya harus mendarat di lantai beton.
Kakak Ina, begitu saya memanggil ponakan centil satu itu, sudah menikah! Kalau kakak dan suaminya "bekerja cepat", dalam waktu yang relatif tak lama lagi saya akan mendapat julukan baru .... "Eyang Mbilung". Sebuah prospek yang ditanggapi sebagai hal yang "menakutkan" bagi beberapa saudara sepupu. Saya sendiri? takut? justru sebaliknya, saya sangat senang dan berharap semoga kakak dan suaminya lekas berhasil memperoleh putra atau putri ... atau dua-duanya saja sekaligus kalau bisa.
Banyak dari Bude, dan Bulik saya yang emoh dipanggil eyang oleh anak-anak saya. "Panggil Tante saja ya...", maka demi menghormati maunya orang yang lebih tua itu, anak-anak saya lantas memanggil mereka dengan sebutan Tante. Konsekuensi logisnya, mulai saat itu sayapun jadi "kurang ajar" dengan memanggil mereka tanpa embel-embel Tante, Bulik atau Bude, langsung nama kecil mereka saja. "Eni mana? Tiek kok Bakat (nama suaminya) ndak diajak sih? Mi ... kopiku mana?"
Kalau anak-anak saya lantas dibanjiri hadiah dengan menurunkan tingkat penyebutan dari Eyang ke Tante, maka buat saya yang ikut-ikutan menurunkan tingkat penyebutan juga dibanjiri hadiah ... dikeplak. Ah ... saya memang masih sulit untuk memahami apa maunya mereka-mereka itu. Yaaah sudahlah, mudah-mudahan kakak segera punya momongan, dan saya ingin tahu juga, minta dipanggil apa mereka nanti oleh anaknya kakak. Walaupun saya kok yakin mereka bakal ogah dipanggil Yangyut (eyang buyut).
"Eyang Mbilung, nomer buntut yang keluar besok apa ya?" ... dasar bocah ... kalo tahu besok keluarnya apa, saya udah masang duluan. He he he ... Eyang Mbilung.
Sapi Kobe? wah iya, pernah dulu saya makan daging sapi ini sekali ... lantas kapok (cerita soal ini lain waktu saja). Bagi para penikmat daging sapi, konon kabarnya inilah daging sapi termewah, tapi yang jelas harganya relatif muahaaaal. Kobe beef mentah di Jepang dijual lebih dari 110 ribu Yen per setengah kilonya, sementara memasaknya juga bikin repot, daging mentahnya haluuuus sekali dan dengan guratan lemak di dagingnya irisan daging sapi ini persis marmer. Salah memasaknya, daging ini jadi ndak ada rasanya, sepo, tak layak santap.
Lha kok mahal? Hukum ekonomi berlaku, pesediaan sedikit permintaan banyak. Satu perternakan biasa-biasa saja di Kobe sana paling hanya memelihara 5 ekor sapi, peternakan besar paling hanya 15 sampai 20 sapi. Alasan lain, perawatannya. Makanannya hanya makanan yang terbaik untuk sapi, dan setiap musim panas diberi minum bir yang katanya untuk menambah nafsu makan sapi dan membuat daging jadi empuk. Tambahan lagi, pijetan! Lha yang namanya sapi di Jepang yang lahan pertaniannya sempit, sapi begini ya ndak dilepas begitu saja, dikandangi. Namanya ndak pernah olah raga, otot-otot sapi bisa pegal-pegal dan terapinya ya harus dipijet dan dielus-elus dengan sikat khusus, setelah sebelumnya badan sapi itu diguyur sake. Pokoknya ini sapi diperlakukan seperti anak manja, agar dagingnya nanti empuk, enak dan cepat besar. Mungkin peternak di Kobe itu sambil ngelus-ngelus Sapi Kobenya lantas berharap ... "cepet besar ya ... supaya cepat dipotong"
Bentuk sapinya seperti apa sih? Begitu tanya Ibu Ely dan blanthik dari Jakarta. Ya ... sapi! bentuknya begitu-begitu saja, dalam dunia ilmiah juga digolongkan sama dengan sapi lainnya, hewan menyusui dari bangsa Artiodactyla, keluarga Bovidae, marga Bos dan jenis taurus, bernama latin lengkap Bos taurus. Satu marga dengan Banteng Bos sondaicus. Jadi kalau sampeyan memanggil atasan sampeyan dengan sebutan Bos ... mbok ya jangan to ... atasan kok di sapi sapi sih?
Tidak ada yang ganjil dari Sapi Kobe, hanya cara perawatan pra-jagalnya saja yang ndak umum. Bentuknya samalah dengan sapi di sini, kukunya juga genap, ndak ganjil kayak kuku kuda. Jadi ingat jaman sekolah menengah, pembagian hewan ternak berdasarkan kuku itu tadi, hewan berkuku genap dan hewan berkuku ganjil. Saya ndak masuk dua-duanya ... saya itu masuk golongan orang berwajah ganjil.
Ralat: Salah ... salah ... harga dagingnya 11 ribu Yen per setengah kilo bukan 110 ribu ... terimakasih buat Tifoso.
HHari Kamis kemarin saya resmi memasuki masa turne (turu mrono mrene), keliling dari kantor ke kantor seperti penilik sekolah. Lha ... masa-masa paling awal dari musim turne kali ini dimulai dengan kejadian mendebarkan dan bakat ndobos saya terbukti berguna banyak. Sampeyan masih ingat kan kalau saya itu punya sifat lali - pelupa yang agak-agak parah? Naaah, semua dimulai dari situ. Begini kisahnya.
Penerbangan pertama, Tokyo - Singapura, jam berangkat 11:30 waktu Tokyo. Halaaaah, ini artinya saya ndak bisa berangkat dari rumah, bisa kesiangan sampai di Bandara Narita. Ya sudah, tidur di hotel saja di Tokyo, cari yang dekat stasiun kereta api di Shinjuku. Penyakit insomnia saya masih belum sembuh, seperti biasa baru bisa tidur setelah lewat jam 3 pagi. Berhubung saya tidak membawa jam kesayangan penggugah tidur, saya pasang alarm yang ada di HP saja, jam 6:30 agar tak terlambat untuk naik kereta jam 7 pagi dari Shinjuku. Alarm terpasang, tidur lelap.
Kali itu saya bangun paginya sueeeger pol, lebih dulu dari alarm! Lho hebat ini. Akan tetapi...kok di luar terang sekali ya? Lho, jam tangan saya menunjukan pukul 8:30 kurang sedikit??? ... he!!!! Lha kok?!! Lupa ... terakhir kali jam di HP itu di set untuk Waktu Indonesia Bagian Barat dan jam 6:30 WIB itu sama dengan jam 8:30 waktu Tokyo. Sudah, ndak pake mandi langsung ngacir ke stasiun. Tiba bermandi keringat hanya untuk kecewa, karena kereta berikutnya baru ada jam 9:40 dan tiba di Narita jam 10:57, padagal itu counter chek-in tutup setengah jam sebelum jadwal keberangkatan pesawat, lha dari stasiun kereta ke counter masih agak jauh, bakal ketinggalan pesawat ini. Sudahlah, tak ada pilihan, saya akan coba menghubungi perusahaan penerbangan itu saja dari kereta.
Saya lantas menelpon ke perusahaan penerbangan itu di Narita. Suara merdu menjawab, dan dengan sopan mereka bilang saya tidak akan bisa berangkat, kalau mau pakai penerbangan berikutnya saja yang jam 7-an malam. Lha, ndak bisa, karena penerbangan koneksi saya berikutnya itu jam 9 waktu Singapura, dan tiket yang dari Singapura itu ndak bisa diganti waktunya (murah sih!). Pemecahannya, ganti penerbangan yang dari Tokyo dan beli tiket baru untuk yang dari Singapura. Hajinguk, beli lagi!!! Mulailah perundingan yang tampaknya sia-sia itu dilakukan, hingga akhirnya sang suara merdu menang, saya harus mengambil penerbangan berikutnya dan ganti tiket yang dari Singapura, titik. Saya mulai menyerah, opsi itu saya ambil dan suara merdu meminta nama saya untuk pembelian tiket sambungan dari Singapura. nama diberikan dan rincian lain juga termasuk kartu keanggotaan penerbangan itu.
Tiba-tiba ... suara merdu bertanya "Are you a gold member?" saya jawab "Yes I am, dan sudah lama", ujug-ujug ada kosa kata baru yang keluar dari suara merdu ketika memanggil saya ... MISTER dan SIR ... lantas diikuti dengan nama lengkap saya. Begini katanya "Mister Mbilung, kalau tuan bisa tiba di counter sebelum pintu pesawat ditutup, kami masih bisa memasukan tuan ke penerbangan ini Sir". Ooo begitu?? ... hokeh. Tiba di Narita tepat jam 10:57, sampai di dekat counter sekitar jam 11:10-an, dua puluh menit sebelum jadwal keberangkatan. Jahil ... saya ndak langsung ke counter, tapi saya tunggu dulu, betul nggak janji mereka.
Lenggang kangkung saya ke counter jam 11:15, ho ho ho ... ada panitia penyambutan, koper, tiket dan passport saya langsung diambil, dan salah satu petugas berkata, "Mister Mbilung, anda ternyata sudah melakukan check-in online Sir, tetapi bangku yang anda pilih sudah kami berikan ke penumpang lain dalam daftar standby". Muka kecewa saya langsung terpampang jelas dan ndobos kalau saya kecewa .... "Begini saja Mister Mbilung, kami masih ada bangku kosong, kalau tuan berkenan, kami bisa pindahkan anda Sir". Saya mengangguk, masih dengan tampang kecewa. Boarding pass diberikan, daaaaaan...boarding pass itu tidak dengan warna seperti biasanya .... baca ... haiyaaaaaaa .... kelas bisnis!!! sumringah langsung keluar tapi tampang datar dipaksa untuk dipasang. Begitulah, dengan diantar oleh seorang mbak manis kami berlari menuju pintu keberangkatan, imigrasi lancar dan cangkingan tidak lagi diperiksa. Duduk manis di kursi lebar dan minuman, handuk hangat serta senyum manis menyambut kedatangan Sir Mbilung.
Sudah selesai ndobosnya? belum. Saya langsung memanggil salah satu awak kabin dan bertanya "apa nomer registrasi pesawat ini" (saya memang hobi nyatet begini), kebingungan di wajah awak kabin berbaju ketat banget itu langsung saya timpali "saya suka mencatat semua detail penerbangan saya untuk diceritakan". "Ah I see, you are a writer, right Sir?", mengangguk sayanya, dan saya ndak bohong ... kan saya sering nulis buat blog saya ini.
Penerbangan agak panjang itu kemudian diisi dengan limpahan makanan, minuman dan senyuman, yang setiap akan dihidangkan selalu diawali dengan pertanyaan, "Mister Mbilung ... bade kersa ngunjuk lan dahar?" Selalu dijawab dengan anggukan ... "kopi Mbak!" ... "Sendiko dawuh Mister Mbilung, ini daftar jenis kopi yang tersedia Sir". Bingung sayanya, lha wong namanya aneh-aneh je, mana kopi tubruk ndak ada di daftar ... "what do you recommend?" ini jawaban tipikal saya buat ngeles kalau bingung. Pertanyaan-pertanyaan kecil dari para awak kabin lantas rajin datang, seperti "sering bepergian? sudah ke mana saja? memakai penerbangan apa saja?, dll", semua bisa saya jawab dengan baik, tanpa harus "berbohong" ... betul, saya ndak bohong saya hanya economical with the truth.
Begitulah sodara-sodara ... tampaknya saya harus ganti nama menjadi Sir Mbilung Lord of Ndobos ... sampeyan setuju?
Saya ndak ndobos kali ini. Saya tercengang, tersentuh dan capek saya hilang. Berawal dari baca-baca gombalnya Pakde Tyo di bagian BERBAGI itu, ada tulisan MENYENTUH, apa lagi ini ... ngawuran seru mana lagi ini, begitu pikir saya. Sudah, klik saja.
Jreng ... tercengang, tersentuh dan capek hilang itu tadi. Tak usahlah saya lantas membahas apa-apa yang ada di dalamnya, ada Indonesia di situ, sampeyan lihat saja sendiri. Menurut saya, ini wajib baca dan saya hanya mau bilang begitu.
Soal bersolek, mempercantik diri, dalam dunia manusia umumnya dilakukan perempuan. Sebentar ... umum?? apa maksud saudara?? Apa kalau laki-laki yang berdandan lantas boleh disebut laki-laki tidak umum!!! Ayo jelaskan ... Baiklah, begini, hmmmm, yang saya maksud umum itu lebih banyak perempuan berdandan dibandingkan dengan lelaki berdandan. Ah ... ndobos, mana bukti statistiknya. Lha ndak punya saya, dan benar itu saya ndobos dan menurut saya ndobos itu ya ndak perlu pake statistik, lha wong waton njeplak kok. Lagi pula dalam dunia burung, yang berkelamin jantan itu lebih cantik lho, saya ndak asal ndobos kalau soal burung jantan ini. Begini kisahnya ....
Pada banyak jenis burung ada perbedaan penampakan antara yang jantan dan yang betina, istilah enggresnya sexual dimorphism atau kalau diterjemahkan bebas menjadi perbedaan wujud antar jenis kelamin (mbundet yak?). Pada jenis burung yang begini ini, yang jantan biasanya lebih kinclong warna bulunya dibandingkan dengan yang betinanya. Contoh paling gampang ya ayam. Tengok ayam jantan itu...wih warna-warni bulunya, sementara yang betina ... haiyaaah ... mbok nyalon?!! Contoh lain, Cendrawasih ... lihat yang jantan, aduuuuuh coklat, biru, kuning, hitam, merah, pokoknya ck ck geleng-geleng. Lha yang betina ... sudahlah. Tambahan lagi, yang Cendrawasih jantan, penari ulung, lha yang betina ... hanya terkagum-kagum saja. Contoh lain lagi? Merak ... apa iya lantas Merak betina diuber-uber pengrajin reog buat dicabuti bulunya?
Lha kok bisa, kok terbalik dengan dunia manusia ... sebenarnya tidak terbalik, sama saja. Coba saja orang sak kampung disuruh melepaskan semua pakaiannya (in the name of science, biar ndak dituduh macem-macem), hilangkan semua dandanan. Kita bisa melihat perbedaan itu. Umumnya (umumnya lagi), yang laki-laki lebih berotot, garisnya lebih tegas, sementara yang perempuan lebih lembut. Lha dalam dunia burung ketegasan tadi ditunjukan dengan warna. Karena itu warna bulu burung jantan lebih berbinar-binar, untuk menunjukan kepada para betina "ini lho saya gagah, saya bisa memberimu keturunan unggul" atau kalau burungnya pakai menari "lihat tarianku, lebih komplit, lebih bertenaga, turunan unggul yang bisa kamu dapatkan". Lha kan manusia pakai baju? Makanya lantas "perhiasan" pada manusia laki-laki menjadi agak berbeda dengan burung jantan dan bentuknya macam-macam, mulai dari sekedar otot yang tak tertutup baju, baju yang bagus untuk menutupi otot tak layak pandang, hingga simbol-simbol kemapanan yang melekat pada sosoknya dan tatapannya berkata "ini lho saya yang bisa melindungimu dan memberi kepastian masa depanmu dan anak-anak kita nanti" Insting hewani itu, seberapa kecilnyapun, masih ada pada manusia.
Makin muda umur manusianya, penilaian pada ciri-ciri fisik lawan jenisnya makin dominan. Ingat ndak sampeyan (yang laki-laki), waktu kecil dulu apa cita-citanya kalu sudah besar nanti? Biasanya bercita-cita menjadi seseorang yang terlihat gagah di mata sampeyan. Kalau yang perempuan, dulu itu (sekarang juga masih kali ya) maunya dapat pasangan yang seperti apa? Saya jadi ingat anekdot kasar sarat "pelecehan" gender yang begini isinya, seorang perempuan itu mulanya berpikir siapa saya ... saya yang paling ciamik, ndak ada yang mau dilirik. Lantas besar sedikit berubah menjadi siapa dia (bisa juga, siapa ya dia?) ... kasarnya punya apa dia. Masih ndak dapet juga ... berubah lagi menjadi siapa saja. Stop!!! dari pada saya disawat sandal sama istri, saya stop saja soal manusia sampai di sini ... karena dulu itu kalau dipakai dua level awal penilaian memilih jodoh, saya sudah tersisih sejak awal.
Kembali ke burung, tak ada Cendrawasih betina yang mau dikawini oleh jantan tak berbulu terawat dan tak pandai menari. Karena itu, burung jantan akan menghabiskan banyak sekali energinya untuk merawat bulu, berlatih menari, dan pada musim kawin nanti siap beraksi dengan dandanan dan tarian terbaik. Ini lho saya, yang akan meberikanmu turunan terbaik seperti impianmu (hewan punya mimpi ndak ya?).
Lha, pertanyaan buat sampeyan ... "burungnya" burung diberi julukan apa ya? apa ada toh dalam bahasa burung kalimat yang berbunyi "iiih manusia kamu kelihatan tuh, malu dong!