Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< September 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Wednesday, September 27, 2006
Pedangnya Jepang

Mari kita nJepang lagi, kali ini sekilas soal pedang, penggunanya dan peruntukannya, siapa tahu ada yang berminat main tusuk dan gorok ala Jepang, walaupun saya tidak bermaksud menganjurkan permainan penuh darah begini, tuberok ... bukan turun berok tetapi tusuk, tebas dan gorok. "Permainan" yang pada suatu masa yang telah lama lewat di Jepang sini adalah soal kehormatan dan jalan seorang kesatria yang dilakukan oleh para lelaki dengan potongan rambut yang "aneh".

Banyak orang di Indonesia menyebut pedang panjang khas Jepang dengan nama Samurai. Padahal Samurai sendiri adalah nama untuk seseorang yang mengabdi sebagai tentara kepada seorang bangsawan, dan kata Samurai sendiri secara harafiah berarti melayani. Seorang Samurai biasanya menyandang paling tidak dua buah pedang, yang satu panjang dinamai Katana dan yang satu lebih pendek dinamai Wakizashi. Jika Katana bisa ditinggalkan atau dititipkan pada saat seorang Samurai datang ke rumah seseorang, Wakizashi terus menempel di pinggang, pantang dilepas. Waktu tidurpun Wakizashi ditaruh di bawah bantal sang Samurai. Sering juga seorang Samurai menyandang pedang lain (atau lebih tepatnya pisau) yang ukurannya lebih kecil dari Wakizashi, yang disebut Tanto.

Katana dirancang untuk menebas atau mengiris pada pertarungan jarak dekat, walaupun bisa juga dipakai buat menusuk. Penggunaan Katana haruslah orang yang betul-betul jagoan pedang untuk mendapatkan hasil yang optimal. Salah-salah pakai, malah bilah pedangnya yang rusak. Jika Katana sedang tidak tersedia, perannya digantikan oleh Wakizashi dan di tangan seorang jagoan pedang bekas tebasan Wakizashi bisa tak terlihat. Kadang Wakizashi digunakan dalam ritual Seppuku, walaupun dalam ritual tersebut Tanto adalah alat yang pas untuk mengoyak perut. Tanto sebenarnya dirancang untuk menusuk dan mengiris. Ini dia senjata kesukaannya para ninja, kecil, enteng dan pas buat tugas yang pantang ada ribut-ributnya. Saat ini Tanto adalah senjata favorit para Yakuza, para penjahat Jepang yang terorganisir.

Seppuku adalah upacara untuk bunuh diri dan di luar Jepang lebih populer dengan istilah Harakiri, walaupun di Jepang sendiri istilah Harakiri dianggap sebagai istilah yang kasar. Ritual Seppuku biasanya memerlukan keterlibatan aktif paling tidak dua orang, satu yang mau bunuh diri dan satu lagi adalah pendampingnya (Kaishakunin) yang bertugas memenggal kepala orang yang melakukan Seppuku. Hanya saja, dalam pemenggalan itu leher yang dipenggal tidak boleh betul-betul putus, harus ada daging yang membuat kepala yang dipenggal tetap menempel pada tubuhnya. Lha...sulit ini, oleh karenanya sang pendamping haruslah jagoan pedang juga.

Sepuku biasanya dilakukan dengan upacara yang rada njelimet (Jepang ... apa sih yang ndak njelimet?). Yang mau bunuh diri mandi dulu bersih-bersih, lantas pakai pakaian putih-putih, makan dulu, lha baru sesudahnya siap-siap untuk tusuk dan iris dimulai. Duduk manis dengan Tanto diletakkan di depannya. Sabaaarrr ... nulis puisi dulu. Selesai, baru itu Tanto diambil lantas ditusukan ke perut agak ke kiri lantas Tanto digeser ke kanan, yang terakhir ke atas dikit biar ususnya keluar. Selesai, baru sekarang giliran Kaishakunin beraksi menyabet lehernya. Tanto bekas pakai tadi lalu diletakkan di piring bekas makan tadi.

Hanya saja pendamping untuk Seppuku hanya untuk orang yang Seppukunya untuk menjaga kehormatan. Misalnya, kalau seorang Samurai tertangkap oleh musuh, maka seorang pendamping akan ditugaskan untuk memenggalnya. Jika Samurainya itu Samurai mbeling yang nyolongan, tukang korupsi atau jadi penjahat kacangan lainnya .... ya tak ada pendamping, dibiarkan mati saja dengan kesakitan sampai kehabisan darah.

Lha ndobos saya ini asalnya dari cerita seorang kawan Jepang yang belum punya pengalaman sama sekali dalam melakukan Seppuku, jadi kalau ada salah-salah atau kurang-kurang ... ya dimaklumi saja, namanya juga dia cuma jago teori ndak pernah praktek sama sekali. Kalau saya? wong saya itu tukang ndobos, kok ditanya soal Seppuku. Soal ini saya kan taunya ya cuma seppuku dua pukku saja.

Gambar diambil dari sini.


Posted at 07:19 am by Sir Mbilung
Ada (13) yang ndobos juga  

Tuesday, September 26, 2006
Buka Puasa

Waktu kecil dulu, acara di televisi yang paling dinanti-nanti di Indonesia pada bulan puasa adalah Adzan Maghrib. Teh anget ngepul-ngepul, panganan entah itu kolak, manisan buah atau kelapa muda, tergolek rapih di hadapan menemani upacara menunggu acara favorit itu. Begitu acara yang ditunggu-tunggu itu mulai, doa berbuka puasa dilantunkan dengan kecepatan tinggi, dan kesibukan dahsyat dimulai. Adzan belum selesai, gelas teh anget sudah kosong dan panganan tinggal separo. Acara berbuka puasa memang terasa sangat istimewa, selalu ada panganan kecil, entah itu jajan pasar atau yang seperti disebut tadi, yang pasti semua manis. Kalau tidak dibentak bapak disuruh sholat maghrib, mana bakal meja penuh hidangan itu ditinggalkan. "Mbok sholat dulu, makanan itu ndak bakalan lari", begitu ibu saya selalu berkata ... mentang-mentang sudah buka, boleh marah-marah lagi ya bu?

Berpuasa di negri yang jauh, sendiri, jauh dari keluarga, dan di tivinya ndak ada acara Adzan Maghrib, sudah beberapa kali saya lakoni dan kali ini di Jepang. Karena saya ndak bisa (masih belum bisa tepatnya) masak, untuk berbuka puasa saya membeli makanan jadi. Kue lapis ndak ada, nagasari, klepon, onde-onde, cendol, kolak kok ya belum nemu ada yang jual di sekitar rumah saya. Bukan berarti tidak ada sebenarnya, bisa saja diadakan seperti yang dilakukan Mbakyu ini dan lantas dipamerkan ke saya yang cuma bisa misuh-misuh. Hati-hati Mbakyu, suatu kali saya bakal nekat nunggang Sinkansen buat ke rumah panjenengan mengambil jatah kolak saya lho.

Tadi saya berbuka dengan teh anget dan permen karet (lha wong masih di kantor je). Dalam perjalanan pulang lantas menyempatkan diri mampir ke sebuah supermarket di dekat rumah. Setelah menimbang-nimbang maka pilihan saya jatuh pada moci berwarna hijau yang terbuat dari beras ketan dan berisi kacang merah manis. Kok dari tadi saya makan yang lengket-lengket begini ya? lha gigi palsu bisa terangkut dan ikutan tertelan kalo gini caranya. Lagian ini moci tadi kenapa ngambil yang hijau? bukan yang putih ya? Rasanya kedaun-daunan begini, tak apaaaaa .... akulah si ulat sutra.

Ya begitulah, tak ada yang beda dengan puasanya, hanya ada tradisi-tradisi lama yang ngangeni saja yang lantas tak bisa dilakoni di sini. Sampeyan buka pake apa? Mbok saya dikirimi.


Posted at 02:27 am by Sir Mbilung
Ada (18) yang ndobos juga  

Monday, September 25, 2006
KOPAS

Istilah Copy-Paste saya yakin sudah diakrabi oleh para pengguna piranti lunak komputer terutama  piranti lunak pengolah kata (word processor) dan pengolah gambar. Melakukan copy-paste atau salin-tempel (bedakan dengan salam tempel) jelas mempercepat proses penyalinan sebagian isi dokumen ke bagian lain dalam dokumen tersebut atau ke dokumen lain. Pilih bagian yang mau dicopy, lakukan perintah copy, pergi ke tempat di mana bagian itu mau diletakan, paste ... mak crut ... selesai dalam hitungan detik. Pada piranti lunak pengolah kata populer, proses itu bisa dipersingkat dengan menggunakan short-cut ctrl+c dan ctrl+v, atau dalam istilah seorang teman "crtl cv". Kok istilah asing ya? ada istilah yang lebih mudah untuk dimengerti? Ada ... Mbak Yati menyebutnya sebagai KOPAS (copy paste --> kopi paste --> KOPAS).

KOPAS untuk istilah menyalin tadi itu buat saya pas, enak didengar. Terima kasih Mbak. Asal jangan mleset jadi :

jeruknya di KOPAS dooong
beritanya ada di KOPAS kok
panas ya, kok ndak ada KOPAS?
lukanya dibersihkan dengan KOPAS
waaah subur, pake pupuk KOPAS ya?
batu cincinnya KOPAS euy
seorang KOPAS tua pada sebuah kantor partikelir di Jakarta

Sampeyan mau nambahi?

Untuk Lik Zamronie, kapankah gerangan hikayat Copy and Paste-nya akan diceritakan kepada khalayak ramai?

Gambar diambil dari sini.

Posted at 02:07 pm by Sir Mbilung
Ada (13) yang ndobos juga  

Sunday, September 24, 2006
Munggahan

Ada sebuah "ritual" yang dilakukan oleh orang Sunda dan Betawi sebelum puasa tiba yang terkadang bisa semeriah hari raya. Ini acara kumpul-kumpul keluarga yang kadang diikuti dengan acara berziarah ke makam leluhur, bertetirah ke suatu tempat lengkap dengan acara makan-makan. Acara yang lantas dikenal dengan nama munggahan. Secara darah saya bukan orang Sunda, pemahaman saya akan acara ini sangat terbatas. Tetapi saya besar di Bandung dan saya sering diajak berpartisipasi dalam acara itu bersama keluarga kawan.

Sebuah email dari seorang kawan menyadarkan saya betapa sudah lamanya saya tidak ikut munggahan ... "kamana yeuh munggahan? uwih teu? ditaroskeun mamah kang". Tadinya email itu mau saya jawab dengan kata-kata "nggak ke mana-mana", tetapi sesuatu hal menyebabkan saya mengganti kata-kata itu dengan kata "Shinjuku".

Ya, kemarin itu saya "munggahan" ke Shinjuku walaupun minus acara nyekar yang diganti dengan acara mengunjungi tempat bermain anak-anak. Cerita acara tersebut sudah ditulis di blog tetangga sebelah, tak perlulah diulang. Saya hanya ingin berbagi beberapa kesan pendek terpotong-potong dari munggahan saya kemarin itu yang coba saya gabung jadi satu.

Waaa ... ni anak lucu banget, keluar lift, berjalan lurus mencari ibunya, menatap mahluk asing di samping ibunya, lantas langsung berbelok menatap peta Jepang ... "ada apa ya di Jepang". Anak lucu ini bisa dengan cepat mengganti bahasa percakapan dari Bahasa Indonesia lantas ganti ke Bahasa Jepang, sebuah kemampuan yang bisa bikin iri orang dewasa. Sebuah kemampuan belajar khas anak-anak yang sayangnya  bisa hilang kalau tak sering dipakai. Saya mengalami itu, dan kadang menyesal juga kenapa tak sering saya pakai itu keahlian bercakap-cakap dalam Bahasa Palembang, Banjar dan Iban. Paling banter ngomong Palembang, yang sudah terpatah-patah dan bercampur dengan Bahasa Indonesia kalau ngobrol dengan penjual mpek-mpek di dekat terminal Bogor.

Sebentar lagi anak kecil yang lucu itu akan bergaul dengan teman-teman barunya yang mungkin tak seorangpun bisa berbicara dalam Bahasa Jepang. Kartun Jepang di televisipun sudah disulih suara. Papap Reza bilang, ada sih sekolah yang mengajarkan hal itu di Indonesia tapi biayanya mahal. Pendidikan memang tidak murah ya di Indonesia, walaupun ada yang mencoba untuk melakukan hal ini tetapi pada akhirnya sekolah itu sangat bergantung dengan kedermawanan para penyumbang. Dalam jangka panjang, ada ketidakjelasan kelangsungan keberlanjutannya (haiyaaah susah banget kata-katanya).

Banyak orang ingin bersekolah setinggi mungkin, pergi ke negri yang jauh meninggalkan keluarga juga dijabanin. Selesai sekolah, ingin sekali kembali ke negri asal berkumpul kembali dengan keluarga dan mengabdikan apa-apa yang telah dipelajarinya untuk negrinya.  Sedap sekali kalau semuanya  lantas bisa semudah itu. Ada banyak cerita bagaimana orang-orang dari Indonesia terpaksa meninggalkan negrinya karena dalam beberapa bidang amat sangat tidak mudah baginya untuk melakukan apa-apa yang diketahuinya untuk kebaikan negri sendiri. Mungkin Mbak Emil bisa cerita banyak soal ini.

Ada banyak orang seperti saya yang dipaksa harus loncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain walaupun saya bukan buronan kriminal atau politik. Hidup sebagai "manusia koper" dengan enteng bisa saya jalani .... dulunya. Bepergian ke sana ke mari, melihat berbagai tempat baru, bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda, jiwa eksplorasi yang terpuaskan dan yang paling penting .... dibayari pula. Ngerjain hobi dibayar kasarnya. Tapi namanya manusia, ya ndak ada puasnya, sekarang saya lantas ingin pulang, mengejar ketertinggalan melihat anak-anak saya tumbuh. Jangan sampai kalau saya pulang nanti anak-anak memanggil saya om, paman, pakde, paklik, uwak, tulang dan sebangsanya! Bapakmu iki le ... bapakmu.

Soal anak, pendidikan, kerja, jalan-jalan, teman ... yen tak pikir-pikir, kok saya beruntung sekali ya? Begitulah, hasil melamun sendirian di kereta api. Sepulang munggahan itu saya lantas bisa mengucap terima kasih Gusti. Lha sekarang ... ada yang mau ngajak saya ngabuburit?


Posted at 08:13 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, September 23, 2006
Test

Berita paling anyar soal negara tetangga yang terpampang di website berita BBC ini mengatakan  begini :

"Australia is planning a radical strengthening of immigration laws that would require prospective citizens to take tough English language tests as well as a quiz on history and culture."

Kabarnya, rencana itu banyak menuai protes dari beberapa pihak. Protesnya disampaikan dalam Bahasa Inggris, agar pihak yang diprotes mengerti tentunya. Buat saya? aaah ya biar saja, itukan negara-negara mereka, mau bikin apa di dalam negaranya sendiri asal tidak mengganggu negara lain terserah merekalah. Berita itu mengingatkan saya akan seorang teman yang berkewarganegaraan Australia yang sekarang sedang menyelesaikan pendidikan S3-nya di Darwin. Pernah pada suatu kali dia saya sodori test Bahasa Inggris IELTS (tanpa essay), nilai rata-rata akhir yang dicapainya 4,5. kepada dia saya lantas berkata, "kawan ... dengan hasil begini, kalau kamu orang Indonesia, kamu ndak akan diterima untuk bersekolah di Australia".

Sekedar ingin tahu saja, berapa banyak sisa penduduk Australia jika semua warga negara Australia diharuskan mengikuti test yang diusulkan oleh pemerintahnya itu untuk bisa tetap menjadi warga negara Australia? Lantas apa hasilnya, jika ujian bahasa, sejarah dan kebudayaan Indonesia, dilakukan di Indonesia untuk orang Indonesia agar bisa diakui sebagai warga negara Indonesia? Waaah wah, saya bisa-bisa daripada dikeluarken.


Posted at 08:53 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Shinjuku Akhir Musim Panas

Shinjuku, salah satu dari 23 special wards yang bersama-sama dengan Tama membentuk Metropolitan Tokyo. Shinjuku bisa dibilang salah satu tempat tersibuk di seantero Jepang. Shinjuku juga tempat stasiun kereta api paling sibuk se-dunia. Gedung-gedung dengan banyak lantai menjulang-julang nyundul awan (haiyah ngarang!), berhimpitan dan membuat jalan-jalan kecil di antara gedung-gedung itu seperti terowongan angin yang tak bersahabat  bagi perempuan penggemar rok berbahan halus dan ringan atau pengguna payung.

Gedung-gedung pertokoan, restoran, tempat-tempat minum, kantor pemerintah, sekolah dan hotel saling berdesakan seperti halnya orang-orang penghuni Shinjuku. Tak kurang dari 16 ribu orang berjejalan per km perseginya di Shinjuku, itu baru penghuni tetap. Para pekerja yang tinggal di luar ward Shinjuku menambah jejalan itu di hari-hari kerja. Jalur-jalur jalan raya dan kereta api nyaris tak pernah sepi di Shinjuku.

Di tengah hiruk pikuk seperti itu Shinjuku masih menyisakan keramahan alami dengan taman-tamannya. Dua taman untuk umum yang besar, Shinjuku Gyoen dan Shinjuku Central, yang ditata apik menawarkan kesejukan di tengah musim panas yang gerahnya ngalah-ngalahin Jakarta. Maka sesekali boleh juga saya melarikan diri dari kantor untuk rebah-rebah di bawah pohon sambil nonton tingkah burung-burung. Sebuah kemewahan yang sebentar lagi bakal hilang, musim gugur sudah mulai nyenggol-nyenggol dan angin dingin kadang datang tiba-tiba. Burung-burung juga sudah mulai beterbangan ke selatan, bermigrasi, beberapa akan berdiam untuk sementara waktu di Indonesia. Hanya gagak, merpati dan burung gereja yang masih mudah untuk dilihat dan mereka tak akan pergi ke mana-mana. Selamat tinggal musim panas, sampai ketemu tahun depan.


Posted at 08:19 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Friday, September 22, 2006
Puasa

Sederek sedoyo, saya ingin mengucapkan

selamat menjalankan ibadah puasa
dan
mohon maaf lahir batin


Karena Menteri Agama Kekaisaran Jepang (emang ada ya?) belum mengumumkan kapan persisnya puasa dimulai di Jepang, maka saya manut sama tanggal dimulainya puasa di Indonesia saja. 

Posted at 04:36 pm by Sir Mbilung
Ada (14) yang ndobos juga  

Jetlag

Karena menempuh perjalanan melewati beberapa zona waktu maka "jam biologis" atau circadian rhythm saya jungkir balik melintir ndak karuan dan orang mengistilahinya sebagai jetlag. Kalau sudah begini, migraine saya bisa dengan riangnya muncul, badan pegal-pegal, bingungan, sifat karung bergigi berganti jadi amplop angpao bergigi, tidur pada jam yang tak semestinya dan yang paling parah saya jadi ndak bisa mikir lempeng. Dalam keadaan tanpa jetlag sekalipun kelurusan pikiran saya dipertanyakan banyak rekan sekerja apalagi dengan jetlag. Dari sedikit sistem tubuh yang tak terganggu karena jetlag, salah satunya adalah sel-sel kelabu otak bagian "kejahilan" (jahil? ah ... saya lebih suka menyebutnya sebagai creative defence mechanism).

Masih dalam keadaan belum pulih dari jetlag, saya masuk kantor karena jatah libur jetlag saya yang hanya sehari itu sudah habis. Waaah, meja para tetangga yang juga baru pulang bepergian dipenuhi amplop surat dan kiriman pos yang tampaknya berisi buku. Meja saya? ... nyaris bersih, hanya ada 3 amplop dan ketiganya berisi tagihan (gas, listrik dan internet). Disaat mereka sedang bergembira ria membuka berbagai "bungkusan hadiah" itu, saya sibuk menerka-nerka isi tagihan yang bertuliskan kanji. Selain kesedihan itu, hingga acara makan siang lewat, tak ada insiden yang berarti. Lha sepulang makan siang insiden terjadi.

Adalah kebiasaan aneh dari atasan saya untuk memberitahu saya sebelum dia mengirim tugas melalui email. Aneh? tidak juga, dia punya masalah dengan teknologi. Kalau dikatakan gagap teknologi, itu masih masuk dalam kategori pujian buat dia. Kali ini dia memperlihatkan berbagai file di komputernya yang harus saya kerjakan. Lha ... kok itu banyak begitu? lho kok banyak kode U-nya (urgent)? ndak bisa dicicil apa? Ndak tahu kalau saya masih jetlag ya? Maka otak sayapun langsung meriah ... Houston we have problems ... defence mechanism bekerja cepat. Tuing tuing ... RJ (registered jack) connector sang bos yang nancep dengan gagahnya di switch jaringan saya cabut.

Tak lama kemudian, "saya kok ndak bisa kirim email ya? ah mestinya komputer ini bermasalah lagi. Maaf, file-file tadi saya kirim besok saja ya". Saya mengangguk-angguk sambil berseru "jangan kirim sekaligus banyak, dicicil saja, nanti software email-mu marah". Dia mengangguk sambil balas berseru "oooh begitu ya? baiklah, besok saya kirim yang betul-betul penting saja dulu". Lantas dia mematikan komputernya, bangkit dari duduknya, mengambil pensil dan buku besarnya itu dan pindah ke meja besar untuk mulai menulis entah apa.

Eeeealah pak bos, mbok budak belianmu yang masih dihantam jetlag ini dikasih coklat, dibikinkan kopi, dipijeti, dibelikan iPod ... lha kok malah disuruh mikir yang berat-berat. Biarkanlah kewarasan saya yang masih tersisa sedikit ini saya pakai buat nge-blog. Nanti kalau sudah kembali normal, saya janji akan menyisakan sedikit kewarasan yang ada untuk mengerjakan tugas itu ... ya pak bos ya, ya ya ya ... bapak ganteng deh ... mau diambilin setip? atau mau dihibur pak? ... saya nyanyi jablai ya. Lai lai lai lai lai lai ... mari bapak ku belai ....

Gambar diambil dari sini.


Posted at 12:05 am by Sir Mbilung
Ada (13) yang ndobos juga  

Thursday, September 21, 2006
Main PS

Jaman saya kecil dulu mainannya ya petak umpet, gobak sodor, kasti, bola kaki, perang-perangan, layangan, berkelahi, berenang di kali, nangkep belut, memancing (ikan dan keributan), dan sebangsanya. Pokoknya permainan yang sehabis dilakukan bisa membuat Ibu saya teriak-teriak nyuruh saya mandi karena bau prengus. Itu permainan di alam bebas, dan jika sedang terkurung di dalam rumah maka jenis permainannya agak anteng seperti berkemah dalam rumah pakai selimut, main scrabble (ini dipaksa bapak), kanasta (ini dipaksa ibu) atau kuartet (ini dipaksa adik). Electronic game? silahkan bermimpi, saya ndak pernah dibelikan mainan yang menggunakan setrum.

Maka, ketika pada suatu hari di akhir tahun 2002 saya membeli PlayStation 2 (PS2) itu adalah upaya "balas dendam" masa kecil saya yang tak beroleh mainan dengan setrum. Reaksinya campur aduk, Istri saya merengut tetapi anak-anak berjingkrak (3 lawan 1 ... hidup demokrasi!!). Hanya saja walaupun tampaknya ini adalah kemenangan yang demokratis, tetapi seperti halnya demokrasi di bidang lain, aturan selalu dibikin oleh yang sedikit ... istri saya. Hanya boleh main game (redundant yak?) Sabtu dan Minggu atau di hari libur, harus pakai istirahat sesudah dua jam main dan boleh mulai main jika semua kewajiban lain (yang juga ditetapkannya) sudah beres. Selain itu kami hanya diperbolehkan membeli jenis permainan baru sebulan sekali, itupun hanya boleh maksimum 2 dan jenisnya harus lulus seleksi sang ibu. Kami para lelaki di rumah patuh, itulah dahsyatnya tirani cinta.

Empat tahun kemudian, PS2 itu masih bekerja dengan sangat baik dan belum pernah direparasi, paling-paling saya membersihkan lensanya saja. Seringkah saya memainkannya? ya tidak, kalah sama anak-anak saya itu ... "bapakkan sudah besar, masak gak mau ngalah sama anak kecil?!" ya sudah mengalah saja, gagal upaya saya untuk berolah raga jempol. Sewaktu kemarin saya pulang ke Bogor, tak sekalipun PS2 itu saya sentuh dan anak-anak juga tidak menyentuhnya sama sekali. Begitulah, mainan idaman itu akhirnya amat jarang saya sentuh. Anak-anakpun tampaknya bisa dikendalikan dengan baik.

Saya terkekeh-kekeh pada saat istri saya menceritakan bahwa tempat penyewaan PS di dekat rumah disantroni oleh guru-guru sebuah sekolah menengah karena banyak anak dari sekolah itu mangkir dan malah "bersekolah" di tempat itu. Tak ada yang lucu dalam hal membolos, saya terkekeh karena membayangkan peristiwa penyantronan itu. Diceritakan pula bagaimana para ibu di sekitar tempat itu bersungut-sungut karena anak-anak mereka dan suaminya rajin menyambangi tempat itu tak kenal waktu. Tentunya yang paling bergirang hati dalam persoalan ini adalah sang empunya tempat penyewaan, modalnya bisa cepat kembali dan keuntungan paska balik modal sudah terbayang yang mungkin bisa dipakai untuk mengembangkan usaha.

Tempat penyewaan permainan begini bisa dengan mudah ditemukan di mana-mana, katanya hasil dari usaha ini juga lumayan. Saya pernah menemukan sebuah tempat penyewaan berdinding bambu yang terletak di tengah-tengah tambak di Bekasi sana, listriknya nyantel. Hampir semua tempat penyewaan selalu terisi penuh, bahkan sering ada antrian. Jika bukti-bukti empiris memperlihatkan hal demikian, mestinya ini bisnis yang laku keras dan pasarnya masih terbuka lebar karena tempat-tempat penyewaan baru terus saja bermunculan. Hanya saja, kenapa pula produk mainan ini tak tercantum dalam situs resmi sang produsen di Indonesia? kan produknya laku keras. Dalam soal ini sang produsen hanya mencantumkan : "Regretfully, until now PT. Sony Indonesia does not have the  authority to  sell  Playstation   in  Indonesia.   Therefore  we  can  not  provide  any information about the product line up". Nah lu ... informasipun tidak, apalagi berjualan barangnya. Untuk Asia, situs resmi permainan ini hanya menyebutkan negara Cina, Hong Kong, Jepang dan Korea sebagai tempatnya berjualan.

Sudahlah, apa sih yang ndak ada di Indonesia? Pabriknya jualan atau tidak di Indonesia yang pasti barangnya mudah ditemukan di berbagai tempat. Kelengkapan alat permainan ini juga dijual di mana-mana bahkan export segala. Tempat penyewaan permainan ini juga ada di mana-mana. Pertanyaannya sekarang, etiskah para pengusaha penyewaan itu membiarkan anak-anak berseragam sekolah pada jam sekolah berkunjung dan bermain di tempat usahanya?

Foto diambil dari sini.


Posted at 01:53 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Wednesday, September 20, 2006
Sayang Bapak

Cocok buat Bapak yang sedang menyusui



Posted at 07:14 am by Sir Mbilung
Ada (12) yang ndobos juga  

Next Page