Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Tadi malam terang bulan. Duduk sendirian di balkon kamar dengan segelas kopi. Tiba-tiba ingat masa kecil, lantas nembang dolanan ... spontan begitu saja. Kapan terakhir kali sampeyan nembang dolanan?
Lir ilir, lir ilir Tandure wis sumilir Tak ijo royo-royo Tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon Penekno blimbing kuwi Lunyu-lunyu penekno Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro, dodotiro Kumitir bedah ing pinggir Dondomono jrumatono Kanggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane yo sorak o sorak horeeeeee
Jreeeeng ... pagi ini seorang kawan berbaik hati mengirimkan saya sebuah lagu yang sudah lama saya cari-cari. Lagu agak jadul yang dinyanyikan Hari Mukti.
Hanya satu kata Tiada sempat terucap Walau kita berjumpa Dan saling menyapa
Hanya satu kata Kembali karam di hati Walau sering bicara Sampai lupa waktu
Dimana ku harus mencari Sebuah kata yang hilang Saat denganmu
Bukan banyak kata Ketika ingin bicara Tentang bara di dada Cukup satu kata
Jangan kau ragu dan membisu Ungkapkan saja isi hatimu
Lewat satu kata Ketika ingin bicara Tentang bara di dada Cukup satu kata
Menurut sampeyan satu kata itu apa? Buat saya ... "maaf". Selamat berakhir pekan sederek sedoyo ...
Sampai di kantor langsung nyambung ke Intranet kantor untuk mengosongkan kotak pesan elektronik yang penuh dengan pesan-pesan ndak penting, seperti undangan acara pesta bakar-bakaran (barbeque) musim panasnya kelompok vegetarian di kantor, yang biasanya bermenu jamur yang diselang-seling leek dan paprika, dengan catatan buat yang bukan vegetarian tersedia panggangan terpisah dan dagingnya bawa sendiri. Juga ada tentang pertandingan kriket melawan kantor tetangga, acara piknik di pinggir kali, acara dayung-dayung sampan, ajakan main bola, sampai jualan barang bekas.
Ada satu pemberitahuan yang buat saya sangat khas Inggris (mungkin juga di negara lain). Di Indonesia, kalau sampeyan ulang tahun, biasanya siap-siap tombok, dipalaki teman. Kalau sampeyan artis bisa saja acara ulang tahunnya malah ada yang bakal mensponsori. Di Inggris, ulang tahun ndak berarti nombok, karena kalaupun ada pestanya di rumah makan misalnya, biasanya pada bayar sendiri-sendiri. Pengumuman yang saya dapat soal ulang tahun ke-50 tiga orang teman sekantor, malah dijual. Pemberitahuan itu, kalau diterjemahkan bunyinya begini :
Setelah tanya-tanya, katanya ulang tahunnya itu bakal pakai band segala. Entahlah, saya bakal datang atau tidak. Mungkin kalau bandnya bisa membawakan lagu SMS atau Manuk Cucakrowo, dan lantas ada jogetan dangdutnya saya tertarik juga.
Penerbangan panjang (hampir 13 jam), penuh sesak - tak ada bangku kosong, tiba pada jam sibuk (antrian di imigrasi panjang sekali), bikin capek tambah capek. Tertolong dengan keramahan Iris sang pramugari dengan paracetamolnya untuk sakit kepala saya, keramahan sang petugas imigrasi dan udara London yang hangat. Pekerjaan selanjutnya adalah mengambil barang di baggage carrousel-conveyor belt-ubeng-ubengan koper, sebuah pekerjaan yang sering mengundang senyum. Tengok saja itu ada orang yang badannya sebesar gardu ronda, terseret-seret kopernya sendiri yang maha berat atau ekspresi kecemasan yang beragam bentuknya. Aaah ... itu koper kecil saya datang. Lho kok hancur begini?
Koper itu keluar dalam keadaan rusak, rodanya juga hilang satu. Ngadu aaaaah ... "Bang ... rusak nih koper saya" sambil menunjukan bagian bawah koper yang hancur. "Hmmm...tiket, boarding pass dan kupon bagasinya bisa saya lihat?", lantas saya diminta menunggu sejenak. Benar-benar sejenak, karena tak lama sang petugas datang dengan membawa empat koper yang bentuknya mirip dengan koper saya yang rusak itu. "Pilih salah satu buat mengganti koper yang rusak itu, isi formulir ini dan tanda tangan tangan di sini". Proses penggantian dari mulai ngadu, hingga saya jongkok siap-siap membuka koper lama untuk dipindahkan isinya ke tempat baru, kurang dari 10 menit!
Keluar, lantas beli tiket bus ke Cambridge. Sambil bisik-bisik, Mbak penjual tiket itu bilang "psssst...itu di muka kamu ada potongan kertas". Lha ... bekas stiker bagasi, sebesar jempol .... kok bisa nempel di muka saya ya?
Terkoneksi dengan internet nyaris 24 jam terkadang menjadi salah satu tuntutan kerja saya, ndak peduli di kantor atau di rumah (di Tokyo dan di Cambridge), kalau kebagian giliran ronda ya pokoknya kudu nyambung. Agar tak terus menerus terpaku di kursi, saya lantas memasang peralatan sambungan tanpa kabel (wireless) sehingga laptop bisa dicangking ke dapur atau ke kamar.
Malangnya diriku? tadinya saya pikir begitu, sampai saya dapat kiriman foto dari Yu Joem blanthik sapi itu kemarin sore yang membuat saya sangat bergirang hati.
Selamat njengking Mbakyu, atau Mas?... tanyakanlah pada Yu Joem.
Tahapan turne (turu mrono mrene) yang "menyenangkan" di Indonesia habis hari ini, perjalanan harus diteruskan. Persiapan pekerjaan di tempat berikutnya nyaris sudah selesai semua ... yang namanya nyaris ya belum beres semua. Tidak apa-apa, toh saya akan singgah agak lama di Singapura, dan perjalanan berikutnya, Singapura - London, akan memakan waktu yang lama dan pekerjaan yang masih tersisa tampaknya akan bisa diselesaikan. Saya memang memiliki "kelebihan" tidak bisa tidur di pesawat. Sudah terbayang saya praktis akan bekerja di dalam pesawat dan di dalam kereta api dari London King's Cross ke Cambridge.
Saya sendiri sering gumun - heran, kenapa selalu begini, pentalitan di saat-saat akhir. Sangat Indonesia? mungkin juga. Istilah halusnya saya terinspirasi oleh legenda Sangkuriang dan Roro Jonggrang, hanya saja dalam legenda itu pekerjaan yang harus dikebut semalam toh gagal selesai. Ah ... itukan karena akal-akalannya Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang saja, kalau mereka "tidak curang" selesai itu pekerjaan. Atau, saya memang butuh tekanan seperti ini? Tekanan yang membuat adrenalin terpompa hebat. Ndak tahu juga sayanya, karena sejak dari mahasiswa di perguruan tinggi dengan sistem SKS itu saya ya biasa pentalitan begini juga. Toh SKS itu bisa juga diartikan sebagai Sistem Kebut Semalam atau Sistem Kerja Sangkuriang.
Kebiasaan buruk? Bisa jadi. Kalau saja pekerjaan-pekerjaan itu dengan rajin dikerjakan sejak jauh-jauh hari tentunya ya tidak perlu pecicilan di akhir. Lha menurut sampeyan bagaimana? ngebut semalam atau alon-alon dari awal?
Ada sebuah tembang dolanan anak-anak (Jawa) dari masa kecil dulu yang dinyanyikan pada saat terang bulan yang lamat-lamat masih saya ingat. Penggalan lagu itu berbunyi begini :
"... ono manuk onde-onde mbok sribombok mbok srikate ..."
Ada tiga jenis burung dalam lagu itu ... manuk onde-onde, sribombok dan srikate. Sribombok saya tahu burungnya, itu burung air dengan berbagai nama. Ada yang menyebutnya sebagai ruak-ruak, kareo-padi, white-breated waterhen atau dalam bahasa latin disebut Amaurornis phoenicurus. Srikate tampaknya mengacu pada ayam hutan (Gallus gallus atau Gallus varius tergantung daerahnya). Lha ... manuk onde-onde ini apa?
Haiyaaah ... anak-anak kok diseriusi. Dulu juga saya berpikir begitu, tetapi pengalaman mengajarkan bahwa anak-anak adalah sumber yang paling bisa dipercaya kalau berurusan dengan hewan. Sudah tak terhitung berapa kali saya diberi tahu anak-anak ke mana saya harus pergi untuk menemukan burung.
Beberapa tahun yang lalu anak saya yang paling kecil pernah bilang ... "Pak ... itu ada sikep-madu". Awalnya saya kira dia guyon saja, lha pada waktu itu belum musimnya burung sikep-madu (sejenis elang) untuk datang ke Indonesia kok. Tapi dia ngotot, kalau dia melihat burung itu. Untuk menyenangkan hatinya saya lantas "bersedia" menengok ke langit ... beberapa ekor sikep-madu sedang melayang dengan anggunnya. Entah apakah sekarang masih ada anak-anak kecil berteriak "terik tempeee ... terik tempe" jika melihat rombongan elang yang sedang bermigrasi.
Musim migrasi elang tampaknya sudah dimulai, saya jadi agak rajin menengok ke langit, sambil berpikir ... manuk onde-onde itu apa ya? Sampeyan ada yang tahu?
Kang Mas Pecas menulis tentang sebuah papan iklan yang memuat ungkapan kemarahan seorang istri terhadap suaminya di sini. Ya ya ya ... tetapi rasanya cara begitu kok mahal ya? Apa ada cara lain yang lebih murah? Yang modalnya tak terlampau besar begitu, kalau bisa malah memberikan pemasukan uang yang lumayan dan mungkin juga malah bisa untung. Lho ... apa ada cara yang seperti itu? Begini, istri saya yang tercinta itu punya sebuah baju kaos seperti gambar di samping ini, pemberian seorang teman.
Sebagai sebuah iklan, tentu saja harus disebutkan kelebihan barang jualannya. Tengok saja, "original owner, all paper work included, must sell ..." lha, ini artinya surat-suratnya komplit dan yang penting bisa langsung tawar menawar dengan pemilik aslinya tanpa harus lewat calo dengan harga bersaing karena sang pemilik menjualnya kepepet. "Body in excellent condition (rarely used, never driven hard), low mileage", kurang apa lagi coba ... barang nyaris baru ini. Hanya saja sebagai penjual yang jujur, kekurangan barang dagangan juga harus diungkapkan agar tak ada keluhan dari pembeli di belakang hari nanti, maka hal seperi ini harus ditulis "not an economy model!!!, needs tune up & lubrication". Lantas soal syarat jual beli? Tak perlu njelimet, bayar dan langsung ambil. Kaos yang manis ...
Sebagai sebuah barang, kaos juga perlu dirawat. Cara perawatan dicantumkan pada secarik kain kecil di dalam baju yang berisi petunjuk lengkap perawatan, seperti ... jangan dikelantang, tulisan di baju jangan disetrika, jangan menggunakan klorin, lantas pada baris terakhir ... do not covet thy neighbor's husband.
Apa sampeyan ada yang berminat membeli? .... kaosnya saja? Paling tidak bisa membuat hati saya tentram kalau kaos itu tak ada lagi di lemari. Saya sendiri berniat menyimpan petunjuk cara perawatannya.
Tidak! Kami ... saya, dia dan dia tidak akan -atau bisa juga belum akan- membuat cring bersama. Pemampangan tulisan dua baris dan gambar yang disebut oleh Paman Tyo sebagai "copy and paste. sangat zamroni!" kemarin itu, tidak berarti bakal ada penggabungan tiga cring rusuh. Lagipula, apa menariknya kalau ketiga cring itu lantas digabung? "lord of the blog, one blog to rule them all..." seperti yang ditulis oleh Mas Gandrik buat saya adalah gambaran masa depan yang mengerikan, karena keragaman itu indah dan sebaiknya dipelihara seperti apa adanya.
Kang Mas Pecas sudah menulis tentang pertemuan kami bertiga dengan Lik Zamroni di sini, jadi tak usahlah diulang ceritanya. "Kompor" seperti yang ditulis oleh Mas Hedi sebagai jawaban bisa memberikan gambaran upaya yang kami lakukan. Akan tetapi, seberapapun kerasnya kami "mengompori" Lik Zamroni, jika yang bersangkutan ndak berminat ... ya ndak bakal ada sebuah cring berjudul "bencana? siapa takut!" yang dibikin oleh Lik Zamroni sekeluarga itu. Sehingga, semua sanjungan, atau caci maki, atas munculnya cring baru tersebut ... hanya Lik Zamroni dan sekeluargalah yang pantas menerimanya.
Kecemasan, keprihatinan atau kekhawatirannya Jalansutera, Mariskova, Mbak Rara dan Mbak April jika ditempatkan dalam kaitannya dengan penggabungan tiga cring yang gombal, ndobos dan bikin kepala pecah, tidak akan terjadi (atau belum?). Hanya saja, apakah nanti dunia cring Indonesia bakal kacau, negara bakal hancur, kiamat sudah dekat, bakal ada hantu pocong dan Marisa jadi trauma gara-gara cringnya Lik Zamroni itu, masih terlalu dini untuk diperkirakan.
Begitulah sodara-sodara sekalian, marilah kita sambut kedatangan Lik Zamroni dengan bencananya.