Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.
Seorang teman Jepang di kantor hari Jum'at kemarin dengan sumringahnya pamitan untuk berangkat ke kantor pusat di Cambridge, Inggris. Dia akan ada di sana selama sebulan lebih dan saya yakin dia bakal menikmatinya, karena mbuh kenapa dia suka sekali kota tua yang nyaris rata itu. Dia suka sekali dengan Sungai Cam yang membelah kota, dia suka berdayung-dayung atau ber-punting di sungai yang airnya (tampak) jernih dan dia selalu sumringah kalau diajak jalan-jalan ke daerah pertanian di sekitar Cambridge.
Saya jadi ingat pertama kali dia datang ke kota itu setahun yang lalu, saya mengajaknya duduk-duduk di pinggir kali, tempat kesukaan saya untuk membaca buku. Sambil duduk-duduk di pinggir kali dia sibuk nyerocos mengungkapkan kekagumannya dengan sungai, kota dan pemandangan lahan pertanian di Cambridge. Sesekali dengan tersenyum lebar dia menunjuk-nunjuk bebek dan angsa yang berenang di kali, mengganggu kosentrasi saya yang sedang membaca. Kenapa pula orang ini tadi saya ajak ke pinggir kali, saya kan ke sini mau membaca dengan tenang yang merupakan kemewahan buat saya.
Buku lantas saya tutup dan ide jahil untuk membalas kekejamannya mengganggu kenikmatan saya membaca lantas terlintas. Bukan ide yang orisinal sih sebetulnya, hanya terinspirasi hal serupa yang ada di Indonesia. Saya tahu banyak orang Jepang yang percaya tahyul, makanya jualan jimat dan ramalan laku di Jepang. Saya lantas berkata "Kamu kayaknya suka sekali kota ini ya, masih ingin balik lagi ke sini?". Dia mengangguk dengan antusias, matanya yang biasanya hanya segaris melotot dan bibirnya tersenyum. "Begini. Ada kepercayaan di sini, kalau kamu minum air Sungai Cam, kamu akan kembali lagi ke kota ini", mencontek cerita serupa yang pernah saya dengar untuk Sungai Musi dan Sungai Barito. Lha kok tanpa ba bi bu dia lantas pergi ke pinggir sungai dan mengambil air sungai itu dengan dua tangannya lantas diminum. Wahaaaa ... banyu kali ne diglogok. Memang air kalinya sih kelihatan bening, tapi itu air kali sebelum masuk kota ya lewat lahan pertanian dan peternakan dulu di luar kota sana ... ada peternakan sapi dan babi. Belum lagi orang iseng atau kebelet yang kencing di sungai.
Sejak itu dia sudah dua kali lagi kembali ke Cambridge, dan hari Senin nanti adalah kali ke-empat dia ada di kota itu. Dalam setahun empat kali dia datang ke kota yang dia sukai itu. Saya ya ndak ngerti apa itu ada hubungannya dengan kenekatannya minum air Sungai Cam. Saya juga ndak ngerti apakah dia sakit perut sehari kemudian ada hubungannya dengan minum air kali itu ... ndak sempet nanya, lha wong dia masih mlintir di kamar waktu saya mau pulang
Dasar Jepang, minum pakai es batu di Indonesia saja murus-murus, lha kok mekitik nggelogok banyu kali?
Musim panas di Jepang ndak lengkap tanpa hanabi, begitu katanya, sebuah tradisi tua main petasan. Hanabi yang konon kabarnya sudah ada sejak jaman Shogun Ieyasu Tokugawa itu kabarnya dipertontonkan untuk pertamakalinya oleh orang Inggris kepada Ieyasu pada tahun 1613. Konon kabarnya hanabi adalah pertunjukan kembang api paling indah se-dunia dan tak seorangpun di Jepang yang (katanya) ingin melewatkan kesempatan untuk ber-hanabi. Lagipula pertunjukan kembang api tidak hanya dipertunjukan di satu tempat saja. Ada banyak sekali tempat yang menawarkan tontonan gratis ini.
Indah? tak boleh melewatkan? maka saya lantas mengangguk setuju ketika seorang teman di kantor pada hari Kamis yang lalu, tanpa peringatan lebih dahulu, mengajak saya untuk menikmati pertunjukan penuh ledakan itu. Pertanyaan saya kepada dia adalah, di mana acaranya dan berapa banyak orang yang bakal datang nonton acara bakar-bakar petasan itu. Lha wong saya itu orangnya males jalan kaki jauh dan umpel-umpelan je. Oooh dekat saja kok dari rumah dan yang nonton ndak begitu banyak, paling hanya beberapa ribu orang. Ya, beberapa ribu memang tidak banyak, karena pertunjukan di Teluk Tokyo katanya bisa dihadiri oleh ratusan ribu orang.
Maka berangkatlah kami ber-enam untuk nonton bakar-bakar kembang api. Tiba di stasiun kereta api terdekat dari tempat pertunjukan orang sudah berjejalan dengan berbagai gaya dandanan, ada yang berkimono, beryukata, bercelana pendek atau ngerok mini. Keluar stasiun tukang jual jajanan sudah berjubel di pinggir jalan sambil teriak-teriak membualkan kelezatan barang daganganya dan sesekali ditimpali suara para penunjuk jalan yang mengarahkan rombongan manusia menuju tempat pertunjukan. Itu gerombolan orang yang lebih mirip calon peserta karnaval untungnya tertib dan mau patuh untuk diatur.
Tempat pertunjukan yang saya datangi ada di tepi Sungai Tama, para penonton berjubelan di satu sisi dan para pelepas petasan di sisi lain. Acara katanya dimulai pukul setengah delapan, dan dasar Jepang, pukul setengah delapan teng petasan roket pertama meluncur ..... suiiiiiiiiiiit ... dhier, bleng, pretekpretekpretek, bleng. Orang-orang bertepuk sambil sorak-sorak. Begitulah acara yang berlangsung selama satu jam kurang sedikit itu diisi oleh segala macam rupa kembang api warna-warni yang meluncur, menyembur, meledak ndak putus-putus. Selesai pertunjukan, kisah buat saya baru dimulai.
Sebagaimana lazimnya keriaan di semua tempat, orang datang ke tempat keriaan tersebut dalam beberapa gelombang, tetapi begitu keriaan selesai, semua pulang dalam satu gelombang. Seorang kawan lantas berinisiatif untuk berjalan kaki ke stasiun kereta lainnya saja kalau tidak mau umpel-umpelan di stasiun terdekat, lagipula tempatnya tidak jauh, begitu katanya. Tidak jauh mestinya kalau tidak pakai acara jalan-jalan tanpa arah dulu ... nyasar. Akhirnya dengan diiringi napas memburu, stasiun yang tak ramai itu bisa ditemukan, lega rasanya ... lha wong kami sudah jalan setengah jam je.
Lha kok ndilalah, seorang teman yang rumahnya dekat rumah saya malah mengajak saya untuk jalan kaki saja pulang ke rumah, "tempat tinggal kita sudah dekat dari sini" begitu katanya. Ah ya sudahlah, saya temani saja kawan satu ini, toh nanti bisa naik bus ke rumah. Maklum saja, rumah saya itu ada di puncak bukit dan jalan kaki nanjak bukit di malam yang gerah seperti saat itu bukan ide bagus. Berjalanlah kami. Katanya dekat? lha kok ndak sampai-sampai toh, dan saya mulai misuh-misuh dalam berbagai bahasa daerah di tanah air. Teman itu lantas bertanya apa arti kata-kata itu. Saya katakan bahwa itu kata-kata penyemangat ... maka diapun lantas ikut-ikutan menyemangati saya dengan "kata-kata penyemangat" itu. Jaaan ... bajigur bosok tenan bocah iki.
Setengah jam kemudian tibalah kami disebuah pertigaan yang tidak saya kenal, dan teman itu berkata, "kamu belok di sini, ikuti saja jalan itu, kira-kira setengah jam kamu bakal sampai di rumah". Lho? halte busnya mana? Teman itu bilang lagi ... "ini bukan rute bus karena bus ndak akan kuat lewat tanjakan itu, bus lewat jalan satunya lagi, masih agak jauh". Heh? nanjak, setengah jam, seketika itu juga terbayanglah seraut wajah tampan yang sedang tersengal-sengal dan banjir keringet. Saya lantas bertanya, dia mau kemana, kan rumahnya dekat rumah saya? "Saya harus ke kantor saya dulu, mau ngambil skuter ... sampai ketemu lagi ya, jane ... konbanwa" sembari melambaikan tangan. Saya hanya bisa senyum asem sambil menjawab salamnya diiringi senyum ramah ... "jane kon asu".
Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.
Bagian ini adalah bagian akhir (mudah-mudahan) dari seri bumbu dapur. Dalam bagian ini saya ingin konsentrasi ndobos perkara persaingan Inggris dan Belanda dalam memperebutkan rempah-rempah. Belanda dengan gayanya yang langsung-langsung saja dan cenderung "kasar" dan Inggris yang malu-malu. Perlu dicatat bahwa persaingan yang terjadi di tanah yang sekarang bernama Indonesia ini sering kali lepas dari apa yang terjadi di Eropa, tetapi apa yang terjadi di tanah ini sangat mempengaruhi Eropa. Apa yang terjadi di tanah ini adalah sebagian besar disebabkan oleh kepentingan ekonomi, bukan politik. Bisa saja Inggris perang lawan Belanda di Eropa sana (mereka empat kali berperang) tetapi di tanah ini mereka bisa bekerjasama untuk nggebuk Spanyol, atau bisa saja mereka sedang damai di Eropa sana tetapi di sini saling gebuk.
Inggris tiba duluan di Maluku pada tahun 1579 melalui jalur Pasifik. Ekspedisi ini dipimpin oleh Francis Drake dan Drake lantas membuat perjanjian persahabatan dengan Sultan Baabulah dari Ternate. Tetapi keberhasilan ini tidak lantas ditindak lanjuti, padahal Drake sewaktu pulang ke Inggris dia mengangkut begitu banyak rempah dan disambut bak pahlawan. Inggris lantas mencoba masuk melalui rute Afrika, tetapi justru Belanda yang tiba lebih dahulu di Banten di bawah pimpinan Cornelis de Houtman yang tiba di Banten tahun 1595. Keberhasilan ini ditindak lanjuti oleh Belanda dengan mengirim ekspedisi besar-besaran. Sepanjang tahun 1597 hingga 1601 saja, Belanda mengirim tidak kurang dari 65 kapal, beberapa bahkan ada yang sampai di Jepang, belum lagi rute Pasifik yang juga dijajal Belanda (oleh Oliver van Noort). Pos-pos dagang Belanda juga berdiri di mana-mana, termasuk di Banten, Maluku dan Banda. Inggris yang sementara hanya bisa ngiler melihat keberhasilan Belanda bukannya malah buru-buru berangkat malah sibuk mendirikan serikat dagang dulu (Inggris sekaleeeee).
Pada tanggal 31 Desember 1600 berdirilah British East India Company (EIC) dan baru dua bulan kemudia EIC mengirim ekspedisinya pertama di bawah pimpinan James Lancaster. Lancaster akhirnya tiba di banten tahun 1602 ... Belanda sudah nangkring duluan di sana dan sudah angkut-angkut rempah dari Banda dan Maluku. Jauh di Eropa sana pada tahun 1602, Vereenidge Oostindische Compagnie (VOC) atau Serikat Dagang Hindia Timur yang berdiri pada tanggal 20 Maret 1602 adalah persahaan multinasional pertama di dunia yang diberi hak monopoli selama 21 tahun oleh Republik Belanda (pada waktu itu Belanda adalah Republik) dan daerah kerjanya mencakup seluruh Asia. Sejak itu "pertempuran dagang" yang terjadi adalah antara dua perusahaan dagang ini, VOC lawan EIC.
Pada tahun 1605, Henry Middleton berangkat ke Ternate, dan ternyata surat perjanjian pertemanan yang ditandatangani oleh Drake dan Sultan Baabulah masih berlaku, kapal-kapal Middleton langsung ditimbuni oleh rempah-rempah ... lha konco lawas je. Inggris tampaknya lebih mendapat simpati dari penduduk setempat dalam berdagang, mungkin karena ndak brangasan seperti Belanda. Banda yang kala itu sudah dikuasai Belanda susah sekali dimasuki Inggris, maklum saja, pala hanya ada di tenpat ini dan Belanda tak hendak kehilangan monopolinya. Tetapi ada dua pulau kecil di Kepulauan Banda yang akhirnya bisa didapat Inggris yaitu Pulau Ai dan Pulau Run, dua pulau terluar di sisi Barat dari kepulauan Banda (coba sampeyan cari di peta), dan dari dua pulau seumprit ini pasokan pala untuk Inggris didapat. Belanda masih bisa mentolerir hal tersebut, paling kapal Inggris diganggu saja. Sampai akhirnya Belanda tak tahan lagi dan Pulau Ai diserbu dan direbut tahun 1616, sementara Pulau Run praktis direbut tahun 1621, walaupun Inggris masih menganggap Pulau itu adalah milik mereka.
Lha ditengah-tengah "perang dagang" itu ada sebuah kejadian yang membuat tanah yang nantinya bernama Indonesia ini hampir dijajah Inggris. Begini ceritanya ... pada tahun 1619 Inggris dan Belanda menandatangani sebuah perjanjian yang isinya sepertiga rempah boleh dimiliki oleh Inggris, sementara duapertiganya dimiliki Belanda. Tetapi Inggris diam-diam tetap saja mengambil lebih dari jatah, ketahuan dan ribut hingga akhirnya Inggris menyerang Belanda di Batavia pada tahun 1623. Babak belur Belandanya dan tinggal sedikiiiiiit lagi Belanda bisa habis, ... lha malah tidak dihabisi. Kapal Belanda yang masih belum hancur malah dibiarkan pergi ... lari ke Ambon.
Begitu sampai Ambon, mereka langsung menyerang pos Inggris dan menawan sepuluh orang Inggris, sembilan tentara bayaran Jepang (samurai) dan satu orang Portugis. Tawanan ini disiksa hebat ... termasuk diledakan tangan dan kakinya, kalau masih hidup, walaupun sudah disiksa begitu, lantas dibunuh. Setelah kejadian itu, Inggris mulai menarik diri dari Hindia dan hanya berkonsentrasi dagang di India saja ... mungkin mereka sadar, serumah sama orang gila agak susah, Inggris akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Banda dan Maluku tahun 1624, kemudian meninggalkan Batavia ke Banten tahun 1628 dan mundur total dari Jawa tahun 1683. Inggris sudah melihat tak ada untungnya bertahan di Hindia, lagipula harga rempah-rempah juga mulai jeblog karena over supply sejak tahun 1660. Hal ini terjadi sebagian karena Belanda begitu aktif "menyemangati penduduk setempat" untuk menanam rempah, selain itu juga karena "pinternya" Inggris, karena sebelum mereka keluar dari Maluku dan lari dari Pulau Run, mereka tak lupa membawa oleh-oleh berupa bibit rempah. Bibit-bibit itu kemudian disebar di beberapa koloninya sehingga rempah berharga tinggi itu sudah tidak lagi sulit didapat.
Di tempat lain Inggris juga "nakal". Setelah Perang Inggris-Belanda jilid 1 selesai pada tahun 1654, mereka malah menyerbu dan merebut New Amsterdam dan Pulau Manhattan di Amerika. Perkelahian dua negara itu kemudia berlangsung lagi pada tahun 1665 dan dikenal dengan Perang Inggris-Belanda jilid 2. Perang itu berakhir tahun 1667 dengan ditandatanganinya Perjanjian Breda. Dalam Perjanjian Breda ada tertera soal ganti rugi yang harus dibayar Belanda akibat menyiksa dan membunuh orang-orang Inggris di Maluku (1623) dan juga tertera bahwa Belanda melepas klaimnya terhadap New Amsterdam dan Pulau Manhattan yang direbut Inggris pada tahun 1654 dan menyerahkannya kepada Inggris, tetapi sebagai gantinya .... Inggris harus melepas klaim mereka terhadap Pulau Run. Haiyaaaaah, apa sampeyan tahu? itu yang namanya New Amsterdam sekarang bernama New York. Lha sekarang coba sampeyan cari di peta .... di mana New York? Gampang? Naaaah...sekarang sampeyan coba cari di mana letak Pulau Run.
Inggris yang akhirnya mundur total dari Maluku dan Banda praktis memberikan Belanda kontrol penuh terhadap Hindia. Belanda jadi raja dunia sekarang .... dengan sedikit variasi kecil seperti Amerika yang ikut-ikutan mencoba dagang rempah (terutama lada) dengan Sumatera. Merosotnya harga rempah menjadi salah satu sebab VOC bubar tahun 1798 dengan hutang yang gila-gilaan, selain karena faktor salah urus dan masalah komunikasi dengan Amsterdam yang jauh dari Batavia. Lha bagaimana ndak repot kalau perusahaan sebesar VOC dengan puluhan ribu karyawan tetapi surat menyurat baru sampai 9 bulan kemudian. Apa sampeyan tahu kalau semua aset dan hutang VOC itu lantas diambil alih oleh Republik Batavia??!!
Sudah habiskah perjalanan rempah-rempah? ... ya belum. Amerika yang tadinya dikira tak berempah itu toh akhirnya menyumbang Vanilla dan Cabe. Rempah-rempah telah menjadi pemicu bagi ekplorasi besar di bumi ini. Eksplorasi yang akhirnya membawa begitu banyak bahan makanan ke meja-meja makan di seluruh dunia, tidak hanya rempah lho ... dari mulai jagung, tomat, kentang, cabe, vanilla, coklat, kayu manis, cengkeh, pala, kemiri, dan masih banyak lagi. Eksplorasi yang akhirnya memunculkan perbudakan, penjajahan dan pemusnahan bangsa. Saat inipun rempah-rempah tampaknya masih terus mengembara menyertai perjalanan manusia mencari "dunia baru" ... rempah-rempah terbang ke bulan! dibawa oleh awak Apollo 11 tahun 1969 dalam makanan mereka. Kemana berikutnya? Mars?
Nah sekarang coba sampeyan ambil lada, cengkeh atau kayu manis dari dapur, pandangi barang itu dan ingat-ingat cerita ini.
Begitulah sederek sedoyo, karena saya sudah mengi sementara bayi tikus untuk obat mengi di sini ndak ada (Mas Tito mau ngirimi saya?), cerita bumbu dapur yang "agak panjang" ini saya sudahi saja dengan ucapan kalau ada sumur di ladang ... sampeyan mbok nimba. Mudah-mudahan ada gunanya.
Ucapan terima kasih: Buat Suster Bernadeth yang pertama kali ndongengi saya soal rempah dan buat Herman Teguh sang teman dalam duka yang rajin mengabarkan soal buku berlatar belakang sejarah dan teman diskusi ngalor ngidul soal sejarah. Beberapa sumber yang saya pakai: Wikipedia tentu saja; bukunya Giles Milton, Nathaniel's Nutmeg; bukunya John Keay, the Spice Route; bukunya Boxer, Dutch Merchants and Marines in Asia; bukunya Holden Furber, Rival Empires of Trade in the Orient 1600 -1800; bukunya Hanna Willard dan Des Alwi, Turbulent Times Past in Ternate and Tidore.
Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.
Portugis telah menjadi negara adidaya seperti yang telah saya sebut di cerita sebelumnya, dan itu berlangsung hingga dua dasawarsa sebelum abab gemilang bagi Portugis tersebut berakhir. Untuk mengetahui mengapa sang adidaya runtuh bahkan pernah "hilang" dari peta dunia di akhir abad ke-16 itu saya ndobosnya harus balik lagi ke akhir abad ke-15, teriring ucapan terimakasih bagi Mbak QQ yang damai yang seolah mengingatkan saya kalau masa-masa itu jangan disaring dengan alasan menyingkat cerita karena itulah salah satu awal mula titik balik kehancuran sang adidaya. Mari kita mulai lagi .... layar dibuka dan gamelan ditabuh.
Ingat pada waktu Columbus "menemukan" benua Amerika tahun 1493 yang disangkanya adalah sisi Timur dari Indies? (lihat bagian satu dari seri cerita ini). Lha ... karena Spanyol merasa mereka sudah menemukan tanah rempah-rempah mereka lantas bersabda sak enak udelnya sendiri, daerah yang mereka temukan itu adalah miliknya dan ndak boleh diaku-aku jadi milik orang lain. Portugis yang dengan susah payah bisa tiba di Tanjung Harapan tentu saja mencak-mencak seperti butho cakil ketemu Janoko. Bagaimana Portugis tidak pentalitan, karena mereka yakin bahwa Tanjung Harapan adalah gerbang menuju sisi Barat dari tanah rempah-rempah dan jika maunya Spanyol itu lantas diamini saja, mereka bisa kehilangan hak untuk mendapatkan rempah. Ndak bisa ... ndak terima, begitu kata Portugis. Perkelahian dua negara Katolik tersebut akhirnya di bawa ke Vatikan untuk dicari pemecahannya. Vatikan lantas memutuskan untuk membagi dunia menjadi dua, garis lurus pembagi lantas ditarik.
Tetapi rupanya tak semudah itu, garis itu tempatnya masih dipertentangkan oleh Spanyol dan Portugis, hingga akhirnya mereka bersepakat di mana garis tersebut di tarik. Kesepakatan tersebut dikenal dengan nama Perjanjian Tordesillas yang ditandatangani pada tahun 1494. Letak garis itu kira-kira 1700-an kilometer sebelah Barat Kepulauan Cape Verde yang ada di pantai Barat Afrika. Garis itu lebih ke Barat dari yang telah ditetapkan oleh Vatikan (Paus Alexander VI). Dalam peta modern garis itu praktis memotong Brazil. Wilayah sebelah Barat garis itu boleh dimiliki oleh Spantol, sementara Timurnya oleh Portugal. Lha wong namanya orang jaman itu yang belum percaya kalau dunia itu bundar, satu garis untuk sebuah bidang datar ya cukup untuk membaginya, tetapi kalau dunia itu seperti bola, ruwet jadinya. Kalau susah membayangkannya coba ambil bola tenis, lantas bikin satu dari kutub atas ke kutub bawah, satu saja, dan jangan memutari bola itu. Makin jauh kita dari garis itu, makin ndak jelas siapa punya apa kan, tumpang tindih. Ini nantinya diselesaikan dengan Perjanjian Saragossa pada tahun 1529 (simpan saja soal ini buat nanti).
Begitulah kemudian Spanyol ngubek-ngubek daerah sisi Barat dari garis Tordesillas mencari rempah. Sampai negara hampir bangkrut, rempah tak juga ditemukan padahal modal harus kembali. Amerika boleh-boleh saja tidak punya rempah, tetapi mereka memiliki barang berharga lain yang laku jual ... perak dan emas. Asiknya lagi ada perak dan emas yang tinggal ambil, karena sudah diolah dengan catatan kalau berani ngambil. Logam berharga siap comot itu dimiliki oleh penduduk asli Amerika, orang-orang Indian. Ada tiga suku Indian besar di Amerika yang daerahnya sedang diacak-acak oleh Spanyol, yaitu Inca, Maya dan Aztec.
Inilah bahayanya jika pedagang dan tentara lantas menggunakan Agama sebagai tunggangan, sehingga muncul istilah "Gold, Glory and Gospel" yang dengan sempurna diperagakan oleh para Conquistador. Untuk mendapatkan emas dan perak itu, ya harus perang dulu dan Spanyol tidak hanya menang teknologi (mesiu) mereka juga secara tak sadar memiliki senjata pemusnah masal, senjata biologis ... cacar, sipilis dan penyakit Eropa lainnya. Tahun 1521, Aztec hancur dan tahun 1572 Inca juga bernasib sama. Indian Maya yang memiliki pola pemerintahan yang berbeda terbukti lebih sulit ditaklukan, walaupun akhirnya Maya juga hancur pada tahun 1697. Padahal dari ketiga suku besar itu, suku Maya adalah yang pertama bertemu dengan Spanyol. Begitulah, emas dan perak serta ditambahi kayu dan beberapa hasil bumi lain sebagai kudapan menjadikan Spanyol mampu bertahan dari keadidayaan Portugis dan pada suatu saat, situasi tersebut lantas berbalik. Bukan karena Spanyol lantas lebih kaya daripada Portugis, tetapi (salah satunya) karena urusan politik, urusan ketiadaan penerus Raja Portugis.
Sebelum saya ndobos masalah tahta, mari kita lihat kembali keadaan Portugis di penghujung abad ke-16. Kala itu kapal-kapal dagang Portugis dari Maluku dan Banda disesaki dengan rempah-rempah, satu kapal bisa mengangkut puluhan bahkan ratusan ton rempah, tetapi Portugis sendiri hanya menerima dalam jumlah sedikit hasil penjualannya. Lha kenapa? Korupsi sodara-sodara ... para pejabat tinggi hingga karyawan tanpa pangkat gagah yang bertugas di sepanjang jalur perdagangan rempah ngentit dan menjualnya sendiri kepada para pedagang dari Timur-Tengah. Akibatnya, Portugis agak kesulitan untuk meperbesar armada, menjaga jalur dagangnya dan yang pasti menggaji para karyawannya yang tukang korupsi itu.
Selain korupsi, kelakuan orang-orang Portugis juga nggilani sehingga tak disukai oleh para penguasa setempat. Mereka sering memalak penduduk setempat dan ngamuk kalau dibantah, merasa berhak untuk ikut-ikutan urusan orang lain terutama urusannya keluarga kerajaan setempat. Karena kelakuan tak terpujinya tersebut, Portugis akhirnya diusir dari Ternate pada tahun 1575. Di banyak tempat situasi serupa juga terjadi, Portugis melemah dan mulai kehilangan pijakannya.
Situasi makin parah ketika pada tahun 1578 Raja Portugis, Sebastian I yang baru berumur 24 tahun wafat tanpa meninggalkan keturunan sama sekali. Gosip-gosipnya Sebastian I adalah seorang homosexual. Portugis kisruh, orang-orang yang merasa memiliki hak untuk memegang tahta saling berebut. Akhirnya sesudah melalui pertarungan intrik tingkat tinggi yang mbingungi pol, suap dan segala cara sikut menyikut, pada tahun 1580 Raja baru berhasil di dapat ... Philip I of Portugal. Akan tetapi ... Philip I ini juga adalah Philip II raja Spanyol!! Sampeyan boleh ndlongop, tapi itu faktanya, Raja Spanyol dan Raja Portugis itu orangnya sama, cuma beda nama saja, dan akibatnya Portugis dinyatakan sebagai bagian dari Kerajaan Spanyol ... Portugis sang adidaya itu, lenyap dari peta dunia.
Belum genap setahun berkuasa Philip menghadapi masalah di Belanda (yang kala itu bernama Perserikatan Tujuh Propinsi) yang memberontak terhadap kekuasaan Spanyol. Pemberontakan Belanda dipimpin oleh William I yang bergelar Prince of Orange, yang akhirnya terbunuh. Tetapi itu bukan berarti pemeberontakan selesai, jalan terus. Agama menjadi (dijadikan) latar belakang perseteruan ini. Baru saja Philip bernafas lega sebentar, pada tahun 1587 terdengar lagi kabar, Mary, Ratu Skotlandia (yang Katolik) mati dihukum pancung setelah dinyatakan bersalah atas tuduhan penghianatan dalam upaya membunuh Ratu Elizabeth I. Apa yang tampak seperti urusan antara Skotlandia dan Inggris itu sangat mempengaruhi Philip.
Philip bercita-cita untuk menggabungkan Inggris ke dalam kesatuan kerajaan Katoliknya. Dia pernah mengawini Ratu Mary I dari Inggris pada tahun 1554. Perkawinan yang hanya berumur 4 tahun itu berakhir dengan meninggalnya Mary. Inggris kemudian diperintah oleh Elizabeth I yang Protestan. Pupuskah cita-cita Philip? Belum sodara-sodara sekalian, karena Philip lantas memutuskan untuk menggenakan jalan langsung-langsung saja .... invasi. Perang yang dikenal dengan nama Perang Anglo-Spanyol ini berlansung antara tahun 1585 hingga 1604, padahal Philip mangkat tahun 1598 sementara Elizabeth tahun 1603.
Kita lihat sekarang di penghujung abad ke-16 itu, Portugis lenyap, Spanyol muncul menjadi kekuatan adidaya baru yang ditantang oleh Inggris dan Belanda. Spanyol kemudian disibukan dengan perang melawan Belanda dan Inggris. Pada tahun 1588, armada Spanyol yang terkenal tak terkalahkan itu bisa dibuat babak belur oleh Inggris di Selat Dover. Dari 131 kapal dan 35.000 yang dimiliki Spanyol untuk maju perang, pada akhirnya hanya 67 kapal dan 10000 orang yang bisa kembali. Sementara Inggris tidak kehilangan satu kapalpun sedangkan jumlah korban jiwanya dilaporkan "minimal".
Tetapi setelah itu, Inggris dijadikan bulan-bulanan oleh Spanyol, walaupun kisah kehebatan Inggris mengalahkan armada Spanyol itu tetap hidup sampai sekarang sebagai bukti bahwa Inggris adalah yang paling jago di lautan. Mungkin sama dengan analogi Piala Dunia dalam sepakbola, di mana Inggris sekali juara di kandangnya sendiri tetapi selalu jadi bulan-bulanan setelahnya. Inggris kemudian berhenti perang dengan Spanyol (sementara) melalui Perjanjian London pada tahun 1604. Perang Inggris lawan Spanyol ini masih terjadi lagi paling tidak empat kali setelah yang pertama ini usai. Armada Spanyol sendiri baru bisa digebuk setelah Belanda menghajar habis Spanyol pada tahun 1639 dalam Battle of the Downs.
Masa-masa konflik ini benar-benar dimanfaatkan oleh Inggris dan Belanda untuk berpacu menuju tanah rempah-rempah, apalagi Spanyol dapat musuh lain selain Inggris dan Belanda ... Perancis. Ternyata mengeroyok Spanyol memang efektif, walaupun armada Spanyol itu kuat banget tapi dikeroyok begini ya sibuk juga, belum lagi mereka harus mempertahankan koloninya di Amerika. Sementara Spanyol sibuk itulah Inggris dan Belanda balapan ke tanah rempah-rempah. Hasilnya Francis Drake (Inggris) berhasil tiba di Maluku pada tahun 1579 (pada saat Philip sedang sikut-sikutan untuk merebut tahta Portugis) mengikuti rute pelayaran ekspedisi Magellan, Inggris bisa sampai di Tanjung Harapan pada tahun 1591, dan pada tahun yang sama James Lancaster tiba di Malaka. Tahun 1595 Cornelis de Houtman (Belanda) tiba di Banten, tahun 1599 Jakob van Neck (Belanda) pulang dari Banten ke Belanda dengan muatan luar biasa.
Ada masa Inggris dan Belanda itu tuker-tukeran pelaut untuk mencapai tanah rempah-rempah. Salah satunya yang terkenal adalah John Davies yang tiba di Aceh dengan menggunakan kapal berbendera Belanda pada tahun 1599. Kemudian Davies berhasil myakinkan Inggris bahwa Aceh bisa dijadikan sekutu dagang. Nasehat Davies ini diikuti dan Lancaster yang pernah sampai ke Malaka berlayar lagi ke Aceh pada tahun 1601 dan malah bisa meneruskan pelayarannya hingga ke Banten pada tahun 1602. Lancaster lantas bisa kembali ke Inggris pada tahun 1603 dengan muatan kapal yang luar biasa. Lancaster membawa pulang sekitar setengah juta kilogram lada, yang kira-kira setara dengan seperempat kebutuhan lada Eropa masa itu. Tetapi itu belum apa-apa dibandingkan dengan hasil yang dibawa Belanda pada tahun itu ... satu setengah juta kilogram lada!
Saya tutup dulu bagian empat dari seri bumbu dapur ini, besok saya ndobos soal persaingan Inggris dan Belanda di tanah rempah-rempah. Sampeyan pernah dengar nama New York atau Manhattan, lha bagaimana dengan nama Pulau Run? apa hubungan antara keduanya? dan bagaimana akhirnya dagang bumbu dapur menjadi tidak lagi menarik.
Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.
Jalan Portugis untuk menjadi negara adidaya lumayan terjal. Di Eropa mereka harus bersaing keras dengan Spanyol yang juga hobi melaut dan para raksasa yang sedang tumbuh seperti Belanda dan Inggris. Sementara di daerah selepas Tanjung Harapan musuh-musuh Portugal yang lain sudah menunggu, para pedagang Timur-Tengah, India, Malaka dan Pasai. Walaupun bisa dibilang bahwa permusuhan itu ya karena kelakuan Portugis sendiri. Kebengisan Portugis memang tersohor kala itu. Pertemuan Portugis dengan siapapun di laut kadang harus diakhiri dengan pertempuran. Bagi Portugis sendiri, merugi tidak ada dalam perhitungannya dan untuk itu mereka harus terus ke Timur ... Malaka adalah sasaran berikutnya.
Pada tahun1509, orang-orang Portugis menjadi orang Eropa pertama yang tiba di Malaka, sebuah kesultanan yang berpusat di Semenanjung Malaya dan daerah kekuasaannya juga meliputi sebagian Pantai Timur Sumatera. Rombongan pertama Portugis ini dipimpin oleh Lopez de Sequira. Seperti sudah diduga, rombongan ini tak disambut ramah di Malaka karena berita kekejaman Portugis di Pembantaian Calicut telah sampai di Malaka. Rombongan pertama ini lantas diserang oleh Malaka dan berhasil diusir. Cerita belum selesai ternyata, Portugis tidak terima diusir begitu saja dan pada tahun 1511, armada besar Portugis datang untuk menggempur Malaka di bawah pimpinan Alfonso d'Albuquerque. Malaka akhirnya jatuh ke tangan Portugis dan jalan Portugis ke pulau rempah-rempah semakin dekat.
Berhubung Portugis sudah mulai dekat ke tanah rempah-rempah, ada beberapa hal yang perlu diterangkan yang berkaitan dengan nama dan produk rempah-rempah yang akan banyak disebut setelah ini. Nama Maluku saya pakai untuk wilayah yang saat ini ada dalam Propinsi Maluku Utara terutama untuk kawasan yang mencakup Ternate, Tidore, Bacan dan Halmahera. Sedangkan Banda adalah nama yang saya pakai untuk mengacu kepada kepulauan kecil yang terdiri dari tujuh pulau utama yaitu Lontor (Banda Besar), Gunung Api, Banda Naira, Ai, Run, Pisang (Syahrir) dan Rozengain (Hatta) . Yang saya maksud dengan pala adalah biji buah pala. Buah pala biasanya dibagi menjadi tiga bagian besar, bijinya (nutmeg) yang berharga tinggi, pembungkus biji (aril, fuli atau mace) yang juga dijual sebagai barang dagang dan daging buah pala yang sekarang sering dipakai untuk dibuat manisan, selai atau sirup, tetapi jaman dulu ya dibuang saja.
Adalah seorang tukang jalan-jalan dan tukang ndobos berkebangsaan Italia dari Bologna yang bernama Ludovico di Varthema yang mengaku dia telah pernah ke Banda dan Maluku. Varthema ndobos begini, dia tiba di Sumatera dan mendengar kisah tentang pulau rempah-rempah di Timur dan dia ingin mengunjunginya (semua juga begitu pada watu itu). Dia lantas menyewa sebuah kapal dan berlayar ke arah matahari terbit sejauh 300 mil selama 15 hari. Dalam perjalanannya dia melewati duapuluhan pulau yang sebagian ditinggali dan sebagian lagi tidak hingga suatu hari sampailah dia ke Banda (dia menyebutnya Bandan). Tempat ini digambarkannya buruk sekali, ndak ada bagus-bagusnya, orang-orangnya lemah dan bodoh serta hidup seperti hewan. Berlayar ke arah Utara selama duabelas hari dia tiba di Maluku, yang udaranya dikatakan lebih sejuk dibanding Banda tetapi orang-orangnya lebih buruk. Dia juga memberikan cerita tentang pala dan cengkeh yang diburu-buru orang Eropa itu.
Cerita Varthema ini dianggap banyak tidak akuratnya, sama seperti cerita Marco Polo tentang perjalanannya, sehingga cerita Varthema tidak layak untuk dipercayai dan namanya hanya jadi catatan kaki saja dalam sejarah sebagai orang Eropa yang katanya pernah ke Banda dan Maluku dan bukannya sebagai orang Eropa pertama yang sampai di sana. Jarak dari Sumatera ke Banda misalnya, tidak kurang dari 1500 mil, dan untuk jaman itu bisa ditempuh dalam waktu satu bulan berlayar. Tetapi bagaimanapun, cerita Varthema menjadi pemecut bagi rang-orang Portugis yang telah merebut Malaka untuk mulai melakukan eksplorasi ke pulau rempah-rempah. Perlu digaris bawahi, bagi orang Portugis jaman itu, kata eksplorasi juga bermakna eksploitasi.
Dari Malaka, d'Albuquerque yang terinsipirasi cerita Varthema lantas mengirim tiga kapal pada akhir tahun 1511 untuk berlayar ke Timur dengan dipimpin oleh Antonio d'Abreu. Dalam ekspedisi itu juga turut Fransisco Serrao yang mengomandoi salah satu dari tiga kapal Portugis. Akan tetapi saudara sepupu Serrao, Ferdinand Magellan tampaknya tidak turut disertakan dalam ekspedisi ini, dan diceritakan kemudian kalau Magellan malah pulang ke Portugis. Kisah tentang Magellan sudah saya ceritakan sebelumnya.
Akhirnya di suatu hari di tahun 1512, kapal-kapal Portugis di bawah pimpinan d'Abreu itu tiba di Banda, salah satu dari pulau rempah-rempah. Sebagai orang-orang Eropa pertama yang tiba di Banda (jika Varthema terbukti hanya ndobos), tak ada upacara penyambutan megah, meriah, bahkan tanggal pasti d'Abreu tiba di Banda tidak juga saya temukan. Sebuah sambutan kesunyian bagi keberhasilan upaya yang telah diimpikan begitu lama.
Tak lama berlabuh di tanah impian itu, d'Abreu kemudian berlayar ke Utara menuju Ambon. Setiba di Ambon, d'Abreu pun hanya mencatat ini itu soal posisi strategis dan dia memutuskan untuk berlayar kembali ke arah Barat, ke Malaka. Tak ada pos-pos dagang yang didirikan, tak ada orang yang ditinggalkan, sangat tidak Portugis, tetapi d'Abreu hanya menjalankan tugas seperti perintah yang diberikan oleh d'Albuquerque, misi pengenalan. Akan tetapi, lha kok ndilalah sekitar 200 km selepas Ambon, kapal yang dikomdani oleh Fransisco Serrao mengalami kerusakan karena menbrak karang. Awak kapal semua berhail selamat dan terdampar di sebuah pulau karang kecil. Dari tempat itu mereka berhasil "memanggil" sebuah kapal lokal, tapi dasar Portugis gila dan tak tahu terima kasih, kapal penolong itu malah dibajak ... diambil alih. Mereka lantas berusaha berlayar kembali ke Ambon, tetapi nyasar dan malah terdampar di Seram.
Sultan Abu Lais dari Ternate yang mendapat kabar tentang para pelaut Portugis yang terdampar itu, lantas memerintahkan agar mereka dijemput dan dibawa ke Ternate. Dia melihat, para prajurit ini bisa menjadi sekutu yang berguna jika terjadi konflik dengan kerajaan di sekitarnya seprti Tidore, Gilolo (Halmahera) atau Bacan. Begitulah, pada tahun 1512, orang Portugis pertama tiba di Ternate yang saat itu merupakan penghasil cengkeh terbesar di dunia. Fransisco Serrao kemudian memutuskan untuk tinggal di Ternate, membangun benteng dan gudang rempah, mengawini perempuan Jawa, menjadi pedagang rempah dengan memanfaatkan perahu-perahu dari Jawa dan Makassar. Serrao juga berkorespondensi dengan rekan-rekannya di Eropa termasuk dengan sang sepupu, Ferdinand Magellan. Berita dari jauh ini juga di dengar oleh para petinggi dan saudagar Spanyol yang lantas memutuskan untuk mengirim ekspedisi untuk kembali mencari jalur pelayaran yang lain dengan jalur yang dikuasai Portugis untuk menuju pulau rempah-rempah. Maka berangkatlah sang pesohor sejarah dan sepupu Serrao, Ferdinand Magellan yang telah membelot dari Portugis ke Spanyol, pada tahun 1519 menuju tanah rempah-rempah ... ke arah Barat melalui Amerika. Kisah pelayaran Magellan sudah saya ceritakan dibagian dua dari seri tulisan ini.
Serrao tetap berada di Ternate dan meninggal tahun 1521. "Undangan" Serrao kepada Magellan untuk bertemu di Ternate, tidak pernah terlaksana. Keduanya meninggal dunia pada tahun yang sama jauh dari tanah air mereka di Portugis. Magellan tewas di Mactan, Philippina, sementara Serrao meninggal dunia di Ternate.
Sepeninggal d'Abreu, Portugis kembali mengirimkan beberapa ekspedisi ke Banda dan Maluku untuk mendapatkan dan menguasai sumber-sumber pala dan cengkeh. Jaman itu pala hanya bisa didapat di Banda sedangkan cengkeh hanya ada di Maluku ... Portugis berhasil menguasai sumber rempah-rempah dan jalur ke pasar utamanya di Eropa ... Portugis menjadi superpower dunia.
Berikutnya, kita harus mundur sedikit ke akhir abad ke-15 untuk melihat ulah Spanyol di Amerika Tengah dan Selatan, lantas loncat ke akhir abad ke-16 untuk melihat melemah dan "hilangnya" Portugis dari peta dunia, masuknya Belanda dan Inggris ke pulau rempah-rempah dan pergulatan untuk menjadi superpower dunia dengan memperebutkan sepetak kecil tanah yang ditumbuhi tanaman harum dan manis. Bumbu dapur memang gila.
Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.
Gerbang sudah terbuka dan Portugis mulai memasukinya. Portugis mulai mendirikan pos-pos di sepanjang jalur menuju negeri rempah-rempah. Spanyol yang takut untuk mengambil jalur ke Indies melalui Afrika masih juga berkutat dengan pencarian jalan menuju Indies dari sisi barat Benua Amerika. Muara-muara sungai besar dimasuki dengan harapan sungai itu akan membawa mereka menuju tempat rempah-rempah. Sebuah kesia-siaan (sementara) yang akhirnya membuat para pemodal dan penguasa Spanyol mencak-mencak karena terancam bangkrut. Apalagi jalur ke menuju Indies melalui Afrika sudah dikuasai Portugis yang pada saat itu sudah tiba di sumber rempah-rempah. Walaupun demikian upaya Spanyol untuk mencari jalan ke tempat asal rempah-rempah melalui jalur pelayaran ke arah barat masih belum juga berhenti. Inilah gilanya orang-orang Eropa itu, Spanyol yang sudah mulai babak belur mencari jalan itu lantas membiayai sebuah ekspedisi yang dipimpin oleh seorang pelaut Portugis, pelaut yang lantas tersohor sebagai pengeliling dunia pertama, Ferdinand Magellan. Pengeliling dunia pertama?? ... waaah ndobos itu, bohong besar, karena dalam ekspedisi itu, Magellan tidak pernah mengelilingi dunia. Begini kisahnya.
Ferdinand Magellan adalah orang Portugis yang lahir pada tahun1480. Pelayaran pertama Magellan (sebagai pelaut Portugis) adalah ke India pada saat umurnya baru 25 tahun. Dia juga berpartisipasi dalam ekspedisi untuk mencapai Hindia (sekarang Indonesia) tetapi dia hanya sampai di Malaka, walaupun ada cerita lain yang mengatakan Magellan pernah sampai ke Maluku tetapi timelinenya mbundet ndak karu-karuan dan tidak ada bukti kuat tentang ini. Pada tahun 1509, Magellan terlibat dan terluka dalam pertempuran hebat antara Portugis melawan persekutuan Mesir, Ottoman, Calicut dan Gujarat di dekat Diu, India. Pertempuran yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Battle of Diu, pertempuran yang mengokohkan kedudukan Portugis di India dan di jalur perdagangan rempah-rempah serta menandai awal keruntuhan Kemaharajaan Ottoman (ndobos soal ini lain kali saja). Pada tahun 1513 Magellan dikirim oleh Kerajaan Portugis untuk bertempur di Maroko, Battle of Azamor. Pertempuran ini sendiri tidak begitu penting, tetapi inilah titik balik dalam sejarah hidup Magellan. Terluka dalam pertempuran tersebut, disersi, dituduh melakukan perdagangan gelap, ditolak permintaannya untuk mendapat kenaikan tunjangannya, akhirnya dipecat dan mimpi yang belum terwujud, membuat Magellan lantas menawarkan dirinya untuk bekerja kepada Kerajaan Spanyol. Mimpi Magellan adalah mengunjungi tanah rempah-rempah dan Spanyol memberikan apa yang tak dapat diberikan oleh Portugis ... peluang.
Spanyol yang sedang pusing dengan urusan mencari jalan ke tempat asal rempah tentu saja bergirang hati menyambut Magellan yang sudah sangat berpengalaman itu. Jreng ... Magellan diberi lima buah kapal lengkap dengan awaknya yang jumlahnya sekitar 270 orang dan berlayar ke arah barat, ke arah Benua Amerika pada tanggal 20 September 1519, untuk menemukan jalan menuju tanah rempah-rempah. Pada tanggal 6 Desember, Brazil terlihat di cakrawala dan Magellan memutuskan untuk membelokkan arah pelayaran ke Selatan. Magellan baru berlabuh di dekat Rio de Janeiro seminggu setelah mereka pertama kali melihat Brazil. Selesai mengisi perbekalan, Magellan meneruskan pelayarannya ke Selatan dan sempat singgah di sebuah muara sungai yang sangat besar dan kemudian dinamai Rio de la Plata yang sekarang merupakan batas antara Argentina dan Uruguay. Magellan terus b erlayar ke Selatan. Magellan sempat singgah di Puerto San Julian, yang sekarang merupakan pelabuhan laut yang terletak di Patagonia, Propinsi Santa Cruz di Argentina. Selat yang dicarinya masih juga belum ditemukan. Magellan kemudian kehilangan salah satu kapalnya ketika Santiago hancur diterjang badai. Pada bulan Agustus 1520, selat yang dicarinya mulai menampakkan diri, Magellan tiba di ujung paling Selatan dari Benua Amerika, Tierra del Fuego -- Tanah Api. Perlu waktu lebih dari dua bulan bagi Magellan untuk mengubek-ubek daerah itu mencari jalan keluar dan sekali lagi Magelan kehilangan satu kapal, Antonio kembali ke Spanyol. Akhirnya pada tanggal 28 November 1520, Magellan tiba di samudra yang belum terpetakan, samudra yang kemudian dinamainya Mar Pacifico -- Samudra Pasifik.
Merasa bahwa mereka terlalu jauh ke Selatan, Magellan memutuskan untuk berlayar ke arah Barat Laut. Pada bulan Februari 1521 mereka melewati garis Katulistiwa, dan akhirnya pada tanggal 16 Maret 1521 mereka tiba di Philippina dengan jumlah awak tersisa sekitar 150 orang. Philippina adalah tanah terakhir yang dipijak Magellan. Di tempat ini Magellan mati terbunuh dalam pertempuran di Mactan (Pulau Cebu) dengan penduduk setempat yang dipimpin oleh Lapu-Lapu yang saat ini dikenal sebagai pahlawan negara Philippina yang menentang penjajah Spanyol. Konsepsi yang tidak tepat karena Magellan, sekali lagi, adalah orang Portugis yang hanya disewa oleh Spanyol. Ha .... jadi Magellan belum mengelilingi dunia kan?! Sudah keburu mati duluan.
Lantas siapa dong kalau begitu yang pertama mengelilingi dunia? Sampeyan (dan saya) boleh bangga untuk soal yang satu ini (kalau mau). Orang yang pertama mengelilingi dunia itu adalah orang Sumatera!!! He..??? Lho??? Begini ceritanya.
Masih ingat kalau Magellan itu jaman mudanya pernah keluyuran sampai ke Malaka? Di tempat itu dia membeli seorang budak asal Sumatera yang lantas dinamainya Enrique de Malaca. Nama asli Enrique saya ndak tahu. Karena badannya gosong kayak kebanyakan kita-kita ini, dia lantas juga dikenal sebagai Henry the Black. Enrique adalah budak yang setia, dia ikut kemana majikannya pergi. Jadi sebagai bedinde taat, Enrique ini sudah melancong ke Malaka, India, Afrika, Portugis, Spanyol, Amerika Selatan dan Philippina, mengikuti perjalanan sang majikannya. Pada saat Magellan mati di Philippina, Enrique melarikan diri pulang ke rumahnya di Sumatera sana. Jadilah Enrique, pria Sumatera itu, menjadi orang pertama yang berhasil mengelilingi dunia.
Lantas kenapa Enrique si anak Sumatera ini kok ndak lantas diabadikan sebagai pengeliling dunia pertama? Sejarah untuk konsumsi publik itu katanya ditulis oleh para pemenang. Ada sebaris kalimat tentang Enrique ini yang kalau diterjemahkan bunyinya begini "... seperti juga kebanyakan pelaut yang berlayar untuk mencari jalur ke pulau rempah-rempah, nama mereka tak pernah muncul hanya karena mereka tak bisa baca tulis dan kulit mereka kurang putih ...", itu bukan kata-kata saya lho, itu katanya John Keay dalam buku "The Spice Trade".
Kembali ke sisa-sisa awak ekspedisi Magellan, mereka sudah babak belur, kapal yang sudah tinggal tiga itu mesti dikurangi satu lagi. Dengan hanya dua kapal tersisa, mereka berlayar ke Palawan dan lantas ke Brunei di mana mereka terkagum-kagum dengan kekayaan raja negeri itu (sampai sekarangpun orang Eropa masih terlongo-longo melihat kekayaan Kerajaan Brunei). Akhirnya, ekspedisi itu tiba juga ke tanah rempah-rempah seperti yang menjadi tujuan awal ekspedisi. Dengan sisa dua kapal dan 115 awak mereka tiba di Maluku pada tanggal 6 November 1521 setelah dua tahun lebih berlayar.
Di Maluku mereka akhirnya bisa mendapatkan rempah yang dicarinya, cengkeh, dari hasil berdagang dengan Sultan Tidore. Mereka tidak berdagang dengan Sultan Ternate karena Sultan Ternate telah menjadi rekanan bisnis orang-orang Portugis. Dua kapal yang tersisa lantas dimuati sebanyak mungkin rempah yang bisa mereka angkut. Lha kok ndilalah salah satu kapal itu, Trinidad, bocor. Jadilah kapal satunya, Victoria, berangkat duluan ke Spanyol dengan berlayar ke arah Barat, sementara Trinidad harus ditambal dulu. Pada saat Trinidad siap berangkat, mereka memilih jalur ke arah Timur seperti jalur kedatangannya, tetapi Trinidad ditangkap oleh kapal Portugis dan akhirnya tenggelam dihantam badai. Victoria sendirian sekarang.
Victoria yang dikomandani Juan Sebastian Elcano, berlayar pulang sendiri ke Spanyol. Uniknya, untuk menghindari cegatan Portugis di Malaka, Victoria tidak mengambil jalur yang biasa dipakai oleh kapal-kapal Portugis. Victoria berlayar ke Selatan menuju Kupang di Pulau Timor. Lantas mereka berbelok ke arah Barat, hingga mereka tiba di perairan Pantai Selatan Jawa. Ini benar-benar perjudian besar bagi Elcano. Jaman dahulu itu Pulau Jawa yang kita kenal sekarang ini tidak digambar sebagai pulau yang memanjang mirip sotong, tetapi digambar sebagai benua selatan. Teori Keseimbangan Bumi dari Ptolomei menyatakan bahwa harus ada sebuah masa daratan besar di Selatan Bumi agar Bumi bisa seimbang, dan Pulau Jawa dikira adalah bagian dari benua itu. Ptolomei tidak salah, sekarang kita tahu ada Australia dan Antartika di Selatan sana.
Victoria terus berlayar memipiri pantai Selatan Jawa dan begitu mereka sampai di sekitar Selat Sunda, mereka bukannya ke Utara tapi malah ke Barat Daya, langsung menuju Tanjung Harapan. Sebuah rute baru bagi para pelaut Eropa dan rute Selat Sunda langsung bablas ke Tanjung Harapan ini nantinya akan digunakan oleh para musuh Portugis untuk pergi dan pulang ke tanah rempah-rempah tanpa harus melewati Malaka.
Pada tanggal 21 Desember 1521 akhirnya Victoria tiba di Tanjung Harapan. Dalam perjalanan pulang itu Victoria harus kehilangan 33 awak karena mati sakit, kelaparan atau ditinggalkan. Bagaimana ndak mati kelaparan, perbekalan mereka isinya hanya beras tok! Mereka tidak membawa perbekalan selain beras karena kapal sudah disesaki dengan rempah-rempah (cengkeh dan kayu manis). Akhirnya pada tanggal 6 September 1522, setelah hampir tiga tahun berlayar (berangkat tanggal 20 September 1519), Victoria, sisa dari ekspedisi Magellan itu tiba di Seville, Spanyol, dengan 18 orang yang tersisa. Delapan belas orang itu menjadi orang-orang Eropa pertama yang mengelilingi dunia dan sekaligus menjadi orang-orang ke dua yang mengelilingi dunia ... sesudah Enrique item anak Sumatera itu.
Ekspedisi itu sendiri yang awalnya lima kapal sisa satu dan 270 orang sisa 22 (18 dari Victoria dan 4 lagi dari sisa awak Trinidad yang akhirnya bisa pulang) ternyata masih untung secara finansial!!! Padahal rempah yang diangkut ya ndak banyak-banyak amat. Harga rempah memang gila-gilaan di Eropa sana. Bisa dibayangkan jika semua kapal berhasil pulang dengan dipenuhi cengkeh dan kayu manis. Gilanya harga rempah bisa digambarkan begini. Dalam bukunya Summa Oriental, Tome Pires menulis, satu bahar cengkeh (kira-kira 270 kg) di Maluku yang harganya 1 cruzados lebih sedikit, di tangan pertama di Lisabon dijual dengan harga 700 cruzados. Setelah dipotong ini itu untuk keperluan ekspedisi keuntungan bersih yang didapat dari satu bahar cengkeh tidak kurang dari 35.000 persen!!! Sementara muatan yang berhasil dibawa pulang Victoria sekitar 20 ton.
Lho sebentar ... kok Sultan Ternate dagang sama Portugis? Kapan Portugis sampai di Ternatenya? Lha ya mohon sabar ... pada sambungan dari cerita ini saya akan ndobos soal kedatangan orang-orang Portugis itu di tanah rempah-rempah, yang juga merupakan salah satu langkah penting bagi Portugis untuk menjadi superpower.
Ada sebuah kisah panjang, sangat panjang, yang sering saya tuturkan kepada Ibu ini secara sepotong-sepotong, tidak pernah secara runut dan utuh. Terlalu panjang memang kisah itu kalau disampaikan secara utuh, bahkan jika disingkat sekalipun. Lantas sayapun berjanji, suatu saat kelak kisah tersebut akan saya ceritakan secara lebih baik, dan dia menagihnya sekarang sekaligus untuk dibagi kepada yang lain. Hutang harus dipenuhi, tetapi kisah ini benar-benar panjang dan saya, sekali lagi, harus membaginya menjadi bagian-bagian agar tak terlalu membuat lelah yang membacanya dan agar tak terlalu letih saya menulisnya.
Wanti-wanti/pengingat: tulisan ini sebaiknya dinikmati (kalau bisa) sebagai bacaan ringan saja, ndak usah terlalu serius. Walaupun ada "sejarah-sejarahnya" perlakukan saja tulisan ini seperti cerita berlatar belakang sejarah lainnya, seperti sinetron silat itu. Jangan menjadikan tulisan ini sebagai referensi/acuan, apalagi buat bikin tulisan ilmiah. Sebagian tulisan ini informasinya saya ambil dari berbagai sumber bacaan yang akan saya sebut pada bagian akhir dari keseluruhan tulisan ini, tetapi sebagian besar informasi justru saya peroleh dari cerita kiri-kanan, dan cerita guru sejarah saya yang ayu itu. Sama halnya dengan sumber pustaka, nama mereka juga akan saya sebut dibagian akhir cerita.
Hokeeeh sederek sedoyo ... selamat menikmati, atau selamat menyiksa diri.
Dari mulai pertama kali diajari sejarah sampai sekarang ndak ada yang pernah menerangkan kepada saya kenapa kita menjajah tanah lain, seperti jamannya Sriwijaya, Majapahit atau jamannya orde baru itu. Saya malah diberi tahu kalau bangsa kita ini dijajah berkali-kali oleh anasir-anasir asing karena rempah-rempah. Lha apa urusannya bumbu dapur begini dengan jajah menjajah yang lantas membuat para Bapak (dan Ibu) bangsa ini sampai-sampai bikin pernyataan keras "... bahwa sesungguhnya kemerdekaaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh karena itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesusai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan". Belakangan saya mulai paham (belum komplit pahamnya) hubungan antara keduanya.
Kalau saya ditanya, barang dagangan apa yang paling besar pengaruhnya terhadap perubahan dunia, maka jawaban saya adalah rempah-rempah (terutama cengkeh dan pala) serta minyak bumi. Soal minyak bumi tak usahlah dibahas sekarang, lagipula sudah banyak yang menulis soal ini. Saya mau ndobos soal perdagangan rempah saja kali ini, dagang bumbu dapur yang merubah dunia, dagang bumbu dapur yang akibatnya masih bisa kita rasakan hingga kini, dagang bumbu dapur yang pernah menorehkan nama-nama tempat di negara yang sekarang bernama Indonesia ini di peta-peta dunia dengan tinta emas (dan darah) dan peta-peta itu dijaga sebagai harta suci negara, dagang bumbu dapur yang menyebabkan tanah yang sekarang bernama Indonesia ini menjadi rebutan dan dijajah selama ratusan tahun.
Jika dibuat analogi, kalau jaman sekarang ini siapa yang menguasai sumber-sumber minyak DAN jalur perdagangannya (tidak hanya salah satu, tetapi kedua-duanya) bisa menjadi superpower dunia, maka pada jaman itu menguasai sumber dan jalur perdagangan rempah-rempahlah padanannya. Memang banyak jenis rempah-rempah yang diperdagangkan kala itu, tetapi yang paling diincar adalah cengkeh dan pala. Kala itu kedua rempah tersebut HANYA ada di Maluku Utara dan Banda. Di bawah kedua rempah paling di cari itu terdapatlah nama-nama kayu manis serta merica/lada.
Sampeyan pernah dengar nama-nama berikut ini : Bartolomeu Dias, Vasco da Gama, Ferdinand Magellan, Christopher Colombus, Alfonso d'Albuquerque, Francis Drake, Cornelis de Houtman, Jacob van Neck, Richard Chancellor atau Hugh Willoughby? Nama-nama itu sekarang identik dengan gelar penjelajah besar, pahlawan, penemu ini itu, tetapi apa sampeyan tahu kalau gelar dan nama dalam sejarah itu semua berawal dari bumbu dapur? Lha, begini kisahnya ... eng ing eng ...
Sejak mbuh jaman kapan orang mulai tergila-gila pada rempah, tetapi catatan tertua soal ini adalah catatan bangsa Asiria dari Timur Tengah itu, yang bercerita kalau dewa-dewa mereka meminum anggur yang diberi rempah sebelum menciptakan bumi dan catatan itu berasal dari tahun 2300 sebelum Masehi. Untuk waktu yang cukup lama, kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara memang menjadi pusat perdagangan rempah-rempah dunia. Rempah-rempah yang diperdagangkan di kawasan ini kemudia di bawa ke Eropa oleh para pedagang Venesia dan Genoa. Hanya saja, para pedagang di Timur Tengah itu ndak pernah mau cerita dari mana asal barang dagangannya itu. Mereka hanya mau menceritakan kedahsyatan dan kengerian yang harus mereka lalui untuk mendapatkan rempah-rempah di sebuah tempat jauh di Timur.
Salah satu cerita yang dikisahkan tentang kayu manis misalnya bunyinya begini. Kayu manis itu sebenarnya dipakai oleh burung raksasa untuk membangun sarangnya di puncak-puncak tebing karang yang menjulang ke langit dan belum pernah ada orang yang berhasil memanjat untuk mengambil kayu manis itu. Lantas para pedagang menyembelih sapi dan meletakkannya di dasar tebing karang. Burung yang lapar lantas menyambar onggokan daging dan membawanya ke sarang. Daging itu begitu berat sehingga beberapa ranting dari kayu manis lantas patah dan jatuh ke dasar tebing untuk kemudian dipungut. Ndobosan model Arab begini tentu saja tak bisa menuntun para pedagang rempah Eropa untuk mengetahui asal-usul sebenarnya dari kayu manis.
Baru kemudian setelah Marco Polo pulang ke Eropa pada tahun 1298 dan ndobos soal perjalananya ke Timur, orang-orang Eropa mulai mendapat gambaran, darimana kira-kira rempah-rempah itu berasal. Marco Polo ndobos? (ini buat tulisan lain kali saja ya), tetapi dari ndobosnya Marco Polo itulah mulai timbul keinginan kuat di kalangan pedagang Eropa untuk langsung mendapatkan barang dagangannya ke sumber, ndak perlu lewat calo Arab, ndak perlu lagi harus lewat tawar-tawaran di Alexandria, Cairo, Tyre, Beirut, Damascus atau Acra. Hanya saja untuk mewujudkan keingginannya para pedagang Eropa mesti bersabar karena upaya untuk mencari jalan ke tempat rempah-rempah baru dimulai 120 tahun setelah kepulangan Marco Polo yang dipelopori oleh Pangeran Henry dari Portugis yang juga dikenal sebagai Pangeran Henry sang navigator.
Mereka berjuang untuk mencari rute ke tempat rempah-rempah dengan berlayar ke Selatan menyusuri pantai timur Afrika. Hasil dari perjuangan para penjelajah Portugis ini akhirnya membuahkan hasil dengan berhasilnya Bartolomeu Dias tiba di ujung paling selatan Benua Afrika, Dias tiba di Tanjung Harapan pada tahun 1488. Perjalanan Dias ini nantinya terbukti sebagai pembuka pintu gerbang bagi dimasukinya wilayah timur, tempat rempah-rempah.
Spanyol sebagai saingan Portugis juga tak mau kalah dan hal ini ditangkap oleh Cristopher Colombus sang pedagang dan penjelajah dari Genoa (sekarang merupakan bagian dari Itali). Melalui jalan berliku dan perundingan alot, akhirnya Colombus berhasil meyakinkan Ferdinand II dari Aragon dan Isabella I dan Castila yang memerintah Spanyol pada saat itu untuk membiayai ekspedisinya mencari jalur pelayaran ke tempat penghasil rempah-rempah yang saat itu dikenal dengan nama "Indies" (sebuah wilayah yang saat ini terbantang dari mulai Pakistan hingga Indonesia). Berangkatlah Colombus dengan tiga kapal Santa Maria, Nina dan Pinta pada tahun 1492, tidak ke arah Selatan seperti para pelaut Portugis, mereka berlayar menuju ke arah Barat. Colombus yang meyakini kebundaran dunia ini berpendapat, kalau dia terus berlayar ke arah Barat maka dia akan tiba di bagian Timur dari tanah Indies. Lagi pula, kalau dia ikut-ikutan jalur para pelaut Portugis, maka berkelahi adalah resikonya.
Ke mana Colombus tiba pada tahun 1493 sudah banyak diceritakan. Colombus "menemukan benua baru", Amerika. Tetapi pada saat itu, Colombus mengira dia telah menemukan sisi Timur dari Indies. Tempat yang sekarang bernama San Salvador dikira Colombus sebagai Jepang sementara Cuba dikira Cina, dan Colombus tidak berhasil mendapatkan rempah-renpah yang dicari seperti jahe, merica dan cengkeh. Akan tetapi Colombus masih yakin dia sudah menemukan jalan menuju Indies dan pada kunjungan-kunjungan berikutnya (Colombus menjelajahi daerah ini sampai empat kali) dia masih berusaha keras menemukan jalur pelayaran di bagian tengah Amerika yang diyakininya akan membawanya ke Samudera Hindia. Pencarian yang tidak pernah membuahkan hasil dan Colombus tak pernah menginjakan kakinya di Indies hingga Colombus "gantung layar" pada tahun 1504.
Jika Spanyol masih berkutat dengan "Indies"-nya itu, Portugis yang sudah berhasil menemukan gerbang menuju Indies (Cape of Good Hope -- Tanjung Harapan) di ujung paling selatan Afrika, terus merangsek untuk memasuki Indies . Adalah Vasco da Gama, pemuda berumur 28 tahun, yang memimpin ekspedisi untuk memasuki Indies dengan menggunakan empat kapal dengan kapal Sao Gabriel sebagai kapal bendera yang dipimpin Vasco da Gama. Awak kapal dari ekspedisi ini sebagian besar adalah narapidana. Ekspedisi ini berangkat dari Lisabon pada tanggal 18 Juli 1497 dan tiba di Tanjung Harapan pada bulan Desember, untuk selanjutnya memasuki perairan yang tak pernah dilayari oleh pelaut-pelaut Eropa sebelumnya, mereka berlayar memipiri pantai barat Afrika. Menipu dan membajak kapal-kapal kecil miliknya para pedagang Arab dilakoni oleh rombongan "pelaut gagah berani dan pahlawan Eropa" ini. Hingga akhirnya mereka tiba di Malindi (sekarang adalah bagian dari Kenya) dan untuk pertama kali mereka bertemu dengan para pedagang dari India. Mereka tahu mereka sudah dekat.
Di Malindi mereka lantas menyewa ahli peta dan navigator bangsa Arab untuk mengantarkan mereka menuju India. Berkat navigator Arab inilah, mereka tidak perlu menyusuri sisa pantai barat Afrika dan Semenanjung Arabia sebelum mencapai India. Dari Malindi mereka bisa langsung berlayar menuju India. Pada tanggal 20 Mei 1498, sepuluh tahun setelah gerbang menuju Indies ditemukan dan setahun setelah keberangkatannya dari Lisabon, ekspedisi Vasco da Gama menjadi rombongan orang Eropa pertama yang berhasil mencapai Indies melalui jalur laut, bukan melalui jalur sutra (lewat jalan darat) seperti yang banyak ditempuh.
Mereka tiba di pantai timur India, di Calicut (Kozhikode) yang sekarang adalah kota di negara bagian Kerala, India bagian selatan. Hanya saja, orang Eropa pertama yang menginjakan kakinya di Calicut bukan Vasco da Gama seperti yang banyak diceritakan di buku-buku sejarah. Orang pertama tersebut tidak pernah dicatat namanya, maklum dia itu narapidana yang sengaja disuruh (diumpankan tepatnya) untuk turun duluan. Jelaskan sekarang kenapa Vasco da Gama membawa narapidana untuk dijadikan awak kapal?
Sepulangnya ke Portugis, Vasco da Gama pada bulan September 1499 dia dihujani dengan berbagai hadiah dan kedudukan yang membuatnya kaya raya dan gelar kebangsawanan yang membuatnya terpandang. Hasil ekspedisinya terbukti mampu membuat Portugis sebagai negara terkaya dan terkuat di Eropa. Beberapa bulan kemudian, Portugis kembali mengirimkan sebuah ekspedisi ke Indies dengan 13 kapal yang dipimpin oleh Pedro Alvares Cabral. Badai menghadang mereka jauh sebelum mereka mencapai Tanjung Harapan dan membuat rombongan ini "nyasar", dan bukannya berlayar ke arah Tenggara, mereka malah melaju ke arah Barat Daya hingga pada bulan April 1500, Cabral mendarat di sebuah tempat yang dikiranya adalah sebuah pulau.
Merasa bahwa mereka masih berada di sisi timur garis batas yang dibuat dalam Perjanjian Tordesillas (ndobos soal ini lain kali saja), Cabral langsung memaklumatkan "Pulau" tersebut sebagai pulau milik Portugis dan menamainya Ilha de Vera Cruz. "Pulau" tersebut saat ini dikenal dengan nama Brazil! yang jelas-jelas bukan pulau. Hal ini menjelaskan kenapa dari semua negara di Amerika Latin, hanya Brazil yang berbahasa Portugis, sedangkan sisanya berbahasa Spanyol. Cabral akhirnya bisa mencapai Calicut dan mendirikan pos dagang di sana. Sementara itu pertentangan Portugis dengan para pedagang dari Timur Tengah mulai memanas.
Kembali ke Vasco da Gama, atau sekarang bernama Dom Vasco da Gama, kesuksesannya itu tidak membuatnya berhenti melaut atau gantung layar. Untuk memperkuat posisi Portugis sebagai penguasa jalur laut menuju tanah rempah-rempah, Dom Vasco da Gama berangkat lagi ke India pada tahun 1502, kali ini dengan 20 kapal perang untuk siap-siap bertempur jika para pedagang Timur Tengah tak suka dengan kehadiran Portugis. Sesampainya di Calicut dia mendapati pos dagang Portugis di sana sudah kosong, semua orang-orang yang berugas menjaganya telah dibunuh.
Marah ... Calicut digempur habis-habisan. Kapal dagang yang baru datang dari Mekah dicegat, dirampok, dan seluruh awak kapal dan penumpangnya yang berjumlah 300-an dikurung dalam kapal yang lantas dibakar, semua mati tak ada yang tersisa termasuk perempuan dan anak-anak. Peristiwa ini dikenal sebagai "Pembataian Calicut" dan Calicut dikuasai Portugis. Lha, itu kapal perang yang banyak itu juga dipakai untuk berperang dengan para pedagang dari Timur Tengah untuk merebut sumber-sumber rempah, pelabuhan dan jalur pelayaran. Pada sebuah kejadian di tahun 1505, kapal yang sedang berpatroli itu secara tidak sengaja merapat di Galle, Sri Lanka. Sri Lanka dikenal sebagai salah satu tempat penghasil kayu manis, dan sejak itu Sri Lanka ada di bawah genggaman Portugis.
Kembali ke Portugis Vasco dan Gama dianugrahi (lagi) berbagai hadiah dan gelar kebangsawanan. Sekali lagi Vasco da Gama dikirim ke India pada tahun 1524 untuk menjadi penguasa di sana. Kali ini dia kena batunya, tak lama setelah merapat di Goa, Vasco da Gama terserang malaria dan meninggal di Cochin pada malam Natal tahun 1524.
Jalur laut ke Indies sudah terbuka untuk orang-orang Eropa dan awal dari masa kegelapan Indies dimulai. Sejarah memang sangat menyukai paradox, masa-masa ini dikenal sebagai masa-masa puncak kegemilangan dari sebuah masa yang dalam sejarah dunia disebut sebagai Age of Discovery atau Age of Exploration yang membentang dari mulai abad ke-15 hingga abad ke-17. Masa-masa di mana kapal-kapal Eropa berkeliaran di semua lautan dunia untuk mencari jalan menuju tanah di mana rempah-rempat berasal dan kemudian menguasainya. Sebagai hasil sampingannya, era perbudakan dan human trafficking dari Afrika ke Amerika dimulai, pemusnahan etnis berbudaya tinggi seperti Inca dengan mesiu, alkohol, cacar dan sipilis dimulai. Bagi orang sinis seperti saya ini, Age of Exploration semestinya diberi catatan sebagai awal dari Age of Exploitation. Bagi teman adu ndobos saya, kesinisan saya sungguh tak berdasar karena toh ini semua juga sudah terjadi sebelumnya dalam sejarah Roma, Mongol, Cina, Arab. Betul ... akan tetapi tidak dalam skala global dan semua ini gara-gara bumbu dapur.
Bagian pertama selesai sampai di sini, pada bagian berikutnya bumbu dapur kembali menjadi pemicu berubahnya dunia. Apa sampeyan tahu bahwa pengeliling dunia pertama itu orang Sumatera? Baca saja ceritanya di lanjutan kisah ini.
Akhir pekan ini saya isi dengan membaca dan menulis, sama sekali tidak keluar rumah. Ini gara-gara ibu yang satu ini, ujug-ujug juga minta didongengi seperti Mas Yoyok, MpokB dan Mas Gandrik. Bukan karena saya ndak hafal ceritanya, saya membaca lagi supaya ndak ada hal-hal penting yang terlewat, maklum ibu itu minta saya ndobos soal sejarah je.
Sejarah ... inilah salah satu mata pelajaran yang saya suka sewaktu masih duduk di bangku sekolah menengah dulu. Saya akui kalau guru sejarah saya itu, Suster Bernadeth, cantiknya pol, tetapi saya lebih tertarik karena gaya tuturnya yang lebih seperti orang bercerita, ndongeng. Suster Bernadeth juga tidak pernah memaksa kami menghafal angka-angka tanggal bulan tahun. Suatu kali dia bertutur manis "buat saya, yang penting kalian memahami mengapa suatu hal itu terjadi dan apa akibatnya di masa sesudahnya". Buatnya, kapan perang Diponegoro itu mulai dan kapan selesai menjadi seperti pelengkap saja, tetapi kenapa Diponegoro memutuskan untuk berperang dan kenapa dia lantas memutuskan untuk mau berunding adalah hal yang penting.
Saya lantas sering terkagum-kagum dengan para saudara sepupu saya yang seumuran (mereka bersekolah di tempat yang ndak ada Suster Bernadeth-nya). Mereka hafal tanggal bulan tahun sebuah peristiwa atau kelahiran dan kematian tokoh. Tetapi mereka sama sekali tak pernah diberitahu soal masalah sengketa tanah dan harga diri yang menyebabkan Diponegoro memaklumatkan perang suci terhadap Belanda. Perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Jawa yang membuat bangkrut pemerintah kolonial Belanda.
Saya tak hendak menyalahkan para penganut jurus menghafal angka, saya hanya ingin menggugat jika jurus tersebut lantas dijadikan satu-satunya jurus untuk memahami apa yang sudah terjadi, memahami sejarah. Saya lantas bersedih ketika mengetahui bahwa jurus itulah yang umum diajarkan pada banyak sekolah di Indonesia, sementara para pejabat dan praktisi di dunia politik sibuk mbengok "kita harus belajar dari sejarah" ... belajar apa? belajar menghafal angka begitu? Lagi pula mengingat angka itu bukanlah pekerjaan gampang, bisa-bisa tertukar dengan nomor PIN ATM. Lantas jika ada kejadian tak mengenakan kita dikatakan sebagai bangsa pelupa, walaupun sebenarnya mungkin bukan lupa, tapi ya ndak pernah diberi tahu saja.
Agak lega juga saya ketika tahu anak saya lancar bercerita soal Perang Pasifik. Suatu malam, saya didongengi olehnya soal perang itu. Hari ini, ditengah baca-baca dan tulis-tulis, saya jadi kangen Suster Bernadeth.
Orang Jepang gemar makan mie, istilah generik untuk makanan yang dibuat dari tepung terigu dan lantas dibentuk panjang-panjang seperti tali atau benang itu .... ya mie. Macam-macam namanya di sini, ada Soba, Ramen, Udon, Somen, Yakisoba, dan mbuh apa lagi, pokoknya mie lah.
Walaupun saya bisa (dan suka) makan mie-mie begitu, tetapi berdasarkan standard Jepang saya belum lulus dalam soal makan mie yang baik dan benar, serta sopan. Untuk dapat disebut sebagai penyantap mie yang layak, makan mie-nya harus dengan cara disedot dan proses penyedotannya harus diiringi dengan bunyi slurrrppp begitu.
Lha sulit ini bagi saya. Sedari kecil saya diajari oleh orang tua untuk tidak mengeluarkan suara pada saat bersantap. Baik itu suara karena omongan, mulut berkecipak atau berbunyi slurrrppp itu tadi. Kalau itu dilanggar, tatapan bapak saya yang kurang bagus dan omelan ibu saya yang lebih deras dari hujan itu adalah imbalannya. Pokoknya ndak sopan katanya.
Lha kok ndilalah aturan makan mie di negara ini berkata lain, harus pakai slurrrppp begitu. Ya sudah, toh pepatah bilang "dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung" yang artinya junjunglah langit kalau tidak mau ketiban langit. Maka dengan semangat agar tidak ketiban langit, sayapun mulai belajar slurrrppp yang baik dan benar.
Sudah lama pelajaran ini saya lakoni, dan makan siang yang namanya menu mie itu jadi menu yang rajin dipilih. Gagal maning gagal maning, sulit sekali ini pelajaran, lha wong saya itu ya pada dasarnya anak yang sopan dan trauma slurrrppp kok. Tetapi dengan upaya yang keras dan bersungguh-sungguh, berita bahagia ini bisa saya bagi ke semua pembaca.
Siang tadi, sekitar pukul 12:45 waktu Tokyo dengan mie jenis soba saya berhasil menyelurup mie itu. Kekerasan bunyi dinyatakan lulus, kemulusan mie masuk ke dalam mulut pun saya lulus dan mangkok licin tandas diakhir acara bersantap. Sudah luluskah saya? .... lulus sih, tetapi dengan catatan.
Jika sedang ber-slurrrppp begitu, itu kuah mie tidak boleh blepetan kemana-mana. Saya itukan namanya juga baru bisa bunyi saja, jadi tadi siang itu bukan hanya baju bagian atas yang dibasahi kuah mie tetapi juga muka. Kali itu, sehabis makan saya tidak hanya cuci tangan, tetapi juga cuci muka.
Mungkin kalau dalam Bahasa Jawa, mie soba itu harus diterjemahkan sebagai Mie Raub. Sampeyan mau saya slurrrppp, nanti kalau sudah bisa raub.
Repot memang kalau berani mulai ndobos hal-hal yang menyangkut "kesukaan" atau "kegilaan" (tergantung dari kadarnya), bisa-bisa malah menuai protes, atau dalam kadar yang lebih ringan "ketidakpuasan" dari para pemirsa dobosan itu. Kemarin itu saya ndobos soal Star Trek yang dengan upaya sekeras saya mampu, saya potong di banyak bagian atas nama tenggang rasa, karena toh tidak semua orang yang berbaik hati nyambangi blog saya ini adalah penyuka Star Trek. Lha gara-gara motong itu Mas Yoyok sebagai penggemar Borg dan Blog kecewa. Maaf Mas, saya coba obati kekecewaan sampeyan itu dengan ndobos soal Borg kali ini, walaupun ini berarti harus menggeser jadwal terbit tulisan lain. Mudah-mudahan puas dan para pembaca yang bukan penggemar Star Trek bisa juga turut menikmati (at your own risk ya). Lha buat saya sendiri, "anda puas saya lemas" ... bagus buat ditulis di bak truk.
Borg, mahluk hidup setengah mesin (cybernetic organism) memang banyak penggemarnya, baik sebagai hiburan maupun untuk lantas dijadikan kultur sendiri. Menurut saya itu terjadi karena Borg di satu sisi begitu dekat dengan kehidupan kita tetapi di sisi lain agak-agak tersembunyi. Bagaimana sejarahya, dari mana mereka berasal, bagaimana akhirnya, bagaimana kehidupan mereka, pertanyaan-pertanyaan model infotainment yang baru saja difatwai itu memang sudah jamak. Baiklah, saya mulai saja ...
Borg adalah nama yang diberikan pada sebuah entitas (mahluk) yang terdiri dari entah berapa banyak "individu" yang disebut drone atau Borg Drone. Kata individu sengaja saya beri tanda kutip karena dalam kamusnya Borg individualisme itu tidak ada, yang ada hanya kelompok. Borg berasal dari Delta Quadrant dalam galaksi Bima Sakti, sama dengan galaksi tempat hidup kita ini. Bayangkan galaksi Bima Sakti ini seperti sebuah piring, lantas dibagi empat sama besar dengan titik tengah piring sebagai titik bagi, sehingga kita mendapatkan empat juring sama besar. Bagian kiri bawah adalah Alpha Quadrant di mana kita berada, lantas bergerak berlawanan dengan jarum jam, Beta Quadrant, Delta Quadrant dan yang ada di kiri atas adalah Gamma Quadrant. Kalau masih bingung bisa lihat peta di sebelah ini.
Borg memiliki rumah yang disebut Unimatrix yang sayangnya belum pernah di sensus ada berapa jumlahnya. Seingat saya nomer terbesar adalah Unimatrix 525 tempat asal drone Four of Twelve, yang muncul pada salah satu episode di Star Trek: Voyager. Soal nama drone yang aneh begitu, silahkan baca artikel sebelum ini. Borg hanya memiliki satu tujuan hidup, mendapatkan kesempurnaan. Borg dipimpin oleh seorang ratu dan seluruh Borg Drone ada di bawah kendali sang ratu ini. Seperti sudah saya katakan, sifat individu itu tak ada dalam Borg, semua kesadaran akan keberadaan diri sendiri dikumpulkan dalam hive mind yang pada akhirnya membentuk sebuah kesadaran bersama. Hive mind inilah yang membawa seluruh Borg untuk mencapai tujuan utamanya itu dengan sang ratu sebagai pucuk pimpinan tertinggi. Kepentingan pribadi, keinginan individu ditiadakan (termasuk keinginan pribadi sang ratu ... kalau ada) demi kepentingan bersama dan setiap drone lantas diberi tugas untuk mencapai kepentingan tersebut. Tidak ada toleransi di sini, kalau ada Borg yang mengalami kelainan, ya langsung diputus koneksinya ke hive mind dan biasanya lantas dienyahkan. He he he ... kok rasanya rada-rada akrab ya dengan situasi begini ya.
Sekarang asal-usul Borg. Lha ini, ndak jelas, lha wong waktu saya lahir itu Borg sudah ada duluan kok. Lagipula, tidak satupun serial dan film layar lebar Star Trek (seingat saya) yang menceritakan soal ini, walaupun ada beberapa indikasi. Guinan (diperankan oleh Whoopy Goldberg), sang bartender tua yang awet banget mukanya yang bertugas di Ten Forward (ruang leyeh-leyeh awak pesawat Enterprise) pernah berkata bahwa Borg sudah ada sejak bermilenia-milenia yang lalu. Tetapi lha wong namanya para penggila Star Trek itu beneran gendheng kok, lantas muncul beberapa versi cerita (yang tidak di filmkan) soal asal-usul tersebut di milis dan komik. Salah satu versi yang merupakan favoit saya adalah sebagai berikut; Pada suatu waktu ada seorang raja yang mempunyai seorang putri (lha kok mirip putri salju ya awalnya?). Sang putri menderita suatu penyakit yang merusak tubuhnya. Tidak sebagaimana umumnya cerita raja yang putrinya sakit dan lantas bikin sayembara, raja ini malah memanggil para ahli ilmu pengetahuan untuk mengobati putrinya. Para ahli lantas menggunakan teknologi tercanggih yang mereka miliki, nano technology (nanotech) dan lantas robot-robot berukuran sangat renik (berukuran nano) dilepaskan ke dalam tubuh sang putri. Hanya saja para robot itu tidak diprogram untuk hanya menyembuhkan sang putri, tetapi juga diprogram untuk membuat sang putri menjadi sempurna. Bagian-bagian tubuh sang putri lantas dihilangkan, diganti atau ditambahi, sang putri menjadi mahluk baru ... ratu Borg pertama lahir dengan satu tujuan, untuk menjadi mahluk sempurna!
Dalam Star Trek, Borg digambarkan dengan berbagai sifat, ada yang digambarkan sebagai bangsa yang cuek, ndak mau ngganggu bangsa lain kecuali kalau diprovokasi. Dalam cerita lain Borg digambarkan sebagai bangsa yang sangat agresif, menyerang walaupun tanpa di provokasi. Diprovokasi atau tidak, jika Borg menyerang maka hanya ada dua pilihan bagi yang diserang, terima mati atau mau diasimilasi paksa. Cara satu-satunya untuk selamat adalah menghancurkan seluruh drone, karena dalam kamus Borg kata menyerah itu tidak ada dan ini bukan hanya semboyan. Ada banyak bertebaran di film-film Star Trek kata-kata kengerian yang terlontar tentang Borg, ini ada beberapa yang bisa saya kutip :
"In their Collective state, the Borg are utterly without mercy, driven on by will alone, the will to conquer. They are beyond redemption, beyond reason" (Jean-Luc Picard).
"The Borg Collective is like a force of nature. You don't feel anger toward a storm on the horizon, you just avoid it" (Bangsa Arturius).
atau yang nyeleneh bikin saya senyum,
"The Borg is the party poopers of the galaxy" (The Doctor kepada Seven of Nine yang "bekas" Borg dalam serial Star Trek: Voyager).
Bagi banyak mahluk, mereka lebih memilih mati daripada diasimilasi oleh Borg. Ini bukan soal harga diri, karena menurut mereka diasimilasi oleh Borg itu lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri. Yang dimaksud dengan diasimilasi di sini adalah dijadikan drone oleh Borg drone. Cara borg mengasimilasi mahluk lain adalah dengan cara menyuntikkan nanobots (robot nano) ke tubuh mahluk hidup lain itu. Nanobots lantas bekerja merubah tubuh mahluk malang itu dari dalam. Pekerjaan selanjutnya, para drone mengiris, memotong, mencabut, mengganti dan menambahi bagian-bagian tubuh mahluk malang itu sehingga dia layak bergelar drone, bagian dari Borg. Langkah berikutnya adalah menamai drone baru itu sesuai dengan kedudukannya, fungsinya dan tempatnya bekerja ... Seven of Nine, Tertiary Adjunct of Unimatrix 01 ... suit suiiiiit, sekseeeh sungguh. Untuk setiap bangsa yang berhasil diasimilasi lantas diberi nomer. Jadi dalam Borg ada itu spesies 556 atau yang terkenal adalah spesies 125 yang lantas jadi ratu. Sebagai catatan, nomer urut mahasiswa saya dulu itu adalah 125 ... nomer cantik.
Senjata yang banyak digunakan dalam film Star Trek adalah phaser, pistol atau senapan sinar. Lha wong namanya sinar, kan gelombang elektromagnetik itu yang punya frekuensi. Dalam pelajaran fisika kan sudah diberitahu kalau yang namanya frekuensi itu bisa di saring. Borg sebenarnya tidak kebal senjata sinar itu, tapi kalau drone dibedil sinar begini, sebelum mati dia mengirimkan informasi pada frekuensi berapa senjata itu disetel. Informasi itu lantas menyebar ke semua drone lain yang ada di dekat tempat kejadian dan akibatnya semua drone di situ tau harus nyaring frekuensi berapa agar tidak modar atau semaput seperti bekas temannya yang di ssssssrt itu. Makanya cara efektif untuk melumpuhkan drone adalah dengan dikepruk, digebuki dengan catatan kalau kuat ... karena drone itu tenaganya luar biasa.
Pesawat Borg. Jangan membayangkan pesawat ruang angkasa Borg seperti pesawat ruang angkasa mahluk lain yang cantik dilihat dan aerodinamis. Bentuk aerodinamis adalah kesia-siaan di ruang angkasa yang hampa, hukum aerodinamika tidak berlaku, lha wong ndak ada udara atau cairan yang menghambat gerak pesawat kok. Bentuk pesawat ruang angkasa Borg adalah kubus pejal. Praktis, gampang nyucinya, ndak banyak tekukan kayak mobil mahal atau motor bebek itu. Kubus ini memiliki volume 28 kilometer kubik dan bisa mengangkut 200 ribu drones. Tidak seperti halnya pesawat ruang angkasa mahluk lain yang terbagi-bagi dengan jelas seperti ini ruang kemudi, ini ruang mesin, ini dapur, itu rumah sakit, ini wc, dst., pesawat Borg tidak begitu, semua bagian-bagian itu tersebar di seluruh pesawat dan oleh karenanya pesawat ini kadang tetap mampu bertempur walaupun sudah babak belur. Ini menjadikan pesawat Borg sebagai pesawat paling ditakuti. Dalam sebuah pertempuran besar di dekat bintang Wolf 359 yang ada di gugus bintang Leo, 1 pesawat Borg dikeroyok 40 pesawat federasi dan ketika pertempuran selesai dengan hancurnya pesawat Borg itu, hanya ada satu pesawat federasi yang tersisa ... Enterprise.
Ada banyak tokoh Borg yang lantas saya "akrabi", tetapi jika saya hanya boleh memilih satu untuk diceritakan, maka yang saya pilih adalah Locutus of Borg (walaupun ingin sekali memilih Seven of Nine yang aduhai itu). Ini tokoh istimewa sekali, karena sebelum diasimilasi dan dinamai Locutus (penamaan seperti ini juga merupakan keanehan dalam dunia Borg) tokoh ini aslinya adalah Jean-Luc Picard sang kapten Enterprise. Kisah lengkap Picard dari mulai tertangkap, menjadi Borg, hingga bisa lepas dan kembali "normal" bisa disaksikan di episode The Best of Both World I dan II yang merupakan episode yang paling saya sukai. Terasimilasinya Picard ke dalam Borg memberikan keuntungan besar bagi Borg. Picard yang paham ini itunya United Federation of Planets (UFP) itu menjadi sumber pengetahuan yang sangat berharga bagi Borg, belum lagi pengetahuan Picard akan taktik perang. Babak belurnya UFP dalam pertempuran di Wolf 359 sebagian disebabkan oleh pengetahuan yang "diberikan" oleh Picard kepada Borg. Walaupun pada akhirnya Picard bisa dilepaskan dan disembuhkan, sisa-sisa Locutus tetap melekat dalam diri Picard.
Pada tulisan kemarin soal Star Trek saya menyebutkan bahwa Borg untuk saya memiliki cara hidup seperti semut. Nah, mungkin sampeyan sudah bisa melihatnya kenapa, tapi kalau belum jelas kira-kira begini. Ratu Borg dan ratu semut itu punya kemiripan yang sangat dalam mengatur anak buahnya (drone). Seluruh anggota koloni semut memiliki tugas yang jelas, ada tukang kebun, ada tukang ngasuh anak, pengangkut, tentara dsb. Borg juga begitu, setiap individu Borg (drone) memiliki tugas yang yang jelas. Kalau Borg mengasimilasi mahluk hidup lain untuk dijadikan budak, semut juga begitu. Ada jenis semut yang memiliki budak belian. Lho ... ada ini, betul. Semut ini menculik telur dan larva semut lain, lantas itu larva dan telur hasil nyulik dipelihara (tak lupa dicekoki berbagai hormon) dan sesudah besar dijadikan budak. Bahkan ada semut dari marga Polyergus dari Amerika Selatan lebih edan lagi, semut yang baru jadi ratu semut menyerang ratu semut koloni semut dari jenis lain, membunuh ratunya dan seluruh koloni semut itu diperbudaknya untuk merawat anak-anak yang dihasilkannya.
Asimilasi paksa gaya Borg dengan menyuntikan nanobots ke tubuh mahluk hidup lain juga terjadi di dunia nyata yang kita tinggali ini walaupun tidak dengan cara menyuntikkan nanobots. Ndak percaya? mari kita lihat. Coba tengok kehidupan di banyak kota besar dunia yang katanya menjurus ke arah pendahuluan kepentingan individu itu ... wah ndobos itu, yang ada adalah ke arah mendahulukan kepentingan segelintir orang yang lantas dinamai "kepentingan bersama". Tengok saja orang-orang di Tokyo, penyeragaman itu tampak sangat mencolok, orang-orang diarahkan untuk menjadi budak "kepentingan bersama" itu. Perlawanan yang dilakukan sekumpulan orang dengan gaya Harajuku-nya dianggap sebagai penyempalan. Lihat pula para "salary man" itu, ber-jas gelap, celana gelap, berbaju putih dan berdasi gelap persis kayak Man in Black yang kehilangan cengdem (kacamata hitam) ... seragam. Maka tak heran kalau teman di kantor kemarin itu pada ternganga ketika saya ngantor pakai baju kaos saja, walaupun di kaosnya ada gambar pertunjukan tonil yang menurut saya bagus banget.
Para "salary man" ini juga tak berani pulang ke rumah sebelum atasannya beranjak dari meja kerjanya, dan para atasanpun seolah dibebani rasa malu jika pulang tepat waktu. Berani nyempal, maka para penyempal ini akan diberi cap antisosial dan dikucilkan. Bagi yang ndak kuat mengikuti aturan-aturan itu bisa tersisih dan lantas jadi gelandangan atau jadi peloncat yang ndak indah dari gedung bertingkat atau menabrakkan diri ke kereta api yang sedang melaju ... bunuh diri. Gejala begini memang terlihat jelas di Tokyo, tetapi tidak unik buat kota ini saja. Pada kadar yang lebih samar hal yang sama juga terjadi di London, Paris, New York, Singapura, Shanghai dan banyak kota besar lainnya, mungkin juga di Jakarta (haree genee kagak punya hp? antisosial lu).
Aturan main di dunia juga mulai diseragamkan di beberapa bidang. Coba tengok GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) yang ngurusi perdagangan barang dunia yang diributkan dengan sangat itu. Belum selesai masalahnya, GATT lantas berubah wujud menjadi WTO (World Trade Organization) yang tidak hanya ngurusi perdagangan barang, tetapi juga jasa. Ah ... kenapa ikutan WTO? ndak usah ndaftar saja ... lebih celaka lagi, bisa-bisa ndak ada rekanan dagang. Globalisasi memang menuntut penyeragaman dibanyak hal, yang namanya keunikan memang harus dibunuh.
Internet mencengkram dunia dan semakin lama semakin kuat cengkramannya. Saya bisa gelagapan kalau satu hari saja tidak terhubung dengan internet, lha gimana bisa majang artikel di blog? Dalam kejadian lain, memberi tahu teman sekantor yang berada di hadapan, kirim email, dan ini sudah terjadi, lha wong saya sering banget kok terima email dari rekan kantor yang duduknya persis di depan saya. Mana yang namanya omong-omong itu, seperti yang dilakukan Kang Mas Pecas dengan Paklik Isnogud. Komunikasi model begini harus dimatikan, karena mengganggu produktivitas kerja. Disuruh kerja kok malah ngobrol ... kalo chatting atau ngeblog ndak apa-apa, kan kelihatannya sibuk di depan layar monitor. Huh ... ndak pernah mau ngobrol, dasar individualis, antisosial ... begitukah? Lha nanti kalau ngobrol lantas dicap korupsi waktu kerja dan itu melanggar aturan, dicap sak maunya sendiri (individualis) dan antisosial.
Menurut saya kita kok sedang diasimilasi ya, di-Borg-kan begitu. Keragaman yang indah itu mulai dihilangkan, perbedaan harus ditiadakan, Nadine Chandrawanita harus ngomong engres. Berani nolak ... ingat lho kata Borg "Resistance is Futile". Akan tetapi Hugh, salah satu Borg nyempal bilang, "resistance is not futile" ...
Mungkin karena ini pula saya suka Star Trek yang ada Borg-nya ... karena Borg-nya selalu kalah.
Dari berbagai sumber dan semua gambar diambil dari sini dan sini.