Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Istilah Copy-Paste saya yakin sudah diakrabi oleh para pengguna piranti lunak komputer terutama piranti lunak pengolah kata (word processor) dan pengolah gambar. Melakukan copy-paste atau salin-tempel (bedakan dengan salam tempel) jelas mempercepat proses penyalinan sebagian isi dokumen ke bagian lain dalam dokumen tersebut atau ke dokumen lain. Pilih bagian yang mau dicopy, lakukan perintah copy, pergi ke tempat di mana bagian itu mau diletakan, paste ... mak crut ... selesai dalam hitungan detik. Pada piranti lunak pengolah kata populer, proses itu bisa dipersingkat dengan menggunakan short-cut ctrl+c dan ctrl+v, atau dalam istilah seorang teman "crtl cv". Kok istilah asing ya? ada istilah yang lebih mudah untuk dimengerti? Ada ... Mbak Yati menyebutnya sebagai KOPAS (copy paste --> kopi paste --> KOPAS).
KOPAS untuk istilah menyalin tadi itu buat saya pas, enak didengar. Terima kasih Mbak. Asal jangan mleset jadi :
jeruknya di KOPAS dooong beritanya ada di KOPAS kok panas ya, kok ndak ada KOPAS? lukanya dibersihkan dengan KOPAS waaah subur, pake pupuk KOPAS ya? batu cincinnya KOPAS euy seorang KOPAS tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta
Sampeyan mau nambahi?
Untuk Lik Zamronie, kapankah gerangan hikayat Copy and Paste-nya akan diceritakan kepada khalayak ramai?
Ada sebuah "ritual" yang dilakukan oleh orang Sunda dan Betawi sebelum puasa tiba yang terkadang bisa semeriah hari raya. Ini acara kumpul-kumpul keluarga yang kadang diikuti dengan acara berziarah ke makam leluhur, bertetirah ke suatu tempat lengkap dengan acara makan-makan. Acara yang lantas dikenal dengan nama munggahan. Secara darah saya bukan orang Sunda, pemahaman saya akan acara ini sangat terbatas. Tetapi saya besar di Bandung dan saya sering diajak berpartisipasi dalam acara itu bersama keluarga kawan.
Sebuah email dari seorang kawan menyadarkan saya betapa sudah lamanya saya tidak ikut munggahan ... "kamana yeuh munggahan? uwih teu? ditaroskeun mamah kang". Tadinya email itu mau saya jawab dengan kata-kata "nggak ke mana-mana", tetapi sesuatu hal menyebabkan saya mengganti kata-kata itu dengan kata "Shinjuku".
Ya, kemarin itu saya "munggahan" ke Shinjuku walaupun minus acara nyekar yang diganti dengan acara mengunjungi tempat bermain anak-anak. Cerita acara tersebut sudah ditulis di blog tetangga sebelah, tak perlulah diulang. Saya hanya ingin berbagi beberapa kesan pendek terpotong-potong dari munggahan saya kemarin itu yang coba saya gabung jadi satu.
Waaa ... ni anak lucu banget, keluar lift, berjalan lurus mencari ibunya, menatap mahluk asing di samping ibunya, lantas langsung berbelok menatap peta Jepang ... "ada apa ya di Jepang". Anak lucu ini bisa dengan cepat mengganti bahasa percakapan dari Bahasa Indonesia lantas ganti ke Bahasa Jepang, sebuah kemampuan yang bisa bikin iri orang dewasa. Sebuah kemampuan belajar khas anak-anak yang sayangnya bisa hilang kalau tak sering dipakai. Saya mengalami itu, dan kadang menyesal juga kenapa tak sering saya pakai itu keahlian bercakap-cakap dalam Bahasa Palembang, Banjar dan Iban. Paling banter ngomong Palembang, yang sudah terpatah-patah dan bercampur dengan Bahasa Indonesia kalau ngobrol dengan penjual mpek-mpek di dekat terminal Bogor.
Sebentar lagi anak kecil yang lucu itu akan bergaul dengan teman-teman barunya yang mungkin tak seorangpun bisa berbicara dalam Bahasa Jepang. Kartun Jepang di televisipun sudah disulih suara. Papap Reza bilang, ada sih sekolah yang mengajarkan hal itu di Indonesia tapi biayanya mahal. Pendidikan memang tidak murah ya di Indonesia, walaupun ada yang mencoba untuk melakukan hal ini tetapi pada akhirnya sekolah itu sangat bergantung dengan kedermawanan para penyumbang. Dalam jangka panjang, ada ketidakjelasan kelangsungan keberlanjutannya (haiyaaah susah banget kata-katanya).
Banyak orang ingin bersekolah setinggi mungkin, pergi ke negri yang jauh meninggalkan keluarga juga dijabanin. Selesai sekolah, ingin sekali kembali ke negri asal berkumpul kembali dengan keluarga dan mengabdikan apa-apa yang telah dipelajarinya untuk negrinya. Sedap sekali kalau semuanya lantas bisa semudah itu. Ada banyak cerita bagaimana orang-orang dari Indonesia terpaksa meninggalkan negrinya karena dalam beberapa bidang amat sangat tidak mudah baginya untuk melakukan apa-apa yang diketahuinya untuk kebaikan negri sendiri. Mungkin Mbak Emil bisa cerita banyak soal ini.
Ada banyak orang seperti saya yang dipaksa harus loncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain walaupun saya bukan buronan kriminal atau politik. Hidup sebagai "manusia koper" dengan enteng bisa saya jalani .... dulunya. Bepergian ke sana ke mari, melihat berbagai tempat baru, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda, jiwa eksplorasi yang terpuaskan dan yang paling penting .... dibayari pula. Ngerjain hobi dibayar kasarnya. Tapi namanya manusia, ya ndak ada puasnya, sekarang saya lantas ingin pulang, mengejar ketertinggalan melihat anak-anak saya tumbuh. Jangan sampai kalau saya pulang nanti anak-anak memanggil saya om, paman, pakde, paklik, uwak, tulang dan sebangsanya! Bapakmu iki le ... bapakmu.
Soal anak, pendidikan, kerja, jalan-jalan, teman ... yen tak pikir-pikir, kok saya beruntung sekali ya? Begitulah, hasil melamun sendirian di kereta api. Sepulang munggahan itu saya lantas bisa mengucap terima kasih Gusti. Lha sekarang ... ada yang mau ngajak saya ngabuburit?
Berita paling anyar soal negara tetangga yang terpampang di website berita BBC ini mengatakan begini :
"Australia is planning a radical strengthening of immigration laws that would require prospective citizens to take tough English language tests as well as a quiz on history and culture."
Kabarnya, rencana itu banyak menuai protes dari beberapa pihak. Protesnya disampaikan dalam Bahasa Inggris, agar pihak yang diprotes mengerti tentunya. Buat saya? aaah ya biar saja, itukan negara-negara mereka, mau bikin apa di dalam negaranya sendiri asal tidak mengganggu negara lain terserah merekalah. Berita itu mengingatkan saya akan seorang teman yang berkewarganegaraan Australia yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikan S3-nya di Darwin. Pernah pada suatu kali dia saya sodori test Bahasa Inggris IELTS (tanpa essay), nilai rata-rata akhir yang dicapainya 4,5. kepada dia saya lantas berkata, "kawan ... dengan hasil begini, kalau kamu orang Indonesia, kamu ndak akan diterima untuk bersekolah di Australia".
Sekedar ingin tahu saja, berapa banyak sisa penduduk Australia jika semua warga negara Australia diharuskan mengikuti test yang diusulkan oleh pemerintahnya itu untuk bisa tetap menjadi warga negara Australia? Lantas apa hasilnya, jika ujian bahasa, sejarah dan kebudayaan Indonesia, dilakukan di Indonesia untuk orang Indonesia agar bisa diakui sebagai warga negara Indonesia? Waaah wah, saya bisa-bisa daripada dikeluarken.
Shinjuku, salah satu dari 23 special wards yang bersama-sama dengan Tama membentuk Metropolitan Tokyo. Shinjuku bisa dibilang salah satu tempat tersibuk di seantero Jepang. Shinjuku juga tempat stasiun kereta api paling sibuk se-dunia. Gedung-gedung dengan banyak lantai menjulang-julang nyundul awan (haiyah ngarang!), berhimpitan dan membuat jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung itu seperti terowongan angin yang tak bersahabat bagi perempuan penggemar rok berbahan halus dan ringan atau pengguna payung.
Gedung-gedung pertokoan, restoran, tempat-tempat minum, kantor pemerintah, sekolah dan hotel saling berdesakan seperti halnya orang-orang penghuni Shinjuku. Tak kurang dari 16 ribu orang berjejalan per km perseginya di Shinjuku, itu baru penghuni tetap. Para pekerja yang tinggal di luar ward Shinjuku menambah jejalan itu di hari-hari kerja. Jalur-jalur jalan raya dan kereta api nyaris tak pernah sepi di Shinjuku.
Di tengah hiruk pikuk seperti itu Shinjuku masih menyisakan keramahan alami dengan taman-tamannya. Dua taman untuk umum yang besar, Shinjuku Gyoen dan Shinjuku Central, yang ditata apik menawarkan kesejukan di tengah musim panas yang gerahnya ngalah-ngalahin Jakarta. Maka sesekali boleh juga saya melarikan diri dari kantor untuk rebah-rebah di bawah pohon sambil nonton tingkah burung-burung. Sebuah kemewahan yang sebentar lagi bakal hilang, musim gugur sudah mulai nyenggol-nyenggol dan angin dingin kadang datang tiba-tiba. Burung-burung juga sudah mulai beterbangan ke selatan, bermigrasi, beberapa akan berdiam untuk sementara waktu di Indonesia. Hanya gagak, merpati dan burung gereja yang masih mudah untuk dilihat dan mereka tak akan pergi ke mana-mana. Selamat tinggal musim panas, sampai ketemu tahun depan.
selamat menjalankan ibadah puasa dan mohon maaf lahir batin
Karena Menteri Agama Kekaisaran Jepang (emang ada ya?) belum mengumumkan kapan persisnya puasa dimulai di Jepang, maka saya manut sama tanggal dimulainya puasa di Indonesia saja.
Karena menempuh perjalanan melewati beberapa zona waktu maka "jam biologis" atau circadian rhythm saya jungkir balik melintir ndak karuan dan orang mengistilahinya sebagai jetlag. Kalau sudah begini, migraine saya bisa dengan riangnya muncul, badan pegal-pegal, bingungan, sifat karung bergigi berganti jadi amplop angpao bergigi, tidur pada jam yang tak semestinya dan yang paling parah saya jadi ndak bisa mikir lempeng. Dalam keadaan tanpa jetlag sekalipun kelurusan pikiran saya dipertanyakan banyak rekan sekerja apalagi dengan jetlag. Dari sedikit sistem tubuh yang tak terganggu karena jetlag, salah satunya adalah sel-sel kelabu otak bagian "kejahilan" (jahil? ah ... saya lebih suka menyebutnya sebagai creative defence mechanism).
Masih dalam keadaan belum pulih dari jetlag, saya masuk kantor karena jatah libur jetlag saya yang hanya sehari itu sudah habis. Waaah, meja para tetangga yang juga baru pulang bepergian dipenuhi amplop surat dan kiriman pos yang tampaknya berisi buku. Meja saya? ... nyaris bersih, hanya ada 3 amplop dan ketiganya berisi tagihan (gas, listrik dan internet). Disaat mereka sedang bergembira ria membuka berbagai "bungkusan hadiah" itu, saya sibuk menerka-nerka isi tagihan yang bertuliskan kanji. Selain kesedihan itu, hingga acara makan siang lewat, tak ada insiden yang berarti. Lha sepulang makan siang insiden terjadi.
Adalah kebiasaan aneh dari atasan saya untuk memberitahu saya sebelum dia mengirim tugas melalui email. Aneh? tidak juga, dia punya masalah dengan teknologi. Kalau dikatakan gagap teknologi, itu masih masuk dalam kategori pujian buat dia. Kali ini dia memperlihatkan berbagai file di komputernya yang harus saya kerjakan. Lha ... kok itu banyak begitu? lho kok banyak kode U-nya (urgent)? ndak bisa dicicil apa? Ndak tahu kalau saya masih jetlag ya? Maka otak sayapun langsung meriah ... Houston we have problems ... defence mechanism bekerja cepat. Tuing tuing ... RJ (registered jack) connector sang bos yang nancep dengan gagahnya di switch jaringan saya cabut.
Tak lama kemudian, "saya kok ndak bisa kirim email ya? ah mestinya komputer ini bermasalah lagi. Maaf, file-file tadi saya kirim besok saja ya". Saya mengangguk-angguk sambil berseru "jangan kirim sekaligus banyak, dicicil saja, nanti software email-mu marah". Dia mengangguk sambil balas berseru "oooh begitu ya? baiklah, besok saya kirim yang betul-betul penting saja dulu". Lantas dia mematikan komputernya, bangkit dari duduknya, mengambil pensil dan buku besarnya itu dan pindah ke meja besar untuk mulai menulis entah apa.
Eeeealah pak bos, mbok budak belianmu yang masih dihantam jetlag ini dikasih coklat, dibikinkan kopi, dipijeti, dibelikan iPod ... lha kok malah disuruh mikir yang berat-berat. Biarkanlah kewarasan saya yang masih tersisa sedikit ini saya pakai buat nge-blog. Nanti kalau sudah kembali normal, saya janji akan menyisakan sedikit kewarasan yang ada untuk mengerjakan tugas itu ... ya pak bos ya, ya ya ya ... bapak ganteng deh ... mau diambilin setip? atau mau dihibur pak? ... saya nyanyi jablai ya. Lai lai lai lai lai lai ... mari bapak ku belai ....
Jaman saya kecil dulu mainannya ya petak umpet, gobak sodor, kasti, bola kaki, perang-perangan, layangan, berkelahi, berenang di kali, nangkep belut, memancing (ikan dan keributan), dan sebangsanya. Pokoknya permainan yang sehabis dilakukan bisa membuat Ibu saya teriak-teriak nyuruh saya mandi karena bau prengus. Itu permainan di alam bebas, dan jika sedang terkurung di dalam rumah maka jenis permainannya agak anteng seperti berkemah dalam rumah pakai selimut, main scrabble (ini dipaksa bapak), kanasta (ini dipaksa ibu) atau kuartet (ini dipaksa adik). Electronic game? silahkan bermimpi, saya ndak pernah dibelikan mainan yang menggunakan setrum.
Maka, ketika pada suatu hari di akhir tahun 2002 saya membeli PlayStation 2 (PS2) itu adalah upaya "balas dendam" masa kecil saya yang tak beroleh mainan dengan setrum. Reaksinya campur aduk, Istri saya merengut tetapi anak-anak berjingkrak (3 lawan 1 ... hidup demokrasi!!). Hanya saja walaupun tampaknya ini adalah kemenangan yang demokratis, tetapi seperti halnya demokrasi di bidang lain, aturan selalu dibikin oleh yang sedikit ... istri saya. Hanya boleh main game (redundant yak?) Sabtu dan Minggu atau di hari libur, harus pakai istirahat sesudah dua jam main dan boleh mulai main jika semua kewajiban lain (yang juga ditetapkannya) sudah beres. Selain itu kami hanya diperbolehkan membeli jenis permainan baru sebulan sekali, itupun hanya boleh maksimum 2 dan jenisnya harus lulus seleksi sang ibu. Kami para lelaki di rumah patuh, itulah dahsyatnya tirani cinta.
Empat tahun kemudian, PS2 itu masih bekerja dengan sangat baik dan belum pernah direparasi, paling-paling saya membersihkan lensanya saja. Seringkah saya memainkannya? ya tidak, kalah sama anak-anak saya itu ... "bapakkan sudah besar, masak gak mau ngalah sama anak kecil?!" ya sudah mengalah saja, gagal upaya saya untuk berolah raga jempol. Sewaktu kemarin saya pulang ke Bogor, tak sekalipun PS2 itu saya sentuh dan anak-anak juga tidak menyentuhnya sama sekali. Begitulah, mainan idaman itu akhirnya amat jarang saya sentuh. Anak-anakpun tampaknya bisa dikendalikan dengan baik.
Saya terkekeh-kekeh pada saat istri saya menceritakan bahwa tempat penyewaan PS di dekat rumah disantroni oleh guru-guru sebuah sekolah menengah karena banyak anak dari sekolah itu mangkir dan malah "bersekolah" di tempat itu. Tak ada yang lucu dalam hal membolos, saya terkekeh karena membayangkan peristiwa penyantronan itu. Diceritakan pula bagaimana para ibu di sekitar tempat itu bersungut-sungut karena anak-anak mereka dan suaminya rajin menyambangi tempat itu tak kenal waktu. Tentunya yang paling bergirang hati dalam persoalan ini adalah sang empunya tempat penyewaan, modalnya bisa cepat kembali dan keuntungan paska balik modal sudah terbayang yang mungkin bisa dipakai untuk mengembangkan usaha.
Tempat penyewaan permainan begini bisa dengan mudah ditemukan di mana-mana, katanya hasil dari usaha ini juga lumayan. Saya pernah menemukan sebuah tempat penyewaan berdinding bambu yang terletak di tengah-tengah tambak di Bekasi sana, listriknya nyantel. Hampir semua tempat penyewaan selalu terisi penuh, bahkan sering ada antrian. Jika bukti-bukti empiris memperlihatkan hal demikian, mestinya ini bisnis yang laku keras dan pasarnya masih terbuka lebar karena tempat-tempat penyewaan baru terus saja bermunculan. Hanya saja, kenapa pula produk mainan ini tak tercantum dalam situs resmi sang produsen di Indonesia? kan produknya laku keras. Dalam soal ini sang produsen hanya mencantumkan : "Regretfully, until now PT. Sony Indonesia does not have the authority to sell Playstation in Indonesia. Therefore we can not provide any information about the product line up". Nah lu ... informasipun tidak, apalagi berjualan barangnya. Untuk Asia, situs resmi permainan ini hanya menyebutkan negara Cina, Hong Kong, Jepang dan Korea sebagai tempatnya berjualan.
Sudahlah, apa sih yang ndak ada di Indonesia? Pabriknya jualan atau tidak di Indonesia yang pasti barangnya mudah ditemukan di berbagai tempat. Kelengkapan alat permainan ini juga dijual di mana-mana bahkan export segala. Tempat penyewaan permainan ini juga ada di mana-mana. Pertanyaannya sekarang, etiskah para pengusaha penyewaan itu membiarkan anak-anak berseragam sekolah pada jam sekolah berkunjung dan bermain di tempat usahanya?
Tiba di Narita dalam kondisi seperti pendekar kebanyakan nenggak ciu, nggeliyeng ndak karuan. Tiba dengan penerbangan pagi begini seperti biasa Narita penuh, untungnya saya bisa ngantri di loket imigrasi bagian para penyandang visa re-entry yang jumlah penyandangnya ndak banyak dan prosesnya cepat ... kalau ndak mau dibilang sangat cepat. Bea cukai juga begitu, basa-basi dikit, ciaaat ... lewat. Cuma dua kata buat jawaban petugas bea cukai ... daijobu desu ... Singaporu.
Lha karena kereta api ke Shinjuku masih satu jam lagi, ya ngeblog saja sambil ngupi-ngupi dulu, walaupun ndak ada cerita apa-apa sebetulnya kecuali kelakuan beberapa orang Jepang yang langsung bongkar-bongkar koper, nyari dasi dan jas warna gelapnya. Siut siut ... berubah! gemblung juga itu, minum kopi seperti dikejar hantu, pleng ... minggat. Mestinya mereka langsung ngantor itu sementara saya sendiri berencana buat dua hari leha-leha dulu di rumah. Senyum-senyum melihat kelakuan buru-buru begitu dan senyum-senyum mendengar suara pengumuman untuk memanggil nama-nama orang Thailand yang diucapkan dengan sangat susah payah oleh sang juru panggil.
Sejak kejadian huru-hara kabar akan adanya peledakan pesawat yang akan berangkat dari badar udara Heathrow, beberapa peraturan pemeriksaan yang "ketat" lantas diberlakukan. Copot sepatu dan ikat pinggang yang tadinya tak pernah terjadi sekarang harus dilakukan pada saat melalui pemeriksaan awal. Meja pemeriksaan passport yang dahulunya sering melompong tanpa petugas, sekarang penuh. Inggris adalah salah satu negara yang tidak melakukan upacara cap-capan passport kalau hendak keluar, sampai sekarang masih begitu tetapi dulu itu passport dilihatpun tidak.
Hanya saja yang bikin banyak orang geleng-geleng adalah peraturan tidak boleh bawa cairan, kosmetik, odol dan korek api gas (lighter). Susu untuk bayi harus dicicipi oleh sang Ibu dan tentu saja bayinya harus ada sebelum diperkenankan untuk dibawa masuk. Maka pemandangan seorang Ibu yang tergopoh-gopoh mengambil bayinya yang digendong oleh sang suami yang masih tertahan antrian di belakang bisa disaksikan. Obat? harus ada resep dokternya. Minuman beralkohol? lupakan saja. Pada gerbang pemeriksaan awal, barang-barang jenis itu hasil sitaan menumpuk. Hanya anehnya, begitu lepas dari pemeriksaan awal ini, para calon penumpang yang disambut oleh jajaran toko-toko bebas bea, boleh membeli barang-barang seperti itu dengan catatan kecuali calon penumpang yang akan terbang ke Amerika Serikat.
Lha sebagai anak nakal yang masih merokok, tentu saja saya harus merelakan lighter (yang juga sudah hampir habis) untuk disita. Celakanya toko-toko di dalam bandara itu kehabisan persediaan lighter, semua penjaga toko langsung menggeleng begitu ditanya apa jual lighter. Saya lantas berpikir, ya sudah tidak usahlah merokok sampai nanti tiba di Singapura. Eh ... masih ada satu toko lagi yang belum dicoba. Sama saja hasilnya, geleng-geleng juga, tetapi kali ini dengan saran ... "pergi saja ke ruang untuk merokok, di sana para perokok berbagi korek api".
Lenggang kangkung saya ke ruang merokok ... lho iya, di tiap meja lighter bergeletakan, siapapun boleh pakai dan tampaknya tidak ada yang lantas "ngembat" korek gratisan itu. Solidaritas para perokok? mungkin saja, yang berhasil mendapatkan lighter di toko bebas bea lantas meninggalkan lighternya di ruang merokok.