Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Tiba di Narita dalam kondisi seperti pendekar kebanyakan nenggak ciu, nggeliyeng ndak karuan. Tiba dengan penerbangan pagi begini seperti biasa Narita penuh, untungnya saya bisa ngantri di loket imigrasi bagian para penyandang visa re-entry yang jumlah penyandangnya ndak banyak dan prosesnya cepat ... kalau ndak mau dibilang sangat cepat. Bea cukai juga begitu, basa-basi dikit, ciaaat ... lewat. Cuma dua kata buat jawaban petugas bea cukai ... daijobu desu ... Singaporu.
Lha karena kereta api ke Shinjuku masih satu jam lagi, ya ngeblog saja sambil ngupi-ngupi dulu, walaupun ndak ada cerita apa-apa sebetulnya kecuali kelakuan beberapa orang Jepang yang langsung bongkar-bongkar koper, nyari dasi dan jas warna gelapnya. Siut siut ... berubah! gemblung juga itu, minum kopi seperti dikejar hantu, pleng ... minggat. Mestinya mereka langsung ngantor itu sementara saya sendiri berencana buat dua hari leha-leha dulu di rumah. Senyum-senyum melihat kelakuan buru-buru begitu dan senyum-senyum mendengar suara pengumuman untuk memanggil nama-nama orang Thailand yang diucapkan dengan sangat susah payah oleh sang juru panggil.
Sejak kejadian huru-hara kabar akan adanya peledakan pesawat yang akan berangkat dari badar udara Heathrow, beberapa peraturan pemeriksaan yang "ketat" lantas diberlakukan. Copot sepatu dan ikat pinggang yang tadinya tak pernah terjadi sekarang harus dilakukan pada saat melalui pemeriksaan awal. Meja pemeriksaan passport yang dahulunya sering melompong tanpa petugas, sekarang penuh. Inggris adalah salah satu negara yang tidak melakukan upacara cap-capan passport kalau hendak keluar, sampai sekarang masih begitu tetapi dulu itu passport dilihatpun tidak.
Hanya saja yang bikin banyak orang geleng-geleng adalah peraturan tidak boleh bawa cairan, kosmetik, odol dan korek api gas (lighter). Susu untuk bayi harus dicicipi oleh sang Ibu dan tentu saja bayinya harus ada sebelum diperkenankan untuk dibawa masuk. Maka pemandangan seorang Ibu yang tergopoh-gopoh mengambil bayinya yang digendong oleh sang suami yang masih tertahan antrian di belakang bisa disaksikan. Obat? harus ada resep dokternya. Minuman beralkohol? lupakan saja. Pada gerbang pemeriksaan awal, barang-barang jenis itu hasil sitaan menumpuk. Hanya anehnya, begitu lepas dari pemeriksaan awal ini, para calon penumpang yang disambut oleh jajaran toko-toko bebas bea, boleh membeli barang-barang seperti itu dengan catatan kecuali calon penumpang yang akan terbang ke Amerika Serikat.
Lha sebagai anak nakal yang masih merokok, tentu saja saya harus merelakan lighter (yang juga sudah hampir habis) untuk disita. Celakanya toko-toko di dalam bandara itu kehabisan persediaan lighter, semua penjaga toko langsung menggeleng begitu ditanya apa jual lighter. Saya lantas berpikir, ya sudah tidak usahlah merokok sampai nanti tiba di Singapura. Eh ... masih ada satu toko lagi yang belum dicoba. Sama saja hasilnya, geleng-geleng juga, tetapi kali ini dengan saran ... "pergi saja ke ruang untuk merokok, di sana para perokok berbagi korek api".
Lenggang kangkung saya ke ruang merokok ... lho iya, di tiap meja lighter bergeletakan, siapapun boleh pakai dan tampaknya tidak ada yang lantas "ngembat" korek gratisan itu. Solidaritas para perokok? mungkin saja, yang berhasil mendapatkan lighter di toko bebas bea lantas meninggalkan lighternya di ruang merokok.
Selesai sudah semua yang harus diselesaikan di Cambridge. Minggu siang pulang ke rumah di Tokyo lagi. Wiiiih ... apa kabarnya tuh rumah, sudah hampir sebulan ndak dilongok, terbayang itu kotak surat bakal berlimpah dengan brosur dan berbagai macam surat sampah yang ndak bisa saya baca isinya apa.
Sampai ketemu lagi Cambridge, dan mestinya saya bakal kangen sama ruang kerja saya yang berantakan itu. Ada yang mberesin nggak ya?
Entah apa awalnya diskusi di meja makan itu tiba-tiba jadi hangat dengan diskusi soal Phoenix, burung api dongeng yang lahir dari abunya sendiri seperti yang pernah saya tulis di sini beberapa waktu yang lalu. Gara-gara diskusi itu, semua makanan langsung disingkirkan dari meja dan diganti dengan beberapa buku referensi hanya karena saya bertanya "burung apa Phoenix di dunia nyata?", dan pada akhirnya kami bersepakat memilih Flamingo atau tepatnya Lesser Flamingo - atau bisa juga Flamingo kecil (Phoenicopterus minor) sebagai perwujudan Phoenix, bukan hanya karena Phoenicopterus berarti sayap yang berwarna merah menyala, tetapi ada kisah lain dibalik Flamingo terkecil dan berwarna paling cerah menyala ini.
Cerita-cerita tua berbunyi ... Phoenix terbang ke Semenanjung Arabia (sebagian mengatakan ke Mesir) untuk mati, terbakar dan dari abunya akan keluar anak Phoenix. Kami lantas mencari burung apa yang berwarna merah yang pada masa kecilnya berwarna seperti abu. Pilihan jatuh pada Flamingo kecil. Hanya saja Flamingo kecil hidup di Afrika (terutama di Great Rift Valley) dan anak benua India bagian Barat. Satu jenis, terpecah menjadi dua populasi besar, aneh juga karena keduanya tidak memiliki perbedaan genetis dan tentunya pemisahan ini belumlah berlangsung lama. Kenapa tak ada Flamingo kecil di antara dua lokasi itu, di Semenanjung Arabia misalnya, tempat tujuan Phoenix untuk mati dan terlahir kembali, kenapa terputus?
Sederhana saja, tak ada danau alkali besar di Semenanjung Arabia yang cocok untuk tempat Flamingo mencari makan dan berbiak. Apa betul? Ahaaa ... beberapa tulisan ilmiah dalam berbagai jurnal dari akhir tahun 90-an memaparkan bukti bahwa pada suatu masa yang telah lama, ada sebuah danau besar seperti itu di Semenanjung Arabia yang sekarang hanya pasir di mana-mana itu. Buktinya? Ada fosil-fosil kuda nil dan kuda nil tak bisa hidup tanpa badan air yang besar. Kisahpun berlanjut dengan mulai mengeringnya danau itu dan pada suatu tahapan menjadi kering itulah, danau itu menjadi sebuah danau alkali yang lumayan besar. Di tempat itu Flamingo kecil yang berwarna kemerahan berbiak, mengerami telur dan anak-anak Flamingo yang berwarna seperti abu gosok itu menetas.
Bayangkan sebuah pemandangan di mana puluhan ribu (mungkin juga ratusan ribu) Flamengo berkumpul di suatu tempat ... wuiiiih seperti karpet merah itu danau mestinya. Warna merah pada bulu Flamengo berasal dari makanannya yang berupa ganggang yang mengandung pigmen berwarna merah. Bayangkan juga orang-orang yang menyaksikan peristiwa ini ribuan tahun yang lalu dan lantas berteka-teki "apa yang berwarna merah terang pada waktu dewasa dan berwarna seperti abu gosok dikala bayi" ... bayangkan teka-teki begini diceritakan dari mulut ke mulut selama berabad-abad dan bisa saja ujungnya menjadi "burung berwarna api menyala yang lahir dari abunya sendiri" ... Phoenix.
Ada satu lagi sifat Flamingo yang karena cerita dari mulut ke mulut pada ujung-ujungnya benar-benar mlintir. Begini, dari banyak jenis burung ada beberapa yang memberi makan anaknya dengan makanan yang sudah dicerna dan dimuntahkan kembali. Pada merpati, makanan untuk anak itu rupanya mirip susu dan pada Flamingo cairan itu berwarna seperti darah (karena makanan Flamingo yang berupa ganggang yang mengandung pigmen berwarna merah). Flamingo juga rajin membersihkan bulunya, sekarang dua sifat itu dijadikan satu dan terbentuklah cerita ... burung yang menusuk dadanya sendiri dengan paruhnya yang seperti kapak dan memberi makan anaknya dengan darahnya.
Cerita Flamingo, burung berparuh kapak ini, belum berhenti sampai di sini. Cerita begini mestinya dibawa oleh para pedagang dari Semenanjung Arabia pada saat mereka sedang berdagang dengan orang-orang Yunani dan dalam bahasa Yunani, kapak adalah Pelikas. Karena tak ada Flamingo di Yunani, burung berparuh kapak ini lantas dilimpahkan pada burung lain yang kemudian lantas dinamai Pelikan dan jadilah Pelikan sebagai burung yang lantas dikisahkan sebagai burung yang memberi makan anaknya dengan darahnya. Sebuah perbuatan yang dianggap sangat mulia sehingga Pelikan menjadi layak sebagai simbol keagamaan. Pada beberapa aliran dalam Agama Kristen, Pelikan dijadikan lambang. Ingat salah satu cerita serial Tintin (Tongkat Raja Ottokar) yang menjadikan Pelikan sebagai lambang suci kerajaan?
Obrolan begitu berlangsung sampai tengah malam dan melebar ke mana-mana ... Al-Qatruz, Alba, Albatros, Alcatraz ... semuanya berhubungan dan semuanya berawal dari burung. Lantas kesimpulannya apa? Ya ndak ada, lha wong cuma ndobos kok.
Matur nuwun sanget lho Mbah Nigel Collar yang sudah bersedia berbagi soal ini dan enak juga ribut-ribut sama sampeyan soal yang satu ini.
Ada satu perkara yang "mengerikan" buat saya di Inggris ini. Perkara makan! walaupun saya itu termasuk karung bergigi, tapi kalau harus makan makanan Inggris kadang saya lebih rela lapar. Sebetulnya perkara ini pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas dengan judul Inggris Pecas Ndahe di sini.
Saya ndak berlebihan dalam soal ini, dan ini diakui sendiri oleh orang Inggrisnya. Tengok saja, mana ada kata dalam Bahasa Inggris untuk mengucapkan selamat makan, seperti orang jepang yang selalu ngomong "Itadakimasu" sebelum makan. Orang Inggis malah bikin kartu pos yang menggambarkan betapa seriusnya masalah ini dan membandingkannya dengan negara Eropa lainnya, dan saya mendapatkan kartu pos itu di salah satu toko buku di Cambridge. Berikut potongan kartu itu :
Perancis. Tengoklah, saling bersulang anggur merah, berbagai macam makanan yang tampaknya enak sambil saling mengucapkan Bon appetit!
Jerman. Wiiiih itu bir sak gentong apa ndak goyang itu habis makan, sementara lawannya ditemani segelas anggur putih. Santaaaaaap ...
Italia. Anggur merah dan putih dan tentu saja pasta dengan kuah berminyak zaitun yang mengundang selera. Slurup.
Lha Inggis????!!!! .... Never mind!
Atau paling banter bilang "Would you like some tomato ketchup with your beans dear?"
Hari ini Kang Mas Pecas Ndahe ulang tahun yang ke 42 (banyak amat Mas) ... blog saya ulang bulan yang ke 6 bulan Lha ... makan-makannya di tempat yang ulang tahun
Ralat : ternyata Kang Mas Pecas ulang tahunnya tanggal 14, bukan 15 dan yang ke 41 bukan 42.
Keset? iya itu barang yang biasanya berbentuk segi empat atau oval yang bahannya bisa macem-macem, serat alam atau serat sintetis buat membersihkan alas kaki pada saat memasuki rumah atau ruangan. Di BBC Radio 4, sebelum siaran berita jam 9 pagi ada sebuah bincang-bincang tentang keset (door mat).
Bincang-bincang itu membahas tentang bahaya keset! Walaupun tidak ada statistik yang diutarakan tetapi menurut yang diwawancarai keset yang ada sekarang dan cara pemasangannya tidak memperhatikan kaidah-kaidah keselamatan dan telah menyebabkan banyak orang mengalami kecelakaan dengan akibat yang cukup serius karena tersandung keset. Lantas setelah percakapan yang lumayan panjang soal bahaya keset, yang diwawancara mengusulkan dikeluarkannya sebuah peraturan publik tentang keset untuk menjamin keselamatan publik penggunanya. Dalam peraturan itu harus tercantum cara-cara "pemasangan" keset yang aman dan sertifikasi buat keset yang aman sebelum dijual.
Saya awalnya terpingkal-pingkal mendengar bincang-bincang itu, tapi kalau dipikir-pikir ya ndak terlalu mengada-ada juga itu urusan keset, paling tidak di Inggris dimana jumlah orang berusia di atas 65 tahun lumayan besar dan terus bertambah. Kelompok usia ini menurut orang yang diwawancara tadi merupakan kelompok usia paling rentan terhadap bahaya yang diakibatkan oleh keset.
Sedih juga membayangkan eyang-eyang itu tersandung keset dan kepalanya lantas membentur pintu dengan dahsyat dan lantas cedera yang dialaminya membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Itu kalau tersandung, kalau terpeleset mungkin akibatnya bisa lebih serius.
Ya ... saya nakal, vandal, bengal, bebal ndak bisa dibilangin dan akibatnya saya disetrap oleh pengurus rumah tangga kantor (office manager) di Cambridge, jadi ingat jaman sekolah kalau sudah begini. Ceritanya saya menemukan sebuah kertas himbauan berlapis plastik yang ditempel di atas toilet. Kira-kira isinya meminta para pengguna agar menjaga kebersihan toilet tersebut. Hanya saja, himbauan yang ditulis dalam Bahasa Inggris yang proper -baik dan benar- tersebut mengusik urat jahil saya.
Himbauan itu berbunyi : "PLEASE LEAVE THIS TOILET IN THE STATE IN WHICH YOU WISH TO FIND IT". Lha kok bagian bawahnya seperti diberi ruang cukup untuk saya menuliskan sesuatu. Saya yang masih mengantungi spidol tentu saja tergugah untuk memanfaatkan ruang kosong tersebut, lantas sayapun menambahkan sebuah kata pada himbauan tersebut.
Rapat panjang dan membosankan itu baru saja selesai dan seperti biasanya ada pengumuman ini dan itu dan kali ini sang pengurus rumah tangga kantor yang maju dengan penampakan wajah yang tidak sedap. "Siapa yang menulis kata "California?" di toilet!" begitu katanya dengan nada dingin. Itu ruang rapat langsung meledak dengan tawa dan saya dengan malu-malu mengacungkan tangan sambil mengumpat dalam hati "semprul ... siapa ini tukang ngadunya". Lha ... sang pengurus rumah tangga itu perempuan, masak dia masuk-masuk ke toilet laki-laki, kalau ndak ada yang ngadu mana dia tahu?
Begitulah, saya lantas disetrap buat menghapus tulisan iseng saya itu. Tulisan sudah dihapus bersih, tak ada bekasnya. Saya lalu menunjukan hasil kerja keras saya kepada sang pengurus rumah tangga kantor dan dia tersenyum puas dan dia lantas memberi petuah betapa pentingnya menjaga kebersihan. Ya ya ya ... saya paham dan saya mengaku bersalah.
Malam sebelum pulang saya menyambangi lagi tempat itu karena ada keperluan biologis yang tak bisa ditahan. Lihatlah, himbauan itu sekarang tidak lagi ada tulisan "California?" ... tapi "Nevada?".
Naaaah ini yang namanya berita buat para penggemar burung. Satu lagi jenis burung hadir dalam daftar burung-burung di dunia dan kali ini jenis burung baru ini ditemukan di India, tepatnya di Suaka Margasatwa Eaglenest di Arunachal Pradesh. Kisah "penemuannya" sebenarnya agak panjang dan jenis ini sudah dilihat pada tahun 1995, hanya saja waktu itu burung ini dikira burung Liocichla omeiensis. Tetapi kemudian disadari kalau jenis tersebut hanya ada di Cina dan rumahnya ada 1000 km jauhnya dari Eaglenest.
Pencarian dilakukan kembali dan baru pada bulan Mei 2006, seekor burung yang belum dikenal itu dapat ditangkap, difoto, diukur-ukur, suaranya direkam dan dilepaskan kembali. Dari hasil pencatatan itu diketahui kalau burung tersebut adalah jenis burung baru. Maka sebuah tulisan ilmiah untuk mendeskripsi burung inipun dilakukan yang akhirnya bisa terbit pada di sebuah jurnal ilmiah Indian Birds, Volume 2 No.4 pada bulan Agustus 2006, yang lantas diumumkan pada khalayak ramai pada tanggal 13 September 2006. Untuk sementara burung ini diberi nama ilmiah Liocichla bugunorum sp. nov.
Buat saya yang menarik adalah penemunya dan bagaimana berita ini disiarkan oleh sebuah media di Inggris sini. Penemu burung ini bukanlah seorang ornitolog (ahli burung), Ramana Athreya adalah seorang ahli astronomi yang bekerja di National Centre for Radio Astrophysic di Universitas Pune di India. Athreya adalah seorang birdwatcher. Walaupun ornitolog dan astronom sama-sama menggunakan teropong untuk mempelajari objek penelitiannya, tetapi kaliber teropongnya berbeda. Penemuan besar terkadang tidak memandang latar belakang profesi sang penemu.
Lantas ada apa dengan pemberitaannya? Lha ini dia ... kalau di Indonesia berita begini biasanya masuk dalam kolom lingungan, iptek atau sejenisnya, tidak selalu demikian halnya di Inggris, paling tidak untuk surat kabar yang satu ini. Berita penemuan ini ditulis di halaman 3 harian SUN, dan pada harian ini halaman tiga adalah halaman untuk memajang gambar perempuan yang cuma pakai celana dalam paket hemat ... ini fotonya.
Maaf sederek sedoyo, saya ndak tega memajang potret sehalaman penuh. Saya jadi ingat pada tahun 2001 pada saat saya dan beberapa teman berhasil menyelesaikan sebuah buku tentang burung-burung terancam punah di Asia setelah tujuh tahun pentalitan dan salah satu media yang menulis tentang keberhasilan tersebut adalah Playboy-Jepang. Maka cerita soal buku kebanggaan saya itu-pun lantas dijejer dengan gambar yang ehm ehm slurup begitu.
Sebuah berita di Ipteknya Kompas Cyber Media bikin saya terkaget-kaget dan lantas tersenyum. Berita tersebut berisi tentang ditemukannya burung Sikatan dada-merah (Ficedula parva) di Nepal. Salah satu nama yang disebut dalam berita itu adalah Hem Sagar Baral, lha ini manusianya sedang duduk di sebelah saya dan berita itu langsung saya tunjukan ke dia. Kaget juga dianya karena berita lawas itu akhirnya sampai juga ke Indonesia dan sesudahnya kami sama-sama tertawa.
Judul berita-nya "Ditemukan Spesies Burung Baru di Nepal". Saya tadinya mengira ada spesies burung baru (untuk science) yang ditemukan di Nepal, ternyata itu "spesies lama" hanya saja "baru" dilihat di Nepal pada tahun 2002, jadi ya sudah basi juga beritanya dan judulnya kok agak missleading.
Sebetulnya yang bikin saya geleng-geleng itu kenapa berita yang sudah agak usang begini bisa dimuat di sebuah media (yang bisa dikatakan terkemuka) di Indonesia. Menengok kembali arsip-arsip berita seperti ini ada kecenderungan berita soal temu menemu begini dimuat jika sumbernya dari luar (mudah-mudahan saya salah). Jika penemuan seperti ini memang layak muat, ada banyak penemuan model begini yang lebih baru dan lebih dahsyat yang dilakukan oleh anak-anak Indonesia di Indonesia. Kemana cerita-cerita itu?
Kembali ke soal burung "tidak istimewa" tadi, sebenarnya Sikatan dada-merah adalah burung yang cantik, imut-imut dengan tingkah yang menggemaskan. Hanya saja burung ini ada di mana-mana di belahan bumi utara, tidak pula terancam punah. Tetapi soal layak berita, entahlah, saya sendiri bukan dari kalangan media. Kalau saya orang media maka burung yang saya beritakan tentu saja yang memiliki cerita dahsyat seperti burung Vulture (burung pemakan bangkai) di anak benua India misalnya.
Vulture (Gyps indicus, Gyps bengalensis dan Gyps tenuirostris) yang jumlahnya di alam merosot lebih dari 90%. Burung yang tadinya bisa dengan mudah dilihat di angkasa India tiba-tiba menghilang. Orang-orang melaporkan bagaimana burung-burung ini jatuh dari pohon dan dari angkasa ... mati begitu saja. Akibatnya, bangkai-bangkai sapi (di India sapi adalah hewan suci yang tidak dimakan) begelimpangan di banyak tempat dan membusuk. Pemakan bangkai sapi menghilang dan bangkai sapi menumpuk. Tidak hanya itu, kaum Parsi di India juga panik. Kaum Parsi tidak menguburkan jasad kerabatnya yang meninggal dunia, tetapi membiarkannya untuk dimakan burung Vulture. Jika tidak dimakan burung, maka kematiannya tidaklah sempurna.
Lantas, kenapa pula burung-burung Vulture itu pada mati begitu? penyakit? Ternyata tidak sodara-sodara, ini karena kerjaan manusia juga. Hewan-hewan ternak di sana diberi obat yang namanya Diclofenac untuk mengobati inflamasi dan demam pada ternak. Karena hewan ternak tersebut pada akhirnya menjadi santapan burung Vulture, Diclofenac menumpuk di tubuh burung-burung tersebut dan mengakibatkan gagal ginjal hingga burungnya mati.
Ada banyak sebetulnya cerita yang berkisah tentang bencana ekologis begini (Paklik Zam, ini bencana atau hazard?), hanya saja sering kali berita begini terpendam oleh berita-berita lain ... termasuk berita lucu-lucuan tentang burung "ndak penting" itu.