Kembali ke kantor dari makan siang kemarin, saya berjalan melewati taman di depan kantor. Ada sekelompok anak-anak sekolah dasar sedang bermain sepak bola. Anak-anak ikutan demam piala dunia? Ndak ngerti juga saya, dan ndak penting juga apakah mereka demam atau tidak. Lagipula apa iya oleh gurunya mereka diijinkan main bola kalau sedang demam? Lantas apa anehnya anak-anak main bola sehingga saya menyempatkan diri menyaksikan mereka bermain dari balik pagar sekolah?
Main bola yang normal itu ada dua tim yang saling berhadapan di lapangan. Lha anak-anak itu ... tiga tim dalam satu lapangan. Ada tim yang memakai rompi merah, biru dan kuning. Entah karena sempitnya waktu bermain bola yang diberikan oleh gurunya, sehingga tidak bakal sempat semua tim bermain jika gantian, atau karena mereka tidak sabar menunggu giliran? Apapun penyebabnya cara pemecahannya sangat khas anak-anak. Ya sudah, tiga tim main barengan, gawangnya juga tiga.
Waah, mbundet ndak karu-karuan, pokoknya seperti permainan bola ayam. Semua ngumpul di tempat di mana ada bola, seperti ayam merubung beras. Bolanya ditendangi kian kemari, pokoknya asal ndak nendang ke arah gawang sendiri. Tidak berlangsung lama permainan sepak bola ayam itu. Ada perubahan yang bikin saya ternganga-nganga, walaupun saya sudah mengeluarkan ajian ojo gumun.
Tim kuning mulai kelihatan "berpihak" pada tim merah untuk menyerang tim biru, tetapi tidak ikut membantu tim merah bertahan ketika diserang tim biru. Sementara tim merah membantu kuning untuk bertahan dari serangan tim biru. Tim kuning membantu merah menyerang biru, membiarkan biru menyerang merah dan dibantu merah jika diserang biru. Hasil akhirnya, tim kuning yang bersorak-sorak girang ketika bel berbunyi. Tim kuning menang, paling sedikit kebobolan.
Dari mana anak-anak tim kuning itu belajar altruisme timbal balik yang mirip-mirip dengan strategi tit for tat di game theory? Dahulu saya terpening-pening dengan hitung-hitungan altruisme timbal balik di mata kuliah evolusi. Lha itu anak-anak langsung praktek dengan hasil yang memuaskan. Besok-besok saya harus belajar ndobos sama anak-anak, mumpung mereka masih sakti dan kesaktiannya mungkin akan hilang begitu mereka beranjak dewasa.
* tambahan : sampai sekarang saya masih ndak ngerti, kenapa hanya tim kuning yang memainkan taktik altruisme timbal balik. Mungkin, mungkin lho ya, karena hanya tim kuning yang ada perempuannya. Di dunia hewan, betina adalah masternya strategi ini.
3 comments
Rara June 13, 2006 07:29 PM PDT Cuma di dunia hewan??
yoyok June 13, 2006 01:51 PM PDT Adam Smith..was wrong !
begitu kata bapak Nash pencetus Game Theory..
beliau pasti bangga jika melihat anak2 itu :D
Name June 13, 2006 04:21 AM PDT perempuan lebih jago ya? hmmm...