Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
selamat menjalankan ibadah puasa dan mohon maaf lahir batin
Karena Menteri Agama Kekaisaran Jepang (emang ada ya?) belum mengumumkan kapan persisnya puasa dimulai di Jepang, maka saya manut sama tanggal dimulainya puasa di Indonesia saja.
Karena menempuh perjalanan melewati beberapa zona waktu maka "jam biologis" atau circadian rhythm saya jungkir balik melintir ndak karuan dan orang mengistilahinya sebagai jetlag. Kalau sudah begini, migraine saya bisa dengan riangnya muncul, badan pegal-pegal, bingungan, sifat karung bergigi berganti jadi amplop angpao bergigi, tidur pada jam yang tak semestinya dan yang paling parah saya jadi ndak bisa mikir lempeng. Dalam keadaan tanpa jetlag sekalipun kelurusan pikiran saya dipertanyakan banyak rekan sekerja apalagi dengan jetlag. Dari sedikit sistem tubuh yang tak terganggu karena jetlag, salah satunya adalah sel-sel kelabu otak bagian "kejahilan" (jahil? ah ... saya lebih suka menyebutnya sebagai creative defence mechanism).
Masih dalam keadaan belum pulih dari jetlag, saya masuk kantor karena jatah libur jetlag saya yang hanya sehari itu sudah habis. Waaah, meja para tetangga yang juga baru pulang bepergian dipenuhi amplop surat dan kiriman pos yang tampaknya berisi buku. Meja saya? ... nyaris bersih, hanya ada 3 amplop dan ketiganya berisi tagihan (gas, listrik dan internet). Disaat mereka sedang bergembira ria membuka berbagai "bungkusan hadiah" itu, saya sibuk menerka-nerka isi tagihan yang bertuliskan kanji. Selain kesedihan itu, hingga acara makan siang lewat, tak ada insiden yang berarti. Lha sepulang makan siang insiden terjadi.
Adalah kebiasaan aneh dari atasan saya untuk memberitahu saya sebelum dia mengirim tugas melalui email. Aneh? tidak juga, dia punya masalah dengan teknologi. Kalau dikatakan gagap teknologi, itu masih masuk dalam kategori pujian buat dia. Kali ini dia memperlihatkan berbagai file di komputernya yang harus saya kerjakan. Lha ... kok itu banyak begitu? lho kok banyak kode U-nya (urgent)? ndak bisa dicicil apa? Ndak tahu kalau saya masih jetlag ya? Maka otak sayapun langsung meriah ... Houston we have problems ... defence mechanism bekerja cepat. Tuing tuing ... RJ (registered jack) connector sang bos yang nancep dengan gagahnya di switch jaringan saya cabut.
Tak lama kemudian, "saya kok ndak bisa kirim email ya? ah mestinya komputer ini bermasalah lagi. Maaf, file-file tadi saya kirim besok saja ya". Saya mengangguk-angguk sambil berseru "jangan kirim sekaligus banyak, dicicil saja, nanti software email-mu marah". Dia mengangguk sambil balas berseru "oooh begitu ya? baiklah, besok saya kirim yang betul-betul penting saja dulu". Lantas dia mematikan komputernya, bangkit dari duduknya, mengambil pensil dan buku besarnya itu dan pindah ke meja besar untuk mulai menulis entah apa.
Eeeealah pak bos, mbok budak belianmu yang masih dihantam jetlag ini dikasih coklat, dibikinkan kopi, dipijeti, dibelikan iPod ... lha kok malah disuruh mikir yang berat-berat. Biarkanlah kewarasan saya yang masih tersisa sedikit ini saya pakai buat nge-blog. Nanti kalau sudah kembali normal, saya janji akan menyisakan sedikit kewarasan yang ada untuk mengerjakan tugas itu ... ya pak bos ya, ya ya ya ... bapak ganteng deh ... mau diambilin setip? atau mau dihibur pak? ... saya nyanyi jablai ya. Lai lai lai lai lai lai ... mari bapak ku belai ....
Jaman saya kecil dulu mainannya ya petak umpet, gobak sodor, kasti, bola kaki, perang-perangan, layangan, berkelahi, berenang di kali, nangkep belut, memancing (ikan dan keributan), dan sebangsanya. Pokoknya permainan yang sehabis dilakukan bisa membuat Ibu saya teriak-teriak nyuruh saya mandi karena bau prengus. Itu permainan di alam bebas, dan jika sedang terkurung di dalam rumah maka jenis permainannya agak anteng seperti berkemah dalam rumah pakai selimut, main scrabble (ini dipaksa bapak), kanasta (ini dipaksa ibu) atau kuartet (ini dipaksa adik). Electronic game? silahkan bermimpi, saya ndak pernah dibelikan mainan yang menggunakan setrum.
Maka, ketika pada suatu hari di akhir tahun 2002 saya membeli PlayStation 2 (PS2) itu adalah upaya "balas dendam" masa kecil saya yang tak beroleh mainan dengan setrum. Reaksinya campur aduk, Istri saya merengut tetapi anak-anak berjingkrak (3 lawan 1 ... hidup demokrasi!!). Hanya saja walaupun tampaknya ini adalah kemenangan yang demokratis, tetapi seperti halnya demokrasi di bidang lain, aturan selalu dibikin oleh yang sedikit ... istri saya. Hanya boleh main game (redundant yak?) Sabtu dan Minggu atau di hari libur, harus pakai istirahat sesudah dua jam main dan boleh mulai main jika semua kewajiban lain (yang juga ditetapkannya) sudah beres. Selain itu kami hanya diperbolehkan membeli jenis permainan baru sebulan sekali, itupun hanya boleh maksimum 2 dan jenisnya harus lulus seleksi sang ibu. Kami para lelaki di rumah patuh, itulah dahsyatnya tirani cinta.
Empat tahun kemudian, PS2 itu masih bekerja dengan sangat baik dan belum pernah direparasi, paling-paling saya membersihkan lensanya saja. Seringkah saya memainkannya? ya tidak, kalah sama anak-anak saya itu ... "bapakkan sudah besar, masak gak mau ngalah sama anak kecil?!" ya sudah mengalah saja, gagal upaya saya untuk berolah raga jempol. Sewaktu kemarin saya pulang ke Bogor, tak sekalipun PS2 itu saya sentuh dan anak-anak juga tidak menyentuhnya sama sekali. Begitulah, mainan idaman itu akhirnya amat jarang saya sentuh. Anak-anakpun tampaknya bisa dikendalikan dengan baik.
Saya terkekeh-kekeh pada saat istri saya menceritakan bahwa tempat penyewaan PS di dekat rumah disantroni oleh guru-guru sebuah sekolah menengah karena banyak anak dari sekolah itu mangkir dan malah "bersekolah" di tempat itu. Tak ada yang lucu dalam hal membolos, saya terkekeh karena membayangkan peristiwa penyantronan itu. Diceritakan pula bagaimana para ibu di sekitar tempat itu bersungut-sungut karena anak-anak mereka dan suaminya rajin menyambangi tempat itu tak kenal waktu. Tentunya yang paling bergirang hati dalam persoalan ini adalah sang empunya tempat penyewaan, modalnya bisa cepat kembali dan keuntungan paska balik modal sudah terbayang yang mungkin bisa dipakai untuk mengembangkan usaha.
Tempat penyewaan permainan begini bisa dengan mudah ditemukan di mana-mana, katanya hasil dari usaha ini juga lumayan. Saya pernah menemukan sebuah tempat penyewaan berdinding bambu yang terletak di tengah-tengah tambak di Bekasi sana, listriknya nyantel. Hampir semua tempat penyewaan selalu terisi penuh, bahkan sering ada antrian. Jika bukti-bukti empiris memperlihatkan hal demikian, mestinya ini bisnis yang laku keras dan pasarnya masih terbuka lebar karena tempat-tempat penyewaan baru terus saja bermunculan. Hanya saja, kenapa pula produk mainan ini tak tercantum dalam situs resmi sang produsen di Indonesia? kan produknya laku keras. Dalam soal ini sang produsen hanya mencantumkan : "Regretfully, until now PT. Sony Indonesia does not have the authority to sell Playstation in Indonesia. Therefore we can not provide any information about the product line up". Nah lu ... informasipun tidak, apalagi berjualan barangnya. Untuk Asia, situs resmi permainan ini hanya menyebutkan negara Cina, Hong Kong, Jepang dan Korea sebagai tempatnya berjualan.
Sudahlah, apa sih yang ndak ada di Indonesia? Pabriknya jualan atau tidak di Indonesia yang pasti barangnya mudah ditemukan di berbagai tempat. Kelengkapan alat permainan ini juga dijual di mana-mana bahkan export segala. Tempat penyewaan permainan ini juga ada di mana-mana. Pertanyaannya sekarang, etiskah para pengusaha penyewaan itu membiarkan anak-anak berseragam sekolah pada jam sekolah berkunjung dan bermain di tempat usahanya?
Tiba di Narita dalam kondisi seperti pendekar kebanyakan nenggak ciu, nggeliyeng ndak karuan. Tiba dengan penerbangan pagi begini seperti biasa Narita penuh, untungnya saya bisa ngantri di loket imigrasi bagian para penyandang visa re-entry yang jumlah penyandangnya ndak banyak dan prosesnya cepat ... kalau ndak mau dibilang sangat cepat. Bea cukai juga begitu, basa-basi dikit, ciaaat ... lewat. Cuma dua kata buat jawaban petugas bea cukai ... daijobu desu ... Singaporu.
Lha karena kereta api ke Shinjuku masih satu jam lagi, ya ngeblog saja sambil ngupi-ngupi dulu, walaupun ndak ada cerita apa-apa sebetulnya kecuali kelakuan beberapa orang Jepang yang langsung bongkar-bongkar koper, nyari dasi dan jas warna gelapnya. Siut siut ... berubah! gemblung juga itu, minum kopi seperti dikejar hantu, pleng ... minggat. Mestinya mereka langsung ngantor itu sementara saya sendiri berencana buat dua hari leha-leha dulu di rumah. Senyum-senyum melihat kelakuan buru-buru begitu dan senyum-senyum mendengar suara pengumuman untuk memanggil nama-nama orang Thailand yang diucapkan dengan sangat susah payah oleh sang juru panggil.
Sejak kejadian huru-hara kabar akan adanya peledakan pesawat yang akan berangkat dari badar udara Heathrow, beberapa peraturan pemeriksaan yang "ketat" lantas diberlakukan. Copot sepatu dan ikat pinggang yang tadinya tak pernah terjadi sekarang harus dilakukan pada saat melalui pemeriksaan awal. Meja pemeriksaan passport yang dahulunya sering melompong tanpa petugas, sekarang penuh. Inggris adalah salah satu negara yang tidak melakukan upacara cap-capan passport kalau hendak keluar, sampai sekarang masih begitu tetapi dulu itu passport dilihatpun tidak.
Hanya saja yang bikin banyak orang geleng-geleng adalah peraturan tidak boleh bawa cairan, kosmetik, odol dan korek api gas (lighter). Susu untuk bayi harus dicicipi oleh sang Ibu dan tentu saja bayinya harus ada sebelum diperkenankan untuk dibawa masuk. Maka pemandangan seorang Ibu yang tergopoh-gopoh mengambil bayinya yang digendong oleh sang suami yang masih tertahan antrian di belakang bisa disaksikan. Obat? harus ada resep dokternya. Minuman beralkohol? lupakan saja. Pada gerbang pemeriksaan awal, barang-barang jenis itu hasil sitaan menumpuk. Hanya anehnya, begitu lepas dari pemeriksaan awal ini, para calon penumpang yang disambut oleh jajaran toko-toko bebas bea, boleh membeli barang-barang seperti itu dengan catatan kecuali calon penumpang yang akan terbang ke Amerika Serikat.
Lha sebagai anak nakal yang masih merokok, tentu saja saya harus merelakan lighter (yang juga sudah hampir habis) untuk disita. Celakanya toko-toko di dalam bandara itu kehabisan persediaan lighter, semua penjaga toko langsung menggeleng begitu ditanya apa jual lighter. Saya lantas berpikir, ya sudah tidak usahlah merokok sampai nanti tiba di Singapura. Eh ... masih ada satu toko lagi yang belum dicoba. Sama saja hasilnya, geleng-geleng juga, tetapi kali ini dengan saran ... "pergi saja ke ruang untuk merokok, di sana para perokok berbagi korek api".
Lenggang kangkung saya ke ruang merokok ... lho iya, di tiap meja lighter bergeletakan, siapapun boleh pakai dan tampaknya tidak ada yang lantas "ngembat" korek gratisan itu. Solidaritas para perokok? mungkin saja, yang berhasil mendapatkan lighter di toko bebas bea lantas meninggalkan lighternya di ruang merokok.
Selesai sudah semua yang harus diselesaikan di Cambridge. Minggu siang pulang ke rumah di Tokyo lagi. Wiiiih ... apa kabarnya tuh rumah, sudah hampir sebulan ndak dilongok, terbayang itu kotak surat bakal berlimpah dengan brosur dan berbagai macam surat sampah yang ndak bisa saya baca isinya apa.
Sampai ketemu lagi Cambridge, dan mestinya saya bakal kangen sama ruang kerja saya yang berantakan itu. Ada yang mberesin nggak ya?
Entah apa awalnya diskusi di meja makan itu tiba-tiba jadi hangat dengan diskusi soal Phoenix, burung api dongeng yang lahir dari abunya sendiri seperti yang pernah saya tulis di sini beberapa waktu yang lalu. Gara-gara diskusi itu, semua makanan langsung disingkirkan dari meja dan diganti dengan beberapa buku referensi hanya karena saya bertanya "burung apa Phoenix di dunia nyata?", dan pada akhirnya kami bersepakat memilih Flamingo atau tepatnya Lesser Flamingo - atau bisa juga Flamingo kecil (Phoenicopterus minor) sebagai perwujudan Phoenix, bukan hanya karena Phoenicopterus berarti sayap yang berwarna merah menyala, tetapi ada kisah lain dibalik Flamingo terkecil dan berwarna paling cerah menyala ini.
Cerita-cerita tua berbunyi ... Phoenix terbang ke Semenanjung Arabia (sebagian mengatakan ke Mesir) untuk mati, terbakar dan dari abunya akan keluar anak Phoenix. Kami lantas mencari burung apa yang berwarna merah yang pada masa kecilnya berwarna seperti abu. Pilihan jatuh pada Flamingo kecil. Hanya saja Flamingo kecil hidup di Afrika (terutama di Great Rift Valley) dan anak benua India bagian Barat. Satu jenis, terpecah menjadi dua populasi besar, aneh juga karena keduanya tidak memiliki perbedaan genetis dan tentunya pemisahan ini belumlah berlangsung lama. Kenapa tak ada Flamingo kecil di antara dua lokasi itu, di Semenanjung Arabia misalnya, tempat tujuan Phoenix untuk mati dan terlahir kembali, kenapa terputus?
Sederhana saja, tak ada danau alkali besar di Semenanjung Arabia yang cocok untuk tempat Flamingo mencari makan dan berbiak. Apa betul? Ahaaa ... beberapa tulisan ilmiah dalam berbagai jurnal dari akhir tahun 90-an memaparkan bukti bahwa pada suatu masa yang telah lama, ada sebuah danau besar seperti itu di Semenanjung Arabia yang sekarang hanya pasir di mana-mana itu. Buktinya? Ada fosil-fosil kuda nil dan kuda nil tak bisa hidup tanpa badan air yang besar. Kisahpun berlanjut dengan mulai mengeringnya danau itu dan pada suatu tahapan menjadi kering itulah, danau itu menjadi sebuah danau alkali yang lumayan besar. Di tempat itu Flamingo kecil yang berwarna kemerahan berbiak, mengerami telur dan anak-anak Flamingo yang berwarna seperti abu gosok itu menetas.
Bayangkan sebuah pemandangan di mana puluhan ribu (mungkin juga ratusan ribu) Flamengo berkumpul di suatu tempat ... wuiiiih seperti karpet merah itu danau mestinya. Warna merah pada bulu Flamengo berasal dari makanannya yang berupa ganggang yang mengandung pigmen berwarna merah. Bayangkan juga orang-orang yang menyaksikan peristiwa ini ribuan tahun yang lalu dan lantas berteka-teki "apa yang berwarna merah terang pada waktu dewasa dan berwarna seperti abu gosok dikala bayi" ... bayangkan teka-teki begini diceritakan dari mulut ke mulut selama berabad-abad dan bisa saja ujungnya menjadi "burung berwarna api menyala yang lahir dari abunya sendiri" ... Phoenix.
Ada satu lagi sifat Flamingo yang karena cerita dari mulut ke mulut pada ujung-ujungnya benar-benar mlintir. Begini, dari banyak jenis burung ada beberapa yang memberi makan anaknya dengan makanan yang sudah dicerna dan dimuntahkan kembali. Pada merpati, makanan untuk anak itu rupanya mirip susu dan pada Flamingo cairan itu berwarna seperti darah (karena makanan Flamingo yang berupa ganggang yang mengandung pigmen berwarna merah). Flamingo juga rajin membersihkan bulunya, sekarang dua sifat itu dijadikan satu dan terbentuklah cerita ... burung yang menusuk dadanya sendiri dengan paruhnya yang seperti kapak dan memberi makan anaknya dengan darahnya.
Cerita Flamingo, burung berparuh kapak ini, belum berhenti sampai di sini. Cerita begini mestinya dibawa oleh para pedagang dari Semenanjung Arabia pada saat mereka sedang berdagang dengan orang-orang Yunani dan dalam bahasa Yunani, kapak adalah Pelikas. Karena tak ada Flamingo di Yunani, burung berparuh kapak ini lantas dilimpahkan pada burung lain yang kemudian lantas dinamai Pelikan dan jadilah Pelikan sebagai burung yang lantas dikisahkan sebagai burung yang memberi makan anaknya dengan darahnya. Sebuah perbuatan yang dianggap sangat mulia sehingga Pelikan menjadi layak sebagai simbol keagamaan. Pada beberapa aliran dalam Agama Kristen, Pelikan dijadikan lambang. Ingat salah satu cerita serial Tintin (Tongkat Raja Ottokar) yang menjadikan Pelikan sebagai lambang suci kerajaan?
Obrolan begitu berlangsung sampai tengah malam dan melebar ke mana-mana ... Al-Qatruz, Alba, Albatros, Alcatraz ... semuanya berhubungan dan semuanya berawal dari burung. Lantas kesimpulannya apa? Ya ndak ada, lha wong cuma ndobos kok.
Matur nuwun sanget lho Mbah Nigel Collar yang sudah bersedia berbagi soal ini dan enak juga ribut-ribut sama sampeyan soal yang satu ini.
Ada satu perkara yang "mengerikan" buat saya di Inggris ini. Perkara makan! walaupun saya itu termasuk karung bergigi, tapi kalau harus makan makanan Inggris kadang saya lebih rela lapar. Sebetulnya perkara ini pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas dengan judul Inggris Pecas Ndahe di sini.
Saya ndak berlebihan dalam soal ini, dan ini diakui sendiri oleh orang Inggrisnya. Tengok saja, mana ada kata dalam Bahasa Inggris untuk mengucapkan selamat makan, seperti orang jepang yang selalu ngomong "Itadakimasu" sebelum makan. Orang Inggis malah bikin kartu pos yang menggambarkan betapa seriusnya masalah ini dan membandingkannya dengan negara Eropa lainnya, dan saya mendapatkan kartu pos itu di salah satu toko buku di Cambridge. Berikut potongan kartu itu :
Perancis. Tengoklah, saling bersulang anggur merah, berbagai macam makanan yang tampaknya enak sambil saling mengucapkan Bon appetit!
Jerman. Wiiiih itu bir sak gentong apa ndak goyang itu habis makan, sementara lawannya ditemani segelas anggur putih. Santaaaaaap ...
Italia. Anggur merah dan putih dan tentu saja pasta dengan kuah berminyak zaitun yang mengundang selera. Slurup.
Lha Inggis????!!!! .... Never mind!
Atau paling banter bilang "Would you like some tomato ketchup with your beans dear?"
Hari ini Kang Mas Pecas Ndahe ulang tahun yang ke 42 (banyak amat Mas) ... blog saya ulang bulan yang ke 6 bulan Lha ... makan-makannya di tempat yang ulang tahun
Ralat : ternyata Kang Mas Pecas ulang tahunnya tanggal 14, bukan 15 dan yang ke 41 bukan 42.