|
Membaca tulisan Kang Mas Pecas Ndahe soal busana patung, mengilhami saya untuk mengisi hari Minggu ini dengan meluntang-lantungkan diri ke kawasan Ginza di Tokyo, hanya saja sasaran saya bukan patung. Kawasan ini dikenal sebagai tempat orang unjuk busana dan dandanan, begitulah ceritanya. Karena musim semi baru saja tiba dan udara dingin serta angin kencang masih tersisa, maka saya membungkus diri serapat mungkin. Tak lupa masker penyaring serbuk sari. ... para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, apa nggak pada kedinginan? Begitu keluar dari stasiun kereta, pemandangan yang bisa bikin Kang Mas Pecas Ndahe berkeping-keping pun tersaji. Saya lantas duduk untuk menikmati pemandangan yang terhampar. Rambut warna-warni ungu bercampur hijau atau biru bercampur merah melambai-lambai, kaca mata hitam bertenggeran walaupun cuaca saat itu mendung. Para pecel lele (Pemuda/i Celana Lebar-Lebar), para pemudi dengan rok berketinggian ekstra serta orang-orang dengan busana seperti habis dicabik-cabik Godzilla, ada di mana-mana. Tiba-tiba saya merasa asing di sini karena kostum saya seperti keluar dari tema. Saya tidak mempermasalahkan apakah yang dipakai itu senonoh atau tidak -- saya tidak "konservatif" untuk soal yang satu ini -- yang bikin saya heran itu, apa nggak pada kedinginan? |
| [em-eijs] April 3, 2006 09:49 PM PDT wah kereeen. THAT's a spirit | ||
| Leave a Comment: |