Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< May 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Wednesday, April 19, 2006
Jerry Khan ?

Sebuah kiriman pos tiba kemarin, dari teman di Mongolia. Isinya nggak ada yang aneh, tapi perangkonya kembali bikin pecas ndahe. Saya sampe ndak ngerti harus ndobos apa. Mungkin Kang Mas Pecas Ndahe bersedia bercerita panjang dan lebar (yang kalo dikalikan jadi luas) soal Pak De Jerry. Cuma sedikit pengantar saja, Jerry Garcia, gitaris dan vokalis kelompok band Grateful Dead. Meninggal dunia 9 Agustus 1995.

Tambahan: Terima kasih buat Kang Mas Pecas Ndahe yang sudah bersedia bercerita tentang Pak De Jerry di sini.


Posted at 11:48 am by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Tuesday, April 18, 2006
Narcist

Tidak ... saya tidak akan ndobos soal psikologi manusia-nya Freud yang bernama narcist ini. Ndobos saya kali ini dipicu oleh dua hal. Oleh permintaan kepala bagian kepegawaian agar saya segera menyerahkan CV, dan oleh obrolan bersama teman.

Ceritanya kepala bagian kepegawaian itu sudah lama sebetulnya meminta saya menyerahkan CV, karena menurutnya saya adalah satu-satunya pegawai tanpa CV. Waktu itu saya jawab, lihat di Google saja. Lha, kemaren permintaan itu kok ya datang lagi. Lantas, pada kejadian yang terpisah seorang teman bertanya, "berapa nilai google mu". Saya lantas memasukan nama saya, hasilnya sungguh menggemparkan, 14.000 hits. Bagaimana mungkin?

Lho kan, ternyata nama saya itu nama pasaran, ini mesti tiap RT di Indonesia ada yang namanya persis seperti nama saya. Saring lagi, kali ini dengan disertai nama kantor. Turun drastis, tetapi masih mengagetkan. Walaupun saya nggak hobi bergaya di depan kaca, kali ini sifat narcist itu kok ya nendang-nendang perasaan agar saya melihat seluruh hasil dari google itu. Kesimpulannya .... akurat !!! .... Dasar narcist.

Coba sekarang, nilai google sampeyan berapa

tambahan : permintaan kepala bagian kepegawaian yang dikirim lewat e-mail tadi sudah saya balas. Please see Google.

tambahan lagi : Kepala bagian kepegawaian sudah membalas email saya. "Impressive. Now, where is your CV". lha kok ini kepala bagian ndableg men to ya?


Posted at 05:39 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Monday, April 17, 2006
Pesawat Tempur

Hobi saya selain melihat burung adalah melihat pesawat terbang, malah kalau diingat-ingat, saya itu duluan senang melihat pesawat sebelum suka melihat burung. Jaman kecil dulu, burung itu cuma pas buat diplintheng, lantas digoreng atau dibakar untuk dimakan. Kalau pesawat, diplintheng apa lagi dimakan bisa repot urusannya -- apa ada ya jaran kepang (kuda lumping) yang ngeremus pesawat?.

Dobosan saya kali ini ya soal pesawat tempur-nya republik ini yang beberapa malah tidak (baca: belum) bisa terbang.  Bapak Marsekal Herman Prayitno, mantan penerbang pancar gas F-86 Sabre dan pesawat kitiran OV-10 Bronco yang  sekarang menjabat sebagai Kepala Staff Angkatan Udara berkata, kita kekurangan pesawat untuk menjaga wilayah udara republik ini. Pesawat yang ada sekarang-pun tidak semua bisa terbang. Pesawat buru sergap F-16 Falcon menurutnya hanya dua yang bisa terbang, F-5 Tiger juga begitu. Sementara jet-jet tempur Sukhoi yang bertongkrongan "serem" dan relatif baru itu walaupun bisa terbang semua, saya ndak tahu apa sudah bisa nembak. Sementara pesawat angkut andalan C-130 Hercules kebanyakan yang tipe B yang umurnya beda-beda tipis sama umur saya. Lha kok memprihatinkan to? Padahal, jaman saya baru lahir dulu negara ini salah satu yang terkuat di udara. Karena soal politik, nggak ada uang atau dua-duanya?

Lantas, udara kita itu dijaganya bagaimana? Radar! begitu kata Bapak Marsekal. Cuma Pak, nyuwun sewu, itu yang di Timur masih bolong-bolong. Bolongnya itu bakal ditutup, nanti kita bakal punya radar baru untuk Biak, Timika dan Merauke. Waaah, sip kalo begini. Cuma, kalo ada yang nakal sluman-slumun masuk, ketangkap radar, lha yang ngejar siapa?

Selamat ulang tahun TNI-AU.


Posted at 11:45 pm by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Sunday, April 16, 2006
Hati-Hati di Jalan

Salah satu berita utama dari tanah air yang saya baca hari ini adalah soal kecelakaan kereta api di Stasiun Gubug, Grobogan. Dalam kecelakaan ini 14 nyawa hilang karena kelalaian, suatu harga yang tak terkira mahalnya. Siapa atau apa yang salah, bukan wewenang saya untuk menjawabnya. Tetapi saya kok jadi ingin bertanya kenapa hal-hal begini terlalu sering berulang atau terulang. Ndableg men toooooh, kenapa jadi degil begini?

"Lho, mbok ya o jangan merengut dulu toh Mas", begitu kata teman saya barusan. Lha ndak merengut bagaimana? Coba itu, yang "besar-besar" saja dulu, pesawat nyasar, nyungsep, kepleset, nggak bisa terbang karena rem-nya terlalu pakem; kereta api numbur, anjlog, ada yang kesetrum, terpelanting, entah apa lagi; kapal laut tenggelam, bocor, terbalik. Nah kalau yang besar-besar saja begini apalagi yang "kecil-kecil" itu yang tidak layak masuk koran karena dianggap terlalu biasa, semisal tertabrak atau keserempet motor, dipepet bus atau truk tentara -- saya mengalami hal ini beberapa bulan yang lalu --, diseruduk mobil pada saat nyebrang di zebra cross atau tertimpa pelat seng (teriring ucapan turut bersedih buat Rizal).

"Sampeyan itu lho, siapa lagi yang mau celaka?", teman saya masih mencoba menenangkan. Lho kok tanya saya? Lha ya ndak tau saya. Tapi yang jelas saya ndak mau celaka konyol begitu. "Lha ya sudah, sampeyan ndak usah ada di jalan saja", kata teman itu melanjutkan. Gini lho, saya dulu itu pernah diseruduk truk yang ngangkut batu di Taman Cilaki, Bandung, waktu sedang beli kembang untuk praktek ilmu hayat. Masih belum menyerah teman itu, "paling tidak sampeyan ndak masuk rumah sakit tiap hari toh?". Jangkrik .... itu satu-satunya kecelakaan yang membuat saya nginep di rumah sakit. Lagian tiap hari masuk rumah sakit, lha apa sampeyan kira saya ini perawat?

Buat sampeyan semua, hati-hati di jalan ya.


Posted at 05:46 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Saturday, April 15, 2006
Tembakau Recycle

Sebungkus Gudang Garam Surya Mild 16, saya temukan secara tidak sengaja di toko Kagaya yang terletak di lantai satu gedung Kinokuniya di Shinjuku. Bertampang lebih mirip dengan Gudang Garam International, kotaknya dipenuhi tulisan Kanji yang entah apa artinya. Tak ada pita cukai. Terdapat juga lambang recycle (daur ulang) di bagian samping tutup kotak, entah apanya yang di-recycle, mungkin kertas kotaknya.

Seorang teman yang saya ceritakan soal penemuan ini berkomentar, "itu yang di-recycle mbakonya!!! mesti bekas bako nyusur (tembakau yang dikunyah), coba dilihat, mesti warnanya merah tur mambu abab". Wah, ndak tau saya apa memang begitu. Rokok itu belum saya buka sampai sekarang.


Posted at 07:02 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Friday, April 14, 2006
Orang Merdeka, Bahagia, Suka Cita, Nyasar

Pulang kantor, masuk ke sarang laron -- begitu saya menamai jalan-jalan bawah tanah yang ruwetnya luar biasa di sekitar Shinjuku -- seperti biasa. Penyakit menahun kambuh, saya suka nyanyi-nyanyi sendiri, lagunya sembarang, random, nggak pernah selesai dan nggak jelas awal dan akhirnya bagaimana. Kata beberapa teman, saya pantas jadi penyanyi, tapi penyanyi radio, bukan penyanyi tv ... kasian yang nonton katanya. Lha yang denger radio juga kasian, lha wong saya itu kalau menyanyi nada dasarnya do sama dengan ng kok, begitu pikir saya.

..... aku bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa .....

Hmmmm, Zamrud Khatulistiwa. Lagunya Swara Mahardhika di akhir tahun 70-an. Lho? bisa nggak ya bahagia, hidup sejahtera tetapi tidak di khatulistiwa? atau bahagia, hidup tidak sejahtera di khatulistiwa? atau tidak bahagia, hidup sejahtera di khatulistiwa? atau tidak bahagia, hidup sejahtera tetapi tidak di khatulistiwa? atau ..... mulai melamun.

Lha ... saya di mana ini? tuh kan kesasar .... jangkrik, dasar tukang mimpi.
Coba jalan ke sana, nanti dulu, ah balik saja, balik ke mana?
Aaaaah ya sudah ke sana saja. Lha wong saya ini orang merdeka kok, boleh jalan ke mana saja, kalau sekarang kesasar nanti juga ketemu jalan yang benarnya.

.... bersuka cita, insan di persada yang bebas merdeka ....
.... aman damai sentosa disetiap masa, bersyukurlah kita semua ....


Posted at 08:35 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Thursday, April 13, 2006
Kota Sunyi

Tadi malam saya baru sadar betapa sepinya Tokyo ini walaupun disesaki oleh lebih dari 12 juta jiwa -- itu baru orang lho, belum kalo yang bukan orang ikut dihitung bisa berlipat-lipat jadinya. Sepi terutama untuk saya. Di tempat ini saya bisu (nggak bisa ngomong Jepang), tuli (nggak ngerti orang Jepang ngomong apa) dan buta huruf (nggak bisa baca tulisan Jepang), maklum saya dipindah mendadak ke tempat ini.

Lepas dari semua keterbatasan saya itu, Tokyo adalah kota yang sunyi. Tidak percaya? mari ikut saya pulang dari kantor. Kantor saya ada di Shinjuku dan stasiun kereta Shinjuku yang katanya disesaki oleh lebih dari 3 juta orang per-harinya itu adalah tujuan pertama. Orang mengalir seperti air bah, serba cepat, tetapi suara paling keras di stasiun itu adalah suara hentakan sepatu. Semua orang bergegas dengan ekspresi wajah yang nyaris sama, dingin, pandangan lurus ke depan, mulut terkatup rapat, kecuali mulut saya yang ndlongop dan pandangan mata saya yang pecicilan lirik sana lirik sini.

Tiba di peron, antrian biasanya sudah panjang. Ngantrinya tertib tapi ya itu tadi, semua diam. Sibuk dengan bacaan, menceti tombol-tombol hp atau cuma ngelamun. Kalaupun ada yang ngobrol, sayup-sayup. Suara roda-roda kereta, pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta adalah suara yang dominan. Begitu kereta tiba, seperti botol minuman bersoda yang baru dikocok dan lantas tutupnya dibuka, orang-orang muncrat dari dalam gerbong. Masih tanpa suara.

Giliran yang masuk sekarang, dalam hitungan detik gerbong sudah penuh. Berdesak-desakan, full body contact. Kasian yang habis belanja tomat, mesti sampe rumah itu tomat sudah jadi jus. Pintu kereta ditutup....banyak wajah-wajah yang menempel di kaca .... persis seperti ikan sapu-sapu di akuarium. Semua diam, tak ada suara semisal "hwadooooooh" .... "hooooooi kejepit neeeeh" .... "penuhh paaaak penuuuuh" ..... "iiiiiih, apaan sih inih" .... "sapa yang kentut!!!".

Setengah jam lebih saya bakal ada di dalam kereta sunyi itu. Ada yang tidur, ada yang baca, ada yang mainan hp, ada yang ndlongop .... saya itu. Poster-poster iklan dalam kereta yang jumlahnya banyak nian itu seolah-olah ingin mengajak ngobrol, tapi saya ndak ngerti. Ya sudah....saya balas saja senyum para poster itu. Kereta berhenti di beberapa stasiun, orang keluar masuk, himpitan makin lama makin longgar. Sesekali terdengar ada yang menghela napas, mungkin karena merasa lega.

Sudah tiba, keluar gerbong beramai-ramai dan mulai terjadi antrian di tangga. Semua masih diam. Sekarang berjalan menuju halte bus dan mengantri lagi. Coba perhatikan sekeliling. Ada warung 7-Eleven yang buka 24 jam itu, ada McDonald's dan ada KFC ... penuh semua. Warung-warung itu, saya menyebutnya kedutaan besar Amerika Serikat, punya pengaruh besar di Jepang. Warung McDonald's pertama di Asia dibuka di Jepang, 40% warung 7-Eleven di dunia ada di Jepang dan Pak jenggot Colonel Sanders dikenal sebagai "Mister Fried Chicken" di Jepang. Terry Sanders, sang pemenang Oscar dua kali, pernah membuat film tentang McDonald's di Jepang ini yang lantas diberi judul "The Japan Project: Made in America".

Mobil-mobil lalu-lalang di jalan, nggak ada suara klakson. Antrian itu .... 7 perempuan 3 laki-laki, saya laki-laki ke empat dalam barisan. Perempuan Jepang bekerja di luar rumah adalah hal yang umum sekarang, walaupun entah kenapa jika berjalan bersama rekannya yang laki-laki mereka langsung bergeser sedikit ke belakang, mungkin jalan beriringan dengan laki-laki itu adalah hal yang tidak pantas. Teman perempuan sekantor saya juga begitu, kalau saya melambatkan jalan, dia juga menyesuaikan kecepatan jalannya, saya belum coba apakah kalau saya lari dia juga ikut lari. Ya sudahlah, mungkin memang saya lebih menarik kalau dilihat dari belakang, begitu pikir saya.

Bus itu datang, bus nomer 21 malam ini. Semua antri tertib masuk, membayar atau memasukan kartu magnetik sebesar kartu telepon. Sang supir bolak balik bilang terima kasih, tanpa ada yang menyahut, hanya dia yang bicara, saya juga diam tak menjawab ucapan terima kasihnya, takut nanti dia malah kaget. Saya duduk di belakang, tak lama, ada seorang perempuan mengangkuk ke saya, saya balas mengangguk sambil tersenyum, dia nggak senyum dan lantas duduk di samping saya. Suara perempuan yang telah direkam sebelumnya terus nyerocos sepanjang perjalanan, entah apa yang diomongkannya. Tidak sampai 10 menit, saya sudah tiba. Tempat tinggal saya masih kira-kira empat ratus meter lagi dan hari sudah larut. Negeri ini memang sepi.

Sampeyan apa pernah minum jus tomat hasil dempet-dempetan? Blender sunyi.


Posted at 03:01 am by Sir Mbilung
Ada (10) yang ndobos juga  

Wednesday, April 12, 2006
Parade Basah

Kiriman cerita dari koresponden Ndobos di Washington DC, sang Dewi Angin-Angin, akhirnya tiba juga, walaupun tidak dilengkapi foto, lha wong namanya koresponden gratisan kok?! Isi ceritanya tentang kontingen Indonesia pada parade Cherry Blossom di Washington DC seperti yang pernah disinggung sebelumnya. Mungkin juga ada yang sudah melihat beritanya di salah satu televisi di Indonesia. Beginilah kisahnya :

Jalan utama depan Washington Monument
Hujan deras berangin
Genderang tabuik bertalu-talu
Sorak-sorai reog dan jaranan “Hohohooo warok Ponorogo, warok Suromenggolo..”
Disambut teriakan puluhan pasangan pengantin tradisional cilik dari berbagai daerah Indonesia

Seorang ibu (penonton) kepada anaknya,”These are people from Indonesia, darling”

Yo konco neng nggisik gembiro, alerap-lerap banyune segoro, angliak numpak prau layar, ing dino Minggu keh pariwisoto…

Hujan semakin deras
Angin tambah dingin
Penari Pariaman mukanya basah
Pemegang reog giginya kelu menggigit beratnya bulu merak yang kuyup
Pengantin cilik robek-robek payung kertasnya

Tapi mereka terus berjalan
Terus berpawai
Sesekali beratraksi
Memutar-mutar menara tabuik
Memperagakan gerakan silat
Melonjak-lonjak di atas kuda kepang

…alon praune wis nengah, byak byuk byaak banyu binelah, ora jemu-jemu karo mesem ngguyu, ngilangake roso lungkrah lesu…

Melewati panggung kehormatan di 17th Street
Dengan spanduk bertuliskan "Indonesia, the ultimate in diversity"
dan ada juga "Indonesia thanks America for Tsunami relief assistance"
Rombongan dari negara yang selama ini di-cap “teroris” dan berada di urutan kedua dari belakang barisan ini, disambut dengan senyum dan goyangan penonton yang tinggal segelintir jumlahnya akibat diguyur hujan

Terus menabuh
Terus menari
Terus serukan pada dunia tentang indahnya Indonesia

…la gek njawil Mas, jebul wis sore, witing kalopo katon ngawe awe, proyogane bechik bali wae, eling sesuk esuk tumandang nyambut gawe .....

Begitulah keseluruhan isi beritanya. Dewi Angin-Angin lantas menutup beritanya dengan :

Koresponden Washington DC yang tetap kering selama meliput parade karena pake jas hujan ‘Tabasa’ (asli dari Indonesia). Hanya matanya yang sedikit basah, ..ihik

Saya tidak akan ndobos apa-apa soal ini.

Jika berminat dan sambungan sampeyan memadai bisa lihat rekaman videonya di sini.


Posted at 11:45 am by Sir Mbilung
Bales Ndobos  

Tuesday, April 11, 2006
Ndaftar Percuma

Dobosan singkat. Salah satu Iklan Goooooogle (Ads by Google) :
Cari kawan, gadis, lelaki dan jodoh.
Daftar percuma.


Lha kalau percuma kenapa ndaftar?
.... ke Bandung .... Surabaya, bolehlah naik dengan percuma.
Perbedaan pengertian yang lantas memisahkan sebuah bangsa serumpun.

Sampeyan berminat ndaftar? Silahkan ke sini. Percuma lho ...


Posted at 11:25 pm by Sir Mbilung
Ada (1) yang ndobos juga  

Kembar Lain Ibu



Dua bayi yang lahir pada hari yang sama 25 Januari 2006, Rheya Cindatiana Harbani (Rheya) dan Adyaraka Nurfalah Santoso (Raka). Rheya niscaya akan tumbuh menjadi gadis cantik seperti Ibunya -- kalo cantik kayak Bapaknya agak mengerikan jadinya -- dan Raka akan jadi segagah Bapaknya -- walaupun Ibunya Raka juga gagah. Saya ndak ada sahamnya di dua bayi lucu ini, saya hanya pamannya saja. Haiyaaaah ... paman ... lupa saya sudah ada berapa keponakan yang saya punya.

Walaupun susah njawabnya soal jumlah keponakan itu, tapi saya ingat sekali kelakuan masing-masing. Seragam, nggak ada bedanya, rusuh, brutal, liar dan ngangeni. Tampaknya semua berbakat sebagai pendobos. Lha apa iya ada pendobos santun dan tidak petakilan? Akan tetapi saya berharap Rheya dan Raka akan menjadi anak santun, patuh pada orang tua, berguna bagi nusa dan bangsa dan ndobos seperti pamannya.

Teriring ucapan terima kasih untuk Ibunya Raka yang sudah mengirimkan foto ini di tengah malam bolong dan Bapaknya Raka, sang fotografer raw format, yang bersusah payah memotret dua bayi kembar lain ayah lain ibu ini.

Sampeyan sekalian apa punya kembaran tak sekandungan?


Posted at 01:34 am by Sir Mbilung
Bales Ndobos  

Next Page