Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Tahapan turne (turu mrono mrene) yang "menyenangkan" di Indonesia habis hari ini, perjalanan harus diteruskan. Persiapan pekerjaan di tempat berikutnya nyaris sudah selesai semua ... yang namanya nyaris ya belum beres semua. Tidak apa-apa, toh saya akan singgah agak lama di Singapura, dan perjalanan berikutnya, Singapura - London, akan memakan waktu yang lama dan pekerjaan yang masih tersisa tampaknya akan bisa diselesaikan. Saya memang memiliki "kelebihan" tidak bisa tidur di pesawat. Sudah terbayang saya praktis akan bekerja di dalam pesawat dan di dalam kereta api dari London King's Cross ke Cambridge.
Saya sendiri sering gumun - heran, kenapa selalu begini, pentalitan di saat-saat akhir. Sangat Indonesia? mungkin juga. Istilah halusnya saya terinspirasi oleh legenda Sangkuriang dan Roro Jonggrang, hanya saja dalam legenda itu pekerjaan yang harus dikebut semalam toh gagal selesai. Ah ... itukan karena akal-akalannya Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang saja, kalau mereka "tidak curang" selesai itu pekerjaan. Atau, saya memang butuh tekanan seperti ini? Tekanan yang membuat adrenalin terpompa hebat. Ndak tahu juga sayanya, karena sejak dari mahasiswa di perguruan tinggi dengan sistem SKS itu saya ya biasa pentalitan begini juga. Toh SKS itu bisa juga diartikan sebagai Sistem Kebut Semalam atau Sistem Kerja Sangkuriang.
Kebiasaan buruk? Bisa jadi. Kalau saja pekerjaan-pekerjaan itu dengan rajin dikerjakan sejak jauh-jauh hari tentunya ya tidak perlu pecicilan di akhir. Lha menurut sampeyan bagaimana? ngebut semalam atau alon-alon dari awal?
Ada sebuah tembang dolanan anak-anak (Jawa) dari masa kecil dulu yang dinyanyikan pada saat terang bulan yang lamat-lamat masih saya ingat. Penggalan lagu itu berbunyi begini :
"... ono manuk onde-onde mbok sribombok mbok srikate ..."
Ada tiga jenis burung dalam lagu itu ... manuk onde-onde, sribombok dan srikate. Sribombok saya tahu burungnya, itu burung air dengan berbagai nama. Ada yang menyebutnya sebagai ruak-ruak, kareo-padi, white-breated waterhen atau dalam bahasa latin disebut Amaurornis phoenicurus. Srikate tampaknya mengacu pada ayam hutan (Gallus gallus atau Gallus varius tergantung daerahnya). Lha ... manuk onde-onde ini apa?
Haiyaaah ... anak-anak kok diseriusi. Dulu juga saya berpikir begitu, tetapi pengalaman mengajarkan bahwa anak-anak adalah sumber yang paling bisa dipercaya kalau berurusan dengan hewan. Sudah tak terhitung berapa kali saya diberi tahu anak-anak ke mana saya harus pergi untuk menemukan burung.
Beberapa tahun yang lalu anak saya yang paling kecil pernah bilang ... "Pak ... itu ada sikep-madu". Awalnya saya kira dia guyon saja, lha pada waktu itu belum musimnya burung sikep-madu (sejenis elang) untuk datang ke Indonesia kok. Tapi dia ngotot, kalau dia melihat burung itu. Untuk menyenangkan hatinya saya lantas "bersedia" menengok ke langit ... beberapa ekor sikep-madu sedang melayang dengan anggunnya. Entah apakah sekarang masih ada anak-anak kecil berteriak "terik tempeee ... terik tempe" jika melihat rombongan elang yang sedang bermigrasi.
Musim migrasi elang tampaknya sudah dimulai, saya jadi agak rajin menengok ke langit, sambil berpikir ... manuk onde-onde itu apa ya? Sampeyan ada yang tahu?
Kang Mas Pecas menulis tentang sebuah papan iklan yang memuat ungkapan kemarahan seorang istri terhadap suaminya di sini. Ya ya ya ... tetapi rasanya cara begitu kok mahal ya? Apa ada cara lain yang lebih murah? Yang modalnya tak terlampau besar begitu, kalau bisa malah memberikan pemasukan uang yang lumayan dan mungkin juga malah bisa untung. Lho ... apa ada cara yang seperti itu? Begini, istri saya yang tercinta itu punya sebuah baju kaos seperti gambar di samping ini, pemberian seorang teman.
Sebagai sebuah iklan, tentu saja harus disebutkan kelebihan barang jualannya. Tengok saja, "original owner, all paper work included, must sell ..." lha, ini artinya surat-suratnya komplit dan yang penting bisa langsung tawar menawar dengan pemilik aslinya tanpa harus lewat calo dengan harga bersaing karena sang pemilik menjualnya kepepet. "Body in excellent condition (rarely used, never driven hard), low mileage", kurang apa lagi coba ... barang nyaris baru ini. Hanya saja sebagai penjual yang jujur, kekurangan barang dagangan juga harus diungkapkan agar tak ada keluhan dari pembeli di belakang hari nanti, maka hal seperi ini harus ditulis "not an economy model!!!, needs tune up & lubrication". Lantas soal syarat jual beli? Tak perlu njelimet, bayar dan langsung ambil. Kaos yang manis ...
Sebagai sebuah barang, kaos juga perlu dirawat. Cara perawatan dicantumkan pada secarik kain kecil di dalam baju yang berisi petunjuk lengkap perawatan, seperti ... jangan dikelantang, tulisan di baju jangan disetrika, jangan menggunakan klorin, lantas pada baris terakhir ... do not covet thy neighbor's husband.
Apa sampeyan ada yang berminat membeli? .... kaosnya saja? Paling tidak bisa membuat hati saya tentram kalau kaos itu tak ada lagi di lemari. Saya sendiri berniat menyimpan petunjuk cara perawatannya.
Tidak! Kami ... saya, dia dan dia tidak akan -atau bisa juga belum akan- membuat cring bersama. Pemampangan tulisan dua baris dan gambar yang disebut oleh Paman Tyo sebagai "copy and paste. sangat zamroni!" kemarin itu, tidak berarti bakal ada penggabungan tiga cring rusuh. Lagipula, apa menariknya kalau ketiga cring itu lantas digabung? "lord of the blog, one blog to rule them all..." seperti yang ditulis oleh Mas Gandrik buat saya adalah gambaran masa depan yang mengerikan, karena keragaman itu indah dan sebaiknya dipelihara seperti apa adanya.
Kang Mas Pecas sudah menulis tentang pertemuan kami bertiga dengan Lik Zamroni di sini, jadi tak usahlah diulang ceritanya. "Kompor" seperti yang ditulis oleh Mas Hedi sebagai jawaban bisa memberikan gambaran upaya yang kami lakukan. Akan tetapi, seberapapun kerasnya kami "mengompori" Lik Zamroni, jika yang bersangkutan ndak berminat ... ya ndak bakal ada sebuah cring berjudul "bencana? siapa takut!" yang dibikin oleh Lik Zamroni sekeluarga itu. Sehingga, semua sanjungan, atau caci maki, atas munculnya cring baru tersebut ... hanya Lik Zamroni dan sekeluargalah yang pantas menerimanya.
Kecemasan, keprihatinan atau kekhawatirannya Jalansutera, Mariskova, Mbak Rara dan Mbak April jika ditempatkan dalam kaitannya dengan penggabungan tiga cring yang gombal, ndobos dan bikin kepala pecah, tidak akan terjadi (atau belum?). Hanya saja, apakah nanti dunia cring Indonesia bakal kacau, negara bakal hancur, kiamat sudah dekat, bakal ada hantu pocong dan Marisa jadi trauma gara-gara cringnya Lik Zamroni itu, masih terlalu dini untuk diperkirakan.
Begitulah sodara-sodara sekalian, marilah kita sambut kedatangan Lik Zamroni dengan bencananya.
Sering kali saya misuh-misuh di jalan tol tanpa tangan teracung-acung, hanya bibir saja yang teracung-acung. Apa pasal? lha saya itu disalip dari kiri. Kalau saya sedang mengemudi di jalur tengah, disalip dari kiri begitu saya masih bisa menahan pisuhan karena hal itu terjadi mungkin juga karena saya lalai mengemudi terlalu lamban, akan tetapi jika saya sudah ada di jalur paling kiri masih juga disalip dari kiri lain perkara ini namanya. Itu jalur yang dipakai nyalip kan bahu jalan yang katanya hanya boleh dipakai dalam keadaan darurat. Kedaruratan apa gerangan sehingga mobil penyalip itu "terpaksa" mendahului saya dari sebelah kiri? Kebelet pipis? lha kok ndak berhenti?
Biasanya lagi (kali ini saya nuduh, buktinya hanya empiris) mobil yang "ngawur" begitu adalah mobil-mobil bermerk ternama dan bertenaga besar. Saya yang berharap disusul dari kanan tentu saja terkaget-kaget karena ada barang melaju kencang di sebelah kiri. Lha wong namanya latah, kalau kaget ya sayanya misuh. Tetapi yang bikin saya lebih kesal lagi, menyalip lewat bahu jalan itu berbahaya. Ndobos? Ndak ... saya kehilangan Paklik, Bulik dan saudara sepupu karena bus yang mereka tumpangi saat itu melaju di bahu jalan dan menabrak truk yang sedang berhenti hingga terbakar ... banyak penumpangnya yang nyawanya terbuang percumah karena kelakuan sang pengemudi. Sudahlah, melaju di bahu jalan itu berbahaya, membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Sebuah gerakan yang diprakarsai oleh Andrianto untuk tidak menggunakan bahu jalan tentu saja layak untuk saya dukung. Maka saya dengan senang hati akan memajang gambar gerakan tersebut pada blog saya. Mudah-mudahan pisuhan saya bisa berkurang frekuensinya dan yang paling penting tak ada lagi pengemudi mbeling yang membahayakan orang lain model begini.
Apa ada gerakan seperti ini untuk yang suka membuang sampah lewat jendela mobil? Tindakan itu mungkin "tidak berbahaya" tetapi buat saya rasanya kok nggilani ya?!
Pertama-tama harus ikut bersimpati sama yang punya warung, yang tampangnya ke gadrik-gandrik-an itu, karena tempatnya berdagang dijadikan arena berkumpulnya para penulis gila. Kali ini para penulis ngumpulnya tidak lagi di rumahnya sendok ... pindah, karena tempat ngumpul lama itu pasti sudah nutup warungnya begitu baca pengumuman soal kumpul-kumpul ini. Pada awalnya pemilik warung tempat ngumpul kali ini mungkin bergirang hati ... waaaah banyak yang datang, dan kayaknya bertampang rakus. Makanya ... jangan melihat calon pelanggan warung dari wajahnya, mbok ya lihat dari dompetnya.
Kali ini waktu pertemuan lebih singkat (betul begitu?), tetapi kerugian yang diderita pemilik warung tampaknya lebih besar dari pertemuan pertama. Namanya juga warung pizza ... martabak Italia itu, lha kok ndak ada yang pesen pizza sama sekali. Malah pada pesen swiwi (sayap ayam) goreng, mie tanpa kuah, air mineral dan minuman berjudul aneh yang diberi keterangan "menyegarkan mulut, membuka mata". Saya pesan minuman itu saja ... tentunya ini yang keluar bakal odol kecut. Saya perlu sajian itu, lha namanya adu abab perlu penyegar mulut dan mata juga harus tetap awas untuk melihat gelagat kalau-kalau ada yang berniat aniaya. Untuk makanan? ya saya ndak pesen pizza juga, lha wong nyari pizza yang toppingnya gudeg atau tongseng ndak ada je.
Warung ini punya seragam karyawan yang ndak umum, lha orang kok dipakein balon diplintir? Sangking terpesonanya saya sampai lupa motret Mbak Balon itu. Mungkin itu salah satu upaya untuk membantu meringankan tubuh sang karyawan yang bertugas membawa nampan-nampan minuman dan makanan pesanan yang kayaknya berat. Tampaknya berhasil, karena itu Mbak-Mbak berbalon jalannya jinjit. Kalau gasnya kebanyakan mestinya ndak napak lantai itu.
Pertemuannya sendiri berlangsung meriah, walaupun kata-kata terlalu meriah juga boleh digunakan. Malah ada rencana buat nyanyi selamat ulang tahun, siapa tahu dapat kueh gratis. Juga ada acara "foto bersama artis" yang berkali-kali harus diulang karena yang motret ndak kuat menahan geli melihat wajah artisnya yang memang nggilani. Ada pula kegiatan sibuk mencatat kata-kata asing di atas serbet kertas. Dinda yang bukan Jawa itu tentu senang karena sekarang sudah bisa pesan sego rawon - nasi rawon, makanan kesukaannya itu dalam Bahasa Jawa ... "Kulo bade pesen segawon mawon", begitu Dinda berkali-kali melatih ucapan itu. Atau berlatih bagaimana menjawab dengan sopan rayuan yang dilontarkan Kang Mas Pecas ... "Lambemu cooook" ... Mbak Atta memang guru yang sabar dan pintar.
Entah bagaimana Mas Jumadi juga lantas beroleh nama baru yang gagah dan panjang ... Teguh Didi Jumadi dan tentu saja dia dengan antusias menyambut tawaran untuk berkumpul di buderan HI bersama-sama Mas Bahtiar dan kawan-kawannya. Tak lupa diingatkan agar Mas Jumadi membawa sempak - celana berenang, dalam acara kumpul-kumpul di buderan HI nanti, siapa tahu mau sekalian berenang. Siapa bilang hanya badut Ancol saja yang dengan senang hati mau diajak foto bersama, Mas Jumadi juga mau, walaupun harus dibayar dengan belaian. Membelai Jumadi tampaknya memang tidak berbahaya, tetapi Mbak Rara sudah disarankan agar mensuci hamakan tangannya dengan karbol begitu tiba di rumah serta meminum antibiotik berspektrum luas untuk bejaga-jaga.
Lantas, siapa saja sih yang datang dan foto-foto pertemuannya mana? tengok sajalah di sini untuk melihat daftar peserta beserta blog mereka, sementara untuk foto di sinilah tempatnya. Saya hanya ingin memajang satu foto saja yang saya beri judul Gandrik's Angels.
Kemarin itu ndak majang tulisan di blog ini. Dua alasan saja ... satu, blogdrive lagi njengking - ada masalah dengan sistemnya dan dua, karena saya ketiban gori (nangka). Blogdrive bilang begini :
We've experienced some complications regarding hardware during a necessary system upgrade. We are working very hard to get things back on line. We will have the system restored soon. There has been no data loss. We will give more details about the problems that occurred after we have things up and running. Thank you for your patience in this matter.
Soal macet-macet begini mau bilang apa? namanya juga blog gratisan, walaupun kemacetan begini mungkin juga dialami oleh yang tidak gratisan.
Soal ketiban nangka itu ya memang resiko nginternet di bawah pohon nangka yang buahnya sudah ting nggranthil siap gogrok.
Minggu kemarin itu saya menghadiri mantenan keponakan perempuan saya yang paling besar. "Pakde...pokoknya kakak nggak mau tahu, De harus pulang kalo kakak nikah!" Namanya juga keponakan jaman sekarang, ndak dituruti bisa diprenguti berabad-abad sayanya. Maka sayapun mematuhinya. Tidak ada yang aneh dari perhelatan pernikahan dengan adat Betawi itu, saya sangat menikmati pertunjukan "buka palang pintu" yang dipenuhi adu pantun dan pencak silat. Malah yang adu silat, sangking semangatnya hampir nibani meja penuh minuman untuk suguhan tamu. Meja selamat, minuman juga selamat, hanya pesilatnya harus mendarat di lantai beton.
Kakak Ina, begitu saya memanggil ponakan centil satu itu, sudah menikah! Kalau kakak dan suaminya "bekerja cepat", dalam waktu yang relatif tak lama lagi saya akan mendapat julukan baru .... "Eyang Mbilung". Sebuah prospek yang ditanggapi sebagai hal yang "menakutkan" bagi beberapa saudara sepupu. Saya sendiri? takut? justru sebaliknya, saya sangat senang dan berharap semoga kakak dan suaminya lekas berhasil memperoleh putra atau putri ... atau dua-duanya saja sekaligus kalau bisa.
Banyak dari Bude, dan Bulik saya yang emoh dipanggil eyang oleh anak-anak saya. "Panggil Tante saja ya...", maka demi menghormati maunya orang yang lebih tua itu, anak-anak saya lantas memanggil mereka dengan sebutan Tante. Konsekuensi logisnya, mulai saat itu sayapun jadi "kurang ajar" dengan memanggil mereka tanpa embel-embel Tante, Bulik atau Bude, langsung nama kecil mereka saja. "Eni mana? Tiek kok Bakat (nama suaminya) ndak diajak sih? Mi ... kopiku mana?"
Kalau anak-anak saya lantas dibanjiri hadiah dengan menurunkan tingkat penyebutan dari Eyang ke Tante, maka buat saya yang ikut-ikutan menurunkan tingkat penyebutan juga dibanjiri hadiah ... dikeplak. Ah ... saya memang masih sulit untuk memahami apa maunya mereka-mereka itu. Yaaah sudahlah, mudah-mudahan kakak segera punya momongan, dan saya ingin tahu juga, minta dipanggil apa mereka nanti oleh anaknya kakak. Walaupun saya kok yakin mereka bakal ogah dipanggil Yangyut (eyang buyut).
"Eyang Mbilung, nomer buntut yang keluar besok apa ya?" ... dasar bocah ... kalo tahu besok keluarnya apa, saya udah masang duluan. He he he ... Eyang Mbilung.