Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Acara bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi-nya selesai sudah, lantas terpikir untuk duduk berleha-leha di pinggir kali sambil baca buku.
Berangkat ke kali berbekal buku dan kudapan dan tiba di sana hanya untuk kecewa. Itu pinggiran kali sudah penuh orang. Dari yang mancing sampai yang hanya duduk-duduk ndlongop. Sudahlah ... jalan-jalan saja ke pusat kota.
Idem ... sama ramainya, malah mungkin lebih ramai dari pinggiran kali, sebagian besar turis kayaknya, omongan mereka ndak saya mengerti. Lha...itu rombongan turis Jepang dengan pemimpin rombongan membawa tongkat dengan papan nama bertulisan kanji ... haiyaaah ... nggruduk kayak rombongan anak ayam ngikuti induknya. Wilih, itu tentengannya kayak orang baru belanja bulanan.
Lha ... pasar "tradisional" di Market Street juga penuh orang. Penjual bonbon langganan itu buka juga hari Minggu begini. Aaah, anak-anak muda Spanyol, riuh-rendah suaranya padahal cuma beli es krim dorong. Ada rombongan jepang lagi, pada sibuk foto-foto. Ah, satu keluarga dari India, bercakap sambil goyang-goyang kepala, "sang Ibu" berpakaian sari sambil mendorong kereta bayi. Di mana para pengamen jalanan? ndak kelihatan dari tadi.
Coba saya masuki lorong kecil yang di ujungnya ada kedai kopi kesukaan saya itu. Busyet dah, penuh orang juga, balik kanan! Toko buku sajalah ... penuh juga. Ke pertokoan Lion Yard? lupakan saja, pasti penuh orang juga. Cambridge ... sudah jadi kota yang sesak, apalagi di musim panas dengan udara cerah begini. Kembali ke rumah sajalah.
Pemandangan dari kamar bagus juga kok. Leyeh-leyeh di kamar saja ditemani teh Earl Grey, sebungkus besar coklat ... mari blogwalking. Hmmm ... apa kabarnya Mas dokter Tito sekarang ... oooh masih makan sumbangan.
Pestanya berlangsung "meriah" ... atau buat saya "brisik" tepatnya, kuping bedengung dahsyat sesudahnya, sampai sekarang ya masih. Lha wong saya itu pada dasarnya manusia pencinta ketenangan dan kedamaian, mak jreng disuguhi live music dari jamannya akhir 60-an - awal dan pertengahan 70-an ... berdentam hebat itu ruangan dengan Beatles, Rolling Stones, Led Zeppelin dan tentu saja ... lagu-lagu band asli Cambridge, Pink Flyod. Belum lagi lampu yang berkejap-kejap dengan kejamnya memicu migrain. Maklumlah, keriaan ini untuk merayakan ulang tahun ke-50 buat 3 orang teman sekantor.
Menyesal datang? ya dan tidak. Dari daftar peserta pesta yang hadir, saya hitung ada orang-orang dari 35 negara malam itu dan sebagian besar saya kenal. Teman-teman lama satu tempat kerja yang kebetulan sedang ngumpul di Cambridge untuk acara pertemuan tahunan. Tukar menukar cerita berlangsung dengan suara yang makin lama harus makin keras ... sesuai dengan kerasnya suara musik, yang kadang membuat ngobrolnya jadi harus teriak-teriak sampai urat leher keluar semua.
Dua orang teman dari Jepang dan Hong Kong berhasil minggat duluan, karena tak tahan dengan berisiknya suara di ruang pesta itu yang kemudian diikuti oleh beberapa teman dari Afrika. Saya tidak seberuntung mereka dan terperangkap di ruang hingar-bingar itu hingga pestanya selesai jam setengah dua dini hari.
Pepatah "lain padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya" itu bisa dilihat di keriaan tersebut. Ada yang tersenyum lebar, ada yang amat besemangat ngigel sampe capek, ada yang mencoba menghindar dari kemeriahan dengan duduk di pojok ruangan dan ada yang terbingung-bingung memikirkan bagaimana caranya agar bisa minggat secepatnya dari tempat pesta yang riuh rendah itu tanpa harus membuat yang punya hajat malam itu tersinggung.
Sebagai hadiah buat mereka, saya bernyanyi di panggung diiringi musik berdentam dan jogetan teman-teman sekantor yang terheran-heran melihat saya nyanyi ...
Well she was just seventeen, if you know what I mean and the way she looked was beyond compare so how could I dance with another ... uuuuuu ... when I saw her standing there
Mestinya saya nyanyi lagunya Chrisye saja, cuma sayang band pengiringnya ndak pernah tahu lagu itu
Semua yang datang mencium pipinya tapi aku dadanyaaaaaa ... o hip hip hura -hura ...
Tadi malam terang bulan. Duduk sendirian di balkon kamar dengan segelas kopi. Tiba-tiba ingat masa kecil, lantas nembang dolanan ... spontan begitu saja. Kapan terakhir kali sampeyan nembang dolanan?
Lir ilir, lir ilir Tandure wis sumilir Tak ijo royo-royo Tak sengguh temanten anyar
Cah angon, cah angon Penekno blimbing kuwi Lunyu-lunyu penekno Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro, dodotiro Kumitir bedah ing pinggir Dondomono jrumatono Kanggo sebo mengko sore
Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane yo sorak o sorak horeeeeee
Jreeeeng ... pagi ini seorang kawan berbaik hati mengirimkan saya sebuah lagu yang sudah lama saya cari-cari. Lagu agak jadul yang dinyanyikan Hari Mukti.
Hanya satu kata Tiada sempat terucap Walau kita berjumpa Dan saling menyapa
Hanya satu kata Kembali karam di hati Walau sering bicara Sampai lupa waktu
Dimana ku harus mencari Sebuah kata yang hilang Saat denganmu
Bukan banyak kata Ketika ingin bicara Tentang bara di dada Cukup satu kata
Jangan kau ragu dan membisu Ungkapkan saja isi hatimu
Lewat satu kata Ketika ingin bicara Tentang bara di dada Cukup satu kata
Menurut sampeyan satu kata itu apa? Buat saya ... "maaf". Selamat berakhir pekan sederek sedoyo ...
Sampai di kantor langsung nyambung ke Intranet kantor untuk mengosongkan kotak pesan elektronik yang penuh dengan pesan-pesan ndak penting, seperti undangan acara pesta bakar-bakaran (barbeque) musim panasnya kelompok vegetarian di kantor, yang biasanya bermenu jamur yang diselang-seling leek dan paprika, dengan catatan buat yang bukan vegetarian tersedia panggangan terpisah dan dagingnya bawa sendiri. Juga ada tentang pertandingan kriket melawan kantor tetangga, acara piknik di pinggir kali, acara dayung-dayung sampan, ajakan main bola, sampai jualan barang bekas.
Ada satu pemberitahuan yang buat saya sangat khas Inggris (mungkin juga di negara lain). Di Indonesia, kalau sampeyan ulang tahun, biasanya siap-siap tombok, dipalaki teman. Kalau sampeyan artis bisa saja acara ulang tahunnya malah ada yang bakal mensponsori. Di Inggris, ulang tahun ndak berarti nombok, karena kalaupun ada pestanya di rumah makan misalnya, biasanya pada bayar sendiri-sendiri. Pengumuman yang saya dapat soal ulang tahun ke-50 tiga orang teman sekantor, malah dijual. Pemberitahuan itu, kalau diterjemahkan bunyinya begini :
Setelah tanya-tanya, katanya ulang tahunnya itu bakal pakai band segala. Entahlah, saya bakal datang atau tidak. Mungkin kalau bandnya bisa membawakan lagu SMS atau Manuk Cucakrowo, dan lantas ada jogetan dangdutnya saya tertarik juga.
Penerbangan panjang (hampir 13 jam), penuh sesak - tak ada bangku kosong, tiba pada jam sibuk (antrian di imigrasi panjang sekali), bikin capek tambah capek. Tertolong dengan keramahan Iris sang pramugari dengan paracetamolnya untuk sakit kepala saya, keramahan sang petugas imigrasi dan udara London yang hangat. Pekerjaan selanjutnya adalah mengambil barang di baggage carrousel-conveyor belt-ubeng-ubengan koper, sebuah pekerjaan yang sering mengundang senyum. Tengok saja itu ada orang yang badannya sebesar gardu ronda, terseret-seret kopernya sendiri yang maha berat atau ekspresi kecemasan yang beragam bentuknya. Aaah ... itu koper kecil saya datang. Lho kok hancur begini?
Koper itu keluar dalam keadaan rusak, rodanya juga hilang satu. Ngadu aaaaah ... "Bang ... rusak nih koper saya" sambil menunjukan bagian bawah koper yang hancur. "Hmmm...tiket, boarding pass dan kupon bagasinya bisa saya lihat?", lantas saya diminta menunggu sejenak. Benar-benar sejenak, karena tak lama sang petugas datang dengan membawa empat koper yang bentuknya mirip dengan koper saya yang rusak itu. "Pilih salah satu buat mengganti koper yang rusak itu, isi formulir ini dan tanda tangan tangan di sini". Proses penggantian dari mulai ngadu, hingga saya jongkok siap-siap membuka koper lama untuk dipindahkan isinya ke tempat baru, kurang dari 10 menit!
Keluar, lantas beli tiket bus ke Cambridge. Sambil bisik-bisik, Mbak penjual tiket itu bilang "psssst...itu di muka kamu ada potongan kertas". Lha ... bekas stiker bagasi, sebesar jempol .... kok bisa nempel di muka saya ya?
Terkoneksi dengan internet nyaris 24 jam terkadang menjadi salah satu tuntutan kerja saya, ndak peduli di kantor atau di rumah (di Tokyo dan di Cambridge), kalau kebagian giliran ronda ya pokoknya kudu nyambung. Agar tak terus menerus terpaku di kursi, saya lantas memasang peralatan sambungan tanpa kabel (wireless) sehingga laptop bisa dicangking ke dapur atau ke kamar.
Malangnya diriku? tadinya saya pikir begitu, sampai saya dapat kiriman foto dari Yu Joem blanthik sapi itu kemarin sore yang membuat saya sangat bergirang hati.
Selamat njengking Mbakyu, atau Mas?... tanyakanlah pada Yu Joem.
Tahapan turne (turu mrono mrene) yang "menyenangkan" di Indonesia habis hari ini, perjalanan harus diteruskan. Persiapan pekerjaan di tempat berikutnya nyaris sudah selesai semua ... yang namanya nyaris ya belum beres semua. Tidak apa-apa, toh saya akan singgah agak lama di Singapura, dan perjalanan berikutnya, Singapura - London, akan memakan waktu yang lama dan pekerjaan yang masih tersisa tampaknya akan bisa diselesaikan. Saya memang memiliki "kelebihan" tidak bisa tidur di pesawat. Sudah terbayang saya praktis akan bekerja di dalam pesawat dan di dalam kereta api dari London King's Cross ke Cambridge.
Saya sendiri sering gumun - heran, kenapa selalu begini, pentalitan di saat-saat akhir. Sangat Indonesia? mungkin juga. Istilah halusnya saya terinspirasi oleh legenda Sangkuriang dan Roro Jonggrang, hanya saja dalam legenda itu pekerjaan yang harus dikebut semalam toh gagal selesai. Ah ... itukan karena akal-akalannya Dayang Sumbi dan Roro Jonggrang saja, kalau mereka "tidak curang" selesai itu pekerjaan. Atau, saya memang butuh tekanan seperti ini? Tekanan yang membuat adrenalin terpompa hebat. Ndak tahu juga sayanya, karena sejak dari mahasiswa di perguruan tinggi dengan sistem SKS itu saya ya biasa pentalitan begini juga. Toh SKS itu bisa juga diartikan sebagai Sistem Kebut Semalam atau Sistem Kerja Sangkuriang.
Kebiasaan buruk? Bisa jadi. Kalau saja pekerjaan-pekerjaan itu dengan rajin dikerjakan sejak jauh-jauh hari tentunya ya tidak perlu pecicilan di akhir. Lha menurut sampeyan bagaimana? ngebut semalam atau alon-alon dari awal?
Ada sebuah tembang dolanan anak-anak (Jawa) dari masa kecil dulu yang dinyanyikan pada saat terang bulan yang lamat-lamat masih saya ingat. Penggalan lagu itu berbunyi begini :
"... ono manuk onde-onde mbok sribombok mbok srikate ..."
Ada tiga jenis burung dalam lagu itu ... manuk onde-onde, sribombok dan srikate. Sribombok saya tahu burungnya, itu burung air dengan berbagai nama. Ada yang menyebutnya sebagai ruak-ruak, kareo-padi, white-breated waterhen atau dalam bahasa latin disebut Amaurornis phoenicurus. Srikate tampaknya mengacu pada ayam hutan (Gallus gallus atau Gallus varius tergantung daerahnya). Lha ... manuk onde-onde ini apa?
Haiyaaah ... anak-anak kok diseriusi. Dulu juga saya berpikir begitu, tetapi pengalaman mengajarkan bahwa anak-anak adalah sumber yang paling bisa dipercaya kalau berurusan dengan hewan. Sudah tak terhitung berapa kali saya diberi tahu anak-anak ke mana saya harus pergi untuk menemukan burung.
Beberapa tahun yang lalu anak saya yang paling kecil pernah bilang ... "Pak ... itu ada sikep-madu". Awalnya saya kira dia guyon saja, lha pada waktu itu belum musimnya burung sikep-madu (sejenis elang) untuk datang ke Indonesia kok. Tapi dia ngotot, kalau dia melihat burung itu. Untuk menyenangkan hatinya saya lantas "bersedia" menengok ke langit ... beberapa ekor sikep-madu sedang melayang dengan anggunnya. Entah apakah sekarang masih ada anak-anak kecil berteriak "terik tempeee ... terik tempe" jika melihat rombongan elang yang sedang bermigrasi.
Musim migrasi elang tampaknya sudah dimulai, saya jadi agak rajin menengok ke langit, sambil berpikir ... manuk onde-onde itu apa ya? Sampeyan ada yang tahu?
Kang Mas Pecas menulis tentang sebuah papan iklan yang memuat ungkapan kemarahan seorang istri terhadap suaminya di sini. Ya ya ya ... tetapi rasanya cara begitu kok mahal ya? Apa ada cara lain yang lebih murah? Yang modalnya tak terlampau besar begitu, kalau bisa malah memberikan pemasukan uang yang lumayan dan mungkin juga malah bisa untung. Lho ... apa ada cara yang seperti itu? Begini, istri saya yang tercinta itu punya sebuah baju kaos seperti gambar di samping ini, pemberian seorang teman.
Sebagai sebuah iklan, tentu saja harus disebutkan kelebihan barang jualannya. Tengok saja, "original owner, all paper work included, must sell ..." lha, ini artinya surat-suratnya komplit dan yang penting bisa langsung tawar menawar dengan pemilik aslinya tanpa harus lewat calo dengan harga bersaing karena sang pemilik menjualnya kepepet. "Body in excellent condition (rarely used, never driven hard), low mileage", kurang apa lagi coba ... barang nyaris baru ini. Hanya saja sebagai penjual yang jujur, kekurangan barang dagangan juga harus diungkapkan agar tak ada keluhan dari pembeli di belakang hari nanti, maka hal seperi ini harus ditulis "not an economy model!!!, needs tune up & lubrication". Lantas soal syarat jual beli? Tak perlu njelimet, bayar dan langsung ambil. Kaos yang manis ...
Sebagai sebuah barang, kaos juga perlu dirawat. Cara perawatan dicantumkan pada secarik kain kecil di dalam baju yang berisi petunjuk lengkap perawatan, seperti ... jangan dikelantang, tulisan di baju jangan disetrika, jangan menggunakan klorin, lantas pada baris terakhir ... do not covet thy neighbor's husband.
Apa sampeyan ada yang berminat membeli? .... kaosnya saja? Paling tidak bisa membuat hati saya tentram kalau kaos itu tak ada lagi di lemari. Saya sendiri berniat menyimpan petunjuk cara perawatannya.