Ndobos Pol

Blog ini adalah terbitan berkala .... kala sempat
ruang buat saya ndobos, omong kosong
mudah-mudahan tidak terlalu menyiksa pembacanya.



Mbilung
laki-laki
senang ndobos
bekerja dan tinggal di tokyo

© foto diri miliknya David Armstrong


Sebagian pen-ndobosanku sebenarnya juga bisa dilihat/dibaca di blog Pecas Ndahe yang sejatinya dimiliki oleh seorang sahabat yang dengan sangat baik hati, tulus dan sabar telah bersedia mendengarkan -- dan lantas juga menuliskannya -- apa-apa yang tercetus, terutama disaat hatiku sedang sangat kacau -- karena balon hijau ku meletus sehingga balonku tinggal empat yang lantas kupegang erat-erat.

   

<< September 2017 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Seperti minum jamu godogan agar seger pol, secara teratur saya juga berkunjung ke:

Indonesia Top Blog

rank blog indonesia

Subscribe in Bloglines





rss feed



Thursday, November 16, 2006
You Have 17 Minutes

Last night I heard the screaming
Loud voices behind the wall
Another sleepless night for me
It won't do no good to call
The police
Always come late
If they come at all

Mungkin ya seperti itu persisnya gambaran suasana malam ini, atau nyaris pagi tepatnya, yang membuat jengkel. Persis seperti lirik lagu Behind the Wall -nya Tracy Chapman di atas itu. Pukul 2:25 lewat tengah malam, alarm rumah tetangga menjerit-jerit secara semena-mena. Alarm kebakaran? alarm kalo ada yang masuk paksa? Ah ... tidak ada asap, tampak muka rumah juga baik-baik saja.

Lima menit kemudian itu alarm masih meraung-raung girang begitu. Biarlah, toh sebentar lagi petugas yang berwenang bakal tiba untuk mematikan alarm itu. Sepuluh menit berlalu, alarm itu masih menjerit-jerit nyelekit. Lima belas menit masih menjerit. Ini seisi rumah saya sudah pada bangun semua, sambil ndak jelas ngomong apa, menyumpahi mungkin. Aaaaah akhirnya ada suara nguing-nguing sirine mobil. Sejenak kemudian berhasil juga akhirnya alarm itu dibungkam.

Jika itu tadi alarm yang berbunyi karena ada yang secara paksa ingin masuk rumah, maling misalnya, maka dia punya waktu 17 menit untuk mematikan alarm atau lari sejauh mungkin, atau .... apa saja yang bisa diangkut oleh maling di Inggris dalam waktu 17 menit?

Last night I heard the screaming
Loud voices behind the wall
Another sleepless night for me

Posted at 12:28 pm by Sir Mbilung
Ada (2) yang ndobos juga  

Sengat yang Inspiratif

Saya menyukai Sting, walaupun tidak sampai saya jadikan pin-up seperti yang dilakukan oleh banyak teman perempuan saya. Ada banyak kawan yang mengetahui kesukaan saya ini. Sejak dia masih genjrengan rame-rame di The Police saya sudah suka mendengarkan suaranya yang khas itu. Sejak dia tidak lagi di kepolisian dan pindah ke solo (dibaca: tidak lagi berkarir di The Police dan bersolo karir), kesukaan saya akan musik dan lirik lagu yang dibawakan Sting bertambah.  Liriknya makin tajam.

Begitulah sore kemarin saya dihadiahi album Sting terbaru dan saya terlonjak-lonjak kaget mendengarkannya. Musiknya dibuat oleh John Dowland, pemusik yang hidup pada jaman dahulu kala (1563 - 1626) dan album tersebut menampilkan Sting bersama-sama dengan Edin Karamazov seorang pemain lute. Hasilnya adalah sesuatu yang berbeda dengan garapan Sting sebelumnya, sangat berbeda. Sting seolah masuk ke dalam dunia yang baru dan saya masih saja dibuatnya terkagum-kagum. Nyaris seharian kemarin, hanya lagu dari labirin (Songs from the Labyrinth), begitu judul album baru tersebut, yang menemani saya yang sedang pura-pura bekerja.

Album Songs from the Labyrinth dilepas ke pasar bulan Oktober lalu dan saya ndak tahu bagaimana penjualannya selama satu bulan ini, lagipula buat saya itu ndak penting. Buat saya album ini sangat inspiratif, terutama dalam hal explorasi hal-hal baru. Saya ndak ngerti apa yang berkecamuk (lha kok kayak perang) di dalam kepala Sting ketika dia memutuskan untuk menggarap albumnya itu. Saya mengagumi hasil akhirnya. Saya ndak tahu apakah lagu ini nyaman untuk juga didengarkan oleh seorang kawan yang saat ini sedang jatuh cinta (haaaaii), tetapi buat saya yang sedang "di persimpangan jalan" album ini sangat inspiratif.


Posted at 07:06 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Wednesday, November 15, 2006
Twitcher

Hari ini di kantor ada beberapa orang yang harus saya temui, dan semuanya ndak ada. Salah saya juga, kenapa ndak pakai janjian dulu. Tetapi ada apa gerangan kok tiba-tiba banyak yang menghilang? Sedang cuti ternyata .... tapi kok ya barengan semua begitu? Selidik punya selidik ternyata itu orang-orang sedang ngejar burung dan ngejarnya ke tempat yang lumayan jauh dari Cambridge, mereka ke Dawlish di Devon sana .... kira-kira empat setengah jam ngebut dengan mobil dan mereka berangkat jam setengah empat pagi (harap dicatat, sekarang sudah musim gugur dan matahari ndak keluar hingga jam 7 pagi).

Lantas burung apa itu yang mau dilihat sampai membuat mereka tega mengorbankan cutinya? Ternyata sederek sedoyo, itu bukan burung langka, akan tetapi, inilah kali pertama burung ini terlihat di Eropa. Long-billed Murrelet (Brachyramphus perdix), begitu nama burung ini, adalah burung laut yang tempat tinggal normalnya adalah di Laut Pasifik Utara, mulai dari perairan Jepang hingga ke Laut Okhotsk di dekat Semenanjung Kamchatka. Kadang-kadang burung ini bisa saja nyasar ke Amerika Utara. Tapi kalau sampai nongol di Eropa begini, wajar saja jadi berita besar, lha wong nyasarnya ribuan mil begini. Lantas kegilaan yang masih sulit saya pahami inipun terjadi.

Bayangkan seekor burung yang ndak besar-besar amat, mengapung di laut, sementara ribuan orang dengan teropong mengarahkan pandangannya ke titik yang sama ... ke burung itu. Ribuan? ya ... ribuan, begitu berita dari BBC yang saya dapat. Kegilaan ini tampaknya masih akan terus berlanjut, karena yang minta ijin buat cuti masih ngantri.

Seharusnya saya ndak perlu terkaget-kaget dengan kegilaan ini. Para pengintai burung di Inggris memang dikenal gilanya. Bahkan ada sebutan sendiri bagi kelompok gila liat burung ini, twitcher. Kelompok ini betul-betul sinting, ekstrim malah. Di mana saja ada burung yang "langka" langsung dikejar. Jika birdwatcher biasa berbekal hanya teropong dan buku panduan pengenalan burung, kelompok ini masih ditambah dengan beeper (pager), hp dan kadang laptop yang terhubung dengan pusat pencatat burung langka. Pusat pencatat ini tidak memberikan akses cuma-cuma, harus berlangganan, bayar. Tidak jarang kendaraan para twitcher juga dilengkapi dengan peta berpemandu GPS (Global Positioning System) agar para twitcher bisa memilih jalan tersingkat menuju lokasi.

Sering ada cerita bagaimana burung nyasar pada suatu ketika memilih menclok di kebun seseorang. Maka...habislah kebunnya itu diserbu para twitcher. Atau bagaimana jalan yang mestinya bebas hambatan jadi macet karena ada burung langka menclok di pinggir jalan itu. Jadilah jalan bebas hambatan itu seperti lapangan parkir.

Pernah pada suatu ketika yang sudah agak lama, pintu kamar saya digedor dengan dahsyatnya di pagi buta. Lha saya yang masih kriyep-kriyep karena nyawanya belum ngumpul semua, nurut saja ketika diseret ikut untuk melihat burung yang katanya langka itu. Setelah bermobil dengan kecepatan tinggi selama dua jam lebih, tibalah kami di pinggiran pantai Norfolk yang berangin kecang dan bersuhu rendah. Tangan ini sudah susah memegang teropong karena gemetar kedinginan, sementara ada entah berapa ratus orang pagi itu yang sibuk nginceng semak belukar tempat burung itu bersembunyi. Lha kok ternyata burungnya "hanya" Siberian Thrush (Zoothera sibirica) yang pada saat-saat ini banyak dijumpai di Indonesia. Burung ini adalah burung migran yang berasal dari Siberia. Tentu saja saya misuh-misuh. Lha kalo yang begini saja banyak di Indonesia.

Indonesia dikaruniai kekayaan burung yang luar biasa, paling banyak jumlahnya se-Asia, di dunia nomer empat. Hanya saja yang namanya wisata pengamatan burung di Indonesia masih boleh dibilang sangat tertinggal dibandingkan dengan Thailand atau Malaysia. Wisatawan jenis ini sebenarnya adalah pasar yang sangat potensial. Dalam satu kali bepergian, ribuan dolar dihabiskan oleh seiap orang wisatawan, mereka hanya ingin melihat saja, ndak nangkep apalagi mau dimakan. Tambahan lagi, Indonesia memiliki ratusan jenis burung yang tidak terdapat di tempat lain di dunia, hanya ada di Indonesia, dan dalam soal burung unik ini, Indonesia ada di peringkat pertama di dunia.

Foto oleh Graham Catley dan diambil dari sini.


Posted at 04:48 am by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Tuesday, November 14, 2006
Diplomasi Warung

Namanya juga menebak-nebak, isinya ya amat sangat jarang yang seluruhnya benar, bisa bangkrut badar lotere kalau benar terus nebaknya. Hanya saja, orang kok ya senangnya main tebak-tebakan, mengira-ngira, dan bisa jadi runyam urusannya kalau mengira-ngiranya itu soal cara hidup dan cara pandang. Kenyataan yang ada sekarang, apa-apa yang kita terima sering kali hanya sepotong-sepotong dan bahayanya lagi, informasi tidak lengkap begitu bisa jadi sumber salah pengertian. Lha ... ini soal apa toh? tidak ada yang serius sebenarnya, ini saya hanya mau ndongeng soal berbual-bual di pub desa kemarin itu.

Kalau sampeyan ditanya soal Skotlandia, yang keluar sebagai jawaban apa? Beberapa teman saya, dan juga dari komentar-komentar kota mbengok di blog ini, Skotlandia identik dengan kilt, bagpipes, whisky dan highlander. Sedikit variasi, ada yang menambahkan haggis, curly-walking-stick, kylies dan highland fling. Lantas, apa yang diketahui oleh para penduduk Desa Corsock di Skotlandia soal Indonesia? Nol .... sedikit tentang Asia dan mereka lantas menebak-nebak dengan liar. Tengok saja komentar mereka pada saat saya mengatakan Indonesia itu ada di Asia ... "yer eyes are bigger than Asian in the tellies" (matamu lebih besar dari orang Asia yang kami lihat di televisi), dan soal warna kulit "aye ... yer complexion is much darker" (warna kulitmu lebih gelap) begitu komentar mereka soal warna kulit saya tidak kuning tetapi coklat memikat.

Diplomasi kelas warung harus dilakukan, dan dalam hal berdiplomasi akan sangat baik jika dimulai dengan kesamaan, begitu pikir saya yang bukan diplomat ini. Jika mulai dari perbedaan, bisa-bisa malah kerusuhan yang didapat. Maka, di tengah kerumunan pengunjung pub, diplomasi dilakukan. Mereka berteman whisky, saya berteman susu hangat .... sama-sama minuman. Beginilah jadinya:

Kilt. Kain bermotif tartan -kotak-kotak- yang dipakai sebagai pakaian bagian bawah laki-laki Skotlandia (pinggang hingga lutut), seperti rok. Katanya, motif pada kilt juga dapat menunjukan dari clan (marga) mana mereka berasal, walaupun hal ini juga tak spenuhnya benar. Kilt sebenarnya tidak hanya dipakai oleh orang Skotlandia, tapi juga oleh orang dari Irlandia dan dari Wales, hanya saja Skotlandia lebih terkenal sebagai tempat pengguna kilt. Pakai apa laki-laki itu di balik kiltnya? Dahulu ya ndak pakai apa-apa, dibiarkan saja gondal-gandul itu "penghuni" kilt, walaupun beberapa ada yang menggunakan loin cloth sederhana. Pernah nonton film Braveheart? Di situ ada adegan di mana para pejuang Skotlandia pimpinan William Wallace memamerkan pantatnya kepada tentara Inggris. Lantas kalau orang Skotlandia punya kilt, Indonesia? Lha itu ... sarung yang motifnya juga banyak yang kotak-kotak walaupun kalau soal gondal-gandul, saya ndak komentar apa-apa.

Bagpipes. Ini alat musik orang Skotlandia walaupun sama halnya dengan kilt alat musik seperti bagpipes ada di banyak negara di dunia. Entah siapa yang pertamakali menancapkan suling di buntelan kantung udara begitu, yang jelas saat ini bagpipes identik dengan Skotlandia. Alat musik ini terdiri dari tiga bagian utama, kantung (Bag) itu sendiri yang aslinya terbuat dari kulit hewan yang dijahit membentuk kantung kedap udara. Pemusik meniupkan udara ke dalam kantung melalui blowstick atau blowpipe dan udara dikeluarkan lagi dengan menekan kantung ... jepitan kelek. Udara ini dialirkan ke Chanter atau melody pipe yang seperti suling, dari sinilah nada-nada musiknya keluar dan udara juga dialirkan ke drone yang berbentuk pipa dan hanya menghasilkan nada monoton saja. Pada bagpipes Skotlandia, ada 3 drones yang terdiri dari satu drone bass dan dua drones tenor. Kantong dikempit, lantas tiup-tiup dan tekan-tekan. Agak gelagapan saya mencari padanan bagpipes di Indonesia .... asal njeplak saja saya bilang... suling!!! Walaupun tak ada jurus kempit-kempit pada saat suling dimainkan, tapi prinsipnya toh sama, ditiup. Eh...ada ding suling dikempit di Indonesia, itu lho kalau ada pertunjukan orkes dangdut, penyulingnya suka ngempit suling di kelek juga pada saat suling sedang tidak dimainkan dan penyulingnya asik ikut bergoyang.   

Whisky. Apa ya mesti diterangkan juga ini barangnya seperti apa? Hanya saja untuk Skotlandia mereka menamainya Scotch Wisky, atau disingkat scotch, untuk membedakan dengan whisky lainnya barangkali. Bahan dasarnya bisa barley, jagung atau gandum, walaupun yang katanya enak itu whisky yang berbahan baku barley .... soal selera saja ini. Orang Skotlandia terkenal sebagai penenggak ulung. Hidup di tempat yang buat saya sedingin kulkas, tubuh mereka tampaknya perlu dihangatkan dengan bantuan scotch. Hanya saja sering pada bablas, keterusan ... maunya hangat dapatnya mendem. Naaah, soal minuman berakohol begini saya lantas bercerita lancar soal ciu, sopi, tuak, arak, cap tikus, anggur kolesom dan beberapa pengantar mendem lainnya.

Haggis. Lha, ini makanan khas Skotlandia. Haggis itu cacahan jeroan (hati, jantung dan paru) kambing yang dicampur bawang, oatmeal (bahan dasar bubur havermut) dan rempah-rempah mbuh apa dan lantas dijejalkan ke usus kambing. Cara masaknya direbus begitu saja. Penampakan luarnya mirip sosis hanya lebih gemuk. Karena jeroan di banyak negara Eropa dianggap sebagai buangan, maka haggis sering dijadikan sebagai bahan olok-olok sebagai makanan orang-orang liar. Lha...saya menghibur "orang-orang liar" tadi dengan bercerita soal makanan berbahan baku jeroan yang banyak terdapat di Indonesia. Tidak hanya itu, "orang-orang liar" tadi ternganga juga pada saat saya bercerita tentang lezatnya gulai otak.

Reeling. Ini nama lain dari tari-tarian tradisional Skotlandia atau Scottish Country Dancing. Tariannya diiringi musik riang gembira, dilakukan secara keroyokan dan menekankan pada kelincahan langkah kaki. Waah kalo soal nari beramai-ramai gitu ya banyak juga di Indonesia dan tentu saja jaipong, tayub, poco-poco, seudati dan saman tak terlewatkan. Tentu saja saya tak bercerita tentang tari bedoyo yang lamban.

Glen dan Loch. Lembah dan danau, bangga sekali orang-orang Skotlandia dengan ini. Mungkin karena mereka ndak punya gunung yang tinggi dan yang bisa memuntahkan lahar serta wedhus gembel, maka cerita mereka soal glen dan loch adalah soal betapa indahnya tempat-tempat itu di musim panas. Saya lantas bercerita tentang gunung-gunung api, keindahan dan kengerian yang bisa ditimbulkannya. Saya juga bercerita tentang Karakatau dan Tambora yang letusannya pada tahun 1815 menyebabkan Eropa kehilangan musim panasnya pada tahun 1816.

Highlander. Mereka terkekeh dahsyat pada saat saya menyinggung topik tentang highlander seperti yang ditayangkan di televisi, cerita tentang orang-orang abadi sampai kepalanya terpenggal dan pemenggalnya lantas disambar geledek, cerita tentang Connor dan Duncan MacLeod. Saya dikatai kebanyakan nonton film Amerika. Lha saya ya juga tahu kalau itu juga cuma cerita dan lantas saya bercerita soal santet. Ndak tau juga apa hasilnya kalau MacLeod itu disantet.



Begitulah cerita dari dua entitas yang berbeda yang dipisahkan oleh jarak yang jauh, meski begitu toh masih banyak kesamaan yang bisa ditemukan. Pada akhirnya salah satu dari mereka berkata "yer have an excellent country lad, and I drink for that" .... ting .... gelas wishky bertemu gelas susu, dan orang-orang di pub bersulang untuk Indonesia, negeri yang belum pernah mereka lihat.

Skotlandia, negeri yang dingin tetapi hangat, dengan orang-orang yang ramah. Pada saat saya pulang meninggalkan negeri ini, ada sebuah poster besar di bandara Prestwick, Glasgow yang berbunyi : "Scotland. The best small country in the world", dengan kata "small" ditulis kecil dan diwarnai hingga agak tersamar. Untuk Indonesia, kata "small" bisa dihilangkan .... Indonesia. The best country in the world". 


Posted at 03:45 am by Sir Mbilung
Ada (4) yang ndobos juga  

Monday, November 13, 2006
Negeri Dingin yang Hangat

Saya bukan penari atau pedansa, badan saya tidak lentur bahkan cenderung kaku seperti gagang sapu. Tapi kali ini saya memberanikan diri untuk menari bersama-sama dengan penduduk desa yang ramahnya ndak ketulungan ini, saya menari Ceilidth (dibaca: keili), sebuah tarian rakyat yang dilakukan beramai-ramai dengan iringan musik yang riang gembira. Ya...saya ada di sebuah desa kecil di Skotlandia, sebuah desa bernama Corsock (hebat kalau bisa nemu di peta) yang terletak tak jauh dari sebuah kota bernama Castle Douglas (yang ndak ada castle-nya). Bagaimana pasalnya saya bisa terdampar di tempat tak tersohor ini? Begini kisahnya.

Akhir minggu, Cambridge diramalkan akan bercuaca mendung, berangin dan mungkin hujan. Seorang teman baik yang berumah di Skotlandia menelpon saya dan mengatakan menurut ramalan cuaca pada akhir pekan itu cuaca di tempatnya akan cerah. Saya memang sudah berkeinginan untuk dolan ke Skotlandia kali ini, hanya saja saya tidak ingin ke Edinburg atau tempat-tempat tujuan turis lainnya di highland sana. Lha kok teman yang mengundang ini kebetulan rumahnya bukan di tempat-tempat seperti itu. Dia tinggal di desa kecil bernama Corsock itu, sekitar 2 jam-an dari Glasgow yang merupakan kota terbesar di Skotlandia.

Begitulah, pada Sabtu siang yang sangat cerah saya berangkat ke Skotlandia dari Stanstead dan tiba di bandar udara Prestwick di Glasgow disambut dengan tipuan angin kencang, hujan rintik-rintik dan mendung tebal .... halaaaaah, ramalan cuaca kok ya hasilnya terbalik begini. Teman saya itu menyambut saya sambil berjingkrak-jingkrak riang persis seperti sedang bertemu dengan aktor pujaannya dan sambil nyerocos dia mengabarkan kalau nanti kami harus mengambil jalan memutar karena ada pohon yang tumbang ditiup angin kencang dan menutup jalan ke rumahnya (halaaaaah cuaca cerah mbelgedes). Pemandangan bukit-bukit hijau yang ditanami cemara dan diselingi warna-warna musim gugur yang kemerahan dari daun-daun pohon berdaun lebar, danau-danau kecil dan beberapa bekas puri dari abad pertengahan yang terserak di sana-sini membuat pemandangan di sepanjang jalan seperti di kartu pos wisata.

Di sepanjang jalan, teman satu ini sibuk nyerocos soal ini itu yang ada di sepanjang jalan dan akhirnya dia mengatakan kalau nanti malam di balai desa akan ada Ceilidth. Sudah lama saya mendengar tentang Ceilidth, hanya saja saya belum pernah menyaksikannya apa lagi berpartisipasi di acara itu dan saya mengangguk saja pada waktu dia mengajak saya untuk ikut. Acaranya sendiri baru mulai jam 8 malam, sehingga kami masih sempat menghangatkan diri dulu sambil bertukar cerita di depan perapian.

Masih ada waktu, sehingga kami memutuskan untuk berjalan dahulu ke pub (tempat minum-minum) desa yang ternyata dipenuhi banyak orang. Jim sang pemilik pub, yang diberinya nama Pringles, terheran-heran pada saat saya mengatakan kalau saya tidak minum alkohol, dan sembari terkekeh-kekeh dia menyiapkan minuman gratis untuk saya yang katanya berasal dari desa ini, segelas susu. Tidak seorangpun yang bercakap-cakap dengan saya di pub itu yang tahu di mana Indonesia (ndak heran), dan sebagian besar dari mereka juga belum pernah melihat orang Asia secara langsung sebelumnya dan sayapun jadi pusat perhatian dan pertanyaan (jarang-jarang ada kejadian begini).

Waktu Ceilidth telah tiba, sebagain besar orang di pub pindah ke balai desa yang juga sudah dipenuhi orang. Para pemusik sudah bersiap di panggung sederhana ini, the Corsock Ceilidth Band, begitu mereka menamakan dirinya. Acara dibuka dengan ucapan selamat datang dari seorang yang juga bertugas untuk memandu Ceilidth karena tak semua orang di balai desa ternyata yang bisa menari Ceilidth. Musik digenjreng ramai, berirama riang, dan tarianpun dimulai. Kaki dihentak-hentak, melangkah riang, berpegangan tangan, berputar-putar, bertepuk tangan, ada senyum dan tawa di mana-mana, sumringah pol.

Orang-orang seperti saya yang ndak ngerti blas apa yang harus dilakukan dan ke mana harus melangkah, membuat keteraturan menjadi kekacauan yang menyenangkan. Orang saling bertabrakan, terjatuh, salah arah melangkah dan sebangsanya. Tak sebagaimana joget dangdut di kampung, tak ada istilah senggol dikit golok, yang ada hanya senggol dikit tertawa. Begitulah Ceilidth yang berlangsung hingga lewat tengah malam yang nyaris tak ada putusnya.

Pada bagian akhir, semua orang yang ada di balai desa berdiri melingkar sambil berpegangan tangan dan bernyanyi Auld Lang Syne ... Sebuah tarian rakyat yang amat sangat menyenangkan .... dan megundang keringat. Skotlandia, negeri yang dingin tetapi hangat. Orang Skotlandia memang gila, tetapi Pak dokter satu ini lebih gila lagi, dia merubah nama saya menjadi Sir Mbilung MacNdobos.


Posted at 10:07 pm by Sir Mbilung
Ada (6) yang ndobos juga  

Sunday, November 12, 2006
Terbang Murah

Ada beberapa  nama yang diberikan padanya, penerbangan murah, low cost airline, budget airline atau no frill airline. Inilah jasa transportasi udara yang menawarkan harga tiket yang "terjangkau" oleh semua kalangan. Murah, meriah, nyaman, cepat dan selamat, itu maunya. Tengok saja, harga yang diiklankan di media, lebih murah dari angkutan darat dan laut dan dengan waktu tempuh yang jauh lebih singkat, tak heran jika pada suatu masa nanti jasa teransportasi ini bisa-bisa memukul jasa transportasi darat jarak menengah dan jauh.

Jasa penerbangan murah saat ini tumbuh di mana-mana, subur sekali malah. Beberapa tak bertahan lama, tumbang, tetapi yang bertahan menjadi sangat kuat dan membuat perusahaan penerbangan dengan harga "tradisional" ketar-ketir, walaupun hal ini tak pernah diakui oleh mereka secara terang-terangan, dan secara "sembunyi-sembunyi" tapi kelihatan mereka lantas ikut-ikutan mendirikan perusahaan penerbangan berharga tiket murah juga.

Kenapa juga harus bayar mahal kalu bisa murah toh cepatnya sama, begitu beberapa teman yang rajin terbang-terbang itu "membela diri" tanpa diserang pada saat ditanya mau pergi dengan apa dia. Jasa angkutan udara ini bisa ditawarkan murah karena beberapa sebab. Mereka menggunakan pesawat dengan biaya operasi yang relatif rendah (kalau perlu hanya menggunakan satu tipe pesawat saja), menggunakan bandara dengan onkos parkir murah, pesawat digunakan seefisien mungkin, penumpang dijejalkan sebanyak mungkin, ini-itu yang ndak penting selama penerbangan dienyahkan, cara pemesanan tiket dibuat seirit mungkin (kalau perlu tanpa harus melibatkan manusia).

Di Indonesia ada beberapa perusahaan penerbangan yang memaklumatkan diri sebagai penerbangan berharga murah, walaupun dalam beberapa hal masih tanggung-tanggung dalam prakteknya. Infrastruktur transportasi udara, seperti bandara, yang belum begitu banyak di Indonesia menyebabkan perusahaan-perusahaan tersebut tidak punya pilihan lain selain menggunakan bandara yang juga digunakan oleh perusahaan penerbangan biasa. Selain itu, pemilihan jenis pesawat bukan didasarkan pada keiritan biaya operasi tetapi lebih kepada kemurahan harga sewa dan "kepintarannya" dalam penggunaan suku cadang (ingat kasus ban pesawat yang divulkanisir?). Tak heran jika penerbangan murah di Indonesia lantas menggunakan pesawat-pesawat "kuno" dan bukannya pesawat modern yang efisien serta tidak rakus bahan bakar. Akibatnya, keselamatan yang dipertaruhkan.

Lha ada urusan apa saya ndobos soal penerbangan murah? Karena akhir pekan kemarin (dan hingga hari ini) saya "ngabur" dari Cambridge ke Skotlandia dengan menggunakan penerbangan murah. Pemesanan tiket saya lakukan secara online beberapa hari sebelum keberangkatan (jika saya memesan lebih jauh lagi harinya, harganya bisa lebih murah lagi) dan saya memilih waktu berangkat dan pulang yang ndak populer (berangkat Sabtu siang dan pulang Senin sore). Tiket yang saya dapat pada akhirnya berharga jauh lebih murah dibanding dengan jika saya membeli tiket kereta api atau bus, sementara waktu tempuh jauh lebih singkat.

Perusahaan penerbangan yang saya pilih itu, RyanAir, menggunakan pesawat 737-800 yang merupakan generasi terbaru dari seri 737 (seri 900 masih belum terbang, dan pengguna pertama dari seri 900 nantinya adalah perusahaan dari Indonesia, Lion Air). Kursi dalam pesawat dibuat berkonfigurasi 3-3 (tiga di kiri dan tiga di kanan) bukan 2-2 atau 3-2 seperti biasanya, lebih banyak penumpang yang bisa diangkut dalam satu kali penerbangan. Tidak ada makanan atau minuman yang disajikan selama penerbangan, kalau mau makan dan minum ya harus beli. Barang bawaan yang bisa dibawa ke dalam kabin pesawat dibatasi hanya satu dengan besar dan berat yang sudah ditentukan, dan benar-benar diterapkan aturan ini. Barang bawaan yang tidak bisa dibawa ke dalam kabin harus dimasukkan ke bagasi pesawat dan harus bayar.

Tidak sebagaimana layaknya, kartu petunjuk cara-cara penyelamatan diri tidak dicetak di kertas yang lantas dilaminating dan diletakkan di kantung kursi pesawat. Kartu itu dibuat menjadi gambar tempel yang melekat di belakang meja kecil kursi yang pada saat lepas landas dan mendarat ada dalam keadaan terlipat sehingga petunjuk itu mau tidak mau terpampang jelas di muka penumpang. Murah dan penumpang pasti melihatnya. Tidak ada majalah (kalau mau bisa pinjam), tidak ada musik, tidak ada televisinya dan bahkan tidak ada kantung muntah.

Lama parkir pesawat juga dibuat sesingkat mungkin. Pesawat yang saya tumpangi dari mulai merapat ke gerbang hingga push-back (didorong untuk berangkat) memakan waktu hanya 25 menit. Selama masa itu yang berlangsung adalah, menurunkan penumpang, membongkar dan memasukan muatan barang, mengisi bahan bakar, pemeriksaan rutin dan menaikan penumpang. Hal lain yang sangat masuk akal yang dilakukan dalam hal menurunkan dan menaikan penumpang adalah digunakannya dua pintu pesawat, di depan dan di belakang, sehingga proses ini bisa berlangsung cepat. Karena penumpang hanya boleh membawa satu barang bawaan ke kabin pesawat, nyaris tidak ada kejadian antrian penumpang yang macet pada saat memasuki pesawat. Kemacetan bisanya terjadi jika barang bawaan penumpang itu banyak jumlahnya dan ini memakan waktu pada saat barang hendak dimasukan ke dalam rak penyimpanan barang di kabin.

Begitulah penerbangan tanpa banyak cengkunek, murah, cepat, aman dan nyaman yang menerbangkan saya dari sebuah bandara tak terkenal (Stansted) ke Skotlandia. Cerita soal jalan-jalan di Skotlandianya menyusul.


Posted at 07:36 pm by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Saturday, November 11, 2006
Bapak Macam Apa??!!

Saya memegangnya pertama kali pada saat dia mrucut keluar dari Ibunya, memotong tali pusarnya, memegang kedua kakinya dan menepuk punggungnya agar dia menangis, memperlihatkannya pada Ibunya dan lantas mengazaninya. Begitulah yang terjadi pada suatu pagi 14 tahun yang lalu. Dia anak kami yang pertama dan sekaligus cucu pertama bagi kedua orang tua saya, semua menyambut kelahirannya dengan bahagia.

Kami memanggilnya Mas, sementara adiknya memanggilnya Ndut. Dia adalah anak yang menyenangkan, rajin bertanya tentang ini dan itu, malah terkadang terlalu rajin. Pada masa kecilnya dia selalu berkata "apa ... apa ... apa" sambil jarinya sibuk menunjuk-nunjuk objek yang mengundang rasa ingin tahunya. Sedikit agak besar, pertanyaannya berganti dengan "kenapa ... kenapa ... kenapa". Mungkin rasa ingin tahunya yang kelewat besar jugalah yang menjadikannya seorang "pembaca ulung". Beri dia buku dan dunia di sekitarnya seperti lenyap.

Masih jelas saya ingat betapa di masa kecilnya dia begitu senang dengan kendaraan umum, entah itu angkot atau metromini. Bisa betah berlama-lama dia dibelakang kemudi mobil yang tak bergerak sambil berkhayal dia sedang mengemudikannya. Agar khayalannya terasa lebih nyata, suatu kali dia menuliskan "Kampung Melayu - Pasar Minggu" di badan mobil ... dengan batu! atau di kala lain dia menempelkan kertas-kertas bertuliskan nomor dan rute angkot di kaca-kaca mobil, dan dia dengan girangnya bermain di belakang kemudi sambil sesekali berteriak-teriak menyebutkan jurusan yang ditempuhnya untuk memanggil penumpang.

Kegemarannya dengan kendaraan umum lantas hilang begitu saja, dan sekarang dia tergila-gila dengan sepak bola. Sering dia bercerita dengan bersemangat tentang kesebelasan idolanya atau tentang para pemain-pemain sepak bola. Jika ada beberapa halaman dari koran pagi yang diantar ke rumah hilang,  saya tahu persis harus bertanya kepada siapa karena yang hilang selalu halaman olah raga.

Mas juga senang makan, sangat senang. Pada saat dia masih membawa bekal makanan ringan ke sekolah bisa saja pesanan makanan ringan yang akan dibawanya ke sekolah itu mengejutkan Ibunya. "Mau bawa apa untuk snack Mas?" ... "Nasi goreng aja bu!". Tidak heran juga kalau badannya lantas tumbuh dengan pesat, vertikal dan horizontal. Sekarang ini, saya sudah bisa bertukar baju dan celana dengan dia. Tetapi tidak untuk sepatu, ukuran sepatunya jauh lebih besar dari saya. Budhenya pernah bilang "Mas, itu nomer sepatu atau nomer rumah".

Usianya sudah berakhiran belas, badannya juga sudah lebih besar dari saya dan pada saat ini Mas sudah mulai sering memperlihatkan tuntutannya akan kebebasan. Sudah mulai jarang dia mau diajak bepergian bersama, dia lebih sering memilih untuk diam di rumah dengan buku-bukunya atau dengan mainannya. Mungkin sekalian hendak menunjukan bahwa dia ingin bebas, mandiri. Soal apakah dia ternyata sudah bisa mandiri (dengan parameter yang ditentukan secara sepihak oleh orang tuanya) itu lain soal. Cara lain dia menunjukan tuntutannya adalah dengan berbantah, terutama dengan Ibunya. Tidak mengapa, biarlah dia belajar berdebat dengan Ibunya dan mencari cara untuk "mengalahkan" Ibunya dalam berdebat. Mas ... nanti kalau sudah ketemu caranya, Bapakmu diajari ya?!.

Saya ingat pertanyaan dia pada saat saya pamit pergi kemarin itu, "jadi Bapak nanti gak ada lagi pas aku ulang tahun?". Saya ndak menjawab, sebagian karena dia sudah tahu jawabannya dan sebagian lagi karena saya memang kehilangan kata-kata. Dia menggunakan kata "lagi". Huh ... Bapak macam apa!!!

Selamat Ulang Tahun Mas Adri. 


Posted at 10:07 am by Sir Mbilung
Ada (19) yang ndobos juga  

Friday, November 10, 2006
Jalak bali

Seribu Intan nomer 5

Burung yang cantik, begitu saya bergumam setiap kali melihat burung yang satu ini. Lihatlah daerah seputar matanya yang biru terang, bukan biru seperti habis digebuki, sangat kontras dengan warna tubuhnya yang putih salju. Warna hitam di ujung sayap dan ekor seolah menjadi aksen pemanis yang pas. Belum lagi jambulnya, yang sangat tidak Kopral Jono. Burung cantik menawan satu ini, di alam aslinya hanya bisa ditemukan di Pulau Bali, tidak ada di tempat lain di dunia. Jalak bali (Leucopsar rothschildi) tidak sekedar unik, tetapi sangat unik karena Jalak bali adalah satu-satunya jenis burung dalam marga Leucopsar yang masuk dalam keluarga jalak. Lebih dahsyat lagi, inilah jenis jalak yang paling langka (di alam) di dunia, bahkan mungkin sekarang sudah jadi salah satu burung paling langka di dunia.

Lha bagaimana ndak langka, walaupun berapa persisnya jumlahnya di alam ada beberapa versi dan data hasil sensus terbaru juga entah ada di mana, tetapi angka yang paling banyak diterima adalah di bawah 10 ekor (mohon koreksinya jika salah), bahkan pada tahun 2001 katanya jumlahnya tinggal 6 ekor lagi. Selain itu dari semua Jalak bali yang sekarang ada di alam, banyak yang berkeyakinan semuanya sudah pernah merasakan hidup dalam sangkar. Tak ada Jalak bali yang benar-benar pernah hidup bebas sejak menetas. Lha kok bisa? Itulah dia, suara burung ini boleh saja tak indah tetapi kecantikan tubuhnya adalah penyebab kesengsaraannya.

Burung ini diburu dengan gencar karena harganya yang sangat tinggi di pasaran yang seharusnya tak boleh ada. Secara resmi burung ini termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi oleh undang-undang. Memiliki tanpa ijin, hidup atau mati atau bahkan memiliki bagian-bagian tubuhnya saja bisa-bisa dapat hadiah kurungan 10 tahun penjara atau denda hingga seratus juta rupiah. Gentarkah para pemburu itu? Ijinkanlah saya untuk tersenyum-senyum saja sebagai jawaban dari pertanyaan itu. Entah sudah berapa kali pusat rehabilitasi burung ini yang ada di Taman Nasional Bali Barat sana dijarah, penjaganya ditembaki, burung-burung yang akan dilepas kembali ke alam di angkut maling, dan sarang-sarang Jalak bali di alam dijarah.

Burung ini sendiri sebetulnya tak sulit untuk berkembang biak. Pada beberapa kebun binatang di Indonesia maupun di luar negri ada cukup banyak jumlahnya, sangat banyak malah. Sekali bertelur bisa mencapai 5 telur, walaupun seringnya sih hanya dua atau tiga butir saja yang dierami selama 21 hingga 28 hari. Lantas 20 harian kemudian sang anak burung sudah bisa berpisah dari induknya. Soal makan juga ndak rewel, Jalak bali bisa makan serangga, buah, biji dan bahkan madu kembang. Burung dalam kurungan kadang diberi makan pepaya, ya disantap juga.

Nah sekarang, itu aturan ndak boleh memelihara Jalak bali kok kayaknya ya cuma aturan saja, burungnya masih ada di pasar (walaupun disembunyikan), burungnya cantik, apa sampeyan lantas berminat mengandanginya di rumah? Baiklah, tak patuh hukum (karena ndak takut), tak ada rasa belas kasihan pada si burung, tapi apa sampeyan berani sama penyakit? Jalak bali diketahui bisa membawa atoxoplasmosis, haemochromatosis, cacar burung, dan cacing termasuk cacing pita. Masih ndak takut juga? Apakah pernah terpikir kemungkinan terburuk yang terjadi? Sampeyan ketangkep, masuk kurungan atau di denda berjuta-juta begitu dan cacingan.

Sudahlah, burungnya nyaris punah dan dikategorikan dalam kategori keterancaman tertinggi "Kritis" (Critically Endangered), ada banyak upaya yang harus dilakukan dan menurut saya upaya pertama adalah menjaga apa-apa yang tersisa di alam itu dari jarahan maling burung. Burungnya sendiri termasuk burung tahan banting, rumahnya di alam masih ada, makanannya masih ada juga, tinggal malingnya saja yang perlu dibedil .... sayangnya saya ndak boleh mbedil maling Jalak bali.

Photo oleh KW Leung diambil dari sini.


Posted at 12:00 am by Sir Mbilung
Ada (7) yang ndobos juga  

Thursday, November 09, 2006
Tetapi

Tetapi adalah kata yang sering saya hindari pemakaiannya, sangat hemat guna, terutama jika ada teman yang dengan sangat bersemangat  sedang mengemukakan idenya. Adalah kekejaman tak terperi jika ada teman yang sedang mengemukakan idenya lantas ditanggapi dengan "bagus sih, tetapi ....". Jika kata "tetapi" terlalu diumbar maka sebagai pengumbar, julukan sebagai orang yang bisanya protes bisa melekat erat. Tak sedap pula julukan itu. Lantas bagaimana caranya?

Coba ganti kata "tetapi" dengan "apalagi jika" dan perhatikan dua kalimat berikut. 1) "Idemu bagus, tetapi ....", 2) "Idemu bagus. Apalagi jika ...." .  Perhatikan tanda koma dan titik, sangat penting. Jika ditambah dengan keahlian bermain bahasa tubuh dan mimik muka, hasilnya akan luar biasa. Bayangkan ini, tahap pertama, saat mengucapkan kata "Idemu bagus." alis terangkat, ujung bibir ikut terangkat, mimik antusias. Lantas, pada tahap ke dua adalah saat diam, seolah berpikir, ibu jari dan telunjuk menempel di dagu dan jari-jari lainnya mengepal, cukup dua detik saja. Kemudian pada tahap ketiga dengan raut wajah yang serupa dengan tahap pertama, saatnya mengucapkan kata "Apalagi jika ..." dibarengi dengan telunjuk teracung dan ujung telunjuk berada pada posisi sejajar hidung. Mengikuti kata "Apalagi jika ..." adalah ide-ide anda.

Jika kata "Apalagi jika ..." ini digunakan secara beruntun dengan bijak, maka hasil akhirnya bisa jadi ide sampeyan yang akhirnya jadi, sementara ide teman tadi hilang ditelan kemegahan ide sampeyan. Lha lantas edannya lagi itu teman yang tadinya mengemukakan ide awal merasa turut memiliki produk jadinya dan bisa-bisa dia malah berterima kasih sampai bongkokan ke sampeyan. Dengan kata lain yang lebih langsung-langsung saja .... sampeyan sudah menyuruh orang melaksanakan apa yang sampeyan mau dan orang yang disuruh dengan riang gembira dan dipenuhi rasa terima kasih melakukannya.

Mind deception? mungkin saja, walaupun (*menghindari kata tetapi*) saya lebih suka memakai kata "friendly diversion". Dalam dunia organisasi atau kepanitiaan di Indonesia, kemampuan ini tampaknya diperlukan bagi orang-orang dengan posisi sebagai dewan penasehat atau dewan pengarah.


Posted at 08:59 pm by Sir Mbilung
Ada (5) yang ndobos juga  

Delman

Tulisan ibu guru ini paling tidak sejenak membawa saya ke alam masa kecil pada saat saya begitu menikmati bertetirah di Bukit Gundaling, Brastagi di Sumatra Utara sana dengan delman. Naik delman dan berebut dengan adik saya untuk duduk di samping pak kusir. Agak besar sedikit, setiap kali kami ke Bandung atau Purwokerto, delman juga kerap ditunggangi, sekali lagi berebut dengan adik saya untuk memperoleh tempat duduk di samping pak kusir.

Kereta yang dihela oleh satu atau lebih kuda, beroda dua atau lebih, dengan kusir/sais yang memegang pecut/cambuk kecil sambil sesekali pak kusir berseru ck ck ck ck pada kudanya yang berkaca mata tanpa kaca itu. Lima orang bisa diangkut delman kecil, empat duduk di belakang pak kusir, satu lagi di sampingnya. Delman ada yang dilengkapi dengan penampung kotoran kuda ada pula yang tidak. Ada ember kecil berisi dedak yang selalu tergantung di delman dan ada bunyi-bunyian untuk menyatakan kehadiran delman pada pengguna jalan lain, pak kusir menginjaknya ... ding dong.

Di banyak tempat di kota-kota besar, delman sudah mulai menghilang. Kalaupun ada lebih banyak yang berfungsi bukan sebagai alat transportasi tetapi lebih sebagai kelengkapan berwisata atau kelengkapan acara lain seperti kawinan atau wisuda. Persis seperti apa yang pernah dinyanyikan dengan riang oleh Ivo Nilakreshna (tanya sama mbah sampeyan kalo ndak tau) pada suatu masa yang sudah lama tentang kusir delman / tukang sado:

tukang sado datang dari bekasi .... yahoi
masuk kota banyak bemo dan taksi
lagu ini lagu jakarte asli .... yahoi
nenek dengar inget jaman mude lagi

tukang sado narik ke tanah abang .... yaya
bermuatan sepasang pengantin baru
biar sumpah sungguh cinta dan sayang .... yaya
pasti lupa kalau ada yang baru


Bemo menggantikan delman dan lantas giliran bemo digantikan angkot, pernik dari masa kecil banyak yang sudah tergusur. Menjadi juragan delman di kota besar? siapa pula yang sekarang bermimpi untuk menggeluti profesi ini. Profesi yang pada suatu masa dulu bisa menyunting hati nyai kembang seperti di kisah Nyai Dasima-nya SM Ardan. Sami'un juragan delman dari Kwitang yang sudah beristri Hayati (yang bergelar setan ceki) bisa menarik hati (dan ditarik hatinya) oleh Dasima, seorang nyai dari Pejambon. Hanya saja ini dulu. Kalau sekarang? Tengok saja lanjutan dendang Ivo Nilakreshna tadi :

tukang sado narik dari pekojan .... yahoi
pulang-pulang dapet uang sekeranjang


beuh .... kelar ngrampok di mana bang?!

Foto diambil dari sini.


Posted at 01:04 am by Sir Mbilung
Ada (3) yang ndobos juga  

Previous Page Next Page