Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< March 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Saturday, April 29, 2006
Makan Enak

Tidak seperti adiknya yang kalau makan terkadang masih harus dipaksa, sang kakak -- kami memanggilnya Mas -- sering kali harus dipaksa untuk berhenti makan. Berangkat tidur setelah makan malam, tidak menjamin dia bisa tidur nyenyak sampai pagi tampaknya. Maka saya tidak heran jika pada suatu pagi ada piring bekas indomie di kamarnya, "abis laper" begitu ujarnya. Kali ini kelahapan si Mas adalah topik ndobos saya.

Di antara teman-temen sekelasnya, dia tidak termasuk besar, biasa saja. Tingginya juga masih belum menyusul tinggi badan saya, berat badannya juga begitu ... beda tipis. Akan tetapi saya tidak akan bisa mengejar ukuran kakinya dan kelahapan makannya. Ini termasuk luar biasa.

Alkisah pada suatu pagi di akhir minggu si Mas kebingungan karena tukang ketoprak langganannya belum juga lewat. Sang Ibu lantas menawarkan nasi goreng, cara cerdik Ibu memanfaatkan sisa nasi tadi malam. Lahap sekali makannya. Piring bersih dalam waktu singkat dan karena sang adik tidak bisa menghabiskan porsinya, maka piring si adikpun dibuat bersih olehnya.

Belum selesai ternyata, ketika sang Ibu berkata "Mas, kalau masih lapar, itu nasi gorengnya masih ada banyak". Si Mas menjawab dengan patuh "Ya Bu". Lha kok malah diambil semua!! Nasi goreng itu masih tersisa sedikit di piringnya, mulutnya juga masih penuh ketika ketokan khas tukang ketoprak itu terdengar. Dengan mulut masih berisi nasi goreng itu, si Mas berkata " Bu ... aku pesan porsi yang biasa ya!".

Julukan apa yang pas buatnya? Garbage Compactor? Karung bergigi?


Posted at 07:15 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Friday, April 28, 2006
Makan Terpaksa

Anak saya yang satu ini adalah juaranya memutar balik keadaan. Kali ini saya hanya ndobos salah satu contohnya saja, yang setiap kali teringat membuat saya tersenyum geli.

Pada suatu hari -- kata-kata pembuka sebuah cerita yang tak lapuk oleh usia -- anak saya itu ingin makan es krim, padahal pileknya belum sembuh tuntas. Sebagai orang tua -- walaupun masih "tampak muda"-- yang baik, Ibunya tentu saja mencegah dan saya menguatkan pencegahan itu sehingga mencegah menjadi melarang. "Jangan dulu dik, kamu kan pileknya saja belum sembuh betul, nanti sakit lagi" begitu kata Ibunya. Saya pun setuju, karena kalau dia makan itu es krim mesti habis dan saya nggak kebagian, selain karena pileknya itu tadi.

Sang anak lantas memainkan jurus argumentasi untuk mendapat restu Ibu. Sang Ibu pantang menyerah dan jurus otoritas memang sulit dikalahkan. Sang Ibu "menang". Selesai? ... belum!

Sang anak mulai memainkan jurus pengguncang iba, tampang memelas, mulut mecucu metal, dan gaya jalan seperti orang malas, mondar-mandir di depan Ibunya. Kemrungsung tanpa kata-kata.

Hingga akhirnya, runtuhlah pertahanan sang Ibu. "Ya sudah sana dik, kamu boleh makan es krim, tapi sedikit saja ya". Sang anak tidak beranjak, dan air muka masih belum juga berubah. Ibunya berkata lagi "ya sudah sana es krimnya diambil, kamu boleh makan es krim, masak begitu saja nggak bisa ngambil sendiri, sudah sana". Anak saya itu lantas beranjak pelan, dengan gaya malas dan masih sambil mecucu metal, sambil berkata "... ya sudah kalo dipaksa ... " ... ada senyum kecil di ujung bibirnya.


Posted at 01:21 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Thursday, April 27, 2006
Makan Romantis

Pagi ini, seorang rekan kerja saya (perempuan) datang ke kantor dengan wajah sumringah pol. Apa pasal? Ternyata tadi malam dia baru saja ber-candle light dinner bersama suaminya. Saya tersenyum dan langsung menanggapi " ...kalau saya sering sekali ber-candle light dinner di Bogor .. ". Roman muka teman itu langsung berubah, matanya terbelalak dan berujar "... oh ya, maaf, tapi saya tidak menyangka kalau kamu romantis seperti itu .. ". Saya hanya tersenyum manis...haiyaaah.

Lha bagaimana saya tidak sering ber-candle light dinner di Bogor, lha wong sering mati lampu je. Listrik padam nyaris pasti jika hujan, mau gerimis atau hujan deras, pokoknya kalau ada air tumpah dari langit ya biasanya listrik padam. Padahal julukan Bogor kota hujan itu bukan omong kosong seperti blog saya ini. Kadang tidak ada hujan tidak ada angin, listrik juga padam. Terpaksalah harus makan malam dengan siraman temaram sinar lilin. Romantis? Tergantung sudut pandang masing-masing. Tapi buat saya, hati gembira karena mengira dapat daging ukuran ekstra belum tentu berakhir bahagia. Pas "daging" masuk ke mulut, lho kok rasanya amat sangat mirip laos ya?

Soal listrik padam begini, saya mungkin ada salahnya. Apa mungkin dulu itu waktu minta sambungan listrik saya mintanya ke PLN yang salah? Apa waktu itu saya mintanya ke PLN --- Perusahaan Lilin Negara itu ya?


Posted at 12:23 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Wednesday, April 26, 2006
Bahasa Tubuh

Ini bahasa yang nggak pake ngomong tapi biasanya bisa dipahami oleh lawan "bicaranya". Media komunikasinya, ya anggota badan. Bisa tangan, cara berdiri, gerakan kepala, cara menatap, manipulasi bentuk bibir, dan entah apa lagi. Pagi dan siang ini saya melihat komunikasi dengan bahasa tubuh.

Pagi-pagi di kereta api yang selalu penuh itu, saya beruntung dapat tempat duduk. Satu stasiun berikutnya penumpang banyak yang naik, dan ada seorang perempuan yang belum bisa disebut paruh baya, menjinjing koper kecil berdiri di hadapan saya. Lho ... saya dipenthelengi / ditatap. Tatapannya berkata, "ayo berdiri, berikan bangku itu untuk saya". Saya balas menatap dengan tatapan yang berarti, "itu di depan ada gerbong yang hanya buat perempuan, kosong, ngapain lagi kamu di sini umpel-umpelan, pindah sana?". Saya tidak beranjak.

Siang ini, saya makan siang di taman di depan kantor. Banyak orang yang makan atau hanya sekedar beristirahat di tempat itu. Di depan saya ada seorang laki-laki dan perempuan yang duduk bersebelahan sedang berbincang. Laki-laki itu duduk dengan kaki terbuka, lutut berjauhan, mengangkang. Tangannya bergerak ke sana dan ke mari sambil berbicara, alis matanya terangkat tinggi, dan matanya terus menatap perempuan yang duduk di sebelahnya itu. Perempuan itu duduk dengan kaki rapat, lutut saling menempel, tangannya diletakkan di atas lutut sambil memegang tas, mungkin untuk perlindungan kalau-kalau dia salah gerak. Kepalanya tertunduk, dan mengangguk-angguk tanpa henti. Sesekali dia menatap lali-laki di sebelahnya itu. Bahasa tubuh laki-laki itu berkata, "saya paham segala hal, saya lebih mengerti dari kamu".

Bahasa yang efektif dan entah kenapa tidak bisa bohong. Wah, coba kalau bahasa ini bisa ditransmisi melalui telepon .... hmmm .... untuk Bahasa Indonesia silahkan tekan satu, untuk Bahasa Inggris silahkan tekan dua, untuk Bahasa Tubuh silahkan tekan sepuasnya ....


Posted at 02:07 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Tuesday, April 25, 2006
Burung Hilang

Ndobos soal burung lagi. Indonesia itu punya jenis burung terancam punah paling banyak sak dunia ... lha juara kok juara jelek. Brazil yang katanya hutan amazonnya itu babak belur saja tidak (belum) pernah berhasil nyusul "prestasi" Indonesia di bidang yang satu ini. Ini masih ditambahi lagi dengan jumlah jenis burung yang "hilang". Hilang dalam arti tak jelas statusnya, masih ada atau sudah punah. Ada sembilan jenis burung Indonesia yang tak jelas juntrungannya sampai sekarang.

Sembilan jenis?! dan itu membuat Indonesia menjadi negara dengan jenis burung hilang terbanyak di Asia. Burung-burung itu adalah : Gallirallus sharpei, Trulek jawa (Vanellus macropterus), Merpati-hutan perak (Columba argentina), Serak kecil (Tyto sororcula), Celepuk siau (Otus siaoensis), Pelanduk kalimantan (Malacocincla perspicillata), Sikatan aceh (Cyornis ruckii), Cucak gelambir-biru (Pycnonotus nieuwenhuisii) dan Gagak banggai (Corvus unicolor).

Kaget juga saya lihat ada Gallirallus sharpei. Bagaimana tidak? Jenis yang identifikasinya ini cuma dari satu spesimen (awetan) di museum ini lokasi persisnya juga nggak jelas dari mana. Pokoknya dari sebuah lokasi di Sunda Besar (Sumatera, Kalimantan, Jawa-Bali). Nah!

Trulek jawa, terakhir terlihat di awal tahun 1940-an di Lumajang Selatan, Jawa Timur. Beberapa teman masih nyari-nyari sampai sekarang, dan belum ketemu.

Merpati-hutan perak, nah yang satu ini sebetulnya ada yang kayaknya pernah lihat, hanya saja mereka juga tidak yakin 100%. Memang agak susah juga sih, karena tongkrongan jenis ini mirip dengan Ducula bicolor yang rada-rada umum.

Serak kecil, waduh ... tempat hidupnya di Maluku sana jauh dari sentra pengamat burung, belum lagi lihatnya kudu malam hari. Nggak heran juga kalo jenis ini lantas dianggap "hilang".

Celepuk siau lokasinya juga jauh di sebuah pulau kecil yang benama Pulau Siau di utaranya Pulau Sulawesi. Jenis ini hidup di hutan, sementara hutan Siau sendiri tinggal kira-kira 50 ha saja. Masih ada atau nggak ya jenis ini?

Pelanduk Kalimantan punya catatan tersendiri. Inilah jenis burung yang paling lama tidak pernah tercatat lagi keberadaannya. Catatan terakhirnya diambil dari sebuah spesimen tahun 1848. Lokasinya pun masih belum jelas di mana persisnya, pokoknya di Kalimantan Selatan.

Sikatan aceh ini keberadaannya di dunia hanya berdasarkan pada dua spesimen dari tahun 1917 dan 1918. Tempat diambilnya di Tuntungan dan Deli Tua di Sumatera Utara sana. Wah, masih ada yang tersisa nggak ya?

Cucak gelambir-biru adanya di pedalaman Kalimantan dan Sumatera sana sementara hutan dataran rendah di dua pulau itu sebagian besar sudah hancur juga.

Gagak banggai hanya diketahui keberadaannya di muka bumi ini dari dua spesimen dari pulau yang tidak disebutkan namanya di Kepulauan Banggai sana.

Heran? Ya nggak juga sih sebenernya, lha wong alam Indonesia itu sudah dikucek habis-habisan kok. Lagi pula, yang namanya pengamat/peneliti burung di Indonesia itu jumlahnya juga nggak banyak kok, lha kalo yang hobinya ngandangi manuk (mengurung burung di sangkar) banyak ini. Tambahan lagi .... di Indonesia itu orang saja bisa hilang kok (atau dihilangkan), apalagi cuma burung yang nggak bisa demo.

Selamat Hari Bumi ....



Posted at 07:12 am by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Monday, April 24, 2006
Makanan Eksotis

Saya tergila-gila dengan klepon, sangat suka empek-empek, wajik, onde-onde, rawon dan buntil (hanya yang dibungkus daun talas), dan suka dengan berbagai macam jajanan pasar. Lha ... celakanya, makanan-makanan begitu adalah barang yang "rada-rada eksotis" di Tokyo. Sampai sekarang saya belum nemu di mana saya bisa mendapatkan makanan-makanan tersebut. Sampai sekarang saya hanya bisa menghayal sambil ngiler.

Lha kok ndilalah saya pagi ini dapat kiriman e-mail dari Dewi Angin-Angin, koresponden ndobos saya di Washington DC itu.
Begini isinya :

... baru pulang liputan dari Philadelphia, dari kampung Indonesia!!! Kulkasku penuh bakso malang, mie ayam, rawon, ikan beserta lalap dan sayur asem dan sambel terasi, empek-empek, sambal goreng udang dan kerang, sayur lodeh, sayur terong balado, sate padang, sate ayam, soto betawi, ....... yang semuanya rasanya persis cis ciss dengan yang paling enak di Indonesia. Belum lagi dong, lemari dong, ada kerupuk palembang, sus kering, agar-agar, sus kental manis rasa coklat, rambak sapi, keripik paru dan usus, susu ultra rasa stawberry, teh kotak. Meja makan dong, dooong, bergelimpangan onde-onde, tempe goreng, bakwan, cakwe udang, wingko, siomay, lemper, wajik, .....

Setelah membaca e-mail tersebut, saya hanya bisa mengelus perut sambil misuh .... huasyuuuuu !!!! Lantas saya berpikir, yang dimiliki oleh Dewi Angin-Angin itu perut atau gerobak sampah ya? Ah, mungkin dia sedang kalap saja.

Apa sampeyan tahu di mana saya bisa dapat makanan-makanan itu di Tokyo? (*sambil ngelap iler*).


Posted at 02:04 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Sunday, April 23, 2006
Sungai-Sungai

Kemarin itu saya sudah ndobos soal Sungai Cam dan kali ini saya ingin ndobos soal beberapa sungai yang tampaknya memiliki tempat tersendiri di hati ini (... *haih haih haih, saya ini kesambet apa ya?* ...). Mungkin karena baru saja ada hari bumi ... ah ndak juga. Mungkin karena saya rindu saja dengan sungai-sungai itu. Lha wong namanya juga ndobos, tanpa alasan juga boleh to? Disusun berdasarkan urutan waktu masuk ke hatinya :

Sungai Barito. Samar-samar saya masih ingat sungai ini. Ibu dan Bapak beberapa kali mengajak saya naik perahu bermesin dan katanya saya bakal nangis-nangis tidak mau turun dari perahu. Lha, bagaimana nggak nangis-nangis, saya belum bisa berenang kok diajak turun dari perahu.

Sungai Babalan. Sungai ini ada di belakang sekolah SD saya di Tangkahan Lagan,Pangkalan Brandan, Sumatera Utara. Inilah sungai tempat saya belajar berenang dengan baik dan benar. Setelah sebelumnya saya menguasai gaya batu, di sungai ini saya mulai belajar beberapa gaya lain. Gaya anjing (pokoknya asal bisa ngapung), gaya kodok, dan gaya bebas (ini gaya sak enak udel saya saja). Sepulang dari sekolah, lari ke sungai ini, loncat dari jembatan, mak byur ... lantas bertarung dengan derasnya aliran air menuju ke tepi. Senengnya bukan kepalang. Airnya agak payau. Entah berapa liter air sungai ini yang sudah pernah saya telan, namanya juga baru belajar, kelelep itu wajib. Setiap kali pulang ke rumah dalam keadaan basah kuyup, Ibu saya selalu bilang "Mandi sana". Lha kok disuruh mandi, tadi itu saya baru mandi.

Sungai Musi. Sungai ini melintasi kota di mana saya pernah tinggal selama beberapa tahun di Sumatera Selatan sana. Saya tidak (belum) pernah berenang di sungai ini tapi saya sering memancing di sini (jarang dapat). Lomba perahu dayung (bidar) setiap bulan Agustus adalah tontonan wajib. Di pinggiran sungai inilah pertama kali saya menemukan kenikmatan membaca di pinggir sungai.

Sungai Cikapundung. Sungai yang membelah kota Bandung ini punya kenangan tersendiri walaupun saya tidak pernah berenang, memancing (kecuali memancing keributan) atau baca buku di sini. Inilah sungai pertama yang pernah (harus) saya kunjungi di tengah malam untuk mengambil sampel air, dan buntutnya saya dikira mau nyolong ikan di keramba. Untuk pertama kalinya saya dikira maling ... dan ini bukan yang terakhir kalinya.

Sungai Sangatta. Sungai ini ada di Kalimantan Timur dan di sungai ini saya pernah berenang dan mandi. Airnya yang coklat terang membuat saya harus menambahi kopi setiap kali saya minum dari air sungai ini ... kopi susu. Sungai ini penyebab saya mencandui kopi hingga sekarang.

Sungai Toluarang. Sungai ini ada di Pulau Seram. Inilah sungai yang saya lalui dengan "penuh kesakitan" dan berdarah-darah selama 8 jam berjalan kaki menuju base camp karena salah satu jari tangan saya patah terbuka (jadi tulangnya keluar gitu). Berenang, mandi, baca buku dan lain-lain juga saya lakukan di sungai ini.

Sungai Way Kanan. Sungai ini terletak persis di belakang stasiun penelitian saya di Way Kambas, Lampung. Saya sering berenang, mandi, memancing dan membaca buku di pinggiran sungai ini. Untuk pertama kalinya saya belajar mendayung dengan tertib di sungai ini. Di pinggriran sungai ini juga untuk pertama kalinya saya melihat Mentok rimba (Cairina scutulata) yang saya idam-idamkan itu. Pertama kali pula saya melihat Siamang terjun bebas dan nyemplung karena dahan pohon yang digelayutinya patah.

Sungai-sungai itu semua memang tak "seindah" dan "serapih" seperti sungai-sungai lain yang pernah saya sambangi seperti Sungai Danube, Seine, Thames, Cam atau Tama yang dipuja-puja dalam banyak gubahan sastra. Tidak banyak kenangan yang tertinggal dari sungai-sungai indah dan rapih itu, saya juga hanya berjalan bersama segerombolan turis, walaupun saya tidak sedang menjadi turis.

Dari semua sungai-sungai kenangan itu, Way Kanan adalah sungai yang paling membekas. Sampeyan punya sungai favorit?


Posted at 01:02 pm by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

SELAMAT ULANG TAHUN

Bapak - Ibu
Selamat Ulang Tahun Perkawinan

Ibu pernah bilang, ulang tahun perkawinan adahal hal yang harus dirayakan. Kalau ulang tahun kelahiran itu sudah default, tetapi kalau ulang tahun perkawinan itu perlu perjuangan.


Posted at 12:00 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Saturday, April 22, 2006
Saya Sudah Bilang Tidak

Telepon saya berbunyi pagi-pagi. Wah tumben ini, ada apa? Hanya teman sekantor yang bertanya (*memohon tepatnya*) apa saya bisa berangkat ke Cambridge Selasa besok. Bisa, kata saya, tapi saya nggak mau, dan kemudian diikuti dengan rentetan alasan untuk mendasari "kemalasan" saya itu. Selesai, saya tidak pergi.

Gara-gara telepon itu saya lantas melamun soal Cambridge. Sebuah kota yang sudah sangat tua, entah sudah berapa lama tempat itu jadi hunian orang. Katanya di tempat ini sudah ada pemukiman sejak 1000 tahun sebelum Masehi ... wah saya belum lahir.  Cambridge terkenal karena universitasnya, paling tidak 20% dari penghuni kota ini adalah mahasiswa. Penduduk Cambridge sendiri sekitar 100-an ribu jiwa yang tampaknya hidup tenang di tengah tingginya biaya hidup di kota yang nyaris rata ini. Walaupun Cambridge bukan kota favorit saya, ada beberapa tempat yang bisa membuat saya betah berlama-lama. Saya hanya akan ndobos soal 2 tempat saja.

Perpustakaan kantor. Entah berapa ratus ribu bahan bacaan tersimpan di tempat ini, hampir semua tentang burung. Walaupun saya bisa saja mengakses bacaan tersebut tanpa pindah dari meja saya, tetapi ritual mencari, mengeluarkan, memegang dan membaca halaman-halaman buku atau re-print, sulit digambarkan nikmatnya. Saya betah membaca di pojok ruangan sampai lupa waktu, lupa makan, lupa merokok dan lupa nge-blog. Lebih nikmat lagi jika membaca catatan perjalanan para penjelajah dan peneliti burung sambil ditemani dengan atlas/peta. Saya menyebutnya sebagai mind travel. Pikiran melayang sambil membayangkan apa yang mereka lihat, apa yang mereka rasakan. Bacalah apa yang ditulis oleh Alfred Russell Wallace tentang Wonosalam di Jawa :

Wonosalem is situated about a thousand feet above the sea, but unfortunately it is at a distance from the forest, and is surrounded by coffee plantations, thickets of bamboo, and coarse grasses. It was too far to walk back daily to the forest, and in other directions I could find no collecting ground for insects. The place was, however, famous for peacocks, and my boy soon shot several of these magnificent birds, whose flesh we found to be tender, white, and delicate, and similar to that of a turkey.

Sekarang ini sudah agak susah mencari burung merak (peacock). Rupanya yang elok membuatnya menjadi layak kandang. Bulunya yang cantik membuatnya diburu pembuat topeng reog. Dagingnya, seperti yang dikatakan Wallace itu ... layak santap.


Pinggiran Kali Cam. Ini tempat favorit saya buat ndlongop kalau udara tidak dingin, kadang sambil baca buku dan lantas ndlongop karena ndak ngerti ini buku isinya apa. Kali ini panjangnya sekitar 60-an kilometer dan merupakan anak sungai dari Sungai Great Ouse. Airnya sedikit butek, yang konon kabarnya kalau diminum bisa menyebabkan sakit mirip flu yang dikenal dengan nama Cam fever. Lho ... kalo ginian di Indonesia juga banyak, bahkan sakitnya lebih komplit.

Sering juga saya melihat orang memancing di kali ini dan di beberapa tempat bahkan ada tempat bersandar untuk kapal-kapalnya manusia perahu. Orang berdayung atau punting juga ramai. Adalah keasikan tersendiri kalau ada perahu yang terbalik, dan herannya hal ini agak sering terjadi. Mungkin karena demit kali kurang sajennya atau karena penumpang perahunya yang pentalitan nggak karu-karuan. Apakah setelah itu mereka terserang Cam fever atau tidak saya tidak tahu.

Selain dua tempat itu kadang saya juga jalan-jalan ke pasar seperti yang pernah ditulis oleh Kang Mas Pecas Ndahe di sini. Hanya karena kalau ke pasar sering harus keluar uang, saya tak terlalu sering pergi ke sana (medit men yo?). Beberapa college di kota ini juga membuka tempatnya untuk dikunjungi oleh umum walaupun ada batasan waktu dan harus bayar. Aaaaah ... Cambridge tidak jelek juga. Tapi tadi saya sudah bilang tidak.


Posted at 02:30 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Friday, April 21, 2006
Mbakyu Tersipu-Sipu

Akhirnya KTP itu jadi juga. Certificate of Allien Registration (ARC), begitu namanya di sini seperti yang pernah saya doboskan di sini. Tapi saya tidak akan ndobos lagi soal ARC, tapi saya akan cerita saja soal acara ngambil KTP itu di balai kota tadi pagi.

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, saya itu masih tuli, bisu dan buta huruf. Untuk mengatasi keterbatasan saya dengan hal-hal tersebut biasanya saya coba dengan memakai Bahasa Inggris yang sederhana, kalau gagal lantas pakai bahasa tubuh. Biasanya berhasil tapi kali ini lain ceritanya ternyata.

Tiba di balai kota, saya celingukan mencari tahu di mana tempat ngambil ARC itu, tak ada petunjuk selain dalam tulisan Kanji yang tak saya pahami itu. Lhaaaa ... itu ada seorang perempuan, sebut saja namanya Mbakyu Ayu, yang di lengannya berbalut ban hijau, mungkin dia bisa membantu. Saya datangi dan saya mulai bertanya dalam Bahasa Inggris, di mana tempat untuk mengambil ARC. Mbakyu Ayu itu memiringkan kepalanya ke kanan dan dahinya berkerut. Waah, ndak ngerti dia. Coba lagi, kali ini pelan-pelan dan pakai kosa kata sederhana. Lho kan ... kepalanya miring lagi. Baik, inilah saatnya memakai bahasa tubuh, begitu pikir saya. Setelah pentalitan sejenak, kepala Mbakyu Ayu itu kembali miring ke kanan. Coba  lagi ... miring lagi. Waduh, gagal maning, gagal maning yak?! Sambil berpikir bagaimana caranya menerangkan, saya bergumam pelan, "... jangkrik, piye carane iki ben Mbakyu Ayu iki ngerti..". Kali ini kepala Mbakyu Ayu itu tidak miring, dia tersenyum sambil berkata "Jawanya dari mana Mas? saya dari Solo." Waaaaah ... ada Jepang Solo.

Urusan lancar, Mbakyu Ayu itu menunjukan kepada saya yang tersipu-sipu ke loket mana saya harus pergi untuk mengambil ARC. Tidak sampai lima menit urusan beres. Sebelum keluar meninggalkan balai kota, saya hampiri lagi Mbakyu Ayu sambil bertanya, "Mbak, kalau saya mau pulang, naik bus yang mana?"

Catatan : Mbakyu Ayu itu Jepang totok. Mbakyu Ayu berkerja sebagai relawan di balai kota sampai hari Rabu minggu depan.


Posted at 01:02 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Next Page